
Sian mendesah, menyesap kopinya sekali lagi sambil membaca laporan-laporan yang berserakan di atas meja Aciel. Ia pikir pria itu memang memberinya kepercayaan selama ini, ternyata tidak. Aciel diam-diam telah menyewa seorang detektif untuk menyelidiki kehidupan Eden selama empat tahun hidup terpisah darinya. Alih-alih menunggunya yang sedang mengumpulkan berbagai informasi, ternyata Aciel sudah lebih dulu bergerak untuk membongkar semua sandiwara yang sedang dimainkan Eden.
“Ayo kita taruhan, bagaimana kelanjutan hubungan mereka setelah ini.”
Jessica yang sebelumnya sedang sibuk mengecat kukunya, tampak menoleh sebentar untuk melihat bagaimana ekspresi wajah kusut Sian. Malam ini mereka berencana untuk mengunjungi Aciel, dan melakukan agenda rutin mereka untuk berkumpul seperti biasanya. Tetapi di luar dugaan, Aciel ternyata sedang menghabiskan waktunya di rumah sakit untuk bermain bersama putrinya. Dan akhirnya disinilah mereka saat
ini, berkumpul di dalam ruang kerja Aciel untuk mencari tahu kebenaran-kebenaran yang selalu disembunyikan Aciel rapat-rapat dari semua orang. Bahkan dua tahun yang lalupun Aciel telah menerima laporan mengenai keberadaan Eden, namun ia enggan untuk mencarinya dan hanya membiarkan Eden hidup dengan dunianya sendiri.
“Mereka tentu saja akan menikah, karena ada Ciara sebagai penghubung mereka sekarang.”
“Benarkah? Setelah Aciel menyakiti Eden dan menghancurkan wanita itu? Aku tidak yakin Eden
akan menerima Aciel.”
“Kau mengatakannya seolah-olah kau tidak terlibat dalam semua ini. Ingatlah Sica, kau juga pernah berambisi untuk menyingkirkan Eden karena dia telah mengambil alih seluruh perhatian Aciel darimu.”
“Aku tahu.” balas Jessica tenang. Lalu wanita itu melanjutkan dengan wajah tenang dan aura dingin yang selalu menjadi ciri khasnya. “Tapi waktu telah merubah segalanya. Sekarang aku telah memiliki Kris, jadi tidak ada alasan lagi bagiku untuk mengambil Aciel dari Eden. Percayalah, aku lebih menginginkan mereka untuk bersama.”
Kali ini Jessica mengucapkannya dengan sungguh-sungguh dan sarat akan ketulusan di setiap kalimatnya. Melihat Aciel yang terlihat menderita selama empat tahun ini membuat Jessica sadar jika sampai kapanpun kebahagiaan Aciel hanya ada pada Eden, bukan yang lainnya.
“Lalu apa yang akan kita lakukan untuk membuat mereka bersama?”
“Apa? Aku tidak mau ikut campur dalam masalah mereka. Biarkan saja semua berjalan secara alami. Lagipula aku memiliki banyak urusan sebelum hari pernikahanku dan Kris bulan depan. Oh, apa kau ingin menjadi pengiring pengantin?”
Sian langsung melemparkan tatapan kesalnya pada Jessica sambil menghampiri wanita itu untuk duduk di sebelahnya.
“Huh, lucu sekali Sica. Aku tidak berminat!”
“Kenapa? Aku merasa prihatin padamu, kau ini tampan, tapi kenapa tidak ada satupun gadis yang tertarik padamu? Oh.. kusarankan agar kau tidak terlalu dekat dengan Aciel, dia bisa menutupi seluruh aura ketampananmu.”
Jessica terbahak-bahak di samping Sian dengan lelucon yang baru saja ia lontarkan. Lucu memang jika menggoda Sian, karena sejak dulu pria itu memang selalu menjadi objek olok-olokan diantara mereka bertiga. Tak bisa dibayangkan bagaimana jika mereka tidak memiliki Sian, persahabatan mereka pasti akan berjalan suram dan dingin.
“Mungkin mulai sekarang aku memang tidak akan mengekori Aciel kemanapun ia pergi. Kehadiran Ciara di hidupnya pasti akan membuat Aciel melupakan kita. Dan kau, posisimu sebagai sahabat, teman tidur, sekaligus adik akan segera tergeser oleh Eden.”
“Huh, aku tidak takut. Aku tidak peduli pada hal itu. Semuanya telah berlalu, dan sekarang yang kuinginkan hanyalah melihat masa depan yang cerah, bersama Kris. Kau juga harus mencari pasanganmu sendiri Sian. Jangan sampai kau menjadi tua, dan tidak ada satupun wanita yang berminat denganmu.”
“Oh, terimakasih telah mengingatkanku Jessica. Itu sangat menohok.” ucap Sian sambil berpura-pura tersinggung. Pria itu menekan dadanya sendiri dengan gaya dramatis yang membuat Jessica tidak bisa menahan diri untuk tidak melemparkan bantal sofa kearah wajah Sian.
“Wajahmu sangat menjijikan Sian.” dengus Jessica kasar. Keduanya lantas saling tertawa bersama, menertawakan sikap konyol yang mereka lakukan di usia mereka yang tidak lagi muda. Oh ayolah, siapa yang akan peduli pada usia? Asal mereka bahagia, maka hal konyolpun tidak akan menjadi masalah untuk mereka.
“Sian, apa Zyan benar-benar sudah meninggal?”
Tiba-tiba saja Jessica menghentikan tawanya dan merubah topik pembicaraan mereka menjadi lebih serius.
“Kenapa? Apa kau tidak yakin dan menganggap semua itu hanya akal-akalan Eden? Untuk kali ini aku berani bersumpah jika itu bukan hanya bualan Eden. Kematian Zyan nyata terjadi tiga tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan mobil di California.”
“Lalu kenapa Eden tidak jujur pada Aciel? Wanita itu membiarkan Aciel menderita karena penyesalannya, dan tiba-tiba ia kembali dengan seorang anak yang berhasil meluluhkan hati Aciel.”
“Kurasa itu semua di luar kehendak Eden. Ia sebenarnya tidak berniat untuk bertemu dengan Aciel lagi, tapi kau yang membuatnya melakukan itu.” tuduh Sian telak. Seketika Jessica membulatkan matanya terkejut sambil menatap Sian tidak mengerti. “Aku? Bagaimana bisa itu aku? Bahkan aku tidak pernah ingin ikut campur dalam masalah Aciel. Meskipun kuakui, dulu aku sempat merasa cemburu pada Eden. Ia mengambil perhatian Aciel dariku dan membuat Aciel tidak lagi mejadi teman tidurku sejak tujuh tahun yang lalu.”
“Jadi sudah selama itu kalian tidak melakukannya?” Tanya Sian heran.
“Ya, sudah selama itu. Sebenarnya kami hanya melakukannya tiga kali, itupun karena kami sama-sama frustrasi dengan kehidupan kami yang menyesakan. Kau tahu sendiri bagaimana sulitnya aku berusaha untuk menjadi desainer hebat, dan Aciel, ia juga sama pusingnya karena masalah kantor dan putri Brexton. Jadi pada akhirnya kami memutuskan untuk saling berbagi kehangatan di ranjang untuk menghilangkan kepenatan yang sama-sama kami rasakan. Kau pasti selama ini terlalu berpikiran jauh pada kami.”
“Tentu saja. Bahkan kupikir kau menyukai Aciel sejak dulu. Tapi untuk Aciel, aku yakin ia tidak memiliki perasaan apapun padamu dan hanya sekedar sahabat. Hatinya itu meskipun sulit, namun terkadang ia sangat mudah ditebak.”
Jessica tergelak menertawakan Sian dan memutuskan untuk menganggukan kepalanya setuju. Terkadang Aciel memang seperti sebuah buku yang sangat mudah dibaca isinya oleh orang lain.
__ADS_1
“Hahh...” Jessica tiba-tiba membuang nafasnya berat ketika mereka sudah sama-sama tidak menemukan topik yang menarik untuk dibahas. Ia lalu mengambil kaleng minuman bersodanya di atas meja sambil menerawang jauh kearah Sian yang sedang memejamkan matanya sejenak.
“Bukankah kita bersahabat sudah sangat lama? Aku tidak mempercayai ini.” gumam Jessica pelan. Ada nada getir yang bercampur di dalam kalimatnya, dan Sian sendiri merasa bingung mengapa Jessica tiba-tiba berubah menjadi melankolis seperti ini.
“Kenapa? Kau memiliki masalah?”
“Tidak. Hanya terkadang aku suka mengingat kenangan-kenangan kita di masa lalu. Dulu kita masih sangat muda. Berjuang bersama untuk menaklukan dunia, dan menjadi orang hebat. Kau, aku, dan Aciel, kita sama-sama gagal dalam hubungan keluarga. Orang tuaku bercerai saat usiaku lima belas tahun dan memutuskan untuk hidup masing-masing. Setiap bulan, secara bergantian, aku harus pergi ke rumah ibuku di Carson City dan kembali lagi ke rumah ayahku di Las Vegas. Rasanya itu sangat melelahkan. Dan terkadang aku harus menahan iri pada teman-temanku yang memiliki keluarga lengkap yang sangat harmonis. Lalu Aciel datang. Ah tidak, aku yang lebih dulu mendatangi Aciel karena dia adalah pria pendiam yang selalu mendapatkan banyak perhatian dari murid-murid wanita di sekolah. Dan setelah aku berhasil mendapatkan kepercayaannya, barulah aku sadar jika kami ternyata
sama. Lalu kami bertemu denganmu, pria berandal yang berusaha mencuri dompet milik Aciel saat kami sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan.” kenang Jessica sedikit terkekeh. Sian yang mendengar itupun juga ikut terkekeh sambil menerawang jauh kearah langit-langit ruang kerja Aciel.
“Sejujurnya aku malu jika mengingat hal itu. Aku mencoba mencuri untuk pertama kalinya karena aku sudah tidak memiliki uang sepeserpun untuk membawa ibuku berobat. Sialnya saat itu aku justru ketahuan dan hampir mati konyol karena dipukuli oleh orang-orang yang menangkapku. Tapi untung saja Aciel memaafkanku. Entah
kenapa aku selalu berpikir jika Aciel tidak sejahat itu, ia hanya memiliki pemikiran yang cukup rumit di dalam kepalanya, sehingga ia sering membuat orang lain salah paham.”
“Kau benar, ia tidak sejahat itu. Tapi terkadang ia memang menjengkelkan dan membuat orang lain ingin memakinya. Ah.. itu semua sudah lama berlalu, tapi aku masih saja merasa itu baru saja terjadi kemarin. Sekarang berapa usiamu?” tanya Jessica tergelak. Meskipun ia sangat tahu berapa tepatnya usia Sian sekarang, namun ia ingin sekali menggoda pria itu.
“Apa kau ingin mengejekku? Kau ingin mengolok-olokku yang hingga detik ini belum memiliki pasangan, sedangkan kau dan Aciel telah memiliki pasangan. Bahkan Aciel telah memiliki seorang anak berusia hampir empat tahun.” jawab Sian kesal. Ia lalu membanting bantal sofa di sebelahnya gusar kearah Jessica dan memutuskan
untuk pulang ke apartemennya. Bersama Jessica sepanjang malam benar-benar hanya akan merugikannya karena wanita itu pasti akan terus mengoloknya dengan berbagai macam kata-kata pedas yang sangat menjengkelkan untuk didengar.
“Sian! Hey, kau meninggalkan aku?”
“Persetan denganmu! Aku ingin pulang! Pergilah bersenang-senang dengan Kris dan jangan mengusik kesendirianku.” balas Sian ketus sambil berlalu pergi, keluar dari mansion megah Aciel untuk menghindari serangan mulut pedas Jessica yang selalu menohok hatinya.
-00-
“Apa ini? Kau membelikan Ciara benda elektronik seperti ini?”
Eden berkacak pinggang di depan Aciel saat pria itu sedang duduk santai sambil mengamati Ciara yang sedang memainkan sebuah game di tablet baru yang ia hadiahkan untuk Ciara.
“Kau terlalu berlebihan Eden, itu hanya tablet.” balas Aciel santai. Ia merasa kesal dengan sikap Eden yang berlebihan, namun ia sedang tidak ingin bertengkar dengan Eden. Untuk sekali saja ia ingin merasakan memiliki sebuah keluarga yang hangat dan tanpa keributan.
“Kalau begitu kau sebagai ibunya harus mendidiknya agar ia tidak menjadi anti sosial. Diamlah Eden, kau membuat Ciara terusik dengan suara teriakanmu.”
“Ck, jangan terlalu memanjakan anakku.”
“Tapi dia juga anakku.” sentak Aciel tak terima. Dan untuk pertama kalinya mereka bertengkar hanya karena masalah ringan yang sebenarnya sama sekali tidak penting. Namun Eden merasa perlu menegur cara mendidik Aciel yang sangat bertentangan dengannya. Dalam kurun waktu tiga hari pria itu telah memberikan barang-barang mewah pada Ciara. Ia seperti tidak ingin kalah dari Sian yang memberikan Ciara seperangkat rumah barbie besar, lengkap dengan isinya. Dan sekarang sudut kamar ruang perawatan Ciara terlah bertransformasi menjadi sebuah
etalase toko dengan banyak barang-barang bermerk khas Aciel yang sangat berlebihan.
“Lihatlah, kau bahkan telah memenuhi sudut kamar Ciara dengan barang-barang tak berguna seperti itu.”
Aciel tampak tersinggung dengan ucapan Eden. Sebagai ayahnya ia merasa berhak
memberikan hadiah apapun untuk Ciara. Dan itu sebenarnya sebagai bentuk penebusan dosanya karena selama ini tidak pernah menjadi ayah yang baik untuk gadis kecilnya.
“Apa kau memang sengaja ingin memancing kemarahanku?”
“Aku hanya ingin mendidik anakku menjadi gadis mandiri yang tidak bergelimang kemewahan. Lagipula siapa yang tahu dengan masa depannya, aku ingin Ciara siap dengan segala situasi yang tak terduga di masa depan.”
“Kata-katamu itu seperti sedang mengejekku Eden. Kau pikir aku tidak mampu membiayai kehidupan Ciara hingga ia dewasa?”
“Bukan seperti itu, aku hanya ingin menjadikan Ciara sebagai wanita tangguh agar ia tidak mudah diinjak-injak oleh orang lain.”
“Kalau begitu kau tidak perlu khawatir, karena aku akan selalu melindungi Ciara dari siapapun yang berani mengusik hidupnya.”
“Cih, melindungi? Bahkan kau telah merusak hidup orang lain tanpa belas kasihan sedikitpun.” “Aku tahu, pada akhirnya kau hanya akan mengungkit masa lalu kelammu dan menjadikanku terpojok seperti ini.” balas Aciel sengit dengan tatapan tajam yang langsung mengarah ke manik mata Eden. Setelah itu mereka berhenti. Mereka sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing dan memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan konyol mereka. Apalagi sejak tadi Ciara sebenarnya sedang menonton aksi perdebatan kedua orang tuanya, namun ia memilih diam sambil menyembunyikan wajahnya dibalik tablet baru pemberian Aciel.
__ADS_1
“Mommy... jangan memarahi daddy. Ini, Ciara kembalikan mainan ini pada mommy.”
Aciel merasa kesal saat melihat Ciara yang justru merasa bersalah atas perbuatan Eden. Dan Eden, wanita itu justru menerima begitu saja tablet yang disodorkan Ciara sambil memasukannya ke dalam tas tangan hitamnya.
“Maafkan mommy sayang, Ciara boleh bermain dengan tablet ini, tapi Ciara hanya boleh memainkannya di waktu-waktu tertentu. Nah, sekarang keluarlah bersama daddy ke taman, mommy akan membereskan pakaian-pakaianmu.”
Setelah itu Eden lantas melirik Aciel, dan dengan gerakan matanya ia meminta pria itu untuk membawa Ciara ke taman karena ia akan membereskan seluruh barang-barang milik Ciara. Hari ini Jensen telah mengijinkan Ciara pulang setelah melihat kondisi Ciara yang berangsur-angsur mulai membaik.
“Princess ayo kita pergi ke taman. Kita akan melihat burung bersama-sama.” ucap Aciel tegas sambil melirik kearah Eden. Pria itu tak henti-hentinya menatap pergerakan Eden kesana kemari yang sedang merapikan barang-barang milik Ciara. Dan tanpa Eden sadari saat ini Aciel tengah menyeringai licik di belakangnya. Kau salah telah memutuskan untuk kembali Eden....
-00-
“Apa kau bercanda?”
Eden menatap tidak suka kearah mansion megah yang terlihat begitu angkuh di depannya. Ini bukanlah tempat dimana ia ingin pulang. Ia ingin kembali ke apartemennya, bukan kembali ke mansion milik si pria bermata coklat yang selama ini telah menorehkan banyak luka di hatinya.
“Mulai sekarang kalian adalah tanggungjawabku.” putus Aciel sepihak. Tanpa mempedulikan ekspresi wajah Eden yang tidak terima, Aciel segera turun dari mobilnya dan menggendong Ciara yang tampak setengah tertidur di kursi penumpang.
“Tanggungjawab apa? Bukan karena kau berhasil menyentuhku, kau berhak mengatur hidupku lagi. Lupakan saja Ace, semua itu hanya kesenangan sesaat.”
“Turunlah, aku tidak menerima penolakan. Apartemenmu telah kubekukan atas namaku, dan butikmu di Perancis sedang dalam proses pemindahan kepemilikan atas namaku.”
“Apa! Tidak bisa, kau tidak bisa melakukannya tanpa ijinku.” balas Eden tak terima. Semua asetnya tidak bisa jatuh ke tangan pria itu begitu saja. Ia yang membangun semuanya dari nol. Dan dengan seenaknya pria itu mengambil alih miliknya yang selama ini ia dapatkan dengan susah payah.
“Apapun bisa kulakukan sayang...” bisik Aciel mengerikan. Seketika Eden menjauhkan wajahnya sedikit ke belakang agar pria itu tidak bisa mengintimidasinya dengan posisi tubuhnya yang sangat condong kearahnya.
“Ingatlah bahwa kau memiliki catatan kejahatan di masa lalu. Dan aku memegang semua buktinya. Semua asetmu otomatis dimiliki oleh negara saat aku memberikan bukti-bukti kejahatanmu di masa lalu, seperti meracuni Jessica, melakukan pencemaran nama baik, hmm... apa ada hal lain yang belum kusebutkan?” tanya Aciel terkekeh. Lalu yang terakhir ia membisikan sebuah kata-kata provokasi yang membuat wajah Eden seketika pucat pasi. “Dan kau telah membuat seseorang kehilangan nyawa karena fitnah kejimu Eden sayang.” Ia sangat suka melihat wajah pucat pasi Eden yang tampak terdominasi di sebelahnya. Tidak sia-sia ia menjadi pria kaya dengan banyak relasi, karena sekarang ia dapat membuat Eden kembali bertekuk lutut di bawah kakinya.
“Kau seharusnya berterimakasih padaku Eden, karena semua asetmu telah kuamankan. Aku membeli semua aset-asetmu dari pemerintah Perancis dengan harga yang sangat tinggi, jadi bersikap baiklah padaku.” tegas Aciel sebelum ia masuk ke dalam mansionnya dengan beberapa pelayan yang telah siap menunggu kepulangannya di pintu depan. Sementara itu Ciara tampak tidak terusik sedikitpun dengan pertengkaran kecil yang terjadi pada kedua orangtanya. Gadis kecil itu masih setia bergelung nyaman di dalam gendongan ayahnya dengan tubuh yang terayun-ayun karena pergerakan Aciel. Perjalanan yang cukup jauh dari rumah sakit hingga ke mansion membuat Ciara kelelahan dan akhirnya jatuh tertidur dengan boneka barbie yang diberikan Sian. Tapi untung saja gadis kecil itu tidur, karena Eden tidak ingin Ciara mengetahui pertengkaran kedua orang tuanya.
“Selamat datang kembali nona Eden.”
Eden yang sedang menurunkan barang-barang milik Ciara langsung disambut oleh tuan Kim dengan ramah. Pria itu membungkukan tubuhnya sedikit kearah Eden, lalu mencoba membantu Eden untuk membawa barang barang milik Ciara yang sangat banyak.
“Saya senang anda tinggal di rumah ini lagi nona.”
Eden tersenyum masam mendengar ucapan tuan Kim dan hanya mengikuti pria itu masuk ke dalam rumah. Ia merasa Tuhan terlalu cepat memberikannya kebebasan karena sekarang ia harus kembali terkurung di dalam sangkar emas milik Aciel dengan berbagai macam peraturan yang selalu merugikannya.
“Tuan Aciel telah menyiapkan kamar untuk nona Ciara, di sebelah sini.”
Eden yang hendak melangkahkan kakinya menuju tangga langsung berbelok ke arah kanan, menuju ke sebuah ruangan yang letaknya berdekatan dengan ruang kerja Aciel. Ia pikir gadis kecilnya akan tidur bersamanya, di atas, di kamar lamanya.
“Sejak kapan Aciel menyiapkan kamar untuk Ciara?” tanya Eden penasaran. Ia tidak berpikir jika Aciel akan membuatkan sekenario baru untuk hidupnya, seperti menjadi sebuah keluarga yang utuh dan berakhir bahagia. Oh, itu terdengar sangat fairy tale.
“Kemarin malam tuan meminta saya untuk mendekor ulang ruang bacanya menjadi sebuah kamar untuk nona Ciara. Tapi saya tidak tahu kenapa tuan memilih bekas ruang bacanya yang menjadi kamar untuk nona Ciara.”
“Bukankah lebih baik jika Ciara tidur bersamaku di atas?”
“Anda bisa menanyakan hal itu pada tuan Aciel nona.” jawab tuan Kim sambil membuka pintu coklat di depannya. Dan saat pintu itu terbuka sempurna, Eden merasa kagum dengan dekorasi kamar Ciara yang didominasi warna baby pink dan juga warna putih. Ini sangat khas seorang Ciara! Lalu di setiap sudut kamar putrinya Eden dapat melihat berbagai hiasa bertema putri dari negeri dongeng yang sangat cantik. Ini seperti kamar lamaku, di rumahku. Eden membatin sedih sambil mengingat masa lalunya yang terlalu indah untuk dikenang. Dan tak terasa air matanya kini telah menggenang di pelupuk matanya, siap untuk menetes.
“Apa kau suka?”
Tiba-tiba saja Eden merasakan hembusan hangat di permukaan tengkuknya yang berasal dari deru nafas Aciel di belakangnya. Pria itu terlihat sedang berdiri kaku di belakang Eden sambil memasukan kedua tangannya di dalam saku celana bahannya.
“Ciara pasti akan menyukainya saat ia bangun nanti. Apa maksudmu dengan melakukan ini semua pada kami? Kau sengaja mendekor kamar Ciara seperti kamar lamaku? Tolong jangan lakukan ini padaku.”
Satu air mata lolos begitu saja dari mata bulat Eden tanpa diketahui Aciel. Pria itu sama sekali tidak tahu jika keputusannya ini akan membuat Eden terluka hingga seperti ini. Padahal ia hanya mengikuti instingnya sebagai seorang ayah, tanpa berniat untuk menyakiti Eden.
__ADS_1
“Aku hanya mengikuti instingku sebagai ayahnya. Kenapa semua hal yang kulakukan selalu kau maknai dengan sesuatu yang negatif? Sepertinya kau harus membersihkan pikiranmu dari segala macam prasangka tentangku Eden.” ucap Aciel datar sambil berlalu pergi keluar dari kamar baru Ciara. Sedangkan Eden, ia masih bertahan di tempat yang sama dengan isakan yang semakin keras menyayat hati. Lagi-lagi ia merasa kalah di hadapan pria itu. Dan untuk yang kesekian kalinya ia harus mengakui, jika ia tidak akan pernah bisa menghancurkan seorang Aciel.