
Eden cepat-cepat menutup matanya ketika ia merasakan gagang pintu kamarnya diputar dari luar. Tanpa melihat siapa yang telah melakukannya, Eden yakin jika orang itu pasti Aciel. Tidak mungkin ada pelayan yang berani masuk ke dalam kamarnya di jam setengah satu pagi seperti ini. Mereka jelas tidak berani mengganggu kenyamanannya di rumah ini. Satu-satunya orang yang dapat merusak kenyamanannya adalah Aciel, sang penguasa rumah ini dan pemilik seluruh aset-aset di rumah ini.
“Aku tahu kau belum tidur.”
Suara bass bernada dingin itu tampak begitu dekat dan terdengar sangat menusuk di indera pendengaran Eden yang sensitif. Terkadang ia kesal pada Aciel karena sikap pria itu yang terlalu angkuh dan juga sombong di depannya. Jika memang ia adalah suaminya, kenapa ia tidak pernah mencoba bersikap lembut di depannya. Selalu saja mengatakan sesuatu dengan nada dingin atau nada perintah yang sangat menyebalkan.
“Siapkan piyama untukku, aku akan mandi terlebihdulu.”
Baru saja Eden berpikir tentang sikap sok berkuasa Aciel, dan sekarang pria itu sudah memberikan perintah padanya dengan nada angkuh yang sangat dibencinya. Ingin rasanya ia mengabaikan pria itu. Tapi sentuhan pria itu di wajahnya memberikan tanda jika pria itu benar-benar menginginkannya untuk menyiapkan piyama.
Cklekk
“Huh! Menyebalkan!”
Eden langsung bangkit begitu saja setelah Aciel menutup pintu kamar mandinya cukup keras. Dengan malas ia segera beranjak berdiri dan membuka lemari pakaian milik Aciel yang sangat besar di ujung ruangan. Ia kemudian memilih salah satu piyama yang menurutnya memiliki warna yang paling membosankan. Lalu ia meletakan piyama itu di atas sofa coklat yang berada di dekat ranjangnya. Sejak ia kembali ke rumah ini dan mulai menerima takdirnya sebagai istri dari Aciel Lutherford, pria itu rasanya seperti sedang memaksanya untuk melakukan tugas-tugas seorang ibu dan istri yang baik. Beberapa kali ia merasa jika apa yang ia lakukan semuanya menjurus untuk menjadi isteri dan ibu yang baik. Seperti apa yang ia lakukan saat ini, menyiapkan satu stel piyama untuk Aciel.
“Kau sudah menyiapkan piyama untukku?”
Eden terperanjat kaget ketika tiba-tiba Aciel telah muncul di belakangnya. Aroma maskulin yang dipancarkan oleh pria itu setelah mandi mampu membius Eden hingga ia hanya terpaku di tempat. Ditambah lagi tetesan air yang meluncur bebas dari ujung-ujung rambut serta tubuh Aciel membuat Eden merasa gugup hingga rasanya ia tidak mampu berdiri dengan benar di depan pria itu.
“Kkkenapa cepat sekali?” tanya Eden tergagap. Wanita itu terlihat benar-benar tegang hingga tidak mampu berbalik ke belakang untuk menatap wajah Aciel.
“Aku lupa membawa handuk, bisa kau ambilkan untukku?” bisik Aciel sensual di sisi wajah Eden. Seketika bulu kuduk Eden meremang karena terpaan nafas panas Aciel yang terasa begitu menggelitik di permukaan kulit tengkuknya. Namun beberapa detik kemudian ia berhasil mendapatkan kesadarannya kembali dan cepat-cepat
mengambil handuk milik Aciel yang berada di dalam lemari. Saat ini pikirannya sudah melayang kemana-mana karena ia berpikir jika saat ini Aciel sedang *****. Jadi ketika ia hendak menyerahkan handuk itu pada Aciel, dengan bodohnya ia justru berjalan mundur tanpa berani menatap wajah tampan Aciel yang terlihat geli di belakangnya.
“Ii.. ini..”
“Ada apa denganmu? Kenapa kau berjalan dengan gaya aneh seperti itu?”
Aciel tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya saat Eden dengan gaya aneh yang terlihat kikuk mulai mengulurkan selembar handuk putih padanya. Sebagai pria yang cerdas, tentu ia tahu apa penyebab Eden bersikap aneh seperti itu. Namun ia ingin sedikit bermain-main dengan wanita itu, sehingga ia bepura-pura tidak tahu dan menerima uluran handuk itu begitu saja.
“Aku baik-baik saja. Jangan pedulikan aku. Lanjutkan saja mandimu, aku akan tidur.”
__ADS_1
Eden terlihat terburu-buru menyelesaikan ucapannya dan segera beranjak pergi untuk naik ke atas ranjang. Tapi tarikan tangan Aciel yang cukup kuat di lengannya membuat Eden terhenti dan justru berbalik menabrak dada bidang Aciel yang terasa basah.
“Kenapa buru-buru, hmm? Aku belum selesai denganmu.”
“Aciel lepaskan aku! Kau basahh...”
Eden mendorong-dorong dada Aciel yang terasa dingin di atas permukaan kulit tangannya karena Aciel baru saja mandi. Dan selama mengusir Aciel dari hadapannya, Eden tak sedikitpun berani membuka matanya. Ia takut akan melihat hal-hal yang tidak pantas jika membuka mata saat ini juga.
“Aku ingin kau menemaniku mandi.” bisik Aciel menggoda. Kedua pipi Eden seketika berubah merah dan wanita itu menjadi salah tingkah dengan ucapan Aciel. Namun ia tetap mendorong Aciel menjauh untuk menyembunyikan rona merah yang tercetak jelas di wajahnya. Andai ia memiliki kemampuan untuk menghilang, mungkin ia akan melakukannya sekarang untuk menghilang dari hadapan Aciel.
“Sialan! Jangan menggodaku. Cepat selesaikan mandimu, aku ingin tidur.” teriak Eden kesal sambil memalingkan wajah. Wanita itu masih enggan untuk menatap Aciel di depannya karena ia takut akan melihat hal-hal yang tidak tidak jika ia berani menatap tubuh Aciel yang menurutnya ***** itu. Tapi kemudian ia dipaksa oleh Aciel untuk memalingkan wajahnya kearah pria itu, dan mau tidak mau ia harus melihat seluruh tubuh Aciel yang topless, namun ia masih menggunakan celana pendek.
“Kenapa kau tidak mau menatapku? Ada apa di dalam kepala cantikmu ini?” tanya Aciel dengan seringaian licik. Eden tiba-tiba tergagap di depannya dan tidak mampu menjawab pertanyaan Aciel. Ternyata Aciel tidak benar-benar *****, pria itu masih menggunakan celana pendek yang dapat menutupi tubuh bagian bawahnya. Pikiran kotornya lah yang memberikan gambaran-gambaran aneh hingga ia menyimpulkan sendiri tanpa melihat bagaimana faktanya. Dan sekarang pria itu tahu jika ia sejak tadi telah berpikiran kotor terntangnya. Sungguh ini akan berakhir buruk, karena Aciel pasti akan menggodanya sepanjang malam. Atau mungkin seumur hidupnya.
“Aapa? Tttidak... aku tidak memikirkan apapun. Aku ha.. hanya risih dengan tubuhmu yang basah itu. Lebih baik kau cepat selesaikan mandimu, kau bisa sakit jika terlalu lama seperti ini.”
Aciel tersenyum samar di depan Eden dan memutuskan untuk menuruti permintaan wanita itu. Setelah mendengar penjelasan Eden yang aneh, ia pergi begitu saja untuk melanjutkan mandinya. Namun ia telah memiliki banyak rencana di dalam kepalanya untuk menggoda Eden malam ini. Ia bersumpah tidak akan melepaskan wanita itu dengan mudah.
-00-
Eden tampak meruntuki kebodohannya sendiri sambil berbaring dengan kesal di atas ranjang. Wajahnya pasti masih memerah karena sejak tadi ia mati-matian menahan rasa malu di depan Aciel. Pria itu rasanya tidak mungkin tidak tahu dengan keanehan yang ia tunjukan. Tapi ia cukup bersyukur jika ternyata Aciel tidak mempermasalahkan alasannya yang aneh itu. Untung saja Aciel segera masuk ke dalam kamar mandi dan menyelesaikan kegiatan mandinya yang tertunda, jika tidak, mungkin ia akan mati kutu di depan pria itu karena ia telah bersikap bodoh di depannya.
Cklek
Eden reflek menolehkan wajahnya ke arah pintu kamar mandi yang baru saja terbuka. Di sana ia melihat Aciel telah lengkap dengan piyama berwarna abu-abu yang ia pilihkan. Meskipun ia telah memilihkan piyama yang paling tidak menarik untuk pria itu, namun jika Aciel yang mengenakannya tetap saja terlihat menarik. Lihat bagaimana rambut basah Aciel masih sedikit meneteskan butiran air yang mengalir turun dari sisi wajahnya berlanjut ke leher dan jatuh tepat di atas kerah kelabu piyama milik Aciel. Untuk beberapa saat Eden tak mampu mengalihkan perhatiaannya dari Aciel hingga Aciel berjalan kearahnya sambil menatapnya
dengan tatapan dingin yang selalu membuat dadanya berdebar setiap kali melihatnya.
“Kau masih belum tidur?”
Aciel duduk di sisi ranjangnya sambil menatap Eden intens.
“Aku akan tidur.” jawab Eden singkat sambil menarik selimut di bawah kakinya untuk menutupi seluruh tubuhnya. Namun gerakan itu dihentikan oleh Aciel dengan tiba-tiba.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Eden tidak mengerti.
“Apa kau masih penasaran dengan film apa yang ditonton oleh Sian?” tanya Aciel dengan senyum misterius. Seketika Eden kembali teringat akan masalah film yang beberapa menit yang lalu membuat Aciel dan Sian saling beradu mulut di ruang tengah.
“Memangnya film apa yang ditonton oleh Sian? Kenapa kalian sampai repot-repot berdebat tentang film itu di bawah.”
“Bagaimana jika kita menontonnya sekarang?”
Eden menganggukan kepalanya begitu saja dan kembali bangkit dari posisi rebahnya. Toh malam ini ia juga belum mengantuk, jadi ia terima begitu saja ajakan Aciel untuk menonton film. Siapa tahu setelah ia melihat film itu ia akan mengantuk dan jatuh tertidur dengan pulas.
“Ngomong-ngomong ini film tentang apa?” tanya Eden polos ketika Aciel sudah mengambil tempat di sebelahnya sambil menggenggam sebuah remot di tangannya. Pria itu tak banyak menjawab pertanyaan Eden dan menyuruh wanita itu fokus pada layar televisi yang kini mulai memutarkan bagian pembukaan film.
Aciel melirik Eden dari sudut matanya sambil menerka-nerka bagaimana reaksi Eden saat melihat bagian inti film ini. Malam ini ia benar-benar kesal karena kembali melihat kedekatan Sian dan Eden lagi di rumahnya. Padahal beberapa hari yang lalu ia telah meminta Eden untuk menjaga jarak dengan Sian, tapi tetap saja
wanita itu menunjukan kedekatan yang sangat mengganggu pada Sian. Mungkin ia memang cemburu melihat mereka berdua, karena ia tidak pernah seperti itu saat bersama Eden. Mereka berdua hampir selalu bertengkar jika bersama. Berbeda ketika bersama Sian, karena Eden selalu tampak lebih nyaman jika mengobrol bersama Sian daripada mengobrol bersama dirinya.
“Ffilm apa ini?”
Eden melongo tak percaya ketika adegan demi adegan yang tak pantas mulai tersaji di depannya. Aciel yang melihat itu langsung menyeringai licik dan mendekatkan wajahnya ke arah Eden yang masih terpaku dengan adegan-adegan yang dipertontonkan di dalam film.
“Ini adalah jenis film-film yang sering ditonton Sian. Bagaimana menurutmu, hmm?”
Aciel sengaja merendahkan suaranya untuk semakin memprovokasi Eden. Wanita itu menelan ludahnya susah payah dan mulai berbalik menatap Aciel yang masih mencondongkan kepalanya tepat di samping kepalanya hingga kini kedua mata mereka saling bertemu.
“Aaku tidak mau melihatnya lagi, mma.. matikan saja film ini.” cicit Eden dengan wajah merah padam yang terlihat ling lung. Eden terlihat terus menjilati bibirnya yang terasa kering karena ia merasa tidak nyaman dengan setiap adegan yang dipertontonkan di dalam film itu. Terlebih lagi suara dari sang tokoh utama membuat Eden merinding sekaligus jijik pada dengan pikiran-pikiran aneh yang mulai menghantuinya karena film itu. Namun tanpa Eden sadari, apa yang ia lakukan justru membuat sesuatu dalam diri Aciel terbangun dengan liar. Pria itu
jelas tidak bisa mengalihkan tatapan matanya dari bibir merah muda milik Eden yang tampak berkilau di bawah temaram lampu kamar mereka. Ia tidak bisa menahannya lagi, mereka mungkin bisa menirukan beberapa adegan yang tersaji di dalam film itu.
“Kau tahu, apa yang kau lakukan justru semakin membuatku lapar.” bisik Aciel rendah. Pria itu tanpa aba-aba langsung ******* bibir Eden tanpa mempedulikan keterkejutan wanita di depannya yang refleks langsung menegang ketika ia mencium bibir merah mudanya. Namun Aciel jelas tidak ingin Eden menjadi tegang disaat ia sangat menikmati setiap adegan panas yang tengah ia lakukan. Ia juga ingin membawa Eden kedalam pusara kenikmatan yang sama, seperti yang tengah ia rasakan saat ini.
“Tenanglah sayang...”
Aciel mengelus sudut bibir Eden lembut dan tersenyum miring di depan wanita itu. Sedangkan Eden masih terlihat terengah-engah setelah ciuman panjang mereka yang cukup mendadak untuknya.
__ADS_1
“Kita tidak akan melakukannya lagi kan?” tanya Eden dengan wajah memelas, berharap Aciel akan tersentuh dengan wajah memelasnya. Tapi gelengan kepala Aciel yang tegas membuat Eden seketika menghembuskan napasnya pasrah karena jelas Aciel tetap akan melakukannya, dengan atau tanpa persetujuan darinya.
“Kita akan melakukannya seperti di film yang baru saja kau tonton. Kuyakin kau sudah cukup belajar sayang.” bisik Aciel parau sambil mengerling menggoda di depan Eden.