Black Swan

Black Swan
Maybe I Love You (Fifthy Five)


__ADS_3

        Eden dan Anthony sedang bersenda gurau di salah satu meja di dalam restoran sushi sambil mengenang masa lalu mereka yang sedikit dilupakan Eden. Sesekali Anthony memberikan lelucon yang membuat Eden tertawa hingga Eden rasanya mampu melupakan masalahnya sejenak. Tak berapa lama seorang pelayan muncul dengan satu nampan penuh berisi makanan pesanan mereka yang terlihat banyak untuk dimana oleh dua orang. Kali ini Anthony memang sengaja memesan semua makanan spesial di restoran itu untuk merayakan kebahagiaanya hari ini karena mampu merebut Eden kembali dari Aciel. Lebih tepatnya ia berhasil memanfaatkan kondisi amnesia Eden dengan baik untuk memiliki wanita itu, sekaligus untuk membalaskan dendamnya pada Aciel Lutherford.


            “Anthony, kita sepertinya memesan terlalu banyak makanan. Aku tidak yakin bisa menghabiskan semua ini.”


            Eden terlihat begitu berbinar-binar dengan semua makanan yang tersaji di depannya. Ingin sekali ia menghabiskan semua makanan itu sendirian karena terlihat begitu menggiurkan, tapi sayangnya ia yakin jika perutnya tidak akan muat untuk menampung semua itu.


            “Aku sengaja memesan semua makanan ini untukmu Ed, dulu kau sangat suka sushi dengan perpaduan daging alpukat yang lembut di dalamnya.”


            Anthony menyumpit sebuah sushi dengan irisan buah alpukat di dalamnya lalu menyuapkannya pada Eden dengan begitu mesra hingga membuat kedua pipi Eden bersemu merah dengan sangat menggemaskan.


            “Bagaimana, kau suka?”


            “Hmm, aku suka. Kurasa sushi jenis ini memang sushi favoritku. Sekarang giliran aku yang menyuapimu.”


            Eden menyumpit sebuah sushi dengan balutan rumput laut di luarnya lalu mengarahkan irian sushi yang menggoda itu tepat di depan mulut Anthony. Dengan penuh sukacita Anthony menelan sushi itu bulat-bulat dan tersenyum manis pada Eden dengan binar-binar bahagia yang terpancar dari wajahnya.


            “Sudah lama sekali kita tidak melakukan makan malam romatis seperti. Sejak kau menikah dengan Aciel dan menjalani kehidupan penuh kemewahan khas pria itu, kau berubah menjadi seorang wanita yang sulit untuk kugapai.”


            “Maaf.”


            Sedikit banyak ucapan Anthony mengenai Eden memang benar. Semenjak wanita itu memutuskan untuk kembali bersama Aciel, Eden berubah menjadi wanita yang sulit digapai. Kerap kali Anthony melihat kemesraan Aciel dan Eden melalui berita-berita yang disiarkan di layar kaca, hal itu selalu berhasil membuat Anthony semakin terbakar karena ia menaruh dendam pada Aciel. Apalagi Eden juga pernah mempermainkannya dengan membuatnya terlalu berharap jika anak itu kemungkinan adalah anaknya. Namun hasil tes DNA dengan jelas menyebutkan jika anak itu adalah anak Aciel karena tes DNA miliknya menunjukan hasil yang negatif. Tapi meskipun begitu sebenarnya Eden masihlah menjadi Edennya yang dulu, yang lembut dan penuh kasih sayang. Namun akhir-akhir ini ia menyadari jika cinta Eden untuknya sudah sepenuhnya lenyap. Wanita itu tidak lagi


memandangnya sebagai pria yang dicintainya, tapi lebih pada pria yang dikasihaninya. Beberapa kali Eden memberikannya makanan atau hadiah secara sembunyi-bunyi dari suaminya. Terkadang Eden juga menitipkan makanan yang diberikan kepada salah satu rekannya untuk diberikan kepadanya. Tapi semakin lama ia muak dengan sikap Eden padanya. Tujuannya mendekati Eden adalah untuk mengambil kembali wanita itu dari sisi Aciel, tapi sayangnya hati Eden tidak pernah berpaling dari pria itu. Entah apa yang dilakukan oleh Aciel hingga


mampu membuat cinta Eden benar-benar tak tergantikan. Bahkan Zyan, pria itu mungkin terlalu sial karena ia mati disaat harus menjadi tumbal untuk melarikan diri dari Aciel. Karena ia sudah tidak tahan, ia memutuskan untuk mengatakan pada Eden secara gamblang jika ia sangat mencintai wanita itu dan ia juga sudah bergabung dengan salah satu musuh terbesar Aciel untuk menghancurkan pria itu. Tapi sayangnya siang itu ia justru mendapatkan jawaban yang begitu mengejutkan dari Eden. Secara terang-terangan Eden mengatakan jika ia tidak pernah


mencintainya. Ia dengan jujur mengatakan jika hatinya hanya dimiliki oleh Aciel dan ia sangat mencintai pria itu lebih dari apapun. Terlebih mereka sudah memiliki Ciara dan akan segera memiliki anak ke dua yang merupakan pelengkap bagi hubungan rumah tangga mereka, sehingga ia tidak bisa lagi meneruskan hubungan cinta mereka yang pernah terjalin di masa lalu. Mendengar hal itu tentu saja ia marah. Pria mana yang tidak marah dan kecewa saat wanita yang ia perjuangkan mati-matian justru memilih pria lain yang telah memberikan segalanya. Ia kemudian memaksa Eden untuk berdiri di sampingnya dan meninggalkan Aciel, tapi sayangnya wanita itu tidak mau dan marah. Eden marah padanya dan memutuskan untuk segera kembali pada bodyguard-bodyguardnya yang telah menunggu di dalam mobil. Tapi karena saat itu ia sedang dipenuhi oleh kemarahan yang meluap-luap, ia mencoba mengejar Eden agar wanita itu memikirkan kembali keputusannya untuk bertahan bersama Aciel karena ia masih sangat mencintai wanita itu dan ingin kembali bersama meskipun Eden telah memiliki anak. Dan akhirnya karena Eden terlalu terburu-buru untuk menjauh darinya, ia tidak menyadari jika ada sebuah mobil yang melaju kencang kearahnya. Dalam jarak dua meter ia melihat tubuh Eden melayang dan kepala Eden membentur aspal


dengan keras karena ulahnya yang terus mendesak wanita itu untuk meninggalkan suami dan anaknya. Tapi setelah melihat Eden tampak mengenaskan dengan darah yang bercecer di sekitar kepalanya, ia justru hanya memandang tubuh itu dengan datar dan meninggalkannya begitu saja tanpa berniat sedikitpun untuk menolongnya. Bahkan saat itu ia berharap agar Eden mati daripada wanita itu harus hidup namun dimiliki oleh pria perusak kehidupannya. Tapi Tuhan justru tetap menghidupkan Eden, namun dengan sebagian ingatan yang terhapus.


            “Anthony, aku ingin ke toilet sebentar.”


            Eden menyentuh tangannya lembut dan terlihat terburu-buru untuk pergi ke toilet. Ia lalu bersiap berdiri untuk menemani wanita itu pergi ke toilet, namun Eden segera menahannya dan memberikan senyuman menenangkan jika ia akan baik-baik saja.


            “Aku bisa sendiri, kau tunggu saja di sini.”


-00-


            Eden keluar dari bilik toilet dan mulai berjalan menuju wastafel untuk memperbaiki sedikit makeupnya yang luntur. Dengan gerakan luwes Eden menambahkan sedikit bedak pada wajahnya dan memoleskan lipstik berwarna merah di bibirnya untuk mempertegas kembali penampilannya yang sedikit luntur akibat ia terlalu bersemangat untuk memakan semua sushi-sushi yang dipesan Anthony untuknya.


            Sembari berdandan ia mengamati suasana kamar mandi di sekitarnya yang tampak sepi. Malam ini restoran yang ia datangi memang tidak terlalu padat, sehingga ia tidak heran jika saat ini ia sedang berada di dalam kamar mandi sendirian. Namun seketika bulu kuduknya meremang kala ia mendengar suara kloset yang ditutup dengan begitu keras dari balik sebuah bilik. Dengan perlahan Eden mendekati bilik itu dan sedikit menempelkan telinganya ke dalam untuk memastikan jika bilik toilet itu sedang digunakan. Padahal sebelumnya ia sangat yakin jika ia hanya sendirian di dalam toilet itu. Tapi ia segera menepis jauh-jauh pikirannya yang liar agar ia tidak merasa takut dengan pikirannya sendiri.


            “Semuanya akan baik-baik saja Ed, semuanya akan baik-baik saja.”


            Eden mencoba mensugesti dirinya sendiri sambil mengatur nafasnya agar lebih rileks. Ia kemudian segera berbalik untuk berjalan pergi meninggalkan ruangan sempit yang sepi itu. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba ia mendengar suara pintu di belakangnya terbuka, disusul dengan hembusan nafas hangat yang terasa begitu familiar di tengkuknya.


            “Boo! Aku menemukanmu Eden Morel.... oh aku lupa, sekarang kau adalah Eden Lutherford.”


            Mendengar suara pria yang begitu familiar di telinganya membuat Eden membeku seketika di tempat. Akhirnya apa yang ia takutkan menjadi kenyataan. Pria itu berhasil menemukannya.


            “Sayang, aku merindukanmu.” bisik pria itu seduktif di telinganya sambil memainkan helaian rambut yang menjuntai di sisi wajahnya dengan gerakan menggoda.

__ADS_1


            “Aaapa yang kau lakukan di sini?” tanya Eden tergagap sambil memejamkan matanya ketakutan. Dengan  gerakan cepat Aciel langsung membalik tubuh kurus Eden agar menghadap kearahnya yang membelai wajah cantik itu sambil memejamkan matanya penuh kenikmatan.


            “Tentu saja untuk mejemputmu sayang, memangnya apa lagi, hmm?”


            Aciel mulai mengendusi wajah Eden dengan salah satu tangannya yang masih setia menari-nari disekitaran wajah Eden. Lalu bibir tipis itu mulai menciumi setiap inci wajah Eden dengan begitu rakus untuk mengobati kerinduannya yang begitu menggila pada wanita itu.


            “Kau tidak melakukan apapun dengan pria itu bukan? Karena jika pria itu berani menyentuhmu, kupastikan setelah ini kepalanya akan terpisah jauh dari tubuhnya.”


            “Jangan bunuh Anthony, dia tidak ada hubungannya dengan semua ini. Bawa saja aku dan tinggalkan Anthony.” ucap Eden penuh permohonan. Kali ini ia memutuskan untuk menyelesaikan masalahnya dengan Aciel karena ia tidak mau dibuat ketakutan seperti beberapa hari yang lalu karena ia menghindar dari masalah yang seharusnya ia hadapi. Meskipun memang ia tidak mau kembali pada pria itu, tapi setidaknya ia tidak dihantui rasa cemas dan ketakutan setiap malam karena ia terus merasa Aciel selalu mengintainya dari balik jendela kamarnya yang gelap.


            “Hmm, aku setuuju dengan idemu, kita memang tidak boleh melibatkan orang luar ke dalam urusan rumah tangga kita. Dan sebelum kita pergi, aku ingin mencicipi bibirmu terlebihdahulu.”


            Aciel mendekatkan wajahnya pada bibir Eden dan mencium bibir wanita itu dengan menggebu-gebu dan sarat akan kerinduan. Edenpun memilih untuk menutup matanya tanpa perlawana. Kali ini ia ingin membuktikan semua mimpi-mimpinya mengenai Aciel. Ia ingin hatinya menunjukan padanya siapa yang sebenarnya benar-benar ia cintai, Anthony atau Aciel. Saat ini meskipun Aciel menciumnya dengan penuh nafsu dan mungkin juga gairah, tapi ia justru menikmatinya. Ia seperti merindukan sentuhan itu dan tak ingin Aciel mengakhirinya dengan cepat. Selain itu bayang-bayang yang kerap menghantuinya terlihat semakin jelas ketika ia sedang berciuman dengan Aciel. Bayangan itu berputar-putar di dalam kepalanya seperti sebuah roll film yang sedang memutarkan film kehidupan mengenai dirinya dan juga pria itu bertahun-tahun yang lalu.


            “Kurasa kita harus segera pergi dan mencari ranjang, malam ini kau terlihat menggoda Ed.” bisik Aciel serak di depan bibir Eden. Eden terlihat tersipu di depan Aciel, namun ia mencoba menyembunyikannya dengan bersikap acuh tak acuh. Sebisa mungkin ia menyembunyikan kegugupannya dengan bersikap sinis dan menolak genggaman tangan Aciel yang hangat di pergelangan tangannya.


            “Kuharap kau benar-benar menepati janjimu dengan tidak menyentuh Anthony seujung kukupun.” peringat Eden sebelum mereka keluar dari dalam toilet yang sepi. Aciel menggeram tidak suka pada Eden, dan setelah itu ia segera menarik tangan Eden sedikit lebih cepat karena mereka harus segera meninggalkan restoran itu. Beberapa saat yang lalu ketika ia tiba di sana, ia melihat beberapa orang mencurigakan yang sedang berjaga di sekitar lokasi restoran itu. Dan jika ia tidak salah mengira, maka orang-orang itu pasti adalah salah satu musuhnya yang telah bekerjasama dengan Anthony.


            “Ssshhh...”


            Ketika mereka akan melangkah keluar, tiba-tiba Aciel manarik tubuh Eden dan memeluk wanita itu sambil berbisik lirih di telinganya.


            “Sial! Mereka di sini.” geram Aciel tertahan sambil menatap nyalang pada Anthony yang sedang berbicara pada beberapa orang dengan stelan jas. Eden yang merasa penasaran mulai melirik arah pandang Aciel dan seketika ia merasa khawatir dengan keselamatan Anthony.


            “Siapa orang-orang itu? Mereka bukan bagian dari anak buahmu yang akan mencelakai Anthony kan?”


            “Berhentilah memikirkan keselamatan orang lain yang hampir menghancurkan hubungan rumah tangga kita. Apa kau tidak bisa melihat jika mantan kekasihmu itu adalah orang yang licik, ia telah menyiapkan banyak ranjau di sekitar restoran ini untuk menangkapku. Ia tahu jika hari ini aku akan datang untuk menjemputmu.” geram Aciel kesal karena sejak tadi Eden terus menerus memikirkan Anthony tanpa memikirkan keselamatannya sendiri yang diujung tanduk.


            “Benarkah? Mari kita buktikan kalau begitu.”


            Aciel kemudian menarik Eden untuk keluar dari pintu belakang karena mereka jelas tidak mungkin keluar melalui pintu depan. Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, beberapa pria dengan stelan jas serba hitam mulai mengejar mereka dan menghujani mereka dengan hujan peluru yang berhasil membuat kedua lutut Eden gemetar karena ketakuran.


            “Aaapa yang mereka inginkan? Mengapa mereka menembaki kita seperti itu?” tanya Eden ketakutan dibalik meja kasir yang cukup sempit untuk menampung dua orang sekaligus. Disebelahnya Aciel tampak menahan gusar karena ia dengan bodohonya telah masuk ke dalam perangkap Anthony. Atau mungkin saja ada sesuatu yang tidak beres pada Eden.


            “Aku perlu melihat tubuhmu.”


            Tanpa menunggu persetujuan dari Eden, Aciel langsung meraba setiap inci tubuh Eden untuk mencari alat-alat mencurigakan yang kemungkinan telah dipasang Anthony disekiatar tubuh Eden, karena pria itu tidak mungkin mengetahui dimana keberadaanya jika ia tidak meletakan sesuatu pada tubuh Eden..


            “Apa yang kau lakukan padaku, hentikan!” bentak Eden marah sambil mencoba menjauhkan tubuh Aciel darinya. Namun tak lama kemudian Aciel menunjukan sebuah microphone kecil yang tersembunyi dibalik lipatan gaunnya sambil menyeringai penuh cemooh padanya.


            “Lihat, mantan kekasihmu yang licik itu telah menggunakanmu sebagai umpan.”


            Tanpa berlama-lama Aciel langsung menginjak microphone itu hingga hancur menjadi kepingan-kepingan kecil. Sedangkan Eden masih belum bisa mempercayai kebenaran yang baru saja ia ketahui jika ternyata Anthony telah memanfaatkannya untuk menghancurkan Aciel. Ia sengaja dibawa keluar dari apartemen untuk memancing


kedatangan Aciel karena sudah lebih dari satu minggu ia hanya mendekam di dalam apartemen untuk bersembunyi dari Aciel.


            “Sekarang kita harus keluar dari sini, anak buahku sedang mencoba membereskan mereka. Tapi kau tidak boleh pergi seincipun dari sisiku karena kau rentan menjadi sasaran mereka. Sebisa mungkin aku akan melindungimu dari orang-orang jahat itu dan aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikitpun.”


            Untuk pertama kalinya Eden dibuat tak berkutik dengan kata-kata Aciel yang begitu menyentuhnya itu. Ketika ia melihat manik pekat Aciel, ia bisa melihat adanya ketulusan yang selama ini tidak ia sadar dari Aciel. Ia pikir selama ini ia terlalu dibutakan dengan kemarahannya pada pria itu dan segala dendamnya karena pria itu sudah menghancurkan kehidupan tenangnya. Tapi jika Tuhan masih memberinya kesempatan, ia ingin menemukan kembali ingatannya yang hilang dan merubah penilaianya mengenai sosok Aciel Lutherford yang selalu terlihat jahat di matanya.


Ckrekk

__ADS_1


            “Sekarang ayo kita bergerak!”


            Setelah menarik slot pelurunya dalam kondisi siaga, Aciel langsung menarik tangan Eden keluar dari persembunyian sambil berlari tergesa-gesa melewati setiap pria-pria berjas hitam yang sedang mengincar mereka berdua. Dari kejauhan Anthony hanya mampu melihat Eden sedang berusaha kabur bersama Aciel dengan hati teriris. Meskipun selama ini ia mencoba untuk mendapatkan wanita itu kembali, tapi nyatanya hati wanita itu sudah tertaut pada Aciel terlalu dalam. Sehingga meskipun Eden tidak bisa mengingat kehidupannya yang manis bersama Aciel, tapi hati wanita itu tetap bergetar hanya untuk Aciel.


            “Sekarang giliranmu, kau harus buktikan pada bos jika kau loyal padanya. Bunuh wanita itu dan juga pria keparat itu.”


            Anthony menerima pistol kedap suara itu tanpa ekspresi dan langsung berjalan pelan membelah lautan mayat yang bergelimpangan di hadapannya. Sejak awal takdirnya memang bukan untuk memiliki Eden, tapi untuk menghabisi Eden sebagai bukti atas kesetiaanya pada bos besar yang telah menolongnya selama ini dari keterpurukan. Selain itu jika ia membiarkan Eden hidup, ia sudah pasti tidak akan bisa mendapatkan wanita itu kembali. Jadi lebih baik ia mengakhiri semuanya sekarang agar hatinya yang telah terluka itu tidak semakin perih dan membusuk bersama kemarahannya yang tak bisa ia salurkan.


            “Eden berhenti!”


Dorr


            Suara Anthony menggelegar bersamaan dengan bunyi peluru Aciel yang melesat cepat dan menembus dada salah satu musuhnya yang kini terkapar tak berdaya dengan darah segar yang mengalir dari dadanya. Ketiga orang itu kini saling berhadapan satu sama lain dengan ujung pistol yang saling diacungkan dalam kondisi siaga.


            “Anthony kenapa kau melakukan semua ini? Turunkan pistolmu, kita akhiri semua ini dengan damai.” bujuk Eden lembut dengan perasaan was-was. Salah satu tangannya tanpa sadar mencengkeram ujung jas Aciel dengan erat seiring dengan luapan emosi yang membuncah di dalam dadanya.


        “Aku


harus membunuhmu dan pria keparat itu Ed, jadi aku tidak bisa mengakhiri semua ini dengan damai seperti keinginanmu.”


            “Anthony bukankah kita saling mencintai, kenapa kau tega melakukan ini padaku? Kukira selama ini kau adalah kekasih sekaligus keluarga yang akan menolongku di saat aku terpuruk setelah aku tidak memiliki siapapun di duni ini, tapi kenapa kau justru melakukan hal ini?”


            “Saling mencintai? Kau bilang kita saling mencintai? Kita tidak saling mencintai Ed, hanya aku yang mencintaimu, sedangkan kau mencintai pria keparat yang telah membuat kehidupan kita menjadi hancur. Selama ini kau tidak pernah mencintaiku dan hanya mengasihaniku sebagai pria menyedihkan yang tidak memiliki apa-apa. Bahkan di hari sebelum kau kecelakaan kau dengan terang-terangan memintaku untuk mundur karena kau ingin hidup bahagia bersama keluargamu. Kau egois Ed! Kau meninggalkanku dengan berbagai kehancuran, sementara kau mendapatkan segala kebahagiaan dan juga gelimangan harta dari pria itu. Seharusnya saat itu kau mati agar aku tidak perlu membunuhmu dengan tanganku sendiri seperti ini.”


            “Brengsek! Kau yang seharusnya mati!”


            Aciel sudah bersiap untuk menembak Anthony, namun Eden langsung menhalanginya dengan berdiri tepat di depannya sambil merentangkan tangannya lebar-lebar ke kanan dan ke kiri.


             “Jangan tembak Anthony, ia tidak bersalah.”


            “Minggir Ed! Kau tidak usah membelanya di depanku karena aku tetap akan membunuhnya apapun yang terjadi. Sekarang minggir!” teriak Aciel marah sambil menarik tubuh Eden agar menyingkir dari hadapannya.


Dorr


            “Kyaaa!!!”


Brukk


            Eden berteriak histeris ketika tubuh Aciel tiba-tiba meluruh di dalam dekapannya dengan darah yang mulai mengucur deras dari punggungnya. Pria itu langsung terkulai begitu saja di atas dada Eden sambil menahan rasa sakit yang mulai menjalar di setiap tubuhnya.


            “Aciel!! Aciel sadarlah! Aciel!”


            Eden mencoba mempertahankan kesadaran Aciel yang mulai menipis dengan menepuk-nepuk pipi pria itu berkali-kali dan juga mengguncang-guncangkan tubuhnya. Tapi meskipun begitu tetap saja kesadaran Aciel berangsur-angsur menurun dan pria itu mulai memejamkan matanya dengan nafas tersenggal.


            “Aaakhh... apa kau iingat jika aaku tidak ppernah menyatakan ccintaku padamu sselama ini, ttapi aku telah berjanji ppadamu akhh... uuntuk memberikan nyawaku dan jjuga lo loyalitasku padamu. Dan sekarang.. aku membuktikannya padamu Eee Ed.”


            “Tidak tidak tidak! Kau tidak boleh mati, kau masih berhutang banyak penjelasan padaku. Aciel bangun! Bangun sekarang juga, Aciel! Kau tidak boleh mati! Pria brengsek! Ayo bangun! Kubilang bangun sekarang juga!”


            Eden mengguncang-guncangkan tubuh Aciel berkali-kali sambil memaki-maki pria itu agar Aciel segera bangun untuk membalas setiap kata-kata kasar yang ia ucapkan seperti biasanya. Namun sekeras apapun ia berusaha, Aciel tetap menutup matanya rapat dengan nafas tersenggal yang perlahan-lahan mulai melemah di depannya. Tanpa sadar bulir-bulir air mata mulai mengalir dari matanya dengan deras hingga ia tak dapat menghentikan tamgis histerisnya yang memilukan. Padahal seharusnya ia berpesta pora atas kekalahan Aciel malam ini. Tapi nyatanya ia justru mengeluarkan air mata untuk pria itu dan merasa takut ditinggalkan oleh


pria itu. Melihat Aciel yang sedang berjuang diantara kematian dan kehidupan membuat hatinya sakit. Hatinya tidak mengijinkan pria itu pergi, sedangkan akal sehatnya terus bersorak untuk kematian pria itu. Sekarang ia bingung, apa yang sebenarnya ia inginkan, kematian pria itu atau pria itu bernafas untuk dirinya?

__ADS_1


__ADS_2