Black Swan

Black Swan
Storm (One Hundred Twenty Eight)


__ADS_3

           Olivia harus selalu menunduk dan menghindari tatapan tajam milik Scout yang terus mengawasi setiap


pergerakannya. Di meja makan yang diisi oleh mereka, ketegangan terasa begitu mencekik Olivia yang lebih banyak diam. Hanya sesekali Olivia mengangkat kepalanya untuk berbicara dengan Sian ketika pria itu membutuhkan sesuatu. Namun tak bisa dipungkiri jika ia tetap harus melayani Scout ketika pria itu membutuhkan sesuatu. Setidaknya ia harus berpura-pura ramah di hadapan Scout agar Sian tidak curiga.


            “Makanan yang lezat, mrs. Markle.”


            “Terimakasih.” jawab Olivia pendek tanpa menatap wajah Scout. Ia berpura-pura menyibukan diri memotong daging steak di piringnya hingga menjadi potongan kecil. Sengaja ia melakukan hal itu supaya wajahnya tidak perlu mendongak ke arah Scout yang memilih untuk duduk di depannya.


            “Istriku adalah koki terhebat yang pernah kukenal. Dia bisa memasak apapun dan membuatku benar-benar betah berada di rumah.”


            “Itu mengagumkan. Pria seperti anda memang harus dibuat nyaman berada di rumah. Yeah, godaan di luar sangat banyak, bukan begitu mrs. Markle.” ucap Scout mencoba menggoda Olivia. Sejak tadi pria itu terus mengamati pergerakan Olivia seperti seekor predator yang sedang mengincar mangsanya. Ia sangat yakin jika saat ini Olivia sedang gelisah di kursinya karena wanita itu merasa sangat bersalah pada suaminya yang sangat baik hati.


            “Sudah berapa lama kalian menikah?”


            “Sekitar dua tahun. Belum lama sebenarnya.”


            Sian terlihat sudah sangat nyaman dengan Scout. Sebentar saja mereka sudah terlihat akrab satu sama lain dan membuat Olivia semakin mengeluh dalam hati karena pria itu tak kunjung pergi dari rumahnya. Ia seperti diteror di dalam rumahnya sendiri dan tidak bisa bergerak bebas. Matanya selalu menatap awas ke arah Scout yang dengan terang-terangan mencuri pandang ke arahnya. Dalam hati Olivia yakin jika Scout sebenarnya sedang menunggu saat yang tepat untuk dapat berbicara dengannya.


            “Lalu berapa lama kalian menjalani proses berpacaran?”


            “Kami tidak melakukannya.” jawab Sian terkekeh. Ia memandang Olivia penuh arti sambil megelus punggung tangan Olivia perlahan. “Pertemuan awal kami sungguh tidak terduga. Saat itu kami juga bukan dua orang yang saling mencintai, tapi semakin lama kami merasa saling menyayangi satu sama lain. Olivia adalah wanita yang lembut dan penuh perhatian. Ia dapat membuatku merasa nyaman saat bersamanya.”


            “Kurasa itu cerita yang sangat menarik. Jadi kau jatuh cinta pada kelembutan mrs. Markle?”


            “Begitulah. Ia wanita yang sangat polos. Sulit sekali mencari wanita seperti Olivia.”


            “Benarkah?” tanya Scout penuh arti ke arah Olivia. Tanpa sengaja pandangan Olivia bertemu dengan tatapan tajam Scout yang memancarkan kelicikan pekat. Entah apa yang ada di kepala pria itu. Ia seperti ingin menghancurkan keluarganya perlahan-lahan.


            “Kurasa ya. Dulu aku adalah pria yang sangat brengsek. Sebelum bertemu Olivia, aku telah menghabiskan malam dengan lusinan wanita tanpa pernah mendapatkan kepuasan.”


            “Apakah pembicaraan ini tidak akan mengganggu mrs. Markle?”


            “Kau baik-baik saja sayang?” tanya Sian ringan. Ia tahu Olivia tidak akan marah dengan masa lalunya karena sejak awal ia telah menceritakan semua kebrengsekannya pada Olivia.


            “Sama sekali tidak. Aku lebih menyukai kejujuran.”


            “Baguslah kalau begitu.  Kejujuran akan membuat kehidupan rumah tangga menjadi lebih harmonis. Sekalipun terkadang kejujuran itu menyakitkan.”


            Olivia merasakan hatinya tertohok dengan kata-kata Scout. Pria itu jelas sedang mengibarkan bendera perang di hadapannya. Kata-kata pria itu terus saja mengarah pada peristiwa malam di Miami yang terjadi di luar kesadarannya. Andai saat itu ia tidak mabuk, jelas ia tidak akan berakhir di pinggir kolam renang bersama pria itu. Tapi keesokan harinya setelah peristiwa itu, ia segera sadar jika apa yang menimpanya semalam adalah sebuah jebakan yang sengaja dipasang Scout untuk menjerat seorang gadis polos sepertinya. Jelas-jelas ia telah


menunjukan penolakan, tapi pria itu tetap mendekatinya dan terus menjejalinya dengan beberapa alkohol yang menjadi kelemahannya. Olivia tanpa sadar mengernyitkan dahinya dalam saat memikirkan semua teorinya yang belum terbukti kebenarannya itu. Namun melihat dari gelagat yang ditunjukan Scout, ia jelas bukan jenis pria berpendidikan yang baik. Ia licik. Apalagi setelah ia mengetahui jika wanita yang menghabiskan malam saat itu adalah istri dari rekan bisnisnya.


            “Makanan yang sangat enak. Aku benar-benar mengakui kehebatan anda dalam urusan memasak, mrs. Markle.”

__ADS_1


            “Oh... Olivia masih mempunyai hidangan penutup. Kau sudah menyiapkannya kan, sayang?”


            “Ii iya.” jawab Olivia bergetar. Ia langsung saja bangkit, meninggalkan daging steaknya yang masih tersisa cukup banyak. Namun ia tidak berminat sedikitpun untuk memakannya karena ia merasa mual terus ditatap oleh pria licik seperti Scout yang bersembunyi dibalik wajah malaikatnya. Ingin rasanya Olivia menyiram wajah itu dengan wine yang masih terlihat utuh di gelasnya karena ia memang menjadi sangat takut untuk meneguk alkohol setelah peristiwa itu.


            “Pudding coklat dengan krim susu, itu adalah dessert kesukaan putri kami, Justice.”


            “Kelihatannya enak. Bisa kau berikan aku sepotong, mrs. Markle?”


            Entah apa yang dipikirkan pria itu, tapi jelas-jelas Scout sengaja melakukannya agar Olivia berjalan mendekat kearahnya dan berdiri tepat di sebelah kursinya untuk memotong pudding coklat berukuran besar itu. Tapi Olivia tidak langsung berjalan ke arah Scout, ia masih setia berdiri di dekat Sian dengan tatapan kosong yang menyiratkan kebimbangan.


            “Olive, tamu kita ingin pudding coklat buatanmu.” tegur Sian sambil menyentuh pergelangan tangannya. Dengan terpaksa Olivia segera berjalan ke sisi meja Scout dan mulai memotongnya dengan gerakan cepat. Jangan sampai pria itu semakin menggila dan mulai memikirkan siasat selanjutnya saat ia sedang berdiri di samping pria itu.


            “Terimakasih, mrs. Markle.”


            Sebelum Olivia sempat meletakan potongan pudding itu ke dalam piring bundar Scout, pria itu tiba-tiba telah mengulurkan tangannya dan memegang gagang sendok yang sedang dipegang oleh Olivia. Otomatis hal itu membuat Scout dapat meraba tangan Olivia untuk beberapa saat sebelum Olivia menjatuhkan sendok itu cepat-cepat di atas piring Scout hingga menimbulkan bunyi benda jatuh yang sangat nyaring.


            “Maaf, tanganku licin.” ucap Olivia beralasan. Scout hanya tersenyum kecil dibalik wajah tenangnya, lalu segera mengambil sendok itu untuk dikembalikan pada Olivia.


           “Hati-hati, mrs. Markle. Sendok ini dapat memecahkan piring keramik yang indah ini.”


            Tanpa menatap Scout dan membalas kata-katanya, Olivia segera melesat pergi ke tempat duduknya tanpa mengindahkan sendok puddingnya yang masih berada di dalam genggaman Scout. Sian yang melihat itu sempat merasa heran, namun melihat Olivia yang langsung mengambil ancang-ancang untuk mengambil sendok dan garpu, Sian langsung dapat memaklumi jika alasan Olivia terburu-buru kembali ke mejanya adalah untuk menghabiskan makanannya yang masih tersisa cukup banyak.


            “Kau tidak makan puddingnya, mr. Markle?”


            Scout bersorak girang dalam hati. Kepergian Sian ke toilet adalah yang ditunggunya sejak tadi. Ia sangat menanti saat-saat ia dapat mengobrol berdua bersama Olivia dengan intens.


            “Kurasa kau belum melupakanku, Olivia.”


            Olivia langsung menegang kaku dalam duduknya. Tapi ia berpura-pura bersikap santai dan tidak mempedulikan kata-kata Scout yang jelas ditunjukan kearahnya.


            “Jangan berpura-pura tidak mendengarku.”


            Dengan perasaan marah Olivia mengangkat dagunya dan memberikan tatapan tajam ke arah Scout. Untuk pertama kalinya Olivia menatap mata biru cerah milik Scout yang memancarkan kelicikan yang memuakan untuknya.


            “Itu hanya kecelakaan. Jangan terlalu serius memikirkannya, mr. Voyage.” ucap Olivia tegas. Ia pikir lebih baik Scout tidak mengetahui apapun mengenai kehamilannya. Biarkan masalah itu nanti ia yang menyelesaikan dengan Sian. Jika sampai pria itu tahu yang sebenarnya, kehidupan pernikahannya justru akan semakin di ujung tanduk.


            “Kesalahan? Jadi mabuk dan tidur bersama pria di pinggir kolam renang adalah kesalahan


menurutmu? Kurasa tidak. Kau adalah wanita polos, Olivia. Seperti yang dikatakan oleh suamimu, kau adalah wanita polos yang tidak tersentuh oleh pria manapun kecuali suamimu. Dan tentu saja sekarang aku. Jadi kau pasti sedang ketakutan sekarang.”


            “Aku tidak sadar, dan suamiku tahu semuanya.”


            “Benarkah? Aku tidak yakin.” ucap pria itu terkekeh sambil memasukan sesendok penuh pudding ke dalam mulutnya. Lelehan krim putih yang mentes-netes dari bibir pria itu saat sedang mengunyah puddingnya membuat Olivia merasa mual dan jijik. “Kurasa Sian tidak pernah tahu yang sebenarnya. Dan saat itu aku sangat sadar, Olive. Kau mengerang nikmat dalam sentuhanku. Kau menunjukan kepuasan yang begitu cantik dengan keringat berkilauan yang tertimpa cahaya bulan yang menjadi saksi kisah per....”

__ADS_1


            “Cukup!” bentak Olivia murka. Ia bahkan terus mengenyahkan pikiran laknat itu dari otaknya, tapi pria sakit jiwa ini justru terus memperjelasnya dengan sangat gamblang hingga membuat perutnya melilit karena mual. “Aku tidak sadar dengan apapun yang kulakukan saat itu.” desis Olivia marah. Sesekali ia mengawasi pintu penghubung antara ruang tamu dan dapur, was-was jika Sian tiba-tiba muncul dan mendengar suara teriakannya yang keras.


            “Sudah kuduga jika kau berbohong. Suamimu sama sekali tidak tahu akan hal itu. Jika ia memang tahu, kau seharusnya tidak perlu sepanik itu.”


            “Itu bukan urusanmu. Aku mencintai Sian.”


            “Ckckck... itu manis sekali, Olivia. Tapi bagaimana jika aku ingin merebutmu dari Sian? Kurasa aku juga menyukai kepolosanmu, sama seperti Sian.”


            “Kau bedebah sialan! Jangan pernah merusak rumah tanggaku!” maki Olivia kesal. Tapi beberapa saat kemudian Olivia merasa terkejut dengan sikapnya yang begitu kasar. Ia tidak pernah semarah ini sebelumnya. Bahkan hingga mengeluarkan umpatan kasar yang sama sekali tidak pantas untuk didengar. Dan pria itulah penyebab dari semua kekacauan yang timbul di hatinya.


            “Kau yang mulai bermain api, Olivia. Kenapa kau justru menyalahkanku?”


            “Kau merayuku saat aku hampir mabuk.”


            “Kau sendiri yang menerima tawaranku.”


            Bodoh! Olivia benar-benar meruntuki kebodohannya sendiri karena ia jelas tak akan menang jika berdebat dengan si brengsek Scout. Pria itu sejak awal benar. Tidak mungkin mereka akan berakhir seperti itu jika ia tidak memakan umpan yang dilemparkan oleh pria itu. Ketakutan perlahan-lahan mulai menyusup masuk ke dalam hati Olivia. Ia takut jika sebenarnya saat itu ia tengah merasa jenuh pada Sian. Ia kesepian karena Sian terlalu sibuk dengan tamu-tamunya. Dan tanpa pikir panjang ia menerima tawaran itu cuma-cuma tanpa pernah memikirkan risiko yang akan ia tanggung setelahnya.


            “Merasa takut, Olivia.”


            Olivia terdiam kaku, terkejut dengan keberadaan Scout yang telah berada di sisi kanannya. Wajah pria itu condong ke arah wajahnya yang pucat, lalu hembusan napasnya terasa panas menerpa lehernya yang sensitif. Ia meremang berada di dekat pria itu. Dan ia sangat takut dengan semua hal yang berkaitan dengan Scout Voyage!


            “Lihatlah, kau ketakutan.”


            “Jangan sentuh aku.” desis Olivia memperingatkan saat tangan sialan Scout tiba-tiba telah menjumput rambut panjangnya dan mencium ujung-ujung rambutnya penuh nikmat.


            “Wangi yang sama seperti yang saat itu menggelitik dadaku. Apa kau ingat jika kepalamu sempat bersandar di dadaku setelah mencapai kepuasan?”


            Olivia memejamkan matanya rapat, merasa marah dan juga terhina disaat bersamaan. Bisa-bisanya pria itu terus menjejalinya dengan setiap detail peristiwa yang terjadi pada malam itu, padahal ia mati-matian membuangnya agar peristiwa itu tidak menjadi mimpi buruknya setiap malam. Sudah bisa dipastikan jika mulai malam ini dan seterusnya, ia tidak akan pernah tidur nyenyak tanpa mimpi itu.


            “Mr Voyage?”


            Belum selesai ketegangann itu menyelimuti Olivia, kini ketegangan berikutnya datang dan memporak-porandakan setiap otot tubuh Olivia hingga rasanya ia sangat kaku seperti patung. Sian tiba-tiba muncul, dan pria itu pasti berpikiran yang tidak-tidak saat melihat posisi Scout yang begitu dekat sambil menggenggam sejumput rambut milik Olivia.


            “Ada serangga di rambut mrs. Markle, dan ia sangat ketakutan. Aku membantunya untuk menghilangkan serangga itu.”


            “Benarkah? Tidak biasanya rumah kita kedatangan serangga.” ucap Sian santai tanpa menaruh kecurigaan apapun. Diam-diam Scout mengerlingkan matanya nakal ke arah Olivia sebelum ia berjalan kembali ke kursinya dan duduk dengan tenang di sana.


            “Hanya satu serangga kecil. Jangan terlalu dipikirkan mr. Markle.”


            “Yeah, mungkin ia hanya mampir karena tergoda dengan bau masakan yang dimasak oleh Olivia.”


            “Sian, kurasa Justice menangis, aku akan menenangkannya.” pamit Olivia tiba-tiba sebelum ia melesat pergi menuju kamar Justice di lantai dua.

__ADS_1


            Dalam kebisuannya Scout terus memperhatikan punggung kecil Olivia yang mulai menghilang di undakan tangga ke lima, tapi dalam hatinya ia bersumpah akan membuat Olivia memilih antara dirinya atau suaminya yang terlihat lemah ini.


__ADS_2