Black Swan

Black Swan
Yes I Love You (Fifthy Six)


__ADS_3

            Eden mengerjapkan matanya perlahan-lahan dan mulai mengamati ruangan tempatnya berbaring dengan seksama. Wanita muda itu terlihat begitu frustrasi ketika akhirnya ia mampu mengenali ruangan itu dengan baik sambil menghela nafasnya dalam. Padahal sebelumnya ia tidak pernah berpikir untuk kembali ke tempat ini


lagi. Tapi nyatanya takdir seperti mempermainkannya karena sekarang ia justru kembali terbaring dengan selang infus di dalam kamar yang sama seperti yang terjadi beberapa minggu yang lalu.


            “Selamat datang kembali adik perempuanku yang cantik. Ahh ya... sepertinya memang sedikit tidak pantas untuk menjadi adik, kau lebih pantas untuk menjadi keponakanku atau bahkan anakku. Maafkan aku yang tua ini Ed” oceh Sian lucu dengan mimik wajah menggelikan. Pria itu sepertinya ingin sedikit mencairkan suasana yang ia pikir akan berjalan aneh setelah Eden siuman karena ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan Eden setelah wanita itu terbangun dari koma. Mendengar ocehan Sian yang cukup panjang, Eden segera menolehkan kepalanya kearah sumber suara sambil mengernyit bingung pada seseorang yang beberapa detik lalu menyapanya. Sambil menyipitkan matanya, Eden mencoba mengingat wajah pria asing yang masih menatapnya dengan sorot jenaka melalui ambang pintu. Namun sayangnya ia tidak bisa menemukan sedikitpun petunjuk mengenai identitas pria asing itu di dalam kepalanya yang kecil hingga akhirnya ia memilih menyerah dan memberikan tatapan tidak mengertinya pada pria itu.


            “Baiklah, kau tidak perlu memaksakan diri untuk mengingatku jika kau memang tidak mampu. Perkenalkan aku Sian, sahabat sekaligus salah satu karyawan Aciel, tapi sebenarnya kami lebih dari itu karena Aciel sudah kuanggap seperti saudara kandungku sendiri.”


            Mendengar pria itu memperkenalkan diri dengan gaya santai yang terkesan akrab membuat Eden langsung membandingkan sifat pria itu dengan sifat Aciel yang dingin. Mereka berdua jelas memiliki perbedaan sikap yang mencolok. Begitulah kesan pertama Eden pada Sian.


            “Oh hai, namaku Eden Morel.”


            “Nonono! Kau bukan Eden Morel lagi, kau adalah Eden Lutherford.” tegas Sian yang membuat Eden sedikit gusar padanya. Sekarang ia akan menarik penilaian positifnya terhadap pria itu.


            “Yah baiklah, terserah padamu.”


            Eden akhirnya memilih diam sambil memandang langit-langit kamarnya dengan bingung. Setelah sadar Eden memilih untuk mengingat apa yang terjadi padanya beberapa jam terakhir hingga ia harus berakhir di dalam kamar yang sama yang digunakan untuk mengurungnya beberapa minggu yang lalu. Kemudian tiba-tiba potongan demi potongan kejadian ketika ia sedang makan di restoran dengan Anthony, lalu Aciel datang untuk menjemputnya, dan berakhir dengan hujan peluru yang mengerikan mulai membuat Eden sadar jika keberadaannya di sini karena suatu hal mengerikan yang baru saja terjadi padanya. Lalu ia mengingat kejadian terakhir sebelum jatuh tak sadarkan diri di sebelah tubuh dingin Aciel setelah pria itu menggunakan punggungnya untuk menangkis timah panas yang hendak diarahkan padanya. Ya, pria itu menyelamatkannya dari maut dan mengatakan padanya jika ia telah menepati janjinya dengan memberikan ia nyawa dan juga loyalitas.


            “Aciel... apa ia baik-baik saja?”


            Eden bertanya dengan suara tercekat yang begitu aneh. Tenggorokannya kini begitu sakit karena sejak sadar ia belum meminum setetespun air untuk menghilangkan dahaganya. Selain itu perasaan takut yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya semakin membuat tenggorokannya sulit untuk digetarkan hingga pada akhirnya hanya suara seperti cekikan yang terlontar dari bibirnya untuk bertanya pada Sian.


            “Apa kau berharap Aciel mati?”


            Pertanyaan bernada sakarstik yang dilontarkan oleh Sian sedikit membuatnya tertohok. Meskipun awalnya ia memang menginginkan Aciel mati, namun pada akhirnya ia merasa begitu sedih ketika membayangkan pria itu merenggang nyawa. Hatinya sakit saat membayangkan Aciel tertembak karena melindunginya. Dan alasan ia bertanya pada Sian semata-mata untuk melegakan hatinya yang sedang bergemuruh, bukan untuk mendengar kata-kata penuh tuduhan kejam seperti itu.

__ADS_1


            “Tidak, aku justru berharap sebaliknya. Aku tidak ingin Aciel meninggal.” cicit Eden dengan ego super besar yang masih melingkupi hatinya. Namun Sian mampu mendengar adanya kesungguhan dari setiap ucapan Eden, sehingga ia mampu bernafas lega setelahnya karena setidaknya ikatan batin yang terjalin diantara Eden dan sahabatnya itu tidak sepenuhnya hilang ketika Eden mengalami amnesia. Mungkin Eden hanya perlu diberi sedikit rangsangan untuk mengembalikan ingatannya seperti dulu.


            “Lalu apa yang akan kau lakukan jika Aciel masih hidup? Kau ingin kabur lagi darinya lagi?” tanya Sian datar. Pria itu kemudian memutuskan untuk berjalan sedikit mendekat pada Eden dan mengambil tempat untuk duduk di atas kursi kayu yang berada di samping ranjang Eden.


            “Entahlah, aku tidak tahu. Mengapa semua orang seperti memaksaku untuk menerima Aciel? Padahal aku tidak bisa mengingat apapun. Hal yang kuingat terakhir kali adalah saat Aciel menyeretku paksa dari club setelah ia menghajar Anthony habis-habisan. Sebenarnya aku cukup bingung dengan hidupku saat ini, aku tidak tahu siapa yang harus kupercayai. Kupikir Anthony akan membantuku keluar dari semua hal-hal membingungkan ini, tapi nyatanya ia justru mengumpankanku pada musuh-musuh Aciel yang sangat menginginkan kematian Aciel. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Seharusnya Aciel tidak perlu menyelamatkanku dan membiarkanku mati saat Anthony menodongkan pistol. Aku tidak mau hidup dengan semua kebingungan yang membuatku merasa tercekik dan terancam setiap detiknya.”


            Eden terlihat frustrasi sambil mengacak rambutnya gusar. Sedangkan Sian terlihat begitu prihatin menyaksikan sepupu iparnya yang ternyata tidak jauh berbeda dengan kondisi Aciel, frustrasi. Mereka berdua sama-sama frustrasi dengan masalah mereka yang rumit. Dan sebagai seorang sahabat, ia merasa cukup tidak


berguna sekarang karena ia tidak memiliki pengalaman apapun mengenai masalah rumah tangga.


            “Apa kau juga mengingat saat kau keguguran?” tanya Sian mencoba memancing ingatan Eden yang lain. Saat pertama kali Aciel menceritakan padanya mengenai kondisi Eden yang kehilangan memorinya, Sian sangat tergelitik untuk menemui Eden secara langsung dan menanyakan wanita itu tentang sejauh mana ingatan yang ia


miliki saat ini. Sayangnya sebelum ia bisa benar-benar bertemu Eden, wanita itu sudah terlebihdulu kabur bersama pria yang ia kira sebagai kekasihnya.


            “Keguguran itu... aku ingat. Aku ingat pernah mengandung sebelumnya, dan.. ya ampun!” pekik Eden tiba-tiba yang berhasil membuat Sian terkejut, bahkan hampir-hampir pria itu panik karena takut jika sesuatu yang buruk tiba-tiba saja terjadi pada Eden.


            “Maaf, aku hanya tiba-tiba ingat jika pria yang mendorongku saat itu... bukankah itu kau, Sian? Kau pria yang itu bukan?”


            “Ya, itu memang aku. Kenapa? Apa kau juga sempat melupakanku?”


            “Bukan, hanya saja kurasa wajahmu sekarang terlihat lebih tua dari yang terakhir kuingat.”


            Seketika Sian merasa gusar dengan kata-kata polos Eden yang menyebalkan namun sialnya itu memang benar karena ia memang sudah cukup tua untuk menjadi seorang lajang seperti ini.


            “Aku memang pria tua lajang yang kesepian. Aku memang tidak cukup beruntung seperti Aciel yang sialan itu.” ucap Sian akhirnya setelah ia merasa sedikit emosi dengan kata-kata Eden. Tapi sedetik kemudian ia teringat pada kata-kata Eden sebelumnya, dan ia menjadi ingin memberikan sedikit nasihat bijak pada wanita

__ADS_1


itu sebagai seorang pria tua lajang yang kesepian. “Oh, dan ngomong-ngomong soal kematian yang kau bahas sebelumnya, kau tidak seharusnya mengatakan seperti itu. Bahkan banyak orang di luar sana yang menginginkan hidup mewah seperti dirimu, tapi kau justru menginginkan kematian. Lebih baik mulai sekarang kau belajar untuk menerima peran barumu sebagai ibu dari Ciara dan Louise juga istri dari Aciel karena mereka bertiga jelas tidak bisa hidup tanpamu. Menghilangnya kau beberapa hari kemarin membuat mereka cemas, terutama Aciel karena ia begitu takut kehilanganmu. Sahabatku itu, meskipun ia terlihat dingin, namun sebenarnya ia sangat hangat. Dan kau yang membuatnya mampu mengeluarkan sisi hangat itu selama beberapa tahun ini. Kau berhasil merubah


Aciel perlahan-lahan dengan sifatmu yang terkadang galak, lembut, dan juga keibuan itu. Kau segalanya untuk Aciel. Lagipula semua sifat brengsek Aciel terbentuk karena kesalahan kedua orangtuanya yang.... yaa bisa kukatan jika mereka cukup egois.”


            “Ada apa dengan orangtua Aciel?” tanya Eden tak mengerti. Sian menghela nafas dalam di depan Eden sebelum akhirnya ia sedikit menceritakan tentang masa lalu Aciel dan orangtuanya.


            “Kedua orangtua Aciel berpisah setelah ibu Aciel mengetahui jika suaminya memiliki wanita simpanan. Jadi bisa kau bayangkan bagaimana hidup Aciel setelah ibunya pergi karena ayahnya memiliki wanita lain yang lebih dicintai? Ia hancur, sangat hancur.”


            “Tapi ia melampiaskan semua kemarahannya pada ayahnya padaku.” ucap Eden tiba-tiba dengan suara gusar.


            “Aku tahu jika semua sikap brengseknya selama ini tak lain karena ia memiliki dendam di masa lalu.” mengingat bagaimana sikap Aciel yang sering bergonta-ganti wanita selama ini tiba-tiba membuat dada Eden bergemuruh marah. Bagaimanapun ia adalah wanita normal, ia akui jika ia menyukai paras Aciel yang tampan, ia menyukai harta Aciel yang berlimpah, dan ia juga merasa bangga dengan posisinya sebagai nyonya Lutherford.


            “Aciel memiliki alasan sendiri untuk itu. Terkadang ia harus menggunakan cara-cara kotor untuk memuluskan bisnisnya. Dan tidak sedikit yang menggunakan wanita sebagai jalan untuk memuluskan bisnis mereka. Apa kau tahu jika beberapa pengusaha menyediakan wanita-wanita cantik saat sedang meeting? Hal itu digunakan untuk membuat rekan bisnis mereka menjadi mudah untuk melakukan kerjasama antar perusahaan. Jadi kurasa kau bisa menyimpulkan sendiri bagaimana kotornya dunia bisnis itu Ed.”


            “Ya aku tahu. Akan ada banyak waktu untuk menanyakan semua itu pada Aciel terkait wanita-wanitanya di luar sana, tapi apa kau tahu dimana Anthony sekarang? Apakah ia masih.... hidup?” tanya Eden ragu. Meskipun Anthony telah menipunya dan hampir membunuhnya, tapi sedikit banyak ia tahu apa alasan Anthony melakukan hal itu. Jadi ia tidak bisa membenci Anthony sepenuhnya.


            “Anthony? Dia masih hidup. Beruntung pihak Aciel belum memberikan tuntutan apapun padanya, sehingga untuk saat ini ia masih aman berada di penjara. Tapi setelah Aciel pulih nanti, mungkin Anthony akan dijatuhi hukuman mati. Bagaimanapun Aciel memiliki banyak kolega di jajaran kepolisian, jadi memberikan hukuman mati untuk Anthony, rasanya akan sangat mudah untuk dilakukan Aciel.” seringai Sian licik. Eden tanpa sadar menelan salivanya ngeri dengan ekspresi wajah Sian saat membicarakan kematian Anthony. Menurutnya Sian dan Aciel tidak ada bedanya, mereka sama-sama kejam dan tidak menghargai nyawa. Jika Ciara dan Louise memang anaknya, maka ia akan mendidik mereka dengan ketat agar tidak tumbuh seperti ayah atau pamannya yang mengerikan ini.


            “Apakah bagi kalian nyawa hanya mainan? Mudah sekali kalian membicarakan kematian dan pembunuhan! Kuharap kau tidak mengajarkan hal-hal buruk seperti itu pada Ciara atau Louise, anak-anakku harus tumbuh di lingkungan yang kondusif. Tanpa ada darah, kemarahan, kebencian, ataupun dendam.”


            “Kupikir Aciel juga tidak akan membiarkan Ciara atau Louise terkontaminasi dengan sisi gelapnya. Aciel sudah banyak berubah setelah menikah denganmu. Bahkan ia tak segan-segan membatalkan kontrak kerja bernilai miliaran dollar ketika Ciara berulang tahun. Prioritasnya kini hanya kau Ciara dan juga Louise, jadi kuharap


kau tidak mengecewakannya dengan mencoba kabur dari hidupnya karena ia akan hancur jika kau pergi. Selama ini aku selalu iri pada kalian. Aku iri pada Aciel yang bisa menemukan wanita yang tepat untuknya, sedangkan aku belum menemukannya hingga aku setua ini. Aku terlalu takut untuk melangkah ke jenjang pernikahan karena aku cukup trauma dengan kehidupan keluargaku. Seharusnya aku yang bertemu denganmu terlebihdahulu, bukan Aciel! Ck, sejak dulu ia memang selalu lebih beruntung daripada aku.” gerutu Sian kesal. Eden menatap Sian sangsi dengan salah satu alisnya yang menukik turun.


            “Apa kau baru saja mengatakan jika kau menyukaiku? Kau akan menusuk sahabatmu sendiri?”

__ADS_1


            Sian hanya mengedipkan matanya penuh misteri sambil mengendikan bahunya ringan. Rasanya ia begitu rindu menggoda Eden seperti dulu dan membuat pipi wanita itu merona merah setiap kali ia mengutarakan kata-kata manisnya yang penuh racun. Huh, Eden memang seharusnya segera mengingat masa lalunya yang penuh kenangan manis bersama Sian, karena wanita itu pasti tidak akan menyesal jika mengingatnya.


            “Menurutmu begitu? Sepertinya kau harus segera sembuh untuk mengetahui jawabannya.” seringai Sian jahil sebelum beranjak pergi sambil tersenyum penuh kepuasan karena ia berhasil membuat Eden gusar dengan rasa ingin tahunya yang meluap-luap.


__ADS_2