Black Swan

Black Swan
Eden's Family (One Hundred Thirty Six)


__ADS_3

            Eden telah siap di kamarnya dengan si kembar yang sebentar lagi akan pulang ke rumah. Rasanya sungguh menyenangkan saat bisa kembali ke rumah sambil membawa dua anggota baru yang nantinya akan ikut berteriak-teriak heboh bersama Ciara dan Louise. Mereka berdua pasti akan  berebut untuk mengganti popok atau menenangkan adik-adik mereka bila merengek di pagi, di siang, atau di malam hari sekalipun. Eden menangkap adanya banyak minat yang terpancar di mata Ciara dan Louise pada adik-adik mereka.


            Tak pernah terlupakan oleh Eden bagaimana ekspresi heran Louise saat ia mengatakan jika diperutnya ada dua bayi. Pria kecilnya itu langsung saja menyentuh perutnya dengan rasa ingin tahu meluap-luap, dan setelah itu ia berteriak girang saat tangannya merasakan tendangan yang sangat kuat dari Theo dan Lean. Ya ampun, itu sangat manis, pikir Eden senang.


            Tak ada yang lebih menyenangkan dari memikirkan keluarga kecilnya yang jauh dari masalah. Sudah lama ia menantikan ini. Menantikan Aciel yang hadir dengan wajah penuh figur ayah yang akan menjadi kebanggaan untuk anak-anaknya maupun dirinya. Sedikit demi sedikit ingatannya tentang masa lalu muncul bagaikan keajaiban yang luar biasa. Ia bisa mengingat Zyan dengan baik sekarang. Ia mengingat bagaimana pria baik hati itu meninggal saat status mereka masih menjadi suami istri. Lalu serangkaian kejadian emosional terus terjadi di hidupnya hingga akhirnya ia mengandung si kembar dan menemukan ketenangan. Tanpa disadari si kembar telah membawa begitu banyak kebahagiaan untuk Eden dan keluarganya.


            “Kalian adalah berkah untuk mom dan dad. Tumbuhlah dengan sehat, sayang. Mommy sangat menyayangimu.” Eden berbisik pelan di telinga kedua anaknya lalu mengecup pipi mereka bergantian. Theo yang manis menggerak-gerakan tangannya lucu dibalik sarung tangan mungil yang melindunginya. Sedangkan si tampan Lean terlihat membuat gerakan menggeliat di atas box bayinya seperti kucing kecil yang menggemaskan.


            “Ohh... kenapa kalian lucu sekali.”


            Semua orang pasti akan sangat gemas pada mereka begitu Aciel membawa mereka ke mansion. Eden berani bertaruh, semua pelayan di sana pasti tidak akan bisa berpaling dari tingkah lucu si kembar.


            “Hai sayang.”


            Aciel menyapa istrinya sambil menggenggam sebuket bunga lili yang sangat cantik. Itu tradisi keluarga katanya. Tidak afdol jika seorang suami tidak membawa sebuket bunga kesukaan istrinya saat menjemput istrinya untuk pulang ke rumah dan menyambut hari yang lebih baik bersama bayi mereka yang baru dilahirkan.


            “Aku tidak ingat kau membawa buket bunga di kelahiran Ciara dan Louise.” goda Eden jenaka saat menerima buket itu dengan tangan terbuka. Meskipun ia tahu Aciel lebih dari mampu untuk membeli berhektar-hektar perkebunan lili, tapi bukan itu inti dari semua ini. Simbol kasih sayang, cinta, dan ketulusan dari sebuket bunga lili yang diberikan Aciel adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan uang.


            “Memang aku tidak memberikannya. Ingat, kau kabur dariku sebelum Ciara lahir. Dan saat Louise lahir, kau terbaring koma dengan wajah pucat. Bagaimana mungkin aku dapat memberimu sebuket bunga? Alih-alih mengharapkan rona bahagia di wajahmu, aku justru mendapatkan kepedihan dari melihat wajah sepucat mayat yang memperihatinkan. Dan apa kau tahu, aku tidak pernah tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan jika kau akan meninggalkanku selamanya.”


            “Maksudmu tidak pernah bangun dari koma?” sahut Eden dengan cengiran. Rasanya memang tidak mungkin jika Aciel tidak takut, kondisinya sangat lemah saat itu. Entah kenapa sekarang ia bisa merasakan bagaimana rasanya terbaring kaku dengan rasa frustrasi besar yang menggerogoti hatinya.


            Satu hal yang akhirnya membuatnya bangun saat itu, ia melihat Louise. Ya! Sekarang ia bisa mengatakan itu dengan jelas karena secara aneh bayangan itu muncul di kepalanya. Seorang pria kecil yang ia akui sebagai Louise saat berusia dua tahun itu melambai kearahnya, memberinya isyarat supaya bangkit dari kefrustrasian yang membelenggunya. Lalu ia berlari mengejar sosoknya yang pergi dengan begitu cepat. Setelah itu ia sadar jika ia membuka matanya dengan nyalang. Lalu ia marah-marah pada Aciel sambil melayangkan berbagai macam tuduhan seperti orang gila. Sungguh itu lucu, dan Eden tak bisa melupakan ekspresi kaget Aciel saat ia menyemburnya dengan kata-katanya yang kasar.


            “Mengingat masa lalu lagi sayang?” tanya Aciel yang entah bagaimana telah berada di sebelahnya dan merangkul pundaknya sambil memandangi anak kembarnya dengan wajah berbinar-binar.


            “Kau juga merasakannya?”


            “Merasakan apa?” tanya Aciel tak mengerti. Diulurkannya satu tangan menyentuh pipi chubby Theo. Bayi itu pasti akan menjadi favorit Aciel setelah Ciara.


            “Rasa bahagia yang mereka pancarkan. Tidak pernah aku merasakan kelahiran setenang ini selama menjadi istrimu. Mereka tidak rewel, tidak membuatku merasakan morning sickness yang parah, dan mereka praktis merubahmu menjadi Aciel yang lebih family man. Apa kau merasakannya?” terang Eden berbinar-binar. Kedua tangannya terkepal dengan penuh semangat di atas pahanya, ia merasa begitu antusias hari ini.


            “Kurasa juga begitu. Lebih banyak hal-hal indah yang mereka bawa di keluarga kita. Itu efek dari memiliki dua bayi, jika kau memiliki tiga atau lebih, kebahagiaanmu pasti akan berkali lipat dari ini.”


            “Hmm... aku tahu arah pembicaraan ini, tuan Lutherford.” geram Eden pura-pura marah. Namun ia justru tergelak setelahnya sambil membenamkan wajahnya di dada Aciel. “Mungkin jika mereka sudah besar, aku bisa memberi kesempatan untukmu menjadi kapten tim kesebelasan Lutherford.”


            “Kuanggap itu sebagai janji, sayang.” ucap Aciel lembut sambil mengecup puncak kepala istrinya penuh kasih. Dan saat Eden sedang terhanyut dengan semua kebahagiaan yang sedang mereka resapi, Aciel menyelipkan hadiah ke dua untuk Eden di lehernya.


            “Ace, apa ini?” tanya Eden meraba lehernya sendiri. Ia langsung merasa takjub saat mendapatkan sebuah kalung dengan liontin yang begitu cantik sebagai bandul.


            “Hadiah ke dua dariku. Aku mendesainnya sendiri dan menyerahkan hasil pemikiranku pada pengrajinnya. Lalu aku memintaya untuk memasukan foto keluarga kita di dalam sana.”


            Eden langsung menarik bandul itu mendekat ke wajahnya dan segera membuka bandul kalung yang diberikan Aciel. “Ya Tuhan, ini indah.” Eden tak bisa mengatakan hal lain selain indah saat melihat sebuah foto kecil keluarga mereka terpasang apik di dalam liontin. Tak lupa foto si kembar saat baru lahir juga ditambahkan Aciel di sana, dan membuat kalung itu menjadi semakin mewah dengan nilai yang tak akan bisa dibeli dengan uang.

__ADS_1


            “Aku menangis.” erang Eden lucu saat ia tak dapat menahan rasa haru yang membuncah di hatinya. Bagaimana mungkin seorang Aciel Lutherford yang kaku bisa membuat Eden Lutherford menjadi tak berdaya karena keromantisannya. Ck, pria itu pasti telah belajar sangat keras selama bertahun-tahun untuk menjadi pria romantis di hadapan Eden.


            “Ini adalah air mata yang kuharapkan. Boleh kukatakan lagi jika aku mencintaimu?”


            “Silahkan, tuan Aciel Lutherford.” balas Eden tersipu-sipu. Sebanyak apapun Aciel mengucapkan kata-kata itu, Eden rasanya tidak akan pernah bosan. Justru ia berharap kata-kata itu akan terus terdengar di telinganya hingga maut memisahkan mereka. Hingga mereka tidak lagi bisa hidup bersama di dunia ini, namun mereka akan hidup bersama selamanya di keabadian.


            Selagi Eden terhanyut dalam rasa bahagianya yang meluap-luap, Aciel memberikan ciuman dalam yang penuh gairah pada istrinya. Ia pikir Eden berhak menerima semua kebahagiaan itu sebelum ia mengungumkan berita buruk yang akan membuat Eden meninggalkan wajah bahagianya seketika.


            “Kira-kira apa yang sedang dilakukan Louise dan Ciara di rumah?”


            “Ciara baru saja pulang dari sekolah. Aku yang menjemputnya sendiri dan menurunkannya di rumah agar ia bisa membuat pesta kejutan untukmu. Dan si kecil Louise, ia pasti melakukan tugasnya seperti biasa.”


            Eden tergelak kecil mendengar cerita Aciel. “Mengacaukan pesta kejutan yang sedang dibuat Ciara maksudmu?”


            “Tepat sekali.”


            Tentu saja kebiasaan Louise sebagai pria yang menggemaskan, ia akan menjadi pengacau yang sangat menyebalkan untuk kakaknya. Jika mereka sedang akur, mereka akan menjadi kakak beradik yang sangat mengagumkan. Tapi jika mereka sedang bertengkar, jangan harap Ciara tidak akan menggetarkan rumah dengan suara teriakannya yang luar biasa. Lalu si kecil Louise biasanya akan berlari-lari jahil ke dalam pelukan Aciel sambil memohon perlindungan dari kakaknya yang galak.


            “Oya Ed.”


            Saat Eden sedang menata selimut milik Theo untuk dipindahkan ke dalam kereta dorong besar berwarna biru tua, Aciel mendekatinya sambil menunjukan gelagat aneh.


            “Kau ingin mengatakan sesuatu?”


            “Sebenarnya ya, dan kuharap ini tidak akan meruntuhkan kebahagiaanmu untuk hari ini.”


            “Pagi ini aku mendapatkan kabar buruk dari Nathan.” Jeda sebentar saat Aciel mengambil napas dalam untuk memberitahukan inti dari berita buruk yang ia bawa. “Olivia telah diculik oleh Scout tadi malam.”


            Seakan dugaan Aciel mengenai dirinya benar. Eden merasakan kebahagiaannya runtuh saat mendengar kabar Olivia yang menjadi semakin buruk dari hari ke hari.


            “Bagaimana bisa?” tanya Eden dengan suara bergetar. Tak bisa dibayangkan bagaimana ketakutannya Olivia saat ini karena sedang disandera oleh Scout. Pria itu pasti telah gila sampai-sampai mengambil tindakan yang begitu mengerikan seperti itu.


            “Sian. Dia tidak menuruti nasihatku. Sebelumnya kuminta dia berbicara dengan Olivia secara baik-baik agar dapat menemukan jalan keluar untuk masalah mereka. Namun Nathan memberitahuku jika pembicaraan mereka berakhir dengan teriakan dan makian yang saling bersahut-sahutan yang begitu memekakan telinga. Kukira kemarahan Sian itu yang membuat ia lengah dan menyebabkan Olivia jatuh ke tangan pria itu.”


            “Ya Tuhan, Olivia.” isak Eden pilu. Sebagai teman yang diberitahu bagaimana awal dari malapetaka itu terjadi, ia jadi merasa bersalah pada Olivia karena ia menjadi lalai pada wanita itu setelah kelahiran bayi-bayinya. Semua atensinya akhri-akhir ini hanya tertuju pada kebahagiaanya sendiri tanpa pernah memikirkan bagaimana keadaan Olivia yang tertekan dan ketakutan setiap malamnya.


            “Bukankah pria itu masih terikat dengan perusahaanmu?”


            “Sebenarnya tidak semenjak aku membeli desainnya dua hari yang lalu. Scout hanya menggunakan alasan ingin mengawasi pembangunan pabrik untuk mendekati Olivia. Hubungan kerja kami sudah selesai, Ed. Aku sudah memberikan bayaran penuh padanya.


            Eden mendesah sedih mendengar penjelasan suaminya. Sekarang pria itu bebas berkeliaran membawa Olivia tanpa perlu mengkhawatirkan pekerjaannya. “Lalu apa yang akan kita lakukan? Temukan Olivia, Ace. Kumohon.” Eden memohon dengan pengharapan penuh di depan Aciel. Hanya Acielah harapannya untuk menemukan Olivia. Disaat ia sedang dalam masa pemulihan pasca persalinannya, ia tidak akan pernah bisa bergerak bebas untuk mencari Olivia.


            “Aku pasti akan melakukannya. Kau tenang saja, Ed.” bisik Aciel penuh janji.

__ADS_1


            Eden sungguh sangat berharap Aciel dapat menggunakan seluruh kekuasaannya untuk menemukan Olivia. Tapi kemudian Eden menjadi ragu saat pikirannya mencetuskan sesuatu yang sangat mengerikan, bagaimana jika Olivia dibawa keluar dari wilayang Las Vegas dan dibunuh?


-00-


            Scout membawa Olivia pergi dari apartemen sewaannya di Las Vegas setelah sebelumnya mereka harus melakukan perdebatan alot yang begitu sengit. Sembari mengemudikan mobilnya, ekor mata Scout terus melirik pergerakan Olivia yang terlihat lebih kalem dari sebelumnya. Semenjak ia menyeret wanita itu masuk ke dalam mobilnya, Olivia menjadi lebih pendiam dan sama sekali tidak mendebatnya. Padahal ia telah menyiapkan mental untuk melayani perdebatan yang akan dilakukan oleh wanita itu, tapi sudahlah. Menurutnya itu jauh lebih baik, sehingga ia dapat memusatkan perhatiannya pada jalanan panjang di depannya.


            “Makan ini, kau belum makan sejak pagi.”


            Tiba-tiba Scout melermparkan sebuah bungkusan yang berisi roti isi tuna di pangkuan Olivia. Meskipun ia pria yang brengsek, tapi ia tak akan membiarkan wanita lemah seperti Olivia kelaparan saat bersamanya, karena nyawa wanita itu penting untuknya. Entahlah, mungkin ia telah jatuh cinta pada Olivia. Tapi ia juga tidak bisa menampik perasaan kesal karena wanita itu terus melakukan perlawanan, sehingga ia terpaksa menggunakan cara kasar untuk menjinakan wanita itu


            “Kubilang makan! Apa kau ingin aku memaksamu.”


            Olivia menolehkan kepalanya gusar sambil memandang datar pada Scout yang mulai menepikan mobilnya di pinggir jalan pedesaan yang sepi. Pria itu terlihat begitu kejam dan otoriter, membuat Olivia merasa jengah berada di dekat pria itu.


            “Aku akan makan jika aku lapar, jadi kau tidak perlu repot-repot menepikan mobilmu dan memaksaku untuk makan. Memangnya kau siapa! Bahkan suamiku dan keluargaku tidak pernah memaksaku untuk makan atau mengingatkanku untuk makan saat di rumah. Jadi kau tidak berhak untuk memaksaku dengan gaya angkuhmu yang sangat memuakan itu karena kau tidak berhak mengatur hidupku.” balas Olivia sengit. Tapi wanita itu mulai membuka bungkusan roti yang diberikan oleh Scout dan makan dalam diam. Anaknya perlu nutrisi, itulah yang dipikirkan Olivia saat ini. Ia tidak mau mengambil risiko anaknya terlahir cacat karena ia tidak menjaga kehamilannya dengan baik.


            “Ini, kau harus menghabiskan semuanya.”


            Seakan mengerti dengan jalan pikiran Olivia, Scout melemparkan sebungkus roti isi lagi pada Olivia setelah pria itu mengambilnya dari kursi penumpang di belakang. Dari bahasa tubuh yang Olivia tunjukan ia tahu jika wanita itu saat ini sedang kelaparan. Dan lagi, Scout cukup sadar jika saat ini Olivia juga perlu memberi makan anaknya yang sedang tumbuh di rahim Olivia.


            “Saat ini Sian pasti sedang kebingungan mencarimu. Lalu Aciel yang angkuh itu, ia juga tidak akan ketinggalan untuk mencarimu dengan seluruh kekuasaan yang ia miliki. Bukankah menyenangkan sekali menculik salah satu kerabat Aciel Lutherford?”


            “Kuharap juga begitu. Kau pikir mereka akan mencariku setelah apa yang terjadi? Mungkin Sian justru senang aku pergi meninggalkannya.” balas Olivia sinis. Hatinya tentu saja sakit mengingat Sian yang sejak kemarin terus menuduhnya dengan keji. Menghilangnya ia hari ini tentu saja tidak akan memberikan efek apapun pada Sian yang telah berbalik membencinya.


            Olivia menghentikan kegiatan mengunyah roti isinya saat mengingat semua kenangan buruk yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Dan ia seketika menyalahkan Scout sebagai dalang dari semua masalah yang menimpanya hingga detik ini. Ia merasa begitu muak pada pria itu. Sebenarnya alasannya untuk menyerah pada Scout kali ini adalah untuk melihat seberapa besar cinta Sian dan juga keluarganya yang lain padanya. Masihkan mereka mempedulikannya jika ia menghilang? Ia ingin melihat bagaimana ekspresi wajah mereka saat mengetahui jika dirinya diculik oleh pria sakit jiwa seperti Scout. Tapi jika mengingat mereka, Olivia tidak bisa menahan rasa sesak di dadanya saat mengingat Justice. Putri kecilnya yang malang. Apakah ia akan baik-baik saja tanpa keberadaannya di sisinya?


Bughh


            “Kau jahat! Kembalikan aku ke rumah sekarang juga! Justice membutuhkan ibunya. Kau tega memisahkan putriku denganku.”


            Olivia seketika berubah pikiran. Ia sengaja memukul Scout bertubi-tubi dan membuat pria itu kehilangan konsentrasi, sehingga mobil yang dikendarainya beberapa kali hampir keluar dari jalur dan menabrak mobil lain yang datang dari arah berlawanan. Tapi Scout dengan sigap langsung menjauhkan Olivia dari roda kemudi mobilnya agar wanita itu tidak bisa mengacaukan kegiatan mengemudinya lagi.


            “Apa yang kau lakukan? Jika kau ingin mati, maka kau harus sedikit bersabar lebih lama lagi karena aku masih membutuhkanmu dalam keadaan hidup. Aku menginginkan anak itu.” desis Scout marah dan kembali bersikap tenang dengan kemudi mobilnya. Scout akhirnya berhasil memberikan alasan yang lebih logis pada


Olivia. Alasan ia menculik wanita itu adalah karena ia ingin anaknya dilahirkan dengan selamat oleh Olivia. Semenjak ia melihat sikap kasar Sian pada Olivia, Scout menjadi takut jika Sian akan menyakiti anaknya sebagai bentuk pelampiasan karena ia telah menodai istrinya.


            Olivia kemudian memalingkan wajahnya ke arah jendela sambil melemparkan roti isinya yang masih tersisa setengah ke bawah kursinya. Tiba-tiba saja ia merasa kenyang dan tidak ingin memakan roti isi itu lagi. Rasanya perutnya telah kenyang setelah mendengar semua omong kosong pria itu yang aneh. Kenapa tiba-tiba pria itu menginginkan anak itu? Olivia masih tak mengerti dengan jalan pikiran Scout. Sebelumnya pria itu bersikap sebagai pria brengsek yang ingin merebutnya dari Sian, lalu sekarang pria itu mengatakan ingin anaknya dilahirkan dengan selamat. Sebenarnya apa tujuan Scout selama ini?


            “Apa....”


Jleb


            Tiba-tiba Scout menusukan sesuatu pada lengan Olivia dan membuat wanita itu terbelalak kaget dengan perilaku Scout yang sama sekali tak diduganya itu.

__ADS_1


            “Aaa apa yang kau llllaakukan ppadaku?” tanya Olivia terbata-bata. Seluruh kepalanya terasa berputar dan berdenyut. Perlahan-lahan pandangan matanya menjadi kabur dan lambat laun wajah Scout yang tampak menyeringai itu menjadi hilang, digantikan dengan kegelapan pekat yang mengerikan.


            “Selamat tidur Olivia sayang.”


__ADS_2