Black Swan

Black Swan
Sian Wedlock (Seventy Six)


__ADS_3

            Hujan di pagi hari membangunkan Aciel dari tidur nyenyaknya yang nyaman. Di sebelahnya terlihat Eden masih tertidur nyenyak dengan bulu matanya yang sesekali bergerak-gerak pelan. Entah kenapa suara berisik hujan berhasil membangunkan Aciel yang baru memejamkan mata tiga jam yang lalu. Minggu ini ia banyak memiliki pekerjaan yang harus ia tangani sendiri selama Sian masih dalam masa pemulihan di rumah. Dengan gerakan pelan, Aciel berbaring miring kearah Eden dan mengamati kedamaian yang dipancarkan oleh istrinya. Kau yang terbaik, Ed... Aciel berbisik dalam hati ketika ia mengingat hari-harinya yang semakin terasa menakjubkan setelah Eden kembali dalam pelukannya lagi seperti dulu. Terkadang ia masih berpikir jika semua ini adalah mimpi yang terlalu manis dan sedikit mustahil untuk diwujudkan. Tapi nyata, ia sekarang telah mendapatkan keluarganya dan ia bersumpah akan tetap membuat semuanya tetap seperti ini sampai kapanpun.


Oeekk oeekk


            Aciel menoleh cepat kearah walkie talkie yang diletakan Eden di atas meja di sebelah ranjang mereka. Itu adalah walkie talkie khusus yang dipasang Eden di kamar Louise untuk memberitahunya jika pria kecilnya menangis di tengah malam. Aciel melihat walkie talkie itu terus membunyikan suara tangis Louise yang semakin


lama semakin kencang. Ia lalu melirik kearah Eden yang terlihat sama sekali tidak terbangun meskipun suara tangis Louise terdengar begitu nyaring melalui walkie talkie. Akhirnya Aciel memutuskan untuk menghampiri putra kecilnya di kamarnya dengan terlebihdulu mematikan walkie talkie itu agar Eden tidak terbangun.


            “Hai putra daddy...” Aciel menyapa Louise lembut dan mengambil putranya itu dari dalam cribnya untuk digendong. Suara tangis Louise yang sebelumnya terdengar sangat keras, kini berangsur-angur mulai memelan dan berhenti setelah bayi itu telah berada di dalam dekapan hangat sang ayah.


            “Hey, apa kau juga tidak bisa tidur seperti daddy?” tanya Aciel lagi sambil menepuk-nepuk punggung Louise pelan. Suara hujan yang terdengar semakin deras disertai petir membuat Louise sempat kaget dan hampir menangis lagi, namun Aciel langsung menenangkan putra kecilnya dengan membawanya menuju kamarnya dan Eden.


            “Ayo kita kembali pada mommymu.” Aciel terus mengecupi pipi chubby Louise dengan gemas sambil membawanya berjalan menuju kamarnya. Salah satu hadiah terindah yang telah diberikan Eden untuknya ketika saat itu Eden masih diliputi keraguan untuk memutuskan menikah dengannya atau tidak. Saat itu ia hampir frustrasi membujuk Eden yang terlalu lama mengiyakan lamarannya meskipun dulu Eden pernah mengatakan bersedia untuk menikah dengannya saat ia sedang sakit di rumah sakit, tapi nyatanya setelah ia sembuh, Eden masih terus mengulur-ulur waktu hingga Aciel dibuat geram dengan wanita itu. Namun keajaiban kemudian datang kepadanya. Suatu hari di siang yang mendung, Eden tiba-tiba datang ke kantornya dengan wajah gugup yang terlihat aneh. Awalnya ia tidak berpikir jika saat itu Eden akan menerima lamarannya dan memintanya untuk segera menikahinya karena saat itu Eden masih saja bungkam mengenai kehamilannya hingga akhirnya Aciel geram dan memutuskan untuk meninggalkan Eden untuk meeting. Tapi kemudian Eden mencekal lengan Aciel dan memberitahunya dengan suara yang terlampau kecil jika ia sedang hamil. Ia masih ingat sekali bagaimana Eden memberitahunya dengan suara seperti bisikan yang nyaris tidak didengarnya jika ia tidak benar-benar memperhatikan gerakan bibir Eden saat itu.


            “Lihatlah mommymu, dia sangat lelah karena mengurusmu seharian. Malam ini daddy yang akan menemanimu.”


            Seperti mengerti dengan kata-kata Aciel, Louise tampak begitu tenang di dalam gendongan Aciel dan sama sekali tidak rewel seperti biasanya. Dengan lucu bayi mungil itu mengucek-ucek matanya beberapa kali lalu bersandar manja pada dada ayahnya yang hangat.


            “Apa kau mengantuk? Hmm.. kalau begitu tidurlah di sini bersama daddy.”


            Aciel menina bobokan  Louise dengan sabar. Ia tampak menikmati momen-momen kebersamaannya dengan Louise yang terlalu jarang ia lakukan karena kesibukannya selama ini. Terkadang ia berpikir jika Louise mungkin akan lebih banyak melupakannya karena seringnya ia absen dari di rumah ini. Justru Louise mungkin akan lebih akrab dengan para pelayannya, lalu tuan Kim, Sian, dan tentu saja Eden yang setiap hari selalu mengurus bayi kecil itu dengan sepenuh hati. Ahh... Aciel tiba-tiba merasa bersalah pada keluarga kecilnya. Nanti setelah pekerjaannya telah selesai, ia ingin membawa keluarga kecilnya untuk berlibur selama satu minggu.


            “Daddy janji, daddy akan lebih sering di rumah untukmu, kakakmu, dan juga mommymu.” Aciel berbisik lembut di telinga kecil Louise dan membuat bayi itu seketika merengek pelan dalam tidurnya. Aciel tersenyum kecil, ia kemudian melanjutkan kegiatannya menimang Louise hingga akhirnya kantuk menyerangnya dan membuatnya segera meletakan Louise dengan hati-hati di tengah-tengahnya dan juga Eden.


Cup

__ADS_1


            “Tidurlah sayang.” bisik Aciel parau karena ia terus menguap setelah ia merasa lelah menina bobokan Louise di pelukannya. Segera saja Aciel memejamkan matanya untuk menyusul sang putra dan juga istrinya yang telah terlelap damai di sebelahnya.


-00-


            Suara alarm yang terpasang di nakas ranjang membangunkan Eden dari tidur nyenyaknya yang nyaman. Wanita itu tampak masih malas-malasan untuk beranjak dari kasur yang terlalu nyaman untuk ditinggalkan, namun Eden segera teringat pada tugasnya untuk menyiapkan Ciara sekolah dan juga menyiapkan dua bayinya yang lain, Aciel dan juga Louise tentunya. Suara gemerisik air dari shower di kamarnya menyadarkan Eden jika sang suami ternyata telah bangun lebih pagi daripada dirinya. Ia lalu berjalan kearah jendela kamarnya, membuka tirai putih itu lebar-lebar sambil merasakan udara lembab nan dingin yang menerpa kulit wajahnya saat ini.


            “Hmm.. mendung.” gumam Eden pada dirinya. Di bawah sana Eden bisa melihat Traco, salah satu tukang kebunnya sedang merapikan rumput-rumput liar yang mulai menjulang tinggi hingga hampir mencapai sebatas betis orang dewasa. Terkadang Ciara bermain di rumput-rumput itu saat sore hari sambil berkhayal jika ia sedang


melakukan penjelajahan hutan sendirian. Apalagi semenjak Aciel membelikannya satu set perlengkapan berkemah, lengkap dengan tendanya yang super besar, Ciara jadi semakin betah menghabiskan waktunya berada di taman belakang. Tak jarang Eden harus melakukan drama dengan Ciara jika gadis kecil itu mulai sulit untuk diajak masuk ke rumah ketika hari mulai petang.


            Sekitar lima menit Eden berdiri di depan jendela sambil menikmati semilir udara lembab yang membelainya, ia kemudian memutuskan untuk ke kamar mandi setelah dirasa suara gemericik shower sudah tak terdengar lagi. Aciel sudah selesai mandi... pikir Eden sambil berjalan kearah kamar mandi. Tepat ketika Eden telah berdiri di depan pintu, kenop pintu itu tiba-tiba berputar dan menampakan sosok Aciel yang baru selesai mandi dengan


lilitan handuk di pinggangnya sambil menggendong Louise menggunakan satu tangan berototnya.



            “Hai sayang, kami baru saja selesai mandi.” Aciel tersenyum lebar pada Eden tanpa rasa berdosa sambil melangkah keluar dari kamar mandi. Di lengannya Louise tampak begitu ceria sambil bergerak-gerak aktif karena baru saja mandi bersama ayahnya.


            “Ini masih terlalu pagi untuk memandikan Louise, Ace.” ucap Eden kesal. Ia masih saja berkacak pinggang di depan kamar mandi meskipun Aciel telah meletakan Louise di atas kasur mereka dan memberikan kode pada Eden untuk memakaikan Louise baju sebelum bayi kecil itu kedinginan.


            “Dia sudah bangun saat kau belum bangun, dan dia merengek-rengek saat aku akan meninggalkannya untuk mandi, jadi aku mengajaknya untuk mandi bersama.” Aciel berpura-pura mengabaikan kekesalan Eden sambil tetap berjalan ke walk-in closet untuk berganti pakaian. Ia tahu jika Eden pasti marah, tapi ia juga tahu jika ia hanya perlu mengabaikan kemarahan Eden jika ia tidak ingin membuat kemarahan itu semakin menjadi-jadi, atau bahkan sampai merusak harinya karena harus mendengarkan omelan Eden yang berisik.


            “Kau bisa membangunkanku, tapi kau tidak melakukannya.” meskipun Eden ingin marah, ia akhirnya hanya bisa menghela napas kecil karena semuanya terasa tidak ada gunanya. Lagipula Louise juga terlihat gembira saat ini, ia terus saja menggerak-gerakan kakinya girang ketika sang ibu membungkus tubuhnya dengan selimut ketika Eden masih sibuk untuk menyiapkan pakaian Louise di lemarinya.


            “Aku tidak ingin mengganggu tidur nyenyakmu sayang, lagipula kau membutuhkan istirahat yang lebih lama untuk mengurus anak-anakku hari ini, hmm...” ucap Aciel lembut dengan rayuan. Eden hanya memutar bola matanya malas, dan ia sama sekali tidak mempedulikan rayuan Aciel yang terdengar bullshit menurutnya.

__ADS_1


        “Hari ini aku akan membawa anak-anak ke rumah Sian.”


        “Untuk apa?”


        “Tentu saja untuk menjenguknya. Ciara selalu menanyakan Sian akhir-akhir ini dan aku tidak tega membohonginya terus menerus. Aku pasti akan baik-baik saja bersama anak-anak.” bujuk Eden sambil mengedip-ngedipkan matanya pada Aciel. Semenjak Eden mengalami kecelakaan hingga membuat wanita itu kehilangan sebagian memorinya, Aciel menjadi semakin keras melarang Eden untuk pergi ke luar rumah tanpa


pengawasan darinya. Aciel benar-benar merasa trauma dan ia telah bersumpah pada dirinya sendiri jika ia tidak akan pernah mengijinkan Eden lepas sedikitpun dari pengawasannya.


            “Hari ini aku memiliki banyak pekerjaan di kantor, Ed.”


            “Iya aku tahu, dan aku bisa pergi ke sana sendiri dengan Ray. Kau tidak perlu khawatir, Ace.” mohon Eden sungguh-sungguh. Salah satu hal yang sangat berat adalah ketika ia harus meyakinkan Aciel jika semuanya tidak akan sama seperti dulu. Sekarang ia tidak mungkin akan menemui seseorang diam-diam tanpa sepengetahuan Aciel atau melakukan sesuatu yang membahayakan seperti dulu. Pengalamannya bersama Anthonya sudah


memberinya pembelajaran berharga yang membuatnya jera.


            “Kapan kau akan pergi ke sana?”


            “Setelah Ciara pulang dari sekolahnya, pukul setengah sebelas. Ayolah Ace, aku hanya akan pergi ke


rumah Sian, bukan ke tempat yang aneh-aneh.” rayu Eden sekali lagi sambil


mengecup pipi Aciel lembut.


            “Baiklah, nanti aku yang akan menjemput kalian setelah pekerjaanku di kantor selesai.” Aciel akhirnya luluh dengan rayuan Eden. Sedikit banyak Aciel menyadari sikapnya selama ini yang terlalu membatasi Eden hingga Eden menjadi lebih sering uring-uringan karena bosan dan juga stress di rumah.


            “Katakan pada Ray untuk tidak perlu menunggumu selama berada di rumah Sian.”

__ADS_1


            “Iya iya aku tahu, sudah sana turun. Bawa Louise bersamamu.” Eden menyerahkan Louise yang terlihat sudah sama rapinya dengan sang ayah. Sementara itu Eden langsung berlari menghilang dibalik pintu kamar mandi untuk mencuci muka dan juga menyikat gigi.


            “Nah... Ayo jagoan daddy, saatnya kita sarapan di bawah.” ucap Aciel sambil menciumi pipi Louise yang wangi khas bayi berkali-kali.


__ADS_2