Black Swan

Black Swan
Perhaps Love (Sixty One)


__ADS_3

Srakk Sraakkk... Srakk..


            “Aahhh.. menyebalkan!”


            Eden terlihat tidak nyaman  dan terus bergerak-gerak brutal di atas ranjangnya yang hangat. Wanita itu kemudian menyingkap selimutnya sambil melirik sebal pada sisi ranjangnya yang kosong. Malam ini mungkin Aciel tidak pulang. Sejak kepulangan mereka dari kantor polisi, Aciel langsung kembali pada rutinitas sebelumnya, yaitu bekerja. Pria itu sudah benar-benar sembuh dari sakitnya, sehingga ia memutuskan untuk kembali bekerja, kembali tenggelam bersama berkas-berkas penting bernilai miliyaran dollar di kantornya. Tapi meskipun keadaan Aciel telah membalik, Eden justru terlihat tidak gembira. Wanita itu sekarang justru merasa gelisah sambil memikirkan


Aciel bersama mantan kekasihnya, yang terasa sangat mengganggunya sejak ia mengetahui sebuah fakta jika Aciel pernah memiliki mantan kekasih yang sangat cantik seperti Stacie Edburg.


            “Huh, kenapa ia harus berputar-putar di dalam kepalaku? Benar-benar menyebalkan!” Runtuk Eden kesal. Ia tidak tahu mengapa ia justru memikirkan pria itu bersama mantan kekasihnya. Padahal seharusnya ia senang jika Aciel kembali dekat dengan mantan kekasihnya, dengan begitu ia akan dilupakan dan dilepaskan oleh Aciel.


Tapi sayangnya hatinya tidak sesenang itu. Hatinya justru merasa was-was dan mengirimkan perasaan aneh hingga mempengaruhi akal sehatnya. Jika ia terus seperti itu, maka ia yakin akan benar-benar gila setelah ini karena tidak bisa hidup dengan tenang akibat pria bernama Aciel yang terus menghantui kepalanya.


            Dengan perasaan dongkol, ia pun memutuskan untuk pergi ke dapur dan mengambil segelas air agar tenggorokannya tidak terasa kering. Memikirkan Aciel sejak tadi membuat Eden merasa begitu haus dan juga lapar. Mungkin ia akan membuat sedikit cemilan di malam hari, seperti pancake atau membuat sandwich. Pokoknya ia akan membuat sesuatu yang mengenyangkan agar ia tidak bernafsu untuk memakan Aciel jika pria itu pulang nanti.


            “Ed...”


            Suara khas milik pria bergusi pink yang sangat dikenalnya langsung menyapa indera pendengarannya ketika ia telah berada di ujung tangga terbawah. Pria yang merupakan sahabat baik ayahnya itu tengah menegak minuman bersoda sambil menonton film yang terlihat baru saja selesai diputar. Sembari berjalan lesu, Eden menghampiri Sian dan menjatuhkan dirinya di sebelah pria itu sambil meraih sekaleng soda yang masih utuh di atas meja.


            “Kenapa kau masih berkeliaran di malam hari menjelang pagi seperti ini? Apa kau merindukan Aciel?”


            Pertanyaan Sian yang to the point itu membuat Eden rasanya ingin tertawa. Mana mungkin ia merindukan Aciel, bahkan ia terus berkata dengan jelas pada seluruh penghuni di rumah besar itu jika ia sangat membenci Aciel, tak terkecuali Ciara, yang menurut semua orang adalah putrinya bersama Aciel.


            “Lucu sekali. Apakah wajahku terlihat seperti itu?” tanya Eden dengan wajah malas. Sian membalik tubuh Eden agar menghadap ke arahnya lalu mengamati wajah wanita cantik itu dengan seksama.


            “Menurutku seperti itu. Bahkan wajahmu seperti berteriak-teriak, Aciel cepatlah pulang, aku merindukanmu.” ucap Sian dengan suara menjijikan. Eden memutar bola matanya jengah dan memberikan satu pukulan keras pada kepala Sian dengan bantal. Pria itu memang selalu melemparkan candaan yang menurutnya sangat menyebalkan. Sejak pria itu tahu jika Aciel sering menyentuhnya, pria itu selalu menggodanya dan membuatnya harus menahan malu karena terkadang candaan pria itu terlalu vulgar untuk didengar oleh para pelayan yang bekerja di rumah ini.


            “Berhentilah bersikap menjijikan seperti itu Sian, kau akan membuat wanita-wanita jijik saat melihatmu. Pantas saja hingga setua ini kau belum memiliki pasangan.” cibir Eden kejam. Sian langsung memasang ekspresi terluka sambil memegangi dada kirinya.


            “Ahhh.. kau menyakiti hatiku Ed, kau jahat sekali!”


            “Berhentilah berakting berlebihan seperti itu, kau membuatku semakin muak melihatmu. Ngomong-ngomong film apa yang kau tonton?” tanya Eden mengganti topik pembicaraan. Niat awalnya untuk membuat cemilan hilang begitu saja, digantikan dengan minat untuk mengobrol bersama Sian. Lagipula satu-satunya orang yang bisa ia ajak bicara di rumah ini hanyalah Sian. Para pelayan selain tuan Kim selama ini terlalu kaku padanya dan memberikan jarak yang begitu lebar ketika berbicara, sehingga ia tidak pernah nyaman jika mengobrol bersama para pelayan yang bekerja di rumah ini. Berbeda dengan Sian, pria itu selalu bisa mencairkan suasana dan membuat moodnya menjadi lebih baik setelah mengobrol dengannya, sehingga ia lebih suka menghabiskan berjam-jam mengobrol bersama Sian jika pria itu sedang di rumah dan tidak memiliki pekerjaan. Pantas saja jika Aciel sempat merasa cemburu dengan kedekatannya pada Sian, karena ia tidak pernah bisa selepas itu bila bersama Aciel. Bayang-bayang masa lalu, rasa benci, dan juga takut masih menghantui dirinya ketika ia berdekatan dengan Aciel, sehingga ia tidak pernah bisa merasa nyaman ketika berada di dekat pria itu. Bahkan ia biasanya memilih menghindari pembicaraan bersama Aciel karena pada akhirnya pembicaraan diantara mereka akan berakhir dengan adu mulut.


            “Aku? Menonton apa? Hmm.. sebuah film untuk pria dewasa.” jawab Sian ringan. Eden yang tidak mengerti maksud ucapan Sian berniat untuk memutar ulang film yang baru saja ditonton oleh Sian, namun gerakan tangannya langsung dihentikan oleh Sian ketika ia hendak meraih remot yang tergeletak di atas meja.


            “Kenapa? Aku juga ingin menonton film, aku bosan.”


            “Jangan sekarang. Tonton saja bersama Aciel.” ucap Sian gelagapan. Sangat gawat jika Eden sampai melihat adegan-adegan di dalam film yang baru saja ditontonya. Bahkan ia sediri harus menunggu hingga keadaan mansion itu benar-benar sepi agar tidak ada yang melihat adegan-adegan dewasa yang akan ditayangkan di dalam


film itu.


            “Hah? Menonton bersama Aciel adalah sebuah kemustahilan.” dengus Eden sambil melemparkan punggungnya pada sandaran sofa. Mereka saja selama ini tidak pernah akur. Satu-satunya keadaan dimana mereka tidak saling beradu mulut adalah ketika pria itu sedang menyentuhnya karena ia tidak pernah membiarkan sedetikpun bibirnya terbuka untuk berbicara. Aciel lebih suka membungkam bibirnya dengan bibir seksinya yang menawan dan membelitkan lidahnya di dalam mulutnya hingga pada akhirnya mereka hanya mampu berperang dengan lidah.


            “Ughh..”


            Tanpa sadar Eden bergumam jijik sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengusir pikiran-pikiran kotor yang bersarang di kepalanya.


            “Kau kenapa?”

__ADS_1


            Sian bertanya dengan dahi berkerut ketika melihat ekspresi sepupu iparnya yang berubah aneh.


            “Tidak, hanya melihat kenangan di masa lalu yang terasa memuakan.” balas Eden berbohong. Tidak mungkin ia akan mengatakan pada Sian jika ia sedang membayangkan setiap adegan panasnya dengan Aciel, bisa-bisa pria itu semakin bernafsu untuk menggodanya di lain waktu, atau mungkin menyebarkan adegan-adegan panasnya dengan para pelayan yang gemar bergosip di rumah ini.


            “Sian...


            “Hmm.. Ada apa? Kau ini aneh sekali. Sejak tadi aku melihat ekspresi wajahmu terus berubah-ubah, seperti kau sedang memikirkan sesuatu.”


            Eden tampak menimbang-nimbang keputusannya untuk bertanya pada Sian terkait kehidupan asmara Aciel di masa lalu. Memang ia tidak seharusnya menanyakan hal itu, karena Sian pasti akan berpikir jika ia sedang cemburu. Namun persetan dengan ejekan Sian. Sekarang ia rasanya justru hampir gila karena tidak bisa meredakan perasaan aneh yang bersarang di hatinya sejak ia bertemu dengan salah satu mantan kekasih Aciel di masa lalu. Lebih baik ia malu saat ini di hadapan Sian daripada ia terus dihantui perasaan menyebalkan itu seumur hidupnya.


            “Kau tahu berapa banyak mantan kekasih Aciel?”


            Sian mengernyitkan dahinya aneh dan langsung mengalihkan pandangannya dari layar ponsel yang sebelumnya ia tekuni. Rasanya sungguh aneh saat mendengar Eden mulai bertanya mengenai mantan kekasih sepupunya. Apakah itu yang sejak tadi mengganggu Eden? Pikir Sian menerka-nerka.


            “Jujur ini adalah pertanyaan yang sangat aneh sejak kau amnesia Ed. Apa kau mulai takut kehilangan Aciel?”


            Akhirnya apa yang ditakutkan oleh Eden benar-benar terjadi. Sian menggodanya! Bahkan ini baru pertanyaan yang sangat dasar, belum pertanyaan yang benar-benar serius mengenai Stacie Edburg yang sejak tadi terus mengganggunya. Itu berarti ia harus lebih siap untuk mendengarkan setiap ejekan yang akan terlontar dari mulut laknat Sian.


            “Takut? Kenapa aku harus takut? Aku hanya ingin tahu saja, mengingat bagaimana sikap Aciel di luar sana. Bukankah kita berdua sama-sama tahu jika Aciel adalah seorang player, sekaligus pria yang sering ditemani lusinan wanita penghibur di club. Aku hanya ingin mengantisipasi. Jika memang Aciel masih melakukan hal-hal buruk di luar sana, termasuk memainkan perasaan wanita, aku akan memintanya untuk menceraikanku.” ucap Eden tenang dan sama sekali tidak terlihat mencurigakan. Sian menganggukan kepalanya mengerti. Kali ini apa yang dikatakan oleh Eden cukup masuk akal. Istri manapun pasti tidak akan mau jika suami mereka ternyata memiliki wanita lain di luar sana. Meskipun Eden mengalami amnesia, tapi Sian yakin jika hati wanita itu masih sangat terikat dengan sahabat sialannya itu.


            “Yah.. aku cukup puas dengan alasanmu karena Aciel memang seperti itu. Dia player, kaya, dan ia memiliki segalanya. Wanita manapun pasti akan bertekuk lutut dengan mudah di depannya. Tapi aku sendiri tidak pernah tahu berapa pastinya mantan kekasih Aciel. Kenapa kau tidak tanyakan langsung padanya? Aku yakin ia


akan memberitahumu. Sejak kalian menikah satu tahun yang lalu, Aciel tidak pernah lagi terlibat skandal dengan wanita manapun. Ia benar-benar menepati janjinya di depan altar untuk selalu setia padamu dan mencintaimu seumur hidupnya. Bahkan sejak kau pergi meninggalkannya empat tahun yang lalu, hobinya


berganti-ganti wanita telah berkurang. Ia bukan lagi Aciel yang dulu kau lihat di masa remajamu.”


            “Huh, terkesan sangat berlebihan. Aku tidak percaya.” ucap Eden sakarstik. “Lagipula mana mungkin ia akan berkata jujur padaku mengenai mantan kekasihnya.” Lanjut Eden lagi. Namun Sian tidak mengatakan apapun, ia justru mengendikan bahu bahwa ia tidak tahu.


            Salah! Eden sungguh ingin menyangkal perkataan Sian mengenai Aciel karena pada kenyataanya ia mempedulikan pria itu. Bahkan saat ia membuka mata setelah ia pingsan malam itu, ia merasa takut. Ia takut mendengar berita buruk mengenai Aciel karena malam itu sebelum Aciel menutup mata, ia dapat melihat dengan jelas adanya perasaan tulus yang dipancarkan pria itu melalui matanya. Tapi sayangnya ia tidak bisa menyerahkan dirinya pada pria itu hanya melalui tatapan tulus yang terpancar dari kedua mata sendu Aciel. Ia perlu mengenali pria itu lagi, seperti dulu ketika mereka baru saja bertemu.


            “Kau kenal Stacie Edburg?”


            Kali ini Eden memilih untuk bertanya langsung pada Sian. Percuma saja ia bertele-tele pada Sian jika pada akhirnya pria itu tidak memberikan solusi apapun padanya. Justru Sian membuatnya semakin kesal dengan jawaban pria itu.


            “Stacie Edburg? Salah satu wanita yang pernah dekat dengan Aciel. Mereka dulu sangat dekat. Bahkan kupikir dulu Stacie yang akan menikah dengan Aciel karena mereka terlihat benar-benar serius saat itu. Aciel yang tidak pernah berkencan dengan wanita lebih dari satu minggu, tiba-tiba ia berkencan dengan Stacie dalam kurun


waktu yang cukup lama setelah kau pergi. Kira-kira satu tahun. Oh, mungkin lebih beberapa bulan.” tambah Sian sambil mengingat-ingat. Kini Eden mulai mendapatkan titik terang mengenai hubungan Aciel dan Stacie. Pantas saat bertemu di kantor polisi mereka berdua memang terlihat akrab. Tapi yang membuat Eden semakin penasaran adalah sikap Stacie pada Aciel. Wanita itu terlihat santai dan seolah-olah tidak pernah terjadi apapun diantara mereka. Padahal jika ia menjadi Stacie, ia pasti akan sakit hati pada Aciel karena Aciel datang ke kantornya bersama wanita lain yang merupakan istrinya.


            “Kenapa kau tahu soal Stacie? Apa kau bertemu dengannya?”


            “Ya. Aku bertemu Stacie di kantor polisi karena Stacie yang akan membantuku menangani masalah Anthony.”


            “Aneh. Kenapa Aciel harus meminta Stacie untuk melakukannya? Bukankah ia memiliki relasi yang kedudukannya lebih tinggi dari Stacie?” ucap Sian lebih pada dirinya sendiri. Namun Eden yang berada di sebelahnya mau tak mau juga ikut mendengar gumaman Sian. Dan ia juga setuju dengan apa yang diucapkan oleh Sian. Menurutnya Aciel memang terlalu aneh jika tiba-tiba meminta mantan kekasihnya untuk membantunya dalam menyelesaikan masalah Anthony jika pada kenyataanya Aciel memiliki banyak relasi orang-orang hebat di luar sana.


            “Jadi menurutmu, seperti apa Stacie itu?”


            “Ia wanita yang baik. Berpendidikan, dan berasal dari keluarga baik-baik. Sebenarnya jika ia bersanding dengan Aciel, mereka akan sangat cocok. Pertama karena Stacie adalah orang yang berpendidikan, jadi mereka sering terlibat dalam pembicaraan serius karena Stacie dapat mengimbangi kemampuan berpikir Aciel. Ke dua, Stacie memiliki latar belakang keluarga yang sangat berpengaruh di Amerika, jadi ketika Aciel berhasil mendapatkan Stacie, semua bisnis Aciel semakin berjalan lancar. Bahkan Aciel tidak perlu memikirkan berbagai macam perizinan jika ingin mendirikan pabrik baru di Amerika. Lalu yang ke tiga.... mereka terlihat serasi. Sikap Stacie yang berkelas membuat Aciel tidak akan pernah merasa malu saat membawa Stacie ke acara jamuan makan malam yang diadakan oleh rekan-rekan bisnis Aciel. Bahkan dulu Stacie juga pernah menemani Aciel menghadiri acara pesta pernikahan salah satu kolega Aciel di Paris. Tak heran jika aku dulu sempat mengira jika Aciel akan berakhir dengan menikahi Stacie setelah kau meninggalkan Aciel untuk hidup bersama Zyan.”

__ADS_1


            Eden mendengarkan semua cerita Sian dengan seksama. Kini separuh hatinya terasa terbakar karena semua cerita Sian yang sebenarnya terkesan memprovokasi itu. Tapi jika dipikir-pikir apa yang diucapkan oleh Sian memang benar. Aciel dan Stacie lebih serasi jika bersama karena keduanya memiliki latar belakang pendidikan yang sama-sama tinggi sehingga baik Stacie maupun Aciel, mereka berdua sama-sama dapat melengkapi satu sama lain. “Soal Zyan, apa benar ia mati karena dibunuh oleh Aciel?” tanya Eden tiba-tiba. Selama beberapa hari ini ia menjadi lupa pada nasib Zyan yang telah ia lupakan karena ia sibuk mengurus anak-anaknya dan sikap aneh Aciel.


        “Dibunuh Aciel? Siapa yang mengatakan hal itu padamu? Huh, Aciel tidak pernah melakukannya Ed,


meskipun aku tahu ia sangat ingin melakukannya karena terbakar cemburu denganmu. Zyan meninggal karena kecelakaan mobil.” ucap Sian ringan. Hampir saja ia mengatakan mengenai pernikahan Eden dan Zyan pada wanita itu, namun ia segera mengingat kata-kata Aciel jika Eden tidak perlu tahu tentang masa lalunya dan Zyan karena wanita itu pasti akan dilanda kebingungan yang lebih parah dari kemarin.


        “Benarkah? Kuharap kau tidak berbohong padaku Sian, karena aku akan sangat menyalahkan diriku sendiri jika Zyan memang meninggal karena Aciel. Kau tahu, aku bingung dengan semua ini. Sebenarnya siapa yang harus kupercaya. Aku takut kalian membohongiku.”


        Sian yang melihat wajah sendu Eden langsung menggenggam tangan mungil Eden yang tersimpan di atas paha itu lalu meremasnya lembut. “Kau bisa mempercayaiku Ed, aku tidak pernah menyembunyikan apapun darimu. Aku mengatakan yang sejujurnya. Bahkan soal Stacie sekalipun, aku juga berkata dengan jujur. Aku tidak ingin membuatmu semakin bingung karena aku tahu kau pasti mengalami hal-hal yang sangat sulit setelah terbangun dari masa komamu.”


        “Terimakasih banyak Sian, aku percaya padamu.” Eden tersenyum masam pada Sian dan sekarang ia mengingat Stacie lagi. Ia merasa tidak sebanding dengan Stacie karena ia tidak memiliki latar belakang pendidikan yang terlalu bagus, karena ia hanya lulusan dari universitas biasa di Vegas dengan jurusan yang tidak terlalu bagus. Dan untuk masalah keluarga, ia jelas tidak ada apa-apanya dengan Stacie karena ia berasal dari keluarga yang tidak lengkap dengan ibu yang hilang entah kemana karena selingkuh dari ayahnya. Lalu kenapa ia bisa berakhir bersama Aciel Lutherford? Apa pria itu hanya ingin memanfaatkannya untuk memiliki keturunan? Karena dengan menikahi wanita bodoh sepertinya, Aciel masih tetap bisa berhubungan dengan wanita manapun di luar sana tanpa khawatir tentang dirinya karena ia tidak memiliki kekuasaan apapun di Vegas.


            “Hey, ada apa denganmu? Kenapa kau melamun?”


            Sian menepuk bahu Eden pelan sambil menatap Eden intens. Ia sepertinya tidak tahu jika ceritanya telah mempengaruhi pola berpikir Eden mengenai Aciel dan Stacie Edburg.


            “Aku tidak apa-apa.”


            “Apa yang kalian lakukan di sini?”


            Suara bass milik Aciel yang bernada dingin itu membuat Eden dan Sian reflek menoleh pada sang pemilik suara yang telah berdiri di ujung pintu ruang tengah yang memisahkan antara ruang utama dan ruang tengah. Pria itu menatap Sian tajam karena tangan pria itu masih setia bertengger di atas pundak Eden dengan posisi tubuh yang sedikit condong ke arah Eden hingga dari tempat Aciel berdiri, Sian tampak akan mencium Eden. Meskipun Sian adalah sahabatnya sendiri, tapi ia tidak bisa mempercayai Sian sepenuhnya. Terlebih Sian pernah mengatakan padanya jika dirinya menyukai Eden. Dengan kondisi Eden yang belum sepenuhnya menerima kehadirannya, bisa saja Eden berpaling pada Sian. Mengingat bagaimana sikap Sian yang sangat perhatian pada Eden.


            “Aku baru saja menonton film, dan..."


            “Kau mengajak Eden menonton film yang tak pantas bersamamu?” potong Aciel cepat dengan nada menuduh. Jelas Aciel sangat tahu jenis film apa yang mungkin ditonton oleh Sian. Bahkan dulu ia pernah diajak oleh Sian untuk menontonnya. Jadi sedikit banyak ia tahu bagaimana film-film itu akan berakhir.


            “Tidak! Aku masih menghormatinya sebagai istrimu Ace, jadi aku tidak mungkin akan mengajaknya menonton film bersamaku. Aku justru menyuruhnya menonton bersamamu.” elak Sian cepat. Namun Aciel terlihat masih tidak percaya. Sementara itu Eden justru dibuat kebingungan dengan tingkah dua pria aneh itu karena diantara mereka tidak ada satupun yang menjelaskan padanya mengenai jenis film apa yang mereka maksud.


            “Sebenarnya film apa yang sedang kalian bicarakan? Kenapa kalian justru bertengkar hanya karena sebuah film?” teriak Eden kesal. Tak peduli jika saat ini seluruh penghuni mansion tengah tertidur pulas di kamar mereka masing-masing. Dua pria itu benar-benar menyebalkan untuk Eden. Keberadaan mereka di ruang tengah justru membuatnya semakin pusing karena pikirannya yang kalut tentang Stacie.


            “Eden, sebaiknya kau naik ke kamar sekarang. Aku ingin berbicara penting dengan Sian.”


            “Aku bukan anak kecil yang harus kau perintah seperti itu. Dan tanpa kau meminta sekalipun aku juga akan segera naik ke atas, karena aku sudah mengantuk.”


            Eden meninggalkan ruang tengah dengan perasaan kesal yang berkecamuk di dalam hatinya. Malam ini ia yakin tidak akan bisa tidur nyenyak karena pikirannya terus dihantui oleh hubungan Aciel dan Stacie. Terlebih lagi sikap Aciel yang menyebalkan semakin membuat dirinya kalap dan ingin memakan pria itu malam ini. Ia rasanya ingin menumpahkan seluruh kekesalannya pada Aciel!


            “Apa yang ingin kau katakan padaku?”


            Setelah Eden benar-benar menghilang dari tangga, Sian memulai membuka percakapan diantara mereka. Namun di luar harapannya, karena Aciel ternyata tak benar-benar ingin berbicara serius padanya.


            “Tidak ada, lebih baik kau pulang ke apartemenmu atau tidur di kamar tamu. Kau memiliki banyak pekerjaan yang harus kau urus besok Sian.” ucap Aciel sambil lalu dan mulai berjalan meninggalkan Sian di ruang tengah. Pria bergusi pink itu tampak bersungut-sungut pada Aciel dan melemparkan sebuah bantal besar pada sahabatnya yang sudah terlebihdulu berjalan menjauh. Meskipun pada akhirnya meleset.


            “Sialan kau! Kupikir kau benar-benar akan berbicara serius padaku.”


            “Memang. Aku hanya ingin memperingatkanmu untuk berhati-hati dalam berbicara, karena aku memiliki banyak mata di rumah ini.”


            Seketika Sian paham dan mulai bungkam. Ia sekarang mengerti apa maksud perkataan ambigu Aciel. Pria itu jelas telah menempatkan banyak kamera tersembunyi di rumah ini dan juga alat penyadap. Apapun yang ia lakukan di rumah ini tidak akan pernah luput dari pengawasan Aciel. Dan mungkin pria itu sudah tahu jika ia sempat

__ADS_1


membocorkan sedikit kisah cinta pria itu di masa lalu. Tapi sedetik kemudian Sian menyeringai licik sambil menatap pintu kamar sepupunya yang baru saja tertutup.


            “Setelah ini kuyakin kau akan berterimakasih padaku dude.” gumam Sian pelan.


__ADS_2