
“Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku Aciel?” tanya Eden gemas di suatu sore saat Aciel memberitahu Eden jika Sian baru saja kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit. Wanita yang telah menganggap Sian sebagai kakaknya sendiri itu merasa begitu terkejut dan juga sedih disaat bersamaan karena suaminya tidak segera memberitahunya saat Sian sedang dalam masa-masa sulit.
“Kau sedang sakit sayang, aku tidak bisa membuatmu semakin stress karena memikirkan Sian.” balas Aciel membela diri. Tapi tetap saja Eden merasa kesal pada Aciel dan ia memilih untuk bersikap galak pada pria itu.
“Itu bukan alasan! Kau tahu sendiri jika Sian sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri, bahkan selama ini ia juga sangat baik pada Ciara dan Louise. Kau ini benar-benar tega padanya. Sudah berapa lama ia dirawat di rumah sakit?”
“Satu minggu yang lalu.” jawab Aciel apa adanya. Ia tak ingin menutup-nutupi apapun lagi dari Eden dan hanya ingin memberitahukan semuanya. Kemarin saat ia mengunjungi Sian di rumah sakit, ia merasa sangat kasihan pada sahabatnya itu karena Sian telah membuat keputusan besar untuk mendonorkan satu kornea matanya untuk wanita yang sangat ia cintai. Meskipun sebenarnya ia merasa tidak setuju dengan keputusan Sian yang terkesan gegabah, namun akhirnya ia berusaha untuk memaklumi semuanya karena jika ia berada di posisi Sian, ia akan melakukan hal yang sama untuk wanita yang sangat ia cintai.
“Lalu bagaimana keadaan Sian sekarang? Apa kecelakaannya parah? Pantas saja akhir-akhir ini aku jarang melihatnya datang ke sini karena kukira kau menyuruhnya untuk melakukan perjalanan bisnis seperti biasanya, tapi ternyata kau... arrgghh!” geram Eden kesal. Wanita itu lantas menjatuhkan dirinya di atas sofa dan langsung membuat gerakan menyilangkan kaki sambil menatap Aciel penuh permusuhan.
“Keadaannya buruk. Sian mengalami patah tulang kaki dan rusuk....”
“Apa! Separah itu kondisinya? Ya Tuhan, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi Ace? Dan kau sama sekali tidak memberitahuku.” potong Eden cepat dengan suara keras yang berhasil membuat beberapa pelayannya menoleh terkejut kearah tuan dan nyonya mereka. Sementara itu Aciel tampak menggeram kesal di depan Eden karena wanita itu telah memotong ucapannya dengan sangat tidak sopan.
“Kecilkan suaramu Ed, dan jangan menyela kata-kataku.” peringat Aciel tajam. Pria itu lantas melangkah kearah meja untuk mengambil kopinya yang baru saja diletakan oleh salah satu pelayan. Sambil menggenggam cangkir yang terlihat mengepulkan uap tipis dari kopi hitam yang dibuatkan oleh pelayannya, Aciel memutuskan untuk duduk di sebelah Eden untuk menceritakan semuanya pada wanita itu. “Sian kemarin baru saja menjalani operasi kornea.”
“Ya Tuhan, apa lagi itu? Apa Sian telah kehilangan penglihatannya juga?”
“Ya, tapi bukan karena kecelakaan.”
“Maksudmu?” tanya Eden tak mengerti. Ekspresi wajah Aciel yang terlalu datar dan terlihat seperti sedang ingin mempermainkan perasaan ingin tahunya membuat Eden nyaris saja ingin menarik cangkir kopi itu dari mulut Aciel. Tak tahukah pria itu jika ia sangat mengkhawatirkan Sian saat ini?
“Ada banyak hal yang kau lewatkan selama kau pergi dari Vegas, Ed.”
“Kalau begitu ceritakan semuanya padaku.” balas Eden masih terlihat emosi. Ia tahu jika lupa ingatan yang dialaminya membawa pada hilangnya sebagian ingatannya secara permanen, termasuk ingatan ketika ia pernah tinggal di Paris bersama Ciara ketika ia sengaja ingin menjauh dari kehidupan Aciel. Namun beberapa kali
Aciel telah menceritakan sedikit tentang masa lalunya, dan setidaknya membuatnya sedikit bisa memahami bagaimana kehidupannya sebelum ia kehilangan semua ingatan itu. Sayangnya Aciel tidak bisa selalu berada di rumah untuk menceritakan banyak hal mengenai masa lalu yang ia lupakan, sehingga hingga detik ini ia terkadang masih menyimpan berbagai macam pertanyaan besar di benaknya terkait masa lalunya yang sepertinya rumit.
“Saat kau pergi dari Vegas, Sian pernah memiliki seorang kekasih bernama Tiffany. Hubungan mereka saat itu sangat manis, dan Sian bahkan telah melamar Tiffany untuk menjadi istrinya. Tapi kemudian Tiffany mengalami kecelakaan hingga membuat nyawanya tidak bisa diselematkan. Kejadian itu terjadi tepat beberapa bulan sebelum kau kembali ke Vegas dan bertemu aku. Setelah itu Sian menjadi seperti... kurang brengsek.” kekeh Aciel dengan suara menyebalkan. Ia lalu mengatakan jika Sian cukup banyak berubah setelah kematian Tiffany. “Cinta membuatnya menjadi pria cengeng.”
“Kau bahkan juga seperti itu saat aku pergi meninggalkanmu.” balas Eden gusar. Mendengar hal itu Aciel menjadi gemas pada istrinya hingga ia tidak bisa menahan dirinya untuk mengecup pipi chubby Eden yang menggemaskan.
“Kau benar, aku juga pernah merasakan hancur karena cinta. Jadi aku sangat tahu bagaimana perasaan Sian saat itu. Tapi beberapa bulan yang lalu Sian menemukan seorang wanita. Entahlah aku tidak tahu seperti apa wanita itu karena Sian tidak pernah mengenalkannya padaku. Tapi Sian memberitahuku jika wanita itu adalah wanita buta yang dulu pernah mengirimkan buket bunga ketika Tiffany menggelar acara fashion show. Secara tak sengaja mereka bertemu lagi satu tahun kemudian setelah Sian menyelamatkan wanita buta itu ketika ia hampir tertabrak mobil ketika pulang dari tempatnya bekerja di kedai hotdog. Secara keseluruhan wanita itu memang sangat menyedihkan hingga membuat Sian merasa kasihan dan memutuskan untuk menampung wanita itu di rumahnya.”
“Jadi selama ini Sian menyembunyikan seorang wanita di rumahnya? Astaga, kenapa ia tidak pernah menceritakannya padaku?” dengus Eden gusar. Padahal selama ini Sian sering berada di rumahnya untuk bermain dengan Ciara dan Louise, tapi pria itu tak pernah sedikitpun menyinggung masalah wanita yang ia sembunyikan di
rumahnya. Bahkan Eden pernah berniat ingin menjodohkan Sian pada salah satu kolega Aciel yang menurutnya paling sopan dan terhormat diantara kolega-kolega Aciel yang lebih sering bermain mata saat bertemu dengan suaminya.
“Sudah kukatan karena kondisimu yang belum benar-benar stabil, membuat Sian memutuskan untuk tidak menceritakannya dulu padamu. Kau tahu, cerita mengenai masa lalu yang hilang akan jauh lebih sulit untuk dilakukan karena Sian takut hal itu akan melukaimu.”
“Baiklah aku mengerti, jadi bagaimana kondisi Sian saat ini?”
“Ia sedang menjalani pemulihan setelah menjalani operasi kornea karena Sian memutuskan untuk memberikan salah satu korneanya pada Olivia. Setelah cukup lama tinggal bersama Olivia, Sian menjadi yakin jika Olivia adalah wanita yang ditakdirkan untuknya untuk menggantikan Tiffany. Lagipula Sian sudah lelah
hidup bergonta-ganti pasangan yang hanya akan menjadi penghangat ranjangnya tanpa benar-benar memberikan cinta untuknya. Dan sebelum Sian mengambil tindakan itu, aku sempat bertanya padanya untuk meyakinkan kembali keputusannya. Di luar dugaan, ternyata Sian lebih dari yakin untuk memberikan satu korneanya agar ia dan Olivia dapat saling melengkapi nantinya.”
“Ya Tuhan, aku ingin menangis.” bisik Eden parau. Ia lantas memeluk Aciel erat dan menumpahkan rasa harunya pada kisah cinta Sian di pundak kokoh Aciel. Selama ini ia tidak pernah tahu jika Sian sedang membawa beban yang sangat berat di pundaknya. Terlebih lagi semua sahabatnya telah menikah dan memiliki keluarga masing-masing. Tak pelak hal itu membuat Sian merasa kesepian karena ia tidak bisa lagi bermain-main seperti dulu dengan Aciel atau Jessica.
“Kapan kita akan pergi menjenguk Sian?”
“Secepatnya setelah kau siap.”
“Kalau begitu malam ini.” ucap Eden cepat, namun hal itu langsung mendapatkan gelengan tegas dari Aciel karena Eden tidak bisa meninggalkan kedua anaknya begitu saja malam ini.
“Kau harus mengurus Ciara, besok pagi ia masuk sekolah. Dan Louise, ia tidak bisa jauh darimu karena ia masih membutuhkan ASI. Kita bisa menjenguk Sian besok pagi setelah kau menyelesaikan tugasmu sebagai ibu.”
__ADS_1
Eden rasanya ingin berteriak marah pada Aciel dan memukul wajah menyebalkan pria itu dengan tangannya. Selalu saja Aciel bersikap galak padanya jika itu menyangkut kesejahteraan kedua anaknya. Memang itu adalah kewajibannya sebagai seorang ibu, tapi rasanya kadang Aciel terlalu keras padanya hingga akhir-akhir ini ia merasa stress.
“Apa? Jangan memberiku tatapan galak seperti itu, atau kau ingin aku menggigitmu.” ucap Aciel mengancam. Tapi bukannya takut, Eden justru semakin mempoutkan bibirnya kearah Aciel sambil memberikan tatapan galak pada pria itu. Sontak hal itu membuat Aciel gemas dan segera ******* bibir merah Eden yang terus saja dipoutkan kearahnya.
“Aku bisa-bisa semakin gila jika kau terus menunjukan bibir menggemaskanmu seperti ini Ed.” bisik Aciel serak.
“Dasar mesum! Minggir, aku harus menyusui Louise di atas.” dengus Eden gusar dan segera berjalan pergi meninggalkan Aciel sambil menghentak-hentakan kakinya gusar. Sedangkan Aciel hanya mampu tertawa geli menertawakan sikap istrinya yang terkadang sama kekanakannya seperti Ciara jika keinginannya tidak dituruti olehnya.
-00-
“Oeekk.. oeekk...”
“Ssshhh... mommy di sini Lou..”
Dengan mata setengah terpejam Eden menepuk-nepuk paha Louise yang sedang mengigau di sebelahnya. Eden lalu mencoba membuka matanya lebar-lebar untuk melirik jam dinding yang menempel di sudut kamarnya. “Pukul setengah lima.” gumam Eden lirih. Ia lalu memberikan Louise ASI dan ingin kembali tidur, namun gerakan kecil di sebelahnya membuat Eden seketika membuka matanya lebar-lebar sambil menahan bahu Aciel yang hampir berbalik kearahnya. “Awas.” peringat Eden dengan suara serak. Dari balik tubuhnya Aciel sedikit menyipitkan matanya kearah Eden, ia lalu mengangguk mengerti dan tidak jadi membalikan tubuhnya.
“Louise bisa remuk jika tertindih tubuh raksasamu.” ucap Eden mencibir. Aciel lalu sedikit menggeser tubuhnya ke kiri, dan dengan sekali gerakan ia langsung berbalik kearah Eden untuk melihat istri cantiknya dan juga putra menggemaskannya.
“Tidak mungkin aku setega itu.” balas Aciel dengan suara serak khas bangun tidur. Pria berwajah dingin itu kemudian memberikan satu kecupan kecil di pipi putranya dan melingkarkan tangannya manja kearah Eden yang sedang mendekap putranya hangat.
“Sejak kapan ia ada di sini?” tanya Aciel masih dengan memeluk istrinya erat. Sekarang Louise benar-benar merasa hangat karena ia berada di dalam pelukan kedua orangtuanya.
“Aku memindahkannya ke sini pukul satu, ia rewel.” tambah Eden. Sebelah tangannya yang bebas kemudian ia gunakan untuk mengelus rambut kecoklatan Aciel yang terlihat sudah lebih panjang. “Kau tidak ingin memotong rambutmu agar lebih rapi?” tanya Eden sedikit memprotes. Sejak dulu ia tidak pernah suka melihat
Aciel memiliki rambut panjang karena pria itu akan terlihat lebih tua dari usianya, meskipun sebenarnya Aciel memang sudah cukup tua.
“Nanti, aku malas sayang.” balas Aciel dengan suara berat. Pria itu kemudian menurunkan tangan Eden dari rambutnya dan menyuruh Eden untuk tidur kembali agar wanita itu tidak berisik.
“Kau tidak ke kantor?”
“Sejak kapan kau menjadi pemalas seperti ini? Biasanya kau selalu gila kerja.” ucap Eden menyebalkan. Aciel langsung terdengar menggeram dibalik tubuh mungil wanita itu dan terlihat ingin sekali menyumpal mulut pedas Eden.
“Kau bahkan merengek-rengek memintaku pulang saat aku pergi ke Makau terlalu lama, dan sekarang setelah aku di sini, kau seperti ingin mengusirku pergi dari rumahku sendiri.” sindir Aciel sakarstik. Eden langsung tergelak keras menertawakan sikap kekanakan Aciel yang telah salah paham dengan ucapannya. Padahal ia tidak pernah berpikir untuk mengusir Aciel. Sekarang ia terlalu sayang pada pria itu.
“Ini rumahmu, jadi aku tidak mungkin mengusirmu. Kecuali...” ucap Eden sengaja menggantung kata-katanya untuk menjahili Aciel. Dan seperti dugaannya, Aciel langsung mendongak untuk menunggu kata-kata selanjutnya dari bibir seksi Eden.
“Apa? Kau sengaja ingin menggodaku Eden Lutherford...” desis Aciel lambat-lambat.
“Kecuali kau memberikan semua hartamu padaku dan anak-anakku, maka aku bebas menendangmu keluar dari sini.” jawab Eden terbahak-bahak dengan wajah puas. Menggoda Aciel di pagi hari sungguh menyenangkan. Bisa dikatakan waktu mereka untuk bersama seperti ini hanya pagi hari atau malam hari yang menjelang pagi karena jika Aciel sedang mendapatkan proyek baru, maka jangan harap ia dapat melihat Aciel dengan jelas seperti ini di depan wajahnya. Pria itu akan lebih seperti hantu jika proyek-proyek telah membebani sebagian besar pikirannya karena ia hanya akan muncul di rumah dini hari dan akan kembali ke kantor pagi-pagi buta.
“Itu tidak lucu Ed.”
“Itu lucu, buktinya aku sedang tertawa sekarang.” balas Eden puas dengan tawa yang semakin menyebalkan di mata Aciel. Karena Eden terus tertawa dengan keras, suara dan gerakannya menjadi mengganggu Louise hingga membuat bayi kecil itu merengek kesal.
“Kau mengganggu anakku.” ucap Aciel sakarstik kearah Eden sambil mengelus puncak kepala putranya lembut. Ia tahu bagaimana perasaan putranya yang pasti kesal karena ulah ibunya yang sangat kekanakan pagi ini.
“Enak saja, Louise anakku. Aku yang mengandung dan melahirkannya.”
“Seperti kau ingat saja.” cibir Aciel kesal. Padahal sebelumnya ia sampai harus melakukan baku tembak hanya untuk memaksa Eden menerima kehadiran dirinya dan juga anak-anaknya. “Lagipula ia juga tidak mungkin ada di rahimmu jika aku tidak menghamilimu waktu itu.”
“Ya ampun Aciel!” Eden langsung memukul lengan Aciel gemas karena mulut kotor Aciel yang dengan seenaknya telah mengotori telinga suci Louise. Awas saja, ia tidak akan membiarkan kedua anaknya mewarisi sikap brengsek Aciel yang menyebalkan itu.
“Kenapa kau memukulku?” tanya Aciel kesal. Ia tak terima jika Eden kembali melakukan kekerasan padanya seperti dulu. Ia bahkan sudah terlalu kenyang dengan sikap kasar Eden di masa lalu.
“Kau mengotori telinga suci anakku.”
__ADS_1
“Bukankah itu benar? Ciara dan Louise tidak akan ada jika aku tidak menyetubuhimu berkali-kali. Jadi berterimakasihlah padaku karena aku telah membuatmu bisa menjadi seorang ibu saat ini.”
Astaga! Eden rasanya ingin menyumpal mulut kotor Aciel dengan bantal yang berada di atas kepalanya. Bisa-bisanya pria itu masih melanjutkan kata-kata kotornya dengan lebih panjang seperti itu. Bahkan sampai membaw-bawa nama Ciara yang proses kehamilannya saja sampai sekarang belum benar-benar ia ingat.
“Ssshhtt! Aku tidak mau mendengar kata-kata kotor apapun lagi.”
“Kau bahkan jauh lebih liar saat kita melakukannya kemarin.” balas Aciel seperti tidak ingin mengakhiri pembicaraan konyol mereka. Sekarang Aciel justru sengaja menggoda Eden untuk membalas sikap menyebalkan Eden sebelumnya.
“Melakukan apa? Jangan membuatku semakin ingin menendangmu dari sini Ace.” ancam Eden kesal. Ketika Louise telah selesai dengan urusan perutnya, Eden langsung meminta Aciel melepaskan pelukannya dari Louise karena ia ingin memindahkan bayi kecil itu sedikit ke kanan. Lagipula ia juga harus mengancingkan piyamanya segera sebelum Aciel berubah menjadi liar.
“Kurasa kau tidak bodoh untuk mengartikan kata-kataku. Tapi jika kau lupa, aku bisa mengingatkanmu lagi sekarang.”
“Ap apa?” tanya Eden tergagap saat tatapan Aciel telah berubah menjadi lebih liar seperti seekor predator yang hendak memangsa buruannya. Cepat-cepat Eden mendorong dada Aciel, dan ia menempatkan Louise di tengah-tengah mereka agar Aciel tidak bisa menjamahnya seperti biasa.
“Hey minggir! Anakku sedang tidur.” usir Eden galak saat Aciel masih saja bertahan di posisinya ketika Eden ingin menggeser tubuh Louise sedikit kekanan. Dan ketika Eden sedang lengah, Aciel langsung menggunakan kesempatan itu untuk mengangkat dagu Eden dan menciumnya dengan gerakan lembut yang berhasil membuat Eden terkejut untuk beberapa saat.
“Kau terlalu berisik sayang. Morning kiss bisa menyumpal bibir seksimu untuk beberapa saat.” bisik Aciel mesra di depan bibir merah muda istrinya yang terlihat sedikit bengkak setelah ia menghisapnya dengan rakus.
“Mmmpphh... lepaskan Ace, mppfhhh ak... mmphhfhh.... hossh hosh hosh...” Eden terengah-engah hingga membuat dadanya naik turun setelah Aciel akhirnya melepaskan tautan bibir mereka karena dorongan Eden yang keras di dadanya.
“Kau ingin apa?” tanya Aciel santai tanpa dosa. Eden langsung melayangkan tatapan galak kearah Aciel dan ia segera merapikan baju tidurnya untuk bangkit berdiri dari ranjangnya.
“Aku akan menyiapkan keperluan sekolah Ciara. Ingat jika hari ini kita juga harus ke rumah sakit untuk menjenguk Sian.”
“Kenapa kau sangat perhatian pada Sian?” erang Aciel mulai kekanakan sambil merentangkan tangannya di atas ranjang. Eden langsung melotot galak kearah Aciel saat tangan kanan pria itu telah bertengger di atas tubuh mungil Louise. Ia tidak mau mengambil risiko Louise bangun diwaktu yang belum seharusnya karena bayi itu biasanya akan lebih rewel dan tentu saja akan semakin merepotkannya.
“Kau ini bicara apa? Tentu saja aku memperhatikan Sian karena ia sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Awas, jangan membuat anakku bangun. Aku akan menggigitmu jika sampai Louise bangun dan rewel seperti dulu.”
“Kau mau pergi ke mana?” cegah Aciel sambil mencekal pergelangan tangan Eden manja. Wanita itu langsung memutar matanya gusar dan meminta Aciel untuk segera melepaskan cekalan tangannya karena ia ingin membangunkan Ciara di kamarnya.
“Aku harus mengurus Ciara, dia harus sekolah sebentar lagi.” lirik Eden pada jam dinding yang telah menunjukan pukul setengah enam. Akhirnya dengan terpaksa Aciel melepaskan tangan Eden dan membiarkan wanitanya untuk melakukan tugasnya sebagai ibu.
“Jangan lupa kopiku sayang.” teriak Aciel sebelum Eden benar-benar keluar dari kamar mereka. Saat berada di luar, Eden hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan sikap manja Aciel yang terkadang lucu, namun juga menjengkelkan di saat bersamaan. Pria tua itu seperti lupa pada umurnya yang telah menginjak kepala empat jika sudah menunjukan sifat manjanya di depan Eden.
“Mommy!”
Eden langsung menoleh ke sumber suara dan menemukan Ciara yang sedang digendong oleh tuan Kim dengan masih menggunakan piyama bergambar kuda poni. Terkadang Eden merasa terenyuh saat melihat tuan Kim yang begitu sayang pada Ciara karena mereka berdua terlihat seperti cucu dan kakek yang begitu kompak. Kondisinya dan juga Aciel yang tidak lagi memiliki orangtua membuat Ciara dan Louise tumbuh tanpa kasih sayang dari seorang nenek atau kakek. Tapi untungnya tuan Kim selalu memposisikan dirinya sebagai kakek untuk kedua anaknya, sehingga Eden merasa benar-benar tersentuh dengan usaha tuan Kim yang mencoba selalu menciptakan keluarga sempurna untuk kedua anaknya.
“Mommy, kakek Kim membuatkan Ciara susu di bawah.” pamer Ciara dengan gaya manjanya di pelukan tuan Kim. Eden kemudian memberikan isyarat menggunakan jari telujuknya pada
Ciara, “Katakan apa pada kakek Kim?”
“Terimakasih kakek Kim.” ucap Ciara dengan aksen lucu. Eden kemudian mengambil alih Ciara dari gendongan tuan Kim karena ia tahu jika putrinya itu sangat berat untuk tubuh tua tuan Kim.
“Terimakasih tuan Kim, maaf karena Ciara merepotkanmu.”
“Tidak apa-apa nyonya, nona Ciara sudah kuanggap seperti cucuku sendiri. Ngomong-ngomong kenapa tuan Sian sudah lama tidak datang ke sini?”
“Sian mengalami kecelakaan satu minggu yang lalu tuan Kim, dan parahnya Aciel baru memberitahuku kemarin dengan alasan jika ia tidak mau membebani pikiranku karena aku sedang sakit.” ucap Eden geram. Tuan Kim hanya memberikan senyum lembut dan tampak maklum dengan sikap tuannya pada sang istri.
“Tuan Aciel sangat menyayangi anda nyonya, dan anda tahu sendiri sikap tuan Ace selama ini yang terlalu menjaga anda hingga rela melakukan apapun untuk anda.”
Eden
tampak memutar bola matanya malas dan terkesan meremehkan kata-kata tuan Kim. “Ia seperti itu hanya karena ingin anak-anaknya. Tanpa Ciara dan Louise, ia tak akan memiliki pewaris.” ucap Eden menyahut sakarstik. Tuan Kim hanya tersenyum kecil melihat tingkah nyonyanya yang sejak dulu memang selalu seperti itu, tidak pernah benar-benar ingin melihat Aciel mendapat sanjungan di depannya.
__ADS_1
“Baiklah tuan Kim, aku akan memandikan Ciara dan membantunya bersiap-siap ke sekolah. Dan.... oh, aku hampir lupa, Aciel memintaku membuatkan kopi, tapi karena aku sedang malas, jadi lebih baik kau saja yang membuatkannya. Terimakasih tuan Kim, aku selalu menyayangimu.” ucap Eden sambil berjalan menjauh meninggalkan tuan Kim yang hanya mampu tersenyum melihat tingkah Eden yang terlihat lucu pagi ini.