Black Swan

Black Swan
Love You To Death (Sixty)


__ADS_3

        Eden membuka matanya penuh waspada ketika tiba-tiba ia merasakan sisi ranjangnya meringsek. Dengan gerakan cepat ia segera membalik tubuhnya yang semula membelakangi pintu kamarnya untuk melihat siapa yang telah masuk ke dalam kamarnya tanpa ijin.


            “Apa yang kau lakukan di sini?”


            Kalimat pertanyaan dengan nada sinis langsung terlontar begitu saja dari bibir Eden ketika ia menemukan Aciel telah berada di sampingnya dengan piama biru dongker yang membalut tubuh tegapnya.


            “Tidur.” jawab Aciel singkat. Pertengkaran yang terjadi tadi siang masih menyisakan rongga kekesalan di hati Aciel, sehingga pria itu sejak tadi terus bersikap dingin pada Eden dan membuat Eden juga sama dongkolnya dengan dirinya karena terus mendapatkan perlakuan dingin dari Aciel.


            “Kau tidak tidur di kamarmu sendiri?”


            “Kau pikir ini kamar siapa? Lagipula kita sudah menikah, jadi aku berhak tidur di sini. Sekarang tidurlah.”


            Dengan gerakan cepat Aciel langsung memeluk Eden dan memaksa tubuh Eden untuk berada di dalam dekapannya. Sementara itu Eden terlihat tidak nyaman dan berusaha untuk keluar dari kungkungan tangan Aciel yang begitu erat memeluk tubuhnya.


            “Lepaskan! Aku harus mengecek Louise karena biasanya ia akan membutuhkan ASI di jam-jam seperti ini.” pekik Eden gusar sambil terus meronta-ronta. Aciel yang sejak awal masih jengkel dengan sikap Eden padanya justru semakin mempererat pelukannya agar istrinya itu tidak bisa pergi kemanapun. Namun tanpa diduga Eden justru kembali berbuat nekat dengan menggigit lengannya dan membuatnya mengerang kesakitan.


            “Arghhh!! Apa kau tidak bisa sedikit saja bersikap lembut padaku, hah? Aku tahu kau hanya beralasan soal Louise karena sekarang dia masih tidur dengan nyenyak di dalam box bayinya.” marah Aciel sambil melirik kesal kearah istrinya. Eden yang melihat itu sedikit ketakutan dan langsung beringsut mundur tanpa sadar. Ia


pikir gigitannya tidak terlalu keras, namun melihat amarah Aciel yang cukup mengerikan membuatnya sadar jika ia memang sudah keterlaluan.


            “Kkau, kau yang membuatku harus melakukan hal itu.” gagap Eden dengan wajah yang dibuat setenang mungkin. Aciel yang menyadari adanya gurat-gurat ketakutan di wajah Eden menggunakan kesempatan itu untuk mengintimidasi Eden. Istrinya itu memang harus dipaksa dan diberi pelajaran agar lebih menghargai suaminya yang selama ini sudah berbaik hati memberikn segalanya untuk kehidupannya.


            “Aku tidak suka kau terlalu akrab dengan Sian. Kau seharusnya lebih memperhatikanku, bukan memperhatikan pria lain atau memikirkan pria lain.”


            “Apa? Bisa kau ulangi lagi?” tanya Eden menyebalkan. Aciel mendengus gusar dan melepaskan dekapan tangannya dari tubuh Eden.


            “Ini akan menurunkan harga diriku, tapi aku akan jujur padamu. Dan kuharap kau menghargai kejujuranku karena ini benar-benar tidak mudah.”


            Eden menatap Aciel tidak sabar dari balik bulu mata lentiknya. Rasanya ia tidak sabar untuk mendengar pengakuan jujur dari Aciel. Dan ini cuku mengejutkan untuknya.


            “Apa? Kenapa tiba-tiba sekali?”


            “Karena aku tidak ingin terus menerus seperti ini. Sebelum aku kembali bekerja, aku harus bisa mengubah sifatmu secepatnya. Lagipula aku juga tidak yakin ingatanmu akan cepat kembali, jadi aku harus secepatnya mengambil tindakan.”


            Eden mengernyit. Lagi-lagi Aciel bersikap aneh di depannya. Apa yang dikatakan Sian memang benar, Aciel terlalu takut kehilangannya hingga pria itu sering berpikiran jauh jika ia akan meninggalkannya. Padahal ia tidak akan pergi kemanapun, ia hanya belum terbiasa berdekatan dengan pria itu.


            “Aku tidak akan meninggalkanmu atau melarikan diri dengan pria lain, jadi kau tidak perlu khawatir. Yang kubutuhkan saat ini adalah beradaptasi. Aku harus melakukannya perlahan-lahan, dan kuminta kau juga jangan terlalu memaksaku karena aku tidak bisa menerima semua ini secara instan. Apa kau tahu bagaimana perasaanku beberapa minggu ini? Aku kalut, dan aku juga bingung dengan diriku sendiri. Hatiku....”


            Eden menggantungkan kalimatnya dan seakan-akan tidak mampu untuk melanjutkannya lagi. Tapi Aciel meyakinkannya dengan memberikan kecupan lembut di dahinya.


            “Katakan, sepertinya kita harus memulainya dari awal. Dan aku akan berusaha bersikap lembut padamu.” janji Aciel sungguh-sungguh.


            “Hatiku berdebar saat berada di dekatmu. Tapi disaat bersamaan otakku memutar kejadian-kejadian di masa lalu ketika kau mengurungku di kamar, mempermainkan perasaanku, dan melecehkanku. Lalu kau menyentuhku dengan kasar. Jika kau menjadi diriku, kira-kira bagaimana perasaanmu? Meskipun semua bukti mengatakan jika itu adalah kejadian empat atau lima tahun yang lalu, tapi tetap saja aku belum bisa menerima semua perlakuan burukmu di masa lalu yang masih tertinggal di otakku.”


            “Ya, dulu aku memang sangat kasar padamu. Maaf.”


            Satu kalimat lirih sarat akan keputusasaan itu membuat Eden tertegun. Ia tak menyangka jika Aciel ternyata sama frustrasinya dengan dirinya.


            “Aku bukan pria baik-baik Eden. Sejak ibuku meninggal, aku berubah menjadi pria brengsek yang sangat buruk. Dan jika aku tidak memaksamu, kau pasti tidak akan mau menerimaku. Katakan padaku, apa yang harus kulakukan agar kau mencintaiku dan berjanji akan terus berada di sampingku?”


            Aciel menatap manik madu Eden lekat tanpa mengijinkan Eden untuk mengalihkan padangannya ke arah lain. Pria itu ingin Eden mengatakan hal yang sejujur-jujurnya padanya karena ia tidak ingin ada pertengkaran lagi diantara. Lagipula ia merasa kasihan pada Ciara dan Louise. Sebagai seorang ayah ia tidak akan membiarkan Ciara dan Louise menjadi korban dari keegoisan kedua orangtuanya.


            “Aaakuu... tidak tahu. Kurasa aku sudah mencintaimu, hanya aku belum terbiasa dengan ini semua. Jadi kau tidak perlu melakukan apapun lagi  Ace. Aku bisa merasakan rasa cintamu yang besar padaku. Bahkan aku bisa melihat bagaimana bahagianya aku selama ini hidup bersamamu dari foto-foto atau video pernikahan kita.”


            Eden tersipu malu di akhir kalimatnya dengan suara tercekat. Rasanya memang aneh saat ia akhirnya bisa mengatakan sedikit perasaannya pada Aciel. Tapi semoga saja Aciel mau menghargai usahanya itu.


            “Itu lebih baik. Setidaknya itu lebih menghiburku daripada umpatan kasar yang sangat tidak pantas untuk diucapkan. Apalagi oleh seorang ibu sepertimu.” sindir Aciel tajam. Eden mendelik kesal pada Aciel karena pria itu tetap saja tidak bisa menghilangkan sikap sakarstiknya yang menyebalkan.


            “Baiklah, mulai sekarang aku akan berusaha membiasakan diri dengan kehidupanmu. Lalu, apa yang ingin kau katakan padaku?”


            “Aku merindukanmu.”


            “Hanya itu?” tanya Eden tak percaya. Ia pikir Aciel akan mengatakan suatu hal penting padanya. Pria itu benar-benar licik, ia sengaja menunjukan sisi rapuhnya untuk menarik simpati darinya. Dan setelah ia masuk ke dalam perangkapnya, pria itu kembali bersikap menyebalkan seperti biasanya.


            “Dan ingin menciummu.”

__ADS_1


            “Apa dipikiranmu hanya ada hal-hal kotor seperti itu? Kembalilah ke kamar perawatanmu, aku tidak mau mengambil risiko yang buruk jika kau di sini.”


            Eden mendorong-dorong tubuh Aciel agar menyingkir dari ranjangnya. Setelah itu ia berbalik untuk memunggungi Aciel agar pria itu tidak bisa mencuri ciuman darinya seperti dulu. Tapi tentu saja Aciel lebih lihai daripada Eden. Tanpa persetujuan dari Edenpun, ia bisa memaksa Eden untuk memuaskannya malam ini.


            “Aku tidak perlu persetujuan darimu Eden, karena kau adalah milikku.”


            Aciel menarik pundak Eden dan mengurung tubuh wanita itu di bawah kuasanya. Sekarang ia tidak perlu terlalu khawatir jika Eden akan menyerang punggungnya seperti dulu karena ia sudah sembuh. Luka jahitannya telah menutup sempurna, sehingga ia tidak takut lagi pada serangan Eden yang ganas.


            “Yakk!! Kubilang pergi atau aku akan merobek luka jahitanmu lagi.” gertak Eden galak. Namun dibalik sorot matanya yang galak, Eden sedang menyembunyikan ketakutan yang cukup besar.


            “Kau tahu, aku justru semakin bergairah ketika kau marah. Apa kau ingin melihatnya?”


            “Mmme melihat apa?” tanya Eden polos. Sungguh, Aciel rasanya ingin tertawa melihat Edennya yang tampak bodoh di bawahnya. Tapi ia tidak ingin tertawa sekarang, ia hanya ingin mempermainkan Eden untuk menyenangkan hatinya yang uring-uringan sejak tadi.


            “Kau pikir apa? Aku tidak yakin kau tidak tahu.”


            “Aku benar-benar tidak tahu dan tidak mengerti maksud ucapanmu. Sekarang minggir! Aku ingin tidur.”


            Eden lagi-lagi mendorong tubuh Aciel dari atasnya. Tapi Aciel justru menarik tangan itu dan menguncinya di atas kepala.


            “Kau ingin melihat bukti gairahku, hmm?”


            “Akhhh lepaskan! Dasar mesum sialan! Aku menyesal telah menunjukan sikap lunakku di depanmu! Pergi!”


            Eden meronta-ronta sekuat tenaga dengan tangan yang masih terkunci di atas kepalanya. Ia tidak mau berakhir seperti dulu yang pada akhirnya terkapar tak berdaya ketika Aciel berhasil membangunkan gairahnya yang merepotkan.


            “Ssshhhh! Kau akan membangunkan orang-orang sayang. Kau tidak ingin Ciara terganggu dengan suaramu bukan? Lebih baik kau simpan suaramu untuk mendesahkan namaku, hmm?”


            “Kyaaaaa dasar kau menjijikan! Per.... mmmphhhh... kyaaa!! Mmmphhh....”


            Aciel menekan tengkuk Eden dengan tangannya karena ia terlalu gusar dengan teriakan Eden yang berisik. Lagipula apa salahnya jika ia menyentuh Eden, dia istrinya. Apa Eden mau jika ia melampiaskannya pada wanita lain?


            “Kau terlalu berisik sayang, kau bisa membangunkan seisi rumah ini dengan suaramu yang cempreng itu.”


            Eden terengah-engah di bawah tubuh Aciel dengan bibir terbuka yang terlihat sangat merah. Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja berlari maraton, padahal Aciel hanya menciumnya sebentar.


            “Itu karena kau terlalu berisik. Aku akan bermain lembut jika kau diam dan tidak banyak berteriak.”


            “Aku tidak mau! Aku belum siap.”


            “Terserah, aku tidak perlu menunggumu hingga kau siap. Bahkan jika aku memberimu waktu selama satu tahun pun kau juga tidak akan pernah siap. Aku ingin melakukannya sekarang Eden.” geram Aciel dengan suara tertahan. Eden meneguk ludahnya gugup. Rasanya sekarang ia mampu mendengar suara detak jantungnya sendiri yang berisik karena tatapan Aciel yang mengintimidasinya.


            “Aku janji, kau tidak akan pernah menyesal melakukan hal ini denganku.”


            Eden kemudian memejamkan matanya rapat-rapat ketika Aciel kembali mencium bibirnya dengan rakus. Namun kali ini ciuman Aciel sedikit lebih lembut dan tidak terlalu memaksa seperti sebelumnya. Dan pada akhirnya Eden berusaha mengontrol dirinya agar ia tak terlalu jijik dengan dirinya sendiri karena sekarang ia merasa seperti seorang ******, meskipun sebenarnya Aciel adalah suaminya sendiri.


-00-


            Eden menggeliat tidak nyaman ketika ia merasakan udara panas yang menggelitik telinganya. Wanita itu merubah posisi tidurnya ke arah kanan sambil memeluk gulingnya erat-erat dengan nyaman. Namun tak berapa lama ia merasakan sesuatu yang hangat menjalar di atas kulit punggungnya yang dingin, membuatnya gusar dan akhirnya ia berbalik untuk menghentikan aksi mengganggu Aciel yang telah mengusik tidur nyenyaknya yang nyaman.


            “Bisakah kau diam dan tidak menggangguku, aku lelah.” erang Eden kesal di depan wajah Aciel. Wanita itu memejamkan matanya lagi untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda, namun Aciel justru mengganggunya dengan kecupan-kecupan ringan di area sensitifnya.


            “Tuan Aciel yang terhormat bisakah kau memberiku waktu istirahat. Kau terus melakukannya berkali-kali hingga tubuhku sakit. Aku bisa mati jika kau melakukannya sekali lagi.” desah Eden frustrasi. Semalam Aciel begitu bersemangat hingga pria itu tak mengijinkannya sedetikpun untuk memejamkan mata. Bahkan ia merasa takjub pada stamina Aciel yang seperti tak ada habisnya itu.


            “Aku berpikir untuk memberikan Ciara dan Louise adik lagi.”


            “APA!!” teriak Eden terkejut dengan rencana gila Aciel.


            “Kau tahu aku baru saja melahirkan, mengalami kecelakaan dan sedang amnesia. Kau seharusnya memahami jika fisikku lemah. Apalagi usia Louise belum lebih dari dua bulan. Kau gila!” gerutu Eden kesal. Namun Aciel justru bersikap sebaliknya dengan tersenyum manis pada Eden dan mengecup hidung Eden.


            “Aku mengapresiasi sikapmu semalam yang bersedia untuk mengimbangi permainanku yang gila. Siang ini kita ke kantor polisi, kau ingin aku memproses hukuman untuk Anthony bukan?”


            Eden menatap Aciel tak percaya sambil mencari celah-celah kebohongan di mata pria itu. Namun sialnya pria itu saat ini sedang bersungguh-sungguh hingga rasanya ia ingin menangis karena kebaikan pria itu.


           “Kau benar-benar akan melakukannya?”

__ADS_1


            “Kau bisa pegang kata-kataku. Dan ini bukan berarti kau bisa kembali lagi pada Anthony, setelah ini kau tidak boleh lagi bertemu dengannya. Aku hanya sebatas mempermudah proses hukumannya, aku tidak akan memberikan hukuman mati padanya. Jadi jangan menuntut terlalu banyak padaku.” peringat Aciel dingin. Eden yang sebelumnya terlihat berkaca-kaca dan tersenyum sumringah, kini kembali cemberut karena ucapan Aciel yang benar-benar menyebalkan.


            “Kenapa aku tidak boleh bertemu dengannya? Dia keka... temanku.” ralat Eden. Aciel terlihat semakin muram dengan aksi protes Eden. Padahal sebelumnya mood pria itu sangat bagus dan juga cerah.


            “Aku sudah berbaik hati padamu Eden, jadi jangan banyak membantah atau aku akan


langsung memberikan Anthony hukuman mati. Kau tahu bukan jika aku memiliki banyak relasi orang-orang pengadilan dan juga pembunuh bayaran?”


            Eden bergidik ngeri dengan gaya bicara Aciel yang sangat dingin, namun sarat akan ancaman itu. Lebih baik ia memang mengikuti permintaan pria itu dan melakukan gencatan senjata nanti. Saat mood pria itu sudah membaik.


            “Baiklah, aku tidak akan bertemu dengan Anthony. Tapi kau juga harus berjanji untuk tidak menyakitinya.”


            “Itu tergantung dirimu, jika kau bersikap baik dan tidak membantah, maka aku tidak akan menyakitinya. Tapi jika kau membantahku sekali saja, kau akan lihat keparat itu mati di depanmu.” ancam Aciel sungguh-sungguh. Eden mengerutkan keningnya gusar dan memilih untuk memunggungi Aciel. Rasanya ia ingin berteriak pada pria itu karena sikap semena-mena pria itu yang sok mengaturnya. Padahal ia hidup di negara bebas, dan ia bisa saja melaporkan pria itu pada polisi. Tapi sayangnya Aciel memiliki kekuasaan penuh di sini. Melaporkan seluruh


perbuatan buruk pria itu justru sama saja dengan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan polisi karena mereka pasti tidak akan mempercayainya.


            “Hey, aku menginginkanmu sekarang.”


            Eden memejamkan matanya gusar selama tiga detik sambil menahan rasa dongkol di hatinya. Dan lima detik kemudian Aciel sudah menindih tubuhnya dengan kabut gairah yang melingkupi kedua mata sendunya.


-00-


            Eden berjalan mengikuti Aciel dengan langkah kikuk. Ini adalah pengalaman pertamanya pergi ke markas besar kepolisian. Dan sejak tadi ia merasa jika semua orang sedang menatapnya dengan tatapan intens, seperti sedang menelanjanginya. Mungkin mereka heran dengan kedatangannya ke sini, atau mungkin karena Aciel. Seperti yang ia tahu, Aciel memiliki banyak pengaruh di negara ini.


            “Selamat siang tuan Lutherford.”


            Seorang pria berseragam biru dengan pangkat bintang satu di lengannya menyapa Aciel penuh hormat sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Aciel yang tersimpan di dalam saku celana.


            “Aku ingin bertemu dengan komisaris William Edburg.” ucap Aciel langsung sambil menjabat tangan pria berseragam polisi itu. Mereka kemudian terlibat dalam pembicaraan ringan hingga melupakan Eden yang tampak kesal karena sejak tadi ia terus mendapatkan tatapan aneh dari pria-pria di markas kepolisian itu.


            “Komisaris Edburg sedang rapat, tapi beliau meminta anda untuk menunggu sebentar di ruangannya.”


            “Tidak masalah, kebetulan hari ini aku sedang tidak memiliki jadwal apapun.”


            Mereka kemudian berjalan bersama-sama menuju ruangan komisaris Edburg yang berada di lantai empat. Sementara itu, Eden harus puas hanya dengan mengekor di belakang Aciel dengan tatapan kesal. Sejak tadi pria itu tidak meliriknya sedikitpun. Mungkin ia masih kesal karena sebelum mereka berangkat, ia sempat memaksa Aciel untuk mengijinkannya bertemu Anthony sebentar. Ia ingin bertanya langsung pada pria itu alasan sebenanya dibalik sikapnya yang jahat dan nekat itu.


            “Aciel....”


            Eden mendongakan kepalanya ke atas ketika ia mendengar suara merdu dengan nada tegas yang tiba-tiba memanggil Aciel. Seorang wanita dengan rambut sebahu yang terlihat anggun dibalik kegagahan seragam polisinya mendekati Aciel sambil merentangkan tangannya lebar.


            “Lama tak berjumpa, kau tampak lebih cantik.” ucap Aciel sambil membalas pelukan wanita itu. Mereka kemudian duduk bersisian di dalam ruangan komisaris Edburg tanpa mengindahkan Eden yang semakin terlihat dongkol di ujung pintu.


            “Nona, kau tidak ingin masuk ke dalam?” tanya seorang pria berseragam polisi di sebelahnya. Eden melirik sebal pada pria itu dan mulai berjalan masuk untuk menyusul Aciel.


            “Kau lihat tuan Lutherford dan kapten Stacie? Mereka terlihat sangat serasi, apa mereka akan kembali bersama?”


           “Ssstt.. kau ingin dihukum push-up seratus kali? Ayo kita keluar dan lanjutkan pekerjaan kita.”


            Eden sekilas mendengarkan percakapan dua polisi itu mengenai Aciel dan juga Stacie Edburg, wanita yang saat ini sedang menempel pada Aciel di depannya. Tanpa sadar ia meremas-remas kedua tangannya karena ia merasa sangat kesal pada Aciel, pria itu jelas-jelas sedang melakukan gencatan senjata padanya. Ia secara tidak sadar membandingkan dirinya dengan Stacie yang terlihat lebih menarik daripada dirinya.


            “Ace, sepertinya aku harus menyelesaikan sedikit masalah di luar, kau tidak keberatan jika kutinggalkan sebentar?”


            “Oh silahkan, aku akan menunggu ayahmu di sini.”


            Stacie menepuk pundak Aciel beberapa kali dan langsung berjalan pergi dengan langkah terburu-buru.


            “Siapa dia?”


            Eden bertanya dengan nada sinis sambil mendaratkan tubuhnya di atas sofa biru yang letaknya paling jauh dari Aciel.


            “Stacie Edburg, putra komisaris Edburg, orang yang akan mengurusi masalah Anthony.”


            “Tapi kau terlihat sangat dekat dengannya.” Komentar Eden acuh tak acuh. Aciel mengendikan bahunya ringan sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


            “Stacie mantan kekasihku, kami memiliki hubungan yang sangat dekat di masa lalu.”

__ADS_1


Haii readers, sebelumnya aku mau bilang makasih banget karena udah baca karya aku sampai sejauh ini. Thank you so much guys, i really appreciate it and i'll put my effort to write a better story..


Oya, btw kalau aku bikin beberapa chapter cerita tentang Sian dan Tiffany kalian mau g? Ok, raise your hand, oh i mean just comment bellow.. See you guys next chapter!!!


__ADS_2