
“Cheerss!”
Ting
Eden mengangkat gelas beningnya tinggi dan berseru pelan pada Aciel yang sedang duduk di depannya dengan tenang. Malam setelah pesta pernikahan mereka yang melelahkan, mereka berdua memilih untuk menghabiskan malam ini dengan duduk saling berhadapan di kamar Aciel, lalu bercerita sambil ditemani oleh sebotol champagne. Tapi sebenarnya itu hanya keinginan Eden, Aciel tidak pernah menginginkan malam pertamanya hanya diisi dengan cerita-cerita kehidupan mereka selama ini tanpa melakukan pergulatan panas di atas ranjang. Namun, lagi-lagi ini permintaan Eden. Sang ibu ratu hari ini sedang tidak ingin dibantah. Dan sebagai suami, Aciel hanya sekedar mengikuti keinginan Eden tanpa ingin memperpanjang masalah diantara mereka.
“Kau lelah?”
“Hmm, tentu saja. Kau membuat pesta yang sangat berlebihan.” ucap Eden sambil menuangkan cairan coklat bening beraroma menyegarkan kedalam gelasnya. Mereka berdua saat ini masih menggunakan pakaian pernikahan mereka dengan lengkap tanpa sedikitpun merasa gerah ataupun risih. Eden merasa sayang melepaskan gaun seharga jutaan dolar yang dipesankan Aciel dari salah satu rumah mode ternama di Paris. Apalagi ia merasa sangat cantik menggunakan gaun itu, membuatnya ingin terus menggunakannya sepanjang malam.
“Kurasa tidak. Aku telah menunggu sangat lama untuk pesta pernikahan ini, jadi pantas jika aku membuatnya sangat berlebihan. Kau membuatku harus bersabar selama enam bulan hanya demi pesta ini, apa kau pikir aku hanya akan membuatnya sangat sederhana? Dan sekarang kau justru melewatkan malam pertama kita.”
Plak
Eden memukul lengan Aciel pelan dan sedikit memberikan tatapan tajam pada pria itu. Selalu saja hal-hal mengenai ranjang yang menjadi momok bagi pria itu. Tak bisakah hidup mereka tidak hanya diisi dengan kegiatan ranjang. Bahkan selama ini mereka juga sudah sering melakukannya. Dan tentu saja hal itu karena paksaan dari si pria bermata coklat, Aciel.
“Aku heran dengan isi kepalamu? Selain urusan kantor, apa hanya itu yang selama ini kau pikirkan?”
“Mungkin. Kurasa itu adalah pikiran normal seorang pria dewasa.” jawab Aciel santai sambil menyesap champagnenya nikmat. Malam ini untuk pertama kalinya Aciel merasa lega dan juga bahagia. Pikiran buruknya mengenai Eden yang akan kembali pergi meninggalkannya dan menjauhkannya dari Ciara telah hilang. Ia yakin wanita itu tidak akan lagi menghilang dari pandangannya, dan akan terus ia lihat setiap ia membuka matanya dan setiap ia menginginkan wanita itu di sampingnya.
“Kapan kau melakukan **** pertama?”
“Kau yakin ingin mengetahuinya?” goda Aciel menyebalkan. Ingin rasanya Eden memukul kepala Aciel dengan gelas bening yang digenggamnya saat kepala pria itu mulai mendekat kearahnya. Namun ia berhasil menguasai dirinya dengan baik, sehingga ia hanya sekedar mendorong dada pria itu menjauh tanpa menyakitinya sedikitpun.
“Aku yakin, sangat yakin! Aku perlu mengetahui hal itu untuk berjaga-jaga jika suatu saat partner seksmu itu kembali.”
“Tidak mungkin. Ia telah mati.” jawab Aciel tiba-tiba, membuat Eden terkejut sambil menatap pria itu menuntut penjelasan.
“Namanya adalah Kim Shiho, dia seorang cheerleader di sekolahku saat senior high school.”
“Ah.. sudah kuduga. Kau tidak mungkin mengencani wanita sembarangan. Jadi, ada apa dengan Kim Shiho itu?”
“Overdosis. Setelah kami berkencan selama dua minggu, aku memergokinya sedang menggunakan heroin di gudang sekolah.”
“Lalu? Kau tetap berkencan dengannya?”
“Aku memutuskannya. Meskipun aku pria brandal yang brengsek, tapi aku tidak pernah suka dengan obat-obatan terlarang. Dan satu bulan kemudian pihak sekolah mendapatkan kabar jika Shiho ditemukan overdosis di apartemennya. Tapi nyawanya tidak bisa diselamatkan karena ia sudah terlalu banyak menggunanakan obat-obatan terlarang.”
“Oh, itu sangat mengerikan.” komentar Eden singkat sambil menyesap minumannya lagi. Dan saat ia sedang asik dengan minumannya, Aciel dengan menyebalkan justru terus melihatnya dengan kedua mata coklatnya.
“Ada apa?”
“Kau tidak ingin melepas gaunmu?”
“Kenapa? Aku baik-baik saja dengan gaun ini. Aku merasa cantik saat menggunakannya.” kekeh Eden bahagia. Melihat senyum manis Eden, mau tidak mau Aciel juga ikut tersenyum sambil menarik Eden agar duduk di pangkuannya.
“Kau selalu cantik. Bahkan tanpa menggunakan sehelai kainpun, kau juga terlihat sangat cantik.”
“Oh... Terimakasih tuan Aciel atas sanjunganmu, tapi aku tahu apa yang sebenarnya kau inginkan.” balas Eden sedikit galak. Ia lalu memaksa Aciel untuk melepaskan tangannya dari pinggangnya, dan setelah itu ia mendudukan dirinya di sebelah Aciel. Sementara itu Aciel hanya mendesah kecil melihat kelakuan istrinya yang masih saja memasang mode defensif meskipun mereka sekarang telah resmi menikah di hadapan Tuhan. Pria itu lalu mendengus gusar sambil menyugar rambutnya yang sudah tidak lagi rapi. “Jika kau tahu kenapa kau masih saja menunjukan sikap defensif? Ingat jika sekarang aku adalah suamimu, seharusnya aku memiliki hak atas dirimu.”
“Bahkan sejak dulupun kau sudah memonopoli diriku untuk dirimu sendiri tuan Lutherford.” balas Eden sengit. Ia merasa Aciel terlalu menuntutnya untuk melakukan lebih disaat ia masih ingin menikmati moment-moment pasca pernikahan mereka dengan sedikit lebih hangat bersama Aciel. Bukankah hidup bukan hanya soal urusan ranjang?
“Jadi, bagaimana kehidupan kita setelah ini?” tanya Eden pelan sambil mendesah panjang. Terkadang ia merasa aneh dengan kehidupannya yang berubah menjadi manis seperti ini. Bahkan setelah hidup lebih dari enam bulan bersama Aciel, ia merasa masih merasa aneh. Ia sepertinya harus lebih banyak menghabiskan waktu bersama Aciel agar ia lebih terbiasa dengan sikap manis pria itu.
“Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kita sudah sepakat untuk menutup semua kenangan buruk kita di masa lalu Ed.”
“Aku tidak memikirkan masa lalu kita, aku justru memikirkan masa depan kita.”
“Apalagi yang perlu kau pikirkan. Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Eden. Hiduplah seperti biasa, seperti Eden yang selama ini kukenal.”
__ADS_1
“Ck, kau tidak tahu bagaimana perasaanku. Aku belum mengunjungi ibu lagi setelah kami sedikit berdebat waktu itu. Dan pasti ibu telah melihat berita pernikahan kita di televisi.”
“Kalau begitu kita akan mengunjunginya setelah aku menyelesaikan pekerjaanku di kantor.”
“Hmm... Nyonya Angela adalah orang yang sangat baik.” bisik Eden sambil bergelung manja di dalam dekapan Aciel. Akhir akhir ini emosinya sedang tidak stabil. Terkadang ia akan bersikap sangat manja pada Aciel, namun terkadang ia juga akan bersikap menyebalkan hingga menimbulkan pertengkaran.
“Aku senang jika pada akhirnya kau menemukan figur ibu yang benar-benar menyayangimu.”
“Ace, kau belum memberitahuku mengenai ayahku. Kau masih menyembunyikan banyak rahasia dariku.”
“Hari ini aku sedang tidak ingin menceritakan apapun. Lebih baik kita tidur sekarang, atau kau ingin melakukan malam pertama bersamaku?”
“Ck! Aku serius. Tapi baiklah jika kau tidak ingin menceritakannya, aku tidak akan memaksa. Ace, bolehkah aku meminumnya? Hanya sedikit. Please, itu tidak akan membuatku mabuk, meskipun aku sangat ingin mabuk.” ucap Eden seperti frustrasi. Sejak tadi ia terus melirik gelas bening milik Aciel yang masih terisi sedikit champagne. Sedangkan miliknya, ia sejak tadi hanya meminum jus apel yang rasanya terlalu membosankan untuknya. Ia ingin malam pertamanya ia habiskan dengan sebotol champagne dan mereka akhirnya mabuk bersama-sama. Tapi Aciel dengan kejamnya menyingkirkan semua minuman beralkohol darinya. Bahkan saat pesta resepsipun ia harus puas hanya dengan segelas jus jeruk dan air putih.
“Lihatlah perutmu yang membuncit. Kau ingin meracuni calon anakku? Jika sesuatu yang buruk terjadi pada anakku, kau adalah orang pertama yang akan kusalahkan.” geram Aciel kesal. Sudah lebih dari empat bulan ini ia menjadi sangat posesif dan galak pada Eden karena kehamilan Eden yang telah memasuki bulan ke empat. Ini sebenarnya di luar rencana karena Eden tidak pernah berpikir untuk mengandung sebelum hari pernikahannya. Tapi di luar dugaan, ia justru mengandung dengan sangat cepat karena Aciel yang terlalu sering menyentuhnya. Atau karena ia memang terlalu subur? Entahlah, lupakan pikiran konyol Eden yang menggelikan itu.
“Aku tidak akan merusak anakku sendiri. Lagipula aku hanya ingin merasakannya sedikit, itu tidak akan berpengaruh padanya.” balas Eden cemberut. Lagi-lagi emosinya mengalami perubahan, membuat Aciel harus ekstra sabar dalam menghadapi Eden.
“Sudahlah, lebih baik kau tidur sayang. Aku mulai bosan mendengar suara berisikmu itu.”
Dengan gerakan tiba-tiba, Aciel langsung mengangkat tubuh berisi Eden ala bridal style dan membawa Eden menuju ranjang mereka yang dipenuhi oleh taburan kelopak mawar.
“Hoaammm.. aku mengantuk.” bisik Eden lunglai di dalam gendongan Aciel. Dengan manja ia menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Aciel sambil mengalungkan tangannya dengan erat di sekitar pundak Aciel. Dengan gerakan lembut penuh kehati-hatian, Aciel meletakan Eden di atas ranjang, lalu ia juga ikut merebahkan dirinya di samping Eden.
“Tidurlah, aku akan melepaskan gaunmu saat kau tidur.” bisik Aciel parau dengan senyum licik yang tercetak jelas di wajahnya. Namun Eden tak peduli dan langsung memejamkan matanya damai. Terkadang kehamilannya membuatnya cepat lelah hingga ia tak ingin melakukan apapun selain bermalas-malasan di atas ranjang. Dan malam ini sepertinya ia juga seperti itu. Setelah melakukan perdebatan konyol dengan Aciel, lalu merengek-rengek pada pria itu, ia ingin segera memejamkan matanya tanpa memikirkan apapun. Bahkan Aciel, atau sifat mesum pria itu yang terkadang akan mencumbunya saat ia terlelap.
“Ace... mmm... kau boleh melakukan apapun, tapi jangan menggangguku. Aku ingin tidur...” gumam Eden pelan sebelum ia benar-benar tertidur dengan belaian lembut Aciel di kepalanya.
-00-
“Mommy... mommy....”
Eden bergumam pelan sambil mencoba membuka matanya yang terasa berat. Suara teriakan Ciara yang sangat nyaring membuat mimpi indahnya benar-benar rusak. Dan ia terpaksa harus meninggalkan ranjang hangatnya yang nyaman ini segera.
“Ada apa sayang?” tanya Eden malas-malasan. Sebelum menyibak selimut tebal yang membungkus tubuhnya, ia menyempatkan diri untuk melirik pakaiannya terlebih dahulu. Hanya untuk berjaga-jaga jika Aciel belum memasangkan piyamanya seperti biasa. Dan syukurlah ternyata pria itu telah memakaikannya sebuah piyama pink berbahan katun yang sangat nyaman untuknya tidur semalam.
“Ayo jalan-jalan.” ajak Ciara semangat. Namun tanggapan Eden justru sebaliknya. Ia hari ini sedang malas untuk melakukan apapun dan hanya ingin bermalas-malasan di rumah. Lagipula untuk apa ia pergi bersama Ciara jika Aciel tetap pergi ke kantor seperti biasa. Pernikahan mereka kemarin tak ubahnya seperti sebuah drama yang terkesan seperti pura-pura. Makna dari pernikahan itu seperti belum dirasakan oleh Eden karena pola hidup mereka selama ini yang tidak banyak mengalami perubahan.
“Jalan-jalan? Mommy sedang lelah sayang, lihatlah adikmu tidak ingin pergi kemanapun.” tunjuk Eden pada perutnya sebagai alasan. Biasanya hal ini akan berhasil untuk membungkam Ciara dari suara rengekannya yang berisik.
“Tapi Ciara ingin pergi jalan-jalan. Daddy juga ingin pergi.” tunjuk Ciara tiba-tiba pada Aciel. Entah sejak kapan pria itu telah berdiri di ujung pintu sambil mengamati dua wanitanya yang sangat menggemaskan.
“Ace, kau tidak pergi bekerja?”
“Setelah kita menikah? Yang benar saja!” balas Aciel malas. Ia bukan pria yang segila itu. Terkadang ia masih memiliki sisi manusia yang membuatnya juga ingin menghabiskan seluruh waktunya bersama keluarga kecilnya.
“Ciara ingin keluar menghirup udara segar, ayo bangun.”
Dengan langkah pelan Aciel menghampiri Eden, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu berdiri. Namun bukannya menyambutnya, Eden hanya diam menatap pria itu dingin, lalu mengabaikan Aciel begitu saja dengan mengajak Ciara berbicara.
“Sayang, tapi mommy lelah.”
“Daddyyyyy....”
Ciara mulai mengeluarkan teriakan kerasnya untuk mengusik Aciel. Dan mau tidak mau Aciel harus memaksa Eden agar wanita itu tidak semakin membuat Ciara mengeluarkan suaranya yang memekakan telinga.
“Ayo Ed, anakmu mulai merengek-rengek.” dengus Aciel sambil mengangkat tubuh Eden dan hendak membawanya menuju kamar mandi. Namun Eden langsung berteriak heboh dan memintanya untuk menurunkannya di depan pintu kamar mandi.
“Aku tahu apa yang ada di dalam kepala kecilmu ini.”
__ADS_1
“Apa?” tantang Aciel dengan wajah menyebalkan. Ia hampir saja menggoda Eden sekali lagi jika Eden tidak memutuskan untuk kabur dan segera mengunci pintu kamar mandinya rapat-rapat.
“Ibumu aneh.” ucap Aciel pada Ciara yang sejak tadi sibuk mengamati sikap orang tuanya yang kekanakan. Bahkan Acielpun menjadi tertular sifat kekanakan Eden, meskipun saat ini usianya telah menginjak kepala empat. Oh, dia benar-benar pria yang sudah tua sekarang.
“Daddy, apa kita akan mengajak paman Sian?”
“Sian? Untuk apa kita mengajak pria jelek itu princess?” tanya Aciel heran. Sepertinya putrinya telah tergila-gila pada si pria kesepian Sian, karena hampir setiap hari, selepas bekerja, pria itu akan datang untuk bermain bersama Ciara hingga gadis kecil itu terlelap kelelahan.
“Tapi paman Sian sekarang berada di bawah.” jawab Ciara polos. Seketika Aciel berjalan menuju pagar pembatas lantai dua untuk melihat keberadaan pria itu di bawah. Dan benar saja, saat ia melongokan kepalanya ke bawah, ia dapat melihat Sian sedang merapikan puzzle-puzzle milik Ciara yang berserakan.
“Sian, apa yang kau lakukan di rumahku, lagi?” tanya Aciel malas. Ia rasanya sudah terlalu bosan melihat wajah Sian selalu berada di sekitarnya. Pria itu benar-benar terlihat sangat menyedihkan setelah Aciel dan Jessica akhirnya memutuskan untuk mengakhiri masa lajang mereka dengan orang-orang yang mereka cintai.
“Aku mencari Ciara, dimana keponakan cantikku?”
“Paman Sian! Aku di sini.”
Dari lantai dua Ciara melambai-lambaikan tangan mungilnya sambil ikut melongok seperti Aciel. Melihat itu Aciel langsung menggendong Ciara dan menjauhkan putri kecilnya dari pagar pembatas yang terlihat berbahaya untuknya.
“Ayo kita turun.” ajak Aciel sambil menciumi wajah putrinya. Sekarang perlahan-lahan ia telah berubah menjadi pria hangat yang tidak lagi sekaku dulu. Ciara banyak membawa perubahan dalam hidupnya. Dan ternyata berubah menjadi pria hangat dan seorang family man tidak seburuk yang ia bayangkan. Ia justru sangat menikmatinya sekarang.
“Kau tidak pergi ke kantor?”
“Kau dan Eden sama saja. Memangnya kenapa jika aku tidak pergi ke kantor? Justru aku yang seharusnya bertanya padamu, kau tidak pergi ke kantor?”
“Aku sedang libur.” jawab Sian santai. Ia mengabaikan begitu saja tatapan tajam Aciel yang tidak lagi memberi efek apapun padanya. Persahabatan sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu membuatnya sangat mengenal Aciel lebih dari yang orang lain tahu.
“Pergilah ke kantor, kami akan pergi mengunjungi orang tua Zyan di California.” beritahu Aciel sekaligus mengusir Sian dari rumahnya. Namun bukannya pergi, pria itu justru mengambil tempat di salah satu sofa milik Aciel, lalu duduk di sana dengan santai.
“Tumben, apa Eden yang memintanya.”
“Mereka sudah lama tidak bertemu. Dan Ciara pasti ingin bertemu dengan neneknya.”
“Ah, kau benar. Kalian berdua sama-sama sudah tidak memiliki orang tua. Jadi Ciara hanya memiliki nenek dari pihak Zyan. Kalau begitu cepatlah pergi.”
Kali ini Sian yang justru mengusir Aciel untuk cepat pergi, sedangkan ia sendiri justru menikmati hari liburnya dengan bersantai di atas sofa abu-abu Aciel yang nyaman. Yah.. terkadang memiliki teman dengan hubungan yang sangat dekat akan sangat merepotkan seperti Sian.
“Oya, dimana Eden? Aku belum melihatnya sejak datang. Apa kau.... memakannya dengan buas semalam?” tanya Sian menyipitkan matanya.
“Eden? Dia di sana.” tunjuk Aciel pada ujung tangga. Di sana Eden baru saja melangkah turun dari undakan terakhir sebelum berjalan menghampiri keluarga kecilnya yang tampak harmonis.
“Sian, kau datang lagi?”
Sian langsung mendengus gusar saat mendengar pertanyaan Eden, disusul oleh tawa lebar Eden yang tampak puas karena berhasil membuat Sian kesal.
“Kalian memang pasangan yang kejam. Beruntung Ciara tidak mewarisi sikap menyebalkan kalian.”
“Paman, sebaiknya paman Sian pulang karena Ciara akan pergi bersama mommy dan daddy.”
Seketika Eden tertawa terbahak-bahak menertawakan ekspresi lucu Sian yang langsung cemberut, dan ekspresi tanpa dosa Ciara yang tidak tahu apapun mengenai urusan orang dewasa.
“Dengarkan apa kata Ciara, kau memang seharusnya pergi. Kau harus mencari pasangan agar kau tidak berakhir menyedihkan seperti ini Sian.”
“Oh, bagaimana kabar penari seksi itu Sian? Siapa namanya, Katarina Jones?” goda Eden jahil. Sian semakin mengerutkan dahinya kesal. Setelah ia menjadi bahan bully Aciel dan Jessica, kini Eden dan Ciara juga kompak menggodanya. Oh, ini benar-benar sebuah kesialan untuknya. Dan darimana Eden mengetahui tentang Katarina Jones? Apa Aciel menceritakannya?
“Penari striptis itu kurasa sangat cocok denganmu. Kau yang suka bermain-main tidak akan bisa berkutik dengan sikap galak Katarina Jones.” tambah Aciel puas. Akhirnya ia bisa memojokan Sian dan membungkam mulut lebar Sian yang selalu cerewet.
“Sudahlah Sian, kau memang lebih baik menjadikan wanita itu sebagai calon isterimu. Bukankah ia wanita yang manis? Yah... meskipun ia memiliki pekerjaan sebagai penari striptis dan pernah menggoda Aciel.” lirik Eden sebal pada Aciel. Ia sendiri terkadang merasa kesal bila Aciel dengan santainya menceritakan wanita-wanita nakal yang sengaja menggodanya di luar sana. Dan sebagai isteri, ia memang harus selalu menyiapkan diri untuk menghadapi para ****** yang tak tahu diri itu.
“Sudahlah, kalian benar-benar keluarga yang mengerikan. Lebih baik aku pulang. Selamat bersenang-senang, dan jangan lupakan oleh-oleh untukku.”
__ADS_1
Akhirnya Sian memilih pergi dan meninggalkan keluarga kecil itu dengan tawa geli yang belum hilang sedikitpun dari wajah mereka. Menggoda Sian memang salah satu kepuasaan tersendiri untuk mereka. Dan terutama Aciel. Ia sangat puas melihat sahabatnya itu menderita.