Black Swan

Black Swan
Lutherford Family (Ninety Nine)


__ADS_3

             “Maa ma... mma... mmaa....”


            Eden tersenyum lembut kearah putra menggemaskannya yang mulai belajar berbicara sejak satu minggu terakhir ini. Apapun yang ia dengar dari ibu ataupun kakak cantiknya, pasti akan ditirukan dengan aksen bayinya yang tidak jelas, atau biasanya Aciel menyebutnya bahasa alien. Seperti yang terjadi pagi ini, Louise sedang sibuk meneriakan kata mama berkali-kali meskipun sejak tadi Eden terus mengoreksinya untuk mengatakan mommy.


            “Mom... my... Ayo katakan mommy, sayang.”


            “Mom... mamm mmaa mmaa... mama!”


            Louise kecil mencoba menirukan suara ibunya sambil memukul-mukul sendok plastiknya dengan heboh ke atas meja bayinya. Cipratan demi cipratan bubur terlihat menempel di sana sini saat Louise mulau membuka mulutnya lagi untuk mengoceh dengan bahasa bayinya yang tidak jelas.


            “Sayang, ayo buka mulutmua sekali lagi, suapan terakhir...” ucap Eden lembut sambil menyodorkan sesendok bubur berwarna hijau yang terlihat menjijikan. Sayangnya Louise sangat suka bubur buatan Eden yang selalu dicampur wanita itu dengan berbagai macam sayuran hingga bubur itu terlihat berwarna hijau keruh di dalam mangkuk bayi milik Louise.


            “Anak pintar!” puji Eden senang saat Louise berhasil menelan makanannya tanpa disembur seperti sebelumnya karena Eden telah memegang dagu Louise sebelum balita menggemaskan itu mulai membuka mulutnya untuk berceloteh dengan cerewet.


            “Nah, saatnya mandi. Jagoan mommy harus tampan seperti daddy.”


            “Dad... dadd...”


            Lagi-lagi Louise menirukan gaya bicara Eden dan tertawa dengan begitu gembira saat Eden menggelitik perut gendut Louise dengan gelitikan lembut beberapa kali.


            “Ya Tuhan, kau gembira sekali hari ini. Ayo kita mandi, bebek kuningmu sudah menunggu di kamar mandi.”


            Eden segera mengangkat tubuh berisi Louise setelah ia mengelap sisa-sisa makanan yang tumpah mengotori mulut hingga baju tanpa lengan yang digunakan Louise. Eden lalu meminta salah satu pelayannya yang kebetulan lewat untuk membersihkan tumpahan bubur Louise di meja makan bayinya dan juga di lantai tempat Louise menghabiskan sarapannya hari ini.


            “Mommy!”


            “Ya sayang?”


            Eden berhenti sebentar di ujung tangga saat putri kecilnya yang baru saja mewarnai terlihat berlari-lari kearahnya sambil membawa selembar kertas berukuran kecil.


            “Apa yang kau bawa sayang?”


            “Foto.” ucap Ciara pendek. Gadis kecil itu mengacungkan sebuah foto yang ia temukan di gudang ketika ia dengan rusuhnya ikut membantu para pelayannya untuk membersihkan gudang yang akan diubah menjadi tempat penyimpanan barang-barang milik Louise yang tidak terpakai. Dan saat ikut membuat kekacauan di gudang itu, Ciara menemukan selembar foto yang tak sengaja terjatuh dari salah satu kardus ketika salah satu pelayannya mengangkat kardus itu untuk dibuang.


            “Aku menemukan foto daddy.” pamer Ciara bangga. Di wajahnya tercetak jelas binar-binar kebahagiaan karena berhasil menemukan sesuatu yang berhubungan dengan daddynya. Namun ketika Eden melihat foto yang diacungkan Ciara kearahnya, seketika wajah Eden berubah datar dan malas.


            “Apa daddymu tahu kau menemukan fotonya?” tanya Eden datar. Ciara yang tidak mengetahui adanya perubahan dalam nada suara ibunya tampak tak peduli dan hanya ikut berjalan di belakang ibunya yang akan memandikann Louise di kamarnya.


            “Aku menunjukan ini pada paman Sian kemarin. Lalu paman Sian bilang jika daddy adalah player. Mommy, player itu apa?”


            Seketika Eden ingin sekali mengutuk mulut sialan Sian yang dengan seenaknya telah meracuni anaknya dengan hal-hal yang berhubungan dengan urusan orang dewasa. Jelas-jelas Sian tahu jika Ciara menunjukan foto ayahnya yang sedang berpesta bersama wanita-wanita cantik, tapi pria itu justru semakin meracuni otak anaknya dengan hal-hal buruk yang dulu pernah dilakukan ayahnya. Ahh.. ngomong-ngomong soal hal buruk, bahkan Eden sekarang juga tidak tahu bagaimana tabiat Aciel selama ini ketika berada di luar rumah, khususnya ketika pria itu berada di kantor karena Eden sudah terlalu repot mengurus dua anaknya di rumah dan hanya mempercayai apapun yang Aciel katakan selama ini, jika dirinya sudah tidak lagi sebrengsek dulu.


            “Mommy, apa itu player? Kenapa mommy diam saja?” kejar Ciara saat mereka telah berada di dalam kamar, dengan Eden sedang sibuk menyiapkan air hangat untuk Louise.


            “Sebentar sayang, mommy akan memandikan adikmu dulu. Ayo kiddo, kita mandi. Bebekmu sudah menunggu di kamar mandi.” Eden segera mengangkat Louise dari atas ranjang dan meninggalkan Ciara yang sedang duduk dengan manis di atas ranjang milik orangtuanya. Dengan sabar gadis kecil itu menunggu ibunya selesai memandikan Louise sambil sesekali berguling-guling di atas ranjang milik orangtuanya untuk membuat kekacauan kecil di sana.


            Sementara itu di dalam kamar mandi, Eden sedang sibuk membasuh tubuh Louise yang terlihat lengket dimana-mana karena bubur yang ia makan tumpah disekitaran leher hingga dada. Pria kecil itu sesekali menyipratkan air pada ibunya saat Eden sedang berusaha memberikan sabun disekitar leher dan dadanya.


            “Semoga kau tidak seperti kakakmu, Lou.” keluh Eden yang mulai dibuat pusing dengan rasa ingin tahu Ciara yang begitu tinggi akhir-akhir ini. Sedikit saja ia mendapatkan informasi baru yang tidak diketahui, maka ia akan terus meneror ibunya hingga ibunya mau memberikan jawaban yang memuaskan untuk dirinya. Terkadang Eden merasa iri pada Aciel yang jarang mendapatkan pertanyaan-pertanyaan sulit dari Ciara karena pria itu lebih sering pulang larut ketika putri mereka telah tertidur. Dan tentu saja Aciel akan berangkat ke kantor ketika Ciara juga sedang sibuk bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, sehingga Aciel jarang mendapatkan jatah pertanyaan sulit dari Ciara.


            “Hmm.. sepertinya bebek kuningmu sudah kedinginan, waktunya keluar, sayang.” ucap Eden lembut sambil mengangkat Louise dari dalam bathtube dan segera menutupi tubuh Louise dengan handuk yang telah ia siapkan di dekat wastafel.


            Saat Eden keluar dari kamar mandi, Eden melihat Ciara masih bertahan di tempatnya dengan selembar foto yang masih berada di dalam genggamannya. Dengan napas berat Eden segera berjalan kearah ranjangnya sambil menyiapkan berbagai macam jawaban yang akan ia berikan pada putri cerdasnya.


            “Lou! Kau sudah mandi? Biar aku yang memakaikan Louise baju, mom.” seru Ciara heboh. Gadis kecil itu langsung melompat turun dari atas ranjang dan melompat-lompat dengan antusias di dekat ibunya.


            “Kau bisa membantu mommy ambilkan diapers di dalam lemari?” tunjuk Eden pada lemari kecil di sebelah lemari pakaiannya. Dengan penuh semangat Ciara segera berlari kearah lemari dan mengambil sebuah diapers untuk adiknya yang lucu.


            “Mom, biar aku yang memberikan lotion di tangan Louise.”


            Eden memberikan begitu saja sebotol lotion pada Ciara dan membiarkan gadis kecil itu mengusapkan lotion dengan lembut pada adiknya. Toh tidak setiap hari Ciara melakukan hal ini. Saat gadis kecil itu tidak libur seperti hari ini, Ciara tidak akan bisa membuat keributan di sekitarnya ketika ia sedang memandikan Louise.


            “Mommy, player itu apa?”


            “Apa?” Eden pikir Ciara telah lupa, ternyata gadis kecil itu tidak bisa dialihkan sedikitpun dari rasa ingin tahunya yang tinggi.


            “Player itu suatu sikap yang buruk.”


            “Jadi daddy buruk?” tanya Ciara polos. Eden langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil berpikir keras bagaimana caranya ia menjelaskan pada Ciara mengenai sikap Aciel yang memang buruk di masa lalu. Seharusnya Sian bertanggungjawab untuk menjelaskannya pada Ciara!


            “Daddy... memang buruk, tapi itu dulu.” jawab Eden berusaha tenang. Setelah ia selesai memakaian Louise baju, ia lalu meletakan Louise di tengah ranjang untuk memberikan ASI. Lagipula Louise yang kekenyangan sudah terlihat mengantuk dan ingin segera tidur di dalam dekapan ibunya yang hangat.


            “Lalu siapa wanita-wanita ini, mom? Teman daddy?”


            “Emm... ya, itu teman daddy.”


            “Teman daddy banyak, berarti daddy tidak buruk.” gumam Ciara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


            “Tapi daddy membuat mommy menangis karena daddy meninggalkan mommy. Menurut Ciara apakah itu baik jika daddy membuat mommy menangis?”


            “Tidak! Membuat mommy menangis itu buruk!” sahut Ciara keras hingga membuat Eden langsung membungkam bibir kecil Ciara agar ia tidak mengejutkann Louise yang sudah terkantuk-kantuk di dalam dekapannya.


            “Ssshhh.... jangan keras-keras sayang, adikmu sedang tidur.” bisik Eden dengan jari telunjuk yang ia arahkan ke depan bibirnya. “Nah, sekarang Ciara tahu jika player itu sesuatu yng buruk. Karena jika daddy memiliki sifat player, maka daddy akan membuat mommy menangis.” lanjut Eden mencoba memberi penjelasan pada Ciara. Sesungguhnya ia telah kehabisan kata-kata untuk membuat Ciara mengerti dengan istilah itu. Tapi sudahlah, asalkan Ciara tidak menerornya dengan foto dan kata-kata itu, maka baginya itu cukup.


            “Daddy jahat kalau begitu. Ciara akan memarahi daddy!” ucap Ciara berapi-api di depan Eden hingga membuat Eden tergelak seketika karena sepertinya ia berhasil membuat Ciara berpihak kepadanya.


            “Hmm... jadi Ciara sudah tahu apa yang harus Ciara laukan jika daddy membuat mommy menangis?”


            “Tahu.” jawab Ciara tegas. “Jika daddy membuat mommy menangis, Ciara akan memarahi daddy.”


            “Bagus, anak pintar.” puji Eden bangga karena ia berhasil membuat sekutu bersama Ciara. Ia yakin setelah ini Ciara akan lebih membelanya jika ia dan Aciel sedang berdebat konyol karena selama ini Eden jengah dengan sikap Ciara yang selalu membela ayahnya dibandingkan dirinya.


-00-


            “Daddy pulang!”


            Tidak biasanya hari ini Aciel pulang lebih awal. Pukul tujuh malam, saat langit Kota Vegas masih menunjukan semburat orange, Aciel telah berada di rumah lengkap dengan wajah sedikit lelah yang terlihat menghiasi wajah tampannya.


            “Dimana Eden dan anak-anak?” tanya Aciel pada salah satu pelayannya saat ia tak mendapati siapapun berada di ruang keluarga. Rasanya ini tidak jauh berbeda untuk Aciel karena saat ia pulang larut malampun ia juga tidak mendapatkan sambutan dari siapapun seperti saat ini.


            “Di ruang bermain nona Ciara, tuan.” jawab pelayan itu sopan. Sedikit menaikan alisnya, Aciel kemudian mengarahkan kakinya ke arah ruang bermain Ciara yang berada di sebelah ruang kerjanya. Samar-sama Aciel dapat mendengar suara tawa Ciara yang begitu renyah, dan suara celotehan Louise yang begitu berisik. Ahh.. sudah berapa lama ia melewatkan tumbuh kembang anak-anaknya hingga sekarang ia merasa takjub dengan kemajuan Louise yang mulai pintar berbicara.


            “Hai, daddy pulang.”


            “Daddy!”


            Eden refleks menutup telinganya saat Ciara memanggil ayahnya dengan suara melengkingnya yang begitu keras di dekat telinganya. Gadis kecil itu dengan semangat berlari kearah ayahnya dan menghambur ke dalam pelukan Aciel begitu ia merentangkan tangannya pada putri manisnya.


            “Hai princess.”


            “Hai daddy.”


            “Dadd da...” celoteh Louise yang berhasil membuat Aciel takjub. Baru kali ini ia mendengar Louise memanggilnya daddy karena ia jarang berada di rumah untuk berkumpul bersama anak-anaknya akhir-akhir ini.


            “Sejak kapan ia bisa berbicara?”


            “Sejak satu minggu terakhir ini. Kau terlalu sibuk di kantor, Ace.” tegur Eden saat melihat wajah takjub Aciel yang terlihat berbinar-binar dengan perkembangan yang ditunjukan Louise.


            “Maaf, ada banyak proyek yang harus kutangani.”


             Eden menggeser tubuhnya ke kiri, mempersilahkan Aciel untuk bergabung bersama mereka untuk duduk di tengah-tengah mainan milik Ciara yang berserakan kesana kemari.


            “Aku merindukan kalian. Sudah lebih dari dua minggu aku selalu pulang larut malam. Sebenarnya hari ini beberapa rekan kerjaku mengundang untuk menghadiri makan malam.”


            “Kenapa tidak datang?” tanya Eden heran. Bukankah Aciel tidak pernah absen dari jamuan makan malam apapun? Setahu Eden, Aciel menyukai acara pesta dan kegiatan berkumpul bersama teman-temannya di klub atau di sebuah restoran mahal.


            “Aku malas.” jawab Aciel sekenanya. Pria itu sesekali tersenyum kecil melihat Ciara yang sibuk menyanyikan lagu anak-anak di depannya. Hatinya terasa hangat setiap kali melihat kebahagiaan keluarganya, terutama anak-anaknya yang tumbuh dengan sangat sehat bersama Eden. “Jamuan makan malam pasti selalu diisi oleh wanita-wanita penggoda yang menjijikan.”


            Eden terihat mengerutkan dahinya heran mendengar jawaban yang baru saja dilontarkan oleh Aciel. “Kenapa? Bukankah sejak dulu memang seperti itu? Wanita-wanita seksi akan disiapkan untuk menghibur kalian?”


            “Ck, aku malas, Ed. Itu membosankan. Lebih baik aku pulang dan berkumpul bersama kalian daripada menghabiskan waktuku dengan sia-sia bersama mereka.”


            “Wow.” komentar Eden takjub. “Sejak kapan seorang Aciel kehilangan gairahnya pada wanita-wanita seksi?” tanya Eden terkekeh. Ia masih tak percaya dengan perubahan drastis yang telah ditunjukan Aciel semenjak mereka menikah dan memiliki Ciara serta Louise.


            “Sejak kau menjungkirbalikan duniaku, sayang.”


            “Daddy player.” cletuk Ciara tiba-tiba yang berhasil membuat Aciel mengernyit heran.


            “Apa? Apa dia baru saja mengataiku player?”


            “Daddy player, dan itu membuat mommy menangis.”


            “Ed, kau ingin menjelaskan sesuatu padaku?” tanya Aciel memincingkan matanya. Seingatnya ia tidak pernah menyebut kata itu di rumahnya. Terlebih lagi meracuni otak Ciara yang polos dengan sesuatu yang berhubungan dengan orang dewasa.


            “Tanyakan saja pada anakmu.” balas Eden acuh tak acuh. Ia lalu berpura-pura mengajak bermain Louise yang sejak tadi terus mengacung-acungkan puzzle milik Ciara yang beberapa saat yang lalu juga telah ia gigit dengan dua giginya yang baru tumbuh.


            Sementara itu, Aciel masih tidak mengerti dengan ucapan Ciara padanya. Gadis kecil itu sekilas terlihat sibuk bermain, tapi kata-katanya yang baru saja terlontar sedikit mengejutkannya.


            “Sayang, apa maksudmu dengan mengatakan player?”


            “Jika daddy membuat mommy menangis, aku tidak akan mencintai daddy lagi. Aku akan memarahi daddy!” ucap Ciara galak dan berlalu pergi begitu saja dari ruang bermainnya. Eden yang melihat itu hanya terkekeh kecil, dan setelah itu ia berinisiatif untuk menyiapkan makan malam karena jam memang telah menunjukan pukul setengah delapan malam.


            “Saatnya makan malam, Ace.”


            “Aku masih tidak mengerti dengan ucapan Ciara. Bagaimana mungkin ia bisa berbalik memusuhiku seperti itu.”

__ADS_1


            “Nanti aku jelaskan. Sekarang saatnya makan malam, dan saatnya kau untuk minum susu, pria kecil mommy yang menggemaskan.” ucap Eden beralih pada Louise yang sedang terkikik geli karena Eden baru saja menggelitik perut gendutnya. Mereka berdua lalu berjalan keluar dan meninggalkan Aciel sendiri yang masih sibuk dengan pikirannya yang dipenuhi berbagai macam pertanyaan.


-00-


            Malam hari saat semua penghuni mansion Aciel telah masuk ke kamar mereka masing-masing, Aciel masih terjaga di sebelah Eden dengan berbagai pertanyaan yang masih bersarang di kepalanya. Ditambah lagi sikap sinis Ciara yang tiba-tiba memusuhinya sedikit membuat Aciel risau. Ia merasa tidak pernah melakukan kesalahan apapun akhir-akhir ini. Namun tiba-tiba ia mendapatkan perlakuan yang sedikit aneh dari putri kesayangannya.


            “Ed..”


            “Hmm?” Eden melirik Aciel sekilas, tapi ia langsung beralih lagi pada Louise yang sedang bermain-main dengan jarinya sambil sesekali memasukan jari-jari ibunya ke dalam mulut kecilnya.


            “Tidur, Ace. Kau akan kelelahan besok pagi.”


            “Aku masih tidak mengerti dengan perubahan sikap Ciara hari ini. Apa aku telah melakukan kesalahan?”


            Eden tiba-tiba saja ingin tertawa saat melihat wajah Aciel yang tampak memelas. “Jangan terlalu dipikirkan, Ciara hanya anak-anak.” ucap Eden akhirnya.


            “Tapi itu aneh.” Aciel memutuskan untuk memiringkan tubuhnya menghadap kearah Louise yang kini sedang menatap kearahnya dengan kedua mata coklatnya yang menggemaskan.


            “Dadd da... da...” Louise menggapai-gapai tangan Aciel brutal. Lalu saat Aciel memberikan tangannya, bayi itu langsung melahap tangan ayahnya dengan rakus hingga lelehan saliva bayi itu menetes-netes di atas seprai biru yang baru saja diganti oleh Eden.


            “Ohh.. kau haus sayang.” Eden segera melepaskan tangan Aciel dari genggaman Louise, membuat bayi itu merasa tak terima dan mengeluarkan rengekan manjanya. Namun saat Eden memberikan bayi itu ASI, Louise langsung tenang dan sibuk menyusu di dalam dekapan ibunya yang hangat.


            “Haahh...”


            “Ada apa denganmu?” tanya Eden heran saat melihat Aciel yang baru saja mendesah berat dengan wajah penuh kefrustrasian yang tercetak jelas di wajahnya.


            “Kapan


aku akan mendapatkan bayi perempuan?”


            “Apa? Jangan macam-macam, Ace.” bisik Eden penuh peringatan. Ia berusaha berbicara sepelan mungkin agar Louise yang sudah terkantuk-kantuk itu tidak kembali bangun.


            “Kenapa memang? Aku ingin Ed. Bukankah dulu kau berjanji akan mengabulkan keinginanku?”


            “Tapi...” Eden telah membuka mulutnya, lalu ia menutupnya lagi saat ia tak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk membalas kata-kata Aciel. Hampir saja ia lupa jika ia masih memiliki janji itu. Dan sialnya Aciel telah menggunakan senjata rahasianya itu dengan baik untuk menyerangnya.


            “Louise sudah semakin besar. Kurasa tidak apa-apa jika kau hamil lagi.”


            “Tunggu hingga Louise berusia dua tahun.” ucap Eden telak. Kemudian suasana diantara mereka menjadi hening. Hanya suara jam dinding dan hembusan dari air conditioner yang mengisi kesunyian yang terjadi diantara mereka. Eden yang menyadari kediaman yang ditunjukan oleh suaminya menjadi sedikit terganggu. Hati


kecilnya terus memperingatkannya jika Aciel kemungkinan marah padanya hingga pria itu memilih untuk diam daripada membalas kata-katanya seperti biasa.


            “Kenapa diam?” Eden yang tidak tahan mencoba memancing suaminya untuk kembali berbicara.


            “Dua tahun kurasa terlalu lama, bagaimana jika saat Louise telah berusia satu tahun.”


            “Ya ampun, Ace!” bisik Eden gemas. Ia pikir Aciel tidak akan membahas masalah itu lagi, nyatanya Aciel masih terus membahasnya, bahkan mengajukan penawaran seolah-olah pria itu sedang menangani tender.


            “Aku lelah Ace jika harus mengurus satu bayi lagi.”


            “Aku dengan senang hati akan menyediakan babysitter untuk membantumu.”


            “Ya Tuhan Ace!” geram Eden kesal. Ia kemudian memilih untuk mengabaikan Aciel yang masih terus saja berceloteh mengenai keseruannya jika memiliki satu anak lagi. Pria itu berangan-angan ingin membuat mansionnya menjadi lebih hidup dengan suara anak-anaknya yang berisik. Ia juga memiliki ambisi untuk menjadikan anak anaknya kelak sebagai pebisnis hebat sepertinya yang akan memegang masing-masing satu perusahaan miliknya. Mendengar itu, Eden seketika menjadi pusing dan tidak ingin lagi mendengar apapun yang keluar dari bibir Aciel karena itu hanya akan menjadi mimpi buruk untuknya.


            “Apa kau mendengarku, Ed?”


            “Hmm... tidur Ace.” balas Eden dengan suara yang terdengar tidak jelas karena ia telah mengantuk. Mendengar Aciel mengoceh sama saja dengan mendengarkan dongeng pengantar tidur seperti saat ia membacakan dongeng untuk Ciara beberapa saatyang lalu.


            “Bisakah kita memindahkan Louise ke dalam boxnya?”


            “Memangnya kenapa?”


            “Aku merindukanmu Ed.”


            “Tidak! Louise akan tetap di sini bersamaku. Ia sedang rewel akhir-akhir ini.” ucap Eden cepat saat ia tahu kemana arah pembicaraan ini akan berakhir.


            “Kalau begitu biarkan aku menciummu.”


            “Astaga Ace!” geram Eden kesal. Gerakannya yang tiba-tiba itu membuat Louise terkejut dan menangis cukup keras di depan ayah ibunya yang sedang dalam mode konyol.


            “Ini salahmu.” teriak Eden kesal. Baru saja ia ingin tidur, namun Aciel justru mengganggunya, dan sekarang ia harus membuat Louise yang rewel kembali tidur seperti sebelumnya. Namun ia tahu jika Louise yang rewel akan lebih sulit ditenangkan.


            “Kenapa hanya diam? Anakku menangis karena kau mengejutkannya.” Aciel menatap Eden sangsi yang sejak tadi hanya membrengut di depannya tanpa sedikitpun mengambil tindakan untuk mengangkat Louise yang telah menangis semakin kencang.


            “Kau yang urus Louise, aku mengantuk.”


            Eden dengan seenaknya berbaring memunggungi Aciel dan Louise yang masih berteriak-teriak di belakangnya. Persetan dengan Aciel yang sedang menatapnya dengan tatapan menusuk saat ini. Ia lelah, dan ia hanya ingin tidur sebelum Aciel mengacaukan semua angan-angannya dengan bersikap cerewet.

__ADS_1


            “Jika kau ingin bayi lagi, maka kau harus merasakan bagaimana sulitnya mengurus bayi.” ucap Eden galak dan segera memejamkan matanya tanpa ingin peduli pada Aciel yang kini sedang bersusah payah untuk menenangkan Louisee yang rewel.


__ADS_2