
Setibanya di rumah sakit, Sian langsung mengangkat tubuh Eden ke atas blangkar dibantu oleh Olivia dan beberapa perawat lain yang langsung siap sedia ketika Olivia berteriak pada mereka dengan panik dan wajah pucat. Eden kemudian langsung dilarikan menuju ruang IGD untuk mendapatkan pertolongan pertama. Satu botol infus telah berhasil dimasukan ke dalam tubuh Eden. Laila yang telah siap sejak Olivia menghubunginya segera memeriksa denyut jantung Eden dan memerintahkan untuk membawa dua ampul darah untuk Eden karena wanita itu telah kehilangan cukup banyak darah selama di perjalanan. Bahkan seluruh kursi penumpang di mobil Sian kini telah penuh dengan noda darah. Sian yang melihat tubuh lemah Eden hanya mampu merangkul istrinya yang sejak tadi juga sama ketakutannya dengan dirinya. Semua ini seperti sebuah dejavu untuk Sian yang dulu juga pernah menyelamatkan Eden saat wanita itu pendarahan untuk pertama kalinya.
“Sebaiknya kalian menunggu di luar. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menolong Eden.” ucap Laila lembut sambil mengelus bahu Olivia pelan. Laila kemudian memberikan senyum terbaiknya pada pasangan suami istri itu agar mereka tidak didera rasa panik yang berlebihan akibat kondisi Eden yang memburuk.
Setelah keluar dari ruang IGD, Sian kemudian segera menghubungi Aciel. Suami dari Eden itu harus tahu jika saat ini istrinya sedang merenggang nyawa di dalam sana karena ulah brengseknya yang tidak bertanggungjawab. Lagipula ia yakin, Aciel pasti akan sangat khawatir jika pria itu tahu bagaimana kondisi istrinya yang sedang kritis itu.
“Olive, aku akan membawa Eden ke ruang operasi. Tolong hubungi suaminya karena tindakan ini memerlukan ijin dari suaminya.” pinta Laila dari dalam ruang IGD, disusul oleh rombongan para perawat yang sedang mendorong blangkar Eden menuju ruang operasi.
“Si brengsek itu sama sekali tidak mengangkat panggilanku.” geram Sian kesal. Seluruh wajahnya kini tampak memerah, perpaduan antara rasa marah dan kalut yang bercampur menjadi satu.
“Kalau begitu aku akan melakukan tindakan tanpa persetujuan suaminya.” balas Laila cepat. Tidak ada waktu lagi untuk menunggu Aciel memberikan ijin, atau Eden tidak akan bisa diselamatkan. Dan sebelum Laila berlalu menuju ruang operasi, Olivia sempat mencekal tangan Laila untuk bertanya pada wanita itu.
“Ada apa? Apa Eden benar-benar keguguran?”
“Ya, Eden benar-benar keguguran. Saat ini aku harus segera mengeluarkan janinnya dan juga menghentikan pendarahannya. Tolong hubungi Aciel sekarang, ia harus tahu kondisi istrinya yang sedang kritits itu.” pinta Laila yang terakhir sebelum ia berlari-lari kecil menuju ruang operasi yang pintunya baru saja dibuka oleh asistennya.
Sepeninggal Laila, Sian langsung mendesah berat di sebelah Olivia dengan wajah bingung dan juga kalut.
“Tenannglah, Eden adalah wanita yang kuat. Ia pasti dapat melewati masa kritisnya dengan cepat.” hibur Olivia di sebelah Sian. Salah satu tanga Olivia kemudian terangkat untuk merangkul pundak Sian yang kini tampak merosot di sebelahnya
“Aku juga berharap seperti itu. Kuharap Eden selalu memiliki cadangan nyawa seperti biasanya. Kau tahu, Eden adalah wanita yang terberkati.” ucap Sian lirih. Sudah tak terhitung berapa kali keajaiban itu selalu datang untuk Eden saat hidup wanita itu sudah diambang batas hidup dan mati.
“Coba kau hubungi nomor Aciel lagi, mungkin kali ini ia akan mengangkatnya.” saran Olivia. Ia dengan lembut mengusap punggung tegang Sian berkali-kali saat pria itu mencoba menghubungi Aciel untuk yang ke sekian kalinya.
“Sial! Kemana perginya pria brengsek itu?” umpat Sian kesal sambil terus menghubungi nomor ponsel Aciel tanpa tahu apa yang sedang dilakukan oleh Aciel saat ini.
-00-
“Apa saja yang telah terjadi padamu setelah orangtuamu berpisah? Aku sungguh tidak tahu jika kehidupan pernikahan orangtuamu juga hancur. Sama seperti milik orangtuaku.” ucap Aciel terkekeh. Kini rasanya ia sudah jauh lebih santai untuk membicarakan masa lalu orangtuanya yang buruk. Mungkin apa yang dikatakan oleh orang-orang memang benar, hanya waktu yang dapat menyembuhkan lukanya.
Sepupu jauhnya itu tampak menghela napas dalam sambil menerawang jauh pada langit-langit kamarnya yang kosong. “Pria itu bukan ayah kandungku. Ia ayah tiriku.” Ia sendiri cukup merasa kecewa dengan keputusan ayah tirinya saat itu karena ia dengan seenaknya menghancurkan hati ibunya yang benar-benar mencintainya dengan sangat tulus.
“Pria itu mengatakan jika ia tidak bisa melupakan mendiang istrinya setelah lima tahun menikah dengan ibuku. Lalu dengan pasrah ibuku menerima begitu saja keputusan ayah tiriku untuk bercerai. Dan akhirnya kami benar-benar berpisah dan tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Tapi aku sama sekali tidak membencinya. Aku
hanya sedikit kecewa padanya. Padahal ia pria yang baik dan juga menyayangiku dengan tulus selama lima tahun kami bersama, tapi ternyata kami tetap tidak bisa menggantikan posisi mendiang istrinya di hati ayah tiriku.” Cleo terlihat sedih saat mengenang masa lalunya. Aciel lalu mengelus puncak kepala Cleo lembut layaknya adik kandungnya sendiri. Dulu ia sangat ingin sekali memiliki seorang adik perempuan, sayangnya ibunya sudah tidak bisa mengandung lagi karena ibunya memiliki masalah pada rahimnya saat itu.
“Lalu sekarang kau melanjutkan bisnis ayah kandungmu?”
“Ya, begitulah. Setelah ibuku bercerai dengan ayah tiriku, kami berdua memutuskan untuk tinggal di Colombia. Sembari aku menyelesaikan pendidikanku, ibu sedikit mengambil kendali di perusahaan, seperti mengontrol kinerja karyawan dan juga mengontrol masalah keungan. Kemudian setelah aku lulus dari gelar masterku, aku mulai mengambil alih perusahaanku dan mulai melebarkan sayap di berbagai negara, termasuk Vegas. Di sini perusahaanku adalah perusahaan baru, jadi aku tidak bisa menyerahkan tanggungjawabku begitu saja pada orang lain, jadi...”
__ADS_1
“Jadi kau memutuskan untuk menetap di Vegas sementara waktu hingga bisnismu benar-benar lancar?” terka Aciel yang langsung mendapat anggukan dari Cleo. Wanita itu kemudian memperhatikan jari manis Aciel yang telah dilingkari sebuah cincin emas yang terlihat sederhana, namun menurut Cleo cincin itu memiliki cerita lain dibalik kesederhanaannya.
“Kau... memakai cincin?” tanya Cleo sambil mengangkat tangan Aciel tinggi-tinggi. Pria itu tampak tertegun sejenak sambil tersenyum masam. Ia merasa bagaikan pria brengsek yang meninggalkan istrinya begitu saja disaat masalah mereka belum terselesaikan. Tapi ia hanya ingin menenangkan diri sejenak. Ia tidak mau bertemu Eden disaat emosinya sedang memuncak seperti kemarin. Ia hanya ingin, saat pulang nanti ia dapat menghadapi Eden dengan kepala dingin dan dengan sebuah jalan keluar yang menguntungkan kedua belah pihak.
“Ya, aku sudah menikah.” jawab Aciel singkat. Cleo langsung terbelalak tak percaya sambil mengguncang-guncangkan bahu Aciel keras.
“Kau, menikah? Ini sulit di percaya. Sejak kapan? Kenapa kau tidak mengundangku?” tanya Cleo bertubi-tubi hingga Aciel merasa kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari wanita itu satu persatu.
“Aku menikah sejak dua tahun yang lalu. Saat itu aku tidak berpikir untuk mengundangmu, karena pernikahan kami bukan pernikahan biasa.” jawab Aciel sekenanya. Terkadang ia bingung jika harus menjelaskan kisah cintanya dengan Eden karena mereka tidak memulai semua itu seperti pasangan normal pada umumnya.
“Aku tidak mengerti Ace. Kenapa pernikahanmu bisa menjadi pernikahan yang tidak biasa?” Cleo mengernyitkan dahinya dalam, menatap Aciel sungguh-sungguh dan berharap pria itu akan memberinya jawaban yang memuaskan.
“Apa pernikahan kalian karena sebuah kecelakaan? Apa kau menghamili calon istrimu?” tanya Cleo memincing curiga. Dengan cepat Aciel langsung menghalau wajah Cleo dari hadapannya dengan ekspresi wajah kesal.
“Bisa dikatakan seperti itu. Tapi ini lebih rumit, aku tidak bisa menceritakannya satu persatu. Hanya satu yang kau perlu tahu, bahwa aku sangat mencintai istriku hingga aku memutuskan untuk menikahinya.”
Oh, ngomong-ngomong tentang cinta, mengapa kemarin ia begitu mudah mengatakan kata cerai pada Eden? Padahal ia begitu mencintai wanita itu dan sama sekali tidak ingin kehilangan wanita yang dicintainya. Tapi lagi-lagi semua itu hanya karena emosi sesaat. Sekarang ia merasa begitu menyesal karena telah berlaku kasar pada Eden.
“Wow itu bagus.” komentar Cleo singkat.
“Lalu bagaimana denganmu? Kau tidak menikah?”
wanita itu pernah menikah. Menurut Aciel apartemen milik Cleo sangat bersih dan terlalu rapi untuk wanita seusia Cleo yang seharusnya telah memiliki keluarganya sendiri.
“Aku belum tertarik.” jawab Cleo malas-malasan. Jika itu bukan Aciel, mungkin ia akan memberikan jawaban yang lebih ketus karena sungguh ia telah lelah dengan pertanyaan itu.
“Kusarankan agar kau tidak terlalu pemilih. Walaupun kau memang tetap harus memilih pria yang tepat untukmu, tapi terlalu pemilih juga tidak bagus. Dulu aku juga tidak tertarik dengan pernikahan. Bagiku hidup melajang seumur hidup jauh lebih baik daripada memiliki keluarga yang rusak seperti milik orangtuaku. Namun Eden berhasil mengubah pemikiran bodohku itu hingga sekarang aku justru sangat bersyukur karena memiliki keluargaku sendiri.”
“Oh jadi namanya Eden?” goda Cleo dengan senyum jahil. Aciel hanya memberikan senyuman kecil untuk menanggapi godaan Cleo. Jelas ia bukan remaja ingusan yang akan berteriak heboh hanya karena orang lain mengetahui nama wanita yang paling ia cintai.
“Aku jadi ingin bertemu dengan istrimu. Sehebat apa wanita itu hingga ia dapat membuat seorang Aciel Lutherford bertekuk lutut di bawah kakinya.”
“Eden sangat hebat. Datanglah ke rumahku jika kau tidak sibuk, aku akan mengenalkanmu pada Eden dan anak-anakku.”
“Anak-anakmu? Siapa nama mereka? Aku ingin bertemu dengan mereka. Aku ingin memperkenalkan diriku sebagai auntynya yang cantik.” terang Cleo genit sambil mengibas-ibaskan rambutnya. Aciel menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kelakukan Cleo yang sama sekali tidak pernah berubah sejak dulu, berisik, pembuat onar, dan selalu penuh percaya diri.
“Ciara dan Louise, itu nama anak-anakku. Mereka pasti juga senang saat bertemu dengan wanita berisik sepertimu. Anakku Ciara, ia sangat berisik, sama sepertimu. Bahkan istriku sering mengeluh dengan sikap ingin tahunya yang tinggi. Ciara tidak akan berhenti menanyakan hal-hal yang tidak ia ketahui sampai ia mendapatkan jawaban yang memuaskan.”
Cleo tergelak mendengar cerita dari Aciel mengenai anak pertamanya. “Memangnya berapa usia anak-anakmu? Aku jadi semakin tidak sabar untuk bertemu mereka. Kau pasti tidak pernah menceritakan tentangku pada mereka.” tuduh Cleo tepat sasaran dengan mata yang memincing kearah Aciel. “Ck, kau bahkan sudah melupakan saudara jauhmu yang memang sangat jauh ini.” tambah Cleo dengan ekspresi yang dibuat-buat kesal di sebelah Aciel.
__ADS_1
“Aku memiliki terlalu banyak hal yang harus kupikirkan hingga aku sama sekali tidak mengingatmu. Dan mengenai usia anak-anakku.” Aciel tampat berhenti sejenak untuk menghitung usia anak-anaknya sekarang. Padahal kemarin sepertinya Eden baru saja mengatakannya, tapi ia sudah lupa karena ia terlalu banyak mabuk dan emosi.
“Berapa? Jangan-jangan kau tidak hafal berapa usia anak-anakmu sekarang?” terka Cleo dengan mata menyipit. Aciel meringis kecil sambil menyuruh wanita itu menunggu, karena ia sekarang ia sedang menghitung usia kedua anaknya.
“Tunggu, aku sedang berpikir. Sepertinya Ciara berusia lima tahun lima bulan, sedangkan Louise berusia sekitar satu tahun.”
“Wah, hebat! Kau benar-benar pria sejati yang normal.” heboh Cleo sambil bertepuk tangan. Kedua manusia itu terus saja bercanda tanpa tahu bagaimana kondisi Eden saat ini yang sedang merenggang nyawa di rumah sakit. Aciel pun tampak masih enggan untuk pulang ke rumah, ia justru melenggang santai menuju dapur untuk membuat secangkir kopi. Benar-benar ia telah menganggap apartemen milik Cleo sebagai rumahnya sendiri.
“Cleo, dimana kau letakan gulanya?” teriak Aciel dari arah dapur. Cleo kemudian melongokkan kepalanya sedikit dari pintu kamar mandi sambil berteriak jika gulanya ia letakan di dalam lemari penyimpanan di atas kompor.
“Ace, ponselmu bergetar. Aku lupa jika ponselmu aku letakan di meja makan, karena aku baru saja mencuci kemejamu. Sepertinya itu panggilan penting. Lihat! Ada dua puluh lima panggilan dari Sian dan sepuluh panggilan dari nomor tak dikenal.” terang Cleo sambil membaca tulisan yang tertera pada ponsel pria itu.
Aciel mengernyit heran sambil menerima ponsel hitamnya dengan perasaan khawatir. Apa ia memiliki jadwal meeting yang ia lewatkan hari ini? Mengapa Sian terus menghubunginya? Tapi asistennya sama sekali tidak menghubunginya untuk mengingatkan jadwalnya hari ini. Aciel kemudian hendak menghubungi nomor ponsel Sian, sebelum ponselnya kembali berdering dan memunculkan nama Sian sebagai si pemanggil.
“Halo, ada apa? Kenapa kau terus menghubungiku? Soal semalam...”
“Kemana saja kau! Eden sedang membutuhkanmu sekarang. Ia sedang kritis karena mengalami pendarahan. Istrimu baru saja keguguran.”
Deg
Tiba-tiba jantungnya terasa tersabut tercabut begitu saja dari tempatnya. Ia merasa kaku dan tidak sanggup menggerakan tubuhnya.
“Kk kritis? Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Aciel panik. Di sebelahnya Cleo tampak setia mendengarkan setiap pembicaraan Aciel dengan lawan bicaranya.
“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ketika kami datang, Eden sudah pingsan di atas tangga dengan darah yang terus merembes dari dresnya. Sekarang Laila sedang melakukan operasi untuk menyelamatkan Eden. Sebaiknya kau segera datang, karena aku dan Olivia sudah sangat panik sejak tadi.”
“Aku akan segera datang.”
Setelah mematikan sambungann teleponnya Aciel segera melompat bangkit dari tempat duduknya dengan wajah panik. Ia dengan bingung berjalan kesana kemari untuk mencari dompet serta kunci mobilnya. Tapi kemudian ia teringat jika mobilnya saat ini sedang berada di klub malam karena semalam Cleo yang membawanya pulang ke apartemen wanita itu.
“Sial! Mobilku berada di klub.” umpat Aciel gusar. Ia merasa tidak bisa berpikir jernih sekarang. Semua pikirannya hanya mengarah pada Eden dan keadaan wanita itu saat ini.
“Ada apa? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi?”
“Istriku kritis, ia mengalami pendarahan. Mobilku masih berada di klub.” jelas Aciel sambil mengacak rambutnya frustasi. Cleo kemudian langsung menyambar jaketnya dan juga kunci mobilnya. Dengan cekatan, wanita itu segera menarik tangan Aciel untuk keluar dari apartemennya, hingga membuat Aciel merasa kebingungan dan hanya mengikuti kemana wanita itu menarik tangannya.
“Aku akan mengantarmu. Ayo! Kau ini lambat sekali.” decak Cleo kesal sambil terus menarik tangan Aciel menuju basement. Sedangkan Aciel, ia justru merasa blank dan bingung. Andai saja Cleo adalah orang jahat yang akan mencelakainya, maka ia sendiri tidak akan berbuat apapun, karena sekarang pikirannya sedang sangat
kacau. Apalagi Sian mengatakan jika saat ini Eden sedang kritis. Berbagai macam gambaran buruk terus menghantui kepalanya hingga ia merasa lemas dan tidak bisa berjalan dengan benar. Ia sudah terlalu trauma dengan keadaan Eden yang sudah-sudah. Jika kali ini Eden mengalami hal buruk lagi, entah apa yang akan ia lakukan. Mungkin ia akan membenci dirinya sendiri seumur hidup karena telah membuat wanita yang sangat ia cintai kembali merenggang nyawa karena ketololannya.
__ADS_1