
Blarr!!
Laila menutup telinganya rapat-rapat sambil memandang lelah pada pemandangan jalanan Vegas yang tampak mengerikan. Hari ini ia dan Charlie menghabiskan waktu dengan berkaraoke dan makan siang bersama di salah satu restoran Prancis kesukaan Charlie. Meskipun hari ini Laila cukup senang menghabiskan waktu bersama Charlie, namun hujan yang turun di luar sana kembali mengingatkannya pada Nathan yang sedang terbaring lemah di dalam apartemenya yang dingin.
“Laila, apa kau lelah? Maaf, aku sudah mengajakmu pergi terlalu lama.”
“Apa? Sama sekali tidak, aku justru sangat berterimakasih padamu karena kau hari ini mengajakku untuk pergi bersenang-senang. Terimakasih banyak, Charlie.” ucap Laila tulus..
“Sama-sama dokter Stanford.” Charlie tersenyum lembut pada Laila. “Lain kali kita harus pergi ke tempat yang lebih menyenangkan lagi karena aku memiliki sebuah villa di daerah Red Rock, mungkin kapan-kapan kau ingin pergi ke sana.”
“Benarkah? Tentu saja aku mau, kau harus mengajakku ke sana lain kali.” ucap Laila antusias.
Charlie membelokan mobilnya ke dalam apartemen Laila dan menghentikannya tepat di depan pintu masuk apartemen Laila yang beratap.
“Kau sengaja menurunkanku di sini?” tanya Laila terkekeh. Padahal menurutnya tak masalah jika ia harus sedikit kehujanan karena ia memang sedang ingin merasakan guyuran hujan di luar sana.
“Aku tidak ingin kau kehujanan dokter Stanford.”
“Baiklah, terimakasih dokter Whitbroke. Selamat malam.”
Laila berbalik dan hendak membuka pintu yang berada di sebelahnya, tapi tiba-tiba Charlie menahan lengannya dan membuat Laila harus berbalik dan berhadapan dengan dokter muda itu lagi.
“Ada apa?”
“Kau lupa melepas sabuk pengamanmu."
“Oh Ya Tuhan, aku memang bodoh. Maafkan aku dokter Whitbroke, mungkin aku terlalu lelah dan tidak berkonsentrasi.”
Charlie mencondongkan tubuhnya dan menahan tangan Laila yang hendak membuka sabuk pengamannya. Pria itu tersenyum lembut pada Laila dan meminta ijin pada Laila untuk melepaskan sabuk pengaman yang melilit pinggang Laila.
“Biar aku saja dokter Stanford.”
Laila menahan napasnya sambil menatap tidak nyaman pada wajah Charlie yang berada sangat dekat dengan wajahnya. Dapat ia dengar suara detak jantungnya berdegup sangat kencang. Laila kemudian mensugesti dirinya sendiri agar tidak terlalu gugup, karena Charlie mungkin dapat mendengar suara detak jantungnya yang berisik itu.
“Aku sudah melepaskannya dokter Stanford, kau bisa turun sekarang.” bisik Charlie tepat di depan wajah Laila. Laila menatap wajah Charlie dengan gugup sambil berdeham pelan untuk menyadarkan Charlie jika pria itu masih berada di depannya dan menghalangi tubuhnya untuk turun.
“Ehem, kau menghalangiku untuk turun..” ucap Laila gugup. Charlie tersenyum kecil pada Laila dan langsung menyingkirkan tubuhnya tanpa kata.
“Sampai jumpa.”
Laila cepat-cepat membuka pintu mobil milik Charlie setelah pria itu menyingkirkan wajahnya. Tapi belum sempat ia melangkah turun, Charlie sudah terlebihdahulu menarik tangannya dan langsung menciumnya tepat di pipi kanannya.
“Selamat malam dokter Stanford.” ucap Charlie ringan. Laila langsung terpaku di tempat dan tampak tak bisa berkata-kata. Baru kali ini ia mendapatkan ciuman dari seorang pria yang baru dikenalnya, biasanya ia sangat protektif pada dirinya sendiri dan tidak mengijinkan pria manapun menyentuhnya sebelum mereka benar-benar menjadi suaminya.
“Sse selamat malam dokter Whi Whitbroke.” ucap Laila terbata-bata setelah ia sudah benar-benar turun dari mobil merah milik Charlie.
Sepeninggal Charlie, Laila segera masuk ke dalam apartementnya dan memilih untuk tidak terlalu ambil pusing dengan ciuman Charlie. Ia terus mengatakan pada dirinya sendiri jika Charlie adalah pria yang baik, sehingga ia yakin jika Charlie tidak akan memiliki pikiran yang macam-macam terkait kelancangan pria itu saat mencium pipinya.
Laila langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofanya yang nyaman sambil memejamkan kedua matanya yang lelah. Bayang-bayang Nathan yang hari ini telah ia lupakan tiba-tiba kembali muncul dan menari-nari di dalam kepalanya, membuatnya merasa kesal dan juga jengah disaat yang bersamaan. Laila kemudian memutuskan untuk berendam di dalam bathtube dengan lilin aromaterapi agar kepalanya yang tidak beres itu segera normal kembali setelah menghirup aroma menenagkan dari lilin cantik itu.
Ting
tong
Belum sempat Laila melangkah menuju kamar mandinya, suara bel apartemen yang nyaring sudah lebih dulu menginterupsinya. Dengan malas Laila mulai berjalan menuju pintu depan untuk membukakan pintu dari sang tamu.
“Dokter Whitbroke, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Laila terkejut. Wanita itu tampak tidak menyangka jika Charlie akan naik menuju apartemennya.
“Tiba-tiba aku berpikir untuk berkunjung sebentar, bolehkah aku masuk ke dalam?”
__ADS_1
“Oh tentu, masuklah.”
Laila memberikan Charlie jalan dan mempersilahkan pria itu untuk duduk di sofanya yang empuk. Laila kemudian meminta ijin sebentar untuk membuatkan minuman di dapur, namun pria itu menolaknya dengan halus dan justru menarik tangan Laila untuk duduk di sebelahnya.
“Tidak perlu dokter Stanford, aku tidak membutuhkan minuman, aku hanya..... membutuhkanmu.”
Tiba-tiba Charlie langsung mendorong tubuh Laila ke atas sofa dan mencoba untuk mencium Laila. Sekuat tenaga Laila melawan tubuh Charlie yang menekan tubuhnya agar ia bisa segera terbebas dari pria brengsek itu.
“Lepaskan! Apa yang kau lakukan Charlie!” teriak Laila meronta-ronta. Charlie tersenyum miring pada Laila sambil mencekik leher Laila agar Laila tak banyak bergerak.
“Dokter Stanford, malam ini kau harus jadi milikku.”
“Brengsek kau! Lepaskan aku! Jangan macam-macam padaku atau akau akan berteriak.” ancam Laila dengan wajah garang. Keringat dingin tampak bercucuran di sekitar kening Laila dan wajahnya kini sudah mulai berubah pucat. Tak dapat dipungkiri jika sebenarnya ia sedang ketakutan sekarang!
“Sssttt, jadilah gadis yang baik sayang.. Tapi, sepertinya kau bukan seorang gadis lagi, jadi seharusnya kau
tidak perlu setakut ini padaku.”
Charlie mulai memajukan wajahnya dan ia berhasil memberikan kiss mark di cerukan leher Laila. Sekuat tenaga Laila mendorong tubuh Charlie sambil menendang-nendang apapun yang ada di depannya, berharap tendangannya akan melukai Charlie, tapi yang ia dapatkan justru hanya udara kosong yang dingin.
“Ahh... lepaaskan!”
Laila berteriak jijik ketika tangan Charlie mulai meraba wajahnya dan turun hingga bibirnya. Kedua mata pria itu terlihat berkabut dan sudah siap untuk melahap bibir merah Laila yang menggoda.
“Sudah lama aku ingin mencicipi bibir merah ini, dokter Stanford, bolehkah aku mencicipinya?”
Tanpa menunggu jawaban dari Laila, Charlie langsung ******* bibir itu tanpa ampun sambil menahan tangan Laila yang sejak tadi terus menerus memukul punggungnya.
“Mmpphh... le...phhh.. Ccharmmphhhh.”
Charlie terus membungkam bibir Laila yang terus berteriak-teriak dengan berisik. Ia sangat tidak suka jika kegiatan intimnya harus diganggu dengan suara berisik yang memuakan itu.
Bughhh
“Siapa kau! Apa yang kau lakukan di apartemen kekasihku?” teriak Charlie marah sambil menyeka tetesan darah yang mengalir di hidungnya. Nathan menatap sinis pada Charlie dan langsung menghantam pria itu lagi dengan tinjuannya yang keras. Hari ini ia sedang sangat marah dan ingin menyalurkan rasa marahnya dengan memukul orang-orang yang telah menyakiti Laila, dan jika Charlie tidak segera pergi, maka ia bisa saja mati di tangan Nathan.
“Huh, kekasihmu? Yang benar saja, dasar brengsek!”
Bughh
Nathan kembali menghajar Charlie dan membuat pria itu pingsan seketika dengan pukulannya yang ia arahkan diperutnya. Cepat-cepat Nathan menghampiri Laila yang sedang melamun di atas sofa dengan tubuh bergetar.
“Laila... Laila apa kau baik-baik saja? Laila.. hei sadarlah, ini aku Nathan. Laila...”
Nathan mengguncang-guncangkan tubuh Laila berkali-kali agar wanita itu segera tersadar dari lamunannya. Dan setelah cukup lama Nathan mengguncang bahu kecil itu, tiba-tiba Laila mendapatkan kesadarannya kembali dan langusng memeluknya.
“Nathan....”
Laila menangis tersedu-sedu di pundak Nathan sambil memeluk tubuh Nathan erat-erat. Kejadian malam ini telah menorehkan trauma yang cukup mendalam di ingatan Laila, sehingga wanita itu sangat ketakutan dan enggan utnuk melepaskan pelukannya dari Nathan karena ia takut akan berhadapan lagi dengan Charlie.
“Ssshhhh.... tenanglah Lai, pria itu tidak akan menyakitimu lagi, aku sudah menghajarnya hingga pingsan.” ucap Nathan menenangkan. Namun sepertinya jiwa Laila masih terguncang sehingga ia langsung menolak permintaan Nathan untuk melepaskan pelukannya.
“Nath... aku takut. Aku tidak mau berada di sini. Nath aku takut..” racau Laila berkali-kali. Nathan mencoba untuk menenangkan Laila sambil mengelus pelan puncak kepala mantan istrinya. Hari ini Nathan benar-benar merasa bersyukur karena ia tidak sengaja melihat Laila sedang berjalan-jalan dengan Charlie saat ia hendak membeli vitamin di apotek terdekat. Karena merasa curiga dengan Charlie, akhirnya Nathan memutuskan untuk mengikuti Charlie. Dan ternyata dugaannya memang benar, Charlie hari ini ingin memperkosa dan menyakiti Laila.
“Nath, bawa aku pergi, aku tidak mau di sini. Nath, aku mohon, bawa aku pergi...” mohon Laila dengan wajah menyedihkan yang dipenuhi air mata. Merasa tidak tega, akhirnya Nathan mengiyakan permintaan Laila dan membawa pergi Laila dari apartemennya.
“Ssshhh tenanglah, aku akan membawamu sejauh-jauhnya dari apartemenmu. Kau percaya padaku bukan?”
Laila menganggukan kepalanya lemah sambil bersandar pada dada bidang Nathan yang nyaman. Nathan pun segera mengangkat Laila untuk pergi dari apartementnya, sedangkan Charlie, mereka langsung meninggalkannya begitu saja di depan pintu masuk dengan darah yang mulai mengering dari lubang hidungnya.
__ADS_1
-00-
Keesokan harinya Laila tampak melamun di atas ranjang milik Nathan sambil menatap nanar pada pemandangan Kota Vegas yang mendung. Sedangkan Nathan tampak begitu prihatin memperhatikan kondisi Laila yang terlihat kacau. Perlahan-lahan Nathan mencoba untuk menyentuh pundak Laila dan menyadarkan wanita itu dari lamunannya, namun yang terjadi setelahnya Laila justru menangis tersedu-sedu dengan memilukan di pundak Nathan.
“Nath, aku tidak bisa menghilangkan bayangan pria brengsek itu dari kepalaku. Aku merasa masih mendengar suaranya yang menjijikan di dalam sana... Nath... kumohon tolong aku.” isak Laila lirih dengan air mata yang terus menganak sungai tanpa henti. Nathan mencoba menangkan Laila dengan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Tapi ia merasa usahanya itu sia-sia saja karena isak tangis Laila justru terdengar semakin keras.
“Laila kumohon tenanglah, beritahu aku apa yang harus kulakukan agar kau tidak terus menerus seperti ini, aku sakit melihatmu yang seperti mayat hidup.”
Laila mendongakan wajahnya sambil menatap Nathan dalam. Dan tanpa diduga, Laila langsung ******* bibir Nathan dan membuat Nathan terjatuh ke belakang.
“Aku tidak mau memiliki bekas pria brengsek itu di tubuhku, aku tidak mau! Nath, kumohon bantu aku. Bantu aku membersihkan semua bekasnya di tubuhku, kumohon Nathan... aku tidak mau mengingatnya lagi, aku tidak mau.”
Nathan manatap wajah Laila dalam, dan setelah itu ia langsung ******* bibir Laila penuh nafsu. Sudah lama ia tidak merasakan sentuhan bibir Laila di bibirnya. Dan saat Laila menciumnya untuk pertama kali, ia merasa seperti disengat oleh aliran listrik berkekuatan tinggi. Ia ingin merasakan bibir itu lagi dan lagi.
“Mmphhh... Naath maafkan aku.”
Disela-sela ciumannya Laila masih sempat menyelipkan permintaan maafnya pada Nathan, karena ia sudah pernah memaki-maki Nathan dan menyakiti pria itu, padahal Nathan selama ini sudah berusaha untuk memperbaiki semuanya. Dan sekarang saat ia sedang tertimpa sial, Nathan lah satu-satunya pria yang datang untuknya. Ia pikir apa yang dikatakan oleh Lucas memang benar, Nathan adalah satu-satunya pria yang tepat untuknya. Tidak ada pria lain yang mengerti dirinya melebihi sikap Nathan padanya selama ini. Tapi meskipun begitu ia masih merasa takut untuk melangkah kembali ke sana, ia takut memasuki kehidupan itu bersama Nathan. Setidaknya ia perlu waktu untuk menata hatinya dan menyiapkan segala hal untuk menghadapi kehidupan rumah tangganya lagi bersama Nathan.
“Laila, apa kau....”
Belum sempat Nathan menyelesaikan kalimatnya, Laila sudah terlebihdahulu menarik tengkuk Nathan dan menghisap bibir itu kuat-kuat. Suara decapan khas yang meramaikan medan pertempuran terdengar saling bersahut-sahutan satu sama lain. Sepertinya pagi ini Laila sedang kehilangan kewarasannya dengan mengumpankan dirinya pada singa kelaparan yang sangat buas.
“Lakukan apapun untuk meluluhkanku, dan aku akan mempertimbangkan untuk kembali padamu.” ucap Laila disela-sela kegiatan intim mereka. Nathan tersenyum sinis pada Laila sambil membelai bibir Laila yang bengkak.
“Baiklah itu tidak masalah. Kau pasti akan luluh dengan kegilaanku.” balas Nathan sungguh-sungguh sebelum tangan kekarnya menarik tubuh Laila untuk meraup bibir merah seksi yang sejak tadi terus memanggilnya.
“Jadi apa Hyena langsung tumbuh di dalam sana setelah itu?” tanya Eden polos kearah Laila yang sedang meminum jus mangganya dengan rakus. Wanita itu lagi-lagi kehausan di tengah-tengah ceritanya yang belum tuntas. Padahal Eden masih penasaran dengan kelanjutan kisah cinta Laila dan Nathan di masa lalu. Menurutnya itu sangat menarik, dan menginspirasi.
“Menurutmu?” tanya Laila misterius.
“Sebenarnya aku mendengarkan cerita macam apa ini?” tanya Jessica tak mengerti. Eden tampak tersenyum-senyum jahil kearah Jessica karena ia berhasil mengerjai wanita itu.
“Sudahlah Jess, dengarkan saja. Kau pasti akan tahu.” ucap Eden santai.
“Ed!”
“Ya Tuhan, apa lagi itu?” desah Eden kesal. Suara keras Aciel seperti sebuah alaram yang mengharuskannya untuk bersiaga karena pria itu tidak mungkin akan memanggilnya jika bukan untuk mengurus anak-anaknya.
“Ada apa?” Eden langsung menoleh cepat saat dirasanya Aciel telah mendekat kearahnya sambil menggendong Louise yang sedang menangis dengan keras.
“Anakmu jatuh. Kenapa kau tidak mengawasi Louise sih?”
“Ya ampun, kau sendiri kenapa tidak mengawasinya?” balas Eden jengkel. Selalu saja pria itu mengganggu kesenangannya dan menyalahkannya jika sesuatu terjadi pada anak mereka.
“Aku sedang memanggang daging untuk makan malam kita.”
“Alasan.” cibir Eden tak mau kalah. Ia lalu menarik tangan Louise agar turun dari gendongan ayahnya, dan beralih padanya untuk dipeluk. Ia tahu Louise pasti sedang mengantuk hingga berubah menjadi rewel.
“Lai!”
“Apa lagi itu?” gumam Laila sambil memutar bola matanya malas. Tak lama kemudian Nathan masuk sambil menyeret Hyena yang sedang meronta-ronta kesal di dalam cekalan ayahnya yang sedang marah.
“Dia mengacaukan meja makan. Dia memecahkan dua gelas, merebut mainan Louise hingga ia jatuh, lalu bertengkar dengan Marc. Tenangkan dia sekarang.” ucap Nathan kesal. Keempat wanita itu lalu saling menatap satu sama lain, dan secara bersamaan mereka mendesah berat saat melihat suami-suami mereka mulai berdatangan dengan anak-anak mereka.
“Jess, Marc lapar. Dia baru saja bertengkar dengan Hyena.”
“Ohh sayang, sini duduk bersama mommy.” sambut Jessica sambil merentangkan tangan kearah Marc. Sebelum pria kecil itu berjalan kearah ibunya, jelas sekali ia sedang mengibarkan bendera permusuhan kearah Hyena yang saat ini sedang dipeluk paksa oleh Laila karena anak itu mencoba kabur dari ibunya.
“Sepertinya anak-anak mulai lapar dan kelelahan. Bagaimana jika acara makan malamnya kita mulai sekarang juga?” usul Sian yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Pria itu terlihat lebih baik dari ketiga pria yang lain karena hanya Sian yang tidak memiliki anak laki-laki yang super ribut. Putrinya saat ini aman bersama Ciara yang sedang sibuk mengajarinya bermain puzzle.
__ADS_1
“Tapi kami belum selesai.” keluh Eden kesal. Lagi-lagi kegiatan serunya diusik oleh para suami dan anak-anak. Sayangnya para ibu muda itu tidak bisa berbuat apa-apa selain mengurus keluarga kecil mereka dulu sebelum menuntaskan drama percintaan milik Laila dan Nathan yang sungguh bagus untuk mereka.
“Kita lanjutkan lagi nanti, ladies. Sekarang mari kita menjadi istri dan ibu yang baik untuk mereka.” ucap Laila mencoba menghibur sambil bangkit berdiri untuk menyuapi Hyena di taman belakang.