Black Swan

Black Swan
Lying and Divorce (One Hundred One)


__ADS_3

            Sore hari, Aciel akhirnya kembali bersama dua anaknya. Louise tampak begitu gembira karena akhirnya ia memiliki satu set mobil-mobilan baru dengan remot yang sangat canggih. Bahkan Aciel pun juga ikut memainkannya. Pria dewasa itu seperti kembali lagi ke masa kecilnya yang dulu tidak benar-benar manis seperti ini. Saat melihat Louise begitu asik bermain mobil remotenya, ia jadi tergelitik untuk memainkannya hingga ia


akhirnya berebut bersama Louise yang berubah konyol karena ayahnya mengganggu kesenangannya.


            “Kalian sudah pulang. Ace, berapa banyak uang yang kau habiskan untuk membeli mobil-mobilan itu?” tanya Eden galak pada Aciel sambil membawa segelas susu untuk Louise. Bocah kecil itu langsung menerima uluran susu dari ibunya tanpa perlawanan. Seakan-akan bocah kecil itu sudah lupa dengan kemarahannya pada ibunya sore tadi.


            “Mom, sepatuku baru.” pamer Ciara lucu sambil berjalan kesan kemari dengan wedges ungunya. Eden kemudian menatap Aciel tajam karena pria itu telah membelikan Ciara sebuah sepatu untuk wanita dewasa. Padahal selama ini Eden selalu melarang Ciara jika gadis kecilnya itu sudah merengek-rengek untuk dibelikan wedges, karena wedges tidak baik untuk anak seusia Ciara. Jika terlalu sering menggunakan wedges, perkembangan tulang kaki Ciara akan terganggu. Dan Eden tidak mau itu terjadi, sehingga Eden hanya membelikan Ciara sepatu flat shoes atau sepatu sneakers untuk melindungi kaki-kaki kecil Ciara yang masih dalam masa pertumbuhan.


            “Ace, kenapa kau membelikan Ciara wedges, ia tidak boleh menggunakan wedges, itu akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tulang kakinya.” omel Eden kesal. Aciel yang merasa lelah karena ia sejak tadi belum beristirahat sama sekali menjadi marah dan tersinggung. Ia tidak suka jika Eden menegurnya dengan nada seperti itu. Padahal ia baru saja kembali dari Jerman, tapi Eden justru menyambutnya dengan sesatu yang tidak menyenangkan dan justru memarahinya, seakan-akan ia adalah orang yang paling salah di rumah ini. Aciel kemudian bangkit dari duduknya dan langsung melemparkan remot kontrol milik Louise dengan keras ke atas karpet. Ia tidak suka jika Eden bersikap lancang seperti ini. Bagaimanapun ia adalah suaminya. Dan Eden harus selalau bersikap hormat padanya.


            “Kau tidak seharusnya memarahiku seperti itu. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anakku. Kenapa kau justru memarahiku seperti ini!” bentak Aciel emosi. Ciara dan Louise yang melihat ayahnya marah-marah pada ibunya langsung mendelik takut di belakang Eden sambil menyeka bulir-bulir air mata yang mulai turun membanjiri wajah mereka. Selama ini Aciel jarang sekali marah di depan anak-anaknya. Aciel biasanya hanya menegurnya dengan ketus jika Ciara atau Louise mulai nakal atau bertengkar karena berebut sesuatu. Dan kali ini mereka bedua benar-benar ketakutan saat melihat Aciel yang mulai membentak Eden dan menunjukan tatapan wajah garang pada ibu mereka.


            “Aku tidak memarahimu, aku hanya menegurmu. Ace. Kenapa kau justru membentakku seperti ini?” tanya Eden emosi. Ia yang masih merasa tidak enak badan menjadi mudah terpancing hanya dengan mendengar suara Aciel yang tinggi itu. Apalagi saat ini Ciara dan Louise sedang menangis ketakutan di belakangnya, itu berarti Aciel sudah benar-benar kelewatan dan keterlaluan.


            “Kau menyalahkanku karena aku membelikan Ciara dan Louise apa yang mereka inginkan. Padahal aku hanya ingin membahagiakan mereka. Selama ini aku jarang berada di rumah. Aku jarang memperhatikan tumbuh kembang mereka. Bahkan aku tidak tahu kapan Louise mulai bisa berjalan dan berbicara. Hari ini aku hanya ingin menjadi ayah yang baik untuk mereka. Aku ingin mereka mengingat hari ini sebagai hari yang tak akan pernah terlupakan seumur hidup mereka karena hari ini mereka menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang bersama ayahnya. Tapi kau justru mengatakan ini itu dan memarahiku dengan kata-kata pedasmu. Apa kau tidak sadar jika aku ini adalah suamimu? Kau seharunsya menghormtiku, bukan membentakku.”


            Eden semakin mengepalkan tangannya erat ketika Aciel mulai berteriak-teriak mengenai status dan derajat mereka. Memang, sebagai seorang istri, Eden harus selalu menghormati suaminya dan bersikap lemah lemut pada Aciel. Tapi di sini ia hanya ingin menegur Aciel, bukan ingin membentak pria itu, sehingga ia benar-benar tidak terima dengan ucapan Aciel yang sok berkuasa itu.


            “Aku tidak membentakmu sema sekali. Aku hanya menegurmu. Jadi, bisakah kau mengecilkan suaramu, karena Ciara dan Louise ketakutan.” ucap Eden sinis sambil meraih tubuh kecil Louise ke dalam gendongannya. Lagi-lagi bocah kecil itu menangis terisak-isak dengan sisa tumpahan susu yang mengotori bibir serta bajunya. Sedangkan Ciara tampak masih bergetar ketakutan sambil memeluk kaki Eden tanpa berani menatap wajah Aciel. Melihat anak dan istrinya tampak ketakutan dan marah, akhirnya Aciel memutuskan untuk naik ke kamarnya dan beristirahat. Ia pikir ia memang lelah dan butuh istirahat agar ia tidak mudah tersulut emosi seperti ini. Sedangkan Eden yang ditinggalkan begitu saja di ruang keluarga tampak berusaha untuk menenangkan kedua anaknya yang ketakutan. Ini adalah kali pertama baginya bertengkar dengan Aciel di hadapan anak-anak. Biasanya ia tidak pernah seperti ini pada Aciel. Tapi entah kenapa hari ini Aciel sepertinya mudah sekali emosi. Eden kemudian menghela napasnya pelan karena ia merasa Aciel hari ini terlalu galak. Tapi kemudian ia sadar jika ini semua juga karena kesalahannya. Ia telah menyulut api kemarahan pada diri Aciel. Padahal seharusnya ia menyambut Aciel dengan senyuman hangat dan segelas teh hangat yang menyegarkan.


            “Ah, bodoh!” runtuk Eden pada dirinya sendiri. Wanita itu mulai merasa bersalah pada Aciel. Ia ingin meminta maaf pada suaminya sekarang. Tapi ia tahu jika saat ini pasti Aciel masih marah padanya. Akhirnya Eden memutuskan untuk memberi Aciel sedikit waktu agar pria itu dapat menenangkan diri sejenak. Eden kemudian beralih pada Ciara dan Louise yang sudah mulai tenang. Dua bocah kecil itu tampak kompak menenggelamkan wajah mereka di pangkuan Eden. Sesekali Eden merasa Louise masih sesenggukan di dalam pangkuannya, tapi Ciara sudah tampak lebih baik dan mulai memberanikan diri untuk mendongakan kepalanya sambil menatap Eden dalam.


            “Mommy, Ciara takut.”


            Eden kemudian mengelus puncak kepala Ciara lembut sambil memberikan senyuman menenangkan pada anaknya. Ia tahu, Ciara pasti sangat ketakutan saat melihat ayahnya yang tampak begitu emosi seperti tadi. Tapi secara perlahan Eden akan memberikan pengertian pada Ciara jika semuanya akan baik-baik saja. Hari ini ayahnya marah karena ayahnya lelah, jadi ia tidak akan memojokan Aciel di depan anak-anaknya dan membuat mereka berdua menjadi membenci Aciel.


            “Sudahlah, daddymu tidak apa-apa. Daddy hanya lelah. Jadi kau jangan takut. Mommy akan selalu melindungi kalian.” janji Eden sungguh-sungguh sambil membelai puncak kepala Ciara lembut.

__ADS_1


-00-


            Dilain tempat, Aciel tampak mendesah frustrasi sambil mengacak-acak rambutnya kasar. Entah mengapa hari ini ia merasa mudah sekali tersulut emosi. Secara perlahan, Aciel mulai mencoba untuk mengendalikan emosinya agar ia tidak meledak seperti tadi. Bayangan wajah Ciara dan Louise yang tampak ketakutan terus membayangi kepalanya, hingga ia merasa gusar dengan dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak terlalu terpancing emosi dengan ucapan Eden. Apalagi saat ini Eden sedang sakit. Pasti wanita itu sangat kecewa padanya. Padahal biasanya ia tidak pernah semarah itu pada Eden. Tapi entahlah, mungkin hari ini ia memang terlalu lelah


karena ia baru saja kembali dari Jerman. Aciel kemudian memijat pelipisnya yang berdenyut sambil meringis kesakitan. Terlalu emosi pada Eden, membuat kepalanya tiba-tiba menjadi sakit dan berdenyut. Aciel kemudian mulai mencari obat sakit kepala di dalam laci meja kayunya. Pria itu mulai mengaduk-aduk isi laci itu


satu persatu untuk menemukan obat sakit kepala yang biasanya ia simpan di dalam sana. Tanpa sengaja, ekor matanya melihat sebuah botol kecil dengan kaca transparan di dalam laci meja yang terlihat mencurigakan. Awalnya Aciel sempat berpikir jika botol itu adalah botol obat sakit kepalanya. Namun, ketika ia mulai mengamati butiran pil itu perlahan-lahan, seketika darahnya mulai mendidih. Sebagai seorang pria, ia tentu tahu bagaimana bentuk obat-obatan yang biasa digunakan para ****** untuk mencegah kehamilan. Dan sekarang Aciel tahu


jika obat yang saat ini ia genggam adalah obat untuk mencegah kehamilan. Dengan marah, Aciel langsung keluar dari dalam kamarnya dengan langkah lebar-lebar untuk menghampiri Eden. Sebagai seorang suami ia merasa telah ditipu oleh istrinya sendiri. Padahal selama ini ia tidak pernah membohongi Eden, ia selalau mengedepankan kejujuran dalam membangun rumah tangganya. Sekarang jika Eden berbohong kepadanya seperti ini, apakah ia akan memaafkan Eden? Entahlah, yang pasti, ia sangat membenci orang-orang yang telah membohonginya, tak terkecuali Eden, istrinya sendiri.


            “Eden, apa ini?” tanya Aciel datar ketika pria itu sudah berada di ruang keluarga. Eden yang awalnya sedang menimang-nimang Louise langsung mendongak kaget karena tiba-tiba Aciel menghampirinya dengan kata-kata yang begitu datar dan dingin. Namun ketika ekor matanya berhasil menangkap apa yang dimaksud oleh suaminya, seketika wajahnya menjadi pucat pasi. Mendadak Eden merasa udara di sekitarnya menjadi menipis dan membuatnya menjadi sesak napas seperti ini. Dengan takut-takut Eden mulai menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Aciel sambil memberikan kode pada Ciara agar putri kecilnya itu masuk ke dalam kamarnya bersama Louise. Ia tidak ingin Ciara dan Louise kembali melihat pertengkaran antara ayah dan ibunya.


            “Ciara sayang, tolong bawa Louise ke kamarmu. Setelah ini mommy akan menyusul kalian.”


            “Jane, tolong kau temani anak-anak di kamarnya.”


            Eden sedikit bersyukur saat salah satu pelayannya kebetulan lewat. Meskipun Eden tahu jika pelayan itu sedang ketakutan dengan suara keras Aciel yang sejak tadi terus berteriak-teriak marah.


            “Ayo tuan Louise, kita bermain bersama di kamar kakakmu.” ajak Jane lembut dan langsung menggendong Louise dari ruang keluarga.


            “Sekarang jelaskan padaku, kenapa kau memiliki pil ini di dalam laci kamar kita?” tanya Aciel lagi. Kali ini suara pria itu lebih dingin dari sebelumnya. Aura yang dikeluarkan pria itu juga lebih dingin dari biasanya, membuat Eden merasa benar-benar terintimidasi dan terpojok. Namun sekuat tenaga Eden berusaha menahan gejolak emosi yang ada di dadanya agar ia tidak semakin memperburuk suasana.


            “Ace, aku bisa jelaskan semuanya.”


            “Bukankah semuanya sudah jelas? Kau memiliki obat ini di dalam laci kamar kita dan kau jelas-jelas telah membohongiku, Ed. Katakan padaku darimana kau mendapatkan obat ini? Apa ini dari Laila?”


            “Emm, Ace kumohon kecilkan sedikit suaramu.”

__ADS_1


             “Jawab saja Ed, apa ini dari Laila? Apa ini vitamin yang kau katakan padaku seminggu yang lalu, hah!” bentak Aciel marah. Suaranya yang keras terdengar begitu nyaring di seluruh penjuru rumahnya yang senyap. Tanpa sadar, air mata Eden mulai menetes sedikit demi sedikit. Ia begitu takut dan terkejut dengan kemarahan Aciel hari ini. Sejak Louise lahir, Aciel telah menunjukan banyak perubahan dengan tidak membentaknya keras jika marah. Meskipun ia bertingkah sangat menyebalkan sekalipun, Aciel sama sekali tidak pernah memarahinya seperti ini. Tapi ini berbeda. Ia tahu jika ia telah membuat kesalahan yang begitu fatal. Ia telah membohongi Aciel dan membuat pria itu kecewa dengan sikapnya.


            “Maafkan aku Ace. Aku telah berbohong.” jawab Eden dengan air mata yang semakin deras membanjiri wajahnya.


Prang!


            Aciel kemudian langsung melemparkan botol kaca itu tepat di hadapan Eden dengan perasaan marah dan kecewa yang luar biasa, hingga butiran pil itu jatuh berceceran di depan Eden. Seharusnya Eden tidak membohonginya seperti ini dan membuatnya kecewa. Sekarang Aciel sudah terlanjur marah dan tak mungkin dapat mengontrol emosinya lagi.


            “Kau anggap aku ini apa, Ed? Kau seharusnya meminta ijin dariku terlebihdahulu untuk menggunakan obat-obatan seperti ini. Sudah berapa banyak obat yang kau minum?” bentak Aciel lagi. Pria itu tampak begitu mengerikan dengan mata merah dan napas yang tidak beraturan karena marah. Sekarang Eden sangat yakin, jika


kesalahannya kali ini benar-benar fatal dan tak termaafkan. Bahkan Eden merasa tidak yakin dengan kehidupan rumah tangganya setelah ini. Sedikit banyak kejadian hari ini akan memberikan efek yang cukup buruk bagi kehidupan pernikahannya kedepannya.


            “A aku.. sudah meminumnya tiga kali.”


            “Hm, bagus! Lakukan saja apapun semaumu, karena sekarang aku merasa jengah padamu, Ed. Apa kau tahu jika aku sangat membenci seorang pembohong? Aku kecewa padamu, Ed. Bertahun-tahun kita hidup bersama hingga seharusnya kau sudah tahu bagaimana sifatku selama ini. Apa kau sadar dengan kesalahanmu? Jawab Ed,


jawab!” teriak Aciel emosi sambil mengguncang-guncangkan tubuh Eden. Tapi, wanita itu terus saja diam sambil menangis tersedu-sedu di hadapan Aciel. Bibir Eden terasa begitu kaku dan kelu, sehingga ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun pada Aciel.


            “Ace, tapi aku hanya belum siap. Aku...”


            “Bukankah kita bisa membicarakan hal ini baik-baik? Jika kau mengatakan semuanya padaku sejak awal, aku pasti akan menghormati keputusanmu dan tidak akan mendesakmu. Tapi, kau dengan lancangnya justru mengambil tindakan sendiri dan membohongiku dengan berpura-pura pergi menemui Laila untuk meminta sebotol vitamin, padahal kenyataanya kau sedang meminta obat untuk mencegah kehamilan. Apa kau sudah tidak menganggapku sebagai suamimu lagi Ed? Apa kau sudah bosan hidup bersamaku dan mendampingiku, hah?”


            “Aa Ace, aku tidak bermaksud seperti itu. Kumohon jangan katakan hal itu. Aku minta maaf.” mohon Eden dengan air mata yang semakin deras membanjiri wajahnya. Melihat hal itu, Aciel sama sekali tidak tersentuh dan justru semakin mendecih marah pada Eden. Saat ini emosinya sedang sangat tinggi, ia tidak akan bisa luluh hanya dengan sebuah tetesan air mata. Perlu banyak waktu untuk merenungkan semuanya dan memperbaiki keadaan ini, sehingga Aciel memutuskan untuk memberi Eden waktu. Setidaknya Eden perlu belajar dari kesalahannya.


            “Mungkin kita perlu berpisah untuk sementara waktu. Atau jika kau sudah tidak membutuhkanku lagi, aku akan segera mengurus surat-surat perceraian kita. Kau tidak perlu khawatir, karena aku sama sekali tidak keberatan jika kau memang menginginkan sebuah perceraian. Aku tidak akan menghalangimu ataupun meminta


hak asuh anak-anak, semuanya terserah padamu, Ed. Dan kukatakan sekali lagi padamu, aku sangat membenci seorang pembohong!”

__ADS_1


            Setelah mengatakan hal itu, Aciel langsung pergi begitu saja tapa mempedulikan suara teriakan Eden yang begitu lemah memanggil namanya berkali-kali untuk berhenti.


            Dengan sekuat tenaga Eden mulai berlari keluar menyusul Aciel yang sudah masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan panggilan dari istrinya sedikitpun. Eden kemudian mencoba untuk mengetuk-etuk kaca mobil Aciel berkali-kali. Tapi pria itu tetap saja enggan untuk menoleh ke arah Eden, dan justru melajukan mobilnya dengan kencang tanpa menoleh ke arah Eden yang telah merosot ke atas tanah sambil menangis sesenggukan. Wanita itu berkali-kali memukul-mukul dadanya yang terasa sesak akibat sikap dan perkataan Aciel yang begitu kasar padanya. Entah setelah ini bagaimana nasib keluarganya kedepannya. Yang jelas saat ini kondisi rumah tangganya sedang diambang kehancuran.


__ADS_2