
Scout menutup presentasinya hari ini dengan wajah puas yang terlihat berbinar-binar. Ia seperti telah mendapatkan seluruh kepercayaan dirinya karena ia sangat yakin dengan desain yang ia tawarkan pada Aciel. Pria itu sejak tadi tidak menyela atau mengernyitkan dahinya seperti yang dilakukan dua hari yang lalu. Kali ini Aciel Lutherford terlihat lebih puas saat melihat hasil desainnya yang memukau. Bahkan menurutnya desainnya kali ini adalah yang terbaik diantara desain-desainnya yang dulu.
Setelah pulang dari rumah Sian, ia langsung mengambil kertas gambarnya dan terus menggambar hingga pukul tiga. Ia sama sekali tidak berhenti menggoreskan pensil itu ke atas kertas gambar miliknya sambil membayangkan wajah Olivia yang menari-nari di dalam kepalanya. Sekarang ia tahu, sumber dari seluruh kekuatannya ada pada Olivia. Jadi apapun caranya ia harus mendapatkan Olivia ke dalam genggamannya, meskipun itu harus menyakiti Sian sekalipun.
Scout tersenyum samar ke arah Sian yang terlihat tidak terlalu fokus siang ini. Entah bagaimana, Scout sadar jika Sian berkali-kali mengernyit dan menggelengkan kepalanya dengan gerakan aneh.
“Kemarin kita telah berbicara dengan mr. Adam selaku arsitek yang akan menangani pabrik itu. Dan sejauh ini ia menyukai apapun idemu. Jadi tanpa kehadirannya hari ini, kurasa mr. Adam akan tetap menyutujui desain baru yang kau ajukan hari ini, mr. Voyage.” ucap Aciel memecah keheningan diantara mereka bertiga. “Meskipun kau merubahnya secara total dari desainmu yang sebelumnya, aku pribadi lebih menyukai desainmu hari ini.”
“Terimakasih mr. Lutherford, aku menerima banyak masukan dari mr. Markle saat kunjunganku ke rumahnya kemarin malam.”
“Jadi kalian sudah semakin akrab sekarang? Itu bagus.” deham Aciel sambil melirik Sian yang tidak terlalu memperhatikan kata-katanya. Sejak kemarin ia melihat Sian terus melamun dan tidak fokus pada pekerjaannya. Setiap ia bertanya alasannya, pria itu lebih banyak berkelit dan melarikan diri dari introgasinya. Jelas Sian sedang menghadapi sesuatu yang sulit sekarang. Tapi menurut dugaannya, itu bukan terakait masalah Olivia dan Scout. Atau mungkin belum. Saat ini Sian belum mengetahui yang sebenarnya terjadi. Tapi secepatnya pria itu akan mengetahuinya.
“Bisa kita tutup pertemuan hari ini?”
“Oh tentu. Maaf karena kurasa aku sedikit tidak fokus hari ini.”
“Kau bisa pulang setelah ini, Sian. Aku tidak mau melihat pekerjaan yang kacau karena kau memiliki masalah.” ucap Aciel tenang, mencoba tidak terlihat seperti atasan jahat yang akan terkesan seperti menyudutkan Sian di hadapan Scout.
“Apa kau akan langsung kembali ke Miami, mr. Voyage?” tanya Aciel beralih pada Scout yang sedang membereskan kertas-kertas sketsanya yang berserakan.
“Aku menyewa apartemen di Vegas. Aku akan tinggal di sini selama proyek ini berlangsung.”
Aciel cukup terkejut dengan berita baru itu. Scout akan menetap di sini sampai proyeknya selesai. Padahal pembangunan pabriknya bisa selesai lebih dari lima bulan. Dan jika pria itu ada di sini, ia khawatir itu akan menjadi pertengkaran yang hebat antara Sian dan Scout.
“Kupikir kau tidak perlu memaksakan diri untuk tinggal berjauhan dari keluargamu. Aku tidak menuntutmu untuk selalu mengawasi proses pengerjaan pabrikku.” ucap Aciel masih tenang. Sesekali Aciel melirik Sian yang terlihat begitu gelisah di kursinya. Pria itu ingin cepat-cepat keluar, tapi ia harus menunggunya yang masih mengobrol dengan Scout.
“Kau bisa meninggalkan ruangan ini, Sian. Beristirahatlah di rumah.”
Setelah memberikan isyarat pamit, Sian segera melangkah keluar dari ruangan Aciel dan menutup pintunya pelan.
Sementara itu, Aciel kembali melanjutkan percakapannya dengan Scout yang tertunda. Kesempatan ini bisa digunakan Aciel untuk mengorek informasi pribadi Scout yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.
“Anda tidak perlu mengkhawatirkan itu, mr. Lutherford. Aku ini pria bebas yang lajang. Tidak ada keluarga sama sekali di Miami.”
“Karena alasan itu kau bebas pergi kemanapun?”
“Begitulah. Sejujurnya aku ingin memiliki keluarga yang manis seperti milik anda.”
Aciel mengernyit. Ini menarik. Ia tidak pernah mengira jika keluarganya terlihat sangat menakjubkan di luar sana hingga seseorang seperti Scout yang awalnya mungkin tidak pernah berpikir untuk memiliki keluarga, tiba-tiba memiliki pemikiran untuk memiliki istri dan anak-anak. “Kenapa kau ingin memiliki keluarga seperti milikku?”
“Keluargamu terlihat hebat. Aku sangat menunggu saat-saat aku bertekuk lutut pada satu wanita. Aku akan memberikan seluruh jiwa dan ragaku untuk wanita itu hingga aku tidak lagi memiliki alasan untuk melirik wanita lain.”
“Kau memerlukan proses yang panjang untuk itu.” komentar Aciel ringan. Pria itu tidak tahu apa yang ia lewatkan untuk mendapatkan Eden sejauh ini. Dan jika pria itu memang menginginkannya, maka bermain api dengan Olivia adalah cara yang harus ditempuh pria itu. Tapi tentu saja ia tidak pernah setuju jika kehidupan sahabat baiknya diusik oleh pria licik seperti Scout. Ia tidak segan-segan untuk mengeluarkan kekuasaannya jika suatu saat itu diperlukan untuk menolong keluarga Sian.
“Aku sering mendengar jika wanita-wanita Vegas itu mengagumkan, jadi aku ingin mencoba peruntunganku di sini.”
Tanpa sadar Aciel mengepalkan tangannya dibalik meja. Bukannya ia bodoh dengan tidak bisa menangkap maksud ucapan Scout. Pria itu telah beralih menjadi pria gila dan ingin merebut Olivia dari Sian setelah mencicipi tubuh Olivia untuk semalam.
“Hanya jika kau beruntung, mr. Voyage. Wanita Vegas terkadang juga tidak semudah kelihatannya.”
“Tapi aku cukup optimis untuk mendapatkannya. Terimakasih untuk tanggapan anda hari ini. Senang berbisnis dengan anda.”
Aciel menatap uluran tangan Scout beberapa detik sebelum akhirnya ia mengulurkan tangan untuk menjabatnya. Semoga hubungan bisnis ini tidak berubah menjadi perang saudara yang mengerikan, pikir Aciel muram.
-00-
“Selamat malam, dad.”
Olivia mematikan lampur tidur di sampingnya dan mengecup kening Sian lembut sebelum membenamkan diri ke dalam selimut. Rasanya hari ini ia telah melewatkan hal-hal sulit yang paling menguras emosinya sepanjang masa. Saat ia pulang diantar oleh Eden, ternyata Sian juga telah pulang dan akan masuk ke dalam rumah mereka.
Sambil mengernyitkan dahinya heran, Sian menatap ke arahnya, lalu ke arah Eden yang tampak terburu-buru karena memiliki janji temu dengan Laila. Tapi yang membuat Olivia menahan napasnya gugup adalah saat Sian memperhatikan perutnya intens untuk beberapa saat itu. Mereka tadi benar-benar hanya berdiri saling berhadapan di teras selama tiga menit sebelum akhirnya Sian berjalan mendekat dan memberinya kecupan lembut di pipinya. Sungguh, ia seperti hampir mati saat ditatap dengan begitu intens oleh Sian. Ia pikir Sian telah tahu dan pria itu mencoba mengamati bentuk perutnya yang belum membuncit dibalik kemeja longgar yang ia gunakan.
“Olive...”
“Hmm...” sambil tetap memunggungi Sian, Olivia bergumam pelan dan menunggu suaminya mengatakan sesuatu padanya. Kantuk yang tadi sempat menggelayuti matanya, menjadi hilang seketika saat Sian dengan gerakan yang tak terduga telah memeluk tubuhnya erat dan menempatkan telapak tangannya di atas perutnya yang masih datar."
“Apa kau tersiksa dengan keadaanku?”
“Tidak.” balas Olivia tegang. Usapan lembut di perutnya membuat seluruh otot perut Olivia menegang dan terasa sakit. Usapan itu membangkitkan kegugupan Olivia, sehingga sekarang ia merasakan kesakitan yang luar biasa karena otot perutnya yang menegang.
“Kau telah berkompromi terlalu banyak sejak kita menikah. Terkadang aku merasa bersalah padamu.”
“Jangan berpikiran seperti itu.” sangkal Olivia cepat. Ingin rasanya ia melepaskan diri dari dekapan Sian dan elusannya yang semakin membuat perutnya nyeri. Ia pernah membaca buku kehamilan, jika seorang wanita terlalu tegang, itu bisa memicu kontraksi pada otot-otot rahimnya juga. Dan sekarang ia seperti merasakan gejala otot rahimnya yang sedang berkontraksi karena perlahan-lahan perut bagian bawahnya seperti sedang diremas kuat oleh sesuatu yang tak kasat mata. Tapi ia tidak boleh membiarkan Sian curiga pada kondisinya. Ia harus membuat Sian segera mengakhiri percakapan ini dan membiarkannya rileks untuk beberapa saat.
“Tidurlah, ini sudah malam.”
__ADS_1
“Olive, apa kau ingin memiliki bayi lagi?”
Olivia semakin tidak bisa meredakan ketegangan yang terlanjur menjalar di seluruh tubuhnya. Pertanyaan Sian, itu memicu ketegangan yang semakin parah hingga tanpa sadar Olivia telah merintih karena perutnya semakin sakit.
“Kurasa itu bukan ide yang buruk.” balas Olivia parau. Ia sungguh ingin menangis sekarang karena rasa sakit yang menderanya.
Di sisi lain Sian merasa jika istrinya sedang menyembunyikan sesuatu. Menyadari keanehan istrinya, Sian segera bangkit dan menyalakan lampu tidur di sebelahnya untuk mengecek keadaan Olivia yang hanya terdiam kaku di sebelahnya.
“Olive, ada apa denganmu.”
“Aa aku tidak apa-apa.”
“Kau yakin?”
Olivia mengangguk kaku sambil berusaha menyembunyikan wajahnya dari Sian. Ia takut pria itu menyadari ekspresi kesakitannya dan juga air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya karena ia begitu tersiksa dengan remasan-remasan menyakitkan di perut bagian bawahnya.
“Olive, kenapa basah?”
Sian merasakan kakinya menyentuh sesuatu yang basah di dekat kaki istrinya. Ia lalu kembali menyalakan lampu tidurnya dan cepat-cepat menyingkap selimut putih yang telah membenamkan tubuh mungil Olivia sepenuhnya.
“Darah!” pekik Sian kaget. Secepat kilat ia membalik wajah istrinya dan menemukan wajah cantik itu terlihat pucat seperti mayat. Tanpa menunggu apapun lagi, Sian segera bergerak cepat dengan mengangkat tubuh Olivia menuju mobil.
“Aa aku tidak apa-apa.” ucap Olivia parau. Tapi Sian sama sekali tak mempedulikannya dan segera memasukan Olivia ke dalam mobil tanpa kata. Saat ini ia ketakutan. Ingatan saat ia membawa Eden ke rumah sakit membuat Sian benar-benar cemas pada kondisi istrinya. Apalagi Olivia terlihat sangat mirip dengan Eden yang saat itu juga mengeluarkan darah yang banyak karena terjadi pendarahan di rahimnya,
Rahim.... Sian seketika teringat pada testpack yang ia temukan di laci lemari Olivia. Dengan kaku, Sian melirik Olivia sebentar yang saat ini sedang menahan sakit di kursi penumpang. Wajah wanita itu pucat dan dihiasi peluh yang sangat banyak di keningnya. Sian lalu meneguk ludahnya kasar. Istrinya memang sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Jika Olivia baik-baik saja, ia tidak mungkin tiba-tiba akan mengalami pendarahan. Dan jika Olivia tidak sedang mengandung, ia tidak mungkin menyembunyikan dua testpack dengan hasil positif di laci lemarinya. Sian rasanya benar-benar takut membayangkan semua hal yang saat ini tengah
berjejalan masuk ke dalam otaknya. Prasangka itu... Ia berharap semuanya tidak pernah terjadi. Ia berharap semoga Olivia hanya sedang mengalami gangguan siklus menstruasi, dan bukan sedang mengalami keguguran karena hamil.
“Istriku mengalami pendarahan!”
Sian berteriak panik begitu tiba di rumah sakit pusat Vegas. Kebetulan saat ia berlari masuk ke dalam loby, Sian berpapasan dengan Nathan yang baru saja akan pulang. Wajah lelah Nathan berubah menjadi wajah terkejut saat mendapati temannya sedang berlari-lari panik sambil menggendong istrinya yang mengalami pendarahan.
“Ada apa?”
“Tolong selamatkan Olivia, dia kesakitan dan mengalami pendarahan.”
“Cepat bawa ke UGD, aku akan memeriksanya segera.”
Di tengah kepanikan yang sedang melanda Sian, Olivia justru menangis dalam diam sambil menatap wajah panik suaminya yang terlihat kacau. Sebentar lagi semua rahasianya akan terbongkar. Dan sebentar lagi ia akan menghadapi neraka rumah tangga yang sesungguhnya.
-00-
Kesunyian itu melingkupi ruang gawat darurat saat Olivia membuka matanya dan melihat Nathan sedang memasang infus di punggung tangannya.
“Kau kuat.”
“Aku tahu.” jawab Olivia lirih. Dadanya sedang bergemuruh ribut sekarang, terasa seperti akan lepas dari rongganya seiring dengan pikiran Olivia mengenai reaksi Sian setelah ini.
“Kau akan dipindahkan ke ruang perawatan setelah ini.”
“Tunggu!” Olivia langsung mencekal pergelangan tangan Nathan ketika pria itu hampir menutup tirai di sampingnya dan akan berjalan keluar. “Jangan beritahu apapun pada Sian.”
“Kau pasti bercanda.” balas Nathan mencoba melucu. Ia sedang tersenyum-senyum aneh menggoda Olivia, namun sedetik kemudian ia sadar jika Olivia tidak sedang dalam mode bercanda. “Kau hamil, dan Sian tidak boleh tahu?”
“Aku yang akan mengatakannya setelah dipindahkan ke ruang perawatan.”
“Kau yakin?” tanya Nathan sangsi. Sama sekali ia tidak melihat raut bahagia di mata Olivia. Justru wajah tertekan yang terpampang jelas di depannya dengan bekas-bekas air mata yang yang terlihat samar di sepanjang pipi mulus Olivia.
“Sangat yakin.”
“Lalu aku harus mengatakan apa pada Sian?” tanya Nathan bodoh. Olivia melemparkan tatapan tajamnya ke arah Nathan.
“Katakan apapun yang bisa kau katakan selain topik tentang kehamilanku.”
“Kau galak. Ada apa denganmu, Olive?” Tangan Nathan terangkat untuk membelai rambut Olivia pelan. Hubungan mereka berdua telah seperti sepasang kakak dan adik. Sejak pertama berkenalan dengan Olivia, Nathan menaruh simpati yang besar pada kegigihan Olivia. Dan saat ia melihat Olivia akhirnya menemukan pria yang tepat untuknya, ia sangat senang. Ia berkali-kali mengecup pipi Olivia saat wanita itu memberitahunya jika ia akan menikah dengan seorang pria baik hati yang telah mendonorkan satu matanya untuknya. Sungguh itu adalah berita paling membahagiakan yang pernah didengar Nathan selain tentang berita kelahiran anaknya. Dulu ia pikir Olivia akan hidup sendiri seumur hidupnya tanpa ada seorang pun pria yang meliriknya karena ia buta. Tapi syukurlah Sian bukan pria yang seperti itu. Sian lebih dari mampu untuk melihat kebaikan yang tersembunyi dibalik kecacatan yang dimiliki oleh Olivia.
“Aku memiliki masalah dengan Sian.”
“Seserius apa?”
“Sangat serius.”
“Ia tidak memperbolehkanmu hamil?”
“Bukan.”
__ADS_1
“Lalu apa?” tanya Nathan mulai gusar saat melihat Olivia yang sejak tadi menunjukan wajah datar dengan jawaban yang terlalu dingin.
“Aku tidak yakin kau akan percaya jika aku menceritakannya padamu.”
“Aku memang tidak percaya padamu. Aku percaya pada Tuhan.” tambah Nathan menyebalkan. “Pembicaraan ini benar-benar membuatku jengkel.” erang Nathan dengan wajah kesal. Ia mengacak rambutnya kasar di hadapan Olivia, lalu ia segera menjauh dari Olivia untuk meminta perawat memindahkan Olivia ke kamar rawat.
“Beritahu aku jika kau sudah siap.”
“Terimakasih.”
“Sama-sama.”
Sepeninggal Nathan, Olivia memilih untuk memiringkan tubuhnya ke kanan. Dalam keheningan yang melingkupinya, Olivia menatap tembok putih di depannya dalam diam, lalu ia memejamkan matanya sedih dan kembali menangis. Setelah ini Sian pasti akan membencinya. Hal itulah yang terus menari-nari di benak Olivia yang rapuh. Ia masih belum siap untuk mengakui semuanya. Ia merasa sakit membayangkan Sian yang nanti akan menatapnya dengan sorot kekecewaan karena telah berlaku ceroboh hingga menghasilkan sebuah kehidupan di perutnya.
Tanpa sadar Olivia mencengkeram perutnya sendiri dan menggeram marah. Ia membenci bayi itu! Ia ingin bayi itu mati saat ini juga! Dengan perasaan marah, Olivia terus mencengkeram perutnya kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Tak ia pedulikan rasa sakit yang semakin mendera perutnya karena desakan dari tangannya sendiri yang begitu berambisi untuk membunuh bayi itu.
“Apa yang kau lakukan, Olive?”
Olivia tersentak kaget dengan suara itu. Dengan gemetar ia melepaskan tangannya dari perutnya dan meletakan tangan itu di samping tangannya yang lain, yang sedang menekuk di dekat kepala. Punggungnya saat ini terasa panas membara akibat tatapan Sian yang dapat ia rasakan meskipun saat ini ia tengah membelakangi pria itu. Lalu helaan napas Sian yang kasar terdengar berhembus berkali-kali di belakangnya. Tanpa Nathan menjelaskanpun, Sian pasti sudah tahu. Ia bukan pria kemarin sore yang bodoh, yang tidak bisa melihat tanda-tanda seorang wanita yang sedang mengandung.
“Sudah sejak kapan?”
Olivia memejamkan matanya berat, lalu membuka lagi dengan perasaan sedih. “Apa?” jawab Olivia parau.
“Kau menyembunyikan ini dariku? Sudah berapa lama?”
Olivia dapat mendengar getar kemarahan dari nada suara Sian yang mengalun berbahaya di belakangnya. Maka dari itu ia tidak mau berbalik. Ia takut melihat kemarahan Sian yang mengerikan.
“Bisa kau jelaskan padaku kenapa kau menyembunyikan ini dariku?”
Sian melemparkan dua buah testpack ke arah Olivia yang masih membelakangi. Sikapnya yang kasar itu membuat Olivia semakin takut menghadapi Sian. Tapi kemudian ia mulai membesarkan hatinya jika semua ini memang harus dihadapi. Ini resiko yang harus ia terima dari semua kecerobohannya.
“Maaf.”
“Aku tidak butuh kata-kata maafmu.”
Saat Olivia berbalik, wajah Sian tampak begitu kacau dan berantakan. Ada bercak darah di beberapa sisi piyamanya yang telah kusut di sana sini. Lalu rambutnya yang biasanya tersisir rapi, kini terlihat sangat berantakan dengan sisa-sisa gurat kepanikan yang juga masih tercetak jelas di wajah Sian. Pria itu mengkhawatirkannya. Tapi kemudian ia harus menelan pil pahit karena istrinya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
“Aku ingin tahu yang sebenarnya. Kenapa kau bisa hamil, padahal.... padahal....” Sian tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Pria itu justru menangis di hadapan Olivia yang kini terasa begitu sakit melihat kesedihan yang tercetak jelas di wajah Sian.
“Maafkan aku, Sian. Aku tidak bermaksud mengkhianatimu.”
“Lalu ini apa? Kau pergi mencari kehangatan dari pria lain karena aku tidak bisa memberikannya padamu, begitu kan!” bentak Sian keras. Olivia hanya mampu menutup matanya rapat. Ia sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana tanggapan dokter dan perawat yang sedang berjaga di meja depan. Mereka pasti dapat mendengar pertengkaran mereka dengan jelas.
“Aku bisa jelaskan. Aku tidak semurahan itu, Sian.” cicit Olivia sambil menahan isak tangis yang hampir tumpah.
“Tapi semua ini justru membuktikan betapa murahannya dirimu, Olive.” desis Sian berbahaya bak ular. Pria itu seperti akan memuntahkan lahar panas seperti gunung berapi yang meletus. Rasa marah, sedih, dan terakhianati, semuanya bercampur menjadi satu di dadanya. Ia pikir istrinya adalah wanita polos lugu yang tidak mungkin akan mengkhianatinya, tapi ternyata ia salah. Ia tak benar-benar mengenal istrinya dengan baik selama ini.
“Pelankan suaramu, Sian. Mereka bisa mendengar suara teriakanmu.” peringat Olivia penuh nada memohon.
“Persetan dengan mereka. Cepat jelaskan padaku, ******!”
Olivia merasakan air matanya meleleh saat Sian menghinanya dengan begitu kasar. Tapi ia sendiri tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan harga dirinya yang sudah terlanjur koyak karena kecerobohannya di masa lalu. “Ini kecelakaan. Aku tidak sengaja tidur dengan pria lain saat sedang mabuk.”
“Bohong! Kau pasti melakukannya saat aku pergi ke kantor. Dan kau tidak pernah meminum alkohol.”
“Pernah!” jawab Olivia jengkel. Kemarahan juga mulai menyulut hatinya, dan sekarang ia menjadi lebih sinis pada Sian. “Aku pernah mabuk secara tak sengaja di Miami, apa kau ingat? Pesta perusahaan?” pancing Olivia dengan napas memburu. Ia ingin Sian mengingat peristiwa itu lagi, lalu menyadari kebohongan yang dulu pernah ia gunakan untuk mengelabuhi pria itu.
“Malam itu kau menghilang, dan aku mencarimu ke mana-mana hingga aku lelah dan tertidur di kamar. Kau bilang kau tertidur di ruang sauna. Kau bohong padaku? Kau ternyata pergi bersenang-senang dengan pria lain saat aku sedang sibuk mengkhawatirkanmu.” tuduh Sian murka.
Olivia tidak tahu jika alasan konyolnya itu sekarang justru berbalik untuk menyerangnya. Ia pikir janin ini tidak akan tumbuh, jadi ia sengaja mengarang cerita mengenai kebodohannya di hadapan Sian keesokan paginya setelah ia berhasil kabur dari pelukan pria menjijikan itu. Andai ia tahu semuanya akan berjalan buruk, ia tidak akan berani mengataan kebohongan pada Sian. Sebisa mungkin ia akan berterus terang pada Sian dan membuat pria itu percaya padanya jika ia bukan wanita nakal. Ia adalah wanita polos yang telah dijebak oleh pria licik bernama Scout Voyage.
“Aku mabuk dan dijebak hingga aku tidak sadar dengan apa yang kulakukan.”
“Dan kau tidak berkata jujur padaku.” marah Sian dengan suara menggelegar. “Kau pasti sering bermain api juga di belakangku ketika aku tidak di rumah? Huh, dasar ******! Kau telah menipu kami semua dengan wajah polosmu yang memuakan itu.”
“Aku tidak pernah ingin menipu kalian.” balas Olivia membela diri. Ia tidak tahan dengan semua hinaan yang terus dilayangkan Sian padanya karena pria itu emosi. “Aku dijebak oleh Sc...” Olivia refleks menghentikan kalimatnya dan berubah panik saat Sian menatapnya tajam.
“Siapa? Siapa yang telah menjebakmu?”
“Aku tidak tahu. Aku tidak ingat.”
“Huh, bohong! Jika kau tidak ingin memberitahunya, aku yang akan mencarinya sendiri. Akan kutanyakan pada pria itu, apakah kau benar dijebak olehnya atau kau memang mengumpankan tubuhmu padanya dengan suka rela.” ucap Sian yang terakhir sebelum ia pergi meninggalkan Olivia sendiri dengan isak tangis yang memilukan.
Di tengah-tengah kesunyian ruangan itu, Olivia menggigil sendiri sambil memeluk tubuhnya pilu. Malam ini ia telah mendapatkan amukan dari Sian. Lalu besok? Ia pasti masih akan mendapatkan tatapan sinis dari orang-orang terdekatnya. Nathan, Laila, Jessica... mereka semua pasti akan membencinya setelah ini.
__ADS_1
“Maafkan aku, Sian. Maafkan aku.”