
Di sore yang cerah ini, Eden terlihat sedang sibuk di dalam ruang kerja Aciel untuk membersihkan berkas-berkas yang tidak sempat dibersihkan oleh pria itu dengan alasan sibuk. Sebenarnya Aciel biasa menyuruh salah satu pelayan di rumahnya, tapi sore ini Eden entah mengapa ingin sekali membersihkan ruang kerja Aciel agar ia tidak merasa bosan karena kedua anaknya hari ini sedang diajak pergi oleh Olivia dan Sian. Dua hari yang lalu Sian telah resmi melepas pen di kakinya pasca operasi yang dulu dilakukannya. Dan untuk merayakan kesembuhan kakinya, Sian memutuskan untuk mengajak Olivia beserta kedua keponakan lucunya untuk jalan-jalan. Awalnya Eden tentu saja senang, karena dengan begitu ia bisa beristirahat sejenak di rumahnya sambil bermalas-malasan.
Tapi di luar dugaan, ia justru merasa bosan dan kesepian karena kedua anaknya yang biasanya selalu membuatnya pusing, tidak ada di rumah, dan ia tidak bisa menghabiskan waktunya hanya dengan bemalas-malasan di kamar sambil menunggu kedua anaknya pulang.
Ed!” Eden samar-samar mendengar suara suaminya yang baru pulang dari kantor sedang berteriak-teriak memanggilnya. Ia lalu berteriak keras dari dalam ruang kerja suaminya untuk memberitahu jika ia berada di sana dan sedang berkutat dengan tumpukan berkas yang telah berdebu.
“Apa yang kau lakukan di ruang kerjaku?” tanya Aciel tak habis pikir saat melihat Eden yang terlihat kotor dengan debu-debu yang menempel di rambutnya. Padahal tadi pagi ia baru saja meminta tuan Kim untuk membersihkan ruang kerjanya dan membuang berkas-berkas lama yang tidak lagi terpakai.
“Aku bosan. Kau tahu, aku kesepian karena anak-anak dibawa pergi oleh Sian dan Olivia.”
“Ahh ya, dia mengirimkan foto anak-anak saat sedang makan di taman hiburan tadi siang.”
“Jadi Sian benar-benar mengajak mereka ke sana? Ciara pasti senang sekali. Ia sudah menunggu lebih dari satu bulan untuk pergi ke sana, tapi ayahnya yang super sibuk ini tidak pernah sekalipun mendengarkan rengekan putri kesayangannya.” cibir Eden menyebalkan. Aciel terlihat tak ambil pusing dengan sindiran yang dilontarkan Eden padanya karena memang ia belum memiliki waktu untuk mengajak Ciara pergi ke taman hiburan. Terkadang memiliki banyak uang juga tidak bisa membuat Aciel serta merta memiliki banyak kesempatan untuk membahagaiakan keluarganya.
“Kita pasti akan pergi Ed, tapi belum dalam waktu dekat ini. Aku masih sibuk.” tambah Aciel membela diri. Ia lalu berjalan mendekat kearah Eden dan duduk di samping Eden yang sedang sibuk menata banyak berkas ke dalam kardus. “Kenapa diam?” tanya Aciel ketika Eden tak lagi bersuara untuk sekedar menyindirnya atau sekedar untuk berceloteh seperti biasanya.
“Apa? Memangnya apa yang kau harap akan kukatakan padamu? Aku sudah terlalu bosan mendengar janji-janji palsumu itu.”
“Hey...” Aciel meraih kepala Eden ke dalam dekapannya, dan itu langsung membuat Eden meronta karena Aciel belum mandi sepulang dari kantor. “Kau itu menggemaskan, aku jadi ingin menggigitmu.” canda Aciel dengan tawa yang terdengar renyah. Sepertinya mereka sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua seperti ini. Salahkan Sian yang terlalu lama pulih dari sakitnya, membuat Aciel menjadi semakin sibuk untuk melakukan banyak pekerjaan yang biasanya akan ia bagi bersama Sian.
“Ace, kau belum mandi! Kau bau.” geram Eden meronta-ronta. Namun lagi-lagi Aciel hanya tertawa sambil menciumi puncak kepala Eden dengan gemas.
“Kau itu memang menggemaskan.”
“Aku tahu, jika aku tidak menggemaskan, kau tidak mungkin akan tergila-gila padaku.” balas Eden penuh percaya diri. Sekarang ia tidak lagi mencoba melepaskan diri dari Aciel, ia justru sedang bersandar dengan nyaman di dada Aciel yang hangat.
“Ngomong-ngomong....”
“Ada apa?”
Tiba-tiba Eden bangkit berdiri dari duduknya, lalu berjalan kearah kardus coklat yang telah ditata Eden di sudut ruangan. Ada sesuatu yang ditemukan Eden hari ini, dan ia baru saja ingat jika ia berniat untuk menanyakannya pada Aciel setelah pria itu pulang dari kantor.
“Aku menemukan ini.” tunjuk Eden pada sebuah buku besar bersampul coklat tua polos yang terlihat sedikit berdebu di beberapa bagian. Sekilas Aciel merasa bingung dengan buku yang telah ditemukan oleh Eden, namun kemudian ia mengingatnya dan meminta Eden untuk membawa buku itu padanya.
“Kau temukan dimana buku ini?”
“Di tumpukan berkas-berkasmu yang tidak terpakai. Aku tidak tahu jika kau gemar mengoleksi foto-foto seperti ini.”
“Emm ya.. untuk mengingatkanku pada hal-hal menarik yang terjadi di masa lalu. Kau sudah melihatnya?”
“Hmm... tapi aku tidak ingat dengan cerita dibalik foto-foto ini, maukah kau menceritakannya lagi padaku?” pinta Eden setengah memohon. Hari ini ia merasa sangat girang saat menemukan sebuah foto album yang telah tertumpuk bersama kertas-kertas pekerjaan milik Aciel. Baginya foto album itu seperti sebuah kepingan memori yang akan membuat Eden mengingat masa lalunya yang telah ia lupakan.
“Coba kulihat foto siapa yang menjadi pembuka dari album foto ini.” Aciel mengambil album foto itu dari tangan Eden, dan pria itu tampak tersenyum-senyum aneh sambil menatap wajah Eden yang telah bersemu merah.
“Foto kita.” gumam Eden seperti bisikan. Saat ia membukanya tadi siang, ia sendiri hampir tidak percaya jika foto yang menjadi halaman pertama di album foto itu adalah foto dirinya dan juga Aciel saat ia masih sangat muda, kira-kira ketika ia masih berusia delapan belas tahun waktu itu.
“Kau mengingat foto ini?”
“Aku ingat, ini ketika aku dengan bodohnya mencintaimu untuk pertama kali.” jawab Eden terdengar galak. Aciel langsung tertawa melihat wajah cemberut Eden yang sedang berusaha menutupi rasa malunya akibat mengingat kenangan konyolnya di masa lalu. Eden muda yang dulu adalah Eden muda yang begitu tergila-gila pada Aciel sebelum pria itu mematahkan hatinya berkeping-keping.
“Jangan mengejekku! Memangnya kenapa jika aku dulu tergila-gila padamu, bahkan aku juga terlampau bodoh saat itu.”
“Bodoh? Kau tidak bodoh Ed, kau hanya terlalu polos.” jelas Aciel dengan gelak tawa. “Tidak apa-apa, semua ini hanya bagian dari masa lalu yang sekarang terasa sangat berbeda saat kita mengenangnya lagi sekarang.”
“Yah... kau benar, aku merasa ini seperti sesuatu yang lucu. Siapa yang mengambil gambar kita saat itu?”
“Bukankah Sian? Aku dulu mendapatkannya dari Sian.” jawab Aciel sambil menatap fotonya lekat-lekat. Salah satu kenangan manisnya dengan Eden di masa lalu ketika ia masih menjadi pria brengsek. Ia ingat, dulu ia dan Eden pergi ke sebuah restoran untuk makan siang bersama Sian. Lalu mereka sempat memans-manasi Sian yang saat itu tidak memiliki pasangan dengan memamerkan kemesraan mereka yang tampak berlebihan.
“Aku sangat ingat bagaimana kesalnya Sian saat makan siang bersama kita waktu itu, ia terlihat kesal.” kenang Eden geli. Waktu benar-benar telah berlalu begitu cepat. Kini Sian telah bahagia dengan wanita yang ia cintai, dan mereka tidak bisa lagi menggoda Sian seperti dulu.
“Sian sepertinya tidak pernah tidak merasa kesal jika kita pergi bersama dengannya. Pria menyedihkan itu...” kekeh Aciel sambil membalik lembaran foto itu ke halaman berikutnya.
“Wow...” gumam Eden takjub saat foto berikutnya adalah foto Aciel bersama ayahnya dan juga teman-teman bisnis mereka yang lain.
“Foto ayahmu dan aku saat kami melakukan perjalanan bisnis ke Spanyol.” beritahu Aciel. Ia mencoba mengamati wajah Eden yang mendadak berubah sendu setelah sekian lama mereka tidak membahas perihal Brexton.
“Aku merasa telah menjadi putri yang jahat, aku hampir melupakan ayahku.” bisik Eden parau. Aciel langsung merangkul Eden ke dalam dekapannya dan menenangkan wanita itu dari rasa bersalah yang melingkupi hatinya.
“Sudahlah, ayahmu telah hidup tenang di surga. Apa kau tidak ingin tahu cerita dibalik perjalanan bisnis kami ke Spanyol waktu itu?”
“Memangnya ada apa?” tanya Eden sambil menghapus air mata yang telah menetes di pipinya.
“Jadi...”
“Tunggu tunggu!” tiba-tiba Eden menghentikan cerita Aciel sambil menegakan tubuhnya yang sebelumnya bersandar pada dada Aciel. “Kau belum memberitahuku siapa pria-pria yang ada di dalam foto ini.”
“Owh.. baiklah, kita mulai dari pria di pojok kiri yang merupakan ayahmu, lalu pria berkumis yang sedang tersenyum lebar ini adalah Fergusso, lalu ini aku, dan ini Marco.” tunjuk Aciel pada pria berkulit kemerahan yang berdiri di ujung kanan.
“Oke aku mengerti, sekarang lanjutkan ceritamu.”
“Jadi saat itu kami sedang melakukan perjalanan bisnis ke Spanyol. Waktu itu mungkin kau baru berusia enam atau tujuh tahun. Aku masih ingat saat kau menangis meraung-raung sebelum ayahmu pergi.” kenang Aciel dengan senyum kecil di wajahnya. Berbeda dengan Aciel yang terlihat begitu senang saat mengingat Eden
kecil yang cengeng, Eden justru merasa malu karena ia sendiri sudah tidak ingat dengan kenangan masa kecilnya.
“Aku lupa, ingatanku ini memang payah. Ayo lanjutkan lagi ceritamu.” pinta Eden tak sabar. Aciel kemudian melanjutkan ceritanya mengenai Brexton yang saat itu kalah dalam taruhan hingga pria itu harus membayar semua tagihan hotel dan tagihan makan untuk mereka semua. Eden kemudian tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Aciel yang konyol dengan ayahnya. Mereka saat muda benar-benar telah menjadi pria-pria brengsek yang gemar menghamburkan uang-uang mereka hanya untuk sebuah taruhan bodoh.
“Kalian bertaruh hanya untuk merayu seorang pelayan? dasar gila!”
“Dulu itu sesuatu yang lucu karena kami tahu jika ayahmu tidak akan pernah bisa merayu wanita manapun setelah ibumu meninggalkannya dengan menyedihkan.”
__ADS_1
“Yayaya... aku tidak mau membahas masalah itu. Terlalu menyakitkan, kau tahu? lebih baik kita ganti saja ke halaman berikutnya.” ucap Eden berubah gusar. Tangan kanannya kemudian membalik halaman berikutnya yang ternyata memunculkan potret dirinya di masa lalu yang sama sekali tidak ia ingat saat ini.
“Kapan kau mengambil foto ini?”
“Saat kau telah berubah menjadi semakin liar dan sulit dikendalikan.” kenang Aciel mengingat-ingat. Ia sepertinya memiliki foto itu karena tuan Kim yang mengirimkanya waktu itu. Saat ia meminta tuan Kim untuk selalu mengawasi Eden ketika ia sedang tidak bisa mengawasi wanita itu sendiri, maka setiap hari tuan Kim selalu mengirimkan foto-foto Eden padanya. Termasuk dua foto Eden lainnya yang akhirnya ia simpan sampai sekarang karena menurutnya Eden di foto itu terlihat cantik.
“Aku menyukai senyumanmu yang saat itu tidak pernah lagi kau tunjukan padaku setelah aku terlalu banyak membuat kesalahan padamu. Senyummu cantik.” puji Aciel tulus. Pipi Eden seketika merona merah dan ia terus saja tersenyum-senyum aneh sambil menatap foto-fotonya yang telah diambil Aciel secara diam-diam.
“Kenapa kau menyimpan foto-foto ini?”
“Karena terkadang aku sangat merindukan masa lalu dan ingin mengenangnya sambil merenung di sini. Jika aku merasa lelah setelah bekerja seharian, aku akan membukanya dan mulai mengenang hal-hal indah yang hampir kulupakan jika aku tidak menyimpan salah satunya di sini.” tunjuk Aciel pada album foto yang masih terbuka dengan potret Eden yang tengah tersenyum dengan begitu manis.
“Yang berikutnya pasti kau akan suka.” Aciel membalik lembar berikutnya dalam album foto, dan ia mengulum senyum saat Eden berteriak girang ketika melihat foto Tranz dan Ciara kecil ada di dalam koleksi fotonya.
“Tranz? Kau menyimpan fotonya juga? Ya ampun... aku jadi merindukan pria nakal itu.”
“Yah... ini satu-satunya foto temanmu yang kusimpan karena di sini Ciara terlihat menggemaskan.” ucap Aciel menjelaskan agar Eden tidak merasa besar kepala karena ia telah menyimpan foto Tranz.
“Kau tidak membenci Tranz?”
“Tidak, karena dia bukan ancaman. Satu-satunya teman pria yang tidak mengincarmu seperti yang lainnya hanyalah Tranz. Sayangnya ia memang sedikit brengsek hingga membuatku lebih banyak bersikap sinis padanya.”
“Ck, Tranz bukan pria brengsek, ia hanya memiliki masa lalu yang sulit.” bela Eden meluruskan. Ia tidak mau Aciel salah paham pada Tranz karena bagaimanapun juga Tranz adalah satu-satunya orang yang membantunya kita ia sedang dalam masa-masa sulit saat itu.
“Sekarang dimana keberadaannya?” tanya Aciel tiba-tiba. Eden menoleh cepat kearah Aciel, lalu ia mengendikan bahunya tanda tidak tahu.
“Sudah lama Tranz tidak menghubungiku, tapi seseorang mengatakan padaku jika Tranz saat ini telah menikah dan tinggal di Kanada.”
“Baguslah, setidaknya ia tidak lagi menjadi pria brengsek setelah memiliki keluarganya sendiri.”
“Apa itu mengingatkan padamu?” goda Eden dengan senyum jahil.
“Mungkin. Ayo kita lihat foto yang lainnya.” Aciel membalik halaman foto berikutnya, dan ia langsung menemukan foto mereka saat sedang berlibur ke Maldives dua bulan setelah menikah.
“Ini aku?”
“Tentu saja. Ini fotomu saat mengandung Louise. Dua bulan setelah menikah, akhirnya kita memiliki waktu untuk pergi berlibur bersama Ciara ke Maldives. Tapi saat di foto ini Ciara sedang berada di hotel dengan babysitternya.”
kearah Aciel yang hanya menatapnya dengan tatapan malas. Hal paling menyebalkan yang terus saja dilakukan Eden, ia terkadang masih meragukan kehamilan Louise dan pernikahan mereka.
“Apa kau masih saja ragu? Lihat ini.” Aciel membalik halaman foto berikutnya yang merupakan foto pernikahan mereka satu setengah tahun yang lalu.
“Kita benar-benar menikah Ed, aku tidak berbohong.” ucap Aciel gusar. Eden hanya tertawa terbahak-bahak mendengarkan Aciel yang selalu berubah uring-uringan jika ia menggoda pria itu tentang pernikahan mereka.
“Kau lucu.”
“Dan kau sama sekali tidak lucu. Lihat ini.” lagi-lagi Aciel membuka halaman foto itu ke bagian berikutnya hingga kini Eden dapat melihat foto dirinya dan Aciel yang terlihat begitu mesra. “Ini foto yang diambil dua hari setelah kita menikah. Kau bahkan sangat manja padaku.” tambah Aciel kesal.
“Siapa yang mengambil foto ini?”
“Aku.”
“Kau?” tanya Eden tak percaya. Ia pikir Aciel bukan jenis pria yang gemar memotret dirinya sendiri untuk mengumbar kemesraan seperti itu.
“Kenapa? Aku sengaja melakukannya untuk menyimpannya jika sewaktu-waktu kau kembali berulah. Dan ternyata benar, kau kembali meragukan kehidupan penuh cinta kita, bahkan kau menuduhku telah menipumu.”
Eden langsung saja tergelak keras melihat Aciel yang kini berubah kekanakan hanya karena sikap menyebalkannya yang akhir-akhir ini lebih sering ia lakukan karena ia ingin menggoda Aciel. “Kenapa kau merajuk seperti ini?” goda Eden jahil sambil mencolek dagu Aciel.
“Aku tidak merajuk, kau saja yang kelewatan.” balas Aciel malas, namun tidak digubris oleh Eden karena wanita itu masih saja tertawa dengan sikap Aciel yang lucu sore ini.
“Apa kau tahu jika kau menggemaskan saat sedang merajuk?” tanya Eden lagi berusahamenggoda Aciel.
“Jangan menggodaku, Ed.” balas Aciel kesal. Anggap Eden sedang gila sekarang karena ia terlalu girang dengan foto-foto masa lalu mereka yang lucu. Tapi saat Eden mengingat sesuatu, ia tiba-tiba menghentikan tawanya dan memandang serius kearah Aciel.
“Ace...”
“Hmm?”
“Apa kau menyimpan foto Zyan juga?”
“Tidak. Tidak mungkin aku menyimpan foto pria yang telah merebutmu dan Ciara dariku.”
“Ck, jangan kekanakan seperti itu, Ace. Jika kau tidak menyimpannya, aku tidak apa-apa. Kau jangan marah pada orang yang telah meninggal.”
“Aku tidak marah.” ucap Aciel acuh tak acuh. Eden hanya memutar bola matanya malas, dan ia segera membalik halaman berikutnya untuk melihat foto lain yang masih disimpan oleh Aciel.
“Apa ini?” tunjuk Eden sambil menganga. Untuk kali pertama ia melihat Aciel memiliki
__ADS_1
teman selain Sian. Bahkan Aciel juga tampak menikmati waktunya bersama
teman-temannya di foto itu.
“Ini.... para bujang paling diinginkan di Vegas.” kekeh Aciel di sebelah Eden. Hampir-hampir ia lupa pada dua temannya yang ia kenal ketika ia telah menjadi CEO di perusahaan milik kakeknya bertahun-tahun yang lalu. Dua orang yang berfoto dengannya adalah para bujang yang sering memanaskan aula pesta karena mereka pasti akan menjadi perbincangan panas para wanita yang berada di aula yang sama dengan mereka.
“Siapa pria yang berdiri di sebelahmu ini, pria di pojok kiri.” tunjuk Eden pada pria dengan jas berwarna maroon yang terlihat begitu tampan di matanya.
“Itu Marquez Velezues, teman dari Itali.”
“Dia terlihat tampan.” komentar Eden apa adanya dengan cengiran pada Aciel. Ia tidak akan berkata bohong untuk sebuah kebenaran yang terlampau sulit untuk dibantah.
“Marquez dan aku adalah the most wanted men saat itu.” ucap Aciel membanggakan diri.
“Benarkah?” tanya Eden sambil melirik malas kearah Aciel. Jari telunjuk Eden kemudian bergerak kearah potret pria berkacamata yang berdiri di tengah antara Sian dan juga Aciel di foto itu. “Lalu bagaimana dengan pria ini? Wajahnya terlihat yang paling innocent diantara kalian.”
“Itu Rocco, sepupu Marquez. Rocco memang yang paling innocent diantara kami. Ia bahkan orang pertama yang melepas masa lajangnya setelah menjalin hubungan dengan kekasihnya selama dua tahun. Padahal kami semua saat itu masih suka bermain-main dan tidak terlalu memikirkan kehidupan pernikahan yang menurut kami terlalu merepotkan karena jika kami menikah, kami tidak akan bisa bersenang-senang lagi.”
“Ck, pemikiran macam apa itu?” cibir Eden tak terima. Ia menyenggol lengan Aciel gemas, berniat ingin mejatuhkan pria itu agar terkena debu-debu yang menumpuk di kertas-kertas lama. Tapi bukanya jatuh, Aciel justru membuat Eden terperangkap dalam pelukannya hingga pria itu bisa menggelitiki Eden dengan puas.
“Kena kau!”
“Hahaha... ampun Ace, lepaskan!” mohon Eden meronta-ronta. Sejak dulu ia tidak pernah tahan dengan gelitikan atau apapun jenis sentuhan yang mengarah pada gelitikan. “Ace! Kyaa...” teriak Eden heboh diikuti suara tawa Aciel yang terdengar begitu lepas di dalam ruang kerjanya.
“Kau ingin berbuat jahil? Hmm... jangan harap kau bisa melakukannya padaku.” Aciel terus saja menggelitik Eden hingga wanita itu terlihat lemah tak berdaya di depannya.
“Oke oke... aku menyerah.” ucap Eden dengan tangan terangkat tanda menyerah. Aciel akhirnya menghentikan gelitikannya dan ia membiarkan Eden untuk mengambil napas sebanyak-banyaknya setelah wanita itu kehilangan oksigen karena terlalu banyak karena tertawa.
“Kau masih kuat untuk melihat foto berikutnya?” tanya Aciel meremehkan setelah melihat Eden yang terlihat begitu kepayahan dengan serangannya. Wanita itu kemudian menegakan tubuhnya lagi sambil menatap sengit kearah Aciel. “Aku selalu siap, kau jangan meremehkanku, Ace.”
“Baiklah Eden sayang, mari kita lihat foto kita.” ucap Aciel sambil mengulum senyum.
“Kita?”
Foto selanjutnya adalah foto Eden, Aciel, dan Ciara yang sedang tertawa bersama orang-orang yang terlihat asing di mata Eden. Wanita itu refleks menunjukan wajah kebingungannya kearah Aciel karena ia tidak bisa mengingat memori di dalam foto itu sedikitpun.
“Ini keluarga Zyan, wanita yang merangkul kita adalah ibu Zyan. Dan mereka adalah saudara-saudara Zyan yang saat itu sedang berkumpul di rumah ibu Zyan ketika kita datang bersama Ciara.”
“Ya Tuhan... aku sama sekali tidak mengingatnya, Ace.” ucap Eden kesal pada dirinya sendiri. Terkadang ia merasa kesal dan memukul-mukul kepalanya sendiri ketika ia tidak bisa mengingat apapun kenangan-kenangan yang terjadi di masa lalu. “Aku ingin mengingatnya, Ace. Kenapa aku tidak bisa melakukannya?” tanya Eden
kesal. Ia sudah cukup frustrasi dengan keadaannya yang menyedihkan ini.
“Kau tidak bisa memaksanya, Ed.”
“Tapi aku ingin.”
Aciel menghela napas panjang, ia menggenggam tangan Eden kuat, meremasnya untuk beberapa saat agar ia dapat menyalurkan energinya pada Eden. “Akupun juga ingin, tapi kita tidak bisa memaksakan otakmu untuk melakukannya. Sudahlah, kita lihat saja foto berikutnya yang baru kumasukan kemarin.” ucap Aciel mencoba menghibur Eden agar wanita itu tidak semakin frustrasi dengan keadaannya yang tak kunjung mendapatkan memorinya kembali.
“Kau ingat foto ini?” tanya Aciel pada Eden yang langsung dijawab dengan anggukan pelan wanita itu.
“Sejak kapan kalian berfoto seperti ini?”
“Ciara yang melakukanya dengan ponselku. Ini minggu lalu saat kami sedang menunggumu sebelum kita pergi berbelanja. Aku sedang berjemur bersama Louise.”
“Aku lama karena aku harus menyiapkan kalian lebihdulu.” ucap Eden membela diri. Aciel menatap lama fotonya dan Louise yang sengaja ia simpan sebagai salah satu kenangan mereka.
“Kenapa?”
“Tidak, hanya merasa gemas saat melihat Louise. Terkadang saat melihat Louise, aku jadi teringat pada masa kecil Ciara dan foto-foto Ciara kecil yang dikirimkan Zyan ke emailku. Jika aku tidak terlambat membukanya, mungkin semuanya akan berbeda. Ciara akan memiliki ayah sejak dulu dan tidak perlu mengalami banyak drama karena ulahku.”
“Ssshhh... ada apa denganmu, Ace? Jangan menyesali apapun yang telah terjadi di masa lalu. Sekarang lebih baik kau keluar, dengarkan suara anak-anakmu yang telah datang bersama Sian.” beritahu Eden yang sejak tadi telah mendengar suara teriakan Ciara yang melengking.
“Mommy!”
Tiba-tiba pintu ruang kerja didorong Ciara keras dan gadis kecil itu mulai berteriak-teriak heboh sambil memamerkan barang-barang yang ia beli dari taman hiburan.
“Paman Sian membelikanku bando unicorn. Aku juga makan roti bergambar kepala shrek dan kuda poni. Hari ini menyenangkan.” cerita Ciara antusias. Sian dan Olivia yang mendengarkan dari pintu tersenyum gembira karena mereka telah membuat Ciara kembali ceria setelah sebelumnya gadis kecil itu ngambek karena ayahnya tidak pernah memiliki waktu untuk mengantarnya ke taman hiburan.
“Hey, mana oleh-oleh untuk daddy?” tanya Aciel yang sejak tadi sudah merasa gemas ingin mencium pipi chubby Ciara yang semakin berisi.
“Huh, daddy jahat. Daddy tidak pernah mengajak Ciara jalan-jalan.”
Eden langsung menahan tawa di depan Aciel dan memberikan lirikan mengejek pada Aciel yang terlihat kesal karena dimusuhi oleh anaknya sendiri. Ia kemudian berjanji pada Ciara akan membawa gadis itu berlibur selama yang Ciara mau setelah Aciel berhasil menyelesaikan semua pekerjaannya di kantor. Tapi lagi-lagi Ciara mengacuhkannya dan justru menarik Eden untuk menata mainan barunya di kamarnya.
“Kurasa kau harus lebih banyak di rumah setelah ini Ace.” ucap Sian menggoda. Pria itu langsung saja mendapatkan lirikan tajam dari Aciel.
“Sudah kuputuskan jika mulai besok kau harus masuk ke kantor. Waktu liburmu sudah habis, Sian.”
“Apa? Aku bahkan belum melakukan bulan madu bersama Olivia karena aku harus melakukan terapi kemarin.”
“Tidak ada alasan. Karena kau, anakku marah padaku dan menganggapku jahat. Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus segera masuk ke kantor karena aku akan pergi berlibur dengan keluargaku.”
Seketika wajah Sian berubah pucat, dan Olivia hanya dapat tersenyum masam kearah suaminya yang terpaksa harus menunda semua angan-angannya untuk mengajaknya berlibur ke Australia.
“Mungkin kita bisa pergi lain waktu sayang. Sudah saatnya kau kembali bekerja untuk anggota keluarga baru yang akan segera hadir.”
“Apa? Apa maksudmu Olivia?”
“Tidak, bukan apa-apa.” jawab Olivia misterius dan segera beranjak untuk menyusul Eden di kamar Ciara. Dari balik punggungnya Olivia sedang mengulum senyum. Mungkin nanti ketika saatnya sudah tepat, ia akan memberikan Sian sebuah kejutan yang sangat bagus untuk pria itu.
__ADS_1