Black Swan

Black Swan
Storm (One Hundred Twenty Nine)


__ADS_3

            Eden mengernyit khawatir setelah mendengar cerita Olivia mengenai kedatangan Scout semalam di rumahnya. Pria itu jelas-jelas telah menebarkan teror yang sangat mengerikan untuk Olivia dan pria itu juga semakin berniat untuk merusak rumah tangga Olivia bersama Sian.


            “Apa kugugurkan saja bayi ini?”


            “Jangan!” teriak Eden cepat. “Jangan berpikiran bodoh. Olive. Itu akan membahayakan dirimu sendiri.” ucap Eden berubah lembut. Perlahan-lahan ia mengelus surai coklat Olivia, lalu menekan bahu wanita itu lembut agar lebih tenang.


            “Pria itu akan terus menggangguku, Ed. Apalagi jika ia tahu aku sedang mengandung anaknya. Jika aku menggugurkan janin ini, masalahnya akan segera selesai. Aku akan mengaku pada Sian tentang peristiwa itu, dan kami akan baik-baik saja karena tidak ada bayi ini.” ucap Olivia ragu-ragu. Sejauh ini hanya itu ide yang tercetus di otaknya. Mungkin Sian memang akan sakit, tapi itu tidak akan separah jika Sian tahu jika ia sampai mengandung janin pria lain.


            “Tapi Sian akan marah jika sesuatu yang buruk terjadi padamu saat kau sedang aborsi. Tidak ada yang menjamin prosedur itu tidak menghasilkan bahaya untukmu.”


            Bahu Olivia merosot begitu saja, hatinya mencelos mendengar penjelasan dari Eden. Apa yang dikatakan wanita itu benar. Jika semuanya berjalan lancar, ia memang akan terhindar dari berbagai macam tuduhan keji yang akan dilayangkan Sian. Tapi jika itu gagal, masalah yang menimpanya juga akan bertambah semakin rumit. Ditambah lagi ia menghadapi perasaan berdosa seumur hidup karena telah membunuh seorang makhluk kecil yang tak berdoa.


            Olivia benar-benar ingin berteriak keras saat ini. Ia ingin meloloskan seluruh rasa sesak yang terus menderanya sejak kemunculan pria itu. Dan ketika ia menatap wajah Justice tadi pagi, ia merasa semakin berdosa pada gadis kecil itu. Bagaimana nasibnya nanti jika suatu saat ia tahu ibunya pernah melakukan kesalahan dengan pria lain. Anak itu akan mendapatkan adik yang wajahnya tidak mirip dengan wajahnya. Bola mata mereka jelas akan terlahir berbeda karena Scout memiliki bola mata biru, yang kemungkinan juga akan menurun pada anaknya.


            “Menurut Aciel kau harus mengatakannya pada Sian secepatnya. Jangan sampai ia mengetahuinya dari orang lain.”


            “Kau memberitahu Aciel?” tanya Olivia nanar. Pria itu pasti sangat membencinya sekarang. Ia dengan tidak tahu diri telah mengkhianati sahabat baiknya. Ia melemparkan tubuhnya pada pria lain saat suaminya sedang menderita sakit. Istri macam apa dirinya ini? Bahkan ia tidak akan bisa seperti ini jika Sian tidak memberinya satu matanya yang berharga. Ia jahat! Sungguh jahat dan picik! Ia membenci dirinya sendiri.


            “Olive, jangan menyakiti dirimu sendiri. Aku tahu ini hanya kecelakaan.”


            “Tapi kecelakaan itu berakibat fatal, Ed!” balas Olivia keras. Ia sudah dilanda kefrustrasian yang parah. Terlebih lagi Scout juga menebarkan teror mengerikan padanya. Jelas pria itu masih akan mengganggunya setelah ini. Entah itu dalam waktu dekat atau dalam waktu yang belum ditentukan nanti.


            “Lebih baik kau ikut aku sekarang.”


            “Kemana?”


            “Ke dokter kandungan. Kita perlu mengecek kondisi janinmu. Terkadang hanya testpack, itu tidak valid.”

__ADS_1


            “Apa kau akan membawaku menemui Laila?” tanya Olivia ngeri. Ia jelas takut jika harus berurusan dengan satu lagi teman dekatnya. Lalu ia harus menceritakan semuanya lagi dari awal. Mengaduk-aduk perasaan yang telah benar-benar kacau tak berbentuk.


            “Kita pergi ke dokter lain. Untuk sekarang Laila dan yang lainnya belum saatnya tahu. Setidaknya kita pastikan dulu keberadaan janin itu. Lalu kita bisa menyusun strategi untuk memberitahukan hal ini pada Sian.”


            “Oh... terimakasih Ed.” Olivia langsung memeluk Eden penuh rasa syukur sambil menumpahkan seluruh air mata di bahu Eden yang nyaman. Tidak tahu lagi bagaimana nasibnya jika Eden tidak ada dalam hidupnya. Selain Sian, Eden adalah teman yang sangat dibutuhkan Olivia. Wanita itu begitu baik, senantiasa memberinya masukan untuk menjadi semakin lebih baik di masa depan.


            “Kalau begitu ayo kita berangkat. Pukul dua aku memiliki janji temu dengan Laila.”


-00-


            Bukankah ini mengesalkan? Hal itulah yang terus dipikirkan Sian saat harus kembali lagi ke rumahnya saat ia lupa membawa serta dompetnya. Oh Ya Tuhan, bukankah ia sangat ceroboh? Semalam ia lupa meletakan dompet itu di atas nakas tempat tidurnya. Padahal biasanya dompet itu tidak pernah keluar sedikitpun dari saku celananya dan akan terus di sana sebelum ia memindahkannya ke saku celana yang lain ketika ia akan berangkat ke kantor. Jadi singkat cerita, semalam ia baru saja keluar untuk membeli camilan di mini market di dekat kompleks. Lalu ia meletakan dompet itu begitu saja di atas nakas karena Justice berteriak-teriak di kamarnya dengan nyaring, memintanya untuk menemaninya bermain sambil memakan kripik kentang. Karena hal itulah pagi tadi ia sama sekali tidak sadar jika ia lupa memasukan dompet itu ke dalam saku celana panjangnya, dan berangkat begitu saja ke kantor tanpa was-was. Barulah saat ia berhenti di subway untuk membeli hotdog, ia jadi kebingungan karena ia tidak bisa menemukan dompetnya dimanapun. Untung saja ia memiliki uang cash seratus dollar yang sering ia selipkan di laci dashboard mobilnya, sehingga ia tidak perlu merasa malu karena tidak bisa membayar hotdog pesanannya.


            “Dimana Olivia?”


             Segera setelah memarkirkan mobilnya, Sian disambut oleh pengasuh Justice yang sedang menemani putri kecilnya bermain sepeda. Ia sedikit heran saat tidak melihat Olivia berdiri di sekitar Justice seperti biasa. Well, Olivia adalah ibu rumah tangga yang tidak sesibuk wanita-wanita yang bekerja. Praktis pekerjaannya di rumah hanyalah memasak dan mengikuti kemanapun putrinya bergerak. Tapi Sian akhirnya memilih tak ambil pusing karena Olivia mungkin sedang pergi ke rumah Eden untuk bergosip.


            Tepat seperti dugaannya, batin Sian puas. Setelah memberikan kecupan kecil pada putrinya, Sian masuk ke dalam rumah dan bergegas menuju kamarnya. Ada meeting satu jam lagi dengan Aciel, Scout, dan juga arsitek yang mendapatkan tender bangunan pabrik Ford Company. Jadi Sian tidak boleh berlama-lama di rumah agar ia tidak terlambat datang untuk meeting.


            “Disana kau rupanya.” gumam Sian senang dan langsung meraih dompet hitamnya terburu-buru. Saat berbalik, tak sengaja sol sepatunya menendang lemari kecil milik istrinya hingga salah satu laci di lemari itu terdorong keluar. Dengan cepat Sian hendak mendorong laci itu lagi agar menutup. Namun ekor matanya tiba-tiba melihat sesuatu yang terlihat tidak asing lagi untuknya. Dua buah testpack putih yang dua-duanya menampilkan dua garis biru.


            “Apa ini milik Olivia?” gumam Sian mulai curiga. Ia lalu segera memasukan benda itu ke dalam saku jasnya dan membawanya serta ke kantor. Nanti saat pulang dari kantor ia akan menanyakannya pada Olivia terkait dua testpack itu.


            Membayangkan jika Olivia sedang hamil, itu justru membuat Sian muram. Jauh sebelum ia mengenal dunia hitam yang kotor dan bebas, ia masih berpegang pada pemahaman jika seorang wanita dapat mengandung hanya dengan tidur berdua dengan seorang pria. Tapi sekarang, setelah ia menjalani kehidupan yang terlalu beraneka ragam, pemahaman itu menjadi terasa sangat konyol untuknya. Jelas-jelas seorang wanita hanya dapat mengandung setelah melakukan hubungan **** dengan seorang pria. Dan sekarang istrinya sedang hamil, sedangkan ia tidak dalam kondisi dapat melakukan hubungan ****. Itu lucu! batin Sian gusar. Ia tidak tahu lagi apa


yang akan ia katakan pada Olivia nanti terkait testpack itu. Yang jelas ia sangat berharap pikirannya yang mengerikan ini tidak sampai meracuni otaknya yang sedang sangat dibutuhkan untuk mengerjakan proyek-proyek baru yang ditargetkan Aciel untuk segera selesai sebelum akhir tahun.


-00-

__ADS_1


            Olivia mendengarkan penjelasan dari dokter Jack, Jackson Masville, dengan sungguh-sungguh. Setiap kata yang dikeluarkan oleh pria berumur itu diserapnya dengan baik dan dihayati.


            “Usianya tujuh minggu....”


            Akhirnya hal yang ia tunggu diucapkan juga oleh sang dokter. Usia kandungannya! Ia sangat ingin tahu berapa usia janinnya, dan ternyata itu sudah cukup besar. Jadi saat itu memang sudah terjadi pembentukan janin di rahimnya. Bahkan saat ia berada di villa, janin itu sudah menempel di sana. Olvia rasanya pening mengingat hal itu. Tak bisa dibayangkan jika yang ia temui adalah Laila, ia pasti akan semakin pening. Sungguh beruntungnya ia karena Eden memiliki banyak kenalan dokter. Mereka hari ini pergi ke rumah sakit lain yang letaknya lebih jauh dari rumah Eden agar mereka tidak bertemu Laila atau Nathan. Hal itu dilakukan Eden semata-mata untuk membuat Olivia lebih nyaman. Meskipun Olivia tidak menceritakan bagaimana perasaannya sekarang, tapi Eden cukup menyadarinya dan merasa ingin memberikan yang terbaik untuk Olivia.


            “Semuanya dalam keadaan baik. Kau beruntung.”


            Dengan lembut Eden mengusap perut rata Olivia saat mereka telah selesai berurusan dengan dokter Jack. Mereka saat ini sedang duduk di luar ruangan dokter Jack untuk mendiskusikan beberapa hal yang perlu mereka lakukan setelah ini.


            “Tidak seberuntung itu, Ed. Andai saja ini bayi Sian, betapa senangnya aku menghadapi keadaan ini.” keluh Olivia untuk yang kesekian kalinya. Ekor matanya bergerak-gerak gelisah mengamati setiap pasien atau perawat yang berlalu lalang di depannya. Tak pernah terbayang di benaknya perasaan yang begitu menyiksa seperti ini. Ia sama sekali belum tahu bagaimana cara memberitahu Sian nanti. Jika ia terus menundanya, Sian justru akan semakin marah. Paling tidak bulan depan, perutnya akan semakin membuncit. Itu akan membuat Sian menaruh curiga padanya karena pria itu tidak pernah menyentuhnya selama berbulan-bulan lamanya. Lalu persoalan ke dua yang menjadi beban pikirannya, jika Sian menanyakan siapa ayah dari bayi itu? Apa yang akan ia jawab? Nama siapa yang akan ia berikan pada Sian, karena ia tidak mungkin membawa nama Scout dalam pembicaraan mereka. Menurut Eden pria itu masih akan terus berhubungan dengan Sian setidaknya sampai bangunan pabrik baru untuk Ford Company selesai dibuat. Padahal saat ini proses pembangunan untuk pabrik baru Aciel belum dimulai. Setidaknya dua minggu lagi alat-alat berat baru akan didatangkan untuk mengangkut material dan berbagai macam bahan yang dibutuhkan untuk membangun pabrik itu. Jadi Olivia pikir, Sian bahkan akan sering bertemu Scout sampai bayi ini lahir. Ya Tuhan, ia sangat kalut dengan nasibnya saat ini.


            “Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang belum tentu akan menimpamu.”


            “Tapi setidaknya aku harus mempersiapkan diri, Ed.” balas Olivia lemah.


            “Kau harus menjaga bayi ini baik-baik. Dia anakmu.”


            “Ya, dan pria menjijikan itu.” ucap Olivia sinis. Ia sungguh benci jika diingatkan pada status bayinya. Bayi itu mengandung gen dari Scout Voyage! Hal itu pasti akan mengingatkannya pada dosanya seumur hidup. Ia akan hidup dengan anak itu, dan akan terus teringat bahwa dulu ia pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal.


            “Jangan seperti itu. Ada banyak orang yang berusaha untuk mendapatkan keturunan. Kau harus bersyukur dengan apa yang telah diberikan Tuhan padamu.”


            “Bersyukur untuk bayi dari pria lain? Kau gila, Ed!” bentak Olivia murka. Eden terlihat hanya diam, sama sekali tidak ingin membalas karena ia tahu bagaimana kacaunya pikiran Olivia karena kondisinya. Sekarang daripada marah, ia justru lebih ingin mengusap punggung Olivia lembut agar wanita itu tidak terus menerus membebaninya dengan rasa bencinya pada pria bernama Scout Voyage.


            “Lebih baik kita pulang sekarang. Aku harus menemui Laila pukul dua.” Eden melirik jam tangannya yang telah menunjukan pukul satu siang. “Aku akan mengantarmu langsung ke rumah.” ucap Eden lagi lembut. Saat ia berdiri, Olivia langsung menahan tangannya dan memeluknya erat. Wanita itu menangis sesenggukan di pundaknya sambil menggumamkan kata maaf berkali-kali hingga tersedak air matanya sendiri.


            “Tidak apa-apa. Aku tahu bagaimana rasanya. Aku pernah berada di posisimu.” gumam Eden ketika ingatannya saat ia pertama kali terbangun dari koma kembali menyusup ke dalam otaknya. Mungkin apa yang dirasakan tidak berbeda jauh dengan apa yang ia rasakan saat ini. Perasaan takut dan benci karena telah dinodai oleh pria yang dibenci. Tapi beruntungnya, ia ternyata melakukan hal itu dengan orang yang tepat, suaminya. Sehingga perasaan itu perlahan-lahan pudar, dan hampir saja dilupakannya sebelum Olivia menangis sesenggukan di pundaknya.

__ADS_1


__ADS_2