
setelah meninggalkan livia begitu saja, edward telah tiba di mansion william. dengan langkah kaki lebar dan setengah berlari edward menaiki anak tangga di pintu utama mansion. disana terdapat puluhan pengawalan berbaris rapi, berseragam dan bersenjata lengkap.
mereka terlihat menyeramkan dan menakutkan tapi disisi lain jelas mereka terlihat sangat terlatih. apa sean yang menyewa mereka untuk mencari keberadaan luna? edward bertanya-tanya sembari terus berjalan melewati mereka.
sampai di ruang tengah, edward bergegas menuju ke ruang kerja sean yang kini sedang menunggunya. didalam sana h sean dan seorang pria asing yang sibuk menghirup cerutunya dengan santai.
"bagaimana paman? jadi siapa sebenarnya yang menculik luna?" tanyanya begitu masuk lalu duduk disamping sean.
perhatian edward langsung tertuju pada foto-foto yang bersebaran diatas meja. itu foto-foto dari luna yang dibidik dari berbagai sisi, edward tinggal mungkin salah, ini benar luna. meski sedikit pucat dan kurus, luna baik baik saja, syukurlah ternyata dia masih hidup.
"kecurigaan ku memang benar. dia orangnya." edward menoleh memandang sean. dia tahu siapa orang itu, dan orang yang sean maksud juga ada didalam foto, satu frame dengan luna.
"jadi tyler alexander memang benar telah menculik luna." gumam edward pelan. rahangnya perlahan lahan mengeras melihat banyaknya foto tyler yang mengintimidasi luna, gadis itu terlihat sangat murung dan ketakutan di semua foto yang ada. "tunggu apa lagi paman? ayo kita laporkan ini ke police."
"dimana mereka berada sekarang? dimana tempat foto-foto ini diambil!" kata edward menggebu-gebu. edward tidak tahan melihat luna dalam kesengsaraan seperti ini bersama pria asing yang membuatnya ketakutan, saat ini dia pasti ketakutan.
"ssst take it easy. tenanglah kawan."
"jangan terlalu polos." ejek seseorang yang duduk di depan edward. dia menghembuskan asap cerutunya sebelum membuka mulut kembali berbicara. "polisi saja tidak bisa menangani kasus ini bagaimana kau bisa berpikir untuk melibatkannya?"
"mereka mungkin saja adalah bawahan dari tyler."
katanya membuat edward terdiam lalu berpikir dua kali. tapi setahu edward tyler hanyalah pemilik perusahaan otomotif asal amerika, cerberus capital. mana mungkin memiliki kekuasaan sebesar itu untuk mendestruksi kepolisian dibawah pemerintahan negara italia, "memang siapa dia? dia tidak mungkin mempunyai kekuasaan sebesar itu untuk mengendalikan kepolisian negara kita bukan?"
"jangan meremehkannya."
"dia pria yang berbahaya edward." sahut sean menanggapi. edward menoleh dengan alis bertautan bingung. seberapa berbahayanya kah dia?
"kau punya rencana?" sean beralih kepada bruno, dia tidak mungkin datang kesini setelah memberitahukan tentang putrinya tanpa mempunyai rencana apapun bukan? sean sedikit tahu bagaimana cara menghadapi orang-orang kalangan bawah seperti mereka.
__ADS_1
bruno tersenyum miring. "tentu saja aku sudah merencanakan sesuatu. dan aku sedang menunggu hasilnya sekarang."
"tunggu dan lihat saja bagaimana carlos akan membawa putriku kembali." ujarnya dengan bangga.
"jadi sebelum datang kesini kau sudah bergerak?" sean memicingkan matanya berusaha membaca mimik wajah pria di depannya ini, terlalu cerewet dan arogan namun sean tahu bruno memiliki ambisi yang kuat. dan satu-satunya cara bagi sean untuk mendapatkan luna kembali. "kau yakin bisa menyelamatkan putriku?"
"tentu saja. aku pastikan kau sudah bersama putrimu besok lusa." kepercayaan diri bruno membuat sean mengangguk ikut merasa yakin, karena ini adalah satu satunya cara menemukan luna.
"lalu apa maumu? ini tentu saja tidak gratis bukan? orang seperti kalian tidak mungkin memberikan bantuan secara cuma cuma." sean bersandar sofa sambil menatap bruno lurus-lurus. mencoba mencari tahu apa keinginan mereka dengan menawarkan bantuan seperti ini padanya.
melihat sean yang sangat paham dengan keadaan membuat bruni menyunggingkan senyum miring sedikit terkekeh. "kamu memang cerdas tuan sean. tidak heran kau menjadi pebisnis sukses."
"kau yang sangat mudah ditebak." balas sean meremehkan. "katakan imbalan apa yang kau inginkan?"
"tentu saja ini terkait bisnis yang aku jalankan karena itu tujuan kemari untuk membuat sebuah kesepakatan. aku ingin kau membantuku menyelundupkan napza ke eropa." ucapnya akhirnya.
"kau gila!?" pekik edward tidak menyangka apa yang baru saja di katakan.
"ini kejahatan. pamanku tidak mungkin menerimanya." tolak edward keras.
"apa kalian mengerti?!"
"baiklah aku jamin dia akan berdiri di depanmu besok lusa, jadi pegang janjimu bain baik." ucpaanya terakhri sebelum bangkin dan pergi dari ruangan itu.
"paman, apa kau yakin?"
"tidak ada yang lebih penting daripada luna, ed. aku ingin segera menemukannya." perkataan dari seorang ayah yang sangat merindukan putrinya membuat edward tersentuh. melebihi apapun di dunia ini, dia tahu sean sangat menyayangi luna.
⚔️⚔️
"sampai kapan kau akan terus menghindariku?" tanya tyler menghampiri luna yang sedang berdiri di pinggir kolam ikan, tyler tidak tahan diabaikan olehnya seperti ini.
__ADS_1
luna berbalik mantapnya tajam tyler, "apa aku harus berdekatan dengan monster sepertimu?" tanyanya.
"apa kau tidak sadar apa yang telah kau lakukan kemarin? atau apakah aku perlu mengingatkanmu?"
wajah luna kini berubah memerah karena marah, dia hanya ingin tenang mencari berbagai macam aktivitas untuk melupakan kejadian itu, tapi setiap kali tyler muncul dalam pikirannya, luna ketakutan, bayangan kejadian malam itu menghantui kepalanya hingga ia sulit menutup mata untuk hanya sekedar tidur, "kenapa kau bisa hidup tanpa sedikitpun rasa bersalah hah?!"
"apa kau tidak menyesali sedikit saja perbuatanmu?"
"untuk apa aku menyesal, mereka pantas mendapatkannya. itu hukuman yang sepadan dariku karena mereka berani mencelakaimu–"
"jangan jadikan aku alasan dari dosa yang telah kau buat!!"
"mencelakaiku?" luna tersenyum miring mengejek, "memang siapa dirimu yang berhak menentukan sebuah hukuman. kau bukan tuhan!kau hanyalah manusia rendahan yang hidup tanpa rasa malu dengan segala perbuatan kejimu."
"kau seorang pembunuh!"
"duniaku berjalan seperti itu. kau yang terbunuh atau kau yang membunuh. begitu aturannya."
"aku yang akan mati jika aku tidak membunuh mereka semua. kau juga tidak akan hidup jika aku tidak membunuh mereka!" balas tyler tajam, pembunuh? tyler bahkan lebih buruk dari itu.
"apakah kau harus mencabik lehernya di depanku? dan tersenyum bangga layaknya seorang iblis, kau menakutkan kan tyler." lirih luna frustasi, ia melangkah maju memukul dada bidang tyler.
"setidaknya jangan lakukan itu di depanku karena aku benci melihatmu seperti itu." tangis luna akhirnya hanya bisa mencengkram kemeja tyler setelah memukulnya.
tyler terdiam merasa bersalah, dia tahu luna takut padanya, tapi gadis ini juga harus mengetahui seburuk apa diri tyler sebenarnya. dia tidak bisa menyembunyikan fakta itu, fakta yang akan selalu melekat pada dirinya selamanya, "kejadian kemarin bukanlah apa apa. aku bahkan bisa melakukan hal yang jauh lebih gila yang tidak akan pernah terpikirkan olehmu." balas tyler mengakat wajah luna agar menatapnya, tak lama ia mengusap pelan pipi gadis itu.
"karena ini lah aku. ini lah pekerjaanku. aku tidak bisa menyangkal jati diriku luna."
"tapi tahukah kau bahwa orang yang tidak akan pernah aku sakiti adalah dirimu."
"kau sumber dari segala kelemahan yang ada dalam diriku. kaulah satu satunya orang yang ingin aku lindungi."
__ADS_1
luna mendorong tyler menjauh, omong kosong yang diucapkannya sama sekali tidak luna butuhkan. "apakah seperti ini caramu membuatku bahagia? dengan menculikku? menjauhkanku dari keluargaku dan kekasihku? jika kau tidak menghancurkan pernikahanku, kau sudah melihatku bahagia saat ini."
"tapi kamu justru membawaku ke dalam nerakamu. apa kau tidak sadar? hidupku berakhir dalam bahaya itu semua karena dirimu!"