Black Swan

Black Swan
Olivia Pregnant Story (Ninety Four)


__ADS_3

Dug


            “Aw!” Suara benturan keras itu disusul dengan suara teriakan kesakitan Sian dan suara tawa Olivia yang sedang terkekeh di ujung tangga.


            “Menabrak lemari lagi, dad?” tanya Olivia yang sedang berjalan menghampiri suaminya untuk melihat kening suaminya yang terlihat memerah. “Biar kulihat.” Olivia berusaha melihat kening memerah Sian dan menuntun pria itu agar duduk di sofa maroon di tengah ruangan.


            “Tunggu di sini, aku akan mengambil salep untuk luka memarmu.” Olivia kemudian berjalan ke dapur, kearah kotak p3k yang terpasang di sudut dinding dapur. Olivia mendesah sekali dan menoleh ke belakang sebentar, kearah Sian yang masih menyandarkan tubuh lelahnya dengan posisi kepala menengadah di atas sofa.


Terkadang Olivia merasa prihatin pada Sian yang belum terbiasa dengan kondisi matanya. Sejak salah satu korneanya didonorkan untuknya, Sian sering sekali menabrak barang-barang ketika berjalan. Pria itu mengaku jika ia tidak melihat adanya barang di sekitarnya, hingga ia lebih mudah menabrak mereka. Bahkan hal itu tidak hanya terjadi di rumah. Jika di kantor, Sian juga sering melakukan kesalahan yang sama hingga Aciel harus memberikan pengawasan esktra tiap kali pria itu berjalan di sekitarnya.


            “Kau menyakiti dirimu lagi, dad.” Olivia dengan lembut mengoleskan salep di sekitar kening Sian yang memerah. Ia yakin besok kening Sian akan berubah membiru karena kecerobohannya hari ini.


            “Aku belum terbiasa dengan ini semua.” Sian berucap pelan seperti sebuah bisikan yang terdengar putus asa. Sejujurnya Sian tidak pernah menyesali keputusannya untuk mendonorkan satu korneanya untuk Olivia, tapi ia tidak pernah menyangka jika berjuang dengan satu mata akan terasa sangat sulit karena selama bertahun-tahun ia terbiasa hidup bahagia dengan seluruh kelengkapan yang ia miliki.


            “Tenanglah, kau pasti bisa. Perlahan-lahan, hmm.” hibur Olivia lembut. Tangan Olivia yang bebas mencoba mengelus pundak Sian agar pria itu menjadi lebih baik. Bahkan dulu ia juga merasakan hal yang sama seperti Sian. Ia kesulitan menyesuaikan diri dengan kondisi matanya yang hampir mengalami kebutaan. Tapi pada akhirnya ia bisa bertahan dengan kedua mata yang nyaris buta sebelum Sian datang sebagai malaikatnya.


            “Aku minta maaf karena telah membuatmu menjadi seperti ini.”


            “Hey, kenapa harus minta maaf?” tanya Sian mencoba mengangkat dagu Olivia yang menunduk. Sorot mata bersalah itu tercetak jelas di mata Olivia saat Sian mencoba menyelami netra coklat milik Olivia yang sangat menawan di matanya.


            “Kau seharusnya tidak perlu melakukan hal itu.”


            “Ssshh... aku senang melakukan hal ini untukmu, jadi jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Ngomong-ngomong bagaimana keadaan putri cantik kita?” Sian tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan mereka sambil mengelus perut buncit Olivia. Usia kandungannya kini telah memasuki  bulan ke delapan. Dari hari ke hari tubuh mungil Olivia berubah menjadi lebih berisi, dan tentunya membuat Olivia semakin cantik karena wajah wanita itu kini terus dihiasi rona merah yang mengagumkan. Bahkan Sian tidak bisa tidak memberikan kecupan sebelum pergi bekerja karena wajah menggemaskan Olivia yang selalu terlihat seperti bunga mekar yang cantik.


            “Dia baik-baik saja, dad.” ucap Olivia sambil membawa tangan Sian agar menyentuh kearah permukaan perut buncitnya. Tendangan kecil kemudian dirasakan oleh Sian saat tangan hangatnya telah tertempel dengan sempurna di atas pemukaan perut Olivia. Hal itu mau tidak mau membuat Sian kembali dibuat takjub untuk yang kesekian kalinya pada kondisi putrinya yang sangat aktif di dalam sana.


            “Justice sangat aktif di dalam sana.”


            “Jadi nama itu telah resmi?” Olivia terkekeh geli melihat wajah Sian yang terus saja menunjukan kekaguman pada bayi mereka. Apalagi saat Sian mulai memanggil calon bayi mereka dengan nama Justice, hal itu membuat Olivia merasa geli karena sejak tiga bulan yang lalu Sian memang telah bersikeras untuk memberi nama anak mereka Justice, Justicia Markle.


            “Aku ingin anakku kelak menjadi wanita anggun yang dipenuhi sikap bijaksana.”


            “Sejujurnya aku sangat menyukai nama yang kau berikan. Sungguh, aku menyukainya. Tapi dulu kupikir kau akan memberikan nama anak kita dengan nama yang terdengar lebih imut, seperti Daisy, Odette, Mary, Mirabelle, atau nama-nama lainnya yang tidak terdengar maskulin seperti Justice. Tapi apapun itu, aku tahu jika kau memiliki


alasan tersendiri dengan nama itu. Kau mengirimkan pengharapan yang begitu besar untuk putri kita, bukankah begitu?”


            “Hmm... aku menyukai nama itu saat Ace pertama kali mengatakannya padaku.”


            “Ace? Kukira itu atas idemu sendiri.” Olivia tak bisa menyembunyikan keterkejutan dalam nada suaranya kala nama Aciel kembali disebut oleh Sian. Ya, pria itu memang tidak akan pernah bisa pergi dari kehidupan mereka karena kenyataannya Aciel adalah salah satu pihak yang paling berpengaruh dalam hubungan rumah tangga mereka. Apapun yang akan mereka lakukan, selalu tidak luput dari sepak terjang Aciel di dalamnya. Seperti saat mereka menikah, semua keperluan pernikahan mereka enam puluh persen dipenuhi oleh Aciel dan Eden. Tak bisa Olivia bayangkan bagaimana hidupnya dan Sian jika Aciel tidak ada untuk menjadi malaikat penolong mereka.


            “Saat kami tak sengaja sedang membicarakan masalah pengesahan kontrak untuk pembangunan pabrik baru di Illinois, Aciel menyebut kata justice berkali-kali. Hal itu yang tiba-tiba membuatku berpikir untuk memberikan nama anak kita Justicia, karena anak kita perempuan. Tapi jika anak kita laki-laki, aku pasti akan memberinya nama Justice.” kekeh Sian merasa konyol dengan asal usul nama untuk putrinya.


            “Baiklah,


apapun itu aku tetap menyukainya. Sekarang lepaskan aku, dad.” mohon Olivia dengan wajah menggemaskan saat Sian masih saja memerangkap pinggangnya dengan kedua tangan kekarnya. “Aku harus memasak makan


malam.” keluh Olivia saat Sian tak segera melepaskan pelukannya dari pinggangnya. Sian kemudian tertawa renyah di depan Olivia sambil mencolek pipi Olivia yang terlihat cemberut.


            “Kau terlihat menggemaskan, mom. Aku jadi ingin memakanmu.” goda Sian jahil. Sontak hal itu langsung dibalas Olivia dengan pukulan pelan di lengan keras pria itu.


            “Jangan pernah berani menyentuhku, karena aku sedang tidak available untuk itu.” ucap Olivia bersungut sungut sambil berjalan kearah dapur.


-00-


            Dengan langkah yang ringan, Olivia mulai mendorong troli ke bagian rak yang berisi makanan kecil. Sembari memilih makanan, Olivia juga memperhatikan tanggal kadaluarsa dan nilai gizinya. Hari ini Olivia sedang melakukan kegiatan rutinya, yaitu belanja bulanan. Walaupun perutnya sudah membesar, Olivia tetap bersikukuh untuk melakukan rutinitas ini sendirian. Berkali-kali Sian menasihati Olivia agar ia tidak terlalu kelelahan atau mengerjakan hal-hal yang berat, tapi bukan Olivia namanya jika ia tidak membantah perkataan Sian.


            “Wah, coklat ini terlihat enak.” gumam Olivia sambil meraih sebatang coklat yang berada di rak paling atas. Walau sedikit kesusahan, akhirnya Olivia mendapatkan coklat itu juga. Selanjutnya Olivia berjalan menuju rak frozen food. Di sana Olivia mengambil beberapa sosis, bacon, dan brisket. Terkadang jika Olivia malas untuk memasak, maka ia akan membuatkan Sian omelet sosis, atau hanya sekedar membuat sandwich daging asap. Setidaknya Sian masih bisa tetap makan walaupun ia tidak memasak.


            “Permisi,  bisa kau berikan untukku udang, cumi-cumi, dan ikan salmon?” tanya Olivia pada petugas bagian makanan laut. Selama hamil, Olivia selalu memperhatikan asupan gizinya dengan baik. Setiap pagi ia menjadwalkan diri untuk mengkonsumsi ikan salmon yang dikukus. Hal itu sangat baik bagi perkembangan otak janin yang dikandung oleh Olivia. Sebenarnya, Olivia bisa saja mengkonsumsi minyak ikan. Tapi Olivia tidak suka mengonsumsinya karena baunya yang terlalu amis. Kemarin Sian sudah membelikan minyak ikan saat pulang dari Belanda, tapi baru mencium bau botolnya saja, Olivia langsung mual-mual dan seharian ia tidak nafsu makan. Akhirnya dengan terpaksa, Sian membawa minyak ikan itu ke kantor dan memberikannya pada rekan kerjanya yang sedang hamil.

__ADS_1


            Selama masa kehamilan ini, Olivia tidak pernah tidak berguru pada Eden. Wanita muda nan anggun itu telah menjadi panutan Olivia sejak ia mengenal Eden untuk pertama kalinya. Entah kenapa Olivia merasa lebih nyaman saat bersama Eden daripada bersama Jessica, meskipun sahabat wanita suaminya itu tak kalah perhatiannya dengan Eden dan sering menghubunginya selama masa kehamilan ini, tapi tetap saja Olivia merasa sungkan saat bersama Jessica.


            Suara bunyi ponsel dari tas tangan Olivia menghentikan langkah wanita itu yang akan menuju bagian penjualan daging. Olivia menepikan trolinya sebentar, kemudian bergegas merogoh saku tasnya dan mengeluarkan benda persegi yang terus menjerit berisik.


            “Halo. Ada apa?” tanya Olivia tanpa basa-basi. Jika dilihat dari cara Olivia menjawab telepon, maka sudah dapat ditebak siapa yang saat ini sedang menelponnya. Ya, Sian Markle, suaminya.


            “Kau masih di supermarket?”


            “Ya, aku sedang membeli daging. Kau ingin aku membelikanmu sesuatu?”


            “Aku ingin abalon. Apa kau bisa membuatkanku bubur abalon?”


            “Tentu saja. Apa kau sakit, dad? Tumben sekali ingin makan bubur abalon.” tanya Olivia sedikit khawatir. Akhir-akhir ini Sian memang sedikit sibuk. Walaupun ia tidak ada perjalanan kerja ke luar negeri, tapi ia justru disibukan dengan proyek baru untuk pembangunan pabrik di Illinois bersama Aciel. Sebagai ahli keuangan di perusahaan Aciel, Sian tidak boleh absen dari setiap kegiatan pendanaan kantor karena pria itu yang memiliki kendali penuh atas uang-uang kantor.


            “Tidak, aku hanya merindukan bubur abalon karena dulu aku pernah memakan bubur abalon di restoran oriental yang sangat enak.” jawab Sian sambil terkekeh.


            “Baiklah. Nanti aku akan membuatkannya untukmu.”


            “Kau tunggu aku di sana. Sepuluh menit lagi aku akan menjemputmu.” pesan Sian sebelum Olivia mengakhiri sambungan telepon mereka karena Sian merasa jika Olivia sudah ingin meninggalkannya untuk kembali berbelanja.


            “Baiklah daddy Sian, sampai jumpa.” Olivia memutuskan sambungan teleponnya dan segera berjalan kembali menuju blok makanan laut.


            Setelah Olivia selesai membayar belanjaannya di meja kasir, Olivia segera mendorong trolinya menuju pintu keluar. Dalam perjalanan, tak sengaja Olivia menabrak seorang pria yang berjalan sambil memainkan ponselnya.


            “Akh, maafkan aku. Aku sungguh tidak hati-hati.” sesal Olivia sambil meminta maaf berulang kali. Rasanya Olivia merasa ngilu saat membayangkan tubuh pria itu baru saja menubruk bagian depan trolinya yang penuh dengan belanjaan.


            “Aku


juga minta maaf.” balas pria itu penuh sesal sambil memasukan ponselnya ke dalam saku. Olivia lantas mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk karena merasa bersalah.


            “Tidak apa-apa. Maaf, aku harus pergi.” pamit Olivia segera karena ia sudah berjanji pada Sian untuk menunggu pria itu di depan supermarket. Namun sebelum Olivia sempat mendorong trolinya pergi, pria itu tiba-tiba mencekal lengan Olivia dan memaksa Olivia untuk berbalik kearahnya.


            “Ya, ada apa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Olivia bingung. Berbanding terbalik dengan reaksi Olivia yang tampak kebingungan, pria itu justru tersenyum lebar kearah Olivia dan langsung menarik Olivia ke dalam pelukannya.


            “Olive! Kau tidak mengenalku? Kau lupa padaku?” tanya pria itu antusias masih dalam posisi memeluk Olivia. Sedangkan Olivia yang sejak tadi tidak mengerti apapun hanya mampu membatu di tempat tanpa benar-benar membalas pelukan pria asing di depannya.


            “Aku George, George Smith. Ck, tega sekali kau melupakanku, Olive.” Pria itu akhirnya melepaskan pelukannya dari Olivia sambil memberikan tatapan sedih kearah Olivia karena wanita itu melupakannya.


            “George?” ulang Olivia dengan kernyitan di dahinya. Sekilas ia merasa tidak asing dengan nama itu, namun sepertinya ia membutuhkan sedikit usaha untuk dapat mengingat pria itu di dalam memorinya.


            “Aku George, temanmu saat di panti asuhan Theresia, apa kau ingat?” tanya George penuh harap. Wajah pria itu menunjukan pengharapan yang begitu besar pada Olivia yang sedang mengingat-ingat masa lalunya. Dan setelah sekian detik George menunggu, akhirnya ia menemukan sebuah senyum yang terbit dengan sangat cantik


dari bibir Olivia.


            “George!” pekik Olivia senang dan langsung memeluk George hangat. Rasanya Olivia tidak percaya jika ia akan bertemu lagi dengan George setelah bertahun-tahun mereka berpisah karena saat itu George diadopsi oleh seorang keluarga kaya rasa yang berasal dari Texas.


            “Lama tak berjumpam, George. Aku sungguh tidak mengenalimu dengan penampilanmu saat ini.” ucap Olivia sambil menelisik penampilan George dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pria itu sekilas memandang Olivia aneh. Ia lalu berdeham sebentar dan sedikit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


            “Maaf, tapi bukankah kau dulu buta?” tanya George sungkan. Olivia lalu tersenyum maklum kearah George. Tidak ada raut tersinggung sedikitpun darinya, ia justru merasa senang karena ternyata George sangat mengingat masa lalunya dengan baik.


            “Aku dulu memang buta, tapi sekarang aku telah mendapatkan donor kornea di salah satu mataku.” tunjuk Olivia pada mata kanannya.


            “Itu bagus. Kau sekarang terlihat lebih menawan.” puji George yang berhasil membuat Olivia tersipu malu seperti seorang remaja yang baru saja bertemu pria tampan.


            “Kebetulan sekali kita bisa bertemu. Kukira kau tidak tinggal di Vegas.”


            “Memang tidak, tapi aku memiliki urusan bisnis di sini.”


            “Aku senang melihatmu yang telah sukses, George.”

__ADS_1


            “Kau juga. Dan sekarang kau sedang hamil?” tanya George antusias sambil melirik perut Olivia yang begitu buncit dibalik dress berwarna peachnya. Wanita itu refleks mengusap perut buncitnya sambil mengangguk pelan pada George. “Anak pertamaku. Dan aku sangat bersyukur karena Tuhan langsung memberikan janin ini setelah aku menikah.” Rona bahagia tercetak jelas di wajah Olivia, dan George sangat senang saat melihat teman masa kecilnya yang sekarang telah menemukan kebahagiaannya. Tak bisa dipungkiri jika dulu Olivia bukan termasuk anak yang menarik di panti asuhannya. Karena Olivia buta, ia tidak sedikitpun mendapatkan penawaran adopsi dari keluarga-keluarga yang belum memiliki keturunan. Sedangkan George sendiri tinggal di panti  asuhan itu tidak


terlalu lama setelah kematian kedua orangtuanya. Hanya satu setengah tahun ia berada di sana, dan setelah itu ia langsung mendapatkan keluarga baru yang kaya raya.


            “Hebat, semoga Tuhan selalu memberikan kebahagiaan untuk keluargamu, Olive. Aku sendiri justru belum menikah.” ucap George sedkit sedih.


            “Sebentar lagi pasti kau juga akan menyusulku.” hibur Olivia lembut.


            “Aku sedang menunggu seseorang.” balas George lagi. Kisah cintanya yang rumit bersama wanita yang rumit membuat George sampai saat ini belum juga menemukan kebahagiaannya bersama wanita yang ia cintai.


            “Benarkah? Pasti wanita itu adalah wanita yang spesial.” tebak Olivia. George menunjukan senyum kecutnya dan mengangguk tanpa minat di hadapan Olivia.


            “Ya begitulah. O iya, kau tinggal di mana? Mungkin kapan-kapan aku bisa main ke rumahmu dan bertemu dengan suamimu.”


            “Ini kartu namaku. Aku akan sangat senang jika kau bersedia mampir ke rumahku.” ucap Olivia dengan sumringah. George menerima kartu nama itu dengan senang hati dan segera menyimpannya di dalam saku celananya.


            “Aku pasti akan mampir.” janji George sungguh-sungguh.


            “Baiklah, aku harus segera pergi. Sampai jumpa.” pamit Olivia setelah dirasa ia akan mendapat amukan dari Sian karena sejak tadi ia justru mengobrol di loby dan tidak menunggu di depan supermarket seperti kesepakatan awalnya dengan Sian. Wanita hamil itu segera mendorong trolinya menjauh dari George dan berjalan menuju pintu keluar.


            “Olivia, tunggu!”


            Suara George menghentikan langkah Olivia dan membuat wanita itu berbalik ke arah George.


            “Aku akan mengantarmu ke depan. Sepertinya kau sedikit kesulitan mendorongnya.” ucap George sambil melirik troli Olivia yang dipenuhi barang belanjaan.


            “Terimakasih, kau baik sekali.” kata Olivia dengan senyum manisnya.


            Selama perjalanan menuju pintu keluar, Olivia dan George terus mengobrol mengenai masa-masa saat mereka berada di panti asuhan. Bagaimana kenakalan George dan teman-temannya, atau bagaimana pendiamnya Olivia selama berada di panti karena sejak dulu Olivia memilih untuk menutup dirinya dari teman-temannya.


            “Terimakasih, kau sudah membantuku.”


            “Sama-sama. Kau mau pulang denganku?” tawar George. Sebelum Olivia sempat membuka mulutnya, seseorang memanggil Olivia dari arah samping.


            “Olive.”


            Olivia menolehkan kepalanya dan menemukan Sian yang sedang berjalan ke arahnya. Pria itu terlihat tampan dan gagah dengan kemeja hitam yang lengannya telah digulung sebatas siku. Apapun yang dikenakan Sian, dimata Olivia pria itu akan selalu tampak sempurna dan menawan


            “Kau sudah selesai?” tanya Sian pada Olivia. Olivia menganggukkan kepalanya dan menunjuk beberapa kantong belanja yang tergolek begitu saja di dalam troli.


            “Dad, perkenalkan ini temanku saat berada di panti asuhan, George Smith.”


            “Oh, jadi anda ayahnya Olivia? Senang bertemu dengan anda.”


            Olivia hampir saja meledakan tawanya di depan Sian yang terlihat cemberut karena pria muda di depannya baru saja menganggapnya sebagai ayah Olivia. Walaupun mereka memang memiliki rentang usia yang cukup jauh, tapi Sian yakin jika wajahnya tidak cukup tua untuk dianggap sebagai ayah dari Olivia.


            “George, ini suamiku, Sian Markle. Kurasa kau salah paham. Akhir-akhir ini aku memang memanggilnya dad, karena sebentar lagi anak kami akan lahir.” ucap Olivia terkekeh.


            “Oh, maafkan aku, kukira kau ayahnya Olivia meskipun sebelumnya aku juga tidak yakin. George Smith.” George mengulurkan tangannya kearah Sian dan langsung dibalas pria itu dengan malas malasan. Moodnya berubah buruk setelah ia melihati strinya yang tampak begitu  akrab bersama seorang pria yang ternyata adalah teman masa kecilnya. Ditambah lagi pria itu baru saja mengiranya jika ia adalah ayah dari Olivia. Sial!


            “Sian Markle, terimakasih, kau sudah membantu Olivia.”


            “Tidak masalah, Olivia adalah temanku.” jawab George tulus.


            Olivia sedikit melirik arlojinya, lalu memberi isyarat pada Sian untuk segera pulang. Saat ini ia memiliki jadwal untuk berkunjung ke rumah Eden karena ia akan membuat kue bersama wanita itu, dan sambil bergosip tentu saja


            “Sepertinya aku harus segera pulang, ada sesuatu yang harus kulakukan di rumah saudaraku.” pamit Olivia pada George. Olivia kemudian melambaikan tangannya dan segera berjalan pergi menyusul Sian yang telah terlebihdulu mendorong troli mereka kearah mobil.


            “Senang bertemu dengamu lagi, Olive.” gumam George dengan senyuman.

__ADS_1


__ADS_2