Black Swan

Black Swan
Don't Leave Me (One Hundred Thirteen)


__ADS_3

            Nathan menatap wajah Laila dalam diam ketika wanita itu sedang sibuk melilitkan perban di atas pergelangan tangannya yang terluka. Sudah lama ia tidak mengamati wajah Laila dalam jarak yang sedekat ini. Rasanya ia sangat menyesal karena dulu ia pernah menyia-nyiakan Laila. Padahal Laila adalah wanita baik-baik yang tidak pernah menuntut apapun darinya. Hanya saja ayah dan ibu angkat wanita itu yang membuatnya menjadi gerah dan membuatnya berpikir untuk membalas ejekan mereka dengan kesuksesannya yang cemerlang. Namun ternyata ia harus membayar mahal kesuksesannya itu dengan istrinya yang berharga. Andai saja waktu dapat diputar, ia ingin memperbaiki semuanya dan kembali pada Laila.


            “Lai, terimakasih atas perbannya.”


            Setelah Laila selesai memasangkan lilitan perban terakhirnya, Nathan langsung berterimakasih pada wanita itu atas kebaikan hatinya yang masih mau mengobati luka seorang pria brengsek sepertinya.


            “Tidak masalah, lagipula itu semua juga karena salahku. Apa kau bisa melakukan aktivitas dengan tangan yang dibebat seperti itu?”


            “Oh, itu tidak masalah. Asistenku akan membantuku, jadi ini tidak masalah.” jawab Nathan santai. Laila kemudian kembali menyibukan dirinya dengan kotak P3K yang isinya berhamburan di atas meja. Suasana diantara mereka juga tiba-tiba menjadi hening, membuat Nathan merasa aneh dan tidak nyaman.


            “Jadi, bagaimana kabar ayah dan ibu angkatmu sekarang?”


            Nathan mencoba membuka percakapan diantara mereka dengan berbasa-basi seputar ayah dan ibu angkat Laila. Meskipun ia cukup membenci kedua orang itu, tapi saat ini hanya topik itulah yang terlintas di dalam pikirannya. Lagipula sejak dulu ia tahu jika Laila adalah anak yatim piatu yang pernah menghabiskan masa kecilnya di panti asuhan, jadi ia tidak mungkin menanyakan keadaan kedua orangtua Laila pada wanita itu.


            “Mereka baik, sudah lebih dari setengah tahun mereka tinggal di Swedia. Sepertinya mereka ingin menghabiskan waktu tua mereka di sana.”


            “Apa? Swedia?” teriak Nathan tak percaya. Mendengar Nathan yang terdengar berlebihan membuat Laila merasa terganggu dan menyuruh pria itu untuk sedikit mengecilkan suaranya.


            “Sial! Jadi setelah mereka menghancurkan kehidupan rumah tanggaku, mereka memutuskan untuk tinggal di Swedia! Benar-benar brengsek. Seharusnya saat itu aku tidak langsung terpancing emosi dan memutuskan untuk memacu karirku hingga harus mengorbankan Laila.” geram Nathan dalam hati.


            “Ada apa? Kau sepertinya sangat terkejut dengan berita itu?” tanya Laila penasaran. Nathan lantas hanya menjawab pertanyaan Laila dengan gelengan kecil. Ia kemudian mengambil inisiatif untuk mengambil makanannya dan Laila yang tergeletak begitu saja di atas meja.


            “Makanlah, aku sengaja membelikan daging panggang pedas ini untukmu di restoran kesukaanmu.”


            Melihat adanya ketulusan dari kedua mata Nathan, akhirnya Laila memutuskan untuk menerima makanan itu. Lagipula seudah sejak tadi ia ingin melahap makanan itu, tapi sikap gengsinya yang tinggi menghalanginya untuk melahap menu daging sapi yang sangat menggiurkan itu.


            “Terimakasih.” ucap Laila pelan. Wanita itu mulai menusuk daging sapinya bersemangat dengan garpu sambil mengoleskan sisa saus yang menempel di dinding kotak makan yang dipegangnya. Namun ketika ia hendak memasukan potongan daging sapi itu ke dalam mulutnya, tiba-tiba suara Nathan yang mengalun pelan membuatnya terpaku di tempat dan membuatnya mengurungkan niat untuk melahap daging sapi kesusaannya.


            “Andai waktu dapat diulang, aku ingin memperbaiki semuanya." 


Drrt drrt


            “Arggh.. siapa sih yang menggangguku saat sedang mendengarkan dongeng?” gerutu Eden kesal. Ia langsung menghentikan Laila yang sedang asik bercerita karena ia perlu mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.


            “Ada apa, Ace? Aku sedang sibuk dengan Laila dan Olive.” gerutu Eden kesal. Olivia yang duduk di sebelahnya sedikit memasang telinga dengan serius karena ia takut panggilan Aciel berhubungan dengan anak-anak mereka yang mengacau di kantor.


            “Mana susu milik Louise? Toples biru atau hijau?”


            “Toples hijau. Toples biru susu milik Ciara. Apa tidak ada hal penting lainnya?” tanya Eden sebelum ia mematikan sambungan teleponnya. Ia sudah tak sabar untuk mendengar cerita lanjutan dari Laila yang sangat menarik itu.


            “Iya, kau dimana sekarang?”


            “The Cosmopolitan. Aku sedang mendengarkan dongeng dari Laila. Kalau begitu aku matikan telponnya. Sampai jumpa sayang, aku mencintaimu. Bye!” akhir Eden terburu-buru tanpa memberikan kesempatan untuk Aciel berbicara. Ia takut suaminya itu akan membuatnya kehilangan waktu untuk mendengarkan dongeng kisah cinta Laila dan Nathan.


            “Sampai mana kita tadi?”

__ADS_1


            Setelah memasukan ponselnya dengan aman ke dalam tas slempangnya, Eden kembali antusias untuk menyimak cerita lanjutan dari Laila.


            “Minum dulu, Ed. Apa kau tidak haus?” tanya Olivia sambil mendorong gelas lemonadenya lebih mendekat kearah Eden.


            “Terimakasih, Olive. Aku memang haus.”


            “Baiklah, aku akan melanjutkan ceritaku lagi.” ucap Laila dengan senyum kecil di wajahnya.


            Laila menatap dalam manik mata Nathan dan menunggu pria itu melanjutkan kembali kata-katanya. Daging sapi yang telah siap untuk dimakan terpaksa harus menggantung di udara lantaran kata-kata Nathan yang mengejutkannya itu.


            “Sejujurnya aku merasa menyesal dengan semua hal yang terjadi di masa lalu. Laila, aku... mphhhhhfff.”


            “Ck, kau terlalu banyak bicara. Lebih baik kau makan daging panggang itu karena aku sudah kelaparan sejak tadi.”


            Laila dengan kejamnya menjejalkan sepotong daging panggang ke dalam mulut Nathan ketika pria itu sedang berbicara. Nathan sendiri meskipun terlihar kesal, tapi akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk menguyah daging panggang itu lambat-lambat. Harapannya untuk berbicara serius dengan Laila telah musnah. Wanita itu sudah benar-benar tidak ingin mendengarkan apapun darinya, meskipun itu hanya kata maaf atau penjelasan singkat mengenai penyebab keegoisannya dulu.


            “Aku sudah memaafkanmu, jadi kau tidak perlu meminta maaf lagi padaku.” ucap Laila acuh sambil mengunyah daging panggangnya dengan nikmat. Sembari makan, Nathan menatap wajah Laila sekilas sambil menghembuskan nafasnya pelan. Meskipun Laila telah memaafkannya, tapi perasaan bersalah itu tetap saja ada dan bersarang di hatinya. Hatinya tidak akan pernah tenang sebelum Laila benar-benar kembali padanya atau Laila memang menemukan pria lain yang lebih baik dari dirinya. 


            “Apa kau menyukainya?”


            Laila mendongakan wajahnya dengan mulut yang penuh daging panggang. Susah payah wanita itu menelannya hingga sedikit tersedak untuk menanyakan pertanyaan Nathan.


            “Maksudmu?”


            “Apa kau menyukai makanan itu? Sudah lama kita tidak makan bersama, jadi mungkin saja makanan favoritmu sudah berubah.” ucap Nathan beralasan, padahal sebenarnya ia hanya ingin membuka pembicaraan dengan Laila setelah keheningan panjang yang menyelimuti mereka.


            “Enak, aku masih menyukainya.” jawab Laila singkat. Wanita itu kembali bersikap acuh pada Nathan dan lebih memilih untuk menghabiskan daging panggangnya dalam diam. Lagipula ia masih marah dengan perbuatan pria itu selama ini. Dan meskipun ia telah memaafkan sikap Nathan di masa lalu, tapi ia masih tidak terima dengan sikap seenaknya Nathan yang selalu merusak pesta pernikahannya selama ini.


            “Laila, sepertinya aku akan kembali ke ruanganku sekarang. Kau tidak apa-apa jika kutinggal sekarang?” tanya Nathan sambil berusaha memakai jasnya dengan satu tangan. Laila menatap malas pada Nathan


dan akhirnya ia sedikit melunakan hatinya dengan membantu Nathan untuk mengenakan jas putihnya.


            “Tentu saja tidak apa-apa, aku sudah terbiasa hidup sendiri.” jawab Laila sakarstik di belakang Nathan. Pria itu tersenyum masam dengan wajah yang sengaja dipalingkan ke arah kiri agar Laila tidak melihat ekspresi kekecewaan di wajahnya. Ternyata ia memang seburuk itu di mata Laila.


            “Baiklah, terimakasih atas perban dan bantuannya. Semoga harimu menyenangkan.” ucap Nathan sebelum pria itu melangkah gontai meninggalkan ruangan mantan istrinya. Laila kemudian kembali menyantap makanannya dalam kesunyian. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya setelah Nathan pergi. Namun sejak ia memutuskan untuk berpisah dengan Nathan, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan semua masa lalunya dengan Nathan dan seluruh kenangan pahitnya bersama pria itu. Tapi setelah Nathan kembali mengejar hatinya, ia sedikit goyah. Ia tidak yakin apakah ia akan tetap beku meskipun Nathan setiap kali menebarkan kehangatan di dalam hatinya. Ia akui, Nathan sekarang jauh lebih hangat dan peduli padanya dibandingkan dulu saat mereka menikah. Tapi ia sendiri tidak bisa semudah itu kembali pada Nathan, karena ia tidak tahu apakah Nathan sudah benar-benar berubah atau hanya sedang berpura-pura untuk mendapatkan hatinya.


-00-


            Nathan berjalan terburu-buru memasuki ruangannya sambil sesekali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hari ini ia ada meeting dengan asosaiasi dokter bedah dan pemimpin rumah sakit, tapi sayangnya ia melupakan berkas penting yang tertinggal di atas mejanya. Jadi ia harus segera mengambil berkas itu sebelum para dokter tua itu menyalahkannya karena telah datang terlambat.


            Sambil tetap berlari, Nathan meminta asistennya untuk pergi terlebihdahulu ke ruang rapat di lantai delapan dan para dokter senior mungkin sudah gelisah karena terlalu lama menunggunya.


            “Lisa, kau pergilah ke atas dulu. Katakan pada para dokter senior itu jika aku sedang menyiapkan berkas-berkasku. Lima menit lagi aku akan segera menyusul” 


           Lisa menangguk patuh dan segera melesat pergi meninggalkan Nathan yang sedang kesulitan untuk membuka pintu karena tangannya yang  diperban.

__ADS_1


            “Ck, kenapa aku tidak memintanya untuk membukakan pintu terlebihdahulu.” decak Nathan kesal pada dirinya sendiri. Ia pun mencoba menekan kenop pintu di depannya dengan lengannya karena tangan kanannya masih sedikit nyeri akibat terserempet mobil kemarin.


Cklek


            Akhirnya setelah berkali-kali mencoba, Nathan dapat membuka pintu kayu itu dan segera masuk ke dalam. Namun, ketika ia berada di dalam, ia menemukan sahabat baiknya sedang duduk santai sambil menikmati secangkir kopi dengan nikmat.


            “Apa yang kau lakukan di sini? Kau masuk ke dalam ruanganku tanpa ijin.” marah Nathan pada Lucas sambil melangkah kesana kemari untuk mengumpulkan berkas-berkas penting yang akan ia presentasikan setelah ini.


            “Aku menunggumu dan... Nath, ada apa dengan tanganmu?”


            Lucas menatap heran pada pergelangan tangan kiri Nathan yang diperban. Padahal kemarin sahabatnya itu baru saja terserempet mobil hingga menyebabkan tangan kanannya terluka, tapi sekarang pria itu sudah memiliki luka baru lagi di tangan kirinya.


            “Kau mendapatkan amukan lagi dari Laila?”


            Nathan menatap sekilas Lucas dari meja kerjanya, lalu ia kembali berkutat pada berkas-berkasnya yang masih berserakan di atas meja.          


            “Bukankah Laila memang sering mengamuk? Jadi jawaban dari pertanyaanmu itu adalah ya.”


            “Ck, mantan istrimu itu memang buas, Nath, kemarin ia juga hampir mencelakakanku di jalan. Kenapa kau masih gigih untuk mendapatkannya jika perilakunya sangat mengerikan seperti itu?” tanya Lucas ingin tahu, namun terselip nada cibiran di dalamnya. Nathan menatap tajam Lucas sambil tetap mengfokuskan dirinya pada berkas-berkas yang sedang ia rapikan.


            “Kau tidak tahu bagaimana rasanya Luc, karena kau belum pernah menikah dan merasakan perceraian. Jika nanti kau sudah menikah, jadilah suami yang baik, dan jangan seperti sahabatmu yang brengsek ini.”


            Lucas terpaku ditempat dengan jawaban Nathan yang sangat diluar perkiraannya itu. Ia pikir Nathan akan


membalas candaanya dengan candaan pula, tapi sebaliknya, Nathan sepertinya terlalu terhanyut pada perasaan bersalahnya pada Laila selama ini.


            “Nath? Sepertinya kau mulai sakit. Apa kau baik-baik saja?” tanya Lucas prihatin sambil mengulurkan tangannya untuk meraba dahi Nathan, tapi Nathan langsung menyingkirkan tangan itu cepat dari wajahnya karena ia harus segera menemui investornya di ruang rapat.


            “Jangan coba-coba menyentuh wajahku, tanganmu itu kotor dan tidak steril!”


            “Yakk, enak saja kau. Tanganku ini masih suci, belum terkontaminasi tubuh wanita sepertimu. Dasar duda menyedihkan!” balas Lucas tak mau kalah. Nathan memilih untuk tidak menanggapi ucapan Lucas yang menyakitkan itu. Saat ini rapatnya jauh lebih penting daripada sekedar cibiran Lucas yang tidak berguna itu.


            “Terserah apa katamu, aku tidak peduli!”


Blarr


            Nathan menutup pintu ruangannya keras-keras dan segera berlari menuju lift terdekat yang berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri. Sedangkan Lucas terlihat begitu syok mendengar suara gedebum pintu yang sangat keras itu. Padahal selama ini ia pikir jika Lee Nathan adalah pria baik yang tidak akan melakukan aksi anarki seperti itu setelah ia mengoloknya dengan kata-kata yang cukup menyakitkan.


            Sepeninggal Nathan, Lucas langsung membuka ponselnya untuk mengusir rasa bosan yang menderanya. Niatnya datang ke ruangan Nathan adalah untuk membicarakan masalah strategi yang akan digunakan oleh Nathan untuk menaklukan Laila, tapi sayangnya sahabatnya itu sedang sibuk mengurus rapat dan juga proyek baru yang mungkin akan ia lakukan bersama rekan-rekan asosiasinya, sehingga ia harus sedikit bersabar untuk menunggu Nathan menyelesaikan rapatnya.


Drt drt drt


            Tiba-tiba Lucas merasakan ponselnya bergetar pelan di atas tangannya. Dengan penuh ingin tahu, Lucas langsung membuka ponselnya untuk membaca pesan baru yang baru saja masuk ke dalam kotak masuknya. Dan ketika pesan itu telah terbuka sempurna, Lucas langsung tersenyum tipis membaca setiap deret kalimat yang tertera di layar ponselnya.


            ‘Jika kau hari ini bertemu Nathan, tolong ingatkan dia untuk mengganti perbannya. Tadi ia sempat terjatuh karena ulahku. Aku mempercayaimu, Luc.’

__ADS_1


            “Hmm, rupanya dia tidak semengerikan yang kupikirkan.” gumam Lucas geli sambil membayangkan wajah sang pengirim pesan.


__ADS_2