Black Swan

Black Swan
Reunion (Eighty Two)


__ADS_3

        “Kau marah?” tanya Olivia pelan di dalam mobil setelah mereka mengantarkan keluarga Aciel dan juga tuan Kim ke bandara untuk pergi ke Australia. Sejak tadi Sian hanya bungkam dan seperti mendiami Olivia yang telah berusaha mengajak Sian berbicara meskipun selalu diacuhkan.


            “Tidak.”


            “Tapi kau bersikap seperti ini.”


            “Lalu kau ingin aku bersikap seperti apa?”


            “Hhaah...” Olivia menghembuskan napasnya pelan dan menyandarkan kepala beratnya pada kaca mobil di sebelahnya. Hari ini adalah hari yang berat untuknya dan semua orang yang telah kehilangan tuan Kim, tak terkecuali suaminya. Tapi selain itu, hari ini juga menjadi hari dimana ia harus mengungkapkann sebuah kebenaran yang seharusnya tidak ia katakan sekarang.


            “Kau seharusnya memberitahuku sejak awal.”


            “Aku hanya ingin memberimu kejutan di hari ulang tahunmu.” jawab Olivia lemah. Jika Sian ingin mengajaknya berdebat sekarang, maka ia akan langsung mengangkat kedua tangannya menyerah karena ia sedang tidak dalam keadaan yang tepat untuk melayani Sian berdebat.


            “Sejak kapan?”


            “Apa?” tanya Olivia tak mengerti. Ia hanya melirik Sian sekilas, lalu kembali pada jalanan di depannya yang terlihat begitu indah dengan lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Salah satu hal yang dulu hanya menjadi angan-angan untuknya, kini ia dapat melihat kerlap-kerlip mereka dengan jelas.


            “Kehamilanmu.” ucap Sian berusaha menjelaskan maksud ucapannya.


            “Satu setengah bulan yang lalu. Yah kira-kira begitu, aku juga lupa kapan tepatnya.” Olivia sebenarnya nyaris lupa jika ia sedang hamil. Apa yang ia rasakan sekarang tidak sepenuhnya seperti yang dialami wanita wanita hamil di luar sana. Tapi dulu ia pernah melakukan test, dan hasilnya positif jika ia hamil. Lalu beberapa waktu yang lalu ia juga pergi ke dokter kandungan bersama Eden, dan hasilnya kandungannya sedang berkembang dengan baik.


            “Itu sudah cukup lama.” komentar Sian masih dengan nada dingin. Olivia tahu jika Sian sedang lelah dengan semua hal yang terjadi hari ini. Ditambah dengan sikapnya yang telah menutupi berita bahagia itu, membuat mood Sian semakin hancur hingga seperti ini.


            “Kumohon jangan marah, aku hanya ingin memberikan kejutan di hari ulang tahunmu besok.”


            “Aku tahu. Aku tidak marah.”


            “Yah.. terimakasih karena tidak marah.”


            Akhirnya Olivia memilih unuk diam dan kembali menyandarkan kepalanya pada kaca mobil Sian di sampingnya. Sebelah tangannya secara naluriah bergerak untuk mengelus perutnya yang masih rata, namun kini telah bertumbuh seorang janin di sana. Sejujurnya ia sedikit merasa bersalah pada Sian karena pria itu sebenarnya


ingin ikut Aciel dan keluarganya untuk memakamkan tuan Kim di Australia. Tapi saat mereka hampir masuk ke dalam pesawat, Eden tiba-tiba mencegahnya. Eden memberitahu semua kebenarannya pada Sian disaat Olivia telah berusaha untuk memberikan kode pada Eden jika Sian belum mengetahui apapun mengenai kehamilannya. Dan setelah itu semuanya menjadi seperti ini. Sian terus mendiaminya sejak di bandara dan terus saja mengatakan jika ia tidak marah. Padahal kenyataannya pria itu sedang marah.


            “Kim... dia pergi begitu cepat.”


            Olivia refleks mengangkat kepalanya dan berusaha mendengarkan suaminya yang sedang berbicara kepadanya.


            “Dia pasti orang yang baik.”


             “Sangat baik karena hanya Kimlah yang dimiliki Aciel selama ini. Kim juga sering menyiapka makanan yang enak untuk kami.”


            “Sudah berapa lama kalian saling mengenal?”


            “Sangat lama.” jawab Sian sambil mengenang hari-harinya bersama tuan Kim dulu. Pertama kali ia bertemu tuan Kim ketika Aciel waktu mengundangnya untuk datang ke rumah. Ia yang yang baru mengenal Aciel tak lebih dari dua minggu awalnya sedikit aneh dengan ajakan Aciel yang mengundangnya untuk makan siang di rumahnya. Ia yang tidak bisa menikmati kemewahan makan siang setiap hari, merasa benar-benar beruntung karena Aciel mengundangnya untuk makan siang bersama. Dan setelah jam sekolah usai, ia bersama Aciel pergi ke mansion megah milik kakek Aciel yang saat itu berhasil membuat Sian menganga takjub.


            “Saat pertama kali bertemu Kim, ia memberikan tatapan menelisik padaku.” kenang Sian geli. Ia sadar jika saat itu tuan Kim hampir tidak mengizinkannya masuk ke mansion mewah milik kakek Aciel karena penampilannya yang masih terlihat berandal, meskipun ia telah menggunakan seragam sekolah yang sama dengan Aciel.


            “Kenapa?”


            “Karena dia tidak percaya jika Aciel memiliki teman seorang berandal sepertiku. Kau tahu sendiri kan bagaimana penampilan Aciel yang selalu terlihat sangat rapi, bahkan meskipun ia sedang menggunakan pakaian rumah sekalipun, pasti ia akan tetap terlihat berkelas. Sangat berbanding terbalik denganku yang selalu terlihat acak-acakan, wajah yang dekil, dan yahh... sikapku yang tidak pernah terlihat sebagai pria yang berasal dari keluarga terpandang seperti Aciel.” cerita Sian semangat. Masa lalu memang selalu menjadi hal yang ingin selalu Sian kenang sampai kapanpun karena ia merasa memiliki masa lalu yang terberkati.


            “Tapi kau telah berubah sekarang.”


            “Hmm... tentu saja, Aciel memaksaku.” Sian terkekeh. Dulu Aciel begitu galak saat mengajarinya untuk menjadi seorang pria kelas atas sepertinya. Jika dipikir-pikir Aciel sebenarnya tidak kalah keras dengan kakeknya.


            “Lalu bagaimana dengan tuan Kim?”


            “Oiya, Kim perlahan-lahan mulai merubah sikapnya. Ia tidak lagi memandangku sebelah mata karena aku adalah teman tuan mudanya. Sejak saat itu aku menjadi sering pergi ke rumah Aciel untuk menemani pria itu, aku juga sedikit belajar ilmu bisnis dari kakek Aciel. Tapi memang kakek Aciel bukanlah jenis pria yang ramah. Hanya Kim yang akhirnya bisa bersikap hangat di rumah itu. Aciel tentu saja tidak bisa dikatakan memiliki sikap yang hangat, karena kau tahu sendiri bagaimana dinginnya pria itu bertahun-tahun yang lalu.”


            Olivia tanpa sadar menyunggingkan senyumnya pada Sian. Melihat suaminya yang telah melupakan kemarahannya membuat Olivia merasa lega. Ia tak perlu lagi memusingkan apapun setelah ini.


            “Apa hal yang paling berkesan dari tuan Kim?”


            “Ketika ia mengelus rambutku.” jawab Sian dengan senyuman. Bertahun-tahun yang lalu, saat ia sedang termenung sendiri di halaman belakang rumah Aciel, tuan Kim tiba-tiba datang menghampirinya sambil membawa segelas jus jeruk. Kebetulan saat itu musim panas, dan ia baru saja mendapatkan masalah dari ayahnya yang terlilit hutang sangat banyak karena terlalu banyak bermain judi. Ia yang terlalu frustrasi untuk mencari uang hanya bisa termenung sendiri di halaman rumah Aciel karena ia tidak bisa lagi meminta bantuan Aciel. Ia sudah terlalu banyak meminjam uang hanya untuk melunasi hutang-hutang ayahnya. Tapi ayahnya dengan sialan justru terus berjudi hingga ia merasa muak pada ayahnya. “Kim mengelus rambutku dan menyuruhku untuk meminum jus buatannya. Padahal itu bukan sesuatu yang spesial, tapi aku merasa seperti mendapatkan energi dari senyumannya yang menenangkan itu. Senyuman itu mampu membuat beban berat di pundakku terangkat. Dan hari-hari selanjutnya hubunganku dengan Kim menjadi lebih dekat dan juga akrab. Aku sangat menyukai Kim. Ia memang pelayan terbaik yang pernah dimiliki Aciel.”


            “Kalau begitu kalian sangat beruntung. Disaat kalian terpuruk, kalian memiliki tuan Kim yang selalu mampu menguatkan kalian. Kurasa sekarang tuan Kim telah melimpahkan tugasnya padaku dan Eden. Kau tidak sendiri, kau memiliki aku dan anak ini.” ucap Olivia lembut sambil mengelus perutnya. Melihat itu Sian merasa tersenyuh dan ia membawa satu tangan Olivia untuk dikecup.


            “Kau benar. Tugas Kim sudah selesai karena kami telah memiliki kalian.”


-00-

__ADS_1


            Pukul lima dini hari pesawat yang membawa keluarga Aciel dan jasad tuan Kim telah tiba di Australia. Sejak kemarin Sian telah mengurus semua proses pemakaman tuan Kim yang akan dilakukan di Rookwood Cemetry, sebuah tempat pemakaman tertua di Sydney yang juga merupakan tempat dimakamkannya mendiang istri tuan Kim. Eden yang semalaman tidak bisa tidur di pesawat merasa begitu lelah setelah mereka turun dari pesawat dan langsung disambut dengan udara dingin Sydney yang telah mencapai tiga derajat pagi ini. Sambil memeluk Louise erat, Eden berjalan perlahan mengikuti Aciel menuju mobil milik Aciel yang telah menunggu mereka di hanggar.


            “Ace, kau ingin langsung ke Rookwood?”


            “Lebih cepat lebih baik.” jawab Aciel dingin. Pria itu terus berjalan lurus kearah mobilnya sambil mendekap Ciara yang sedang tertidur di pelukannya. Selama di pesawat ia telah bertekad pada dirinya sendiri jika ia tidak akan menahan tuan Kim lebih lama di sisinya. Ia sadar jika selama ini ia telah egois, dan sekarang ia hanya ingin mengantarkan tuan Kim ke tempat seharusnya pria itu berada, di samping istrinya yang telah menunggu tuan Kim sejak lama.


            “Ayo.”


            Eden sedikit tersentak saat Aciel tiba-tiba telah berada di sampingnya dan menggenggam tangannya yang terasa membeku dengan hangat. Seulas senyuman terbit di bibir Eden saat ia merasakan suaminya telah kembali.


            “Bertahanlah sebentar, setelah ini kita akan beristirahat di salah satu rumah peristirahatan milikku di kawasan piper point.”


            “Kau yakin? Kau tidak ingin pulang saja?”


            “Aku tahu kau kelelahan Ed. Dan anak-anak, aku takut mereka sakit karena cuaca sangat dingin sekarang. Lebih baik kita menginap di sini, dan berlibur.”


            Eden hanya diam mendengar kata-kata Aciel yang terakhir mengenai liburan. Entah mengapa semua ini seperti sebuah kebetulan, dan ia justru sedikit takut sekarang.


-00-


            Eden menyandarkan kepalanya yang pusing pada pundak Aciel saat mereka masih dalam perjalanan menuju rumah peristirahatan Aciel di piper point. Sedikit lega hari ini karena mereka telah menyelesaikan semua proses pemakaman dengan lancar. Beberapa menit yang lalu Eden juga baru saja melakukan panggilan video dengan Sian untuk memberitahu mereka yang ada di Vegas jika tuan Kim telah dimakamkan di pemakaman yang sama dengan milik istrinya. Bahkan tuan Kim juga sangat beruntung karena dapat beristirahat dengan tenang di sebelah makam milik istrinya.


            “Bagaimana perasaanmu?”


            “Lebih baik.” jawab Aciel singkat. Ciara yang sudah bangun sejak tadi sibuk berceloteh di sebelah kiri ayahnya sambil mengamati gedung-gedung tinggi yang terlihat begitu ramai.


            “Daddy, apa kita akan berlibur sekarang?”


            “Hmm, tentu princess.” Aciel tersenyum senang melihat tingkah putrinya yang terlihat antusias dengan jawabannya. Meskipun sejujurnya ia tidak pernah mengharapkan akan menghabiskan natal di sini.


            “Apa kita masih lama? Louise mulai rewel.” Eden yang didera pusing hebat karena kelelahan merasa tak berdaya untuk menenangkan Louise yang terlihat begitu rewel karena bayi itu juga merasakan kelelahan yang saat ini dirasakan oleh ibunya. Melihat itu Aciel segera mengambil alih Louise dari dekapan Eden dan sedikit menggoyang-goyangkan bayi kecil itu di dekapannya agar lebih tenang.


            “Lima belas menit lagi.”


            “Syukurlah, rasanya mataku sangat perih.” erang Eden lelah saat dirasa kedua matanya terus mengeluarkan air mata sejak tadi karena ia tak henti-hentinya menguap. Ia merasa seperti sudah tidak tidur berminggu-minggu karena rasa lelah yang menderanya hari ini.


            “Oya Ace, aku tidak membawa banyak barang milik anak-anak.” Tiba-tiba Eden teringat pada barang bawaannya yang sangat sedikit. Kemarin ia tidak sempat berpikir jernih untuk menyiapkan keperluan milik anak-anaknya karena banyaknya hal yang harus ia lakukan sebelum keberangkatan mereka ke Sydney. Ditambah lagi sikap Aciel yang sempat sangat menjengkelkan, membuat pikiran Eden bercabang kemana-mana sejak kemarin.


            “Kita bisa membelinya nanti.”


-00-


            Eden menguap berulang kali sambil merenggangkan kedua tangannya ke udara. Dilihatnya Aciel masih memejamkan mata dengan deru napas teratur yang sangat menenangkan. Eden lalu beranjak menuruni ranjang dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang masih menampilkan aura mengantuk. Pukul empat sore. Eden benar-benar tak percaya jika mereka telah tidur berjam-jam, sejak pukul sepuluh tadi setelah ia berhasil membuat Louise dan Ciara tidur dengan sedikit paksaan. Jika saja Ciara dan Louise tidak berulah, Aciel dan Eden bisa saja beristirahat pukul sembilan. Tapi kedua anaknya justru rewel dengan keinginan yang berbeda. Ciara yang merasa jika ini adalah waktu liburan mereka sama sekali tidak ingin tidur seperti yang diinginkan kedua orangtuanya. Sedangkan Louise terus saja menangis karena lapar dan juga lelah. Akhirnya dengan terpaksa Aciel dan Eden berjuang keras untuk membuat kedua anaknya tidur sebelum mereka dapat beristirahat dengan tenang.


            “Ed...”


            “Hmm... ada apa? Tidurlah lagi.” perintah Eden sambil mengeringkan wajahnya menggunakan handuk. Eden sedikit bernapas lega karena kedua anaknya masih tertidur dengan damai di sebelah Aciel. Jika tidak, mereka hanya akan membuat Eden pusing karena Eden harus memasak setelah ini.


            “Aku akan pergi ke supermarket terdekat.”


            “Hmm... jangan pergi terlalu lama.” suara serak Aciel seperti telah menjelaskan pada Eden jika pria itu masih setengah mengantuk dan jelas akan kembali tertidur dengan nyenyak. Eden lalu segera bersiap untuk pergi ke supermarket yang sempat ia lihat sebelum mereka tiba di rumah peristirahatan milik Aciel. Mungkin hanya sekitar sepuluh menit jika ia berjalan kaki. Kebetulan ia sedang malas pergi menggunakan mobil. Jika di Vegas, ia tidak pernah diijinkan pergi kemanapun tanpa penjagaan dan mobil pribadi. Selama di sini Eden akan memanfaatkan kesempatan emas ini untuk berjalan-jalan. Ia yakin Aciel tidak akan marah karena di sini tidak ada yang mengenalnya. Semua orang asing di sini hanya akan menganggapnya seperti mereka tanpa pernah menyadari jika dirinya adalah Eden Lutherford.


            “Selamat sore nyonya.”


            Tiba di teras Eden langsung disapa oleh Mike, supir pribadi Aciel yang akan mengantar mereka kemanapun mereka ingin pergi. Tapi kali ini Eden sedang tidak ingin diantarkan oleh Mike untuk berbelanja.


            “Aku akan pergi ke supermarket sebentar.”


            “Kuantar nyonya.” ucap Mike sopan. Eden langsung memberikan gelengan dan senyum kecil pada Mike. “Aku akan pergi sendiri. Kau di rumah saja, menjaga suami dan anak-anakku.” ucap Eden terkekeh. Mike lantas mengangguk singkat dan mencoba membantu Eden untuk membukakan pintu pagar yang menjulang tinggi di depan mereka.


            “Terimakasih Mike, aku pergi.” pamit Eden halus. Setelah pintu di belakangnya tertutup sempurna, Eden seperti mendapatkan sebuah kebebasan yang selama ini terlalu mustahil untuk didapatkan. Langkah kakinya seperti seringan bulu, dan ia begitu bersemangat untuk berjalan kemanapun sambil mengamati lalu lalang pengguna jalan yang terlihat sibuk dengan urusan masing-masing. Ini menyenangkan! Eden tak bisa menyembunyikan senyum lebarnya yang terlihat begitu aneh untuk orang lain yang tidak pernah mengerti bagaimana perasaan Eden saat ini.


Brukk


            Ya Tuhan! batin Eden kesal ketika seseorang tiba-tiba menabraknya dengan keras. Rasa sakit yang mendera siku Eden kini terasa semakin menyiksanya hingga membuat Eden mengerang tertahan di atas aspal dingin kota Sydney yang padat.


            “Kau baik-baik saja?”


            Eden yang masih terhanyut dalam rasa sakit dan juga marahnya pada seseorang yang menabraknya mencoba mengabaikan uluran tangan yang terjulur di depannya. Ia dengan sigap segera berdiri dan berusaha untuk mengabaikan penabraknya karena ia masih cukup kesal pada orang itu.


            “Maaf, kurasa aku terlalu sibuk berbicara dengan adikku.”

__ADS_1


            Aku tidak peduli. batin Eden kesal sambil menepuk-nepuk celana jeansnya yang berdebu. Ia lalu berniat untuk pergi tanpa menghiraukan si penabrak itu, namun cekalan di lengannya membuat Eden berhenti dan menatap sengit pada orang itu.


            “Eden...” suara bariton itu membuat Eden terkejut untuk beberapa saat. Ia tak menyangka jika dunia ternyata terlalu sempit untuknya dan juga Andrew.


            “Andrew?” tanya Eden dengan nada tidak yakin. Meskipun Eden berharap jika ia salah orang, tapi nyatanya pria yang saat ini sedang berdiri di depannya adalah Andrew. Andrew kakak Summer yang beberapa hari yang lalu sempat ia bicarakan bersama Summer. Sial!


            “Hai, tak kusangka kau masih mengingatku.” balas Andrew dengan senyuman. Sejak dulu Eden tahu jika Andrew memang memiliki senyuman yang mematikan. Itulah salah satu alasannya kenapa dulu ia sempat menerima Andrew untuk menjadi kekasihnya, ia menyukai senyum menawan Andrew.


            “Begitulah.” jawab Eden singkat. Ia merasa tak memiliki banyak stok kata untuk ia bicarakan pada Andrew. Bahkan sebenarnya ia ingin menghilang saat ini juga.


            “Aku tidak menyangka kau berada di Sydney, padahal kemarin Summer memberitahuku jika kau tidak bisa datang ke acara pernikahannya.” Summer sialan! maki Eden dalam hati dengan kesal. Entah sudah


berapa makian yang Eden keluarkan sore ini, tapi Eden merasa ia sudah benar-benar terpojok karena kesialannya ini.


            “Umm ya, ada sesuatu yang membuatku berada di Sydney sekarang. Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?” Seperti sebuah pertanyaan bodoh. Eden sekarang justru menyesali kata-katanya sendiri karena itu sama saja dengan membuatnya terperangkap lebih lama dengan Andrew.


            “Aku jogging. Yeah, hanya sedikit kebiasaan olahraga agar tubuhku tidak terus menerus dimanjakan dengan kemewahan.”


            Eden baru menyadari jika Andrew saat ini tengah berdiri di depannya menggunakan baju olahraga yang telah dipenuhi keringat di sana sini. Ewhh... itu mengingatkannya pada Aciel saat pria itu selesai dengan olahraganya.


            “Oh.. kalau begitu kau bisa melanjutkan joggingmu lagi, aku kebetulan akan berbelanja ke supermarket itu.” tunjuk Eden pada bangunan supermarket yang sudah terlihat di depannya. Dalam hati Eden berharap jika Andrew segera mengakhiri ini semua agar ia tidak semakin berdosa pada Aciel.


            “Kalau begitu aku akan menemanimu, kebetulan aku sudah selesai dengan joggingku.”


            Kesialan apa lagi ini? batin Eden kesal. Bukan ini yang ia inginkan dari Andrew. Ia lantas tersenyum kikuk pada Andrew dan hanya mengangguk kaku kearah pria itu. “Kau baik sekali.”


            “Ini bukan suatu hal yang besar. Bagaimana kabarmu Ed setelah kecelakaan itu?”


            “Aku baik.” jawab Eden singkat, tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan pada Andrew. Sekarang ia hanya dapat berjalan lurus sambil sesekali menoleh singkat kearah Andrew yang masih mengajaknya berbicara.


            “Kuharap kau selalu baik-baik saja. Aku senang bisa bertemu denganmu di sini. Dimana Aciel dan.... anak-anakmu? Ehem..” Andrew berdeham sebentar. “Summer sedikit bercerita tentangmu padaku.” ucap Andrew lagi. Ia tidak ingin dianggap sebagai pria tidak sopan oleh Eden, sehingga hanya nama Summerlah yang bisa ia gunakan sebagai tameng.


            “Ah ya, kami memang terkadang saling menghubungi untuk bertukar cerita. Saat ini Aciel dan anak-anakku sedang beristirahat di rumah.”


            “Perumahan Piper Point?”


            “Ya...” jawab Eden ragu-ragu. Ia merasa sedikit salah telah memberikan jawaban itu pada Andrew karena setelahnya respon yang diberikan oleh pria itu sungguh membuatnya semakin menyesali jawabannya.


            “Aku juga tinggal di komplek itu, rumah no. B2.”


            Matilah kau Eden, kau tinggal di rumah no. A1. “Jadi kita tetangga sekarang? Wow.”  Eden seperti sudah kehabisan kata-kata untuk mengomentari semua kebetulan yang terasa mencekiknya ini.


            “Jadi kau akan tinggal berapa lama di sini?”


            “Entahlah, itu tergantung Aciel.”


            “Apa kau sudah memberitahu Summer jika kau berada di sini?”


            “Aku belum sempat menghubunginya karena kami baru tiba pagi tadi.” jawab Eden sambil mengambil sebuah troli yang disediakan di depan pintu masuk. Mereka berdua lantas berjalan beriringan memasuki kawasan supermarket yang cukup lenggang sore ini. Andai saja Eden tidak bertemu Andrew, mungkin ia tidak akan segugup


ini saat memasuki lorong berisi makanan-makanan ringan kesukaan Ciara.


            “Kau ingin membeli sesuatu untuk anakmu?”


            “Begitulah, Ciara menyukai biskuit coklat.” Eden mulai memilih makanan-makanan yang sekiranya disukai Ciara. Beberapa merk yang Eden temui di sini sedikit berbeda dari yang biasa ia temukan di Vegas. Saat ia sedang asik memilih, Andrew tiba-tiba menyodorkan sekotak biskuit coklat yang tidak pernah dijual di supermarket Vegas.


            “Kau harus mencobanya, ini enak.”


            Eden sebenarnya ingin menolak, tapi ia tidak bisa bersikap sekasar dulu pada Andrew. Jalan hidupnya yang rumit telah membuat Eden perlahan-lahan berubah mejadi dirinya yang dulu, dirinya sebelum dilingkupi amarah karena Aciel pernah mempermainkannya.


            “Terimakasih, mungkin Ciara akan menyukainya.”


            Setelah selesai dengan makanan Ciara, Eden bergegas menuju blok perlengkapan bayi. Kemarin ia tidak membawa banyak diapers untuk Louise. Dan sekarang ia harus membelinya untuk persediaan selama mereka berada di Sydney.


            “Umur berapa bayimu?”


            “Empat bulan.” jawab Eden sambil memasuki sebungkus besar diapers ke dalam troli. Andrew yang berada di sampingnya tampak diam, seperti ia sedang memikirkan sesuatu, namun ia ragu untuk mengatakannya.


            “Kau dan Aciel.... kalian baik-baik saja?”


            “Tentu, memangnya kenapa?” tanya Eden mengernyit.

__ADS_1


            “Tidak, bukan apa-apa.” jawab Andrew sambil mengusap tengkuknya kikuk. Tapi bukan berarti Eden tidak tahu apa yang dipikikan Andrew saat ini. Ia hanya berpura-pura tidak tahu dan menganggap semuanya baik-baik


saja agar ia tidak melakukan kesalahan lagi seperti dulu.


__ADS_2