
Aciel terus melajukan mobilnya menuju sebuah klub malam di daerah The Hill. Ia yang akhir-akhir ini jarang meneguk alkohol karena sudah terlalu lelah dengan pekerjaan di kantor memilih untuk meneguk cairan itu malam ini. Suara jerit tangis Ciara dan Louise juga terus menghantui kepalanya, hingga ia merasa begitu kesal dan merasa
bersalah. Seharusnya ia tidak melibatkan Ciara dan Louise dalam pertengkarannya ini. Apalagi mereka masih tidak tahu apa-apa tentang masalah kedua orangtuanya. Bagaimana jika setelah ini mereka membencinya? Aciel kemudian mengcak rambutnya frustrasi sambil memesan segelas vodka pada bartender. Kilasan ingatan ketika Eden yang tengah menangis dan memanggil-manggil namaya juga semakin membuat kepalanya pening dan frustrasi. Ia merasa telah menjadi seorang yang jahat. Tapi mau bagaimana lagi, semua ini karena Eden telah membohonginya. Sejak awal ia telah mengatakan pada Eden, jika ia sangat membenci seorang pembohong. Tapi wanita itu dengan lancang justru menipunya dengan mengatakan padanya jika ia datang ke rumah sakit untuk meminta sebotol vitamin, padahal wanita itu meminta sebotol pil pencegah kehamilan. Sungguh, ia begitu kecewa pada Eden. Kenapa wanita itu bertindak sesuka hatinya. Apa Eden sudah tidak menganggapnya sebagai suami lagi? Apa kehadirannya tidak berharga di mata wanita itu? Berbagai macam pertanyaan yang tak bisa dijawabnya itu terus berkecamuk di dalam kepalanya yang pening. Andai saja waktu dapat diputar, maka ia lebih memilih untuk tidak mengetahui semua kebohongan yang dilakukan oleh Eden agar ia tidak berakhir seperti ini. Berakhir seperti pesakitan yang hampir gila karena terus dihantui dengan rasa bersalah dan juga rasa benci.
“Ambilkan aku sebotol whiski.” pinta Aciel pada bartender dengan kepala yang ia telungkupkan di atas meja. Tiba-tiba seorang pria mendudukan dirinya di sebelah Aciel sambil menepuk pundak Aciel pelan. Refleks, Aciel segera mendongakan kepalanya untuk melihat siapa pria itu. Dan ia langsung tersenyum getir ketika ia mengetahui siapa pria yang saat ini tengah duduk di sebelahnya.
“Ada apa, Sian? Apa Eden yang mengirimu ke sini?” tanya Aciel sakarstik pada sahabat baiknya itu. Ia tidak mengira jika Eden akan melibatkan orang luar seperti Sian dalam masalah rumah tangganya seperti ini. Benar-benar memuakan!
“Kenapa kau di sini? Pulanglah! Eden membutuhkanmu.” ucap Sian tenang. Tak ia pedulikan bagaimana nada sinis Aciel ketika pria itu bertanya padanya. Ia hanya ingin Aciel kembali ke rumahnya sekarang juga, karena saat ini istri dan anak-anaknya sedang menunggunya di rumah.
Beberapa menit yang lalu Eden menghubungi istrinya sambil menangis-nangis jika suaminya marah besar padanya karena ia ketahuan berbohong dan menggunakan pil pencegah kehamilan. Setelah Olivia menceritakan semuanya padanya, ia juga menjadi marah pada Olivia karena istrinya itu yang mengenalkan Eden pada Laila, sehingga sekarang Eden menjadi lebih mudah untuk meminta obat pada Laila. Seharusnya sejak awal Olivia tidak perlu memperkenalkan Laila pada Eden, mengingat sifat Eden yang sering bertingkah nekat jika merasa terdesak. Namun saat Olivia meminta penjelasan dari Laila, wanita itu menjelaskan jika sejak seminggu yang lalu Eden terus merengek-rengek padanya, sehingga ia tidak memiliki pilihan lain selain memberikan obat itu pada Eden.
Sekarang Sian merasa kasihan pada Eden. Wanita itu terlihat hancur saat ia mendatangi mansionnya
beberapa saat yang lalu. Belum lagi keadaan kedua anak Aciel yang turut murung karena orangtuanya marah besar, membuat Sian merasa miris dan ingin sekali membantu Eden. Lagipula ia yakin jika semua ini hanya karena emosi sesaat sahabatnya itu. Cepat atau lambat Aciel pasti akan segera kembali pada Eden dan tidak akan menggugat cerai isteri tercintanya itu.
“Darimana kau tahu jika aku berada di sini?” tanya Aciel datar sambil menyesap whiskinya dengan nikmat.
Sian yang melihat sahabatnya mulai menyesap minuman beralkohol itu menjadi khawatir. Padahal sejak bersama Eden, Aciel sudah jarang pergi ke klub dan meminum alkohol. Kepribadian Aciel seperti berubah perlahan-lahan sejak ia memiliki keluarga kecilnya yang manis. Tapi sekarang pria itu justru beralih pada minuman beralkohol ketika ia mengalami masalah dengan Eden. Benar-benar miris.
“Aku melacak nomor ponselmu.”
“Shit! Berhentilah untuk mencampuri urusan rumah tanggaku. Lebih baik kau pulang dan tinggalkan aku di sini sendiri.” perintah Aciel tegas dan sedikit terselip nada mengusir disetiap katanya. Tapi Sian tidak akan menyerah begitu saja. Tujuannya ke sini adalah untuk membantu Eden meluruskan masalahnya, jadi dia tidak akan pulang sebelum ia benar-benar melakukan tugasnya dengan baik.
“Aku tidak akan pulang sebelum masalah kalian selesai. Aku turut minta maaf karena Olivia yang telah mengenalkan Eden pada Laila. Tolong maafkan kami.”
__ADS_1
“Kau dan Olivia sama sekali tidak salah. Ini semua salah Eden. Wanita itu sudah tidak menghargaiku sebagai suami lagi, Sian. Selama ini aku memang jarang berada di rumah, sehingga ia merasa menjadi wanita bebas tanpa pengawasan dari suaminya.” ucap Aciel dengan nada pedih. Sian yang mendengar hal itu langsung menggeleng cepat pada Aciel karena ia sama sekali tidak setuju dengan pendapat pria itu. Eden bukan tipe wanita seperti itu. Meskipun Aciel terus meninggalkannya di rumah bersama Ciara dan Louise, tapi Eden selalu setia pada Aciel. Tak pernah sedikitpun wanita itu mengkhianati Aciel dan melakukan hal-hal yang menyimpang di luar sana, meskipun ia dapat melakukannya, karena Eden adalah wanita yang cantik dan menarik. Banyak pria yang terang-terangan menyukainya dan mengaguminya, namun Eden selalu mengatakan pada semua orang yang ditemuinya jika ia adalah wanita yang bersuami dan telah memiliki dua orang anak. Jadi, Eden benar-benar bukan tipe wanita yang akan mengkhianati suaminya dan menganggap kehadiran suaminya tidak ada. Sejauh yang ia tahu, Eden selalu menghormati Aciel sebagai seorang suami dan juga seorang ayah bagi kedua anaknya.
“Ace, cobalah untuk berbaikan dengan Eden. Ia bukan tipe wanita seperti itu. Ia selama ini selalu menghormatimu, meskipun kau selalu menuntutnya banyak hal. Mungkin kali ini Eden memang salah karena telah membohongimu, tapi semua itu dilakukannya semata-mata karena ia tidak ingin melukai perasaanmu. Ia tahu jika kau sangat menginginkan kehadiran seorang bayi lagi, tapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Eden masih lelah. Ia masih ingin menjalani hari-harinya bersama Ciara dan Louise karena ia tidak ingin kedua anaknya harus berbagi perhatian dengan adik mereka yang baru. Apa kau tidak ingat bagaimana Ciara tumbuh selama ini? Seharusnya gadis seusia Ciara masih menikmati kasih sayang orangtuanya secara penuh tanpa harus berbagi dengan Louise. Tapi karena kau tidak bisa menahan diri, maka Eden rela menguras seluruh tenaganya selama ini untuk mengasuh Ciara dan Louise sendirian selama kau berada di luar negeri. Apa kau pikir mengurus dua anak balita itu mudah? Pekerjaan Eden selama ini sangat berat, Ace. Pelayan-pelayanmu itu tidak akan pernah bisa menggantikan sosok Eden untuk anak-anakmu. Eden bukan sapi perah yang hanya hidup untuk melahirkan keturunan keluarga Lutherford dan mengasuh anak-anakmu. Ia butuh kebebasan. Eden juga ingin bebas seperti wanita-wanita lain di luar sana. Apa kau tahu jika selama ini Eden sangat ingin bersenang-senang bersama teman-temannya? Kau pasti tidak pernah tahu, karena Eden selalu takut untuk mengatakannya padamu. Eden..”
“Cukup! Jika kau disini hanya ingin mengolok-olokku sebagai suami yang brengsek, maka lebih baik kau
kembali saja ke rumahmu. Aku tidak butuh semua omong kosong darimu, Sian! Biarkan aku sendiri di sini. Aku sedang malas untuk bertemu Eden dan membahas seluruh masalah kami. Bahkan aku sudah berencana untuk menceraikannya agar ia bisa hidup bebas seperti yang kau katakan tadi.” potong Aciel capat dan tampak tidak mau dibantah. Sian kemudian menutup bibirnya rapat-rapat untuk memikirkan kalimat apa yang akan ia katakan pada Aciel selanjutnya. Pria itu tampaknya tidak bisa diajak bicara baik-baik malam ini. Jadi percuma saja jika ia terus memberikan nasihat pada sahabatnya, jika pada akhirnya sahabatnya itu justru semakin marah pada Eden dan menyalahkan wanita malang itu. Lebih baik ia berhenti sejenak sambil menunggu emosi Aciel mereda.
“Apa yang kau lakukan di sini? Cepat pulanglah!” usir Aciel kasar sambil menegak whiskinya lagi. Pria
itu kini terlihat telah mabuk karena pandangan pria itu sudah mulai berkunang-kunang dan tidak jelas. Sian yang melihat hal itu akhirnya memutuskan untuk pergi dari hadapan Aciel karena ia merasa ini semua tak ada gunanya.
Sahabatnya itu pasti tidak akan bisa menerima seluruh nasihatnya dan justru semakin marah dan menyalahkan istrinya yang malang itu.
hanya berharap setelah ini sahabatnya itu dapat segera berbaikan dengan istrinya dan tidak memutuskan untuk bercerai dengan Eden.
“Pikirkan semua perkataanku baik-baik, Ace. Jangan sampai kau menyesali perbuatanmu sendiri.” bisik
Sian pelan sebelum ia berjalan pergi meninggalkan Aciel yang telah jatuh tertidur di atas meja bar yang dingin.
-00-
Seorang wanita cantik dan seksi dengan lipstik merah menyala tampak begitu anggun berjalan memasuki pintu klub malam milik sahabatnya. Ia dengan pakaian yang sangat ketat terlihat begitu menggoda diantara puluhan pengunjung wanita yang sedang menghabiskan malam mereka di dalam klub elite tersebut. Ia kemudian berjalan dengan santai menuju meja bartender untuk menemui sahabatnya yang memang bertugas sebagai peracik minuman. Seulas senyum tersungging di wajahnya kala Michael, sahabat baiknya itu tengah memandang ke arahnya sambil melambaikan tangannya ringan untuk mengundangnya mendekat.
“Kau terlihat semakin cantik dan seksi, apa yang kau lakukan di sini?”
__ADS_1
“Hmm, aku sedang bosan. Kemarin aku bertemu seorang klien yang sangat menyebalkan dan juga cabul, dia dengan terang-terangan memintaku untuk menjadi teman tidurnya malam ini, bukankah itu gila?” ucap wanita itu sedikit berteriak karena suara bising yang terdengar disekitar mereka. Sang bartender kemudian menyodorkan segelas orange jus pada wanita itu dan memintanya untuk menghabiskan minuman spesial itu agar sang wanita tidak terus menerus tenggelam pada rasa kesalnya.
“Minumlah, ini akan membuatmu menjadi lebih baik.”
Wanita itu menerima segelas orange jus itu dengan senang hati sambil mendudukan dirinya pada sebuah bangku kosong yang tersisa di meja bar tersebut.
“Siapa dia?” tanya wanita itu sambil mengendik acuh pada seorang pria yang tengah tertidur di atas meja bar. Michael kemudian menoleh sejenak sambil mengendikan bahunya tak tahu karena ia sama sekali tidak mengenal pria itu. Tapi, ia jelas tahu jika pria itu sedikit memiliki masalah karena pria itu tadi sempat berteriak-teriak pada sahabatnya, sebelum sahabatnya memutuskan untuk pergi dan meninggalkan pria itu sendiri di dalam barnya.
“Aku tidak tahu siapa pria itu, tapi sepertinya ia sedang memiliki masalah. Lihat, dia tampak begitu kacau dan kusut. Pasti masalahnya sangat fatal.” Michael berseru santai sambil meracik segelas minuman untuk tamunya yang lain. Cleo mengangguk-anggukan kepalanya mengerti sambil menyeruput orange jusnya lagi. Sembari mengamati hiruk pikuk pemandangan di dalam bar, ekor mata wanita cantik itu tak sengaja menatap pergerakan pria asing yang saat ini tampak menggeliat pelan di sebelahnya, namun setelah itu ia kembali terlelap dalam tidurnya yang tak nyaman. Samar-sama Cleo dapat melihat sosok asli dari pria itu, meskipun sebagian rambut lebatnya berhasil menutupi sebagian wajah pria itu hingga ia nyaris tidak mengenalinya, namun sedetik kemudian Cleo langsung memekik kaget, karena ia ternyata mengenal sosok pria asing itu.
“Aciel...” gumam Cleo tak percaya. Setelah sekian lama ia tidak pernah bertemu dengan pria itu,
akhirnya Tuhan mempertemukan mereka lagi dalam keadaanya yang cukup tak terduga ini. Terakhir ia bertemu dengan Aciel adalah tiga puluh tahun yang lalu di Madrid. Yah, kurang lebih seperti itulah. Cleo sebenarnya lupa kapan tepatnya, karena itu memang terjadi sudah cukup lama. Saat itu mereka masih sama-sama berusia belasan tahun dan sedang menjalin hubungan persahabatan yang begitu akrab karena mereka memiliki selisih usia yang tidak jauh berbeda, hanya dua tahun. Sayangnya hubungan mereka tak berlangsung lama, karena keluarga Aciel kemudian memutuskan untuk kembali lagi ke Vegas setelah urusan pekerjaan ayah Aciel di sana selesai.
Dengan perlahan, Cleo mencoba menyentuh bahu Aciel untuk membangunkan pria mabuk itu. Tapi Aciel sama
sekali tak bergeming dan justru semakin menenggelamkan wajahnya di atas meja untuk mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Karena tidak tega, akhirnya Cleo memutuskan untuk membawa Aciel ke apartemennya agar pria itu dapat beristirahat dengan nyaman di dalam kamarnya. Lagipula ia selama ini tinggal sendiri di Vegas,
jadi tidak ada salahnya jika ia membawa Aciel pulang ke apartemennya dan memberikan tempat yang layak untuk pria itu tidur malam ini.
Cleo kemudian mulai mengangkat tubuh Aciel dengan susah payah sambil berusaha untuk menyeimbangkan kakinya yang dibalut dengan heels dua belas centi. Kini wanita itu mulai menyesali pilihan sepatunya yang ternyata cukup membuatnya kesulitan untuk berjalan ketika ia harus menyeret tubuh Aciel yang cukup berat.
“Mau kau apakan pria itu? Kau ingin membawanya ke ranjangmu?” tanya Michael dengan seringaian jahil
di wajahnya. Cleo hanya membalas candaan Michael dengan senyum tipis sambil tetap berusaha untuk menyeret tubuh Aciel untuk pergi dari bar yang semakin ramai itu. Ia kemudian memberikan kode pada Michael jika besok ia akan menghubungi pria itu lagi untuk membayar tagihan Aciel, karena ia yakin saat ini Aciel tidak akan bisa mengeluarkan dompetnya untuk membayar semua tagihan minumannya. Setelah mereka tiba di parkiran, Cleo segera melempar tubuh Aciel ke dalam mobil merah menyalanya begitu saja, dan ia segera membawa Aciel pergi ke apartemennya. Dalam hati Cleo merasa sudah tak sabar untuk menunggu Aciel bangun dari tidurnya, karena ia memiliki begitu banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada pria itu. Terutama tentang status pria itu sekarang. Apakah pria itu telah memiliki kekasih, atau justru telah menikah.
__ADS_1