Black Swan

Black Swan
Reuion (Eighty)


__ADS_3

            Aciel menghela bulir-bulir keringat yang turun membanjiri wajahnya setelah ia selesai berdebat alot dengan klien barunya yang berasal dari Brazil. Susan yang merupakan sekretarisnya segera memberikan selembar tisu pada Aciel untuk menyeka butiran keringat yang terasa lengket di dahi dan tengkuknya


            “Terimakasih.” ucap Aciel tulus dengan senyum simpul yang hanya akan diberikan Aciel pada wanita paruh baya itu. Susan adalah sekretaris yang bekerja padanya sejak bertahun-tahun yang lalu. Dedikasinya untuk perusahaan bisa dikatakan cukup besar hingga membuat Aciel merasa segan pada wanita itu, karena selain menjadi sekretarisnya, Susan juga telah ia anggap seperti ibunya sendiri karena wanita itu gemar memberikan nasihat ini dan itu untuk kebaikan hidupnya bersama Eden.


            “Sama-sama. Kau tampak tidak bersemangat. Apa kau memiliki masalah dengan istrimu?” tanya Susan penuh perhatian. Beberapa wanita yang melihat interaksi antara Susan dan Aciel tampak menaruh cemburu karena Aciel tidak pernah bersikap begitu hangat pada mereka jika sedang berbicara di kantor. Bahkan untuk masalah pekerjaan, mereka lebih sering melihat wajah dingin menyeramkan Aciel yang selalu membuat mereka gugup tiap kali melakukan presentasi di depan Aciel.


            “Hanya pertengkaran biasa. Eden sedang merajuk di rumah, jadi aku tidak bisa mengubunginya sekarang.” keluh Aciel pada Susan. Sambil merapikan berkas-berkas hasil rapat, Susan terus mendengarkan keluh kesah Aciel yang sedang kesal pada Eden. Padahal saat ini pria itu mengharapkan Eden datang ke kantornya untuk


mengantarkan salah satu berkas penting yang tertinggal di atas meja kerjanya. Tapi sepertinya ia akan meminta Danny, salah satu supirnya, untuk mengambil berkas itu di rumah karena ia tidak bisa menghubungi Eden sekarang.


            “Dia merajuk.” Setelah cukup lama berdebat dengan pikirannya, Aciel menyerah dan memilih untuk menceritakan masalahnya pada Susan. “Eden ingin pergi ke Australi.” ucap Aciel lagi masih dengan wajah frustrasi.


            “Lalu?” Kenapa tidak, Ace?” Susan menghilangkan aksen formalnya pada Aciel saat dirasa mereka hanya berdua di dalam ruangan rapat itu, dan tidak ada siapapun yang akan berspekulasi tentang mereka. “Bukankah ini waktu yang tepat untuk pergi berlibur? Ini natal, Ace!” lanjut Susan dengan wajah sumringah. Semua berkas kini telah tersusun rapi, dan ia bisa saja keluar meninggalkan Aciel untuk kembali pada pekerjaannya, tapi ia memilih untuk tidak.


            “Ck!” Aciel berdecak, berusaha untuk tidak terbawa emosi saat mengingat jika tujuan Eden ke Australi adalah untuk melakukan reuni. Demi Tuhan! Aciel benci melihat Eden kembali bertemu teman-temannya. Tidak, karena mereka hanya akan membuat Aciel was-was. “Eden ingin bertemu teman-temannya di Australi dengan dalih


liburan natal bersama keluarga. Alasan konyol macam apa itu? Aku tahu Eden hanya akan melupakan kami di sana untuk bersenang-senang bersama teman-temannya.”


            “Hmm... apa aku sudah pernah mengatakan padamu jika kau memiliki gangguan obsesi yang sangat buruk.”


            “Ya aku tahu.” jawab Aciel menggeram. Ia bahkan lebih dari tahu dengan tingat keposesifannya yang mengerikan ini. Tapi sebagai istri, Eden juga harus memahaminya. Eden harus paham dan tidak membuatnya semakin buruk dengan obsesinya yang gila pada istrinya sendiri.


            “Jadi kau ingin mendengarkanku memberi solusi sebagai wanita atau sebagai seseorang yang telah mengenalmu dan menganggapmu sebagai anakku sendiri?”


            “Maksudmu?” tanya Aciel tak mengerti. Kata-kata Susan yang berbelit justru membuat kepalanya semakin sakit. Ia bahkan tidak tahu lagi dengan sisa hari yang akan ia habiskan dengan Eden nanti karena sungguh ia sudah lelah bersikap jahat di hadapan wanita itu.


            “Baiklah, aku akan memberimu jawaban dari sudut pandang seorang wanita karena aku seorang wanita nyaris tua yang telah hidup terlalu lama di dunia yang menakjubkan ini.” Susan terkekeh sendiri dengan ucapannya yang terdengar menggelikan. Tapi semua itu ia lakukan semata-mata hanya untuk menghibur Aciel yang masih dilingkupi emosi.


            “Sebagai seorang wanita aku tahu bagaimana perasaan Eden. Dia lelah Ace, jenuh dengan


rutinitasnya sebagai ibu sekaligus ratu di istana yang kau ciptakan untuknya. Hari-harinya sebagai istrimu jelas tidak mudah karena Eden tidak bisa bebas bergerak, berinteraksi dengan orang lain seperti dulu, dan menikmati semua harta yang kau sediakan seperti wanita kelas atas pada umumnya karena kau semakin mengekang Eden setelah kecelakaan itu terjadi. Padahal jika kau kembali ke tahun-tahun yang lalu, tahun dimana Eden masih menjadi wanita dominan yang mandiri, ia terbiasa menghabiskan waktunya bersama teman-teman yang ia miliki. Adanya kesempatan untuk kembali bertemu dengan teman-temannya pasti menjadi sesuatu yang luar biasa untuk Eden di saat ia tidak lagi sebebas dulu.”


            “Lalu bagaimana saranmu sebagai seseorang yang telah kuanggap sebagai ibuku sendiri?” Aciel merasa jika jawaban yang sebelumnya diberikan oleh Susan sama sekali tidak memuaskannya, justru itu semakin membuatnya kesal karena Susan terlihat seperti sedang membela Eden di depannya. Dan lagi, keburukannya jadi semakin lebih jelas setelah Susan memberikan jawaban panjang lebarnya dari sudut pandang seorang wanita.


            “Itu terserah padamu.”


            “Sue, aku meminta jawabanmu.” desah Aciel kesal karena Susan justru seperti mempermainkannya, alih-alih memberikan jawaban.


            “Ya itu jawabanku.” ucap Susan terkekeh. “Memangnya apalagi yang kau harapkan? Semuanya jelas terserah padamu karena kau adalah suaminya, raja dari ratumu, yang berhak mengatur kehidupan istrimu. Jadi jika kau pikir pergi ke Australi adalah sebuah ide yang buruk, maka jangan lakukan. Bukankah itu mudah?” Susan tersenyum lembut kearah Aciel, ia melirik jam tangannya sekilas dan meminta ijin untuk kembali ke ruangannya karena ia harus mengurus berkas-berkas yang harus ia kirimkan pada tuan Thompson sore ini. Aciel lalu memberikan anggukan kecil pada Susan sambil mengucapkan terimakasih yang terdengar sama di telinga Susa. Ia tahu, seorang Aciel tetaplah Aciel. Tidak mudah bagi Aciel mengucapkan kata terimakasih ditengah kekalutan yang melandanya.


-00-


            Eden bertopang dagu dengan bosan sambil menemani Ciara bermain di dalam kamarnya. Ciara tidak jadi pergi ke sekolah karena pertengkaran kecil orangtuanya. Aciel yang telah dilingkupi mood yang buruk tiba-tiba pergi begitu saja tanpa mengajak Ciara yang seharusnya berangkat ke seklah bersamanya. Dan Eden yang masih sedikit uring-uringan juga jadi merasa malas untuk memaksa Ciara pergi ke sekolah karena ia tahu jika keadaan anaknya juga tidak jauh lebih baik dari keadaan orangtuanya telah bertengkar di hadapannya. Jadi pagi ini setelah


menyuapi Ciara dan menimang Louise hingga tertidur, Eden kembali merasa sedih karena suaminya tidak mengijinkannya untuk pergi ke Australi. Padahal ia ingin sekali bertemu dengan teman-teman lamanya dan juga Tranz. Pasti Tranz akan sangat senang sekali jika ia bertemu dengan Louise, karena Tranz memang belum pernah bertemu dengan Louise pasca ia melahirkan. Meskipun sebenarnya ia juga tidak tahu apakah Tranz mengenal Ciara dengan baik atau tidak, tapi sebuah foto yang ditunjukan Aciel kemarin sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan Eden jika Tranz pernah bertemu dengan Ciara, walaupun hanya sekali. Sayangnya Aciel bukan jenis pria yang mudah digoyahkan jika telah memiliki kehendak. Satu titah keluar dari mulutnya, maka semua orang harus tunduk di bawah kakinya, termasuk dirinya yang semakin tak berdaya setelah Aciel mengekangnya dengan begitu buruk di rumah ini.


            “Mommy, mommy kenapa?” tanya Ciara tiba-tiba sambil mendekat ke arah ibunya. Gadis kecil itu merangkak ke atas ranjang dan menghambur ke dalam pelukan ibunya sambil mengucek-ucek matanya berkali-kali. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk Ciara tidur siang.


            “Hmm, mommy baik-baik saja. Kau mengantuk ya? Ayo kita tidur siang.” Eden menggendong Ciara pelan menuju ranjang king sizenya dan membuatkan Ciara segelas susu. Biasanya Ciara memang suka minum susu terlebih dahulu sebelum ia tidur di siang hari. Jadi membuat susu adalah sebuah rutinitas yang selalu di jalankan oleh Eden sebelum ia menemani Ciara tidur. Entah itu siang atau malam, pasti Ciara akan selalu meminta susu.


            “Mommy, kapan kita akan bertemu dengan paman tampan?” tanya Ciara dengan suara keras sambil melompat-lompat di atas kasur. Eden menolehkan kepalanya sekilas ke arah Ciara sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Gadis kecilnya sangat antusias sekali untuk bertemu dengan Tranz, sangat berbeda sekali dengan Aciel yang sangat tidak menyukai teman-temannya.


            “Sayang, jangan melompat-lompat di atas kasur. Mommy sudah membersihkannya.” keluh Eden pada Ciara. Namun gadis kecil itu sama sekali tidak menghiraukan keluhan ibunya dan tetap melompat-lompat dengan gembira di atas kasurnya.


            “Kapan Ciara bertemu dengan paman tampan? Ciara ingim bertemu. Ciara bosan jika hanya bertemu dengan paman Sian dan paman Kriss. Mereka berdua membosankan dan tidak mau bermain boneka dengan Ciara, apalagi setelah paman Sian sibuk dengan aunty Olive.” celoteh gadis kecil itu lucu. Eden menghampiri Ciara dan memberikan segelas susu pada gadis kecil itu agar Ciara segera berhenti melompat-lompat di atas kasur.


            “Daddymu tidak mengijinkan mommy untuk pergi. Padahal mommy juga ingin bertemu dengan teman-teman mommy.” gumam Eden sedih pada Ciara. Tapi karena Ciara sudah mengetuk, gadis kecil itu langsung berbaring dengan damai di atas kasurnya setelah menghabiskan segelas susu dengan cepat. Eden jadi merasa sedang berbicara sendiri karena Ciara sama sekali tidak mendengarkan kata-katanya.


Drt drt drt


            Hampir saja Eden akan menyusul Ciara untuk tidur, tapi tiba-tiba ponselnya bergetar dan membuatnya harus kembali bangun dan mengangkat panggilan telepon yang tiba-tiba masuk ke dalam ponselnya.


            “Ya, halo.” sapa Eden malas-malasan. Kemudian terdengar suara teriakan yang heboh dari ujung telepon, membuat Eden harus menjauhkan benda persegi itu sejauh mungkin dari telinganya.


            “Kenapa kau menjawab panggilanku dengan malas-malasan? Apa kau tidak merindukanku?” tanya Summer heboh di seberang sana. Eden tampak mendengus kesal pada sahabatnya yang sangat bar-bar itu. Tak tahukah ia, jika Eden sedang bersedih.

__ADS_1


            “Ada apa? Kau membuat telingaku sakit.” keluh Eden kesal pada Summer.


            “Maaf, aku hanya terlalu bersemangat untuk menghubungimu. Jadi bagaimana, kau akan datang kan?” tanya Summer antusis. Berbangding terbalik dengan ekspresi Eden yang berubah sendu setelah mendengar pertanyaan dari Summer.


            “Sepertinya tidak, Aciel tidak mengijinkanku untuk pergi.”


            “Kenapa? Padahal aku sangat ingin bertemu denganmu dan juga kedua anak-anakmu yang lucu. Lagipula, minggu depan aku juga akan menikah. Aku ingin kau datang ke acara pernikahanku.” ucap Summer terdengar lesu. Suaranya yang keras itu tiba-tiba berubah menjadi pelan ketika Eden mengatakan jika ia tidak bisa datang ke Australi.


            “Aku juga sangat ingin datang. Tapi, Aciel tidak mengijinkanku karena aku baru saja pulih setelah kecelakaan dan usia Louise masih sangat kecil untuk diajak bepergian jauh.” jelas Eden lesu.


            “Ed, maaf.” bisik Summer merasa bersalah. Wanita itu seakan-akan kehilangan kata karena ia sedang tidak berada di Vegas ketika Eden mengalami kecelakaan. “Aku minta maaf karena tidak bisa menjengukmu ketika kau sakit dan kecelakaan. Tiffany telah menceritakan detail kejadiannya padaku karena kekasih Tiffany adalah salah satu rekan bisnis Aciel. Kau tahu, aku sangat menyesal karena tidak bisa berada di sana. Dan Andrew, dia sebenarnya ingin menjengukmu saat ia memiliki urusan bisnis di Kanada, tapi dia bilang Aciel telah memindahkanmu ke rumah, sehingga ia tidak datang untuk menjengukmu.”


            “Tidak apa-apa, aku sekarang sudah pulih, meskipun ada beberapa memoriku yang hilang, tapi syukurlah aku masih diberikan kesempatan untuk hidup. Sampaikan terimakasihku pada Andrew karena masih mengingatku meskipun aku ataupun Aciel pernah berbuat jahat padanya.”


            “Kurasa semua itu karena kebodohan Andrew. Aku sebenarnya sudah memberitahu ribuan kali padanya jika kau hanya milik Aciel, dan dia tidak akan pernah bisa mendapatkanmu. Tapi yah... kau tau sendiri jika cinta itu datang tiba-tiba. Andrew sendiri juga merasa tak berdaya dengan perasaannya padamu.” Summer terlihat begitu menggebu-gebu di seberang sana untuk menceritakan kebodohan kakanya di masa lalu yang pernah mencintai Eden, bahkan mengharapkan Eden untuk menjadi miliknya.


            “Iya aku tahu. Sekali lagi aku minta maaf karena tidak bisa datang ke pesta pernikahanmu. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Summer.”


            “Padahal aku sudah mengatakan pada ibuku jika kau akan datang. Dan kakaku sangat ingin bertemu denganmu.” tambah Summer ringan. Ia hanya bermaksud untuk menggoda Eden, bukan itu yang lainnya.


            “Hmm, aku juga sangat ingin datang ke sana dan bertemu dengan ibumu. Ngomong-ngomong bagaimana sekarang kabar Andrew? Apa ia sudah memiliki calon istri?”


            “Hahaha, kakakku? Calon istri? Ia belum memilikinya sama sekali. Ia tidak pernah mau melakukan kencan buta dengan wanita-wanita yang sengaja dipilihkan oleh ibuku untuknya. Ia masih patah hati denganmu.” canda Summer sambil tertawa terbahak-bahak. Eden ikut tertawa kkecil menanggapi perkataan Summer. Namun di sisi lain ia juga merasa bersalah pada Andrew, karena ia dulu pernah mempermainkan pria itu dengan sangat buruk hingga Andrew pernah menjadi sasaran anak buah Aciel yang memang diminta Aciel untuk menjauhkan Andrew darinya.


            “Kau ini ada-ada saja. Pria setampan Andrew pasti akan sangat mudah untuk mendapatkan kekasih. Mungkin ia hanya merasa belum terlalu cocok dengan wanita manapun.” kilah Eden pada Summer. Namun meskipun begitu, hati kecilnya juga membenarkan perkataan Summer. Dulu Andrew sempat mengatakan padanya, jika ia sangat mencintainya. Mungkin hal itu yang membuat Andrew sulit membuka hatinya untuk wanita lain.


            “Hmm, tapi ia memang benar-benar tidak mau mengencani wanita manapun sekarang. Mungkin ia masih menunggu jandamu.”


            “Apa? Kau ingin aku menjadi janda?” tanya Eden galak pada Summer. Terkadang temannya itu memang suka berbicara seenaknya sendiri pada Eden.


            “Tidak tidak, aku hanya bercanda. Kenapa kau menanggapinya terlalu serius. Lagipula kau jauh lebih cocok dengan Aciel daripada dengan kakakku. Jika saja kau tidak menikah dengan Aciel, mungkin saja aku akan mendekatinya dan menikah dengan Aciel. Bukankah dulu suamimu adalah the most wanted man di Vegas. Kau benar-benar sangat beruntung memilikinya.” ucap Summer berapi-api. Eden menghela napasnya pelan. Summer benar, ia memang sangat beruntung karena memiliki Aciel, tapi ia juga masih kesal pada suaminya, karena ia tidak diijinkan untuk pergi ke Australi.


            “Heh, aku tidak yakin.” kekeh Eden sangsi. Ia merasa Summer hanya terlalu terbawa emosi hingga mampu mengatakan hal itu. “Setahuku sejak dulu kau selalu takut pada Aciel. Bukankah kau bilang jika tatapan matanya seperti sebuah pisau, tajam dan menusuk.” ucap Eden terbahak-bahak. Ia masih ingat bagaimana takutnya


Summer pada Aciel yang saat pria itu mengancamnya karena mereka pergi ke club tanpa seizin Aciel, dan mengajak Eden bersenang-senang di sana, meskipun sebenarnya sejak awal semua itu memang ide Eden. Tapi tetap saja Summer dan Tiffany yang menjadi sasaran kemarahan Aciel waktu itu.


            “Yah, terkadang ia memang baik hati dan sangat penyayang. Namun ia jauh lebih menyebalkan daripada penyayang.” gerutu Eden sebal sambil membayangkan tingkah menyebalkan Aciel dan sikap galaknya yang terkadang membuat Eden pusing karena ia jadi terkekang untuk melakukan ini dan itu.


            “Sudahlah, jangan terlalu marah pada suamimu. Mungkin, lain kali kau bisa datang ke Australi ketika Louise dan Ciara sudah sedikit lebih besar.”


            “Hmm. Aku benar-benar sangat menyesal. Maafkan aku karena tidak bisa datang di hari bahagiamu.” ucap Eden penuh penyesalan. Ia benar-benar sangat merasa bersalah pada Summer. Bagaimanapun juga mereka dulu sangat dekat, jadi Eden sangat ingin datang di hari bahagia sahabatnya. Tapi sekali lagi, Aciel tidak mengijinkannya. Dan ia tidak ingin membuat keributan di tengah kehangatan yang sedang coba ia bangun untuk keluarga kecilnya.


            “Lain kali kita masih bisa bertemu. Kalau begitu aku akan menutup teleponnya sekarang. Setelah ini aku harus mengantarkan berkas-berkas penting ke kantor Max. Jadi sampai jumpa dan jangan bersedih lagi. O ya, mungkin lain kali aku akan mengajak Max untuk datang ke Las Vegas.”


            “Sampai jumpa. Semoga acara pernikahanmu berjalan lancar dan aku turut bahagia atas pernikahanmu. Hmm, aku akan menunggumu.” ucap Eden akhirnya sebelum ia menutup sambungan teleponnya.


Klik


            Sambungan terputus. Eden mematikan ponselnya dan meletakan benda persegi itu kembali ke tempatnya semula, di atas nakas ranjangnya. Hari ini ia benar-benar harus menguatkan hati agar ia tidak merasa sedih lagi ketika bertemu dengan suaminya. Sekarang ia telah menjadi seorang ibu, dan ia tidak boleh lagi bersikap egois demi kesenangannya semata. Ya, Eden pasti bisa bersikap dewasa.


-00-


            “Hey, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Sian tiba-tiba pada Aciel. Tadi ketika ia masuk ke dalam kantin, kedua matanya tak sengaja menangkap sosok Aciel yang tengah termenung sendirian di sudut ruangan. Sebuah pemandangan yang cukup janggal sebenarnya, seorang Aciel Lutherford belum pernah sekalipun menginjakan


kakiknya di kantin kantor karena pria itu nyaris tidak memiliki waktu untuk berada di satu tempat makan bersama karyawan-karyawannya. Merasa penasaran, akhirnya Sian memutuskan untuk menghampiri sahabat baiknya itu. Sian pikir dengan kehadirannya, ia dapat membantu Aciel mengobati suasana hatinya yang buruk hari ini. Well, sedikit banyak ia mengetahui hal itu dari Susan.


            “Menurutmu apa yang sedang kulakukan di sini? Aku sedang meminum kopi.” jawab Aciel dingin dan datar. Entahlah, sepertinya pikirannya masih sangat kacau karena ia tidak bisa menghubungi Eden. Ia merasa Eden masih marah padanya, padahal ia berniat untuk berbaikan dengan wanita itu.


            “Kau bertengkar dengan Eden?”


            Binggo! Tebakan Sian memang selalu tepat sasaran. Karena menurut Sian, tidak ada seorangpun yang dapat membuat Aciel merasa frustasi selain Eden dan keluarga kecilnya.


            “Tidak. Aku hanya merasa lelah. Bagaimana dengan perjalanan bulan madumu dengan Olivia, apakah menyenangkan?” tanya Aciel untuk mengalihkan perhatian. Ia sedang tidak ingin membicarakan tentang Eden ataupun masalah pertengkarannya tadi pagi yang sangat tidak mengenakan untuk dibahas.


            “Tentu saja sangat menyenangkan, walaupun kau harus membuatnya tertunda lebih dari dua minggu dari yang seharusnya.” ucap Sian bersungut-sungut. Aciel hanya tersenyum seperti meremehkan, terlalu malas untuk berkomentar terlalu jauh tentang penundaan bulan madu Sian yang terjadi karena dirinya memaksa Sian untuk ke kantor dan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang memerlukan sentuhannya.

__ADS_1


            “Kau tahu, berapa kali kami melakukan percintaan di atas ranjang kami yang panas? Sepanjang hari. Ya


Tuhan, sepanjang hari bung. Bukankah itu sangat menyenangkan?” lanjut Sian antusias. Aciel memutar bola matanya malas pada Sian. Kenapa ia justru memanas-manasinya dengan pengalaman bulan madu mereka yang sangat panas, Sian benar-benar membuatnya  merasa iri dan ingin segera pulang ke rumah.


            “Yah, itu sangat hebat. Tapi, kenapa kau mengumbarnya di hadapanku? Seharusnya kau menceritakannya pada pasangan lain yang belum menikah agar mereka semakin iri.” ucap Aciel tampak tak berminat dengan topik pembahasan Sian seputar bulan madunya. Kalaupun Sian ingin berbuat pamer di hadapannya, ia sudah tidak tertarik lagi. Toh, dulu ia sudah pernah melakukannya dengan Eden. Bahkan jauh lebih menyenangkan dan jauh lebih luar biasa, karena mereka melakukannya di atas kapal pesiar. Ah, kenapa ia jadi memikirkan hal itu sekarang.


            “Ahh, kau memang tidak asik. Aku menceritakan hal ini supaya kau dapat membagi tips denganku, bagaimana caranya agar istriku bisa segera hamil.”


            “Oh, kau hanya ingin mengetahui hal itu. Kenapa harus repor-repot menceritakan pengalaman bulan madumu jika kau hanya ingin mengetahui cara memiliki bayi dengan cepat. Dasar tukang pamer.” cibir Aciel gusar.


            “Hey, aku tidak berniat pamer. Kau saja yang sedang sensitif.” bela Sian tak mau kalah.


            “Jadi, bagaimana? Apa Olivia belum hamil?”


            “Belum. Bagaimana caranya agar Olivia bisa cepat hamil? Kau pasti sangat tahu bagaimana caranya, mengingat Eden yang selalu hamil setelah... Yah, kau pasti sudah tahu maksudku.” ucap Sian yang tiba-tiba merasa sungkan untuk mengatakan maksudnya. Padahal beberpa menit yang lalu ia baru saja menceritakannya dengan heboh. Dasar Sian!


            “Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya berdoa pada Tuhan dan Tuhan menjawab doaku.” jawab Aciel apa adanya. Tapi sepertinya Sian masih merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Aciel.


            “Benarkah? Padahal menurutku, kau bukan tipe pria yang religius. Tapi jika Eden yang melakukannya,


aku akan percaya.” canda Sian dengan tawa renyahnya. Mendengar Sian menyebut-nyebut nama Eden, membuat Aciel tiba-tiba merasa bersalah pada Eden. Seharusnya ia tidak terlalu keras pada Eden dan mengijinkan Eden untuk pergi ke Australi. Lagipula apa yang dikatakan oleh Susan ada benarnya juga. Selama ini Eden tidak pernah bertemu dengan teman-teman lamanya. Sejak mereka menikah, Eden selalu menurut padanya dan tidak pernah membantah semua kemauannya. Tapi ia masih memiliki terlalu banyak ego untuk melarang Eden pergi ke Australia.


            “Hey, kau melamun?” tegur Sian sambil menyenggol bahu Aciel pelan. Aciel segera tersadar dari lamunan singkatnya sambil berdeham beberapa kali untuk menghilangkan rasa keterkejutannya.


            “Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” kilah Aciel asal-asalan. Sian melipat kedua tangannya di depan dada dan mulai mengamati wajah Aciel satu per satu. Sepertinya Sian mulai mengerti jika sahabatnya itu memang sedang dilanda masalah yang serius.


            “Kau


pasti sedang memikirkan Eden. Memangnya ada apa dengan kehidupan rumah tangga kalian? Baru seminggu aku meninggalkan kalian berdua untuk bulan madu, dan ketika aku pulang, kalian justru sedang dalam mode pertengkaran. Ckckck, kalian memang harus selalu berada di dalam pengawasanku.” ucap Sian panjang lebar, namun sama sekali tidak dipedulikan oleh Aciel.


            “Kami tidak apa-apa. Kau saja yang terlalu berlebihan. Jika kau memang ingin membantuku, lebih baik kau gantikan aku memimpin rapat hari ini, karena aku ingin pulang lebih awal.”


            “Apa? Kau ingin menyusun rencana bulan madu dengan Eden?” teriak Sian dengan aksen terkejut yang berlebihan. Ingin rasanya Aciel menyumpal mulut besar Sian yang sangat berisik dan mengganggu itu. Beberapa karyawan kini tengah mencuri dengar pembicaraan mereka untuk dijadikan gosip di ruangan mereka. Dan Aciel tidak suka itu.


            “Ada sesuatu yang harus kulakukan dengan Eden.”


            “Hmm, sebenarnya aku malas untuk menghandle semua pekerjaanmu. Tapi baiklah. Demi Eden dan keluarga kecilmu. Anggap saja ini sebagai hadiah untuk keponakan-keponakan lucuku. Gunakan waktu ini sebaik-baiknya Ace.”


            “Terimakasih. Ternyata kau teman yang cukup baik dan sangat berguna. Semoga Olivia bisa cepat-cepat hamil dan memiliki anak yang cantik sepertinya.”


            “Hey, kau tidak bermaksud mengejekku jelek kan?” “Tidak, kau saja yang terlalu sensitif.” kilah Aciel sambil menirukan ucapan Sian sebelumnya. Sian tampak bersungut-sungut tidak suka karena Aciel baru saja menirukan ucapannya.


            “Baiklah, terserah kau saja. Jadi, kemana kalian akan pergi? Lalu bagaimana dengan perayaan natal kalian? Tidak ada pestakah?” tanya Sian bertubi-tubi sambil menyruput kopi hitam milik Aciel.


            “Hey itu kopiku.” tegur Aciel tak terima, namun Sian sudah lebih dulu menghabiskan kopinya.


            “Sudahlah, aku hanya meminta sedikit. Lagipula kau akan meminta bantuanku kan? Jadi bersikaplah dengan baik padaku atau aku akan membatalkan niat baikku untuk menghandle semua pekerjaanmu.” ancam Sian dengan senyum kemenangan. Aciel mendengus gusar pada sahabatnya karena ia terlihat begitu puas membuatnya merasa terancam.


            “Jadi, kapan kalian akan berangkat?” ulang Sian sekali lagi.


            “Aku masih belum membicarakannya dengan Eden. Lagipula aku juga tidak akan pergi kemanapun untuk berbulan madu seperti yang kau tuduhkan.” Aciel berucap malas pada Sian atas mulut besar pria itu yang terus saja menanyakan sesuatu yang tidak akan ia lakukan. Jika memang ia akan mengajak Eden berlibur, ia tidak akan pernah mengajak Eden pergi ke Australia. Inggris mungkin akan menjadi tujuan tempat berliburnya di awal tahun.


            “Lalu kenapa kau menyuruhku untuk menggantikan rapat sore nanti. Bukankah kau masih bisa memimpin rapat untuk hari ini jika kau memang tidak akan pergi kemanapun?”


            “Aku tidak bisa. Eden sedang marah padaku karena sebelumnya aku tidak mengijinkannya untuk datang ke acara reuni itu. Dan sekarang aku ingin berbaikan dengannya. Kami bukan lagi remaja ingusan yang bertengkar hebat hanya karena perbedaan pendapat, kami harus bisa menyelesaikan semuanya baik-baik karena kami telah


memiliki Ciara dan Louise.” ucap Aciel menjelaskan. Terpaksa ia memberitahu Sian jika ia memang sedang bertengkar dengan Eden. Mulut besar Sian nyatanya berhasil memancing kesabarannya hingga akhirnya ia tidak bisa tidak menceritakan pertengkarannya dengan Eden pada Sian. Padahal awalnya ia berniat untuk menghindari Sian, agar pria itu tidak bertanya yang macam-macam.


            “Hmm, sudah kuduga. Pasti kalian sedang dalam mode pertengkaran sekarang. Kalau begitu cepatlah pulang ke rumah dan bujuklah Eden agar ia tidak marah lagi padamu. Terkadang aku merasa cukup kasihan pada Eden, karena ia harus selalu bersabar menghadapi sikapmu yang suka berubah-ubah. Selain itu, kau adalah tipe pria yang sulit untuk dibantah, Eden pasti adalah wanita yang sangat kuat.”


            “Huh, baiklah. Aku akan pulang sekarang. Terimakasih atas pengertianmu.”


            “Sama-sama. Jangan lupa beritahu aku bagaimana caranya agar segera memiliki bayi. Sebagai sesama pria tua yang cukup lama kesepian, kita harus saling membantu” pesan Sian sebelum Aciel beranjak dari kursinya.


            “Pria tua kesepian kau bilang? Yang benar saja?” kekeh Aciel malas. “Aku bisa saja menikah ketika usiaku masih di pertengahan dua puluhan jika aku mau, tapi aku tidak melakukannya. Kau saja yang kesepian.” lanjut Aciel mencibir.

__ADS_1


            “Baiklah aku mengaku kalah, kau memang the most wanted man paling mengerikan di Vegas. Yeah, setidaknya itu dulu. Kau sekarang tetap saja pria tua.” balas Sian tak mau kalah. Ia tampak puas karena berhasil membalas Aciel. Tapi Aciel memilih untuk tak mempedulikannya dan segera pergi untuk pulang menemui Eden.


__ADS_2