
“Hoaamm.... kenapa sepi sekali?” Jessica menguap lebar dan berjalan sempoyongan dari dalam kamarnya dengan rambut acak-acakan seperti jerami. Sesekali ia menabrak lemari yang menjulang di sisi kanan kamarnya saat kesadaran itu belum sepenuhnya menguasai tubuhnya.
“Selamat siang putri tidur.” sapa Laila yang sedang mengaduk-aduk adonan kue di atas meja. Wanita itu menatap Jessica geli dan segera menarik satu kursi kayu untuk Jessica duduk.
“Dimana anak-anak berisik itu?”
“Pergi berkuda. Apa Kriss tidak memberitahumu tadi?”
“Entahlah, aku sepertinya terlalu menikmati waktu tidurku di sini.” jawab Jessica sambil menarik satu gelas bening untuk menuang air putih. “Kalian sedang apa?”
“Membuat kue dan beberapa camilan. Olivia dan aku tadi pergi ke pasar terdekat. Kami membeli lima kilo kentang, kacang-kacangan, dan susu. Anak-anak pasti suka jika dibuatkan kue dan kentang goreng.”
“Bukan hanya mereka, akupun juga suka.” balas Jessica sambil mengambil satu kentang goreng yang baru saja diletakan Olivia di atas meja.
“Kemarin Eden membawa ikan kaleng cukup banyak, kita bisa memasak itu untuk makan siang.” beritahu Olivia yang baru saja mengangkat sekardus penuh ikang kaleng yang kemarin dibawa Eden dari Vegas.
“Apapun itu, aku pasti akan memakannya.” balas Jessica acuh tak acuh dan kembali memasukan potongan kentang dengan saus ke dalam mulutnya. “Dimana Eden? Tumben ia tidak terselip diantara kalian?”
Jessica segera menyadari adanya keganjilan yang terjadi ketika Eden tidak berada di tengah-tengah mereka. Seperti suasana menjadi lebih sunyi karena wanita itu yang biasanya mencetuskan ide-ide gila.
“Dia pergi ke peternakan kuda menemani Aciel. Katanya kasihan Aciel jika dibiarkan mengurus dua anaknya sendiri.”
“Eden? Dengan perut buncitnya?” tanya Jessica sangsi. Ia benar-benar tak habis pikir dengan Eden yang kerap kali mengekori Aciel kemanapun pria itu pergi. “Tapi Aciel memang gemar menghamili Eden. Aku sampai tak habis pikir.” tambah Jessica dengan mimik wajah lucu. Laila dan Olivia yang mendengar celotehan Jessica, kompak tertawa dan menyutujui kata-kata Jessica yang memang benar.
“Sejak dulu Aciel sudah terobsesi dengan tubuh Eden.”
“Yeah, kau yang lebih tahu mereka, kurasa.” ucap Laila tersenyum kecil. Adonan yang ia aduk kini telah mengental sepenuhnya. Ia kemudian segera beranjak untuk mengambil loyang dan beberapa cup kertas untuk membuat muffin coklat kesukaan Hyena. Ia yakin, anak-anak yang lain pasti juga akan menyukai muffin coklat buatannya.
“Tapi sejauh ini bagaimana kondisi kandungan Eden?” tanya Olivia yang kini telah selesai dengan pekerjaannya. Sikap suka menolongnya membuat Olivia langsung beralih mendekati Laila dan membantu wanita itu untuk memasukan adonan muffin ke dalam cup kertas.
“Tidak ada masalah. Dia sangat normal. Bahkan setelah kegugurannya dulu, tubuhnya tidak ada masalah sama sekali. Aku bahkan juga terkejut saat memeriksanya empat bulan yang lalu dan menemukan adanya dua embrio yang berkembang di rahimnya. Bukankah dia sangat hebat?”
“Sangat! Atau mungkin Eden memang terlalu subur?” tanya Jessica sambil memasukan potongan kentang lagi ke dalam mulutnya. Sadar jika Jessica sejak tadi berbicara tanpa memperhatikan kentang yang dimakannya membuat Olivia langsung mengambil sikap dengan menjauhkan piring kentang itu dari jangkauan Jessica.
“Mereka akan menggerutu jika pulang nanti menemukan piring kentang goreng telah kosong. Maafkan aku, Jess.” ucap Olivia tidak enak.
“Ahh ya, obrolan ini membuatku tidak sadar saat memakan monster-monster berminyak itu. Arrghh... dietku gagal!” erang Jessica konyol.
“Nah, ini sudah bisa dimasukan ke dalam oven. Aku akan mencuci peralatannya selagi kau memasukannya ke dalam oven.”
“Berapa menit?”
“Seratus delapan puluh derajat untuk dua puluh lima menit. Terimakasih, Olive.”
“Hey, aku belum tahu jenis kelamin anak Eden.” seru Jessica tiba-tiba, mengejutkan Laila yang sedang mencuci mangkuk bekas adonan di westafel dapur.
“Kau mengagetkanku.” geurut Laila disela-sela mencuci piring. “Bagaimana menurut kalian? Bukankah sebagai seorang ibu kalian sudah bisa menebak jenis kelamin anak Eden dan Aciel.”
“Aku tidak.” balas Olivia yang telah selesai dengan kegiatan menata adonan di dalam oven. “Kurasa Eden tidak menunjukan sikap dominan seperti kebanyakan ibu hamil. Eden luar biasa santai dalam menghadapi kehamilannya.”
“Dia itu super woman.” seru Jessica sambil mengetuk-etukan jarinya di atas meja. “Jauh sebelum mengandung Ciara, Eden pernah mengandung juga. Anak Aciel.” tambah Jessica untuk menghindari tatapan menelisik dari dua wanita yang duduk di depannya. Laila baru saja bergabung di meja makan setelah selesai dengan urusan mencucinya di westafel.
“Jadi jika mereka semua hidup, Eden akan memiliki enam anak? Wow.” decak Olivia kagum.
“Sudah kukatakan jika Eden itu wanita super. Sejak muda ia sudah terbiasa menghadapi sikap brengsek Aciel. Dulunya Eden adalah anak yang diadopsi Aciel dari panti asuhan.”
“Apa?!” pekik Laila terkaget-kaget. “Ceritakan padaku!”
“Cerita mereka jauh lebih panjang dan rumit dari ceritamu.” Jessica dengan terang-terangan menolak gagasan yang dicetuskan Laila karena ia jelas tidak mau menghabiskan waktunya dengan menceritakan kisah rumit pasangan Eden dan Aciel.
“Mereka memiliki kisah yang rumit, tapi kurasa itu sebanding dengan kebahagiaan yang sekarang terlihat dari keluarga mereka. Sikap brengsek Aciel juga telah sembuh setelah Eden datang untuk menyelamatkan jiwa rusaknya. Dan di depan kalian, aku terang-terangan memuji Eden sebagai wanita yang hebat.”
“Kami pulang!”
“Ya Tuhan!” pekik Jessica panik saat mendengar suara teriakan Eden dan anak-anak mereka dari pintu depan. “Jangan katakan apapun pada Eden jika aku baru saja memujinya.”
__ADS_1
“Jangan katakan apa?”
Tiba-tiba Eden telah menyembulkan kepalanya dari balik pintu dapur yang terbuka lebar. Wanita hamil itu mengernyitkan dahinya penuh selidik kearah perkumpulan ibu-ibu muda yang seketika berubah tegang. Ekspresi wajah mereka yang tidak biasa justru memancing rasa ingin tahu Eden menjadi lebih meluap-luap.
“Kalian pasti sibuk membicarakanku selama aku pergi.” tebak Eden santai, namun hanya dibalas dengan gumaman tidak jelas dari bibir Laila.
“Mana anak-anak?” tanya Olivia mengalihkan perhatian mereka dari topik mengenai Eden.
“Di depan. Mereka seperti tidak memiliki rasa lelah. Setelah berkuda selama dua jam di peternakan, mereka lanjut berlari-lari di halaman depan. Ya Tuhan, pinggangku rasanya hampir remuk karena menunggui mereka sepanjang hari.” keluh Eden yang merasakan pegal yang luar biasa di pinggulnya.
“Minum, Ed. Kau terlihat pucat. Segeralah beristirahat setelah ini karena kau sedang hamil.”
“Oh Tuhan, terimakasih Liv.”
Eden langsung meneguk habis air putih yang disodorkan Olivia kerahnya, dan dengan punggung tangannya Eden menyeka sisa air putih yang menempel di bibirnya.
“Jadi, apa yang telah kalian bicarakan selama aku pergi?”
“Ahh... kurasa aku akan pergi mandi.”
“Kueku sudah matang, aku harus melihatnya.”
“Dan aku harus membuatkan Justice susu.”
Ketiga wanita itu kompak menjauh dari Eden dan membuat Eden gusar di meja makan karena ditinggalkan begitu saja.
“Kalian menyebalkan!”
-00-
Viilla milik Sian adalah paket lengkap liburan yang begitu menakjubkan untuk keluarga yang biasanya selalu super sibuk itu. Setelah siang tadi mereka menghabiskan waktu dengan berkuda dan makan makanan masakan Olivia dan Laila hingga kenyang, sore ini mereka telah memiliki agenda lain yang tak kalah menyenangkan. Berenang!
Yeah, anak-anak hari ini mengabaikan tidur siang dan memilih membuat tubuh mereka lelah dengan berlari lari mengitari sudut rumah. Dan setelah Sian selesai mengisi kolam dengan air yang sangat banyak, mereka langsung saja merengek untuk berenang. Hyena dan Marc yang sudah tidak sabar, langsung saja menceburkan dirinya ke dalam kolam yang tak terlalu dalam itu. Apalagi kedua bocah itu sudah dilatih berenang sejak bayi, sontak saja kolam renang sudah seperti rumah ke dua untuk mereka.
“Mau berenang juga?” tanya Olivia pada Jessica yang telah siap dengan pakaian renangnya yang seksi.
Meskipun Jessica mengeluhkan dirinya buruk, tapi tetap saja ia berlari kearah kolam renang dan ikut bergabung bersama anak-anaknya yang heboh.
“Kau tidak bergabung juga dengan mereka, Ed?”
“Tidak terimakasih. Aku lebih suka di sini bersama si kecil Justice, iya kan Justice sayang?” Eden menggoyang-goyangkan Justice gemas di atas pangkuannya, dan balita mungil itu langsung tertawa terbahak-bahak menanggapi candaan Eden.
“Apa Justice boleh berenang?”
Tiba-tiba Aciel muncul dari dalam kolam renang dengan air yang menetes-netes dari ujung kepala hingga ujung kaki. Otot-otot perutnya yang terbentuk sempurna menjadi lebih menawan dengan buliran air yang terjatuh turun seperti anak sungai kecil saat melewati celah-celah otot Aciel yang seksi.
“Kurasa tidak apa-apa. Sian masih mencari celana renangnya di kamar.” beritahu Olivia yang terlihat terus mencari-cari keberadaan suaminya di dalam rumah.
“Kalau begitu biarkan Justice berenang dengan pamannya yang tampan ini. Ayo baby, kita berenang bersama Lutherford bersaudara.”
Justice langsung berteriak kegirangan saat tangan kecoklatan Aciel mengangkat tubuhnya tinggi ke udara dan membawanya menuju kolam renang bersama anak-anaknya.
“Dia menjadi family man sekali ya.” komentar Olivia memperhatikan Aciel yang dengan luwesnya menggendong Justice untuk berenang bersamanya.
“Padahal dulu dia saangat tidak menyukai anak-anak. Bahkan dia dengan terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya itu tepat di depan wajahku yang saat itu masih berusia remaja.” cerita Eden berapi-api. Bagaimanapun ingatannya saat Aciel pertama kali menjemputnya dari panti asuhan tidak akan pernah terlupakan sedikitpun dari otaknya. Meskipun ia mengalami amnesia, tapi ia heran mengapa ingatan itu tidak ikut menghilang dari otaknya.
“Jadi cerita itu benar?”
“Oh.. Sian pasti sudah pernah menceritakannya padamu, walaupun hanya sedikit. Tapi itu benar, Olive!” seru Eden penuh semangat. Tangannya yang tadinya diam di atas paha, kini menjadi gatal untuk dihentak-hentakan di atas meja.
“Kau adalah anak yang akhirnya menjelma sebagai istri idaman? Itu hebat!” balas Olivia bertepuk tangan. Tanggapan Olivia itu membuat Eden terbahak-bahak dan merasa terharu karena mendapatkan pujian yang begitu tulus dari wanita sepolos Olivia. Sejak dulu ia selalu dianggap sebelah mata karena hubungannya dengan Aciel. Mungkin baru akhir-akhir ini ia mulai merasakan kenyamanan sebagai istri Aciel dengan anak-anak yang sangat menggemaskan mengelilinginya.
“Kau wanita yang hebat, Ed.”
“Kau juga. Kita semua adalah wanita yang hebat dengan jalan kita masing-masing.” ucap Eden bangga. “Nanti saat kita semua telah menua, kita akan memiliki cerita yang menarik untuk diceritakan pada anak cucu kita. Terkadang aku memikirkan hal itu saat sedang melamun sendiri di rumah.” Eden terkekeh menceritakan kebiasaannya yang aneh di rumah saat kedua anaknya sudah tidur atau ketika Ciara masih berada di sekolahnya.
__ADS_1
“Bagaimana perasaanmu saat kau tahu jika kau memiliki bayi kembar?”
“Kau pasti tidak akan percaya.” jawab Eden dengan binar-binar bahagia di wajahnya. “Aku melompat-lompat di atas kasur seperti orang gila setelah pulang dari rumah sakit. Bahkan Aciel langsung heboh menarikku turun karena takut anaknya akan terguncang-guncang di dalam perutku.” Eden tertawa terbahak-bahak. Setiap kali ia mengingat peristiwa itu, ia pasti akan menertawakan kelakuannya yang bar-bar hingga membuat Aciel benar-benar menatapnya ngeri saat itu.
“Ya Tuhan, kau benar-benar. Tapi itu wajar, Ed. Wanita mana yang tidak akan segirang itu jika dalam sekali melahirkan ia akan mendapatkan dua bayi sekaligus. Biar kutebak, anakmu pasti laki-laki.”
Eden langsung menggeleng mantap dengan tawa keras saat mendengar tebakan Olivia yang meleset.
“Bukan? Kupikir dia laki-laki karena kau masih saja aktif disaat kehamilan seperti ini.”
“Kau salah!”
“Kalau begitu tentu saja perempuan.”
“Bukan.”
“Apa? Jadi...”
“Hmm.. laki-laki dan perempuan.” beritahu Eden girang. Ia tak bisa tidak heboh jika membicarakan calon bayinya yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Keluarganya akan menjadi semakin lebih lengkap dengan kehadiran bayi kembar mereka nantinya.
“Sulit dipercaya, tapi kau mengagumkan, Ed!” puji Olivia tak kalah heboh.
“Kau juga harus menyusul kalau begitu.”
“Apa?” tanya Olivia tiba-tiba dengan mimik sendu.
“Apa ada masalah?” tanya Eden khawatir. Perubahan wajah Olivia yang tiba-tiba itu membuat Eden khawatir pada keadaan Olivia. Apalagi kegugupan Olivia kini semakin terlihat jelas saat wanita itu mulai bergerak-gerak gelisah untuk menghindari topik pembicaraan ini.
“Aku sepertinya harus mengambilkan handuk untuk Justice. Ia sudah mulai kedinginan.” ucap Olivia segera bangkit dan menghilang masuk dibalik pintu.
Tatapan mata Eden masih terus terpaku pada pintu coklat yang baru saja menelan bayangan Olivia. Ia pikir selama ini mereka sudah sangat dekat seperti saudara, tapi ternyata mereka tetap memiliki penghalang tak kasat mata yang membuat Olivia tidak bisa benar-benar terbuka padanya. Dan meskipun Eden tidak ingin mengakui,
tapi sedikit banyak ia merasa jika Olivia terlalu merasa memiliki banyak hutang budi padanya dan Aciel. Semua yang ia lakukan selama ini untuk pernikahannya hingga sekarang Olivia telah memiliki Justice dianggap sebagai sebuah kebaikan yang bersifat hutang budi oleh Olivia. Meskipun Eden sendiri selalu tulus melakukannya dan tidak pernah mengharapkan balasan apapun. Tapi Olivia tidak pernah menganggapnya demikian.
“Dimana Olive?” tanya Aciel yang baru saja keluar dari kolam renang dengan Justice di dalam pelukannya sedang merapatkan tubuhnya pada Aciel karena kedinginan.
“Mengambilkan Justice handuk.” jawab Eden pendek.
“Justice menggemaskan.” Aciel terus mengelus-elus punggung Justice yang begitu tenang di dalam gendongannya. Bisa dibilang jika Justice adalah bayi ke dua yang digendong Aciel setelah Louise.
“Apa dulu Ciara juga menggemaskan seperti ini?”
“Kurasa seperti itu. Aku tidak ingat saat melahirkan Ciara, Ace.” gerutu Eden frustrasi. “Andai saja amnesia itu bisa disembuhkan dengan membenturkan kepala seperti yang sering diperlihatkan di drama-drama murahan itu.” gerutu Eden lagi dengan perasaan sedih. Sampai kapanpun ia tidak akan mendapatkan ingatannya kembali. Kecuali jika ia mendapatkan keajaiban dari Tuhan untuk itu.
“Ck, tidak ada yang seperti itu, Ed. Itu pembodohan publik.” Salah satu tangan Aciel tiba-tiba terulur untuk menggenggam jari-jari Eden yang tersimpan di atas pangkuannya. “Sebentar lagi kita akan memiliki bayi perempuan dan laki-laki. Aku tidak sabar untuk menyambut mereka.” Dengan gerakan cepat Aciel menundukan
kepalanya dan mencium bibir Eden lembut penuh kemesraan. Satu-satunya wanita yang berhasil membuat Aciel gila dan melahirkan keturunan Lutherford yang berharga. Aciel sungguh tidak akan pernah melupakan seluruh pengorbanan yang dilakukan Eden untuk kehidupan keluarga manis mereka.
“Aku selalu mencintaimu.”
“Aku....”
“Awh.... manis sekali pasangan Lutherford ini.”
“Jangan iri pada kami, Sica.” balas Aciel tak peduli dan tetap mencium Eden dengan mesra.
“Ya Tuhan, Sian!” panggil Jessica heboh. “Putrimu tergencet diantara tubuh bergairah Aciel pada Eden. Cepat selamatkan anakmu!” lanjut Jessica lagi berlebihan. Laila yang ada di sana terkikik puas melihat kegusaran yang terpatri di wajah Aciel.
“Dasar pengganggu. Nath! Kriss! Bawa pergi istri kalian dari sini.”
“Ya ampun, kau kasar sekali pada kami, Ace. Ckckck... istrimu sedang mengandung, tidak baik marah-marah di depan bayimu yang belum lahir.”
“Persetan dengan itu. Pegang Justice, Ed. Aku akan mandi sekarang.”
Aciel pergi begitu saja dengan kedongkolan yang mencapai ubun-ubun karena ulah jahil Jessica dan Laila.
__ADS_1
“Nah kan, aku tidak akan bertanggungjawab atas kemarahan Aciel.” ucap Eden yang langsung berlalu masuk untuk mengeringkan tubuh Justice.