
Sepanjang acara berlangsung, Olivia terus menikmatinya dengan sukacita. Meskipun ia memang tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi mendengarkan suara dentuman musik dan juga suara hiruk pikuk disekitarnya yang begitu meriah sudah dapat membuat Olivia merasa bahagia. Sebagai seorang manusia, ia memang sering menuntut lebih dalam doanya. Tapi ia menyadari jika ada kalanya ia tidak bisa meminta segalanya pada Tuhan, hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk menerima apapun yang telah diberikan Tuhan padanya. Toh ia masih memiliki alat indera yang lain, jadi ia tidak perlu terlalu meratapi nasib kedua matanya yang cacat karena serangan perampok saat ia masih berusia lima tahun. Malam itu ibu dan ayahnya baru saja kembali dari rumah neneknya di desa. Karena neneknya sakit, mereka berdua pulang sedikit larut malam. Olivia kecil yang saat itu berada di rumah bersama bibi Fiona mendengar suara deru mobil milik kedua orangtuanya di halaman, memutuskan untuk
menemui kedua orangtuanya di bawah, karena ia sangat merindukan mereka. Tapi, tanpa sepengetahuan penghuni rumah itu, ternyata sekawanan perampok sedang sibuk mengumpulkan barang-barang berharga yang berada di rumah itu. Saat kedua orangtua Olivia masuk ke dalam rumah, mereka terkejut dengan sosok sekawanan perampok yang begitu mengerikan itu. Dengan sigap ayah Olivia segera menghubungi polisi untuk melaporkan kejadian perampokan di rumahnya. Tapi nahas, perampok itu justru menembak ayah Olivia terlebihdahulu sebelum ayah Olivia berhasil menghubungi polisi. Melihat suaminya telah terkapar tak berdaya, nyonya Yvonie menjadi histeris dan langsung berteriak-teriak memanggil bantuan pada tetangga-tetangganya. Karena panik, akhirnya perampok itu memutuskan untuk menembak nyonya Yvonie juga agar wanita itu tidak terus berteriak dan membangunkan seluruh tetangganya yang sedang tertidur. Olivia yang melihat semua kejadian itu hanya mampu menangis tersedu-sedu di lantai atas tanpa peduli pada dua orang perampok yang mulai bergerak ke atas untuk melenyapkannya juga. Lalu saat dua perampok itu sudah berada di dekatnya, Olivia kecil segera berlari menuju
kamarnya untuk bersembunyi. Tapi langkah kakinya yang tak beraturan itu membuatnya jatuh terjungkal dan kedua matanya membentur pinggiran kursi. Melihat Olivia yang bersimbah darah, kedua perampok itu menjadi panik dan
segera berlalu pergi tanpa menolong Olivia yang menangis tersedu-sedu karena kedua matanya terasa perih. Sejak saat itu, Olivia mengalami kerusakan kornea dan tidak dapat melihat dengan jelas. Awalnya ia masih bisa melihat, meskipun terkadang apa yang ia lihat menjadi kabur atau ia hanya dapat melihat hanya sebatas lima meter dari tempatnya berdiri. Namun semakin lama, kerusakan korneanya semakin parah. Dokter telah menyarankan pada Olivia untuk melakukan operasi cangkok kornea. Tapi karena adanya keterbatasan biaya, akhirnya Olivia harus bertahan dengan kedua matanya yang semakin lama semakin meredup itu.
Prok prok prok
Suara riuh tepuk tangan berhasil mengejutkan Olivia dari lamunan panjang masa lalunya. Wanita itu kemudian semakin mempertajam indera pendengarnya agar ia dapat mendengarkan sambutan yang sedang diberikan oleh Tiffany. Ketika mendengar suara Tiffany untuk pertama kalinya, Olivia sudah dapat membayangkan
jika Tiffany adalah sosok wanita cantik yang anggun dan juga berpendidikan, karena setiap kata yang dilontarkan Tiffany semuanya terangkai dengan begitu indah dan Tiffany juga mengucapkannya dengan pelafalan yang baik. Namun tiba-tiba saja Olivia teringat pada nyonya Han yang saat ini sedang menjaga toko sendirian. Karena terlalu antusias menyaksikan acara pembukaan butik baru milik Tiffany, Olivia menjadi lupa waktu dan juga melupakan tugas-tugasnya. Dengan terburu-buru, Olivia mulai melewati satu persatu tamu undangan yang hadir di sana sambil terlebihdahulu meminta maaf pada mereka karena telah mengganggu kenyamanan mereka. Samar-samar ketika Olivia akan berjalan keluar butik tersebut, Olivia masih dapat mendengar suara MC yang sedang berteriak heboh
menyambut kedatangan Sian yang akan naik menuju panggung untuk menyerahkan buket bunga khusus untuk Tiffany.
“Siang ini aku membawa bunga istimewa untuk kekasihku dan juga aku akan melamarnya di depan kalian semua.”
__ADS_1
Suara riuh tepuk tangan dan siulan menggoda langsung menggema di seluruh penjuru ruangan itu dengan heboh. Olivia yang mendengar hal itu hanya dapat tersenyum tipis sambil meratapi nasibnya yang tidak akan pernah mendapatkan perlakuan seistimewa itu dari pria manapun karena tidak akan ada seorang pria pun yang
mau mendekati seorang gadis buta sepertinya. Lalu tanpa menunggu-nunggu lagi, Olivia segera berjalan menuju taksi kuning yang sejak tadi telah menunggunya.
Andai saja Tuhan memberiku kesempatan untuk menjadi seperti Tiffany. Batin Olivia lesu sambil menatap kosong pada pemandangan luar yang tampak bergerak konstan, mengikuti laju taksi yang ditumpanginya.
-00-
“Tiffany, maukah kau menikah denganku, menjadi pendamping hidupku di kala sedih dan susah, serta menjadi ibu dari anak-anakku kelak?”
Tiffany menutup mulutnya tak percaya sambil menatap takjub pada Sian yang saat ini sedang bersimpuh di depannya sambil menyodorkan sebuah cincin berlian berwarna putih yang terlihat begitu cantik. Suara-suara para hadirin yang saling bersahut-sahutan, meneriakinya untuk segera menerima cincin itu dan menerima Sian sebagai calon suaminya. Tapi ia tidak ingin terlalu terburu-buru, ia ingin menikmati momen ini sedikit lebih lama, karena momen itu sudah pasti tidak akan terjadi dua kali. Meskipun Sian bisa mengulangnya, tapi rasanya pasti tidak akan pernah sama seperti saat ini.
“Aku mau Sian. Aku mau menjadi istrimu.”
Suara riuh sorak sorai para undangan mengiringi suasana bahagia yang melingkupi dua orang anak manusia yang saat ini sedang berbagi kehangatan bersama dengan berpelukan satu sama lain. Sembari memeluk tubuh kekasihnya, Sian berbisik pelan di telinga Tiffany dengan merdu.
“Sayang, aku bahagia.”
__ADS_1
“Aku lebih bahagia darimu. Emm, aku benar-benar sudah tidak sabar untuk menjadi istrimu.”
“Aku janji aku akan menjadi suami terbaik untukmu.” bisik Sian penuh janji di telinga Tiffany. Hari itu adalah hari yang penuh bahagia bagi pasangan Sian dan Tiffany. Semua orang langsung berebut untuk menyalami Tiffany dan Sian sebagai bentuk rasa bahagia mereka atas kebahagiaan pasangan serasi itu. Lalu di akhir acara Tiffany mengumumkan pada semua orang jika malam ini ia akan menggelar sebuah pesta makan malam di sebuah restoran Jepang yang terletak tak jauh dari butiknya. Ia merasa ingin membagi kebahagiaannya hari ini pada semua orang. Ia ingin semua orang tahu jika ia sedang bahagia dan ia ingin orang lain juga bahagia atas kebahagiaannya.
-00-
Malam harinya Olivia tampak sedang memakan makan malamnya sendiri dengan penuh keheningan. Suara dentingan sendok yang beradu dengan permukaan piring membuat suasana sepi disekitarnya menjadi lebih hidup. Malam ini para tetangganya tidak seberisik biasanya. Entah karena mereka terlalu lelah dengan aktivitas mereka hari ini atau karena mereka memang sedang tidak ingin ribut, Olivia tidak tahu. Hidup di perkampungan kumuh seperti ini membuat Olivia selalu mendengar suara-suara ribut tetangganya yang sedang bertengkar atau suara tangis balita yang begitu kencang di malam atau pagi hari. Yang jelas, perkampungan ini begitu berisik. Tapi Olivia tak punya pilihan lain selain membeli rumah ini karena harga jualnya yang murah. Bahkan, ia tergolong sangat beruntung saat itu karena ia dapat bertemu dengan tuan Robert, pemilik dari rumah petak ini. Tuan Robert adalah seorang pria baik hati pemilik tempat pengumpulan barang-barang bekas. Sebagian tetanggaya yang tinggal di sini adalah para pemulung yang bekerja pada tuan Robert. Beberapa anak yang putus sekolahpun biasanya lebih memilih untuk bekerja pada tuan Robert karena tuan Robert sangat baik hati. Ia selalu menolong tetangganya yang membutuhkan bantuan dengan ikhlas, sehingga banyak warga yang merasa memiliki hutang budi pada tuan Robert. Dan mereka yang tidak bisa membalas pertolongan yang diberikan oleh tuan Robert dengan uang, memilih
utuk memberikan tenaganya secara cuma-cuma untuk membalas semua jasa tuan Robert padanya. Namun Olivia sendiri tidak terlalu sering berurusan dengan tuan Robert. Setelah rumah itu menjadi miliknya, tuan Robert tidak pernah muncul lagi di hadapannya. Hanya terkadang Olivia mendengar suara tuan Robert yang sedang menyapanya ketika ia berjalan melewati rumahnya. Dan menurut Olivia pria itu memang baik. Hanya sayangnya menurut para tetangganya, tuan Robert sama sekali tidak memiliki keluarga, sehingga terkadang mereka bergitu prihatin jika tuan Robert tiba-tiba jatuh sakit dan tidak ada yang mengurusnya.
“Huh.”
Olivia menghela napasnya pelan. Berada di dunia yang gelap ini sendiri membuat Olivia lebih sering menyibukan pikirannya dengan memikirkan orang lain. Padahal jika dipikir-pikir, kehidupannya juga tidak jauh berbeda dengan tuan Robert. Ia hidup sebatang kara dan tidak memiliki apa-apa. Bahkan ia buta dan sama sekali
tidak memiliki sesuatu untuk menolong orang lain. Terkadang ia merasa kesal dengan hidupnya sendiri yang tidak berguna untuk orang lain, dan justru merepotkan orang lain. Tapi, apa yang harus ia perbuat? Andai saja Tuhan
memberikannya kesempatan untuk menjadi berguna dan menjadi berarti untuk orang lain, maka ia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia bersumpah akan melakukannya dengan sebaik-baiknya.
__ADS_1
“Tuhan terimakasih atas berkah makanan yang telah kau berikan hari ini. Semoga esok akan menjadi hari yang indah untukku. Amin.” doa Olivia sebelum ia membereskan semua peralatan makannya dan pergi tidur.