Black Swan

Black Swan
Reunion (Ninety One)


__ADS_3

        “Apa kau tahu siapa itu Jannet Streusell?” tanya Aciel di suatu pagi saat ia sedang menyantap sarapannya bersama Sian. Hari ini Aciel telah berencana untuk mulai menaklukan gadis yang menjadi bahan taruhannya bersama Alan. Dan ia cukup penasaran dengan reputasi gadis itu, karena Alan tidak mungkin akan membuat semua ini mudah dengan seorang gadis yang mudah untuk dijebak.


            “Jannet Streusell... putri dari Adam Streusell.”


            “Seperti tidak asing.” ucap Aciel mencoba untuk mengingat nama itu di dalam otaknya. Tuan Kim yang baru saja menghidangkan sepiring bacon pada Sian terlihat mengamati tuannya sebentar sebelum ia menyahut dengan ringan. “Adam Streusell, namanya pagi ini muncul di koran pagi karena ia berhasil menjadi rektor terbaik tahun ini.”


            “Rektor? Jadi Jannet Streusell adalah putri rektor di kampus kita?”


            Sian mengangguk mengiyakan, tampak tak ingin berpaling dari sepiring bacon masakan tuan Kim yang selalu menjadi favoritnya. Dengan mulut yang penuh dengan bacon, Sian memberi tahu Aciel jika Alan adalah pria licik yang sengaja memberikan tantangan yang tak masuk akal pada Aciel.


            “Apa kau pikir aku tidak bisa menaklukannya? Meskipun ia putri seorang rektor, aku tidak peduli.” ucap Aciel acuh tak acuh. Sian kemudian mengingatkannya pada kejadian siang kemarin ketika ia hampir menabrak seorang gadis di halaman universitasnya yang luas.


            “Itu Jannet Streusell.”


            “Darimana kau tahu?”


            “Semua orang di kampus mengetahuinya Ace, dia wanita yang populer karena kecerdasan dan juga dia adalah putri satu-satunya Adam Streusell. Ayahnya pasti akan membunuhmu jika kau menghancurkan putrinya.” ucap Sian terkekeh. Pria itu membayangkan bagaimana murkanya Adam Streusell jika melihat putrinya telah dipermainkan begitu saja oleh Aciel hanya karena sebuah mobil yang Aciel sendiri sebenarnya bisa memilikinya dalam jumlah yang tak terbatas.


            “Kenapa kau menerima tantangannya? Jelas-jelas kau tidak membutuhkan mobil sport sialan milik Alan, tapi kau masih saja menerima tantangannya. Apa kau sudah gila?”


            “Aku hanya ingin membuatnya tersedak oleh kesombongannya sendiri. Kau tahu jika selama ini Alan selalu menjadi pria tukang pamer yang memuakan.”


            Memang benar, Alan selalu merendahkan orang lain dan bersikap lebih buruk saat di kampus. Harta milik orangtuanya menjadikan alasan utama mengapa Alan bersikap begitu sombong di kampusnya.


            “Cepat habiskan makananmu, kita perlu datang lebih awal ke kampus hari ini.” Aciel mulai berdiri dari tempat duduknya, meminum cepat secangkir kopi yang disediakan oleh tuan Kim, dan ia segera menyambar jaket dan kunci mobil yang tergletak begitu saja di atas meja. Sementara itu Sian masih tertinggal di kursinya dengan sisa bacon yang tidak rela ia tinggalkan. Cepat-cepat ia melahap bacon itu dalam sekali suapan, mendorongnya masuk ke dalam kerongkongannya menggunakan air, dan ia segera berlari menyusul Aciel yang terdengar telah menghidupkan mesin mobilnya di dalam garasi.


            “Tunggu aku Ace!”


-00-


            Seperti biasa, Aciel selalu menjadi perhatian setiap kali kakinya melangkah di lorong-lorong panjang Harvard yang akan mengarahkannya menuju kelasnya. Meskipun tak banyak yang tahu bagaiman latar belakang keluarga Aciel yang sesungguhnya, karena Aciel belum mengumumkan posisinya sebagai CEO di Ford Company milik kakeknya, tetap saja kharisma yang dipancarkan oleh Aciel berhasil membuat wanita-wanita di kampusnya mengerang tertahan saat ia melewati mereka dengan wajah datar yang terkesan acuh.


            “Kau beruntung bung.” Sian menepuk pundaknya dari belakang setelah pria itu pergi ke toilet beberapa saat yang lalau.


            “Kenapa?” Tanpa menghentikan langkahnya, Aciel terus mendengarkan apapun yang diocehkan Sian di sebelahnya.


            “Jannet, ternyata ia berada di kelas yang sama dengan kita.”


            “Aku tidak tahu.” balas Aciel acuh tak acuh. Bahkan orang yang benar-benar Aciel kenal di kampusnya hanyalah Sian. Dan terkadang juga Jason karena pria itu memegang peran penting untuk mengerjakan tugas-tugasnya.


            “Kau akan lebih mudah untuk menjeratnya, bung.” bisik Sian saat mereka telah berada di ambang pintu kelas. Tatapan mata Sian mulai terarah pada seorang wanita berambut sebahu bergelombang yang terlihat duduk di barisan paling depan. Shit! Aciel benci duduk di barisan depan, tapi demi harga dirinya di depan Alan, kali ini ia


harus mengambil tempat di sebelah putri sang rektor.


            “Boleh aku duduk di sini?” Aciel tidak serta merta berubah menjadi pria sok akrab. Ia masih tetap mempertahankan gaya angkuhnya, namun dengan sedikit taktik agar wanita itu segera bertekuk lutut di kakinya.


            “Silahkan, tumben sekali kau duduk di depan.” komentar Jannet tanpa benar-benar menatap kearah Aciel. Wanita itu hanya diam-diam memperhatikan gerak gerik Aciel melalui ekor matanya yang sedang membaca buku. Namun sejak kedatangan Aciel di sampingnya, wanita itu tidak bisa benar-benar berkonsentrasi pada bukunya. Buku itu terlihat tidak menarik lagi semenjak Aciel mengeluarkan suara rendahnya yang seksi di sebelahnya.


            “Kau memperhatikanku dengan baik selama ini.” balas Aciel menyeringai. Ternyata bukan perkara sulit untuk menjerat seorang Jannet Streusell.


            “Hampir semua wanita di kelas ini selalu membicarakanmu. Tapi tentu saja aku tidak termasuk.” wanita itu berucap lagi dengan acuh tak acuh. Jari-jari lentiknya sedikit memainkan pinggiran buku yang terlihat masih begitu mulus tanpa cela. Aciel tahu jika itu buku baru yang baru saja dibuka oleh Jannet. Yeah, untuk ukuran seorang gadis pendiam dan kutu buku, Jannet sungguh tidak buruk. Ia cantik dengan kulit putih dan bulu mata lentik, lalu rambut bergelombang sebahunya semakin menyempurnakan penampilan anggunnya yang tampak seperti wanita-wanita berkelas pada umumnya.

__ADS_1


            “Benarkah? Kalau begitu mulai sekarang kau juga akan menjadi seperti mereka.”


            “Kenapa begitu?” Aciel menyeringai. Jannet telah masuk ke dalam perangkapnya. Terbukti dengan gelagat wanita itu yang tidak lagi tertarik pada bukunya.


            “Karena kau pasti sangat penasaran denganku.” bisik Aciel rendah tepat di telinga Jannet. Napas panas Aciel seketika berhembus lembut di sisi kepala Jannet, membuat wanita itu merasakan degup jantungnya yang mulai memukul-mukul rongga jantungnya dengan brutal.


            “Tti tidak, itu tidak mungkin.” balas Jannet acuh setelah ia berhasil menguasai dirinya. Tak berselang lama


dosen untuk mata kuliah pertama masuk, membuat Aciel mengerang kesal dalam hati karena pria tua itu membuat usahanya untuk mendekati Jannet sedikit tertunda.


            “Selamat belajar, nona Streusell.”bisik Aciel lagi dengan satu kedipan mata yang berhasil membuat Jannet tidak bisa berkonsentrasi sepanjang kuliah berlangsung.


-00-


            Jam kuliah telah usai, Jannet segera merapikan buku-bukunya dan memasukannya ke dalam tas. Diliriknya jam yang melingkar di pergelangan tangannya, pukul dua siang. Jannet kemudian berpikir untuk menghampiri ayahnya di ruang rektor karena ia akan meminta ijin untuk pergi ke kantin sebentar sebelum pulang. Ayahnya adalah pria paling ketat yang pernah Jannet kenal. Ia bahkan merasa kesal tiap kali ayahnya memperlakukannya seperti balita kecil yang tidak bisa melakukan apapun, dan hanya bergantung pada ayahnya. Padahal ia sudah cukup dewasa untuk melakukan semuanya dengan mandiri. Ayahnya bahkan belum juga memberinya izin untuk membawa mobil sendiri ke kampus, meskipun ia telah memohon berulang kali agar ayahnya sedikit memberinya kebebasan untuk menikmati masa mudanya.


            “Hey, kau tidak pulang?”


            “Kau lagi? Ada apa denganmu tuan Lutherford, kenapa kau tiba-tiba tertarik untuk mendekatiku? Kau sedang melakukan taruhan dengan teman-temanmu?” tanya Jannet gusar. Ia benar-benar risih jika Aciel terus mendekatinya seperti ini karena pria itu selalu membuat jantungnya berdetak dengan tidak normal.


            “Hmm...” Aciel terkekeh di sebelah Jannet, mengagumi kepintaran gadis itu yang dapat menebak semuanya dengan benar hanya dalam waktu singkat. “Mungkin kau benar, atau mungkin karena kau terlihat menarik di mataku.” ucap Aciel mulai mengeluarkan rayuannya yang terdengar manis. Sikap acuh tak acuh Aciel yang terkadang terlihat menyebalkan entah kenapa justru membuat Jannet tertarik pada pria itu.


            “Terimakasih kalau begitu, kau juga tak kalah menarik tuan Aciel.” balas Jannet cepat dan ia segera masuk ke dalam ruangan ayahnya, meninggalkan Aciel sendiri yang hanya tersenyum miring. Ia yakin dalam waktu satu minggu ia pasti dapat membuat Jannet berakhir di ranjangnya.


            Sepuluh menit kemudian Jannet keluar dari ruangan ayahnya. Wajah lega tercetak jelas di wajah cantiknya karena sang ayah hari ini harus melakukan rapat bersama staffnya, dengan begitu hari ini ia bebas pulang sendiri menggunakan taksi atau bus. Dengan langkah ringan ia melangkahkan kakinya menuju kantin, namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat Aciel tiba-tiba telah berada di depannya dan sedang bersandar pada pillar besar yang menjulang di depan ruangan ayahnya.


            “Kau masih di sini?” tanya Jannet sangsi.


            “Ya aku tahu.” balas Jannet acuh. Ia pergi meninggalkan Aciel begitu saja tanpa ingin mempedulikan Aciel terlalu jauh. Pria itu pasti akan segera bosan setelah melihat keacuhannya.


            “Kau harus menemaniku ke kantin, aku lapar.” Dengan seenaknya Aciel menarik tangan Jannet kearah kantin, mengacuhkan suara ribut Jannet yang memintanya untuk melepaskan cekalan tangannya yang terlalu erat.


            “Hey, lepaskan! Aku bisa pergi ke kantin sendiri.” ucap Jannet setengah berteriak. Beberapa mahasiswa mulai melihat kearah mereka dan berbisik-bisik heboh. Tanpa sadar Jannet telah mengepalkan tangannya geram karena besok ia pasti akan menjadi pembicaraan seisi kampus karena perilaku sialan pria aneh di depannya.                         “Kau harus menemaniku nona Streusell.”


            “Kenapa harus aku? Kau bisa mencari wanita lain untuk menemanimu.”


            “Aku hanya ingin kau.” balas Aciel menyeringai dan berhasil membungkam mulut berisik Jannet. Wanita itu akhirnya hanya pasrah mengikuti kemanapun Aciel membawanya. Kali ini ia memilih untuk menurunkan sedikit dinding pertahanannya agar ia dapat mengetahui sosok Aciel yang sebenarnya. Ia tak munafik sama sekali jika selama ini ia merasa penasaran dengan sosok Aciel Lutherford yang tidak terlalu menonjol di kelasnya, namun


hampir semua wanita di kelasnya sering membicarakan Aciel karena ketampanannya.


            “Duduk.” Aciel memaksa Jannet untuk duduk di salah satu kursi kantin yang tidak terlalu ramai. Jannet tanpa sadar tersenyum melihat punggung Aciel yang menjauh untuk memesan makanan, ternyata seleranya dengan pria itu tidak berbeda jauh. Ia juga tidak menyukai keramaian kantin dan lebih sering menyendiri di sisi lain kantin yang sepi.


            “Aku tidak tahu kau menyukainya atau tidak, tapi mereka hanya memiliki ini.” Aciel meletakan dua botol cola dan dua piring beef burger yang terlihat menggiurkan dengan saus keju yang meleleh-leleh di atasnya.


            “Aku makan apapun, kau tenang saja.” ucap Jannet dengan senyuman. Ia lantas mengeluarkan dompetnya untuk mengganti uang Aciel yang pria itu gunakan untuk membeli makanannya, namun Aciel segera menahan tangan Jannet di atas meja dan menggenggamnya.


            “Aku yang traktir.” bisik Aciel dengan senyuman tipis. Jannet terpaku melihat senyuman Aciel yang sangat jarang ditunjukan pada siapapun. Cepat-cepat ia menyentak tangan Aciel dari tangannya setelah ia sadar jika ia baru saja menatap wajah pria itu dengan wajah bodohnya yang jelas-jelas menunjukan jika ia terpesona pada pria itu.


            “Terimakasih.” cicit Jannet menyembunyikan kegugupannya. Setelah memasukan dompetnya ke dalam tas, Jannet segera mengambil makanannya. Ia menggigir burger itu penuh nikmat sambil memberikan tatapan penuh terimakasih pada Aciel yang sibuk bermain ponsel tanpa memakan makanannya.


            “Aku tidak pernah melihatmu bergaul dengan siapapun kecuali temanmu yang kemarin menyuruhku untuk menyingkir dari mobilmu.”

__ADS_1


            “Namanya Sian, kami berteman sejak remaja.” jawab Aciel datar sambil tetap memainkan ponselnya. Hari ini ada begitu banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Bahkan ia juga memiliki jadwal meeting lima belas menit lagi. Tapi sepertinya ia tidak mungkin akan berada di kantor dalam waktu lima belas menit, mengingat saat ini Jannet masih berada di depannya, dan mungkin ia akan mengantarkan wanita itu pulang nantinya.


            “Sian, kau bisa gantikan aku hari ini?”


            “........”


            “Meeting pukul tiga.”


            Jannet sangat fokus memperhatikan Aciel berbicara. Tidak banyak yang ia tahu tentang pria itu, dan dari desas desus yang berkembang di kalangan teman-temannya, Aciel adalah seorang pewaris perusahaan yang cukup berpengaruh di Amerika. Tapi ia sendiri tidak tahu apakah itu benar, karena semua yang ia dengar adalah rumor semata.


            “Apa aktivitasmu selain pergi kuliah?” tanya Jannet setelah Aciel memasukan ponselnya ke dalam saku celananya, dan pria itu mulai meraih cola miliknya yang esnya telah mencari membasahi meja.


            “Menurutmu?” Aciel justru balik bertanya sambil meminum colanya dengan gerakan seksi yang berhasil membuat Jannet berhenti menahan napas. Menurutnya ia sedikit beruntung karena berhasil membuat seorang Aciel memiliki ketertarikan padanya. Lihat saja tatapan beberapa wanita yang tampak iri padanyab saat ini. Ia seperti berada di atas angin sekarang.


            “Banyak rumor yang mengatakan jika kau adalah pewaris perusahaan ternama di Amerika.”


            “Apa menurutmu aku seperti itu?” tanya Aciel lagi dengan wajah misterius. Ia tahu jika selama ini banyak rumor yang mengatakan seperti itu, tapi ia sendiri juga tidak pernah mengakuinya secara langsung, membuat rumor itu terus saja berkembang sebagai rumor yang tidak pernah menjadi kebenaran.


            “Entahlah, kau terlalu sulit untuk ditebak.” jawab Jannet acuh tak acuh. Tak terasa burger keju miliknya telah habis. Ia lalu beralih pada colanya, meminumnya hingga tandas, dan setelah itu ia segera beranjak berdiri dari kursinya.


            “Aku pulang.”


            Aciel menaikan alisnya, ia lalu ikut berdiri mengekori Jannet yang tampak begitu risih dengan keberadaan Aciel.


            “Aku akan mengantarmu pulang.”


            “Kenapa kau begitu yakin jika aku tidak membawa mobil sendiri.”


            “Karena aku tahu kau tidak membawanya.” balas Aciel penuh keyakinan. Hatinya bersorak girang karena ia tahu jika wanita itu tidak bisa menolak tawarannya. Beberapa menit yang lalu ia telah mendapatkan banyak informasi dari Sian mengenai Jannet. Bagaimana kebiasaan wanita itu, dan bagaimana ketatnya sang ayah dalam menjaganya hingga ia dilarang untuk membawa mobil sendiri untuk pergi kemanapun.


            “Kau tidak perlu melakukan ini sebenarnya, aku bisa pulang sendiri menggunakan bus.” ucap Jannet tidak enak ketika ia telah duduk dengan nyaman di dalam mobil SUV milik Aciel. Namun pria itu tampak tak peduli. Ia segera saja memasang sabuk pengamannya dan memberikan kode pada Jannet untuk mengenakan sabuk pengamannya juga.


            “Jadi kenapa kau tidak membawa mobil sendiri ke kampus?” tanya Aciel membuka obrolan.


            “Menurutmu kenapa?” tanya Jannet dengan kekehan. Ia sengaja meniru gaya bicara Aciel sebelumnya.


            “Aku tidak tahu. Tapi kau jelas bukan gadis dari keluarga sederhana yang tidak mampu membeli mobil.”


            “Ck, kau menghinaku?” dengus Jannet lucu. Ia dengan sengaja meninju pelan lengan Aciel yang sibuk menyetir di sampingnya. “Ayahku terlalu over protective sejak kematian ibuku lima tahun yang lalu. Ayahku tidak mengizinkanku untuk membawa mobil sendiri ke kampus.” jawab Jannet dengan nada sedih. Aciel melirik sekilas wanita rapuh di sampingnya.


            “Ayahmu benar kalau begitu, ia hanya ingin melindungi putri kesayangannya.”


            “Tapi itu sudah terlalu berlebihan kau tahu!” ucap Jannet setengah berteriak. Entah kenapa ia dapat menunjukan kefrustrasiannya begitu saja pada Aciel. Dalam sekejap pria itu berhasil membuatnya nyaman dan merasa menjadi dirinya sendiri.


            “Lalu apa yang kau inginkan kalau begitu?”


            “Kepercayaan.” jawab Jannet mantap. Ia sangat ingin diberikan kepercayaan oleh ayahnya jika ia dapat mengurus dirinya sendiri dengan baik.


            “Apa kau juga akan memberikannya padaku jika aku meminta sebuah kepercayaan padamu?” tanya Aciel tiba-tiba yang berhasil membuat Jannet bungkam. Ia tidak tahu mengapa ia menjadi gugup seperti ini hanya karena Aciel memintanya untuk mempercayainya.


            “Kita sudah sampai. Komplek Easton nomor sebelas” ucap Aciel membuyarkan lamunan Jannet. Dengan wajah kaku ia berterimakasih pada Aciel dan segera turun dari mobil pria itu.

__ADS_1


            Setelah mobil Aciel melaju pergi dari rumahnya, Jannet tidak bisa menghentikan senyum bodoh yang terus menerus muncul di wajahnya. Entah mengapa ia merasa begitu gembira hari ini hanya karena Aciel menraktirnya makan dan mengantarnya pulang dengan selamat. Tidak tahu lagi apa yang akan ia lakukan besok jika bertemu Aciel di kampus. Tapi ia sangat berharap jika besok Aciel akan duduk lagi di sebelahnya. Dan mengganggunya lagi seperti tadi.


__ADS_2