
“Dokter tolong, ada seorang ibu hamil yang mengalami kecelakaan.” teriak seorang perawat yang sedang mendorong sebuah blangkar yang baru saja diturunkan dari dalam ambulans. Dokter jaga itu dengan sigap langsung mengikuti perawat itu ke dalam ruang UGD untuk memberikan pertolongan pertama pada ibu hamil itu. Tak berapa lama, sebuah mobil ambulans dengan logo polisi datang dengan seorang pria yang mengalami luka tembak di dada sebelah kirinya.
“Tolong berikan pertolongan untuk pria ini, ia mengalami luka tembak di dada kirinya.” teriak petugas polisi itu sedikit panik. Perawat yang awalnya sedang menangani Olivia langsung bergegas untuk membawa pria malang itu ke dalam ruang UGD. Malam ini suasana di dalam rumah sakit Texas begitu mencekam dan ribut, di dalam sana
terdapat tiga orang manusia yang sedang berusaha untuk bertahan hidup, Olivia, Scout, dan anak mereka yang belum merasakan bagaimana kejamnya dunia.
“Suster, kita harus mengeluarkan bayi ini segera. Persiapkan ruang operasi sekarang!”
“Baik dokter.”
Perawat itu dan beberapa perawat yang lain segera mendorong blangkar yang berisi Olivia di atasnya untuk dibawa ke ruang operasi. Sedangkan perawat yang lain dan seorang dokter ahli bedah segera membawa tubuh Scout yang bersimbah darah menuju ruang operasi yang lain untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di dada kiri pria itu. Dua blangkar yang awalnya saling beriringan itu akhirnya harus berpisah di persimpangan jalan. Tubuh Olivia dibawa ke dalam ruang operasi yang berada di sayap kanan, sedangkan tubuh Scout dibawa ke dalam ruang operasi yang berada di sayap kiri. Dua jiwa yang awalnya bersatu, kini harus dipisahkan secara paksa satu sama lain karena sebuah keegoisan dan dendam. Dua jiwa itu kini harus berada di ambang kematian hanya karena seorang manusia yang telah dibutakan oleh obsesinya. Dan dua jiwa itu, kini saling berjuang satu sama lain untuk sebuah kehidupan yang layak bagi putra mereka.
-00-
Tiit tiit tiit
Suara kardiograf itu begitu nyaring di tengah suasana senyap dan sunyi yang tercipta di kamar yang dihuni oleh Olivia. Sudah dua minggu sejak insiden itu terjadi, tapi selama itu Olivia sama sekali belum membuka matanya dan tidak ada tanda-tanda akan membuka matanya. Beberapa perawat yang datang ke kamarnya untuk mengganti infus dan melihat kondisinya terus mendesah iba melihat kondisi Olivia yang sangat menyedihkan itu. Pagi ini pun seorang perawat yang datang ke kamarnya untuk mengecek kondisi Olivia kembali mendesah iba sambil memandang Olivia penuh prihatin. Dua minggu yang lalu dokter telah berhasil mengeluarkan bayi itu dari rahim Olivia dan melakukan operasi untuk menyelamatkan keduanya, namun hingga detik ini Olivia masih betah menutup matanya, sedangkan sang malaikat kecil sudah bergerak aktif di dalam ruang bayi, menunggu ayah dan ibunya datang untuk menjemput.
“Bagaimana keadaanya?”
“Kondisinya normal dok. Ia mengalami kemajuan yang cukup signifikan selama dua minggu ini, tapi entah mengapa pasien ini belum juga membuka matanya.” ucap perawat itu memberitahu. Dokter tua yang dua minggu lalu mengoperasi Olivia hanya mampu menatap Olivia dengan tatapan iba sambil mengalunkan doa di hatinya agar pasiennya itu segera membuka matanya.
“Kasihan sekali pasien ini, tidak ada sanak keluarga yang mencarinya. Bayinya juga sudah menunggunya di ruang bayi, apa wanita ini tidak memiliki suami?”
“Entahlah dok. Polisi sedang mencoba menyelidikinya. Seminggu yang lalu saya sudah meminta bantuan pada polisi yang berjaga di ruangan sebelah, tapi hingga saat ini polisi belum memberitahukan apapun mengenai keluarga wanita ini.” jelas perawat itu pada sang dokter. Dokter tua itu sedikit tertarik dengan ucapan perawat muda itu dan langsung menanyakan masalah pasien yang berada di ruang sebelah.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada pria itu, mengapa banyak sekali polisi yang berjaga di ruang perawatannya.” tanya dokter itu heran. Sang perawat kemudian menceritakan semua yang ia tahu pada dokter itu, perihal pria misterius yang saat ini tengah mengalami koma karena luka tembak di dada kirinya.
“Mereka bilang pria itu adalah korban dari pembunuhan berencana yang akan dilakukan oleh Cirus Donahue, pemilik Donahue grup. Dan mereka terus menjaga ruangan itu karena mereka membutuhkan keterangan pria itu untu memproses hukuman yang akan dijatuhkan pada Cirus Donahue.”
“Begitukah? Kasihan sekali pria itu, kudengar ia juga tidak memiliki keluarga.”
“Ya, sepertinya begitu. Semoga saja Tuhan segera memberikan keajaiban untuk mereka.” tutup perawat itu sebelum ia berjalan keluar meninggalkan Olivia sendiri dengan kesunyian yang begitu mencekam di ruangan itu.
-00-
Oeekk oeekkk
“Sshhh, tolong ambilkan susunya. Dia sepertinya lapar.” perintah seorang perawat sambil terus menimang-nimang bayi mungil yang saat ini tengah menjerit kuat di dalam dekapan perawat itu.
“Ini susunya. Mengapa ia menangis seperti itu, apa ia sakit?” tanya suster muda bernama Annabeth khawatir. Suster senior yang sedang menimang bayi laki-laki itu menggeleng tidak tahu sambil memberikan susu formula pada bayi mungil itu, tapi bayi itu langsung menolaknya dan terus menangis keras hingga wajahnya memerah.
“Ssshhh, sshhhh,, sshhh.”
__ADS_1
“Mungkin ia merindukan ibunya.” komentar Annabeth yang masih setia berdiri di dekat suster Price. Suster itu menganggukan kepalanya setuju dan langsung membawa bayi itu ke dalam ruang perawatan ibunya, meskipun sang ibu hingga saat ini belum membuka matanya dan masih terbaring koma dengan berbagai macam alat penunjang kehidupan di tubuhnya.
“Sebenarnya siapa ayah dari bayi ini, mengapa tidak ada satupun sanak keluarganya yang mencari ibu dan juga bayi ini?” tanya suster Price itu pada Annabeth sambil sesekali menggoyangk-goyangkan lengannya untuk menenangkan sang bayi yang masih setia menangis di dalam dekapannya.
“Apa suster tidak mendengar kabar yang beredar di rumah sakit ini?”
“Kabar apa? Aku tidak mendengar kabar apapun.” ucap suster Price dengan dahi berkerut. Annabeth yang mendengar hal itu langsung menggelengkan kepalanya tak habis pikir pada suster Price yang terlalu acuh pada keadaan di sekitarnya. Padahal berita mengenai ibu bayi itu begitu menggemparkan dan membuat siapapun yang
mendengarnya menaruh iba pada bayi mungil yang saat ini masih menangis di dalam dekapan suster Price.
“Polisi telah melacak status wanita itu, dan ternyata wanita itu adalah istri dari pria yang sedang terbaring koma di kamar sebelah. Tapi selain itu.” lanjut suster Anna terlihat mengerutkan wajahnya, “Ia juga istri dari tangan kanan pemilik Ford Company, Sian Markle.”
“Jadi maksudmu bayi ini memiliki dua ayah, dan kedua orangtua bayi ini sama-sama sedang terbaring koma? Ya Tuhan, kasihan sekali bayi ini. Semoga Tuhan memberkati kehidupannya kelak.” doa suster Price tulus.
Saat mereka telah sampai di ruangan Olivia, mereka melihat banyak dokter dan perawat yang sedang berbondong-bondong berlari ke dalam ruangan Scout. Mereka semua tampak begitu panik dan pucat, membuat Annabeth dan suster Price langsung mengerutkan dahinya heran.
“Ada apa ini? Kenapa ramai sekali?” Tanya Annabeth pada salah satu perawat yang hendak masuk ke dalam ruang perawatan Scout.
“Pria itu mengalami serangan. Ayah bayi ini tiba-tiba mengalami kejang.” beritahu perawat itu dengan panik sambil setengah berlari menuju kamar perawatan Scout. Annabeth yang mendengar berita mengejutkan itu hanya mampu menangkupkan kedua tangannya di depan dada sambil berdoa kepada Tuhan untuk ayah dari bayi malang yang saat ini sedang berada di dalam dekapan suster Price.
“Semoga Tuhan melindungi ayah dari bayi ini.” gumam Annabeth prihatin. Mereka kemudian segera masuk ke dalam ruang perawatan Olivia untuk melihat kondisi Olivia dan untuk menenangkan bayi mungil yang sejak tadi terus menangis keras di dalam dekapan suster Price.
“Suster, aku khawatir. Mungkinkah bayi ini menangis karena...”
Tiiiiiiiiiiiittt
Tiba dua perawat itu dikejutkan dengan bunyi kardiograf yang begitu nyaring dengan garis lurus yang telah terpampang jelas di layar monitor berwarna hijau itu. Dengan sigap suster Price langsung menekan tombol bantuan yang berada di sebelah ranjang Olivia sambil berkomat-kamit ketakutan dengan peristiwa yang tiba-tiba terjadi di hadapannya.
Oeek oeek
Bunyi kardiograf dan suara tangis bayi itu saling bersahut-sahutan satu sama lain membuat suasana di dalam ruangan itu menjadi mencekam dan semakin menambah panik para suster dan dokter yang langsung menyerbu masuk ke dalam untuk melihat kondisi Olivia yang tiba-tiba menurun.
“Suster Price, lebih baik kita menunggu di luar.” ajak Annabeth sambil menarik tangan perawat senior itu keluar dari dalam ruangan Olivia yang mencekam.
-00-
“Aku hanya mencoba membantu.”
Sian menatap Aciel tajam. “Aku tidak perlu bantuanmu.” Wajah Sian kini merah padam dan terlihat begitu kacau. Baru saja ia mendapatkan kabar mengenai kecelakaan yang menimpa Olivia di Texs. Selain itu, berita mengejutkan lainnya yang ia dapat adalah Scout tertembak oleh anak buah Aciel. Ini gila, dan Sian sungguh tidak tahu bagaimana caranya bereaksi pada Aciel.
“Kau akan membunuhnya.”
“Untuk menolongmu. Kedudukanmu sebagai suami Olivia terancam.”
__ADS_1
“Tapi aku tidak pernah menyuruhmu untuk melakukannya.”
“Sudah saatnya aku mengambil tindakan.” balas Aciel tajam. Ternyata menjadi penonton tidaklah semenyenangkan yang dipikirkannya. Semakin lama ia justru semakin gemas dengan para pemain drama kesukaannya yang justru berubah pasif dan tidak lagi membuat dadanya bergemuruh penuh kesenangan saat menonton adegan demi adegan yang disuguhkan.
“Pergilah ke Dallas sekarang, temui Olivia. Ia sudah sadar.”
“Sudah kuduga jika sikap santaimu itu ganjil. Sudah berapa lama kau mengikuti Olivia?”
Sian mendesah lelah di atas kursi putar yang ia gerak-gerakan dengan gelisah. Bertemu Olivia dalam keadaan seperti ini lalu berpura-pura bodoh tentang semua peristiwa yang terjadi, itu memuakan! Bagaimanapun ia menghormati Aciel sebagai sahabatnya yang hanya ingin menolong. Sejak dulu Aciel tidak pernah membiarkannya menderita. Bahkan pria itu rela melakukan cara-cara kotor seperti menumpahkan darah demi melihatnya terus baik-baik saja. Mr Crowford adalah orang pertama yang ditembak Aciel karena membelanya. Saat Aciel melihatnya dipukuli, pria itu langsung saja menarik pistol dari laci mobilnya untuk menyingkirkan mr. Crowford dari kehidupan Sian. Dan setelah itu Aciel akan terus bertindak nekat jika hal itu memang diperlukan untuk menolong orang-orang terdekatnya.
“Sejak lama. Sebelum wanita itu berubah haluan dan mencintai Scout. Lagipula Scout juga tidak akan selamat dari tuntutan keluarga Donahue jika aku membeberkan bukti-bukti kejahatannya selama ini ke kejaksaan. Cepat atau lambat ia tetap akan menerima hukumannya.”
Sian mengusap wajahnya kasar, merasa frustrasi dengan semua hal yang tiba-tiba memporak-porandakan kehidupan bahagianya. “Lalu bayinya?”
“Selamat dan sehat. Olivia sempat mengalami koma, tapi sekarang ia sudah sadar.”
“Kupikir membiarkannya untuk sementara bersama Scout adalah pilihan yang tepat. Sudah lama aku tidak mengirimkan seseorang untuk mengikutinya. Jadi apa yang menyebabkan ia kecelakaan?”
“Berlari dengan gegabah ke tengah jalan tanpa memperhatikan keadaan jalan yang ramai. Tampaknya ia terlalu emosi setelah kembali dari kantor untuk menemuimu.”
“Jadi kecelakaan itu sudah terjadi selama itu?”
Aciel menganggukan kepalanya sambil bersedekap di depan meja Sian. Tak mengherankan jika Sian tidak tahu, sore hari setelah Olivia memberikan pukulan telak di hatinya, Sian langsung mengambil penerbangan pulang menuju Las Vegas dan terus menenggelamkan diri pada pekerjaan tanpa mempedulikan hal-hal yang terjadi di
sekitarnya. Bahkan anaknya, Sian seperti lupa pada Justice. Dua minggu ini Sian tidak datang ke rumah Aciel untuk mengunjungi putrinya. Dan jika Aciel menanyakan alasannya, Sian selalu menjawab jika Justice hanya mengingatkannya pada Olivia dan kesalahannya.
“Pergilah segera ke Dallas. Ini masih belum terlambat untuk memperbaiki semua kesalahanmu.”
Drrt drrt
Aciel merasakan ponselnya bergetar, dengan gerakan cepat ia segera mengangkat panggilan itu dan mendengarkan dengan penuh perhatian laporan dari anak buahnya.
“Pria itu sudah mati.”
“Scout?” tanya Sian mencoba memastikan.
“Jantungnya tidak bisa diselamatkan dari peluru yang berhasil menggores dinding selaputnya. Koma selama beberapa hari, dan akhirnya ia tidak selamat.” beritahu Aciel tenang. Namun bukanya Sian terlihat senang, pria itu justru memincingkan matanya curiga ke arah Aciel yang lagi-lagi dinilainya terlalu tenang.
“Ini bagian dari rencanamu?”
“Rencanaku, dia seharusnya mati tanpa harus mengalami koma. Sniper itu meleset saat melepaskan pelurunya. Sangat disayangkan.” desah Aciel pura-pura kecewa. Tadinya jika Scout berhasil selamat dari masa komanya, Aciel akan meminta orang-orangnya untuk melakukan pembunuhan dengan obat yang disuntikan di cairan infusnya. Namun karena Scout telah mati dengan sendirinya, maka Aciel merasa tidak perlu mengotori tangannya terlalu jauh.
“Entahlah, apakah aku harus mengucapkan terimakasih padamu atau mengumpatimu. Kau memang selalu bergerak impulsif. Aku tidak bisa menyalahkanmu atas tindakan ini.”
__ADS_1
“Memang tidak. Aku hanya menjaga supaya tatanan di keluargaku tetap sama. Kau dan Olivia harus berbahagia setelah ini karena kalian telah mendapatkan bayi baru yang akan menjadi anggota keluargamu. Kuyakin kau bisa membujuk Olivia agar menjadi wanita manis seperti dulu dengan menjaga dua anak yang dianugerahkan
padanya. Lagipula aku juga tidak bisa membuat Edenku bersedih atas nasib rumah tangga kalian yang hancur.” tambah Aciel dengan alis mengerut karena memikirkan pertengkarannya dengan Eden. Tak akan ia biarkan Eden bersedih lagi, karena ia telah menjajikan itu dalam sumpah pernikahannya di hadapan Tuhan.