
Ting Tong
Eden berjalan menuju pintu depan setelah ia mendengar suara bel yang ditekan beberapa kali. Dengan masih mendekap Louise, Eden berusaha membuka pintu besar itu sedirian dan ia langsung menemukan sahabatnya, Summer yang tengah berdiri dengan dress selutut di depan pintu rumah peristirahatan Aciel. “Summer, lama tidak berjumpa. Aku merindukanmu.” sapa Eden heboh sambil memeluk Summer dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk mendekap Louise di dadanya.
“Aku juga. Kau semakin terlihat cantik dan anggun setelah menyandang gelar nyonya muda Lutherford.” goda Summer sambil mengamati tubuh Eden dari atas hingga bawah. Dulu seingat Summer, Eden adalah wanita bar-bar yang sering membuat masalah untuk memancing kemarahan Aciel. Namun sekarang, hmm.. dia telah banyak berubah. Eden yang sekarang adalah seorang wanita muda yang anggun dan juga seorang ibu yang sangat perhatian pada kedua anaknya. Bahkan Eden yang sekarang jauh lebih cantik daripada Eden yang dulu. Pantas saja jika Andrew masih memiliki perasaan itu untuk Eden, dan mungkin perasaan itu semakin bertambah
dalam setelah bertemu Eden yang sekarang.
“Ah, kau berlebihan. Ayo masuk. Aku akan membuatkan segelas jus jeruk untukmu.” tawar Eden pada Summer. Kemudian kedua wanita itu segera masuk ke dalam ruang keluarga sambil sesekali mereka melemparkan candaan kecil dan juga bergosip ria mengenai pengalaman masa lalu mereka.
“Wahh, anakmu sangat lucu dan tampan. Benar-benar seperti Aciel.” puji Summer sambil memperhatikan Louise yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya dengan lucu.
“Dia memang sangat mirip dengan Aciel. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan jus jeruk untukmu dan memanggilkan Ciara agar ia dapat berkenalan denganmu.”
“Bagaimana Ciara sekarang? Dulu aku sering menjaganya saat kau sibuk bekerja, sebelum aku memutuskan untuk menetap di Australia. Ciara pasti sudah tumbuh besar sekarang. Dimana dia sekarang?”
Eden mengernyitkan dahinya sebentar, merasa jika dirinya tidak memiliki memori ketika Summer menghabiskan waktu bersama dengan Ciara. Namun sejurus kemudian ia tersenyum, sadar jika ia telah kehilangan beberapa memori penting dalam hidupnya hingga ia tidak mengetahui cerita Summer yang mengaku dulu pernah bertemu Ciara sebelum kepindahannya ke Australia.
"Maaf, mungkin aku lupa. Ia sedang makan bersama Aciel di belakang, tolong titip Louise sebentar.” Eden menyerahkan Louise pada Summer, kemudian ibu muda itu segera berjalan ke dapur untuk membuatkan jus jeruk dan memanggil Ciara. Putrinya itu pasti akan senang setelah bertemu dengan Summer, karena Summer adalah seorang wanita yang baik dan sangat ramah pada anak-anak.
“Summer sudah datang?” tanya Aciel ketika Eden tiba-tiba melewati ruang makan tanpa membawa Louise. Eden menganggukan kepalanya singkat pada suaminya sembari ia berjalan menuju dapur.
“Mommy, apa Summer aunty sudah berada di depan?” tanya Ciara dengan mulut yang penuh dengan makanan. Hari ini menu sarapan Ciara adalah semangkuk kecil sup ayam dan juga jamur. Tapi mungkin nanti siang ia hanya akan memakan biskuit toodler, karena Aciel tidak bisa memasak makanan yang memerlukan proses memasak yang rumit. Satu-satunya menu makanan yang bisa dibuat oleh Aciel dengan benar adalah menu makanan mie instant, padahal Ciara tidak boleh memakan makan mie instant. Jadi daripada Aciel menghancurkan seisi dapur untuk membuatkan Ciara seporsi menu makan siang, Eden akhirnya memutuskan untuk menyiapkan beberapa biskuit toodler untuk Ciara. Eden berjanji, sepulangnya ia dari menemani Summer, ia akan langsung memasak makanan untuk Ciara.
“Sudah. Kau ingin menyapa auntymu?” tawar Eden sambil mengambil segelas jus jeruk dari dalam kulkas. Ciara mengangguk antusias pada ibunya dan hendak berlari keluar menuju ruang keluarga. Namun, tangan kekar Aciel langsung mencekal lengan Ciara pelan dan menyuruh Ciara untuk duduk kembali.
“Habiskan dulu makanmu, sayang. Setelah itu kau boleh bertemu dengan Summer aunty.” ucap Aciel tegas pada Ciara. Ciara mengerucutkan bibirnya kecil dan tampak terlihat ngambek pada daddynya. Ia sempat menolak suapan makanan dari Aciel, namun setelah Aciel mengeluarkan jurus marahnya, Ciara menjadi takut dan mau menuruti ayahnya untuk menghabiskan makanannya.
“Sekarang makananku sudah habis, apa aku boleh menmui Summer aunty?” tanya Ciara terdengar takut-takut. Aciel menganggukan kepalanya pelan dan menggandeng tangan Ciara untuk berjalan ke ruang keluarga.
“Ayo, daddy juga ingin bertemu dengan Summer aunty.” Ayah dan anak itu berjalan beriringan menuju ruang keluarga dengan Eden yang mengekor di belakang mereka sambil membawa senampan makanan kecil dan juga segelas jus jeruk. Kemudian Eden segera meletakan makanan-makanan itu di atas meja beserta dengan segelas jus jeruk yang terlihat cukup menggiurkan di tengah cuaca siang yang panas.
“Silahkan diminum.” ucap Eden mengagetkan Summer yang sedang menimang-nimang Louise di dalam dekapannya. Sepertinya bayi mungil itu sudah tertidur di dalam dekapan hangat Summer.
“Wah wah, kalian kompak sekali. Halo, lama tidak bertemu denganmu, tuan Lutherfod.” sapa Summer ramah meskipun sebenarnya Summer masih merasa terintimidasi dengan tatapan tajam Aciel yang sama sekali tidak berubah sejak dulu. Pria itu berjalan mendekat ke arah Summer dan menjabat tangan wanita itu dengan hangat.
“Halo aunty.” sapa Ciara sambil mendongakan wajahnya menatap Summer. Aciel tergelak kecil ketika Ciara begitu takjub memandang postur tubuh Summer yang sangat tinggi. Mungkin ia sedikit lupa dengan Summer auntynya karena ia masih cukup kecil ketika Summer mengasuhnya.
“Sini sayang. Daddy akan menggendongmu.” Aciel segera sambil meraih Ciara untuk ia gendong.
“Hai.. apa kau masih ingat pada aunty? Dulu aunty sering menjagamu saat mommymu sibuk bekerja. Kita juga pernah menghabiskan natal bersama di Paris” celoteh Summer heboh pada Ciara sambil mencubit pipi chubby Ciara pelan. Ciara tersenyum ceria pada Summer sambil menunjukan deretan gigi susunya yang rapi.
“Ace, aku akan meletakan Louise di dalam box bayinya. Kami akan segera pergi untuk mencoba gaun pengantin Summer.” ucap Eden pada Aciel sambil meraih Louise dari dalam gendongan Summer. Eden berjalan pergi menuju kamarnya untuk meletakan Louise dan berganti pakaian. Sedangkan Summer dan Ciara, mereka terlihat asik bersenda gurau dengan Aciel yang menjadi pengawas bagi mereka berdua.
“Summer, bagaimana persiapan pernikahanmu dengan Max?” tanya Aciel terdengar berbasa-basi sembari menunggu Eden selesai berganti pakaian. Summer lantas mendongakkan kepalanya untuk menatapa wajah Aciel dan menjawab pertanyaan pria itu.
__ADS_1
“Hmm, sejauh ini sudah delapan puluh persen. Hanya tinggal mempersiapkan dekorasi gedung dan juga menentukan menu makanan. Aku tak menyangka kau mengetahui nama calon suamiku.”
“Max rekan bisnisku. Sepertinya itu sudah mendekati selesai. Bagaimana dengan Andrew, apa ia tidak berniat untuk secepatnya menikah?” pancing Aciel pada Summer. Sejak kemarin Aciel telah bertekad pada dirinya sendiri, saat Summer datang, maka ia akan mengorek banyak informasi mengenai Andrew. Karena ini demi kebaikan hubungan rumah tangganya dengan Eden.
“Andrew? Hmm, dia sepertinya belum berniat untuk menikah. Ia masih menunggu seseorang.”
“Benarkah? Siapa?” tanya Aciel penasaran.
“Daddy daddy, tolong tekan tombol ini. daddy... daddy.”
Aciel terperanjat kaget dengan teriakan Ciara yang sangat meleking itu. Sejak tadi ia ternyata sibuk melamun memikirkan ucapan Summer barusan mengenai seorang wanita yang ditunggu oleh Andrew. Padahal ia kira Andrew masih memiliki perasaan untuk Eden. Tapi sepertinya dugaannya itu salah, buktinya Andrew sudah memiliki seseorang wanita yang mengisi hatinya. Sekarang ia merasa sedikit lega setelah mendengar penjelasan dari Summer. Paling tidak, Andrew sedang tidak mengincar Eden lagi.
“Ayo, aku sudah siap.” ucap Eden tiba-tiba yang muncul dari lantai atas. Summer kemudian segera menghabiskan orange juicenya dengan cepat sebelum ia bernjak berdiri dan mengikuti langkah Eden untuk keluar dari rumahnya.
“Ace, aku pergi dulu. Tolong jaga Ciara dan Louise dengan baik.”
“Hmm, cepatlah pulang.” pesan Aciel pada Eden sambil mengecup kening Eden lembut. Summer terlihat tersipu malu meyaksikan adegan romantis yang ada di hadapannya saat ini. Mereka berdua memang pasangan terfenomenal sejak bertahun-tahun yang lalu.
“Mommy, Ciara ikut.” rengek Ciara manja dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Eden memutar bola matanya malas ke arah Ciara. Lagi-lagi putrinya bertingkah menyebalkan dengan merengek-rengek seperti itu. Padahal Eden sudah menasehati Ciara berkali-kali, agar gadis kecil itu tidak merengek-rengek minta diajak
ketika ia akan pergi. Tapi tetap saja Ciara tidak mau menghilangkan sifat buruknya itu dan tetap merengek-rengek pada Eden ketika ibunya itu akan pergi.
“Ace, tolong pegang Ciara. Aku terburu-buru.” pinta Eden terdengar gusar. Ciara merengek-rengek di dalam dekapan ayahnya sambil meronta-ronta ingin ikut.
“Dahh Ciara. Jangan menyusahkan daddymu ya.” teriak Summer dari dalam mobil sambil memutar mobilnya keluar dari halaman besar rumah peristirahatan milik Aciel. Setelah mobil putih itu menghilang pergi dari balik gerbang raksasa kediaman keluarga Lutherford, Aciel segera menggendong Ciara untuk masuk ke dalam rumah. Semoga Aciel benar-benar bisa mengurus kedua buah hatinya dengan baik.
-00-
“Jadi, kita akan pergi kemana hari ini?” tanya Eden pada Summer. Summer menolehkah kepalanya pelan pada Eden dan tersenyum lembut pada wanita yang ada di sebelahnya. Sebenarnya ia juga merasa tidak enak dengan Eden, tapi ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia miliki untuk membahagiakan kakaknya. Selama ini ia hanya memiliki kakaknya sebagai pelindung dan juga teman untuk berbagi keluh kesah. Summer Osborn selalu menggantungkan hidupnya pada Andrew Osborn, karena satu-satunya keluarga yang peduli padanya di dunia ini hanyalah kakaknya, Andrew. Bahkan orangtuanya tidak pernah peduli pada apa yang dilakukan oleh Summer selama ini. Disaat ia sakit, satu-satunya orang yang merawat dirinya adalah kakaknya. Disaat ia bahagia ketika Max melamarnya, hanya kakaknya yang ikut merasa antusias dan langsung memeluk Summer dengan hangat. Disaat ia terpuruk karena orangtuanya tidak bisa hadir dalam acara makan malam yang diadakan oleh keluarga Max, hanya Andrew yang mau datang dan mewakili keluarga Osborn sebagai wali yang bertanggungjawab atas adiknya. Betapa kakaknya itu sudah berkoban terlalu banyak untuk Summer. Dan untuk itu, Summer ingin mewujudkan satu-satunya keinginan Andrew dan juga satu-satunya kebahagiaan Andrew, Eden Morel atau sekarang adalah Eden Lutherford. Walaupun sekarang Eden telah menikah, Summer tidak peduli. Ia hanya ingin satu-satunya orang yang berarti dalam hidupnya bahagia. Setidaknya, saat Eden berada di Australia, Summer bisa membuat Andrew dapat melihat Eden dan berada di dekat Eden. Toh, semuanya akan tergantung pada Eden. Jika Eden benar-benar mencintai Aciel, maka Eden tidak akan mungkin mengkhianati Aciel dan berpaling pada Andrew. Tapi jika Eden tidak mencintai Aciel sepenuh hati, maka Eden akan dengan mudah jatuh pada pesona seorang Andrew Osborn yang mematikan. Ya, meskipun itu terdengar jahat, tapi Summer hanya ingin membahagiakan kakak satu-satunya yang ia miliki. Ia juga ingin melihat Andrew tersenyum bahagia di hari pernikahannya nanti. Kali ini ia ingin sedikit bersikap egois untuk membahagiakan kakaknya. Dan meskipun rumah tangga sahabatnya yang menjadi taruhannya, Summer tidak ingin peduli pada hal itu. Yang terpenting, yang ada di dalam benak Summer adalah kakanya bahagia. Andrew bahagia.
“Mmm, hari ini kita akan mengunjungi butik milik teman kita saat kuliah, Erika, dan kita akan makan siang bersama dengan kakakku. Apa kau masih ingat dengan Erika Kim? Seorang wanita imut yang memiliki rambut pendek sebatas bahu berwarna blonde?”
“Hmm, sepertinya aku mengenalnya. Tapi aku memang tidak terlalu mengenalnya dengan baik, karena kita bukan dari jurusan yang sama. Lalu bagaimana kau bisa mengenal Erika Kim?” tanya Eden penasaran. Rasanya Eden seperti terlempar ke masa lalu lagi. Dimana dulu ia sering bepergian berdua dengan Summer untuk berangkat kuliah atau pergi kemanapun bersama dengan teman-teman kuliah mereka. Terkadang mereka juga pergi ke sebuah club dan bergosip di sana hingga lupa waktu, dan akhirnya Eden harus mendapat amukan dari Aciel karena telah melanggar aturan pria itu. Yah, sederet ingatan masa lalu itu membuat Eden merasa benar-benar merindukan saat-saat itu. Ketika mereka makan bersama di sebuah kafe, ketika mereka melakukan kencan buta dengan seorang pria yang ternyata sama sekali tidak cocok dengan selera mereka, atau pengalaman saat mereka membuat kekacauan di club, hingga pada akhirnya Aciel yang harus turun tangan untuk membereskan semua kekacauan itu. hahh, benar-benar sebuah pengalaman yang tak akan pernah terlupakan. Saat ini Eden sangat merindukan saat-saat itu.
“Aku mengenalnya saat aku mengikuti klub modelling. Di sana ia berperan sebagai penata busana bagi beberapa mahasiswa yang juga mengikuti club modelling. Ia adalah wanita yang sangat hebat dan aku juga menyukai semua desain gaunnya. Mungkin kau juga akan tertarik dengan semua koleksi baju-bajunya jika kau melihatnya nanti saat di butik.”
“Ya, aku tahu seleramu sangat bagus. Kau tidak mungkin asal memilih gaun dan busana karena kau sekarang adalah seorang model. Jadi aku sangat percaya dengan ucapanmu.”
“Kau sendiri tidak ingin kembali lagi ke dunia modelling seperti dulu?”
“Kurasa tidak.” jawab Eden mantap. Semua gairahnya pada dunia modelling atau dunia desain pakaian telah hilang setelah ia bangun dari koma. Pernah sekali Aciel menunjukan butik-butiknya setelah ia cukup stabil, namun ia merasa tidak bisa lagi memulai merancang busana seperti dulu karena ia hanya ingin hidup lebih tenang bersama anak-anaknya dan tentu saja bersama Aciel. Ia rasa semua harta yang disediakan oleh Aciel sudah jauh lebih cukup untuk menopang seluruh kehidupannya.
“Ngomong-ngomong bagaimana kehidupan Tiffany sekarang? Aku terlalu banyak melupakan masa laluku, dan Aciel juga tidak bisa membantu banyak untuk membuatku ingat dengan semua masa laluku.”
“Tidak apa-apa Ed, jangan terlalu memaksakan diri jika otakmu memang tidak mampu. Saat ini Tiffany dalam keadaan baik. Satu tahun yang lalu ia mendapatkan promosi dari perusahaannya, sehingga ia sekarang menetap di Colombia. Rencananya ia akan datang ke pesta pernikahanku, tapi mungkin ia baru akan berangkat dari Colombia satu hari sebelum pesta pernikahanku dilaksanakan karena ia belum bisa mengambil cuti di minggu ini.”
__ADS_1
“Syukurlah jika Tiffany sekarang baik-baik saja. Apa ia telah memiliki kekasih?” tanya Eden penasaan. Akan sangat menggembirakan baginya jika ia mengetahui kehidupan sukses teman-temannya saat ini. Termasuk Summer, ia sangat senang karena Summer akhirnya menemukan pria yang tepat untuk menemani hari-harinya nanti.
“Maaf aku belum memberitahumu Ed.” ucap Summer pelan. Wanita itu menoleh sekilas kearah Eden untuk menunjukan wajah bersalahnya sambil tetap berkonsentrasi pada jalanan di depannya. “Sesuatu terjadi pada Tiffany sebenarnya.”
“Kenapa?” tanya Eden pelan. Hatinya tiba-tiba mencelus. Ia merasa bersalah karena hampir tidak pernah memikirkan kehidupan teman-temannya sebelum Summer akhir-akhir ini sering menghubunginya dan mengundangnya untuk datang ke acara pernikahannya.
“Setengah tahun yang lalu Tiffany hampir menikah. Ia telah menyiapkan semua pesta pernikahannya bersama calon suaminya yang telah mengencaninya selama satu tahun. Namanya Leo, pria keturunan asia itu berhasil memikat Tiffany di detik pertama ketika Tiffany bertemu dengannya di kantor, karena kebetulan Leo adalah kepala divisi di perusahaannya. Kehidupan mereka setelah resmi berpacaran tidak pernah memiliki masalah. Keduanya selalu baik-baik saja, dan Tiffany juga tidak pernah mengeluhkan sesuatu mengenai Leo. Namun saat pesta pernikahan itu hampir terlaksana, seorang wanita tiba-tiba mendatangi Tiffany. Ia menangis meraung-raung di kaki Tiffany di tiga puluh menit terakhir sebelum Tiffany berjalan ke altar. Wanita itu mengaku sedang mengandung anak dari Leo akibat kesalahan satu malam yang tidak bisa mereka hindari. Akhirnya dengan hati yang hancur Tiffany membatalkan pernikahan itu dan memilih untuk menghindari Leo selamanya. Meskipun berkali-kali Leo meminta maaf pada Tiffany dengan berbagai cara, tapi Tiffany tidak akan pernah lupa dengan perasaan sakitnya dan juga perasaan malu akibat pernikahannya yang gagal terlaksana. Karena itulah sekarang Tiffany masih dalam masa penyembuhan, ia mengalami trauma Ed.” cerita Summer dengan mimik sedih. Mengingat Tiffany rasanya membuat Summer ingin menangis karena sejak dulu mereka selalu dekat satu sama lain seperti gadis kembar identik.
“Ya Tuhan, maafkan aku karena tidak pernah mengetahuinya.” Eden menutup mulutnya tak percaya, merasa berdosa pada kedua temannya yang telah melalui berbagai hal menyedihkan, namun ia tidak bisa berada di samping mereka untuk menguatkan.
“Kau tidak perlu merasa bersalah Ed. Kami tahu jika dulu kau juga memiliki masalah yang cukup rumit dengan Aciel, jadi kami juga tidak ingin semakin membebanimu dengan masalah kami.”
Hening cukup panjang menyelimuti mereka setelah Summer menceritakan banyak hal mengenai Tiffany. Eden yang masih dilingkupi penyesalan merasa tidak memiliki ide untuk mengajak Summer membicarakan sesuatu. Sedangkan Summer sendiri masih mencoba menata hatinya setiap kali mengingat sahabatnya yang harus menjalani semua masalahnya sendiri setelah ia memutuskan untuk menetap di Australia karena Andrew dan pekerjaannya.
“O iya, nanti kita akan makan siang bersama dengan Sarah Brook. Kau masih ingat dengannya? Wanita
berkulit coklat yang berasal dari Texas? Ia sekarang sudah bekerja di kementrian hukum dan menjadi seorang pengacara yang terkenal.” Keheningan itu akhirnya tercairkan setelah Summer mengubah topik pembicaraan mereka mengenai teman mereka yang lain, yang mungkin masih diingat oleh Eden.
“Ya Tuhan, Sarah Brook? Aku benar-benar tidak percaya jika ia akhirnya dapat mengejar cita-citanya menjadi seorang pengacara yang terkenal, karena dulu ia begitu miskin dan hampir saja putus kuliah karena tidak memiliki biaya untuk melanjutkan kuliah. Tapi untungnya pemerintah memberikan beasiswa kepadanya karena Sarah sangat pintar dalam mengikuti setiap mata kuliah mengenai hukum. Aku benar-benar salut dengannya.” kenang Eden pada Summer. Eden menerawang jauh ke kejadian beberapa tahun yang lalu. Ketika ia dan Summer tanpa sengaja bertemu dengan Sarah Brook yang sedang menangis di sebuah taman sendirian. Saat itu Sarah tampak sedang menelungkupkan wajahnya di atas lututnya dan ia bersandar pada sebuah pohon mapel yang sangat besar yang tumbuh dengan sangat tinggi di halaman kampusnya. Pada awalnya Eden dan Summer hanya berniat untuk melewati Sarah begitu saja tanpa mau repot-repot menyapa Sarah. Toh mereka juga bukan teman satu jurusan. Hanya saja mereka sering bertemu Sarah ketika wanita itu menjadi sukarelawan di kantin kampus mereka untuk membagikan makanan kepada mahasiswa-mahasiswa yang kelaparan. Tapi ketika mereka berdua melewatinya, Sarah tampak sangat kacau dengan mata sembab dan tubuh yang bergetar setelah menangis. Matanya juga terlihat seperti monster yang sedang marah, namun kedua mata merah Sarah tidak memancarkan sebuah kekejaman, tapi sebuah kesedihan. Dengan iba, kedua manusia itu mendekati Sarah dan mencoba menghibur Sarah agar wanita itu tidak merasa sedih lagi. Ditengah kekalutan hatinya untuk menolong Sarah, terbersit sebuah ingatan tentang beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah. Dan Eden kemudian menyuruh Sarah untuk mencoba peruntungannya dalam beasiswa itu. Lagipula Sarah adalah salah satu mahasiswa yang cerdas. Eden yakin Sarah akan mendapatkan beasiswa itu dengan mudah dan dapat mewujudkan cita-cita yang ia inginkan.
“Aku benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan Sarah. Apa ia telah menikah atau memiliki seorang kekasih?” tanya Eden penasaran. Summer menggelengkan kepalanya pelan sambil tetap berkonsentrasi pada jalanan di depannya.
“Kudengar ia baru saja bercerai. Padahal saat itu usia pernikahannya baru menginjak enam bulan. Entah apa yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangga mereka. Yang jelas, Sarah sudah melupakan mantan suaminya. Dan ia sama sekali tidak ingin membahas hal itu dengan siapapun.” terang Summer menjelaskan. Eden menganggukan kepalanya mengerti sekaligus prihatin dengan keadaan Sarah. Kenapa sejak dulu hingga sekarang hidupnya penuh dengan banyak cobaan. Ia benar-benar harus merasa bersyukur pada Tuhan, karena meskipun ia mencoba menjauh dari Aciel, pria itu masih terus menerimanya dengan terbuka dan selalu berusaha untuk memberikan kebahagiaan untuknya. Dia adalah satu-satunya pria yang dapat menaklukan seorang Eden Morel dan ia adalah sosok pria yang sempurna bagi Eden.
“Nah, sekarang kita sudah sampai di depan butik milik Erika Kim. Lihat, ia sudah melambai-lambaikan tangannya dari lantai atas.” ucap Summer pada Eden sambil membalas lambaian tangan Erika. Kedua wanita itu kemudian berjalan beriringan menuju ke dalam butik untuk mencoba beberapa gaun yang akan dikenakan oleh
Summer saat pesta pernikahannya.
“Halo, selamat pagi. Wahh, Eden, lama tidak bertemu.” sapa Erika hangat pada Eden. Eden kemudian mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Erika dan ia memeluk wanita mungil itu dengan erat.
“Kau terlihat semakin cantik sekarang.” puji Eden tulus pada Erika, membuat pipi Erika bersemu merah karena malu.
“Ah, kau terlalu berlebihan. Kau juga terlihat semakin cantik dan menawan. Apa kesibukanmu saat ini? Kudengar kau telah menikah dengan Aciel Lutherford, pengusaha kaya raya yang sangat terkenal di Vegas. Dan aku minta maaf karena belum bisa menjengukmu saat kau mengalami kecelakaan. Beritamu sudah tersebar kemana-mana saat itu.”
“Tidak apa-apa, aku sudah sembuh sekarang. Dan mengenai pernikahan itu, aku memang telah menikah dan memiliki dua orang anak sekarang. Jadi kesibukanku adalah mengurus anak-anakku dan menjadi istri yang baik.” kekeh Eden santai tanpa berniat untuk menyombongkan diri sedikitpun.
“Wahh, pasti kehidupan rumah tangga kalian sangat menyenangkan. Berasa usia kedua putramu?”
“Putri pertamaku berusia lima tahun. Sedangkan putra keduaku baru berusia empat bulan.”
“Wow, kalian.. sangat hebat.” ucap Erika takjub pada Eden. Hampir saja Erika tidak bisa mengutarakan pendapatnya pada Eden, lantaran ia terlalu takjub pada kehidupan manis Eden. Dan Erika sangat menginginkan hal itu sekarang. Hanya saja ia belum memiliki kekasih ataupun pria yang dekat dengannya. Ia masih terlalu asyik dengan karier designernya.
“Hey, ladies, bisa bantu aku untuk memakai gaun ini? Kurasa aku tidak bisa memakainya sendiri.” teriak Summer dari dalam ruang ganti sambil melongokan kepalanya keluar. Eden dan Erika kemudian berjalan beriringan menuju ruang ganti untuk membantu Summer memakai gaunnya. Setelah ini seorang photographer akan datang
untuk mengambil foto prewedding Summer. Jadi jangan sampai foto prewedding itu terlihat buruk hanya karena Summer tidak dapat memakai gaunnya dengan benar.
__ADS_1