
“Akhir-akhir ini aku mulai merasakan keram di perutku. Sepertinya hari kelahiran bayiku sudah semakin dekat.”
Eden terus mengoceh di depan Olivia yang sejak tadi hanya mematung di tempat sambil menggenggam sesuatu di dalam saku dresnya. Kedatangannya hari ini ke rumah Eden bukan semata-mata karena ia ingin bergosip seperti biasa. Kali ini ia benar-benar membutuhkan Eden untuk mengurai semua permasalahannya satu persatu.
“Eden...” panggil Olivia lambat-lambat. Kegugupan terasa mencekik Olivia yang sudah dilanda rasa gugup sejak tiga jam yang lalu. Entah bagaimana ia akan melakukan pengakuan dosa di hadapan Eden. Tapi hanya Eden satu-satunya harapan yang ia miliki. Setidaknya wanita itu dapat membantunya berpikir sebelum ia berubah menjadi gila karena pikirannya sendiri.
“Ada apa, Olive? Wajahmu terlihat gugup. Ngomong-ngomong dimana Justice? Kau tidak membawanya serta denganmu?”
“Dia di rumah, bersama pengasuhnya. Ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu, Ed.”
“O ya? Apa itu?” tanya Eden antusias. Ia ingin terlihat seantusias mungkin di depan Olivia agar wanita itu tidak didera kegugupan yang aneh seperti itu.
“Ini, lihatlah.”
Olivia mengangsurkan sesuatu yang telah ia sembunyikan sejak tadi pada Eden. Dan seperti dugaannya, Eden langsung berteriak heboh di depannya setelah wanita itu mengamati benda putih di tangannya dengan cermat.
“Kau hamil! Selamat Olivia! Aku senang sekali mengetahuinya. Apakah karena ini kau terlihat aneh sejak di villa.”
“Ed...”
Suara parau Olivia segera menhentikan kehebohan yang sedang dilakukan Eden. Wanita hamil itu cepat-cepat melepaskan pelukannya dari Olivia dan memperhatikan wajah Olivia yang telah dipenuhi oleh air mata.
“Oo Olive... ada apa? Apa aku telah melakukan kesalahan?”
Olivia menggeleng kuat di depan Eden dan semakin menundukan wajahnya yang telah dibanjiri oleh air mata. “Ini bukan anak Sian.”
“Apa?! Jangan bercanda, Liv.”
“Aku tidak bercanda Ed!” balas Olivia keras penuh emosi. Sungguh ini adalah fakta yang sangat menyakitkan untuknya. Dan ia ketakutan sekarang.
“Bagaimana bisa?” tanya Eden tak percaya. Ia yakin Olivia pasti telah salah dengan dugaannya yang ekstrem. Bagaimana mungkin anak itu bukan milik Sian jika selama ini Olivia tidak pernah pergi kemanapun tanpa Sian di sampingnya.
“Itu kecelakaan.” ucap Olivia mencoba menjelaskan. “Pesta perayaan kantor baru Ford grup di Miami, kau ingat? Dua minggu sebelum kita berlibur ke villa.”
Eden langsung menutup mulutnya tak percaya saat ia mulai mengerti arah pembicaraan Olivia. Ia tahu pesta perayaan itu. Seharusnya Aciel hadir di sana dan
memberikan sambutan, namun dengan penuh emosi ia menahan Aciel pergi karena saat itu ia sedang sakit. Selama tiga hari ia sakit, dan selama tiga hari itu ia melarang Aciel pergi keluar kemanapun. Ia hanya mengizinkan Aciel pergi ke kantor selama beberapa jam karena ia tidak mau ditinggal sendiri disaat ia sangat membutuhkan dukungan moril dari suaminya. Jadi karena itulah Aciel melimpahkan semua tanggungjawab perusahaan pada Sian. Sian yang harus menghadiri pesta itu di Miami bersama Olivia sebagai pasangannya. Tapi bagaimana mungkin hal itu bisa membuat Olivia melakukan kesalahan?
“Sejak dulu aku selalu gugup saat menghadiri pesta-pesta, kau tahu itu, Ed."
“Lalu, apa yang terjadi di pesta itu?”
Susah payah Olivia menyeka air matanya dengan bantuan tisu yang baru saja diberikan Eden. Ia tahu rahasianya tidak akan bertahan lama karena semua orang akan merasa aneh dengan keadaan perutnya yang akan segera membuncit. Tapi seharusnya tidak. Mereka tidak akan tahu. Hanya Sian yang nantinya akan curiga pada keadaannya karena pria itu tahu yang sebenarnya.
“Aku pergi memisahkan diri dari Sian. Aku menolak ajakannya untuk menemaninya memberikan sambutan di podium.” Olivia menghembuskan napasnya berat. “Aku berkeliaran sendiri setelah meminum champagne.”
“Kau tidak bisa minum alkohol.”
“Nah, tepat sekali. Aku agak mabuk setelah meminum champagne, tapi itu tidak sampai menghilangkan akal sehatku. Aku masih bisa bertahan setelah meminum segelas champagne. Tapi kemudian aku didekati oleh seorang pria. Dia adalah pria yang gigih karena ia terus berusaha mendapatkan perhatianku meskipun aku sudah menunjukan penolakan berkali-kali.”
“Apa Sian tidak mencarimu saat kau menghilang?”
__ADS_1
Olivia menggelengkan kepalanya pelan. “Aku tidak tahu. Ia pasti mencariku saat aku mulai menghilang dari dalam ballroom karena pria asing itu mengajakku pergi ke dekat kolam untuk mengobrol.”
“Kenapa kau mengikutinya, Olive?” tanya Eden gusar. Olivia merasa maklum dengan reaksi Eden yang meluap-luap seperti itu. Bagaimanapun ia memang tampak ***** di ceritanya. Sejak awal ia sudah tahu jika ia tidak bisa minum, dan ia sangat awam dengan rayuan pria-pria pencari kesenangan yang sering tersebar di pesta-pesta glamor, tapi ia masih saja mengikuti pria itu dalam keadaan setengah mabuk.
“Aku meminum punch dan whiski yang diberikan pria itu padaku.” gumam Olivia takut. Ia sudah memejamkan matanya rapat, menunggu kemarahan yang akan menyembur keluar dari mulut Eden. Tapi alih-alih mendapatkan kemarahan dari Eden, ia justru menerima perlakuan lembut yang membuat air matanya seketika tumpah dari kedua mata coklatnya.
“Kau pasti sangat ketakutan.” ucap Eden menenangkan sambil mengelus bahu terbuka Olivia perlahan. Eden merasa tidak adil jika ia memarahi Olivia untuk kemalangan yang saat ini ia terima karena kenyataannya Olivia adalah wanita yang polos. Wanita yang belum benar-benar tahu dunia hitam yang begitu kejam di luar sana. Ia bahkan dulu juga sama polosnya dengan Olivia hingga ia mudah dibujuk dan dipengaruhi oleh Aciel.
“Aku sangat ketakutan. Dan ketakutanku itu terbukti. Sekarang aku mengandung benih pria itu!” erang Olivia frustrasi. Tidak tahu lagi apa yang akan ia lakukan setelah ini anak yang dikandungnya bukan anak Sian.
“KurasaSian tidak akan tahu jika kau diam saja. Maafkan aku. Bukan maksudku ingin memberimu pengaruh buruk, tapi jika hal itu bisa meminimalisir kekacauan yang terjadi di keluargamu, kurasa itu tidak apa-apa untuk dilakukan.”
“Tidak bisa Ed.” desah Olivia berat. Raut putus asa tergambar jelas di wajahnya yang kacau. “Sian dalam masa penyembuhan. Selama ini Sian selalu kesakitan setiap kali melakukan hubungan, dan awalnya kami mengabaikan hal itu. Tapi setelah kelahiran Justice, rasa sakitnya semakin parah. Dan hal itu sering membuat Sian
tidak bisa tidur hingga berhari-hari karena rasa sakit membakar yang terasa di pangkal pahanya. Jadi akhirnya kami memeriksakannya empat bulan yang lalu. Dari sana kami tahu jika bekas luka yang ditimbulkan dari kecelakaan yang menimpa Sian dulu kembali terbuka karena aktivitas seksual kami. Dan dokter menyarankan kami untuk tidak melakukan hubungan apapun selama Sian masih dalam masa pemulihan.” Olivia terlihat benar-benar menyesal karena dulu tidak memaksa Sian segera memeriksakan keluhannya ke dokter. “Andai saja dulu kami segera membawanya ke dokter, mungkin luka itu tidak menjadi parah seperti sekarang. Ada infeksi di bagian dalam pangkal pahanya, sehingga Sian membutuhkan pengobatan yang lebih lama.”
“Kenapa selama ini kalian tidak pernah menceritakannya padaku?” desah Eden terlihat kecewa. Sungguh ia mengira jika kedekatan mereka selama ini telah lebih dari sekedar teman. Mereka adalah keluarga, dan mereka saling memiliki. Seharusnya seperti itu, menurut Eden. Tapi nyatanya mereka tidak sedekat itu.
“Maafkan kami, Ed. Kami pikir itu bukan masalah serius. Terakhir kami mengecek
keadaannya, luka itu perlahan-lahan mulai membaik. Infeksinya sudah tertangani dengan baik. Hanya tinggal menunggu sedikit lagi sampai Sian bisa menyentuhku seperti dulu. Tapi...” Olivia benar-benar terpukul dengan kondisinya yang mengerikan. Ia masih belum tahu bagaimana reaksi Sian pada kehamilannya jika pria itu tahu bayi ini bukan miliknya. “Aku takut Sian akan meninggalkanku, Ed.”
“Ssshh...” Eden membawa Olivia ke dalam pelukannya, dan ia mengelus surai coklat wanita itu lembut penuh kasih. “Sian bukan pria yang seperti itu. Walaupun memang berat, tapi aku yakin ia tidak akan sampai hati meninggalkanmu.” hibur Eden menenangkan. Dibalik wajah tenang Eden, tersembunyi kekhawatiran yang begitu
besar pada rumah tangga Sian dan Olivia. Bisa saja Sian tidak meninggalkan Olivia seperti dugaannya. Tapi bisa saja pria itu tidak bisa menerima kesalahan fatal istrinya, ia pikir Sian memilih jalur cerai untuk mengakhiri semua siksaan batinnya yang mencekik. Mengetahui jika istrinya sedang mengandung bayi pria lain bukanlah perkara yang mudah. Aciel adalah contohnya. Pria itu bahkan benar-benar terluka saat ia menipunya dengan mengatakan jika bayi itu bukan miliknya.
Sekarang Eden hanya mampu berdoa pada Tuhan, memohon kebaikan hatiNya agar senantiasa melindungi rumah tangga milik Sian dan Olivia. Terlalu sayang bilang mereka berdua harus berakhir dengan cara seperti ini.
“Aku juga beruntung memilikimu.” balas Eden sendu.
-00-
“Ini gila! Ini gila! Ini gila!”
Scout tak henti-hentinya mengumpat pelan sambil memikirkan kejadian sepuluh menit yang lalu saat bertemu dengan wanita tanpa nama itu. Ternyata selama ini ia cukup dekat. Namun ia tidak pernah menyadarinya, bahkan memikirkan hingga sejauh ini. Kenapa ia begitu bodoh dengan tidak memikirkan jika kemungkinan wanita itu adalah istri dari salah satu petinggi Ford Company. Padahal sejak awal wanita itu telah mengatakan padanya jika ia bukan karyawan Ford Company, dan jelas-jelas pesta itu tidak bisa dihadiri oleh orang lain selain karyawan
Ford Company dan anggota keluarga petinggi Ford Company. Rasanya Scout ingin memukulkan kepalanya ke jendela taksi kuning yang saat ini sedang ditumpanginya. Ia telah melakukan kesalahan dengan meniduri istri Sian Markle, bahkan menginginkan wanita itu sebagai miliknya. Namun kabar baiknya, sekarang ia mengetahui nama wanita misterius itu. Olivia Markle! Ya, ia akhirnya tahu dan ia dapat mencari tahu lebih jauh mengenai Olivia Markle.
“Kita sudah sampai tuan.”
Setelah memberikan bayaran yang lebih dari cukup, Scout segera turun dari dalam taksi dan melangkah masuk ke dalam hotel yang telah dipesannya. Hari ini jelas ia tidak akan pergi kemanapun selain berdiam di dalam kamar untuk berpikir jernih. Ia tidak lagi berselera untuk pergi ke cassino terkenal di Vegas karena saat ini pikirannya justru terisi oleh wajah kaget Olivia saat menatapnya. Scout sangat yakin jika wanita itu masih mengingatnya dengan jelas. Terbukti dari gelagatnya yang aneh, dan keengganan wanita itu untuk menatap wajahnya, Olivia pasti tidak pernah melupakannya sedikitpun.
Dengan langkah lebar-lebar, Scout berjalan ke arah kulkas dan melemparkan gulungan sketsanya begitu saja ke atas sofa. Ia perlu mendinginkan kepalanya dengan beer dingin yang pasti akan terasa menyegarkan untuk disiramkan ke dalam tubuhnya yang panas. Jelas sekarang ia merasa panas! Tubuh sialnya bergairah hanya dengan membayangkan wajah Olivia yang menegang kaku. Jelas hal itu memancing ingatan lain di malam panas itu dan membuat Scout menjadi semakin frustrasi dengan kehidupannya.
“Apa yang harus kulakukan pada wanita itu? Olivia...” desah Scout mendamba di dalam kamar hotelnya yang sunyi. Hanya dengan membayangkan wajah Olivia yang cantik, seluruh rambut di tubuh Scout menjadi meremang. Bayangan kehalusan tubuh Olivia tidak pernah terlupakan sedikitpun dari otaknya. Dan sekarang mengetahui kebenaran mengenai Olivia membuat Scout tiba-tiba mendapatkan ide yang brilian. Ia akan menemui wanita itu lagi. Ia ingin mengetahui bagaimana keadaan wanita itu setelah menghabiskan malam panjang yang bergelora bersamanya di bawah langit berbintang yang indah. Meskipun ia yakin jika Olivia bukan jenis wanita nakal yang akan mengkhianati suaminya, tapi mungkin saja wanita itu memiliki sedikit minat terhadap tubuhnya. Well, meskipun ia tidak bisa menganggap remeh seorang Sian Markle, tapi mungkin saja Olivia sedang merasa bosan dan ingin mencoba sesuatu yang baru bersama pria baru.
Segera setelah mendapatkan ide yang menurutnya brilian, Scout mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang nomornya telah ia simpan dengan baik di dalam kontak ponselnya.
“Selamat siang, Mr. Markle.” sapa Scout ramah dengan senyum segaris yang ia sunggingkan untuk dirinya sendiri. “Apakah aku bisa bertemu denganmu? Di rumahmu?”
“...............”
__ADS_1
“Ada sesuatu yang perlu kubicarakan. Jika kau tidak keberatan, aku ingin berkunjung ke rumahmu malam ini.” seringai Scout licik sambil memutar-muatar kaleng beernya yang kosong dengan satu tangan. Ia yakin Sian tidak akan menolak kedatangannya ke rumahnya jika itu menyangkut masalah pekerjaan. Dan dengan datang ke rumah Sian secara pribadi, ia akan memiliki banyak kesempatan untuk melihat Olivia lebih lama dan dari jarak yang lebih dekat tentu saja.
“Baiklah, pukul tujuh aku akan datang ke rumah anda. Tolong kirimkan alamatnya padaku secepatnya. Terimakasih banyak, Mr. Markle.” ucap Scout ramah sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.
Sekarang pria itu merasa dapat beristirahat dengan tenang. Tidak ada lagi wanita misterius yang akan menghantui tidur malamnya yang nyenyak. Sekarang ia justru akan menjadikan Olivia sebagai objek fantasinya yang liar.
“Olivia... kita lihat apakah kau benar-benar wanita polos seperti terlihat di wajahmu?”
-00-
Olivia mengepalkan jari-jarinya gugup dan sesekali ia bergerak gelisah di dalam ruangan Sian. Kedatangannya ke kantor untuk mengantarkan berkas milik Aciel yang dititipkan Eden padanya justru membawa sebuah petaka untuknya. Pria itu, Scout Voyage, telah mengetahui identitasnya dengan jelas. Beberapa menit yang
lalu Sian mengenalkannya pada Scout yang saat itu langsung menatapnya dengan tatapan tajam. Jelas Scout pasti masih mengingatnya sebagai wanita murahan yang telah ditidurinya di pinggir kolam renang. Dan jika pria itu jenis pria licik yang jahat, Olivia khawatir Scout akan membocorkan semua peristiwa laknat itu pada Sian. Selain itu Olivia masih harus menghadapi masalah lain, masalah tentang janin yang saat ini sedang tumbuh di rahimnya! Bagaimana jika pria itu tahu? Bagaimana jika pria itu menginginkan anaknya dan memaksanya untuk meninggalkan Sian? Astaga... Olivia merasa pening sekarang. Semua petaka itu telah berkumpul menjadi satu di otaknya dan menciptakan sebuah gelombang kepanikan yang sangat besar. Ia takut! Sangat takut hingga rasanya sekarang ia sedang dicekik oleh seutas tali tak kasat mata di seputar lehernya.
“Sayang, kau kelihatan tegang sekali sejak tadi.”
Olivia tidak sadar kapan Sian masuk ke dalam ruangannya dan memergokinya sedang berkeringat dingin di tengah suasana dingin ruangan Sian karena air conditioner yang dipasang di sudut ruangan.
“Bbe benarkah? Aku tidak merasa begitu.” sangkal Olivia dengan suara bergetar. Meskipun ia berusaha keras untuk mengurangi kegugupan itu, justru rasanya semua itu terasa semakin menyesakkan untuk dadanya. Wajah Sian terlihat begitu manis, dan memancarkan cinta yang begitu besar untuknya. Bagaimana mungkin ia tega
mengkhianati pria itu karena kecerobohannya. Ia takut akan kehilangan wajah penuh cinta itu untuk selamanya jika Sian mengetahui kebenaran itu suatu saat ini. Atau meskipun Sian akan menerimanya, luka yang diterima Sian pasti akan sangat sulit untuk disembuhkan. Wanita yang telah menjadi istrinya pernah disentuh oleh pria lain, bahkan sampai meninggalkan tanda yang begitu hidup di dalam tubuh istrinya.
“Ada sesuatu yang ingin kuberitahu padamu.”
“Apa itu?” tanya Olivia dengan nada sebiasa mungkin. Ia harap suaranya kini terdengar lebih normal di telinga Sian.
“Nanti malam Mr. Scout Voyage akan makan malam di rumah kita.”
“Apa?!”
“Olive, kau kelihatannya tidak terlalu suka?” delik Sian dengan wajah menelisik. Cepat-cepat Olivia menormalkan ekspresi wajahnya dan menggeleng kikuk di hadapan Sian.
“Tidak, aku hanya terkejut karena aku belum menyiapkan apapun untuk menjamu tamu kita.”
“Dia memang memintanya mendadak. Baru saja ia menghubungiku dan mengatakan jika ia memiliki sesuatu yang penting untuk dibicarakan.”
“Kenapa tidak dibicarakan di kantor?” tanya Olivia cepat. Dalam hati ia mendengus, pria itu jelas sedang mencari kesempatan untuk mengamatinya lebih dekat. Dan Olivia patut mencurigai Scout dengan niatnya untuk datang ke rumah. Bisa saja pria itu ingin membahas masalah malam panas di pinggir kolam saat di Florida pada Sian. Jelas-jelas Scout tidak terlihat seperti pria baik di mata Olivia. Tatapan matanya saat menatapnya di depan lift tidak bisa dikatakan sebagai tatapan biasa. Jelas-jelas pria itu memiliki tekad yang kuat di matanya untuk mendekatinya lagi, dan berusaha mencari tahu apakah ia masih mengingat dirinya atau tidak sebagai pria yang telah menjadi sasaran ketellerannya karena alkohol.
“Kau melamun lagi.” tegur Sian yang membuat Olivia terkesiap seketika.
“Ya? Aku mendengarkanmu, Sian. Jadi bagaimana, kenapa pria itu tidak memilih untuk bertemu di kantor saja?”
“Entahlah, ia tidak memberitahu alasannya. Tapi aku merasa tidak sopan jika menolaknya saat ia memiliki keinginan untuk berkunjung ke rumah kita.”
“Yeah, dia menyusahkan.” sungut Olivia tanpa sadar yang berhasil membuat Sian mengernyit heran. Tidak biasanya Olivia berlaku sekasar itu pada orang asing yang memiliki niat baik untuk berkunjung ke rumah mereka. Selama ini yang ia tahu Olivia bukan jenis wanita kasar seperti itu. Bisa dibilang Olivia adalah yang paling memiliki hati lembut diantara para girl squad.
“Apa kau ada masalah, sayang?”
“Ti tidak. Aku tidak apa-apa, sungguh.” ucap Olivia bersungguh-sungguh. Ia lalu segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Sian yang sedang menyender pada meja kerjanya. “Aku akan pulang untuk menyiapkan semuanya. Sampai jumpa di rumah, dad.” bisik Olivia mesra dan memberikan satu kecupan lembut di bibir Sian. Sungguh Olivia ingin tahu apakah ia masih memiliki getaran itu untuk Sian. Dan ia langsung saja merasa lega karena getaran yang ia rasakan untuk Sian belum berubah sejak dulu.
“Hati-hati.” bisik Sian parau dan kembali ******* bibir Olivia dengan ******* yang lebih menggebu-gebu.
__ADS_1