
Brakk
Suara debuman pintu mobil yang ditutup cukup kasar terdengar begitu nyaring di dalam basement sebuah perusahaan otomotif terkenal di Vegas, Cadillac. Seorang wanita dengan rambut panjang sebahunya terlihat begitu sibuk dengan beberapa kantong plastik di tangannya dan juga sebuah ponsel yang terjepit di telinganya. Wanita
itu berjalan sedikit tergesa-gesa ke dalam lift yang hampir tertutup, lalu ia segera menekan angka lima belas pada tombol lift yang berada di sisi pintu lift.
“Halo, aku sudah sampai, Ace. Aku sudah membawakan makan siangmu dan juga makan siang Ciara.”
Eden sedikit terengah-engah dan meletakan barang-barangnya di lantai lift sambil menghubungi suaminya yang sejak tadi begitu ribut karena ia tak kunjung datang untuk menjemput Ciara.
“Jalanan sangat penuh, aku tidak bisa membawa mobilku dengan cepat. Apalagi Louise sedikit rewel tadi karena aku akan pergi, sedangkan ia harus tinggal di rumah bersama para pelayan.” dengus Eden sebal. Tak berapa lama pintu lift di depannya terbuka dan menampilkan pemandangan ruangan serba putih yang terlihat begitu senyap. Ia dengan langkah lebar-lebar segera berjalan menuju ruangan tempat suaminya berada dan memasukan benda persegi yang beberapa lalu ia gunakan untuk menghubungi suaminya yang menyebalkan itu ke dalam tas tangan yang dijinjingnya bersama beberapa kantong plastik yang lain.
“Mommy!!”
Suara teriakan Ciara yang begitu cempreng langsung terdengar begitu kencang ketika Eden membuka pintu ruangan suaminya yang sebelumnya tertutup rapat itu. Ketika melihat ibunya, bocah berusia lima tahun itu langsung berlari menghampiri ibunya yang saat ini masih mengatur sedikit deru napasnya karena ia beberapa kali harus berlari-lari kecil untuk menemui suaminya yang tidak sabaran itu.
“Kau terlambat dua puluh menit, Ed.”
“Ya Tuhan Aciel! Bukankah aku sudah mengatakan padamu jika jalanan sangat penuh hari ini. Lagipula kenapa kau tidak menitipkan Ciara pada sekretarismu atau siapapun karyawanmu jika kau memiliki rapat penting hari ini. Kuyakin Ciara tidak akan merepotkan mereka jika kau menitipkannya sebentar.” tambah Eden sebal. Ia lantas meletakan barang-barang bawaanya ke atas meja dan segera menjatuhkan dirinya di atas sofa yang empuk untuk setidaknya beristirahat sejenak. Hari ini tugasnya begitu banyak. Sejak pagi ia sudah membantu pelayannya untuk membersihkan rumah. Sebenarnya itu bukan jenis bantuan yang melelahkan, ia hanya membantu mengarahkan para pelayannya agar membereskan barang-barang sesuai kemauannya. Tapi ia akui itu melelahkan jika ia harus mengarahkan seluruh pelayannya untuk mengatur barang-barang di mansion mewah milik suaminya. Belum lagi ia harus mengurus anak-anaknya sebelum Olivia datang dan mengajak Ciara untuk jalan-jalan. Namun karena Olivia mendapatkan panggilan darurat dari rumah sakit untuk cek mata bulanan, jadilah Ciara dititipkan pada
Aciel ketika Olivia mampir untuk membawakan berkas milik Sian yang tertinggal di rumah. Tapi CEO tampan itu sepertinya juga sangat sibuk dengan urusannya, sehingga ia langsung merasa kerepotan saat Ciara datang dan menyuruh Eden untuk cepat-cepat menjemput putri sulung mereka.
“Tidak ada yang bisa kuminta untuk menjaga Ciara karena semua karyawanku sedang menyelesaikan pekerjaan mereka. Kau menyetir sendiri ke sini?”
“Hmm...” jawab Eden malas-malasan. Ia masih merebahkan dirinya di atas sofa dengan kedua mata yang telah terpejam karena lelah.
“Aku mengijinkanmu menyetir sendiri bukan berarti kau bisa pergi kemanapun dengan bebas. Kau....”
“Iyaa iyaa... aku tahu, Ace. Hanya hari ini, besok aku akan pergi bersama Justin, atau Richard, atau siapapun supir yang kau pekerjakan di rumah.” potong Eden cepat. Ia terlalu malas mendengarkan kata-kata yang sama selalu keluar dari bibir tipis Aciel setiap kali ia membawa mobil sendiri keluar rumah.
“Aku hanya mengkhawatirkanmu. Kau bisa saja melakukan kecerobohan di jalan karena terlalu terburu-buru datang ke sini.”
“Lalu sekarang apa masalahnya? Seharusnya kau tidak membuatku panik dan terburu-buru seperti tadi.”
Eden terlihat masih gusar dengan suaminya. Ia pun memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak sambil menjernihkan pikirannya yang mulai jenuh karena banyaknya tugas yang harus ia kerjakan akhir-akhir ini. Padahal ia seharusnya sudah terbantu dengan adanya ahjumma Kim, tapi nyatanya ia masih saja merasa kerepotan dengan seluruh tugas rumah tangganya.
“Sudahlah itu tidak penting sekarang. Raymond telah menggantikanku di ruang rapat.”
“Huh, lalu untuk apa ia bersikap cerewet seperti tadi.” gumam Eden pelan dari tempatnya, berharap Aciel tidak mendengar gerutuannya karena pria itu pasti akan semakin menjejalinya dengan berbagai macam nasihat yang memuakan. Baiklah, itu sebenarnya bagus karena Aciel mengkhawatirkannya. Tapi semua itu terlalu berlebihan menurut Eden.
__ADS_1
“Hmm maaf.”
Wanita itu berdeham malas sambil menggumamkan kata maaf tidak ikhlasnya pada sang suami yang saat ini sedang bermain bersama Ciara. Lagipula akhir-akhir ini Aciel memang lebih egois dan juga manja. Sedikit-sedikit pria itu menyuruhnya ini itu dan justru akan berbalik marah jika ia tidak bisa melakukannya sesuai dengan permintaan sang suami. Terkadang Eden ingin berteriak di depan wajah pria itu jika sebenarnya juga tak kalah sibuk dari pria itu. Meskipun ia hanya seorang ibu rumah tangga, tapi pekerjaannya justru lebih melelahkan dan menguras emosi daripada seorang CEO.
“Sayang, ayo kita pulang.”
Eden berdiri dari kegiatan berbaringnya dan segera menjulurkan tangannya untuk menggandeng Ciara pulang. Gadis berusia empat tahun itu kemudian langsung melompat turun dari pangkuan sang ayah dan segera menyambut uluran tangan sang ibu dengan antusias.
“Kau mau pulang? Kau marah?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Aku lelah.” jawab Eden sambil lalu pada suaminya. Ia kemudian memberikan kode pada Aciel untuk memakan makan siangnya yang telah ia letakan di atas meja. Namun sebelum mereka benar-benar pergi, Aciel tiba-tiba memanggil Ciara dan menyuruh gadis kecil itu untuk memberikan ciuman perpisahan pada ayahnya.
“Sayang, kau belum mencium daddymu.”
Eden memutar bola matanya malas sambil menatap sebal pada Aciel dan Ciara yang terlihat begitu mesra satu sama lain. Apakah ia cemburu? Yah, mungkin ia memang sudah cemburu dengan anaknya sendiri karena Ciara lebih mendapatkan perhatian dari Aciel akhir-akhir ini.
“Sampai jumpa daddy, jangan pulang malam-malam karena hari ini Ciara ingin menonton fim barbie bersama daddy.”
“Siap daddy, Ciara akan menjadi anak yang baik.”
Gadis kecil itu bergaya lucu dengan menunjukan tanda hormat pada ayahnya. Setelah itu ia segera berlari menghampiri ibunya yang sedang bersandar pada pinggiran pintu dengan wajah lelahnya.
“Kuharap hari ini kau tidak membuat janji palsu pada Ciara atau ia akan marah lagi padamu seperti minggu lalu.”
Aciel menatap istrinya sekilas dan segera menganggukan kepalanya mengerti. Minggu lalu ia memang melakukan kesalahan dengan mengingkari janjinya pada Ciara, sehingga keesokan harinya putri sulungnya itu mendiamkannya tanpa mau berbicara padanya. Dan sekarang mungkin Eden yang sedang memasang mode merajuk padanya, karena wanita itu tidak akan bersikap dingin padanya jika ia tidak sedang marah.
-00-
“Mommy... mommy, aku ingin bertemu aunty Olive untuk berterimakasih karena hari ini aunty Olivia sudah mengajakku jalan-jalan.”
“Hmm.. ide bagus, mommy juga kebetulan ingin bertemu aunty Laila. Kalau begitu ayo kita ke rumah sakit, mommy yakin aunty Olive masih berada di sana.”
Mereka kemudian berjalan beriringan menuju basement sambil sesekali membalas sapaan dari karyawan-karyawan Aciel yang telah mengenal mereka dengan baik.
“Kenapa mommy ingin bertemu aunty Laila?”
__ADS_1
“Mommy ingin menanyakan sesuatu.” jawab Eden sambil memasangkan sabuk pengaman untuk Ciara. Setelah selesai dengan sabuk pengaman milik Ciara dan miliknya, Eden segera meninggalkan basement kantor Aciel dan pergi ke rumah sakit. Ia harap Laila hari ini tidak sedang sibuk karena ia belum membuat janji sebelumnya pada wanita itu.
-00-
“Selamat siang nyonya Lutherford.” sapa suster Yasmine yang merupakan suster yang melayani Eden ketika Eden sempat koma akibat keguguran delapan bulan yang lalu. Suster setengah baya yang terlihat keibuan itu menghampiri Eden dan segera memeluk Eden dengan hangat, layaknya anaknya sendiri.
“Suster Yasmine, lama tak berjumpa.”
Eden membalas pelukan hangat suster Yasmine sambil menyunggingkan senyum manisnya pada suster setengah baya itu. Mereka berdua kemudian saling menanyakan kabar masing-masing dan memutuskan untuk mengobrol sebentar di salah satu bangku rumah sakit yang kosong.
“Setelah delapan bulan berlalu, kini anda terlihat sehat dan kembali bugar. Apa anda sudah tidak merasakan sakit lagi di area perut bawah anda nyonya?”
“Oh itu, terkadang aku masih merasakan keram, tapi menurutku itu tidak masalah karena hanya beberapa menit saja. Mungkin itu efek dari kelelahan karena akhir-akhir ini aku sangat sibuk mengurus kedua anakku dan juga Aciel yang manja itu.” ucap Eden dengan aksen gusar yang terlihat lucu. Suster Yasmine yang melihat Eden sedang membagi keluh kesahnya hanya mampu tersenyum tipis karena ia sendiri juga pernah merasakan repotnya menjadi seorang ibu. Bahkan hingga anak-anaknya sudah menikah seperti saat ini pun mereka tetap saja sering membuat suster Yasmine repot dengan sikap manja mereka ketika sedang berkumpul di rumah.
“Menjadi ibu memang tidak mudah nyonya. Ngomong-ngomong apa yang membawa nyonya kemari, tidak biasanya anda berkunjung ke sini jika anda tidak sedang melakukan cek-up medis bulanan.”
“Ciara ingin bertemu Olivia yang sebelumnya sedang melakukan cek mata dengan dokter Hermes, tapi saat kami tiba di sini, ternyata Olivia sudah pulang karena harus menemani Justice tidur siang. Dan karena aku telah berada di sini, aku ingin bertemu Laila untuk menanyakan sesuatu. Apa Laila ada?”
Suster Yasmine tampak berpikir sejenak sebelum ia menggelengkan kepalanya kecewa pada Eden.
“Sayang sekali nyonya, dokter Laila sudah pulang lima belas menit yang lalu. Ia sepertinya juga sedang terburu-buru.”
“Wahhh sayang sekali. Sepertinya semuanya tidak berjalan sesuai rencana.” ucap Eden pada putrinya yang sedang bergelayut manja di pahanya. Ciara terlihat begitu kecewa karena ia tidak bisa bertemu dengan Olivia dan berterimakasih pada wanita baik hati itu. Namun kemudian Eden berjanji jika ia akan meminta Aciel untuk mengantarkan mereka berkunjung ke rumah Olivia bersama-sama nanti malam.
“Suster Yasmine, apa rumah sakit sedang membuka cek-up gratis untuk deteksi kanker serviks? Aku melihat beberapa bannernya saat berada di lorong.”
“Hari ini memang kami sedang membuka cek-up gratis untuk deteksi kanker seviks. Baru saja pasien terakhir keluar untuk menjalankan beberapa tes yang sudah disediakan pihak rumah sakit. Apa nyonya tertarik untuk ikut?”
Eden terlihat berpikir sebentar sambil memikirkan ucapan Laila beberapa minggu yang lalu jika deteksi kanker rahim sejak dini sangat baik untuk pencegahan penyakit mematikan itu. Ia kemudian merasa tergelitik untuk mencobanya dan melakukan serangkaian tes untuk memastikan adanya kanker di rahimnya.
“Apa aku boleh mendaftar suster?”
“Tentu saja, siapapun boleh mendaftarkan diri, nyonya. Kebetulan sekarang tidak ada pasien yang sedang mengantre, jika anda mau saya bisa meminta dokter Sera memeriksa anda sekarang.”
“Aku mau suster, aku ingin melakukan cek-up dan memastikan jika tidak ada kanker yang tumbuh di tubuhku. Ciara, kau tunggu di sini sebentar ya, mommy tidak akan lama.”
Setelah mendapat anggukan dari putri kecilnya, Eden segera berjalan mengikuti suster Yasmine yang sudah terlebihdulu berjalan di depannya untuk mengantar Eden menemui dokter Sera. Namun sebelum ia benar-benar melakukan serangkaian cek-up itu, ia sudah yakin jika ia baik-baik saja. Lagipula ia tidak mungkin mengalami suatu
penyakit mematikan jika Aciel selalu memastikan kondisinya selalu dalam keadaan sehat. Setidaknya pria itu selalu menjejalinya dengan berbagai macam vitamin semenjak ia pulang dari rumah sakit waktu itu. Jika sekali saja ia tidak meminum vitaminnya, Aciel pasti akan mengomelinya panjang lebar hingga ia pusing mendengarnya. Jadi pada akhirnya ia selalu menuruti permintaan Aciel untuk meminum vitamin-vitamin itu agar ia selalu sehat. Dan tentunya dapat menjadi partner bergulat pria itu di ranjang.
__ADS_1