Black Swan

Black Swan
HAPPY FAMILY


__ADS_3

Tempat parkir itu telah dipenuhi dengan jajaran mobil yang memanjang hingga ke jalan masuk rumah Aciel. Tanah kosong yang dibeli Aciel tiga bulan yang lalu masih tidak cukup untuk mengakomodasi banyaknya mobil yang hari ini datang untuk  menghadiri pesta ulang tahun si kembar.


Olivia merasa bersyukur ia datang menggunakan taksi bersama Scout dan Justice. Ia sudah bisa membayangkan tamu-tamu yang diundang Aciel hari ini pasti akan melimpah, meskipun Eden memberitahunya jika pesta ulang tahun ini hanya akan menjadi pesta ulang tahun sederhana dengan sedikit tamu. Tapi tipikal Aciel, ia tidak mungkin hanya mengundang sedikit tamu meskipun rencananya begitu.


“Jangan lupa kadonya, sayang.”


Ia turun perlahan sambil memberikan kode pada Justice agar membawa kotak berukuran sedang dengan pita biru di atasnya. Sebenarnya ia yakin jika Justice tidak akan melupakannya. Gadis itu sudah ribut dengan hadiahnya sejak kemarin dan tampak tidak sabar untuk segera memberikannya pada Lean dan Theo.


“Mommy, topi Scout miring.”


Gadis itu menarik-narik ujung gaunnya, memintanya untuk sedikit merendahkan badannya agar ia bisa membetulkan letak topi Scout.


“Terimakasih sayang. Scout senang memiliki saudara perempuan sepertimu. Nah, ini berikan pada supir taksi.”


Ia menunggu Justice dengan sabar untuk memberikan uang pada supir taksi yang telah mengantar mereka dengan selamat hingga tiba di rumah Aciel.


“Mommy, kenapa daddy tidak datang bersama kita?”


“Daddy harus menyelesaikan pekerjaan di kantor terlebihdahulu. Nanti daddy akan menyusul.”


Setitik air mata menggumpal di pelupuk matanya. Ia selalu ingin menangis setiap kali berbicara dengan Justice tantang Sian. Sebentar lagi kehidupan mereka tidak akan sama lagi. Kemarin ia sudah menandatangani surat-surat yang dikirimkan kuasa hukum Sian padanya. Besok adalah jadwal untuk sidang perceraian mereka. Jadi malam ini merupakan satu-satunya kesempatan yang ia miliki untuk berperan sebagai nyonya Markle di acara ini.


Oh Tuhan...


Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar tanpa sepengetahuan Justice. Ia tidak boleh terlihat suram diantara orang-orang yang sedang bersuka cita di sini. Ia harus menjadi kuat untuk anak-anaknya.


“Mommy! Kue ulang tahun Lean dan Theo sangat besar. Ada pinata!” Gadis itu berseru girang. Ia melompat-lompat di atas karpet merah yang digelar di sepanjang jalan menuju booth acara di ujung sana.


“Kau akan bersenang-senang bersama Louise dan Ciara, iya kan? Pergilah. Berikan kado itu untuk si kembar.”


Justice langsung melesat pergi meninggalkan ibunya untuk menghampiri si kembar yang kini sedang dikerumuni oleh orang-orang yang datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Selain itu ia juga melihat Eden dan Aciel di sana, sibuk menyambut para tamu yang terus berdatangan tanpa henti.


Ia merasa malas untuk berada di kerumunan itu. Rasanya agak tidak pantas karena sebentar lagi ia bukan istri Sian lagi. Selain itu ia juga malas jika harus bersandiwara di depan rekan-rekan kerja Aciel yang juga merupakan rekan kerja Sian. Beberapa diantara mereka sudah mengenalnya sebagai istri Sian dan itu akan menjadi masalah yang lebih merepotkan baginya karena ia harus berpura-pura sebagai wanita bahagia yang memuakan.


Langkah kakinya kemudian berbelok ke kanan, ke arah taman bunga milik Eden yang kini diubah menjadi tempat pesta outdoor.


Kursi-kursi putih yang cantik dengan hiasan pita ditata dengan apik di sana. Bunga-bunga milik Eden yang dirawat dengan baik sedang bermekaran beraneka warna, menambah kesan cantik natural yang terlihat sangat bagus untuk menikmati suasana pesta sore ini. Sebaliknya ia berada di salah satu kursi itu dan menjauh dari kerumunan yang tak ingin ditemuinya. Nanti jika kerumunan itu sudah surut, ia baru akan menyapa Eden dan Aciel serta memberikan ucapan selamat ulang tahun untuk si kembar yang menggemaskan.


“Olive? Ya ampun Olivia!”


Hal terakhir yang diinginkannya adalah bertemu dengan orang itu. Tapi sial baginya karena ia harus dipertemukan dalam keadaan yang tidak baik-baik saja seperti ini. Setidaknya dia yang sedang tidak baik-baik saja, sedangkan orang itu tentu saja dalam keadaan baik-baik saja.


“Laila. Lama tak berjumpa.”


Wanita itu segera memeluknya dan mencium pipinya bergantian dengan gaya heboh tipikalnya.


“Kau dimana saja selama ini? Kau jarang menelponku atau mengirimiku pesan. Wah,  ini bayimu? Boleh aku menggendongnya?”


“Mommy...”


Suara rengekan Hyena membuatnya gusar. Sebelum ia meraih Scout dari gendongan Olivia, ia lebih dulu memberi isyarat pada Hyena agar bergabung bersama teman-temannya.


“Pergilah menemui Louise. Berikan kado itu pada aunty Eden.”


Olivia tergelak melihat sikap Laila yang masih galak pada Hyena. Bahkan setelah satu tahun mereka tidak bertemu, tampaknya Laila tidak banyak berubah selain penampilan rambutnya yang kini dipotong lebih pendek di atas bahu untuk membuat penampilannya lebih segar.


“Nathan? Aku tidak melihatnya diantara kalian.”


“Ck, kau seperti tidak tahu dia saja.” Laila berdecak sambil mengambil alih Scout dari gendongan Olivia. “Dia memiliki operasi sore ini. Katanya dia akan menyusul nanti. Oh Olive, dia lucu sekali,” seru Laila gemas.


“Kau tampaknya harus memiliki bayi lagi. Eden bilang kau juga sangat gemas pada si kembar.”

__ADS_1


“Aku memang sedang berusaha untuk mendapatkan bayi. Doakan saja semoga semuanya lancar. Ngomong-ngomong mana Sian?”


“Masih ada beberapa pekerjaan yang harus dilakukan di kantor.”


“Seriously? Di hari ulang tahun si kembar Aciel masih memberinya pekerjaan? Keterlaluan sekali dia!”


Sejujurnya ia juga berpikir begitu. Saat Sian menghubunginya dan memberitahunya jika ia akan datang terlambat ke acara ulang tahun si kembar karena masih ada pekerjaan yang harus dilakukan. Ia ingin memprotes dengan mengatakan bahwa Aciel tidak akan keberatan jika ia meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk menghadiri pesta


ulang tahun Theo dan Lean. Tapi yang berhasil ia keluarkan sebagai jawaban hanyalah kata ya dengan nada lirih. Ia sudah tidak dalam kapasitas untuk memprotes. Ia hanya masa lalu untuk Sian, bukan siapa-siapa.


“Mungkin ini sesuatu yang penting sehingga Sian harus menyelesaikannya hari ini. Lagipula dia adalah manajer keuangan, posisinya berhubungan dengan uang-uang Aciel yang sangat banyak.” Dia menjawab dengan tawa yang sengaja dibuat-buat.


“Yeah si orang kaya itu. Ngomong-ngomong kau sudah bertemu Eden dan Aciel?”


Olivia menggeleng. Tatapan matanya sibuk memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya, sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Pesta ini benar-benar sangat meriah. Campur aduk antara anak-anak dan para orang dewasa. Segerombolan anak-anak berlari-lari diantara orang dewasa yang sedang sibuk mengobrol di


dekat taman bunga milik Eden. Seorang wanita berambut pirang memekik kesal saat seorang anak laki-laki menyenggol pinggulnya, menyebabkan minuman di tangannya tumpah di gaunnya. Namun temannya yang berdiri di sebelahnya segera menahannya karena anak laki-laki yang baru saja membuat miumannya tumpah adalah Louise.


“Hey! Apa sih yang kau lihat? Kau tidak memperhatikanku berbicara ya?”


“Maaf. Aku hanya melihat Louise berlari-lari bersama teman-temannya lalu menabrak salah satu wanita di sana. Kurasa dia salah satu karyawan Aciel atau seseorang yang takut pada Aciel. Ia tampak tak berani memarahi Louise meskipun dia kesal setengah mati karena gaunnya terkena tumpahan minuman.”


Laila tertawa di sebelahnya menikmati keriuhan yang dilakukan oleh anak-anak itu.


“Kurasa semua orang merasa segan pada Aciel. Ayo kita temui mereka. Aku belum mengucapkan selamat ulang tahun pada si kembar.”


“Tadi terlalu ramai, jadi aku menunggu saat yang tepat untuk mendekati mereka.”


Meskipun sebenarnya sekarang ia masih enggan untuk mendekati si tuan rumah, tapi tidak ada pilihan. Dia harus, atau Eden akan mencarinya. Selain itu alasan lain yang ia berikan pada Laila hanya akan memancing pertanyaan lain yang tidak ia perlukan saat ini.


“Bukankah pesta ini sangat tipikal Lutherford? Mewah dan berkelas. Oh apa sayang?”


“Kurasa juga begitu. Awalnya Eden hanya akan mengadakan acara makan malam sederhana. Tapi Aciel menolaknya. Ia ingin pesta ulang tahun yang meriah untuk keturunan ke tiga dan ke empat Lutherford karena sebelumnya mereka tidak merayakan ulang tahu pertama Ciara maupun Louise.”


“Oh, kondisi mereka memang baru stabil setelah kehadiran si kembar. Eden saat menceritakan kehidupannya yang dulu, ia selalu berkata bahwa hidupnya belum pernah setenang ini.”


Dalam hati ia juga selalu mendambakan hal yang sama. Kehidupan yang tenang dan harmonis adalah yang selalu ia minta dalam setiap doanya pada Tuhan.


“Diantara kita berempat, kehidupan Eden yang paling stabil. Kudengar Jessica kemarin juga sempat bermasalah.”


“Itu karena pesaingnya mencuri desain gaun rancangannya. Tapi syukurlah semua masalah telah selesai. Kau juga kan? Aku senang melihatmu kembali lagi ke rumah sakit.”


Entah mungkin Laila tahu yang sebenarnya atau tidak fokus pada kata-katanya, wanita itu jelas tidak memberikan tanggapan sesuai harapannya. Ia justru memberinya senyum yang menyiratkan keprihatinan padanya.


“Kuharap apa yang terjadi padamu dulu hanya akan menjadi masa lalu. Aku selalu mendoakanmu dan keluargamu, Olive. Dulu kita berdua sama-sama tinggal di panti asuhan dengan berbagai macam keterbatasan dan stigma buruk dari lingkungan. Kau pasti ingat bagaimana tanggapan orang-orang tentang anak tanpa orangtua. Itu sangat


menyakitkan. Tapi untung saja aku tidak harus bertahan terlalu lama dengan stigma itu setelah sepasang dokter mengadopsiku. Aku benar-benar sangat bersyukur mendapatkan mereka. Jadi aku selalu berpikir untuk tidak menjadikan anakku bernasib sama denganku.”


Wajahnya langsung mengulaskan senyum pahit. Laila seperti baru saja menamparnya dengan fakta itu. Menjadi anak yatim piatu sangat tidak enak. Tapi sebentar lagi ia akan membuat anaknya merasakan apa yang dulu ia rasakan. Meskipun orangtua Justice masih hidup, tapi itu sama saja dengan kematian baginya karena ia akan kehilangan figurnya dan Sian sebagai orangtua setelah mereka bercerai nanti.


“Kau lebih beruntung dariku. Tidak ada yang mengadopsiku hingga aku dewasa dan memutuskan untuk keluar dari panti asuhan.”


“Setiap orang memiliki keberuntungannya sendiri. Kau beruntung karena bertemu Sian. Dia mengganti semua kesedihan yang kau alami dengan kebahagiaan. Kau juga memiliki dua orang anak yang lucu.”


Olivia sekali lagi tersenyum getir, benarkah ia seberuntung itu? Memang benar Sian telah menyelamatkannya dari kegelapan dan mengganti semua kesedihannya dengan kebahagiaan, tapi kemudian badai datang menghancurkan kehidupan rumah tangganya yang indah.


“Bukankah kau juga begitu? Nathan menyayangimu hingga ia rela mengemis-ngemis cinta padamu.”


“Ah itu... dia memang sangat mencintaiku. Tak diragukan sama sekali. Jika sampai dia tidak mencintaiku, aku mengancam akan membedah kepalanya, lalu mengeluarkan otaknya agar ia tidak membanggakan diri dengan kepintarannya.” Laila mendengus dengan lucu.


Setidaknya hal-hal seperti itu dapat menghiburnya dari kegundahan yang seperti tak ada habisnya sejak ia kembali ke rumahnya.

__ADS_1


“Bagaimana dengan Sian?”


“Huh?”


“Sian? Apa kau jga mengancamnya agar ia tidak macam-macam dengan wanita lain?”


“Aku tidak yakin bisa memberinya ancaman sepertimu.” Tawanya agak kering dan sumbang.


Obrolan mereka yang sangat sentimentil tak terasa membuat jarak mereka pada Eden menjadi sudah sangat dekat tanpa mereka sadari. Kerumunan atau keriuhan di sekitar mereka bahkan tidak mempengaruhi mereka sama sekali. Sejak tadi mereka sibuk membicarakan kehidupan mereka yang agak terguncang akhir-akhir ini dan sekarang mereka sepakat untuk menyembunyikan perasaan mereka sesaat untuk menghormati sang pemilik pesta.


“Selamat ulang tahu Theo sayang. Oh ya ampun, kau manis sekali dengan bando bunga-bunga itu.”


Laila yang pertama kali menyapa Theo. Balita itu tepat berada di depan Eden, sedang bertepuk tangan menyaksikan keriuhan yang terjadi di depan matanya.


Eden yang melihat kedatangan Olivia serta Laila tidak bisa diam berdiri di tempatnya seperti sebelumnya. Ia langsung meninggalkan posnya untuk menerima tamu dan segera berjalan ke arah Laila serta Olivia untuk memeluk mereka satu per satu.


“Kukira kalian hanya meninggalkan anak-anak kalian untuk menikmati pesta ini sendiri. Aku langsung heran saat menemukan Justice maupun Hyena datang dengan kado, namun mereka tidak datang dengan orangtua mereka. Kau tahu, aku hampir saja mengamuk di telepon jika kalian tidak datang.”


“Ck, mana mungkin kami tidak datang, Eden sayang. Lean dan Theo kan keponakan kesayangan kami. Hai


Ace, kau terlihat sangat gagah. Senyummu sangat lebar, persis seperti model iklan pasta gigi.”


Semua wanita di sana terkikik melihat Aciel cemberut digoda Laila seperti itu.


“Dimana para pria kalian?”


“Nathan masih memiliki operasi, sedangkan Sian...” Laila sengaja melirik ke arah Olivia yang sejak tadi hanya diam. “Masih memiliki pekerjaan di kantor katanya.”


“Pekerjaan?” Aciel mengerutkan alisnya. Ia berusaha mengamati situasi para wanita itu, terutama Olivia yang menjadi sangat pendiam setelah semua bencana yang menimpa keluarganya.


Ia sama sekali tidak memberikan pekerjaan apapun pada Sian. Semua karyawannya hari ini mendapatkan kompensasi jam kerja karena hari ulang tahun si kembar. Ia bahkan sudah meminta Sian pulang sejak tadi agar segera datang ke rumahnya, tapi pria itu hanya menjawab seadanya dan tak tampak di rumahnya sampai detik ini.


“Mungkin dia mengerjakan keterlambatan laporan yang kemarin. Jangan khawatir, itu tidak akan lama. Dia pasti akan segera datang.”


Akhirnya ia memilih berbohong. Ia tak tega melihat wajah Olivia yang sudah sangat gelap karena menanggung berbagai beban masalah yang menimpanya akhir-akhir ini.


“Sudahlah jangan pikirkan para pria itu. Lebih baik para wanita bersenang-senang sendiri hari ini. Kalian masuklah ke dalam, ada Jessica di sana. Dia menanyakan kalian sejak tadi, tapi aku tidak tahu dimana kalian. Setelah ini akan menyusul.”


Setelah memberikan pelukan serta ciuman pada Theo dan Lean, Laila dan Olivia segera masuk ke dalam


rumah Eden yang telah diubah menjadi tempat pesta yang sangat mewah. Hiasan balon-balon, lampu pesta yang berwarna-warni, serta makanan minuman dengan jumlah melimpah terhidang di atas meja panjang yang membentang di dalam ruang tamu rumah Eden.


Olivia dan Laila saling bertatapan. Air liur mereka menitik melihat makanan-makanan itu dan tak sabar untuk segera mencobanya.


“Nah kalian akhirnya datang. Aku sudah menunggu kalian sejak tadi. Kau tahu, aku pusing melihat anak-anak itu sibuk berlari kesana kemari, menabrak para orang dewasa yang sedang sibuk mengobrol.”


“Halo Jess, halo Kriss, lama tak berjumpa. Bagaimana kabar kalian?” Olivie menyapa dengan lembut ketika ia mendudukan dirinya di sebelah kursi yang ditempati oleh Jessica.


“Sangat baik. Sejauh ini aku merasa baik-baik saja. Yeah, walaupun sebelumnya aku benar-benar mendapatkan sakit kepala yang luar biasa mengerikan.”


“Yang terpenting sekarang semuanya berakhir dengan bahagia. Ayo kita bersenang-senang. Lupakan seluruh masalah yang pernah menimpa kita dan nikmati pestanya. Aku tahu alasan Eden membuat pesta ini untuk kita, jadi aku tidak akan menyia-nyiakan pesta ini.”


Saat Jessica bangkit dari kursinya, Laila dan Olivia kompak memberikan tatapan ingin tahu pada wanita itu.


“Kau mau pergi kemana?”


“Bergabung dengan anak-anak tentu saja. Sebentar lagi pinatanya akan dipukul oleh Aciel. Yaah... siapa tahu isinya bukan hanya permen dan coklat. Aku agak mengharapkan voucher belanja atau uang dari Aciel.”


Mereka semua tergelak dengan tingkah Jessica yang sangat lucu. Lalu para ibu muda itu sepakat untuk mengikuti Jessica pergi ke halaman rumah Eden dan bergabung untuk pemukulan pinata yang akan dilakukan sebentar lagi.


Persetan dengan masalah, batin Olivia tak peduli. Ia perlu melepaskan semua masalah itu sejenak dan menikmati pestanya tanpa bayangan perceraian ataupun bayangan wajah muram Sian yang menyedihkan.

__ADS_1


__ADS_2