Black Swan

Black Swan
Engagement (Fourty Five)


__ADS_3

            “Dadd... daddy...”


            Ciara berlari-lari dari halaman belakang sambil tersenyum girang kearah Aciel. Melihat ayahnya yang sudah siap dengan stelan kantorya dan sebuah jas yang tersampir di pundaknya membuat Ciara ingin bermanja-manja dengan ayahnya sebelum ayahnya pergi.


            “Hai princess, kau tidur dengan nyenyak?”


            Ciara mengangguk antusias di dalam gendongan Aciel dan sesekali menggaruk rambutnya yang masih acak-acakan. Gadis kecil itu baru bangun, dan ibunya entah berada dimana sekarang.


            “Dimana ibumu?”


            “Emm... tidur?” jawab Ciara polos. Ia sedikit melirik lantai atas, tempat dimana kamar ibunya berada, lalu kembali menatap Aciel saat dirasa kamar ibunya masih tertutup rapat.


            “Daddy, ayo kita jalan-jalan. Ciara belum pernah jalan-jalan bersama daddy.” rengek gadis kecil itu manja. Aciel merasa tidak bisa mengabaikan keinginan putri kecilnya begitu saja, dan ia hanya menganggukan kepalanya setuju setelah Ciara berhasil meruntuhkan dinding egonya yang sangat tinggi. Sekali-sekali ia memang harus meluangkan waktunya untuk keluarga kecilnya dan tidak hanya memikirkan urusan kantor yang tidak akan pernah selesai.


            “Baiklah, kita pergi jalan-jalan. Sekarang kau harus mandi, dan bersiap-siap. Daddy akan menunggumu di sini.”


Cup


            Ciara memberikan satu ciuman gemas di pipi Aciel hingga pipi Aciel basah karena bibir Ciara. Namun Aciel hanya tertawa menanggapi kebahagiaan putrinya sambil menurunkan putrinya dari gendongannya.


            “Ciara... Ayo mandi, ini sudah siang nak...”


            Eden tiba-tiba muncul dari arah dapur dengan semangkuk kari ayam yang masih mengepulkan asap tipis. Wanita itu terlihat baru saja memasak dengan apron yang masih melekat di pinggang rampingnya.


            “Ayo kita mandi.” ajak Eden dari kejauhan. Ia terlihat sedang menata meja makan dibantu dengan tuan Kim dan satu pelayan bernama Kathy. Setelah itu Eden berjalan tenang kearah Ciara tanpa menatap kearah Aciel yang sejak tadi terus mengawasi pergerakannya seperti seekor elang. Eden langsung berjongkok di depan Ciara dan meminta gadis kecil itu untuk mandi. Aciel yang merasa diabaikan langsung berjalan menjauh menuju meja makan untuk meminum kopi hitamnya.


            “Mommy, hari ini Ciara akan jalan-jalan bersama daddy.”


            “Benarkah?” tanya Eden tidak yakin sambil melirik kearah Aciel. Pria itu terlihat seperti akan pergi ke kantor dengan stelan jas lengkap yang melekat di tubuhnya.


            “Daddy yang mengatakannya. Daddy, apa mommy boleh ikut?”


            “Boleh.” jawab Aciel singat. Ciara langsung berseru girang pada ibunya sambil memeluk leher Eden erat.


            “Ayo mommy kita mandi, daddy akan mengajak kita jalan-jalan.” teriak Ciara girang. Eden lantas menggendong tubuh berisi Ciara menuju kamarnya untuk mandi dan segera bersiap. Namun sebelum ia pergi, ia sempat melirik kearah Aciel sekilas yang sedang mengerutkan dahinya serius di meja makan. Ekspresi pria itu seperti sedang terganggu dengan sesuatu, tapi pada akhirnya Eden memilih untuk mengabaikannya dan segera membawa Ciara untuk mandi di kamarnya. Aciel bukan urusanku!


-00-


            Tiga puluh menit kemudian Ciara telah siap dengan kaos santai berlengan panjang dan sebuah celana panjang yang senada dengan kaosnya. Dengan rambut panjangnya gadis itu berlari-lari kearah Aciel sambil membawa topi putihnya yang terlihat sangat mungil.


            “Aku sudah siap!”


            Ciara sengaja membuat gerakan mengagetkan ayahnya dengan menepuk keras lengan ayahnya yang sedang membaca koran. Seketika Aciel segera melipat korannya dan tersenyum kecil pada Ciara.


            “Kau sudah siap, mana ibumu?” tanya Aciel ketika ia tidak melihat Eden sedikitpun di sekitar Ciara. Gadis kecil itu lalu menunjuk kearah atas dan mengatakan jika ibunya sedang bersiap-siap di atas.

__ADS_1


            “Daddy, aku juga punya topi.”


            Ciara memamerkan topinya dengan bangga dan meminta Aciel untuk memakaikannya agar sama dengan gaya baju ayahnya pagi ini.


            “Cantik, seperti ibumu.”


            Tak berapa lama Aciel melihat Eden sedang berjalan tenang menuruni anak tangga sambil menundukan wajahnya, berpura-pura mengamati langkah kakinya yang semakin lama semakin membawanya turun ke lantai bawah. Dengan menggunakan celana jeans, jaket merah, dan tas slempang yang menggantung di pundaknya, Eden tampak siap untuk pergi jalan-jalan bersama putri kecilnya. Penampilan Eden pagi ini sungguh berbeda, ia terlihat lebih muda, dan sama sekali tidak terlihat seperti seorang ibu yang telah memiliki seorang anak berusia tiga tahun. Meskipun sedikit kaku, Eden mencoba bersikap santai di hadapan Aciel sambil memberikan senyum tipis pada pria itu saat ia telah berdiri di depan tubuh mungil putrinya.


            “Ayo kita pergi mommy...”


            Ciara langsung menarik-narik tangan Eden menuju pintu depan, dan ia meninggalkan Aciel begitu saja yang hanya tersenyum simpul menanggapi sikap menggemaskan Ciara. Gadis kecil itu seperti sebuah api yang perlahan-lahan mulai mencairkan gunung es di hatinya. Sekarang ia merasa menyesal mengapa dulu ia tidak segera menikah dan memiliki keluarga kecil seperti ini? Mengapa ia dan Eden harus membuat hidup mereka menjadi rumit hingga pada akhirnya Ciara hadir memberikan kelengkapan untuk hidup mereka. Tapi ini memang takdir yang harus ia jalani sebelum ia benar-benar mendapatkan kebahagiaanya sendiri. Dan ia sangat bersyukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk merasakan bagaimana hidup di tengah-tengah keluarga kecil yang hangat seperti ini.


-00-


            Aciel tersenyum sendiri di ruang kerjanya saat mengingat bagaimana Ciara membuatnya dan Eden bertengkar dengan konyol hari ini. Padahal sejak mereka keluar dari rumah hingga mereka tiba di taman bermain, Eden terus saja menunjukan sikap dingin yang tidak bersahabat. Bahkan Eden terkesan selalu menghindar saat ia mendekatinya. Lalu Ciara dengan lucunya membuat mereka bertengkar karena ia mengijinkan Ciara membeli makanan apapun di sebuah mini market, sedangkan Eden langsung melarang Ciara habis-habisan sambil mengomel kearahnya karena telah mengijinkan Ciara memasukan banyak coklat ke dalam keranjang mereka.


Prangg!


        “Argghh...”


        Aciel melempar asal ponselnya dengan layar yang masih menunjukan potret wajah bahagia Ciara saat membeli coklat di mini market sambil menahan rasa sakit yang terasa menggila di perutnya. Sejak tiga bulan yang lalu ia memang merasakan kondisi kesehatannya tidak baik-baik saja. Pola hidupnya yang tidak sehat membuatnya memiliki sakit lambung yang cukup parah. Dokter pernah mengingatkannya agar ia mengubah pola hidupnya menjadi lebih sehat jika ia tidak ingin mati di usia muda. Namun Aciel tetaplah Aciel, ia selalu mengabaikan nasihat-nasihat yang diberikan oleh orang-orang di sekitarnya, dan hanya meminum obat itu saat ia benar-benar sakit.


Bragg


            Barang-barang di meja kerja Aciel mulai berjatuhan saat Aciel mencoba mencari botol obatnya di dalam laci meja kerjanya sambil terus memegangi perutnya yang terasa seperti diremas-remas. Ini adalah salah satu serangan yang paling parah semenjak ia memeriksakan kondisinya pada dokter Blemis. Dan sejak tadi pagi sebenarnya ia telah merasakan rasa sakit di bagian perut atasnya, namun ia terus mengabaikannya karena ia tidak ingin mengecewakan Ciara yang tampak bahagia dengan hadiah kecilnya.


            Aciel mencoba memanggil tuan Kim berkali-kali ketika dirasa ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit itu. Dengan berat hati ia harus menyerah dan rela tubuhnya ambruk karena dikalahkan oleh penyakitnya.


            Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki ia mencoba berdiri dan menggapai pintu kayu di depannya. Namun ia langsung jatuh begitu saja saat seseorang tiba-tiba mendorong pintu kayu di depannya dan memekik histeris saat melihat kondisinya.


            “Aciel! Apa yang terjadi padamu? Ace... Aciel!”


            Eden mencoba menepuk-nepuk pipi Aciel berkali-kali sambil menatap panik ruang kerja Aciel yang tampak kacau. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi pada Aciel, ia hanya sekedar mendengar suara teriakan yang terdengar aneh dari ruangan Aciel. Lalu tanpa pikir panjang ia segera berlari ke ruangan ini untuk melihat apa yang terjadi. Dan di luar dugaan, ternyata ia harus menemukan Aciel dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan seperti ini.


            “Ace... Aciel Lutherford...”


            Eden masih mencoba menyadarkan Aciel agar setidaknya pria itu dapat meresponnya. Namun setelah cukup lama Aciel hanya mengerang kesakitan di depannya, Eden segera berlari menuju kamar tuan Kim di luar bangunan utama mansion agar pria itu dapat menolongnya.


            Saat ia berlari-lari di dalam mansion Aciel, hampir tidak ada kehidupan yang tersisa di sana. Semua pelayan sedang terlelap di kamar mereka masing-masing, sedangkan semua petugas keamanan sedang berada di dalam pos mereka di depan rumah. Tapi entahlah, apakah ini semua kebetulan atau apa, saat ia sedang turun untuk


melihat Ciara di kamarnya, ia secara tidak sengaja mendengar suara teriakan Aciel yang tampak lemah. Dan selama lebih dari sepuluh tahun ia tinggal di mansion ini, Aciel jarang berteriak-teriak di tengah malam seperti ini. Aciel lebih senang mendesah keras bersama teman kecannya di dalam ruang kerjanya yang terkadang memang digunakan untuk saling bercumbu.


            “Tuan Kim.”


            Eden tampak terengah-engah di hadapan tuan Kim sambil mencoba mengatur deru nafasnya yang masih menggila.

__ADS_1


            “Nona, ada apa?”


            Eden sebenarnya tidak enak pada tuan Kim karena telah membuat pria tua itu menjadi kaget di tengah malam yang hening ini. Tapi ia harus melakukannya jika ia ingin Aciel selamat.


            “Aciel... dia kesakitan di dalam ruang kerjanya. Suhu tubuhnya juga terasa dingin, aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Ia tiba-tiba mengerang kesakitan dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.”


            “Tuan Aciel memang memiliki masalah pada sistem pencernaannya. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit.”


            Mereka berdua lantas berlari-lari dengan heboh kearah ruang kerja Aciel dan membuat beberapa pelayan terbangun karena suara berisik hentakan kaki mereka. Namun Eden tidak peduli, saat ini yang ia pikirkan hanya kondisi Aciel, dan bagaimana pria angkuh itu bisa memiliki penyakit yang sangat mengerikan seperti itu. Jika


melihat bagaimana pola hidup Aciel yang tidak sehat, Eden merasa Aciel seharusnya cukup tahu diri untuk tidak mengonsumsi alkohol terus menerus atau bermain bersama wanita-wanita tidak jelas di klub. Sayangnya Aciel adalah pria arogan keras kepala yang terlalu angkuh untuk menyadari semua kekurangannya. Di dalam benaknya pria itu hanya ingin dipandang sempurna oleh orang lain, dan ia tidak ingin terlihat lemah sedikitpun dimata semua orang yang mengenalnya.


            “Tuan!”


            Tuan Kim langsung mendudukan tubuh tak berdaya Aciel di atas lantai dan mencoba mengecek perut Aciel dengan menekannya beberapa kali. Dan saat Aciel mulai merintih lagi dengan suara yang cukup keras, barulah tuan Kim berhenti dan segera memanggil salah satu supir Aciel untuk membawa tuan mereka ke rumah sakit.


            “Sepertinya kali ini cukup parah, kita harus membawanya ke rumah sakit dan meminta dokter Blemis untuk melakukan tindakan segera.”


            Dengan anggukan cepat Eden segera memapah tubuh tak berdaya Aciel menuju mobil, dibantu dengan tuan Kim dan seorang petugas keamanan yang baru saja datang setelah mendengar suara keributan.


            “Eden... arghh..”


            Aciel lagi-lagi merintih sambil memegangi perut bagian atasnya. Ia masih mencoba mempertahankan kesadarannya dengan mencengkeram bahu Eden cukup keras hingga Eden meringis kesakitan karena menahan sakit.


            “Aku tahu itu sangat sakit, bertahanlah.”


            “Ini sangat sakit.” erang Aciel tertahan. Jari-jemari Eden bergetar hebat ketika ia mencoba mengusap wajah Aciel yang telah penuh dengan keringat dingin. Ini adalah kali pertama Eden melihat Aciel terlihat selemah ini, bahkan sangat menyedihkan dengan wajah sepucat mayat.


            “Aku tahu, sebentar lagi kau akan mendapatkan perawatan di rumah sakit.” ucap Eden mencoba tenang sambil menuntun Aciel untuk masuk ke dalam mobil. Saat ini perasaannya benar-benar campur aduk, antara sedih dan juga takut. Ia takut Aciel akan mati dan meninggalkannya sama seperti Zyan. Ia merasa orang-orang yang memiliki perasaan padanya justru mendapatkan kutukan kesialan darinya. Aciel, pria itu tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Hidupnya selalu baik-baik saja saat pria itu tidak mencintainya. Dan sekarang tiba-tiba pria itu sudah tergolek tak berdaya dengan rasa sakit yang begitu luar biasa di perutnya. Aciel tidak mungkin akan berakhir seperti ini jika bukan karena kesialan yang ia bawa.


            “Arghh... bisakah kalian lebih cepat? Ini sangat sakit arrghhh...”


            Eden menggenggam telapak tangan Aciel yang terasa sedingin es, lalu mencoba menenangkan pria itu dengan membisikan kata-kata penyemangat di telinganya. Meskipun ia tidak tahu itu akan berguna atau tidak, tapi ia merasa harus memberikan dukungan pada Aciel melalui kata-kata yang ia bisikan di telinga pria itu.


            “Kau seharusnya tidak ikut, Ciara membutuhkanmu di rumah.”


            “Ada banyak pelayan di rumah, mereka bisa menjaga Ciara dengan baik. Apa kau tidak pernah makan dengan teratur?”


            “Arggh...”


           Lagi-lagi Aciel merintih saat merasakan perutnya seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum tak kasat mata. Dan saat Aciel terus merintih kesakitan seperti itu, tangan kanan Eden menelusup masuk kedalam kemeja Aciel, lalu ia mencoba mengusap perut Aciel agar pria itu merasa lebih baik.


            “Sebentar lagi kita akan sampai, kau hanya perlu bersabar untuk beberapa saat lagi.” ucap Eden menenangkan.


            Tak berapa lama mereka tiba di halaman luas rumah sakit St.Apollo, dan beberapa perawat langsung datang berhamburan sambil membawa blangkar. Sepuluh menit yang lalu tuan Kim rupanya telah menghubungi dokter Blemis agar segera menyiapkan sebuah kamar terbaik untuk Aciel.

__ADS_1


            “Silahkan anda menunggu di luar nyonya, kami akan melakukan pemeriksaan pada tuan Lutherford.”


            Eden langsung berhenti di depan ruang IGD sambil berharap cemas pada Aciel yang telah dibawa masuk ke dalam ruangan steril itu. Ia tidak tahu bagaimana Aciel akan bertahan di dalam sana, tapi ia berharap Aciel dapat bertahan dari penyakitnya dengan segala keangkuhan yang ia miliki.


__ADS_2