Black Swan

Black Swan
Daddy Aciel (Thirty Nine)


__ADS_3

            Eden terengah-engah. Di tengah hujan lebat yang sedang melanda Las Vegas ia harus berlari cepat, masuk kedalam mansion megah Aciel untuk menemui pria itu. Ia tidak memiliki pilihan lain selain melakukannya, lalu membuat sebuah pengakuan panjang pada pria itu jika selama ini ia telah membohonginya.


            “Nona Eden?”


            Seorang petugas keamanan paruh baya langsung menatap Eden heran saat melihat wanita itu tampak terengah di depan pintu utama dengan tubuh yang basah kuyup dari ujung kepala hingga ujung kaki. Beberapa menit yang lalu ia melihat sebuah taksi berhenti di depan mansion milik tuannya, tapi ia tidak menyangka jika penumpang taksi itu adalah Eden, nona mudanya.


            “Apa Aciel ada?” tanya Eden mencoba menormalkan deru napasnya. Itu adalah perpaduan antara deru napas sesak karena khawatir pada kondisi Ciara, dan deru napas kelelahan karena harus berlari menembus hujan dari pintu pagar hingga ke pintu utama mansion milik Aciel yang megah.


            “Tuan... sepertinya ada, di ruang kerjanya. Ia mungkin belum keluar dari sana sejak pukul setengah dua tadi. Ada apa nona? Anda tampak panik.”


            “Aku memiliki masalah tuan Park, aku akan menemui Aciel sekarang. Terimakasih atas informasinya.”


            Tanpa menghiraukan wajah keheranan tuan Park, Eden segera masuk ke dalam mansion dengan tetesan-tetesan air yang serta merta mengikuti langkahnya yang tergesa-gesa. Tak ia hiraukan penampilan acak-acakannya saat ini yang terlihat seperti seorang tuna wisma yang sering ia temui di pinggir jalan. Pikirannya hanya pada Ciara. Kondisi gadisnya pagi ini terus memburuk. Ia telah kehilangan cukup banyak trombosit hingga memerlukan transfusi darah. Tapi persediaan darah dengan golongan A sedang kosong, sedangkan golongan darahnya adalah B. Ia tidak bisa mendonorkan darahnya untuk anaknya, tapi ayahnya bisa. Aciel bisa melakukannya karena mereka memiliki golongan darah yang sama. Dan sekarang ia akan memohon pada Aciel. Memohon pada pria itu untuk memberikan sedikit darahnya untuk putrinya yang sedang merenggang nyawa di rumah sakit.


Braakk


            Eden membuka kasar pintu kayu itu, dan langsung masuk kedalamnya dengan wajah pucat dan mata berair yang dikaburkan oleh air hujan yang menuruni wajahnya. Dari kejauhan ia melihat Aciel sedang menatapnya dengan wajah kebingungan. Lalu pria itu mendekat sambil mengomentari penampilannya yanga acak-acakan dan juga tubuh basahnya.


            “Ciaran.... Ciara membutuhkan darahmu.”


            Isak Eden pelan. Pikirannya benar-benar kacau, dan ia sangat tidak tega saat melihat bagaimana kondisi Ciara terakhir kali sebelum ia pergi ke rumah pria itu. Kini tubuh Ciara dipenuhi alat-alat penunjang kehidupan. Selang oksigen juga senantiasa terpasang di hidungnya agar gadis kecil itu senantiasa mendapatkan udara bersih di tengah ketidaksadarannya. Belum lagi jarum-jarum infus yang terpasang di tangannya, itu sangat mengerikan dan membuatnya merasa miris sebagai seorang ibu.


            “Ciara sakit, saat ini kondisinya kritis.” ucap Eden terisak-isak di dalam pelukan Aciel. Tak peduli tubuh basahnya akan membuat Aciel juga basah, yang ia butuhkan saat ini hanyalah dekapan hangat untuk mengurangi kepanikannya dan kesediaan pria itu untuk memberikan sedikit darahnya pada Ciara.


            “Jadi, apa Ciara adalah putriku?” tanya Aciel pelan. Lelah dan sedih tiba-tiba menghantam perasaan Aciel. Setelah ia membaca semua pesan yang dikirimkan Zyan padanya, ia merasa telah melakukan dosa besar pada putrinya. Sementara itu Eden terus saja terisak-isak di dalam dekapannya tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab pertanyaan Aciel. Ia terlalu bingung untuk memulainya pada Aciel, dan ia juga takut dengan kemarahan pria itu yang akan berujung pada penolakannya untuk memberikan darah pada Ciara karena kebohongannya selama ini.


            “Ciara....” Eden menjeda kalimatnya sebentar untuk menghirup udara yang sebanyak-banyaknya di dalam ruangan Aciel. Napasnya belum sepenuhnya berfungsi normal karena luapan rasa sesak yang masih melingkupinya. “Ciara adalah putrimu. Selama ini aku membohongimu. Aku berbohong tentang tes DNA dan Anthony. Ciara adalah putri kandungmu Ace, kalian memiliki golongan darah yang sama.” ucap Eden dalam satu tarikan nafas. Perasaan takut untuk ditolak tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya. Bagaimana jika Aciel tidak mau mengakuinya dan menuduhnya sebagai wanita munafik yang hanya datang disaat membutuhkannya? Ia sungguh takut dengan pikiran-pikirannya sendiri sebelum Aciel semakin memeluk erat tubuhnya sambil menepuk punggungnya pelan.


            “Akhirnya kau mengaku juga Eden. Aku telah menunggunya sangat lama.”


            “Ka kau... kau tidak marah padaku?”


            “Untuk apa? Mendengarmu sudah mengakuinya, itu cukup membuatku senang. Tapi kau masih harus membuat banyak pengakuan setelah ini. Apa yang terjadi pada Ciara?” tanya Aciel tenang. Kelegaan itu langsung menyusup dengan nyaman di hati Eden. Sungguh ia ingin sekali mengucapkan beribu-ribu terimakasih pada Tuhan karena telah mendengarkan doanya selama di perjalanan menuju mansion Aciel.


            “Ciara sakit demam berdarah. Jensen memeriksanya kemarin, lalu memintaku untuk membawanya ke rumah sakit karena kondisinya cukup parah. Dan pukul dua belas tadi Jensen memindahkan Ciara ke ruang ICU agar Ciara mendapatkan perawatan intensif. Kondisinya benar-benar sangat buruk.” cerita Eden terisak-isak. Namun dengan bodohnya Aciel justru memikirkan Jensen. Katakanlah ia konyol karena sempat merasakan cemburu pada pria itu. Ia tahu Jensen adalah salah satu mantan kekasih Eden. Dan ia merasa kesal karena Eden lebih memilih menghubungi Jensen terlebih dahulu saat putrinya sakit.


            “Seburuk apa kondisi Ciara?”


            “Sangat buruk. Ia sempat mengalami mimisan, dan trombositnya menurun drastis. Pukul tiga tadi trombositnya turun menjadi enam puluh ribu. Ciara membutuhkan donor darah segera pukul enam nanti, tapi stok darah golongan A sedang habis. Jensen sudah berusaha untuk menghubungi semua koleganya untuk mencari stok darah untuk Ciara, tapi saat ini stok darah untuk golongan A sedang benar-benar kosong. Wabah demam berdarah sedang melanda negara bagian Nevada saat ini, jadi stok darah memang cukup sulit. Aku tahu kau bergolongan darah A, sama seperti Ciara, jadi tolong berikan sedikit darahmu untuk Ciara. Ia sangat membutuhkannya Ace.”


            Eden memohon dengan wajah memelas dan hampir saja berlutut di bawah kaki Aciel jika pria itu tidak segera menariknya dan membawanya ke dalam dekapannya yang hangat.


            “Apapun untuk putriku, aku pasti akan memberikannya. Kita ke rumah sakit sekarang, tapi kau perlu mengganti pakaianmu yang basah. Kau tidak boleh sakit Ed, kau ibunya.”


            Seketika Eden langsung memeluk Aciel penuh rasa bahagia sambil menggumamkan beribu-ribu rasa terimakasih pada pria itu.

__ADS_1


            “Terimakasih, terimkasih karena kau telah menyelamatkan Ciara.”


            “Tapi ini tidak gratis Eden, ada harga yang harus kau bayar untuk setetes darahku.” bisik Aciel mengerikan penuh seringaian. Seketika luapan kebahagiaan itu hilang, hilang ditelan rasa takut yang tiba-tiba melingkupinya. Berapa harga yang harus ia bayar untuk setetes darah Aciel? Apakah ia harus membayarnya dengan kebebasannya? Atau tubuhnya?


-00-


            Eden menatap Aciel dalam diam saat beberapa perawat sedang memasangkan jarum suntik untuk mengambil darah Aciel. Pukul enam, Jensen benar-benar mengambil darah Aciel untuk nanti ditransfusikan ke tubuh Ciara. Namun sejak tadi Eden tidak bisa menghentikan pikiran buruknya tentang harga yang harus ia bayar untuk setetes darah yang akan Aciel berikan pada Ciara. Sebenarnya apapun itu, ia tidak  masalah asalkan Ciara dapat diselamatkan. Ia hanya takut jika masa depan Ciara juga akan ikut dikorbankan karena hal ini.


            “Hari ini kami akan mengambil dua kantong darah tuan Lutherford.”


            Eden tiba-tiba tersadar dari lamunannya sambil mengangguk singkat pada perawat terakhir yang masih berada di dalam ruangan pengambilan darah itu. Dan setelah semua selang infus dan kantong darah terpasang pada tempatnya, perawat itu pamit undur diri pada Eden untuk menyiapkan hal-hal lain yang berkaitan dengan proses pentransfusian darah untuk Ciara.


            “Aku melihatmu terus melamun sejak tadi.”


            “Hanya memikirkan Ciara.” jawab Eden singkat sambil berjalan kearah ranjang perawatan Aciel. Pria itu terlihat tenang ketika sedikit demi sedikit darahnya mulai tersedot menuju kantong darah. Namun perlahan tapi pasti, pria itu juga merasakan pusing pada kepalanya. Semalam ia tidak tidur. Itu adalah kendala yang akan ia hadapi setelah ia selesai memberikan darahnya untuk Ciara.


            “Kau terlihat pucat.”


            “Itu hanya perasaanmu.” kilah Aciel cepat sambil menerawang pada langit-langit kamarnya yang membosankan. Sejujurnya ia merasakan serangan kantuk yang luar biasa saat ini, namun sebisa mungkin ia tetap mejaga kedua matanya agar tetap terbuka agar hal-hal yang tidak ia inginkan tidak terjadi. Tapi ia tidak tahu,


apakah itu benar-benar rasa kantuk, ataukah efek yang ditimbulkan karena darahnya saat ini sedang diambil.                     “Bagaimana perasaanmu setelah mengetahui semuanya? Apa kau senang karena sekarang kau adalah seorang ayah?”


            “Tak bisa dipungkiri jika aku merasa bahagia saat ini. Rasa bahagia karena menjadi seorang ayah itu benar-benar sangat luar biasa. Tapi aku juga cukup menyayangkan berita bahagia ini karena kau mungkin tidak akan pernah memberitahukannya padaku jika Ciara tidak sakit dan membutuhkan darahku.”


            “Untuk itu aku minta maaf.” bisik Eden seperti pada dirinya sendiri. Namun di ruang yang sangat hening itu, bisikan sepelan apapun dari Eden, Aciel tetap dapat mendengarnya. Bahkan suara detak jantungnya yang mulai berdebar-debar saat ini, ia juga dapat mendengarnya dengan jelas. Ia harus tetap berbicara dengan Eden jika ia tidak ingin kehilangan kesedarannya setelah ini.


            “Aku... aku terpaksa melakukannya. Aku ingin kau merasakan sakit karena ditinggalkan oleh orang-orang yang menyayangimu. Saat usia kehamilanku semakin besar, aku mulai sadar jika kau perlahan-lahan mempedulikanku dan menyayangi janin di dalam kandunganku. Jadi aku berusaha membuatmu mempedulikanku, meskipun kau tidak pernah mengatakan kata cinta di depanku, tapi aku yakin jika kau mulai memiliki rasa untukku.”


            “Dan kau berhasil. Kau meninggalkanku dalam sebuah penyesalan besar dan juga kekecewaan karena aku gagal memiliki keturunan darimu.” ucap Aciel terdengar terluka. Eden sendiri tidak tahu apakah itu benar-benar murni dari hati terdalam Aciel atau tidak, tapi yang ia dengar pria itu mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Sedikit rasa bersalah kemudian menyusup di hati Eden, ia tidak pernah mengharapkan Aciel akan menunjukan sikap yang begitu rapuh di hadapannya. Hatinya ternyata dapat berubah dengan cepat seiring dengan mimik wajah Aciel yang tampak memendam begitu banyak penyesalan untuk semua hal yang terjadi di masa lalu.


            “Secara kebetulan Anthony muncul, ia membuatku teringat pada malam saat kami mabuk dan bangun di sebuah kamar hotel dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Jadi aku juga sempat berpikir jika janin itu mungkin milik Anthony. Tapi kemudian aku ingat jika aku dan Anthony tidak pernah melakukan apapun. Malam itu kami hanya tidur bersama tanpa melakukan apapun yang bisa membuatku hamil. Sayangnya dugaanku itu belum sepenuhnya benar. Dan saat Anthony memintaku untuk melakukan tes DNA, aku menggunakan kesempatan itu untuk meyakinkan dugaanku selama ini tentang janin yang sedang tumbuh di rahimku. Lalu....”


            “Lalu hasilnya negatif. Negatif karena tidak cocok dengan sample jaringan milik Anthony, bukan sample jaringan milikku.” sela Aciel tiba-tiba. Kali ini pandangan matanya mulai mengabur. Tubuh Eden yang sedang duduk di sebelah ranjangnya tampak seperti dua bayangan yang sedang bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri. Namun sebisa mungkin ia tetap mempertahankan kesadarannya dengan mengajak Eden berbicara mengenai masa lalu mereka yang rumit.


            “Ya, kau benar. Saat itu aku terlalu berambisi untuk melakukan balas dendam padamu dan ingin segera lepas dari cengkeramanku. Asal kau tahu, aku benar-benar kalut dengan pikiranku sendiri. Aku selalu dihantui pikiran negatif tentang bagaimana hidupku bila terus bertahan di sisimu, sedangkan kau tidak ingin berkomitmen. Aku tidak mau anakku menjadi korban, jadi aku memutuskan untuk menikah dengan Zyan agar anakku memiliki keluarga yang lengkap tanpa cacat.”


            “Seandainya kau tidak pergi, aku pasti akan memenuhi keinginanmu untuk memiliki sebuah keluarga bahagia yang utuh.”     ucap Aciel yang terdengar seperti bisikan. Pusing hampir merenggut kesadarannya yang sudah hampir menipis, dan kesedihan itu terasa begitu nyata di dada Aciel semenjak ia membaca pesan-pesan yang dikirimkan oleh Zyan di emailnya. Andai saja ia membuka pesan-pesan itu lebih awal, ia pasti akan segera membawa kembali keluarganya ke sisinya.


            “Dengan sifatmu yang player itu?” sela Eden sakarstik. Hingga detik inipun sebenarnya ia belum sepenuhnya yakin pada Aciel. Kata-kata cinta, dan sikap pria itu yang menunjukan ingin memiliki hubungan serius dengannya belum bisa sepenuhnya meyakinkannya. Ia masih takut jika suatu saat ternyata pria itu hanya mempermainkannya, lalu meninggalkannya lagi untuk bersenang-senang bersama ******-jalangnya.


            “Jika kau bertahan, aku juga akan berusaha berubah untuk keluargaku!”


            Aciel tidak tahu mengapa ia tiba-tiba semarah ini, namun mendengar Eden mengatakan


hal itu membuat emosinya seketika terpancing. Apalagi wanita itu pergi tanpa memikirkan dampak buruk yang akan ditimbulkan dari tindakannya. Dan mengingat bagaimana pesan-pesan Zyan selama ini, Eden sebenarnya telah mendapatkan banyak karma dari perbuatan gegabahnya. Lihatlah, ia sekarang justru tidak bahagia dengan jalan yang ia putuskan sendiri.

__ADS_1


            “Berubah? Perubahan seperti apa yang kau maksud? Bahkan aku telah bersabar lebih dari tiga tahun untuk menunggumu berubah, tapi hasilnya apa? Sejauh ini kau belum berubah. Kau justru menyalahkan pekerjaanmu sebagai alasan untuk mengencani banyak wanita di luar sana.” serang Eden telak. Kali ini Aciel benar-benar


sudah gagal untuk mempertahankan argumennya. Disamping karena kepalanya semakin berdentam dan matanya juga terasa berkunang-kunang, alasan yang baru saja dilontarkan Eden juga cukup masuk akal. Wanita itu ketakutan dengan masa depannya yang tidak jelas bersamanya, sehingga ia memutuskan untuk menikah bersama Zyan. Tapi wanita itu juga tidak bahagia saat bersama Zyan, karena hatinya masih dimiliki oleh Aciel. Jadi bagaimana? Ia seperti wanita yang terombang ambing di tengah samudera, tidak bisa bergerak kemanapun, dan semua pergerakannya juga terasa salah dimata semua orang. Dan jalan terakhir yang bisa dilakukan Eden adalah bunuh diri dengan menikah bersama Zyan.


            “Ace, ada satu hal yang ingin kukatakan padamu. Sebenarnya....”


            Eden tampak ragu untuk mengatakannya. Tapi pada akhirnya ia berusaha mengeraskan hatinya agar tidak goyah, dan segera mengatakan semuanya pada Aciel. Ia lelah jika harus terus bertahan dengan permainannya sendiri, sedangkan keadaannya saat ini seperti sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan semuanya. Ia hanya berharap semua kejujurannya hari ini dapat terbayarkan dengan kebebasannya. Ia ingin segera kembali ke Perancis.


            “Zyan telah meninggal tiga tahun yang lalu karena kecelakaan. Hhhahh... jadi Ciara sebenarnya tidak pernah tahu bagaimana wajah ayahnya selain dari foto Zyan yang terpasang di dinding rumah kami. Aku....”


            Eden tiba-tiba menghentikan ceritanya saat dirasa Aciel tidak merespon apapun. Dan ketika ia menoleh, pria itu telah kehilangan kesadaran sepenuhnya dengan wajah pucat yang tampak mengkhawatirkan.


            “Aciel! Aciel! Kau baik-baik saja?”


            Eden terus mengguncang-guncang tubuh Aciel keras agar pria itu merespon. Namun setelah cukup lama Eden mengguncangnya, tak ada respon yang berarti dari Aciel. Pria itu telah benar-benar kehilangan kesadarannya, dan sekarang kondisinya juga tampak mengkhawatirkan.


            “Je.. Jensen!”


            Eden memanggil Jensen dengan keras saat pria itu kebetulan sedang melintas di depan ruang pengambilan darah. Melihat Eden yang tampak panik, Jensen segera berlari menghampiri Eden sambil menyerahkan buku rekam medisnya asal pada salah satu suster yang lewat.


            “Ada apa?”


            “Aciel pingsan. Wajahnya sangat pucat.” adu Eden dengan lutut bergetar. Ia masih syok dengan semua kejadian yang menimpanya hari ini. Satu persatu orang-orang yang ia cintai justru sedang tak sadarkan diri di depannya.


            “Tenang Eden, aku akan memeriksa kondisinya.”


            Jensen segera masuk ke dalam bilik tempat pengambilan darah dan segera mengecek tekanan darah Aciel. Pria itu lalu memanggil salah satu suster untuk melepas jarum suntik yang digunakan untuk menyedot darah Aciel karena pria itu saat ini sudah tidak mampu lagi untuk diambil darahnya. Jika dipaksakan, Aciel justru akan berakhir kritis karena kekurangan darah.


            “Kita tidak bisa melanjutkan pengambilan darahnya Ed, tekanan darahnya sangat rendah. Apa ia tidak mendapatkan cukup istirahat semalam?”


            “Mungkin tidak.” jawab Eden ragu. Namun bisa saja Aciel memang tidak mengistirahatkan tubuhnya dengan benar karena pria itu selalu hectic dengan pekerjaan-pekerjaannya. Pola hidup Aciel yang selalu buruk sejak dulu membuat Eden sangat yakin jika Aciel memang tidak cukup istirahat akhir-akhir ini.


            “Untuk saat ini kita hanya mendapatkan satu setengah kantong darah Aciel. Tapi kau tenang saja, saat kondisinya sudah pulih, kita masih bisa mengambil darahnya lagi.”


            “Apa itu cukup untuk Ciara?”


            “Ini belum sepenuhnya cukup untuk Ciara, tapi aku masih bisa mengusahakan peningkatan trombositnya dengan obat. Semoga hari ini Ciara sudah bisa melewati masa kritisnya.” ucap Jensen menenangkan. Edenpun hanya mengangguk pasrah pada Jensen sambil menatap nanar pada punggung tangan Aciel yang kini juga harus dihiasi dengan jarum infus.


            “Aciel.... kapan ia akan sadar?”


            “Aku tidak tahu pasti kapan ia akan sadar. Tapi jika kondisinya telah pulih, ia pasti akan segera sadar. Saat ini ia hanya butuh istirahat untuk mengembalikan staminanya. Aku sudah memasukan beberapa obat penunjang di dalam cairan infusnya, jadi kau tidak perlu khawatir.”


            “Oh syukurlah, terimakasih Jensen. Aku benar-benar berhutang banyak padamu.”


            “Tidak masalah Ed, aku senang membantumu. Kau juga harus menjaga staminamu dengan baik, mereka sekarang bergantung padamu. Jika kau juga sakit, siapa yang akan merawat mereka, hmm?” tanya Jensen lembut. Eden tersenyum nanar kearah Jensen sambil menganggukan kepalanya mengerti.

__ADS_1


            “Aku pasti akan melakukannya. Sekali lagi terimakasih atas semua kebaikanmu.”


__ADS_2