Black Swan

Black Swan
Olivia Pregnant Story (Ninety Six)


__ADS_3

            “Sarapanmu, dad.”


            “Hmm...


            Perang dingin itu masih terjadi antara Sian dan Olivia. Sejak semalam tidak ada satupun yang ingin mengalah untuk berbaikan. Olivia yang merasa tidak memiliki kesalahan apapun pada Sian merasa gemas dengan sikap kekanakan Sian yang terlalu aneh menurutnya. Cemburu pada George? yang benar saja! Olivia rasanya ingin berteriak kesal dengan kebekuan Sian yang masih terlihat jelas pagi ini, meskipun ia telah berusaha bersikap biasa di hadapan pria itu.


            “Kau tidak perlu menyiapkan makan siang hari ini, aku tidak akan pulang.”


            Olivia menaikan alisnya heran, ia terlihat curiga kearah Sian yang terlihat begitu tenang dengan menu sarapannya.


            “Apa ini karena kau marah padaku? Ck, kenapa kau sangat kekanakan, Sian.”


            “Kekanakan? Aku baik-baik saja, Olive.” balas Sian dengan wajah datar. Sungguh ia tidak ingin terjadi keributan di paginya yang indah ini. Apalagi ia membutuhkan lebih banyak kekuatan untuk memulai harinya yang akan menjadi sibuk karena ia dan Aciel memiliki tamu dari Texas.


            “Aku dan George hanya teman, kau tidak perlu terlalu berlebihan seperti itu.”


            Sian mendongakan kepalanya kearah Olivia, terlihat begitu geram dengan tuduhan wanita itu yang menyebutnya kekanakan hanya karena istrinya bertemu dengan salah satu teman masa kecilnya. “Aku tidak...”


Ting tong


            Suara bel di depan pintu menghentikan niat Sian untuk membela diri di depan istrinya. Pria itu lantas menenggelamkan dirinya lagi pada bacon dan roti gandum berkulit garing yang telah disiapkan Olivia di piringnya. Tidak, ia tidak akan membuat semuanya menjadi lebih buruk dari ini.


            Dengan napas pendek-pendek Olivia berjalan kearah pintu utama yang sejak tadi belnya terus berbunyi dengan berisik. Sedikit meringis karena ia telah kehilangan begitu banyak pasokan oksigen hanya karena berjalan dari dapur menuju pintu utama, Olivia memutuskan untuk sedikit mengambil napas sebelum tangan kanannya terulur dan menarik gagang pintu berwarna emas yang berada di depannya.


            “Hai.”


            Sapaan hangat dan senyuman manis menyambut Olivia saat ia berhasil membuka pintu di depannya lebar-lebar. Seorang pria dan sekotak besar kue menjadi pemandangan yang begitu indah untuk pagi Olivia yang sedikit dilanda kekacauan karena sikap kekanakan Sian yang terus saja berlanjut sejak kemarin. Dengan wajah penuh senyuman, Olivia segera meminta George untuk masuk dan meletakan kotak kue berukuran besar itu di atas meja ruang tamunya.


            “Kejutan yang luar biasa. Aku tidak tahu kau akan datang hari ini.” ucap Olivia masih merasa takjub dengan kehadiran George. Baru kemarin George meminta alamat rumahnya, dan sekarang pria itu telah berada di rumahnya dengan penampilan yang begitu rapi seperti hendak pergi ke kantor.


           “Kejutan.” balas George geli saat melihat wajah penuh keterkejutan yang masih ditunjukan oleh Olivia di depannya.


            “Tadinya aku akan ke sini saat jam makan siang, tapi mendadak aku memiliki perubahan jadwal, sehingga aku menyempatkan datang ke rumahmu pagi ini sebelum aku menjadi semakin sibuk nanti siang. Ngomong-ngomong dimana suamimu?”


            “Sian sedang makan, apa kau sudah sarapan, George?”


            “Sejujurnya belum.” jawab George sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Olivia yang melihat itu lantas segera menarik George menuju ruang makan agar mereka dapat sarapan bersama dan juga mengobrol dengan lebih santai karena kemarin mereka belum sempat membicarakan banyak hal saat pertemuan singkat mereka di supermarket.


            “Siapa yang datang, Olive?”


            Sian masih belum menyadari kehadiran George di ruang makannya. Saat mendengar suara berisik Olivia yang sibuk berceloteh, Sian lebih memilih untuk menyibukan diri dengan membaca email-email yang dikirimkan oleh sekretarisnya pagi ini.


            “Duduklah George, aku akan menyiapkan sarapanmu.”


            Sian cepat-cepat mendongak saat mendengar nama itu disebut lagi di rumahnya. Dan tepat ketika ia mengangkat kepalanya, wajah pertama yang ia lihat di seberang kursinya adalah wajah George yang sedang menyunggingkan senyuman tulus kearahnya.


           “Selamat pagi, maaf mengganggu waktu sarapan kalian.”


            Rasanya Sian masih belum bisa menghilangkan keterkejutannya dengan kemunculan George pagi ini di


ruang makannya. Apalagi dengan sikap istrinya yang terlalu berlebihan dengan kedatangan George, membuat Sian seketika merasa kenyang dan ingin segera pergi dari rumahnya saat ini juga.


            “Oh, aku tidak menyangka kau akan datang sepagi ini di rumahku.”


            George hanya tersenyum menanggapi komentar Sian. Ia bahkan juga tidak menyangka jika tangannya akan


membelokan setir kemudinya ke halaman rumah besar milik Sian saat ia akan pergi menuju kantor relasi bisnis ayahnya. “Kebetulan rumah kalian searah dengan tujuanku pagi ini.”


            “Oh...” balas Sian pendek. Tak ada lagi percakapan diantara mereka karena Sian benar-benar tidak ingin berbasa-basi dengan George. Ia sendiri memilih untuk bersikap acuh tak acuh dengan alasan sedang membaca laporan penting dari sekretarisnya, padahal sejak tiga menit yang lalu Sian hanya sibuk membuka dan menutup aplikasi instagramnya yang sama sekali tidak menampilkan berita yang menarik untuk dilihat.


            “Maaf aku hanya memiliki ini, semoga kau suka, George.”


            Olivia menghidangkan sepiring kentang tumbuk, poached eggs, dan sosis jerman berukuran jumbo, lengkap dengan taburan daun parsley yang begitu aetetik untuk George. Seketika Sian melirik menu sarapannya yang terlihat sangat biasa di piringnya sambil membandingkan menu sarapan milik George. Ini tidak adil! batin Sian gemas. Selera makannya kini telah hilang sepenuhnya, dan ia tidak akan lagi memakan menu sarapannya yang masih tersisa separuh.


            “Kau mau kemana, dad?”


            “Ke kantor.”


            “Kau belum menghabiskan sarapanmu.” tegur George ikut campur.


            “Aku memiliki urusan penting dengan rekan kerjaku. Aku pergi.”

__ADS_1


            Tanpa sadar Olivia menghembuskan napas berat kearah punggung tegap Sian yang telah berjalan menjauh. Samar-samar Olivia mendengar suara benda jatuh yang disusul umpatan kasar Sian yang baru saja menabrak benda-benda di sekitarnya.


Bruk


            “Sialan!”


            Setelah itu tidak ada lagi umpatan bernada emosi yang dilontarkan Sian. Rumah itu seketika hening setelah Sian pergi dengan seluruh emosi yang melingkupinya.


            “Kau tidak makan?” George mengagetkan Olivia yang sedang melamun sambil melirik kearah piringnya yang terlihat begitu menggiurkan. Sebuah keberuntungan baginya karena pagi ini ia dapat merasakan makanan rumahan yang sudah lama tidak ia rasakan semenjak ia terlalu sibuk dengan perusahaan milik ayah angkatnya.


            “Aku baru saja meminum susu, nanti satu jam lagi aku baru akan makan. Kau makan saja, George.”


            “Sekali lagi terimakasih, kau baik sekali.”


            “Tidak masalah. Lagipula aku ingin mendengar lebih banyak cerita darimu. Jadi kau sekarang menetap di Vegas?”


            “Tidak juga.” Sambil mengunyah sosisnya yang begitu nikmat, George mulai menceritakan awal mulanya mengapa ia bisa berada di Vegas, di kota kelahirannya. “Aku ke sini untuk menggantikan pekerjaan ayahku yang telah menua. Kau tahu, ayahku memiliki sakit liver yang membuatnya tidak bisa pergi kemanapun.”


            “Jadi kau sedang menyelesaikan pekerjaan ayahmu. Kau bekerja di bidang apa?” Olivia terlihat begitu berminat dengan obrolannya bersama George. Rasanya menyenangkan saat melihat teman seperjuangannya yang sama-sama pernah tinggal di panti asuhan, sekarang telah menuai kesuksesan yang begitu cemerlang.


            “Konstruksi. Ayahku mendapatkan proyek baru dari perusahaan otomotif di sini karena mereka ingin membangun sebuah pabrik baru di Ilinois.”


            “Benarkah? Perusahaan apa?” tanya Olivia penuh minat.


            “Cadillac, mereka akan melakukan ekspansi ke Texas.”


            “Wow, itu hebat. Cadillac, itu perusahaa besar yang sangat terkenal. Semoga kau berhasil dengan proyekmu karena kau nanti akan bertemu dengan Aciel.”


            “Aciel?” tanya George mengernyit. Ia sepertinya mengenal orang itu. “Aciel Lutherford maksudmu?”


            “Hmm.. dia adalah teman Sian, lebih tepatnya sahabat baik Sian sejak pria itu masih sangat muda. Aciel orang yang baik.” ucap Olivia bangga. George terlihat menaikan alisnya sekilas, namun ia enggan berkomentar terlalu jauh mengenai pekerjaanya ataupun orang-orang yang akan terlibat dengannya nanti. Lagipula ia datang ke sini bukan untuk membahas mengenai pekerjaannya bersama Olivia.


            “Ngomong-ngomong bagaimana kondisi panti sekarang?” tanya George mengalihkan topik pembicaraan. Tak terasa menu sarapannya hanya tersisa tiga suapan lagi untuk dimakan. Entah George yang kelaparan atau karena menu sarapan buatan Olivia terasa sangat enak di mulutnya, yang jelas ia merasa tidak rela jika makanan itu habis terlalu cepat.


            “Sudah cukup lama aku tidak pergi ke panti.” Olivia sedikit mendesah sebelum melanjutkan ceritanya. Ingatan demi ingatan mengenai kehidupan sulitnya selama ini mulai merayap ke dalam kepala Olivia dan menciptakan sebuah kegetiran tersendiri untuknya. “Aku tidak seberuntung dirimu, George.” ucap Olivia mulai bercerita. “Tidak ada satupun yang menginginkanku untuk menjadi anak angkat mereka, sehingga aku tinggal cukup lama di panti itu. Aku berada di sana hingga usiaku delapan belas tahun.”


            George sedikit terkejut mendengar pengakuan dari Olivia yang cukup mencengangka karena ia pikir Olivia tidak akan tinggal selama itu di panti asuhan. Perasaan bersalah seketika menghinggapi George karena ia telah salah memberikan pertanyaan untuk Olivia.


            “Tidak, sama sekali tidak. Aku baik-baik saja.” tambah Olivia dengan senyuman. “Sebenarnya aku pergi dari panti asuhan dalam keadaan kekurangan dan kondisi mata yang lebih parah. Saat itu aku memang belum mengalami kebutaan total, tapi lambat laun aku akan mengalami kebutaan total jika aku tidak segera mengoperasi mataku. Tapi kau tahu sendiri George, aku adalah gadis buta saat itu. Aku tidak bisa menghasilkan uang yang cukup untuk membiayai operasi mataku, sehingga aku harus menabung cukup lama itu dapat melakukannya.”


            “Bagaimana dengan teman-teman yang lain? Kau tidak pernah meminta bantuan mereka?”


            Olivia tersenyum kecut menanggapi pertanyaan George. Bagaimana mungkin ia akan meminta bantuan teman-temannya jika sejak dulu ia tidak pernah dekat dengan siapapun. “Kau orang ke dua yang kutemui setelah keluar dari panti. Sebelum kau, aku bertemu dengan Laila. Apa kau ingat Laila, gadis berkulit eksotis yang menggunakan kacamata tebal? Ia diadopsi tiga bulan setelah kau diadopsi oleh seorang keluarga dokter yang tidak bisa memiliki keturunan karena istri dokter itu memiliki sakit diabetes. Dan sekarang Laila juga telah melanjutkan jejak ayah angkatnya, ia telah menjadi dokter kandungan di rumah sakit pusat Vegas.” cerita Olivia antusias. Apapun hal baik yang terjadi pada teman-temannya, Olivia tidak bisa tidak ikut merasa senang, meskipun jalan hidupnya sendiri dulu tidak semenyenangkan milik teman-temannya.


            “Maaf karena aku tidak bisa membantumu saat itu.”


            “Tidak masalah Geroge, lagipula setelah itu aku jusru bertemu Sian. Ia yang membantuku keluar dari semua masalah itu, dan ia juga memberikan satu kornea matanya saat dokter sudah tidak memiliki stok kornea lagi untukku. Bukankah aku sangat beruntung?” tanya Olivia dengan senyum manis yang terkembang di wajahnya. George menganggukan kepalanya mengiyakan dan ia merasa sangat beruntung karena Tuhan telah mempertemukannya dengan Olivia. Wanita ini membuatnya menjadi lebih mensyukuri apapun yang telah ia dapatkan hingga sejauh ini.


            “Ngomong-ngomong terimakasih untuk sarapannya.” George melirik piringnya yang telah kosong tanpa sisa. “Sangat enak. Kau koki yang hebat.”


            Olivia sedikit tersipu dengan pujian George yang terdengar terlalu berlebihan untuknya. “Itu bukan apa-apa. Mampirlah lagi ke rumahku jika kau ingin merasakan hasil masakanku yang lain. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu.”


            “Benarkah?” tanya George sambil mengulum senyum. “Kurasa suamimu yang pencemburu itu tidak akan mengijinkanku datang lagi ke sini.” ucap George tergelak yang disusul dengan tawa Olivia yang sama-sama merasa konyol saat membayangkan wajah cemburu Sian pada George.


-00-


            “Laporan pendanaan yang kau minta kemarin.”


            Sian meletakan kertas-kertas laporannya di atas meja Aciel dengan wajah ditekuk yang terlihat seperti bukan Sian. Aciel yang awalnya sedang menekuni berkas laporan penjualan merasa sedikit tergelitik dengan sikap Sian yang terlihat tidak seperti biasanya yang selalu berisik, dan kadang membuat kepalanya pening karena


celotehan-celotehan tak bergunanya.


            “Masih melakukan perang dingin?”


            Sian yang baru saja hendak melangkah keluar justru menaikan alisnya heran sambil menatap Aciel. “Kau tahu?”


            “Eden yang memberitahuku.” jawab Aciel mendongakan wajahnya. Berkas-berkas yang berserakan di depannya kini tidak lagi terlihat menarik di mata Aciel saat ia mulai tertarik pada permasalahan yang sedang dihadapi Sian hingga membuat pria itu menjadi kehilangan seluruh sikap penuh humornya.


            “Aku tidak akan menganggap sikapmu ini sebagai sesuatu yang kekanakan.” Aciel melihat Sian cukup tertarik dengan kalimatnya. “Aku sangat tahu bagaimana perasaanmu saat ini.” Aciel melanjutkan dengan senyum penuh kemenangan karena sekarang Sian tengah menarik salah satu kursi di depan meja kerjanya, dan pria itu mulai duduk di sana dengan wajah lesu yang terlihat menggelikan. Seumur hidup Aciel belum pernah ia melihat Sian sekacau ini hanya karena sebuah kecemburuan.


            “Rasanya aku ingin memukul wajah pria itu saat bertemu dengannya.”

__ADS_1


            “Well, sekarang kau tahu bagaimana buruknya rasa cemburu itu, Sian.” ucap Aciel terbahak-bahak. Jika dulu Sian sering mengolok-ngoloknya karena ia tidak berdaya saat kepergian Eden atau saat Eden pergi bersama hama-hamanya, maka sekarang Sian telah mendapatkan karma dari perbuatan menyebalkannya dulu.


            “Aku tidak tahu jika rasanya akan semengerikan ini. Kau tahu, hingga detik ini rasanya aku masih memikirkan wajah pria itu dan senyum bahagia Olive saat berbicara denganya. Olive seakan-akan lupa padaku dan memiliki dunianya sendiri.” gerutu Sian kesal. Sebenarnya ia ingin menghubungi Olive saat ini dan memastikan keadaan wanita itu setelah pagi tadi ia meninggalkannya begitu saja bersama George. Namun harga dirinya yang terlalu tinggi melarang Sian untuk melakukan semua itu. Ia lebih memilih menyiksa batinnya sendiri dengan membiarkan seluruh rasa penasarannya membumbung tinggi di otaknya daripada mengalah pada egonya yang setinggi langit.


            “Kusarankan padamu agar kau tidak mempertahankan idealismu saat ini. Segera berbaikanlah dengan Olive.”


            “Aku ingin, tapi aku selalu ragu saat akan melakukannya.”


            “Itu karena egomu terlalu tinggi.” Aciel terkekeh melihat wajah memelas Sian. Sebagai seorang teman ia telah memberikan nasihat yang benar-benar dibutuhkan oleh Sian saat ini.


Tok tok tok


            “Maaf, perwakilan tuan Dexter dari Texas sudah datang.”


            Aciel menganggukan kepalanya mengerti kearah sekretarisnya. Ia lalu melirik kearah Sian sambil melemparkan selembar tisu tepat kearah wajah pria itu. “Hapus air mata bodohmu sekarang juga, saatnya bekerja.” ucap Aciel menyebalkan. Sian langsung membuang tisu itu asal ke bawah kakinya, dan ia segera mengikuti


langkah Aciel yang telah terlebih dulu keluar dari ruangannya untuk menyambut perwakilan dari tuan Dexter.


            “Selamat pagi tuan Aciel Lutherford, namaku George, aku adalah putra angkat Dexter Smith yang hari ini akan mewakilkan ayahku karena ayahku sedang sakit, sehingga ia tidak bisa hadir untuk melakukan rapat sebelum perusahaan kita mencapai sebuah kesepakatan.”


            Sian langsung menatap tajam kearah George yang sedang menjabat tangan Aciel dengan senyum merekah di wajahnya. Untuk beberapa saat George belum menyadari keberadaan Sian di sana. Dan barulah ketika Aciel memperkenalkan Sian pada George, atensi pria itu sepenuhnya terarah pada Sian yang kini hanya menatapnya dengan tatapan datar.


            “Sian.” ucap Sian pendek. Sama sekali tidak ada niatan di hatinya untuk berbasa-basi terlalu jauh pada George karena kenyataannya pria itulah yang manjadi sumber kemarahannya hari ini.


-00-


            Enam puluh menit terasa sangat lama untuk Sian yang biasanya selalu betah saat mengikuti rapat berjam-jam dengan Aciel. Namun hari ini entah kenapa ia terus saja menunjukan gelagat tak tenang dengan terus menerus melirik jam tangannya dengan frustrasi. Beberapa kali Aciel memberikan dehaman pada Sian ketika pria itu mulai kehilangan fokus pada materi presentasi yang sedang dipaparkan oleh George karena gerak gerik pria itu terasa begitu mengganggu untuk Aciel.


            “Diamlah! Kau seperti cacing kepanasan sejak tadi.” bisik Aciel dengan suara rendah. Rasanya ia sudah terlalu gemas pada Sian yang tiba-tiba berubah aneh disaat mereka memiliki rapat yang begitu penting dengan George Smith.


            “Aku muak berada satu ruangan dengan bedebah itu.”


            “Kuharap kau tidak mencampuradukan masalah pribadimu dalam urusan pekerjaan, Sian.” peringat Aciel tajam. Meskipun Sian adalah sahabatnya sendiri, Aciel benar-benar tida suka jika pria itu ikut membawa serta urusan pribadinya ke dalam urusan pekerjaan yang notabenenya akan memiliki dampak yang begitu besar pada orang lain.


            “Kurasa kita bisa mengakhiri rapat sampai di sini. Aku sudah setuju dengan harga yang kalian ajukan, dan kami akan secepatnya mengirimkan gambar desain bangunan dari arsitek kami kepada anda, tuan Aciel.” George sejak tadi melihat gelagat tak tenang yang ditunjukan Sian di sebelah Aciel. Dan iapun dengan seluruh kesadaran yang ia miliki memutuskan untuk segera mengakhiri rapat mereka karena ia tidak mau membuat suami dari teman masa kecilnya itu menjadi semakin tidak nyaman dengan kegiatan rapat mereka hari ini.


            “Baik, terimakasih tuan George. Senang bekerjasama dengan anda.”


            Aciel mengakhiri rapat mereka dengan sebuah jabat tangan, dan senyuman singkat yang terlihat kaku dari wajahnya. Pria itu kemudian meminta ijin pada George untuk meninggalkan ruang rapat terlebih dahulu karena ia memiliki urusan lain yang harus ia selesaikan di ruangannya.


            Sementara Sian sedang membereskan berkas-berkas miliknya yang berserakan di atas meja, George tiba tiba berjalan mendekatinya dan memberikan senyuman tulus pada pria itu. “Bisa kita bicara sebentar?” tanya George tenang. Sedikit penjelasan pada Sian mungkin akan membuat pria itu menjadi lebih baik hari ini, pikir George yang masih setia menunggu jawaban Sian di tempatnya.


            Dengan desahan berat, Sian mengangguk dan memutuskan untuk kembali ke tempatnya agar ia dapat mendengarkan apapun yang ingin dikatakan oleh George kepadanya.


            “Jadi apa yang kau inginkan, George?” Sian menghilangkan formalitas diantara mereka begitu saja, dan memilih untuk memperlakukan George seperti seorang anak ingusan dengan usia yang terpaut cukup banyak darinya. Well, Sian ingin menunjukan pada George jika di sini dirinyalah yang berkuasa. Dan pria itu seharusnya menunjukan rasa hormatnya padanya.


            “Aku ingin meminta maaf jika kau merasa tidak nyaman dengan kedatanganku tadi pagi.”


            “Oh, itu bukan masalah besar. Santai saja, George.”


            “Yeah, sejujurnya aku ingin, tapi sepertinya kau tidak benar-benar santai, Sian.” balas George ringan. Ada nada geli di setiap kalimatnya saat ia membayangkan bagaimana wajah cemburu Sian pagi ini yang terlihat benar-benar menggelikan.


            “Kau tidak perlu berpura-pura lagi di depanku, kau cemburu padaku bukan?” ucap George tepat sasaran. Wajah pias Sian seketika berubah merah padam, karena baru saja dipermalukan oleh George.


            “Aku baik-baik saja.” elak Sian cepat. Saat ini kedua tangan Sian sedang terkepal di bawah meja, bersiap untuk memukul wajah menyebalkan George jika pria itu berani mempermalukannya sekali lagi.


            “Jangan membuat Olivia semakin sedih. Ia telah menceritakan sikapmu padaku. Dan kurasa aku ingin meminta maaf jika sikapku terlampau kurangajar karena telah mengusik ketenangan hidumu dan Olivia. Tapi sungguh, aku tidak memiliki niat apapun selain ingin kembali menjalin hubungan pertemanan dengan Olivia. Setelah mendengar semua ceritanya yang sangat menyedihkan di masa lalu, aku menjadi merasa bersalah padanya karena dulu aku tidak ada untuknya ketika ia membutuhkan bantuan. Dan sekarang aku ingin mengucapkan terimakasih karena kau telah mengorbankan banyak hal untuk kebahagiaan Olivia. Aku sangat bangga padamu.”


            Sian tertegun di tempatnya dan masih belum bisa mencerna kata-kata George yang terdengar cukup dewasa dibandingkan dirinya yang terlalu kekanakan untuk menyikapi semua hal yang terjadi padanya sejak kemarin. Kecemburuannya membuat ia menjadi tidak objektif dalam menilai George, padahal pria itu tidak pernah sekalipun memiliki perasaan lebih dari sekedar teman pada Olivia.


            “Aku sudah bertunangan.” George menunjukan cincin emas putih di jari manisnya. Dan pria itu terkekeh kecil saat melihat keterkejutan yang tercetak jelas dari wajah Sian. “Saat ini aku masih menunggu tunanganku untuk menyelesaikan pendidikan masternya dari Universitas Colombia.” tambah George santai yang berhasil membuat Sian semakin mati kutu karena jelas-jelas kecemburuannya kemarin sama sekali tidak beralasan.


            “Kalau begitu selamat untuk pertunanganmu.”


            Akhirnya tak ada lagi yang bisa dikatakan Sian selain memberikan sebuah selamat dengan nada kaku dan wajah semerah tomat karena terlalu tak memiliki muka di hadapan George. Ia telah menuduhkan sesuatu yang tidak benar pada istri dan juga pria baik hati di depannya. Setelah ini ia harus segera meminta maaf pada Olivia dan memperbaiki semua kesalahannya yang konyol ini.


            “Terimakasih. Kupastikan kalian akan mendapatkan undangan pernikahanku saat aku akan menikah dengan tunanganku nanti. Sampai jumpa dilain kesempatan, tuan Sian. Senang bekerjasama dengan anda.”


            Sian masih terpaku di tempatnya dengan wajah bodoh setelah George pergi meninggalkannya dengan senyum menyebalkan yang tercetak jelas di wajahnya. Sayangnya saat ini Sian sudah terlalu malu hanya untuk berhadapan dengan George, sehingga saat pria itu pergi dengan senyum yang menyiratkan ejekan, Sian hanya mampu membungkam bibirnya sambil memberikan tatapan nanar kearah pria itu.


            “Hey, aku dengar semuanya.” goda Aciel dari ujung pintu dengan tawa keras yang berhasil membuat Sian seketika tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


            “Sialan kau, Ace!”


__ADS_2