Black Swan

Black Swan
I Love You From My Deepest Heart (Fifthy One)


__ADS_3

         Keesokan harinya di siang hari yang terik, Eden terlihat masih terduduk lesu di atas ranjangnya setelah selama dua jam ia menghabiskan waktunya untuk berendam dan menggosok semua sisa sentuhan Aciel di tubuhnya. Namun sialnya pria itu meninggalkan bekas yang terlewat banyak sehingga ia tidak bisa menghapus bekas-bekas itu dengan mudah dari tubuhnya. Tapi kejadian semalam sedikit banyak membuatnya senang karena pria itu benar-benar menepati janjinya. Ia tidak lagi dikurung di dalam kamar, tapi ia sudah diijinkan untuk jalan-jalan keluar. Namun ia merasa jika siang ini suasana rumah ini begitu ramai karena sejak tadi ia terus mendengar suara mobil berlalu lalang di bawah dan juga suara benda keramik yang beberapa kali terdengar beradu dengan nyaring.


Tok tok tok


            “Permisi..”


            Seorang wanita cantik dengan dress coklat selutut tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya sambil tersenyum lembut kearahnya. Wanita itu diikuti oleh tiga orang wanita yang terlihat seperti seorang pegawai di belakangnya, dan setiap wanita itu membawa sebuah gaun yang begitu indah dan juga anggun. Lalu setelah mendapatkan


istruksi dari seorang wanita yang terlihat seperti bos mereka itu, para gadis itu segera menghamparkan dres-dres cantik itu di atas ranjang sambil membungkuk hormat untuk meminta ijin pada Eden yang masih terlihat takjub di tempatnya.


            “Selamat siang nyonya Eden, saya adalah desainer yang diminta oleh tuan Aciel untuk merias anda karena malam ini tuan Aciel akan mengadakan pesta untuk merayakan kesembuhan anda dan juga kelahiran putra ke dua anda, Louise.”


            Awalnya Eden sempat merasa terkejut karena ia tidak menyangka jika pria jahat seperti Aciel akan repot-repot membuatkannya pesta untuk merayakan kesembuhannya. Tapi sesaat kemudian ia dapat mencium aroma kebebasan yang sesungguhnya melalui pesta itu, jika ia bisa memanfaatkan kesempatan dengan benar, ia dapat keluar dari rumah ini selagi para tamu dan juga Aciel sedang disibukan dengan serangkaian acara pesta.


            “Kenapa ia membuatkan pesta untukku? Kurasa itu terlalu berlebihan.” komentar Eden datar. Desainer itu mengendikan bahunya tidak mengerti, namun setelah itu ia memberikan jawaban yang sedikit bijak untuk Eden.


            “Mungkin pesta itu akan menjadi bukti betapa tuan Aciel sangat menyayangi anda nyonya. Apalagi nyonya baru saja sadar dari koma, sudah pasti tuan Aciel sangat lega dengan kembalinya anda di rumah ini.”


            Rasanya Eden ingin sekali muntah karena ia sudah bosan mendengar seluruh manusia di rumah itu yang tidak henti-hentinya membela Aciel. Padahal ia yakin di luar sana banyak sekali pihak-pihak yang pernah disakiti oleh Aciel, termasuk dirinya.


            “Semua orang di rumah ini terus memandang Aciel baik, memangnya apa yang dilakukan pria itu pada kalian?” dengus Eden gusar. Penata rias itu cukup terkejut dengan pertanyaan Eden karena wanita itu tidak tahu jika Eden sedang mengalami lupa ingatan. Ia pikir Eden dan Aciel sedang dalam mode bertengkar sehingga Eden seolah-olah tampak membenci suaminya sendiri.


            “Maksud anda bagaimana nyonya?”


            “Sudahlah lupakan saja, tidak penting. Lebih baik kau lakukan saja tugasmu dengan baik. Buat aku semenawan mungkin karena hari ini aku ingin memberikan kejutan untuk pria arogan itu.”


            Meskipun penata rias itu sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan Eden, namun ia tetap mengangguk dan mulai merias wajah Eden dengan berbagai make-up mahal yang dibawanya. Sambil mempersiapkan semua peralatan makeup yang ia bawa, perias itu sesekali melirik kearah Eden yang sedang duduk dengan gelisah sambil memegangi bagian dadanya yang terlihat memiliki noda basah.


            “Ada apa nyonya? Anda sejak tadi terlihat gelisah.”


            “Eee... entahlah, dadaku terasa kencang dan nyeri. Lalu ini...” Eden dengan ragu menunjukan


kedua dadanya yang terlihat menunjukan noda basah. Sejak ia bangun dari koma, ia mulai merasakan ada yang aneh dengan dirinya, namun ia tidak berani mengatakannya pada Aciel atau pelayan-pelayan yang sering berlalu lalang di dalam kamarnya. Ia lebih memilih menutupinya dengan berdalih jika ia baru saja membasahi bajunya saat


membasuh wajah di kamar mandi. “Ini selalu basah, dan aku tidak tahu apa penyebabnya.”


            Melihat itu, si perias hanya tersenyum lembut sambil mengusap punggung Eden pelan. Ia lalu


meminta salah satu pelayan untuk pergi ke kamar Louise dan membawa bayi mungil itu pada ibunya. “Tidak apa-apa nyonya, hal itu biasa terjadi pada wanita yang baru saja melahirkan. Anda seharusnya bersyukur karena anda dianugerahi ASI yang melimpah oleh Tuhan. Banyak wanita di luar sana yang tidak bisa menghasilkan ASI sebanyak anda, sehingga harus memberikan susu formula untuk bayi mereka.” ucap perias itu lembut. Untuk beberapa saat Eden hanya mampu mematung di tempat tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun. Fakta yang sejak kemarin selalu ia tepis perlahan-lahan membuatnya merasa ketakutan. Ia merasa belum siap memiliki anak dari Aciel, bahkan kehadiran Ciarapun masih menjadi tanda tanya besar di hatinya.


            “Nyonya..."

__ADS_1


            Lamunan Eden seketika buyar saat ia melihat pantulan seorang pelayan yang sedang menggendong seorang bayi mungil di dalam dekapannya. Pelayan itu kemudian tersenyum lembut kearah Eden yang masih membisu di tempatnya sambil mendekatkan bayi itu kearah Eden. “Nyonya, tuan muda Louise sangat merindukan nyonya.” ucap pelayan itu dengan suara ringan tanpa mempedulikan kepanikan yang tercetak jelas di wajah Eden ketika dengan sedikit paksaan pelayan itu mengangsurkan putra kecilnya ke dalam dekapannya. Kedua tangan


Eden tanpa sadar telah bergetar hebat dan hampir saja Eden akan menjatuhkan Louise jika tangan pelayan itu tidak dengan sigap memegang sisi kanan tubuh Louise.


            “Aa aku... aku takut akan menyakitinya.” gumam Eden pelan dengan tatapan sendu. Melihat Louise yang sedang membuka mata di dalam dekapannya seketika membuat Eden ingin menangis. Hatinya merasa sakit entah karena apa, dan akhirnya ia hanya mampu memeluk bayi mungil itu erat sambil menangis dalam diam.


            “Tidak apa-apa nyonya, pelan-pelan saja. Saat ini tuan muda Louise membutuhkan ASI anda, dan anda juga harus memberikannya jika anda tidak ingin merasa sakit.” sang perias dengan lembut membantu Eden untuk menyusui Louise untuk pertama kalinya sambil mengelus pundak Eden lembut agar wanita itu tenang. Ia pikir Eden terlihat seperti itu karena baru saja terbangun dari masa komanya. Sang perias sama sekali tidak tahu jika Eden sebenarnya sedang mengalami amnesia akibat kecelakaan yang menimpanya beberapa saat yang lalu.


            “Akhirnya kau bertemu dengan Louise.”


            Suara dingin dan terdengar tajam itu tiba-tiba mengejutkan Eden yang masih berusaha menyesuaikan diri dengan keberadaan Louise di dalam dekapannya. Seketika semua orang memilih untuk menyingkir dari kamar Eden dan membiarkan Eden bersama Aciel untuk sementara waktu.


            “Dia sangat kecil dan rapuh saat dilahirkan. Aku bahkan takut untuk menggendongnya ketika dokter memberikannya padaku saat itu.” cerita Aciel sambil mengelus kepala putranya lembut. Ada rasa haru yang tiba-tiba menyusup ke dalam hati Aciel saat melihat Eden sedang menyusui Louise untuk pertama kalinya. Meskipun ia tahu jika Eden masih belum bisa menerima semua itu dengan mudah, namun ia bersyukur karena Eden masih bersedia untuk menyusui putranya seperti ibu-ibu pada umumnya.


            “Katakan sesuatu Eden, aku tahu kau ingin melakukannya.” ucap Aciel akhirnya setelah ia merasa tidak tahan dengan kebisuan yang melingkupi mereka sejak tadi.


            “Apa yang ingin kau dengar dari bibirku?”


            “Apapun, asalkan kita tidak terjebak di situasi yang memuakan ini.”


            “Pelankan suaramu, ia sedang tidur.” balas Eden dingin ketika ia melihat bayi itu telah menutup matanya rapat, namun bibir mungilnya masih setia menghisap dada ibunya untuk membuat perut kecilnya merasa kenyang.


            “Bagaimana perasaanmu?” tanya Aciel lebih seperti bisikan setelah ia mengambil kursi dan mendudukan dirinya tepat di sebelah Eden yang sedang menepuk-nepuk pantat bayi mungilnya lembut. Mungkin itu semacam naluri, entah bagaimana Eden merasa ingin melakukan hal itu untuk bayi mungil yang saat ini telah selesai mengisi perutnya dengan ASI miliknya. Ia lalu segera mengancingkan kancing kemejanya lagi tanpa mempedulikan Aciel yang sejak tadi terus menatap kearahnya.


            “Apa yang kau lihat saat ini seharusnya telah menjelaskan semuanya Ed, kau adalah istriku dan ibu dari anak-anakku. Tidak ada yang perlu kau bingungkan lagi.”


            “Tapi aku harus mencari jawabanku sendiri...” Eden berseru pelan dengan sorot tajam kearah Aciel melalui cermin besar yang berdiri kokoh di depannya. “Dan itu dengan caraku sendiri.” tambah Eden tajam sebelum akhirnya ia bangkit berdiri untuk menyerahkan Louise pada pengasuhnya.


-00-


            Malam harinya Aciel terlihat sibuk berada di halaman rumahnya untuk menyambut para tamu yang datang. Setiap tamu yang berjalan masuk ke dalam mansion mewah milik Aciel terlihat begitu menawan dengan stelan jas atau gaun yang melekat sempurna pada tubuh ramping mereka. Sembari menyambut berbagai tamu yang datang, Aciel sesekali melongok ke dalam ruang utama rumahnya untuk menanti kemunculan Eden karena menurut salah satu pelayannya saat ini Eden sudah siap dan hanya menunggu panggilan darinya untuk turun.


            “Sian, gantikan aku menyambut tamu, aku harus ke podium untuk memberikan sedikit sambutan dan memanggil Eden untuk segera turun dari tangga melingkar itu.”


            Sian menganggukan kepalanya mengerti dan memberikan tepukan penyemangat di pundak Aciel sekali agar pesta yang mereka rencanakan mampu memukau Eden dan membuat wanita itu menyadari seberapa besar cintanya untuk wanita itu.


            Dengan langkah tegap dan penuh wibawa Aciel segera naik ke atas  podium untuk memberikan sedikit kata sambutan untuk seluruh tamu yang telah hadir dalam pestanya malam ini.


            “Selamat malam dan terimakasih kepada para hadirin yang telah menyempatkan datang ke acara ini. Pesta ini semata-mata ku adakan untuk menyambut kembalinya istriku dari koma panjangnya beberapa hari yang lalu serta utnuk menyambut kelahiran putra ke dua kami. Dalam kesempatan ini aku akan memperkenalkan istriku secara formal pada kalian semua. Eden, turunlah sayang.”


            Suara tepuk tangan mulai terdengar riuh setelah Aciel dengan lantang memanggil istrinya untuk turun dari lantai dua. Semua tatapan mata kini hanya tertuju pada tangga putih pualam yang tampak begitu indah dengan berbagai macam kelopak bunga yang didekor mengelilingi pegangan tangga itu. Dan detik-detik turunnya Eden dari lantai dua menjadi begitu lama bagi Aciel karena Eden tak kunjung turun juga meskipun ia sudah memanggil wanita itu sejak dua menit yang lalu.

__ADS_1


            “Mungkin istriku malu, kalau begitu aku yang akan menjemputnya di atas.”


            Aciel kemudian meletakan micnya dan berjalan dengan sedikit cepat kearah tangga yang masih belum memunculkan sosok Eden. Namun ketika berada di ujung tangga, seorang pelayan tiba-tiba berlari dari lantai atas dengan wajah panik dan pucat seraya memohon maaf pada Aciel berkali-kali.


            “Ttuan... Nyonya Eden.. hilang.” ucap pelayan itu ragu dan langsung membuat suasana riuh pada tamu undangan berubah menjadi suara bisikan karena sang tokoh utama menghilang. Dengan menahan geram, Aciel langusung memanggil semua anak buahnya untuk mencari Eden disekitar mansion dan di luar mansion karena ia yakin istrinya itu belum terlalu jauh untuk pergi.


            “Sian, kerahkan anak buahmu untuk mencari Eden di seluruh Vegas, kita tidak boleh kehilangannya.” perintah Aciel tegas dengan wajah datar yang tampak mengerikan di mata Sian. Pria itu segera mengangguk dan menjalankan perintah Aciel untuk mencari istri sahabatnya yang menghilang malam ini. Dalam benaknya Sian merasa cukup prihatin dengan kehidupan Aciel yang sering dilanda masalah. Dan hal itulah yang membuatnya semakin takut untuk meninggalkan masa lajangnya. Ia takut dibuat gila oleh istrinya kelak.


-00-


            Eden telah selesai dirias oleh wanita anggun yang siang tadi datang ke kamarnya. Bahkan kini ia sudah siap dengan gaun malam berwarna silver tanpa lengan yang membalut indah tubuh kurusnya. Namun sejak tadi ia terus saja berjalan gelisah kesana kemari karena ia tidak suka dengan semua ini. Ia ingin pergi dari mansion itu untuk menemui Anthony dan Tranz atau Zyan. Ia harus meminta bantuan mereka itu untuk mencari jawaban dari semua pertanyaan yang terus mengganggunya selama ini. Dengan tekad yang besar, Eden mulai berjalan mengendap-endap keluar dari kamarnya untuk menuju kamar Ciara yang berada di sayap kiri mansion.


        Selama ia berjalan menuju kamar putrinya, beberapa orang tampak menyapanya dengan gaya formal yang


cukup membuatnya risih, namun mau tidak mau ia tetap membalas sapaan mereka dengan wajah tenang dan terlihat seceria mungkin agar mereka tidak curiga jika tujuannya masuk ke dalam kamar Ciara adalah untuk kabur dari mansion itu.


            “Nyonya, apa yang anda lakukan di sini?”


           Seorang pelayan tiba-tiba menghentikannya ketika ia hendak masuk ke dalam kamar Ciara. Eden mencoba bersikap setenang mungkin sambil meneguk liurnya sekali untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Meskipun ia sudah bertekad untuk tidak takut, namun tetap saja saat ini jantungnya sedang berdetak dengan sangat gila karena aliran adrenalin yang terasa begitu cepat di dalam tubuhnya.


            “Aku ingin melihat kamar putriku sebentar, sudah lama aku tidak masuk ke dalam kamar Ciara.” ucap Eden lancar disertai senyuman manis. Pelayan itu mengangguk paham sambil membukakan pintu untuk Eden.                            “Silahkan masuk nyonya, tapi sepuluh menit lagi anda harus turun ke bawah untuk bergabung bersama tuan Aciel dan juga nona Ciara, jadi jangan terlalu lama.”


            “Aku tidak akan lama, kau tenang saja. Aku hanya akan melihat-lihat sebentar, kemudian aku akan turun untuk bergabung bersama... Aciel dan juga Ciara.” ucap


Eden sedikit canggung di akhir kalimatnya. Setelah itu sang pelayan segera menutup pintu kamar Ciara dan meninggalkan Eden sendiri di dalam kamar nona mudanya yang luas itu.


            Setelah pelayan itu benar-benar pergi, Eden langsung melepaskan heels pestanya yang menyiksa dan segera berjalan menuju jendela besar yang berada di sudut kamar anaknya. Siang tadi ia sudah memikirkan sebuah rencana untuk kabur melalui kamar putrinya karena kamar putrinya terletak di sayap kiri yang tidak terlalu ramai, berbeda dengan kamarnya yang berada di kamar utama, sehingga akan sangat mencolok jika ia mencoba kabur melalui jendela kamarnya. Lagipula pria arogan itu telah menyegel semua jendela yang berada di dalam kamarnya agar ia tidak bisa kabur, sehingga satu-satunya cara agar ia bisa keluar dari neraka itu adalah melalui kamar Ciara.


            Dengan terburu-buru Eden mulai merangkai beberapa selimut milik Ciara untuk ia jadikan tali agar ia bisa meluncur turun dari jendela kamar Ciara ke halaman belakang mansion itu. Meskipun memang cukup menakutkan dan berisiko, namun ia sudah bertekad untuk melakukannya karena hanya inilah satu-satunya kesempatan yang ia


miliki.


Hup


            Eden melemparkan ujung talinya ke bawah setelah sebelumnya ia mengikatkan ujung talinya yang lain pada pembatas balkon yang kuat. Kemudian ia segera melompati pagar pembatas balkon untuk bersiap-siap turun ke bawah.


            “Tuhan, tolong lindungi aku.” gumam Eden pelan sebelum tangannya perlahan-lahan bergerak turun menyusuri jalinan tali yang dibuatnya. Dalam usahanya untuk turun dari mansion itu Eden cukup merasa bersyukur karena di area kamar Ciara tidak ada seorangpun bodyguard yang berjaga. Bahkan taman belakang juga tampak sepi dan gelap karena saat ini perhatian setiap orang sedang terpusat pada Aciel yang sedang memberikan sambutan di ruang utama mansionnya.


            “Yes, aku berhasil.”


            Eden melompat girang ketika akhirnya ia mampu memijak tanah lembab di bawahnya dengan selamat tanpa terluka sedikitpun. Dengan penuh sukacita ia segera berlari menuju pintu samping yang terlihat kosong tanpa seorang pun penjaga yang berjaga di sana.

__ADS_1


            “Huh, sekarang aku bebas. Selamat tingga tuan brengsek! Kau tidak akan pernah bisa menangkapku.” gumam Eden pelan sebelum ia melangkah cepat menuju pintu samping yang sepi.


__ADS_2