
“Aku bertemu dengan Eden. Dan kau sama sekali tidak terkejut, berarti kau sudah mengetahuinya sejak awal.” ucap Sian sambil bertopang dagu di atas meja kerja Aciel. Di depannya, Aciel sedang sibuk menandatangani beberapa berkas sambil sesekali melirik kearah Sian yang cerewet.
“Bagaimana menurutmu?”
“Maksudmu?”
“Bagaimana Eden setelah empat tahun menghilang?”
“Eden terlihat lebih dewasa dan keibuan. Putrinya, kau telah bertemu dengan anaknya? Eden melahirkan bayi perempuan.” beritahu Sian heboh. Pria itu ternyata masih merasakan euforia dari foto-foto Ciara yang ia lihat kemarin siang. Ia berharap, ia dapat bertemu dengan Ciara dan memperkenalkan diri sebagai paman tampannya.
“Hmm.. Eden melahirkan bayi perempuan bernama Ciara. Aku sudah bertemu dengannya kemarin, dan sedikit mengobrol.”
“Ahh... kau beruntung. Aku juga ingin bertemu dengan Ciara. Kurasa putri Eden sangat cantik, sama seperti Eden. Dan... ia sedikit mirip denganmu saat aku melihat fotonya.”
“Aku juga berpikir seperti itu.” gumam Aciel pelan sambil menerawang jauh kearah jendela kantornya yang langsung menyajikan hamparan langit Las Vegas yang terlihat cantik.
“Ciara terlihat mirip denganku. Karena itulah sekarang aku meragukan hasil tes DNA yang pernah Eden tunjukan padaku empat tahun yang lalu. Kurasa Eden saat itu hanya ingin melepaskan diri dariku dan juga melakukan balas dendam padaku.”
“Ya, mungkin kau benar. Eden ingin melihatmu hancur setelah ia memberikan harapan besar padamu.” ucap Sian setuju sambil mengetuk-ketukan jarinya di atas meja. Semuanya bisa menjadi mungkin jika itu menyangkut keinginan balas dendam yang ingin Eden lakukan sejak dulu. Dan secara kebetulan kehamilannya dapat dimanfaatkan untuk menghancurkan Aciel dengan telak.
“Kalau begitu kau harus mulai menyelidikinya mulai sekarang. Tapi tunggu, bagaimana jika Eden akan kembali ke Perancis, kau akan lebih sulit untuk melacaknya.”
Seketika Aciel tersenyum misterius sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Bukan Aciel namanya jika ia tidak melakukan hal-hal licik umtuk mengantisipasi lawannya.
“Aku sudah membekukan dokumen-dokumennya untuk perjalanan ke luar negeri, jadi ia tidak akan bisa pergi kemanapun.”
“Sejak kapan? Kau benar-benar pria sakit jiwa yang mengerikan Ace.” komentar Sian sakarstik. Pria itu langsung menggelengkan kepalanya sambil memberikan tatapan tak habis pikir pada pria itu. Salah satu tangannya kemudian meraih sekaleng coke di atas meja dan langsung meneguknya setelah ia berhasil membukanya dengan mudah.
“Sian, selain mengenai Ciara, aku juga mencurigai Zyan. Tolong kau lacak keberadaan pria itu. Eden sepertinya menyembunyikan banyak hal dariku.”
“Apa Eden akan baik-baik saja dengan semua itu? Sebenarnya apa yang akan kau lakukan pada Eden? Kenapa kau tidak membiarkannya hidup dengan keluarga kecilnya seperti dulu.”
“Kurasa aku tidak bisa. Kali ini aku akan mendapatkan Eden kembali untuk diriku sendiri.”
Sian melihat adanya kilatan kesungguhan yang sangat mengerikan dari kedua mata Aciel. Ia yakin setelah ini Aciel pasti akan melakukan hal-hal nekat untuk membawa Eden kembali ke dalam pelukannya. Hanya saja ia berharap, semoga sahabatnya itu tidak melukai Eden lagi dengan seluruh rencana gilanya yang mengerikan seperti dulu.
“Kau mencintai Eden?”
“Menurutmu?”
“Jika kau menginginkan Eden, kau juga harus bisa menjadi ayah yang baik untuk Ciara. Terlepas Ciara adalah anakmu atau bukan, kau tetap harus menyayanginya seperti anakmu sendiri. Apa kau bisa? Aku tidak mau melihat Eden menderita karena sikap brengsekmu. Dulu aku pernah berjanji padanya untuk membantunya menghancurkanmu jika kau terbukti menyakitinya lagi.”
“Wow, rupanya hubunganmu dan Eden sudah sejauh itu. Aku tidak menyangka. Bukankah kau adalah sahabatku, kau seharusnya berpihak padaku, bukan Eden.” geram Aciel tertahan. Namun kali ini Sian sepertinya sedang serius dan ingin menegaskan pada Aciel jika ia bisa menjadi musuh jika pria itu sekali lagi menyakiti Eden.
“Aku tidak peduli dengan hubungan persahabatan kita bila itu menyangkut masalah Eden.”
“Hmm... take it easy Sian, kau benar-benar terlalu menganggap serius masalahku dan Eden. Kujamin kali ini tidak akan sama seperti dulu. Aku tidak akan membuatmu harus berbalik menyerangku karena kau membela Eden. Aku akan membuat semuanya menjadi lebih halus dengan angka keberhasilan yang tinggi.” seringai Aciel penuh percaya diri. Sian hanya menatap itu tanpa minat sambil beranjak berdiri dari kursinya.
“Kalau begitu, semoga sukses dengan rencanamu. Dan kau harus tepati janjimu untuk tidak menyakiti Eden.”
Drrtt drrt
Langkah Sian sedikit melambat saat ia mendengar ponsel Aciel berdering, lalu disusul dengan suara Aciel yang tak terdengar biasa. Dugaanya, sesuatu yang buruk pasti sedang terjadi. Atau Aciel mungkin sedang mendapatkan karma dari perbuatan liciknya selama ini.
“Siapa yang menghubungimu? Kau terlihat buru-buru.
“Petugas imigrasi, mereka mengamankan Eden dan Ciara yang nekat akan kembali ke Perancis setelah aku membekukan dokumen-dokumen perjalanan mereka. Dasar bodoh!” umpat Aciel kesal sambil terburu-buru menyambar kunci mobilnya. Sian yang melihat itu hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya pelan.
“Kau seharusnya tidak meremehkan Eden, jika kau tidak ingin direpotkan seperti ini.”
-00-
Di
bandara Eden sedang menahan kesal sambil menatap sinis dua petugas imigrasi yang memperlakukannya seperti seorang penjahat yang berbahaya. Ia dan Ciara diseret paksa ke dalam sebuah ruangan untuk melakukan pemeriksaan karena ia nekat ingin pergi ke Perancis. Padahal semua dokumen-dokumen perjalanannya telah dibekukan oleh Aciel. Sial memang pria itu. Ia pikir Aciel hanya sebatas menggertaknya dan tidak benar-benar membekukan dokumen-dokumen perjalanannya. Tapi ternyata, pria itu benar-benar melakukannya dengan alasan cacatan buruknya di kantor kepolisian.
“Sudah kukatakan aku bukan penjahat, aku telah dijebak oleh Aciel.” sungut Eden kesal dengan wajah merah menahan kesal. Di sebelahnya Ciara tampak ketakutan dan hampir menangis saat melihat ibunya yang terus dibentak-bentak oleh petugas imigrasi itu dengan kasar.
“Mommy... takut.”
“Ssshh... tenanglah Ciara, tidak akan ada yang melukaimu. Mommy di sini bersamamu.”
Eden memeluk Ciara erat dan mengelus puncak kepala gadis itu agar lebih tenang. Ia takut semua kejadian tak mengenakan ini akan membuat Ciara trauma hingga ia dewasa.
“Tuan Lutherford, selamat siang.”
Tiba-tiba Eden melihat petugas itu berdiri dan langsung memberikan hormat kearah seseorang. Dan tanpa melihatnya sekalipun, ia sudah tahu jika pria itu pasti Aciel. Pengacau itu memang harus datang ke kantor ini untuk meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi karena rencana liciknya.
__ADS_1
“Apa yang terjadi dengannya?”
Aciel menunjuk Eden dengan dagunya sambil melirik malas wanita itu.
“Paman... Paman Aciel!”
Ciara berseru keras kearah Aciel dan langsung memeluk kaki Aciel girang. Melihat itu Aciel langsung membungkuk dan membawa Ciara ke dalam gendongannya.
“Apa yang kau lakukan di sini bersama ibumu?”
“Mereka membentak-bentak mommy.” lapor Ciara polos. Seketika dua petugas itu langsung menunduk takut sambil memainkan ujung jari mereka gugup. Aciel yang mendengar laporan dari Ciara hanya berdeham sebentar untuk membasahi tenggorokannya sambil melirik kearah Eden yang sejak tadi seperti enggan untuk melihat kearahnya.
“Aku akan menebus mereka, biarkan mereka keluar.”
“Tidak perlu! Aku akan meminta bantuan Tranz.”
Seketika Eden berseru dengan wajah sengit, siap untuk membantah Aciel.
“Huh, keras kepala seperti biasa. Pikirkanlah Ciara yang kelelahan jika harus menunggu Tranz datang. Sekarang cepat berdiri dan bawa barang-barangmu, aku tidak menerima penolakan.”
Aciel langsung berjalan pergi begitu saja meninggalkan Eden yang tampak bersungut-sungut di belakangnya. Pria itu seperti tidak mau peduli pada apapun yang akan dilakukan Eden, dan ia memilih untuk segera pergi sambil membawa Ciara di gendongannya. Wanita itu pasti akan segera pergi menyusulnya, karena putrinya ada bersamanya.
“Ibumu sangat keras kepala dan menjengkelkan. Semoga kau tidak mewarisi sifatnya.” gumam Aciel pada Ciara. Entah gadis itu mengerti atau tidak, tapi nyatanya gadis itu saat ini sedang menatap wajahnya intens dengan mata bulatnya yang sangat menggemaskan.
“Kau... memiliki mata berwarna coklat juga?”
Aciel tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada kedua mata coklat Ciara yang terlihat begitu cantik menghiasi wajahnya. Dan seperti ada getaran aneh di dalam dada Aciel saat ia melihat Ciara sedang tersenyum kearahnya sambil memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.
“Kata mommy mataku mirip dengan daddy.”
“Siapa? Siapa nama ayahmu? Zyan?”
“Daddy Zy...”
“Hey, jangan membawa Ciara sesuka hatimu.”
Tiba-tiba Eden menyela sambil menepuk kasar pundak Aciel. Ia terlihat seperti baru saja berlari sambil membawa dua kopor besar yang cukup berat di tangannya. Eden lalu memaksa Aciel untuk menurunkan Ciara dan pergi sejauh-jauhnya dari putrinya yang berharga.
“Bersikaplah lebih manis di depan putrimu.”
“Ck, berikan Ciara padaku.”
“Mommy keras, paman Aciel hangat dan lembut.” ucap Ciara polos sambil memeluk Aciel lebih erat. Eden yang melihat hal itu hanya mampu bersungut-sungut sebal dengan tatapan mengejek Aciel yang hari ini berhasil mendapatkan hati Ciara. Sekarang pria itu memiliki rencana baru untuk menaklukan Eden, ia akan memulainya dari Ciara. Ia yakin jika ia berhasil mengambil hati Ciara, maka Eden akan jauh lebih mudah untuk didapatkan.
“Masuk, letakan kopormu di belakang.”
Eden terpaksa menata kopornya sendiri dan masuk ke dalam mobil hitam milik Aciel. Ini sudah sangat lama sejak mereka berdua duduk bersebelahan dalam satu mobil. Ia masih ingat saat mereka bersama-sama pergi ke pantai ketika usia kandunganya sekitar tiga bulan. Dan sekarang ia harus berada di dalam satu mobil lagi dengan Aciel bersama Ciara yang telah berusia hampir menginjak empat tahun. Rasanya waktu sangat cepat berlalu, dan sadar atau tidak Aciel masih terlihat sama seperti saat terakhir kali ia meninggalkan pria itu. Mungkin hanya rambut Aciel yang sekarang sedikit lebih panjang dari sebelumnya. Selebihnya, pria itu sama sekali tidak terlihat menua seperti seharusnya.
“Kau serius tentang membekukan dokumen-dokumen perjalananku?”
“Kurasa kau sudah tahu jawabannya tanpa perlu kujelaskan sedikitpun.”
“Sampai kapan kau akan menahanku seperti ini?”
“Sampai aku bosan denganmu.”
Eden lagi-lagi merasa ingatannya terlempar pada kehidupannya bertahun-tahun yang lalu. Saat pria itu menjadikannya pemuas nafsunya. Dan rasanya sekarang ia seperti berada di posisi itu lagi. Ia akan menjadi pemuas nafsu pria itu, dan menjadi wanita yang terbuang setelah pria itu bosan dengannya. Pada tubuhnya.
“Kenapa kau sangat terobsesi pada tubuhku?”
“Apa kita sekarang sedang membahas tubuhmu? Kurasa tidak.” jawab Aciel menyebalkan. Eden lagi-lagi bersungut-sungut kesal sambil sesekali melirik Ciara yang sedang asik dengan dunia khayalannya. Entahlah, anak-anak terkadang seperti memiliki imajinasi sendiri, dan mereka akan berbicara pada udara kosong seperti mereka sedang berbicara dengan teman mereka.
“Ciara tidak mencari ayahnya?”
Tiba-tiba Aciel bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya pada jalanan yang cukup padat di depannya. Eden yang mendapatkan pertanyaan seperti itu refleks memutar otaknya cepat agar jawabannya tidak terdengar mencurigakan di telinga Aciel.
“Dia sudah melakukan video call tadi.”
“Bagaimana selama ini Zyan membesarkan Ciara?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Hanya ingin tahu. Kau selama ini selalu memujanya sebagai pria baik yang tidak pernah memiliki catatan kejahatan, jadi aku cukup penasaran dengan gaya didikannya. Sejauh yang kulihat, Ciara sepertinya lebih banyak dipengaruhi olehmu.”
Eden menggigit bibir bawahnya sebentar dan mencoba mencari jawaban yang terdengar cukup masuk akal di telinga Aciel. Bagaimana mungkin pria itu telah menganalisis Ciara hingga sejauh itu jika pada kenyataanya mereka baru bertemu dua kali.
“Darimana kau mendapatkan pemikiran seperti itu? Bahkan kau baru bertemu dengan Ciara sebanyak dua kali. Kau tidak bisa langsung menjustifikasi Ciara lebih banyak mendapatkan pengaruh dariku hanya dalam satu kali penilaian.”
__ADS_1
“Apa kau lupa jika aku telah mengamatimu selama tiga belas tahun kau hidup bersamaku. Dan sejauh yang kulihat, Ciara tak ubahnya seperti kau saat masih seusianya.”
“Sebenarnya sejak kapan kau mengenal ayahku?”
“Saat usiaku dua puluh tahun. Kenapa, kau terkejut? Kau terkejut karena ternyata aku telah mengenalmu sejak kau baru berusia lima tahun?”
“Ya, dan aku sebenarnya tidak terlalu ingat dengan masa laluku. Kurasa aku baru benar-benar mengenalmu saat usiaku sembilan tahu. Saat itu kau datang bersama dengan seorang pria, yang... seusia dengan ayahku, lalu kalian tampak sangat serius sambil membicarakan sesuatu di ruang tamu.”
“Itu Marquez Odette. Kami dulu adalah rekan bisnis bersama ayahmu. Tapi kemudian Marquez pindah ke Australia dan memilih untuk menetap di sana.” jelas Aciel sambil menerawang masa lalu. Sejenak ia melupakan pertanyaanya mengenai Zyan, dan itu cukup membuat Eden lega, karena ia tidak perlu mengarang cerita bohong untuk mengelabuhi Aciel.
“Sampai dimana kita tadi, Zyan Clinton bukan? Jadi seperti apa cara pria itu mendidik Ciara?”
“Kenapa kau sangat ingin sekali tahu?” tanya Eden kesal.
“Hanya ingin tahu.”
“Zyan mendidik Ciara seperti ayah pada umumnya, dan memang selama ini aku yang lebih banyak bersama Ciara karena Zyan sibuk bekerja, apa kau puas!” jawab Eden kesal. Kekesalannya sebenarnya bukan karena pertanyaan Aciel, tapi karena ia harus mencari-cari cerita bohong agar Aciel mempercayai semua kata-katanya.
“Pekerjaan apa yang dilakukan Zyan saat ini? Dia dulu memiliki reputasi yang baik di bidang keuangan, bahkan Sian dengan terang-terangan juga memujinya.”
“Zyan bekerja di perusahaan makanan kaleng, di divisi keuangan, sama seperti saat bekerja di perusahaanmu dulu.”
Seketika Eden ingin menangis saat mengingat Zyan. Dulu pria itu mati-matian mencari pekerjaan kesana kemari agar dapat menghidupi keluarga kecilnya. Sedikit banyak dulu Zyan merasa kurang percaya diri dengan dirinya. Ia yang melihat bagaimana kehidupan glamor Eden ketika tinggal bersama Aciel membuatnya merasa tidak
pernah puas dengan jabatan yang diberikan dalam pekerjaanya. Hampir setiap bulan Zyan mengajukan resign karena menganggap perusahaan tempatnya bekerja tidak memberikannya gaji yang besar. Setidaknya dulu Zyan berharap gajinya akan sedikit sama dengan gajinya saat bekerja di perusahaan otomotif milik Aciel. Sayangnya mereka semua tidak bisa memberikan gaji yang terlalu tinggi pada Zyan karena belum terlalu percaya dengan kredibilitas yang dimiliki, sehingga pada akhirnya Zyan tidak pernah bertahan lama dengan pekerjaanya. Yang terakhir Zyan bekerja di perusahaan makanan kaleng yang cukup terkenal di California. Dan saat Zyan mulai betah bekerja di sana, Tuhan justru mengambil nyawa Zyan karena insiden kecelakaan yang mengerikan.
“Kau melamun.”
Eden tiba-tiba tersentak kaget saat tangan Aciel dengan sengaja menyentuh tangannya. Entah kenapa ia seperti baru saja tersengat listrik saat Aciel menyentuh telapak tangannya yang terasa dingin akibat hembusan air conditioner di dalam mobil Aciel.
“Hanya memikirkan kehidupanku dan Ciara. Kemana kita akan pergi? Apa kau berencana untuk menculik kami? Ini bukan jalan menuju apartemenku.”
“Lucu, untuk apa aku menculikmu jika kau tidak bisa pergi kemanapun tanpaku. Kita akan ke mansion untuk makan siang.”
“Kenapa harus ke mansion? Aku ingin pulang. Lihatlah, Ciara tertidur di belakang.” ucap Eden setengah berteriak agar Ciara tidak terbangun.
“Kim merindukanmu. Lebih baik kau diam, kita hampir sampai.” jawab Aciel asal.
Eden benar-benar tak habis pikir dengan rencana Aciel, dan ia sama sekali tidak bisa menebak jalan pikiran pria itu. Mungkin Aciel ingin membuatnya kembali merasakan dejavu. Merasakan kenangan masa lalu saat tinggal bersama dengan pria itu. Tapi kenapa? Kenapa Aciel seperti bersikeras untuk menariknya lagi ke dalam hidupnya. Apakah pernyataan cinta itu sungguhan? Atau pria itu hanya ingin mempermainkannya lagi?
-00-
“Nona Eden?”
Tuan Kim tak kuasa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Eden dengan langkah yang sedikit berat mulai berjalan memasuki ruang utama mansion milik Aciel yang megah. Di belakangnya, Aciel tampak mengekori Eden sambil menggendong Ciara yang tertidur dengan pulas di dalam dekapannya.
“Senang melihatmu lagi tuan Kim.”
Eden memeluk tuan Kim hangat sambil menyeka sedikit cairan bening yang entah mengapa mengalir turun dari sudut matanya. Mungkin karena ia sudah menganggap tuan Kim seperti ayahnya sendiri. Meskipun tuan Kim memang berada di bawah pengawasan Aciel, tapi sedikit banyak tuan Kim selalu melindunginya dari kemarahan Aciel. Pernah sekali tuan Kim berbohong pada Aciel ketika ia sedang pergi berkencan dengan Zyan. Kejadian itu meskipun telah terjadi bertahun-tahun yang lalu, namun selalu berhasil membuat Eden merasa terharu dengan pengorbanan tuan Kim. Andai saja Aciel saat itu tahu jika tuan Kim membohonginya, pria tua itu pasti akan mendapatkan masalah dan juga kemarahan yang mengerikan dari Aciel.
“Kim, kau sudah menyiapkan kamar Eden?”
“Sudah tuan, anda bisa menggunakannya sekarang.”
Dengan langkah tenang Aciel membawa Ciara ke lantai atas, melewati Eden yang masih sibuk dengan tuan Kim dan para maid yang lain. Tapi kemudian ia berjalan menyusul Aciel untuk naik kearah kamarnya yang sudah empat tahun ia tinggalkan begitu saja.
“Kau sama sekali tidak merubahnya?”
Eden terdiam di ambang pintu sambil mengamati isi kamarnya yang tak berubah sedikitpun. Lemari, ranjang, meja rias, semuanya masih berada di tempat yang sama. Bahkan seluruh perabotnya juga tampak dirawat dengan baik, tanpa debu yang menempel sedikitpun di sana.
“Kupikir suatu saat kau akan datang dan menggunakannya lagi.”
“Jadi kau memang sudah berencana untuk membawaku kembali ke sini lagi?”
“Mungkin.” jawab Aciel ambigu. Setelah ia meletakan Ciara dengan lembut ke atas ranjang, ia segera menghampiri Eden yang masih berdiri di ambang pintu, lalu menarik pergelangan wanita itu pelan menuju balkon kamarnya yang menghadap kearah taman luas mansionnya.
“Kau masih ingat salah satu hobimu? Duduk di atas balkon sambil memandang kearah langit yang terkadang cerah, atau terkadang mendung, kau masih mengingatnya?”
“Apa kau memperhatikanku selama ini?”
“Aku memiliki lebih dari dua mata Eden, jadi aku selalu tahu apapun yang kau lakukan selama ini.”
“Lalu, untuk apa kau mengajakku ke sini? Kau ingin membuatku terkesan dengan semua ini? Kau sengaja membawaku ke mansion, menunjukan kamar yang sama sekali tidak berubah, dan dengan tiba-tiba kau mengungkapkan salah satu kebiasaanku saat aku sedang memiliki banyak masalah. Apa ini semua ada kaitannya dengan pernyataan cintamu kemarin malam?” tanya Eden gusar. Ia sudah menahan semua rasa ingin tahunya sejak semalam, dan sekarang ia benar-benar ingin Aciel menjawab semua rasa penasarannya dengan jawaban, yang ia harap cukup masuk akal untuknya.
“Apa semuanya kurang jelas? Kenapa kau masih terus menanyakannya disaat aku telah mengatakan semuanya padamu. Aku mencintaimu Eden!” ucap Aciel geram sambil menarik pinggang Eden hingga kini mereka saling menempel dengan mata yang saling menatap satu sama lain. Di dalam mata coklat itu Eden dapat melihat
adanya kesungguhan yang terpancar dari diri Aciel, namun... ia tidak bisa mempercayai semua itu dengan mudah. Aciel bukanlah pria kemarin sore yang bersih dari tipu muslihat. Sudah banyak kesakitan yang ditorehkan Aciel selama bertahun-tahun hidup dengan pria itu. Jadi apakah salah jika ia tidak pernah bisa mempercayai seorang Aciel? Sebesar apapun kesungguhan yang telah ditunjukan oleh Aciel padanya, ia tidak akan pernah bisa untuk percaya.
__ADS_1
“Terlalu sulit untuk mempercayaimu. Berhentilah untuk berusaha karena itu tidak akan pernah merubah apapun.” desis Eden tajam sambil mendorong tubuh Aciel kasar. Ia kemudian meninggalkan tubuh penuh amarah Aciel begitu saja di balkon dengan angin dingin yang berhembus kencang menerpa tubuh kokohnya yang kaku. Kau tidak akan pernah bisa mendapatkanku lagi Aciel, tidak akan pernah bisa.