Black Swan

Black Swan
Hand Shake (One Hundred Six)


__ADS_3

            “Welcome back Eden!”


            Eden menutup mulutnya tak percaya ketika ia tiba di rumahnya pagi ini dan menemukan sebuah spanduk besar yang terpasang di depan rumahnya. Lalu dari arah ruang tamu munculah para pelayannya dan juga keluarga Sian yang sedang menyambutnya dengan begitu meriah. Orang pertama yang langsung mendapatkan pelukan hangat dari Eden adalah Olivia dan Sian, karena mereka adalah orang-orang yang sangat berjasa dalam hidupnya selama ia terbaring lemah di rumah sakit. Lalu Eden langsung menggendong si kecil Louise yang sudah lama ia rindukan.


            “Mommy merindukanmu sayang.” ucap Eden girang sambil menciumi pipi chubby Louise. Ciara pun tak mau ketinggalan dengan menarik-narik ujung dress yang dikenakan Eden sambil meminta Eden untuk memeluknya.


            “Ciara juga merindukan mommy...”


            “Ohh, my princess Ciara. Dan si lucu Justice, aunty juga sangat merindukanmu.” Eden mencium gemas pipi merah Justice saat bayi mungil itu sedang memainkan rambut ibunya dengan jari-jarinya yang menggemaskan.


            Eden lalu beralih pada anak-anaknya lagi, memeluk kedua anaknya penuh haru sambil mengusap sedikit air matanya yang berhasil menetes di sudut matanya. Selama seminggu lebih berada di rumah sakit, Eden tidak bisa berinteraksi dengan anaknya sedekat ini. Memang Aciel sesekali membawa Ciara dan Louise untuk mengunjunginya, tapi suaminya yang berisik itu lebih sering melarang Ciara dan Louise untuk berlama-lama di rumah sakit karena menurutnya rumah sakit adalah tempatnya para virus, dan ia tidak ingin kedua anaknya terjangkit virus mematikan yang dibawa oleh para pasien. Tapi menurut Eden itu terlalu berlebihan karena sebenarnya Aciel hanya ingin Eden benar-benar beristirahat secara total di rumah sakit, sehingga saat pulang nanti isterinya itu sudah benar-benar sembuh.


            “Ed, akhirnya kau pulang juga.”


            Olivia menepuk-nepuk bahu Eden pelan, merasa sangat bersyukur karena wanita itu telah kembali ke rumah dalam keadaan yang jauh lebih baik. Lalu di belakangnya Sian muncul sambil merentangkan tangannya untuk memeluk Eden lagi, namun tubuh Sian langsung ditarik paksa oleh Aciel untuk menyingkir.


            “Kau tidak boleh. Bahkan aku saja tidak bisa menyentuhnya selama seminggu ini.” gerutu Aciel kesal. Sian dan Olivia yang mendengar hal itu langsung terkikik geli, pasalnya mereka tahu apa yang terjadi pada Aciel setelah Eden sadar. Pria itu saat ini sedang mendapatkan hukuman dari Eden. Sejak Eden sadar dari komanya, Eden terlihat enggan untuk berbicara pada Aciel karena ia masih kesal dengan sikap suaminya yang langsung mengamuk tanpa mendengarkan penjelasan darinya. Padahal saat itu ia ingin mengatakan pada Aciel jika ia tidak bermaksud meminum pil pencegah kehamilan dan kenyataanya saat itu ia tengah hamil, jadi pil itu sama sekali tidak berguna. Tapi Aciel sudah terlanjur marah terlebihdulu dan melayangkan kata-kata mengerikan yang hingga saat ini pun rasanya Eden tak sanggup untuk mendengarkannya lagi. Terlalu mengerikan untuknya. Dan sekarang


adalah saatnya bagi Eden untuk menghukum Aciel karena pria itu telah membuatnya menderita selama seminggu ini di rumah sakit.


            “Mom, Ciara mau es krim.” pinta Ciara sambil menarik-narik ujung dress Eden lagi. Eden menganggukan kepalanya mengiyakan dan menyuruh Ciara untuk mengambilnya sendiri di kulkas karena ia sedang asik mengobrol bersama Olivia.


            “Ambilkan untuk Justice juga sayang. Apa Justice boleh makan es krim?” tanya Eden beralih pada Olivia. Olivia menganggukan kepalanya sambil membelai pipi chubby Justice di pangkuannya.


            “Tapi hanya sedikit. Aku sedang mencoba memperkenalkan makanan-makanan selain bubur pada Justice supaya pencernaannya semakin kuat. Kemarin ayahnya baru saja menyuapinya seiris lemon.” cerita Olivia terbahak.


            Eden membulatkan matanya terkejut. “Kau serius? Itu sangat asam.” erang Eden sambil membayangkan asamnya lemon di mulutnya.


            “Tidak apa-apa. Justice memang bereaksi terkejut, tapi setelah itu ia baik-baik saja.” jelas Olivia santai. “Jadi bagaimana perasaanmu sekarang setelah kembali dari rumah sakit?” tanya Olivia memulai pembicaraan. Eden tampak begitu bahagia dengan banyaknya orang-orang yang berkumpul di dalam rumahnya untuk menyambut kepulangannya. Setidaknya ia merasa masih memiliki banyak cinta dari para keluarganya.


            “Aku sangat senang. Lihat, semua pelayan yang hadir hari ini, dan juga teman-teman dekat Aciel lainnya, padahal rumah mereka terletak cukup jauh dari sini, tapi mereka mau menyempatkan diri untuk datang. Aku sangat bahagia Olive, ini seperti aku memiliki banyak cinta dari keluargaku dan rekan-rekanku.”


            “Ck, semua orang menyayangimu, Ed. Kau saja yang tidak pernah menyadarinya. Bahkan CEO tampanmu pun juga sangat menyayangimu.” goda Olivia sambil melirik Aciel. Sejak satu bulan yang lalu Olivia memang memberikan julukan khusus untuk Aciel, yaitu CEO tampan, karena Aciel memang pria tampan yang sangat digilai banyak wanita, bahkan hingga detik ini ketika ia telah menjadi suami dari Eden sekalipun.


            “Aku masih kesal dengannya, selama seminggu ini aku terus mendiaminya dan hanya berbicara seperlunya padanya. Aku masih sakit hati dengan kemarahannya dan kalimat perceraiannya yang sangat mengerikan itu.” dengus Eden kesal. Olivia tersenyum maklum pada Eden sambil mengelus pundak Eden lembut. Selama Eden terbaring sakit di rumah sakit, tidak ada satupun yang tahu kecuali Olivia dan Sian jika penyebab Eden mengalami keguguran adalah karena ia stress akibat kalimat perceraian yang diucapkan Aciel. Selama ini Eden masih menutupi hal itu dari orang-orang di sekitarnya dan hanya menjawab jika ia terlalu kelelahan dalam menjaga Ciara dan Louise. Eden tidak ingin citra keluarganya menjadi buruk di mata rekan-rekan kerja Aciel. Ia tahu jika Aciel sangat disegani di kantornya, dan selama ini media juga selalu memberitakan hal-hal baik mengenai keluarganya. Ia tidak ingin orang-orang heboh jika tahu ia hampir bercerai dengan Aciel. Tapi sekarang semuanya sudah kembali normal. Setidaknya Aciel tidak lagi mengungkit-ngungkit perihal kemarahannya yang dahsyat dan ia juga sudah berusaha untuk meminta maaf pada Eden, dan saat itu Eden mengatakan jika ia telah memaafkan suaminya, tapi ia masih ingin menguji kesabaran suaminya dalam menghadapi sakit hatinya yang tiba-tiba muncul.


            “Bukankah saat itu kalian sudah berbaikan? Ehem, aku sempat mengintip kalian saat sedang berciuman.” ucap Olivia dengan nada canggung dan dehaman. Eden membulatkan matanya kaget dan langsung memukul lengan Olivia pelan.


            “Kau melihatnya? Ya Tuhan, itu sangat memalukan.” dengus Eden kesal.


            “Saat itu aku memang sudah berbaikan, tapi tiba-tiba aku ingin marah padanya. Jadi aku melakukan ini. Aksi ngambek!” ucap Eden santai. Dari kejauhan Eden dapat melihat suaminya tampak mencuri-curi pandang ke arahnya. Namun ia terlihat acuh dan kembali melajutkan acara mengobrolnya dengan Olivia yang tertunda.


            “Sekali-kali ia harus mendapatkan pelajaran karena tingkah cerobohnya. Bagaimana jika saat itu ia terlampau gegabah dan langsung mendatangi pengadilan untuk mengurus perceraian kami? Bisa-bisa kehidupan Ciara dan Louise yang menjadi taruhannya, aku tidak mau itu.”


            Olivia mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dengan apa yang dirasakan Eden. Untung saja selama ini suaminya tidak pernah meluapkan emosinya hingga semengerikan Aciel. Setidaknya Sian adalah tipe pria yang lebih suka memendam kemarahannya dan setelah itu ia akan mengeluarkan uneg-unegnya dengan cara lucu khas pria manja. Ahh... kenapa tiba-tiba ia memikirkan kelakuan suaminya yang kekanakan? Olivia menggelengkan kepalanya pelan dan ia kembali menfokuskan pandangannya pada Eden yang ternyata sudah menghilang dari tempat duduknya.

__ADS_1


            “Mommy mommy... Louise lapar.”


            Olivia melihat Eden sedang berjongkok di depan Louise dan wanita itu beranjak menggandeng Louise menuju ruang makan. Olivia pun tersenyum lembut dan memutuskan untuk mencari suaminya dan mengajaknya pulang karena Justice sepertinya juga sudah mengantuk.


            “Aunty, Justice mengantuk.”


            Tunjuk Ciara pada putri kecilnya yang sudah menguap berkali-kali sambil memainkan boneka teddy kecilnya, pemberian Ciara dulu. Olivia mengelus kepala Ciara lembut dan menggumamkan terimakasih pada gadis kecil itu karena sudah memberitahunya.


            “Terimakasih princess Ciara, sepertinya Justice memang harus pulang. Sampai jumpa Ciara.”


            Ciara melambaikan tangan mungilnya pada Olivia dan kemudian ia berlari pada daddynya yang sedang sibuk mengobrol dengan rekan-rekannya.


            “Daddy! Paman!” teriak Ciara keras sambil menubruk paha ayahnya. Aciel mengangkat Ciara ke atas pangkuanya sambil menciumi wajah Ciara gemas.


            “Hahahaha.. itu geli daddy.” ucap Ciara sambil bergerak-gerak tidak nyaman. Ray dan Buttler yang merupakan rekan kerja Aciel, yang  juga sering bertemu Ciara, ikut mengerjai Ciara dengan menggelitik perut Ciara dan membuat Ciara semakin berteriak-teriak heboh karena merasa geli.


            “Paman, daddy!! Hahahahhaaa geli....”


            “Kau darimana saja sayang? Sibuk  bermain bersama teman-temanmu, hmm?”


            Aciel menghentikan aksi menggelitiknya dan beralih mengusap kepala Ciara lembut. Ciara menganggukan kepalanya sambil menunjuk kumpulan anak kecil yang merupakan anak dari rekan kerja ayahnya.


            “Henry nakal dad, dia merebut mainan Ciara dan Louise. Jadi Ciara tidak mau bermain lagi bersama Henry.” tunjuk Ciara dengan wajah ditekuk yang cemberut. Aciel dan rekan-rekan kerjanya sama-sama menoleh kearah telunjuk Ciara dan mereka saling bertatapan maklum setelahnya.


            “Anak-anak memang sering bertengkar hanya karena masalah sepele.” komentar Buttler santai. Sayang sekali istrinya belum memberinya keturunan hingga saat ini karena masalah kesuburan dan perlu melakukan terapi untuk segera mendapatkan keturunan.


            “Paman, tapi waktu itu mommy juga menangis karena daddy memarahi mommy.” ucap Ciara dengan wajah polosnya. Seketika Ray menatap Aciel penuh minat dan meminta pria itu untuk menjelaskan maksud Ciara padanya.


            “Eden menangis? Kalian sedang bertengkar?”


            “Ah.. itu.. sudah sangat lama terjadi, sekarang kami sudah berbaikan.” jawab Aciel aneh. Ciarapun langsung mendongak pada ayahnya dengan wajah tidak setuju.


            “Tapi mommy masih marah pada daddy, mommy sendiri yang mengatakannya pada Ciara.”


            Aciel memberikan kode pada Ciara agar gadis itu berhenti berbicara di depan rekan-rekannya karena apa yang dikatakan bocah kecil itu akan benar-benar menyeretnya ke dalam masalah. Dan tentu saja mencoreng nama baiknya. Apalagi sejak dulu keluarganya selalu mendapatkan sorotan sebagai keluarga hamonis yang bahagia, masalah ini jika diketahui orang lain akan menjadi skandal baru yang merepotkannya.


            “Ini hanya masalah rumah tangga biasa, bukan masalah serius.” ucap Aciel akhirnya sambil menutup mulut Ciara agar gadis kecil itu tidak mengoceh aneh-aneh di depan rekan-rekannya.


            “Masalah rumah tangga memang tidak bisa kita hindari, bahkan aku masih sering bertengkar kecil dengan istriku karena berselisih pendapat. Tapi sebaiknya kau bisa mengontrol emosimu saat sedang bertengkar dengan Eden karena istrimu itu terlihat rapuh, Ace.”


            Aciel hanya mengangguk-anggukan malas tanpa berani berkomentar apapun. Ia takut komentarnya justru akan menuai masalah lain yang lebih merepotkannya. Apalagi ia tidak pernah mengaku pada orang-orang jika penyebab Eden keguguran dan mengalami koma adalah dirinya. Ia terlalu takut disalahkan oleh orang-orang karena sejak dulu ia memiliki reputasi yang kurang baik di kalangan wanita. Tentu saja reputasinya sebagai lady killer akan kembali mencuat ke permukaan jika masalah pribadinya dengan Eden diketahui orang lain. Dan untungnya Eden juga belum mengatakan apapun pada orang-orang meskipun saat ini istrinya itu tengah berada pada mode ngambek yang sangat menyebalkan.


-00-


            Setelah pesta penyambutan Eden usai, kediaman Aciel tampak sepi kembali. Suasana di dalam rumah itu terlihat cukup hening karena Ciara dan Louise sudah tertidur di kamar mereka masing-masing karena kelelahan.

__ADS_1


            Eden menutup pintu kamar anak bungsunya pelan setelah lebih dari satu jam ia menemani Louise yang rewel. Anak itu terlalu lelah bermain, sehingga malamnaya ia cukup rewel karena tubuhnya kelelahan. Ketika Eden berada di depan pintu kamarnya Eden melihat Aciel sedang berjalan ke arahnya. Pria itu sepertinya juga akan masuk ke kamarnya, tapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan tampak ragu untuk melanjutkan langkahnya ketika Eden sedang berada di depan pintu kamarnya sambil menatap horor padanya.


            “Apa kau masih marah padaku?” tanya Aciel pelan. Sebenarnya ia bukan tipe suami yang takut pada istri. Tapi ia cukup merasa bersalah pada Eden. Apa yang ia lakukan pada Eden benar-benar sudah kelewat batas, dan ia menyesalinya. Andai Eden bukan wanita yang kuat, mungkin saat ini Eden sudah pergi meninggalkannya karena menurut Laila pendarahan Eden saat itu cukup parah. Bahkan Laila sampai memberikan enam kantong darah untuk Eden.


            “Menurutmu?” tanya Eden sinis. Aciel menghembuskan nafasnya pelan dan tampak tidak ingin berkomentar lagi. Pria itu justru berbalik dan hendak pergi meninggalkan Eden. Namun langkah pelannya segera dihentikan oleh Eden dengan kalimat pertanyaannya yang terdengar acuh tak acuh.


            “Mau kemana? Kau tidak ingin tidur?”


            “Aku akan tidur bersama Louise atau Ciara. Selamat tidur, Ed.”


            Aciel berjalan pergi meninggalkan Eden, tapi langkahnya segera dihentikan oleh Eden.


            “Aku bukan istri yang sekejam itu, masuklah, Ace.”


            Eden membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh Aciel di belakangnya. Pria itu tampak tak berkomentar apapun dan benar-benar hanya diam sambil berjalan kearah ranjangnya.


            “Sampai kapan kita akan seperti ini? Aku bosan.”


            “Sampai aku tidak merasa kesal padamu. Rasanya aku masih sakit hati dengan kata-katamu saat itu.” jawab Eden ketus. Melihat istrinya yang kembali mengungkit pertengkaran mereka membuat Aciel tidak mampu berkata apapun. Ia sendiri terlalu menyadari jika ia memang salah.


            “Maaf. Aku hanya bisa mengatakan hal itu padamu karena aku benar-benar merasa bersalah. Saat itu aku tidak bermaksud untuk mengucapkannya, itu semua murni karena emosi. Aku tidak mungkin akan menceraikanmu setelah perjuangan panjangku untuk mendapatkanmu. Jadi, maafkan aku. Ayo kita bersalaman.”


            Aciel mengulurkan tangannya kearah Eden yang langsung mendapatkan tatapan penuh menyelidik dari Eden.


            “Kau yakin? Tumben.” komentar Eden menyebalkan. Namun Aciel mencoba bersabar dengan tersenyum lembut kearah Eden.


            Sebenarnya hari ini ia cukup dibuat malu dengan tingkah Ciara dan Henry. Ketika kedua bocah kecil itu bertengkar karena sebuah mainan, bocah kecil itu langsung berbaikan dengan saling berjabat tangan satu sama lain. Henry rupanya sadar jika ia telah membuat Ciara marah, sehingga pria kecil itu langsung menghampiri Ciara sebelum pulang dan menjabat tangan Ciara penuh ketulusan. Aciel yang melihat tingkah anaknya menjadi sadar jika selama ini ia belum meminta maaf secara formal pada Eden. Ia hanya mengucapkan kata maaf dan merasa menyesal tapi ia belum berjabat tangan dengan Eden seperti Henry pada Ciara, sehingga ia berpikir untuk meniru perilaku bocah kecil itu yang menurutnya memang patut ditiru. Karena apa yang dilakukan Henry berhasil membuat Ciara luluh, dan ia berharap semoga Eden juga akan luluh karena sedikit banyak sifat Ciara menurun dari Eden.


            “Ayo kita berbaikan. Aku lelah dengan perang dingin ini. Aku sudah mendapatkan hukuman dari Tuhan karena memperlakukanmu dengan kasar. Jadi kumohon jangan membuatku semakin tersiksa.” ucap Aciel dengan wajah frustarsi. Eden terlihat ingin tertawa dengan ekspresi wajah suaminya yang memang terlihat terpuruk itu. Ia sepertinya sudah terlalu keterlaluan.


            “Baiklah, mari kita berbaikan.”


            Eden menyambut uluran tangan Aciel dengan penuh sukacita sambil tersenyum tulus pada suaminya. Aciel pun langsung memeluk Eden dan memberikan hadiah kecupan di pipi.


            “Yakk, kenapa langsung mencium!” teriak Eden kesal ketika Aciel mulai mencium pipinya dan sepertinya akan melakukannya lagi di bibirnya.


            “Aku hanya meniru Henry, ia juga mencium Ciara setelah bersalaman.” ucap Aciel apa adanya.


            “Tapi kau juga akan mencium bibirku. Tidak mungkin Henry mencium bibir Ciara kan?” dengus Eden sebal. Tapi Aciel meringis kecil dengan dengusan Eden.


            “Kalau itu, aku melakukan improvisasi. Ayolah Ed, sudah lebih dari satu minggu aku tidak menyentuhmu. Kau pikir aku tidak merindukanmu.” protes Aciel kekanakan. Eden langsung melirik Aciel kesal dan ia merasa menyesal telah bersalaman dengan Aciel karena ternyata pria itu sedang memiliki maksud tersembunyi.


            “Tidurlah Ace, dan kau harus mengingat kata-kataku dengan baik. Aku tidak akan bisa disentuh hingga satu bulan yang akan datang, jadi bersiap-siaplah mengisi bathtube dengan air dingin.”


            “Apa! Kau pikir aku bisa dibohongi? Ingat, aku lebih berpengalaman daripada kau.” ucap Aciel kesal. Tapi Eden terus mendorong tubuh Aciel agar menjauh darinya dan ia mulai membaringkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Aciel.

__ADS_1


            “Ya, kau berpengalaman tapi kau tidak cukup cerdas untuk memperlakukanku dengan baik!” ucap Eden galak dan langsung menutup tubuhnya dengan selimut. Sedangkan Aciel terlihat begitu lesu sambil membayangkan nasibnya selama sebulan kedepan yang akan menghabiskan malam-malamnya di kamar mandi untuk berendam.


__ADS_2