
Olivia mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali sambil mengerang keras ketika ia merasakan rasa ngilu yang amat menyakitkan disekujur tubuhnya. Dengan perlahan Olivia mulai mencoba untuk menggerakan tangannya, tapi tiba-tiba pergerakannya terhenti ketika ia teringat jika semalam pria bejat itu telah mengikat kaki dan tangannya dalam posisi yang sangat menjijikan. Sekelebat bayangan menjijikan dan mengerikan itu mulai bermunculan di kepala Olivia, menciptkan beberapa kilasan mimpi buruk yang sangat mengerikan untuknya. Tanpa sadar air mata itu kembali meleleh membasahi kedua pipinya yang tirus dan pucat. Semalam Scout telah berhasil merenggut segalanya darinya. Ia telah berhasil memporak-porandakan hidupnya hingga ia merasa ingin mati sekarang. Ia tidak bisa hidup dalam keadaan menjijikan seperti ini. Ia ingin mati! Ia tidak ingin hidup di dunia ini!
“Apa yang sedang kau pikirkan? Bangun dan bersihkan tubuhmu sekarang, sebentar lagi kita akan pergi dari apartemen ini.”
Tiba-tiba suara itu menginterupsi pikirannya dan membuat Olivia semakin muak dengan pria itu. Olivia kemudian menoleh sekilas ke arah datangnya suara pria itu dan menemukan pria brengsek itu sedang menyesap secangkir kopi dengan nikmat di atas sofa maroonnya yang nyaman. Pria itu terlihat begitu puas dan tampak sama
sekali tidak menyesal dengan perbuatan bejatnya semalam. Namun ia sendiri tidak yakin, apakah pria sepertinya akan merasa menyesal dengan perbuatannya semalam, karena menurutnya Scout Voyage bukan tipe pria yang akan merasa menyesal setelah apa yang dilakukan pria itu padanya. Justru saat ini Scout tampak sangat puas dan sedang tertawa terbahak-bahak di atas penderitaanya.
“Kau pria menjijikan tak tahu diri! Apa yang telah kau lakukan padaku? Sian pasti sedang mencariku sekarang. jerit Olivia frustrasi. Pria itu berani-beraninya menculiknya dari rumah sakit. Olivia tidak bisa menghilangkan seluruh rasa bencinya pada Scout. Setelah ia mencoba berpikiran positif mengenai pria itu, nyatanya Scout tidak pernah layak untuk hal itu.
Scout meletakan cangkir putihnya di atas meja sambil beranjak berdiri untuk menghampiri Olivia. Sepertinya ini adalah saatnya untuk menjinakan singa betina yang sangat buas seperti wanita itu.
“Olive, kita akan pergi dari sini bersama-sama. Dan aku akan melepaskan ikatan ini sekarang agar kau dapat bersiap-siap dan membersihkan diri.” ucap Scout pelan dan lembut. Melihat Scout yang sedang membungkuk di sebelahnya untuk melepaskan tali-tali itu dari tangannya, Olivia segera berpikir untuk menyerang Scout saat pria itu sedang lengah. Tapi pemikiran itu segera diketahui oleh Scout, sehingga pria itu langsung mencengkeram kedua tangannya di atas kepala setelah tali yang mengikat kedua tangannya dilepaskan oleh Scout.
“Jangan coba-coba untuk melawanku, jika kau tidak ingin aku memperkosamu sekali lagi.” ancam Scout vulgar. Olivia langsung meronta-ronta tak terima ketika Scout mulai mengancamnya dengan ancaman yang sangat mengerikan dan menjijikan seperti itu. Tapi melihat raut wajah Scout yang terlihat tidak sedang main-main membuat Olivia merasa takut dan akhirnya ia memilih untuk mengalah. Tapi ingat, bukan berarti ia menyerah di bawah ancaman pria itu, ia hanya mengalah! Mengalah untuk menang.
“Hmm, sepertinya kau tipe wanita yang penurut. Baiklah, aku akan segera melepaskan ikatan di kakimu.”
Scout kemudian mulai melepaskan cekalan tangannya dari tangan Olivia dan segera berpindah pada kedua kaki Olivia yang masih terikat dengan sangat kuat di kaki ranjang. Samar-samar Scout dapat melihat bercak-bercak keunguan yang terlihat melingkar di kaki Olivia akibat dari pemberontakan wanita itu semalam. Sebelum ia benar-benar melepaskan ikatan tali itu, Scout menyempatkan diri untuk mengelusnya sebentar untuk menunjukan rasa simpatinya pada wanita itu. Tapi semua itu tidak berlangsung lama karena Scout langsung menarik tali itu kasar dari kaki Olivia, membuat Olivia secara refleks langsung menarik kakinya mendekat karena pergelangan kakinya yang terasa perih.
“Brengsek! Kau sengaja menyakiti kakiku?” teriak Olivia murka tepat di depan wajah Scout. Namun pria itu hanya mentap wajah Olivia datar sambil menelisik tubuh lemah Olivia dari ujung kepala hingga ujung kaki. Di tempat-tempat yang Scout ikat semalam, tercetak lecet kemerahan akibat gesekan tali yang begitu kuat. Semalam ia benar-benar tak bisa membicarakan semuanya baik-baik. Saat Olivia mulai berteriak, ia menjadi berang. Dan terpaksa ia menggunakan cara licik untuk mendapatkan Olivia. Jika wanita itu tidak mau menyerahkan dirinya untuk menjadi wanitanya, maka ia terpaksa menculik wanita itu dari Sian.
Scout mengamati tubuh lemah Olivia yang sedang berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi. Pantas saja jika Sian bertekuk lutut pada kepolosan Olivia yang lezat. Tak bisa ia bayangkan bagaimana tersiksanya Sian saat mengetahui istrinya yang polos bak boneka itu hilang dari jangkauannya.
“Bersiaplah secepat mungkin karena satu jam lagi kita akan pergi dari sini.”
“Aku tidak mau! Lebih baik aku mati membusuk di sini daripada harus pergi bersamamu. Kau pria kejam yang tak punya hati! Kau pria keparat.” marah Olivia berapi-api. Umpatan demi umpatan terus saja keluar dari bibir Olivia seperti peluru. Ia berusaha melepaskan tembakan kata-kata itu untuk menohok Scout yang kejam.
Tanpa diduga, sebelah tangan Olivia terangkat untuk mencakar wajah Scout. Dengan sigap, Scout segera menyingkir dan menahan pergelangan tangan itu di udara. Tapi, kaki kiri Olivia yang bebas langsung mendarat tepat di perut Scout dan menohok perut berotot itu sekuat tenaga, membuat pria itu sedikit sesak dan terbatuk-batuk sesaat.
“Sial, wanita ini tidak selemah yang kupikirkan.”
__ADS_1
Scout kemudian berusaha untuk mengunci pergerakan Olivia agar wanita itu tidak mencoba untuk menyerangnya lagi. Tapi Olivia yang sekarang bukanlah Olivia yang lemah dan tak berdaya seperti kemarin saat di rumah sakit. Olivia yang sekarang adalah Olivia yang kuat dan penuh ambisi untuk melakukan balas dendam pada pria itu. Apapun yang pria itu lakukan untuk menghalangi niatnya, maka ia tidak akan berhenti begitu saja. Ia pasti akan mencari titik lemah pria itu dan membuat pria itu menderita sama sepertinya.
“Dasar wanita! Kau makhluk lemah yang tak tahu diri. Lepaskan tanganmu dari kerah kemejaku jika kau tidak ingin aku melakukan hal-hal yang lebih kasar untuk menjinakanmu.” geram Scout emosi ketika sebelah tangan Olivia yang bebas mulai mencengkeram kerah kemejanya. Tapi Olivia sama sekali tidak takut dengan ancaman pria itu. Meskipun menantang pria itu sama saja dengan menjemput kematiannya sendiri, ia tidak peduli! Yang terpenting baginya ia dapat mempertahankan harga dirinya dari pria brengsek yang telah memperkosanya.
“Aku sama sekali tidak takut dengan ancamanmu. Bahkan jika kau akan membunuhku sekalipun, aku tidak peduli.”
“Baiklah, kau yang memintanya, bukan aku.”
Tanpa diduga, Scout langsung menyentak tangan Olivia dari lehernya dan menghempaskan wanita itu dengan kasar di atas ranjang. Lalu Scout mulai menindih Olivia lagi sambil menyeringai dengan mengerikan di depan wanita itu. Ia tahu, Olivia pasti akan lemah dengan sentuhannya, maka ia akan melakukan itu untuk menjinakan Olivia.
“Aaapa yang akan kau lakukan? Pergi dari atas tubuhku.” bentak Olivia dengan suara tergagap. Ia sama sekali tidak berpikir jika Scout akan melakukan hal ini lagi. Scout adalah pria bejat dan licik yang akan menggunakan berbagai macam cara untuk menaklukannya, jadi seharusnya ia sudah dapat memprediksikan hal ini sebelumnya.
“Kau harus mempersiapkan dirimu sekarang juga, Olivia Markle.” bisik Scout mengerikan di telinganya sebelum pria itu mengangkat tubuhnya dan membawanya menuju ke dalam kamar mandi dengan gerakan tergesa yang kasar.
Saat berada di dalam kamar mandi, pria itu langsung menceburkan tubuhnya begitu saja ke dalam jacuzzi apartemennya hingga ia merasa sedikit gelagapan karena air dingin itu langsung berdesakan untuk masuk ke dalam paru-parunya. Dan setelah itu Scout langsung membanting pintu kamar mandinya dengan keras, menciptakan sebuah bunyi debuman yang cukup nyaring, yang mampu membuat hati Olivia bergetar karena ketakutan.
-00-
Setelah Scout pergi, Olivia langsung menelungkupkan kepalanya di atas lututnya sambil menangis sesegukan meratapi nasibnya yang malang dan sial ini. Seharusnya Sian tidak meninggalkan malam itu. Mereka terus saja bertengkar saat mencoba mendiskuiskan masalah ini. Ia tahu Sian terluka, tapi ia juga lebih terluka karena harus menimpakan semua kesalahan ini padanya. Belum lagi janin yang tumbuh di perutnya. Ia tidak tahu bagaimana nasibnya jika ia terus-terusan dilanda stress berat seperti ini. Olivia sangat takut jika bayinya nanti terlahir cacat karena kelalaiannya.
Dug dug dug
Gedoran keras di pintu mengejutkan Olivia dari tangisannya. Wanita itu cepat-cepat melirik ke arah pintu dengan penuh antisipasi, takut jika Scout tiba-tiba menerobos masuk untuk melakukan hal-hal keji padanya. Tapi untungnya hal yang ditakutkan Olivia tidak terjadi karena setelah itu ia kembali ditemani suara isakannya yang bergema nyaring di tengah kesunyian yang sedang memeluk tubuh bergetarnya.
“Aku ingin mati. Aku ingin mati sekarang.”
-00-
Sian sedang menyantap sarapan paginya dengan tenang ketika tiba-tiba pengasuh Justice datang dengan wajah pucat. Dengan bibir bergetar, wanita itu memberitahu Sian jika Olivia telah diculik oleh Scout.
“Ada apa?”
__ADS_1
“Seseorang bernama Scout menghubungi telepon rumah beberapa saat yang lalu, pria itu mengatakan jika ia telah menculik nyonya Olivia dari rumah sakit.”
Untuk beberapa saat Sian tidak ingin mempercayai pendengarannya sendiri. Rasanya itu tidak mungkin. Semalam ia masih marah-marah di depan wanita itu. Ia masih meneriakan kata-kata kasar penuh tuduhan pada Olivia yang terisak-isak. Lalu kenapa sekarang wanita itu telah berada di tangan si brengsek Scout?
“Aku akan menghubungi pihak rumah sakit untuk memastikan.” Namun sebelum Sian berhasil menghubungi pihak rumah sakit, ponselnya lebih dulu berdering dengan nama Nathan sebagai id callnya.
“Ada apa, Nath?” tanya Sian datar. Sebisa mungkin ia tidak terlihat panik saat berbicara dengan Nathan, meskipun jantungnya kini sedang berdetak tak karuan karena berita penculikan Olivia.
“Istrimu hilang.” beritahu Nathan dengan suara panik. Tampak jelas di telinga Sian jika Nathan baru saja berlari-lari panik karena napasnya terdengar begitu terengah-engah di seberang sana.
“Aku tahu.”
Sungguh ekspresi Sian berbanding terbalik dengan perasaan di hatinya yang hancur. Ia sungguh menyesal karena kemarin telah memperlakukan Olivia dengan kasar. Ia terus saja berteriak pada Olivia tanpa memberikan kesempatan untuk Olivia melakukan pembelaan. Yang paling menyakitkan, Sian melihat Olivia kesakitan sambil memegangi perutnya yang mungkin keram karena wanita itu terlalu tegang. Namun egonya yang setinggi langit justru membiarkan istrinya kesakitan begitu saja selama kurang lebih lima menit hingga Olivia sempat akan muntah di depannya. Ck, kau bodoh! Tangan Sian terkepal di dalam saku celananya yang telah kusut. Rumah tangganya praktis hancur setelah ini karena ia sama sekali tidak memiliki solusi untuk mencari Olivia. Ia masih terlalu linglung dengan semua peristiwa yang terlalu mendadak untuknya.
“Sian, kau masih di sana?”
“Ya, aku masih di sini.” jawab Sian datar. Saat ia menoleh ke kiri, ia melihat putrinya sedang bermain dengan pengasuhnya dengan sangat ceria. Justice tidak tahu jika ibunya telah hilang. Sian tidak pernah menceritakan apapun mengenai Olivia pada Justice selain jika saat ini ibunya sedang sakit dan membutuhkan perwatan intensif di rumah sakit. Jahatkah dirinya jika ia membiarkan Justice tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu?
“Apa kau tahu jika Olivia memang kabur?”
“Dia tidak kabur Nath, dia diculik.” desah Sian pening. Kenapa semuanya harus berjalan seburuk ini, erang Sian dalam hati. “Scout menghubungi telepon rumah dan memberitahu pengasuh Justice jika ia telah menculik Olivia. Ia sengaja mengubungi telepon rumah agar tidak mudah dilacak.”
“Sialan! Pria itu bisa mencelakai Olivia.” sahut Nathan berang. Hubungannya yang dekat dengan Olivia membuat Nathan merasa ikut bertanggungjawab juga atas menghilangnya Olivia.
“Aku akan menghubungi polisi segera.”
“Ide bagus.” jawab Nathan sengit. “Dan aku akan memberitahu Aciel.”
Sian mengerutkan keningnya dengan ide itu. “Kenapa Aciel?”
“Dia pria berkuasa yang bisa menolongmu menemukan Olivia.”
__ADS_1
“Ya, tolong beritahu Aciel.” balas Sian lesu dan segera mematikan sambungan teleponnya.
Akhir-akhir ini Sian lebih banyak menghindari Aciel. Entah kenapa ia merasa malu pada pria itu karena ia tidak bisa mengurus keluarga kecilnya dengan benar. Dan ia yakin sebentar lagi Aciel akan melayangkan pukulan keras di wajahnya karena ia telah lalai dalam menjaga Olivia.