Black Swan

Black Swan
Olivia's Bad Storm (One Hundred Twenty Five)


__ADS_3

            Suasana di meja makan itu terlihat sangat ramai dan hidup. Kali ini keluarga Sian membuat meja makan di rumah Aciel menjadi lebih ramai dari biasanya dengan setiap celotehan yang dikeluarkan Sian maupun anak-anak Aciel yang juga sedang menyantap makan malam mereka dengan nikmat. Sesekali Louise yang usil melemparkan makanannya ke arah Justice yang akan langsung terbahak keras karena kelakuan Louise yang menurutnya lucu.


            “Jangan melempar-lempar makananmu ke arah Justice, sayang.” peringat Eden mulai galak. Satu dua kali, Eden masih bisa memakluminya. Tapi jika berkali-kali, ia jelas harus mengambil sikap tegas untuk memperingati Louise.


            “Justice menyukainya mom.” balas Louise acuh tak acuh dan ia hampir melemparkan sayurannya lagi ke arah Justice. Namun tangan kecilnya langsung dicengkeram Eden dan di tahan di atas meja seperti tangan itu baru saja dipaku dengan sangat kuat.


            “Mommy...” rengek Louise tak terima. Tapi tatapan tajam Eden yang galak segera membungkam rengekan Louise yang sebentar lagi akan berubah menjadi tangisan.


            “Tidak ada mainan baru jika kau membuat mommy marah.” ancam ibunya sungguh-sungguh dan membuat Louise seketika menundukan kepalanya karena takut.


            “Dia persis Aciel saat sedang kesal.” komentar Sian dengan gelak tawa. Sedangkan Aciel yang merasa namanya disebut-sebut hanya mengendikan bahunya acuh. Ia merasa maklum jika Louise mewarisi sifatnya yang gemar marah itu.


            “Kulihat


sejak tadi kau hanya diam, apa kau sakit, Liv?” tanya Eden tiba-tiba yang membuat seluruh penghuni meja itu memberikan tatapan bertanya-tanya ke arah Olivia. Sadar jika kediamannya menimbulkan kecurigaan, Olivia dengan wajah ceria yang dibuat-buat segera mengangakat kepalanya sambil melahap makananya penuh semangat.


             “Aku hanya kelaparan.”


            “Ya ampun, apa kau tidak memberinya makan seharian ini, Ed?”


            “Apa?” tanya Eden sambil melemparkan tatapan kesal ke arah Aciel.


            “Aku memberinya apapun untuknya, tapi Olivia sendiri yang menolak. Kau telah melewatkan makan siangmu, Liv. Pantas saja kau jadi kelaparan seperti ini.” celoteh Eden ringan.


            Bagi Olivia makanan lezat di depannya terasa hambar di mulutnya saat perasaan was-was itu terus saja menggerogoti benaknya. Terkadang ia juga terbangun di tengah malam dengan peluh dan jantung berdebar yang memukul keras rongga dadanya. Entah sejak kapan hal itu menjadi gangguan yang menyebalkan untuk Olivia. Yang jelas semua itu muncul setelah Eden melayangkan pertanyaan padanya seputar kehamilan. Demi Tuhan, ia sangat takut akan kemungkinan terburuk yang bisa ia dapatkan sewaktu-waktu.


            “Menurutmu apa kita akan menggunakan Scout Voyage lagi untuk proyek yang akan datang?”


            “Kurasa begitu. Ia memiliki hasil kerja yang bagus. Jadi kenapa tidak?”


            Olivia tiba-tiba merasa tubuhnya menegang. Nama itu, Scout Voyage. Ia ingat nama pria itu. Pria yang menjadi mimpi buruknya selama dua bulan ini. Dalam hati Olivia mengerang. Seharusnya ia tidak perlu mengingat nama pria itu. Dan seharusnya pria itu tidak memiliki urusan dengan suaminya. Tapi Tuhan seperti akan memberikan hukuman padanya. Pria itu tanpa sengaja akan kembali masuk ke dalam hidupnya. Paling tidak pria itu akan berurusan dengan Sian lagi seperti dulu. Dan hal itu akan membawanya pada pertemuan tak terduga dengan pria itu lagi. Tidak! Olivia terus berteriak keras dalam hatinya. Ia tidak akan bertemu dengan pria itu lagi. Mimpi buruk ini harus segera diakhiri tanpa menimbulkan kecurigaan dari siapapun.


-00-


            Asap rokok membumbung tinggi, memenuhi setiap sudut kamar bernuansa abu-abu yang terlihat sunyi. Pria dengan rokok di tangan dan celana pendek itu menatap frustrasi pada hasil sketsanya yang tak kunjung menemukan titik terang karena kepelikan pikirannya yang tak segera menemukan penawarnya. Ia pikir wanita


tanpa nama itu hanya akan berlalu begitu saja, sama seperti wanita-wanita yang biasanya dikencaninya setiap malam minggu. Ia pikir ia akan terpuaskan setelah menjalani malam panjang yang menyenangkan dengan wanita itu. Tapi sayangnya semua itu tidak berakhir dengan mudah setelah ia berhasil mendapatkan wanita itu di bawah kuasanya. Sepanjang malam mereka bercinta di pinggir kolam renang dengan ketidaksadaran yang menguasai si wanita tanpa nama. Dan bodohnya saat itu, ia tidak sempat menanyakan nama wanita itu ataupun mendapatkan sedikit clue dari sang wanita yang telah menghabiskan malam dengannya. Padahal biasanya sebuah kartu nama akan terselip di balik bantalnya setelah ia selesai melakukan aktivitas panas dengan beberapa wanita yang ia temui di bar. Namun kali ini berbeda, wanita itu adalah wanita terhormat. Terbukti dari sikapnya yang tampak malu-malu, dan juga kepanikan yang mungkin dirasakan wanita itu saat bercinta dengannya. Yang jelas pagi itu ia tersadar dengan kehampaan yang menggerogoti hatinya yang kosong. Ia telah ditinggalkan begitu saja dalam ketidaksadaran tanpa identitas atau tanpa petunjuk yang akan menuntunnya pada wanita itu. Ia bahkan tidak sadar kapan wanita itu pergi meninggalkannya karena ia terlalu terbuai dengan kenyamanan dari bekas-bekas percintaan mereka yang panas. Sekarang ia tidak tahu lagi bagaimana cara mencari wanita berselendang hitam itu. Apalagi seingatnya wanita itu bukan salah satu karyawan dari Ford grup yang identitasnya dapat ia cari dengan mudah.


            “Siapa kau sebenarnya?” erang Scout frustrasi sambil menghembuskan asap putih dari hidungnya kuat-kuat ke udara dingin yang seakan-akan sedang mengejek kefrustrasiannya malam ini.


-00-


            Malam itu lagi-lagi Olivia tidak bisa tidur. Bayangan laknat saat ia sedang mengerang


di bawah kungkungan seorang pria terus saja menghantuinya hingga ia menyerah


dan memutuskan untuk segera bangkit dari tidurnya dengan napas terengah.


           “Ya Tuhan...” erang Olivia frustrasi. Sebisa mungkin ia tidak menimbulkan kegaduhn di kamarnya yang sunyi agar ia tidak sampai mengganggu Sian. Dipandangnya lekat wajah Sian yang begitu damai. Pria itu adalah pria yang telah menerima seluruh kekurangannya, mendonorkan satu mata untuknya, dan memberikan kehidupan yang layak untuk hidupnya yang selama bertahun-tahun hanya dipenuhi kepahitan. Tegakah ia mengkhianati pria sebaik Sian?

__ADS_1


            Dengan Sedih Olivia menelungkupkan kepalanya di atas lutut dan menangis dalam diam. Cepat atau lambat ia perlu memberitahukan semuanya pada Sian. Bahkan juga pada seluruh keluarganya yang lain. Eden, Aciel, Laila, Nathan, Kriss, Jessica. Mereka semua adalah orang-orang yang nantinya pasti akan berpikiran buruk


tentangnya. Kepolosannya menipu! Ia tahu itu. Bahkan ia sendiri merasa tak habis pikir mengapa saat itu ia bisa tergoda begitu saja oleh rayuan yang dilayangkan pria bernama Scout padanya.  Oh... mungkin alkohol itu yang perlu disalahkan karena kenyataannya ia memang tidak bisa meminum alkohol. Ia lemah pada minuman itu. Dan sebelum ini ia tidak pernah meminumnya. Ia selalu menolak setiap Sian menawarkan alkohol padanya. Ia lebih suka minum jus disaat Sian sedang menikmati alkoholnya saat mereka sedang bersantai bersama. Jadi jelas semua yang terjadi padanya di Florida adalah karena saat itu ia sedang mabuk! Ia tidak sadar dengan semua perbuatannya. Tapi sialnya ia cukup sadar untuk mengingat setiap desahan yang ia keluarkan untuk pria itu.


            “Olive...”


            Suara serak itu mengejutkan Olivia yang sedang menghayati kesedihannya seorang diri. Sian jelas terbangun karena suara isakannya yang telah berubah menjadi lebih keras tanpa ia sadari.


            Untuk beberapa saat Olivia masih bergeming di tempatnya dengan kepala menunduk yang sengaja ia sembunyikan di dalam dekapan tangan di atas lututnya. Ia perlu waktu  untuk memikirkan alasan apapun yang akan ia layangkan pada Sian yang saat ini mulai bergerak bangun dari posisi tidurnya.


            “Hey, ada apa baby?” tanya Sian parau. Pria itu langsung meraih pundak Olivia dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya yang hangat.


            “Mimpi buruk.” jawab Olivia apa adanya. Bukankah ia tidak berbohong soal itu? Ia memang mendapatkan mimpi buruk karena pria asing itu.


            “Seburuk apa?”


            “Sangat buruk.” jawab Olivia lagi dengan suara serak. Ia semakin merapatkan tubuhnya pada Sian yang sedang memeluknya dengan erat. Pelukan pria ini, sampai kapanpun ia tidak akan rela untuk kehilangannya. Bahkan jika ia harus berbohong demi kebersamaan mereka, terpaksa Olivia akan melakukan hal itu.


            “Aku bermimpi tentang orangtuaku saat penjahat-penjahat itu datang ke rumah. Suara mereka yang kasar terkadang hadir di mimpiku dan membuatku merasakan ketegangan karena diingatkan lagi pada peristiwa itu.”


            “Ssshhh... sekarang aku akan melindungimu. Kau tidak perlu takut lagi dengan mereka.”


            Olivia mengangguk samar dibalik dekapan Sian. Ia memang tidak akan takut lagi pada mereka karena keberadaan Sian di sisinya telah menjamin semua rasa amanya. Tapi Scout Voyage? Ia tidak yakin Sian akan melindunginya dari pria itu.


            “Peluk aku. Kumohon.”


            Tanpa diminta dua kali, Sian langsung memeluk Olivia erat dan menarik wanita itu agar kembali tidur. Besok ia masih memiliki banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan. Pertemuannya dengan Scout Voyage dimajukan oleh Aciel karena pentingnya pria itu untuk mendiskusikan desain pabrik tambahan yang akan dibangun di dekat kantor utama di Vegas. Dan sebagai manajer keuangan, keberadaannya tidak boleh absen di sana karena ia harus memastikan semua pembangunan itu sesuai dengan budget yang akan mereka keluarkan untuk semua pihak, termasuk Scout Voyage.


-00-


            Scout mendapatkan sambutan hangat dari Sian dan beberapa staffnya yang siang ini telah menunggunya di loby kantor. Dengan penuh keramahan pria itu mengantarkan Scout menuju ruangan Aciel yang telah menunggu untuk melihat hasil sketsanya.


            “Bagaimana perjalanan anda?” tanya Sian berbasa-basi selagi mereka menunggu lift yang mengantar mereka berhenti di lantai dimana ruangan Aciel berada.


            “Cukup lancar. Udara sangat cerah di luar sana. Dan Vegas lebih panas dari dugaanku.” Scout sengaja melamparkan candaan untuk membuat suasana diantara dirinya dan juga mitra bisnisnya ini lebih hangat. Padahal jika ia boleh jujur, hari ini ia sedang merasa tidak enak badan. Akhir-akhir ini ia kekurangan jam tidur karena harus menyelesaikan rancangan sketsa yang terasa lebih sulit untuknya disaat pikirannya sedang terganggu akibat wanita misterius itu. Setiap malam ia hanya menghabiskan waktunya untuk mengotori ruang kerjanya dengan tumpukan kertas sambil mengumpat keras saat hasil gambarannya terasa begitu hambar di matanya. Tidak ada gambar yang terkesan hidup dari goresan tangannya tiap kali ia memaksakan diri untuk menyelesaikan sketsanya.


            “Cuaca ekstrem memang sedang terjadi di sini. Siang hari di Vegas akan terasa panas seperti di neraka, tapi saat malam, suhunya akan benar-benar membekukan. Anomali cuaca ini membuat kami terkadang merasa kesal.” cerita Sian santai. Saat lift telah berdentang keras dan pintunya otomatis terbuka, Sian segera mempersilahkan Scout untuk berjalan ke arah ruangan Aciel yang memang terlihat paling mencolok dari ruangan yang lainnya. Gaya arsitektur yang digunakan untuk ruangan Aciel, diakui Scout sangat berkelas dan modern. Dinding kaca yang melapisi ruangan Aciel memungkinkan pria itu dapat mengintai karyawannya dari dalam, namun karyawan dari luar ataupun tamu sepertinya tidak akan pernah bisa mengintip apapun yang sedang dilakukan Aciel di dalam ruangannya. Sebuah pilihan yang cerdas, pikir Scout kagum. Bisa dikatakan pertemuannya dengan Aciel adalah sebuah berkah untuknya. Tidak ada yang akan menolak seorang Aciel Lutherford untuk melakukan sebuah kerjasama. Dan ia adalah satu dari segelintir orang yang beruntung karena berhasil memukau Aciel melalui gambar-gambar yang telah ia buat.


            “Ace, Mr Voyage telah datang.”


            “Oh, selamat datang Mr Voyage, silahkan masuk.”


            Scout tidak lagi terkejut melihat perbedaan yang begitu mencolok antara Sian dan Aciel. Dua orang itu memang memiliki aura yang sangat berbanding terbalik. Sian yang rama dan Aciel yang angkuh. Tidak heran jika Aciel lebih kaku ketika menyambutnya dan menyuruhnya masuk ke dalam ruangannya.


            “Kalian bisa keluar, aku hanya membutuhkan Sian dan Mr Voyage di ruanganku.” beritahu Aciel pada dua staff dari bagian keuangan yang tadi ikut mengekori Sian ke dalam ruangan Aciel.


            “Aku sangat menyukai desain bangunan yang kau rancang untuk cabang kami di Florida. Jadi untuk projek kali ini, kuserahkan hal itu padamu, Mr Voyage.”


            Aciel segera saja membuka percakapan untuk mempersingkat waktu pertemuan diantara mereka. Kebetulan satu jam lagi ia telah memiliki janji temu untuk berdiskusi dengan serikat buruh, sehingga pertemuan dengan Scout harus ia selesaikan segera untuk mencari sebuah kesepakatan.

__ADS_1


            “Oh ya, Mr Markle telah mengatakannya padaku. Sungguh sebuah kehormatan karena bisa bekerjasama lagi dengan anda, Mr Lutherford.”


            “Aku tidak akan pernah ragu untuk bekerjasama dengan seseorang sepertimu. Jadi bisa kulihat desain yang telah kau buat?” tanya Aciel langsung. Dan tanpa diminta dua kali, Scout segera membentangkan beberapa kertas berukuran A3 di atas meja tamu Aciel yang cukup luas. Ia merasa cukup bersyukur karena dapat menyelesaikan lima sketsa pabrik untuk Ford grup di tengah-tengah kekacauan yang telah melanda hati dan pikirannya. Tapi meskipun begitu, Scout masih saja digelayuti ketidakyakinan dengan hasil sketsanya yang terasa sangat hambar di


matanya.


            “Kau menggambar dengan sangat baik.” komentar Aciel sambil meneliti skesta-sketsa itu satu persatu. “Ini desain pabrik modern yang sangat pas untuk pabrik onderdil yang akan kubangun di lahan seluas satu setengah hektar di timur kantor utama. Tapi Mr Voyage...” ucap Aciel dengan kernyitan.


            “Ya, Mr Lutherford?”


            Punggung Scout terasa tegang saat menunggu kata-kata selanjutnya dari Aciel. Ia pikir ia telah membuat sketsa yang teramat buruk hingga kali ini Aciel tidak langsung terkesan seperti sketsanya yang lalu.


            “Kau melupakan komponen cerobong di bagian atap pabrik.”


            “Ahh ya.” timpal Scout merasa bodoh. Ia menjadi lupa pada detail bangunan karena pikirannya kacau. Lagi-lagi wanita itu yang harus ia salahkan atas semua kekacauan yang menimpanya saat ini.


            “Lalu corong pembuangan limbah yang terhubung pada tanker daur ulang sebelum limbah itu dialirkan keluar pabrik, kau juga belum membuatnya.” ucap Aciel lagi.


            Kepercayaan diri Scout kini hancur lebur di hadapan Aciel Lutherford. Semua sketsanya tidak memuaskan Aciel sama sekali karena ia selalu melupakan setiap detail yang sangat dibutuhkan oleh pabrik baru Aciel. Dengan pasrah Scout harus mengakui kekalahannya. Ia kali ini tidak menjadi pria beruntung, seperti apa yang terjadi padanya kemarin. “Kurasa aku kurang konsentrasi saat menggambarnya.”


            “Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Mr Voyage?”


            “Begitulah.” jawab Scout pasrah. Percuma saja ia berkelit di hadapan Aciel jika kenyataannya ia memang sedang dilingkupi keresahan karena memikirkan wanita tanpa nama itu.


            “Kalau begitu kau bisa kembali lagi lusa. Kuberi kau kesempatan untuk memperbaiki sketsamu.”


            Scout tidak bisa tidak tersenyum lega saat Aciel masih memberinya kesempatan. Dalam hati ia berjanji akan mengerjakan sketsa itu sebaik mungkin. Tak akan ia biarkan wanita itu mengganggu pikirannya hingga mengacaukan projek berharga juaan dollar dari Aciel Lutherford.


            “Aku sebenarnya sangat menyukai desain yang kau buat, tapi kau perlu menambahi beberapa detail yang kusebutkan tadi.”


            “Terimakasih untuk kesempatan yang anda berikan, Mr Lutherford. Suatu kehormatan dapat bekerjasama dengan anda.”


            “Hmm, kuanggap kondisimu ini hal wajar yang perlu dimaklumi. Kalau begitu kau bisa melanjutkan diskusi dengan Sian karena aku memiliki jadwal dengan serikat buruh.”


            “Tentu Mr Lutherford, jangan pedulikan aku.” jawab Scout ringan dan segera membereskan sketsa sketsanya selagi Aciel berbicara dengan Sian. Ia merasa tak perlu mencampuri urusan mereka sedikitpun. Suara bisikan-bisikan yang sempat terdengar di telinganya hanya sebatas masalah budget yang telah mereka siapkan untuk pembangunan pabrik onderdil baru milik Ford Company.


            “Jadi Mr Voyage, apa kau ingin berbicara lebih lanjut denganku?”


            “Kurasa belum. Aku akan kembali ke hotel dan memperbaiki sketsaku untuk kutunjukan lusa.” tolak Scout halus. Ia telah memiliki rencana sendiri sebelum menyelesaikan sketsanya malam ini. Jadi ia tidak akan membiaran pembicaraan tidak pentingnya dengan Sian mengganggu rencananya.


            “Kalau begitu akan saya menuju lift.”


            “Terimakasih, kau baik sekali.”


            Mereka berdua kemudian berjalan beriringan menuju lift dengan obrolan ringan seputar hobi dan kehidupan masing-masing secara umum. Menurut Scout, Sian adalah pria yang menarik. Ia memiliki aura mengayomi yang begitu kental. Tidak heran jika Aciel terlihat sangat akrab dengan Sian, lebih dari sebatas rekan kerja. Mereka berdua terlihat seperti keluarga yang saling melengkapi satu sama lain.


Ting


            Lift berdentang sekali. Scout cepat-cepat menjabat tangan Sian sebagai salam perpisahan sebelum melangkah masuk ke dalam lift yang pintunya baru saja terbuka. Namun tiba-tiba Scout merasakan tubuhnya beku. Kakinya seperti dipaku di atas lantai marmer mahal yang dipijaknya saat kedua matanya saling bertatapan dengan mata coklat milik wanita bersurai panjang yang akhir-akhir ini telah mengacaukan pikirannya.

__ADS_1


            “Olivia, aku telah menunggumu sejak tadi, sayang.”


__ADS_2