Black Swan

Black Swan
EVERYTHING GONNA BE ALRIGHT


__ADS_3

Ketika Olivia membuka mata pertama kali di pagi yang sunyi dan dingin ini, ia hanya bisa mendesah keras sambil


memandangi langit-langit kamarnya yang bersih, dan akan selalu begitu. Ukiran-ukiran rumit yang ditempatkan di permukaan dinding kamarnya menjadi pemanis yang sangat cantik untuk dipandang setiap pagi. Tapi benarkah ukiran-ukiran itu dapat membuat pagi harinya menjadi lebih indah? Jawabannya tidak.


            Tidak ada yang lebih indah di pagi harinya semenjak semua bencana itu terjadi menimpanya bertubi-tubi. Ia bahkan nyaris tak bisa bangkit untuk memulihkan kondisinya pasca kejadian itu. Scout yang meninggalkannya dan juga anaknya. Lalu Sian yang berubah lebih kaku saat bersamanya. Pria itu menghindarinya.


            Sejauh ini pria itu sudah sangat berbaik hati padanya. Sian sama sekali tidak menceraikannya setelah kejadian menyakitkan itu. Sebaliknya, Sian menerimanya kembali sebagai istrinya, tapi hanya untuk status.


Yeah, pernikahannya dengan Sian tidak lagi sama setelah hari penculikannya yang dilakukan oleh Scout. Sian bukan lagi suaminya yang dulu. Dia telah berubah menjadi pria pendiam yang kurang hangat dengan keluarganya.


            Sedikit banyak ia tahu alasan Sian melakukan hal itu pada mereka— Dia, Justice, dan juga Scout **. Sian terluka dengan semua kejadian yang menimpa rumah tangganya. Pria itu masih tidak bisa mempercayai kenyataan yang sedang menamparnya saat ini bahwa istrinya telah membagi cintanya dengan pria lain setelah disekap selama berbulan-bulan di rumahnya.


            Padahal sebelumnya ia pikir Sian adalah pria hebat dengan hati sekuat baja yang tidak mudah tersakiti oleh apapun. Namun melihat apa yang telah terjadi pada Sian selama dua bulan terakhir ini membuat Olivia pesimis bahwa Sian adalah pria yang sehebat itu.


            Sian tidak pernah sehebat itu. Dia hanya manusia biasa yang bisa merasakan sakit. Hatinya, bagaimanapun bukan terbuat dari baja. Hatinya yang lembut terbuat dari gumpalan darah yang kapanpun bisa saja tergores dan terluka. Dan saat ini Sian sedang merasakan luka yang begitu dahsyat di hatiya karena pengkhianatan istrinya yang tidak bisa menghargai kebaikannya sama sekali.


            Sambil merasakan perih di dada yang seakan-akan sedang mencubitnya, Olivia mengelus sisi tempat tidurnya yang selalu kosong. Sisi itu terasa sangat dingin di telapak tangannya yang nyaris beku karena kehampaan yang ia rasakan saat ini. Ia tidak pernah ditemani oleh siapapun sejak ia kembali ke rumah ini. Sian dengan terang-terangan menyatakan diri untuk tidak mendekatinya selama ia masih belum bisa menghilangkan bayang-bayang buruk kehidupan pernikahannya yang kacau. Sian menghindarinya. Sian lebih memilih tidur di kamar tamu yang sekarang telah diklaim sebagai kamar abadinya karena Sian sepertinya tidak berencana untuk pindah ke kamar utama yang saat ini ditempati olehnya bersama Scout **.


Betapa sedihnya hatinya setiap kali terbangun tanpa belaian lembut dari Sian atau tanpa senyum manis dari Sian sambil menggumamkan selamat pagi dengan serak. Ia telah kehilangan semua kehangatan itu karena kebodohannya sendiri. Dengan serakah ia menerima Scout yang saat itu mulai menunjukan rasa cintanya padanya. Ia membiarkan Scout menikahinnya dan membuat cintanya  untuk Sian terbagi dengan sangat menyakitkan.


“Bayimu menangis. Olive?”


Dia berjengit terkejut dengan sentuhan yang terasa seperti tusukan pisau di bahunya. Ia segera menoleh ke arah pria yang mengejutkannya sambil tersenyum getir.


“Maaf, aku... aku sedang agak lelah,” jawabnya beralasan.


Sian memberikan tatapan dingin yang membekukan, kemudian ia segera keluar dari bekas kamarnya yang kini terasa sangat dingin tanpa kehangatan darinya.


Setelah Sian menutup pintu kamarnya, ia langsung menelungkupkan kepalanya di atas lututnya yang ia tekuk hingga sebatas dada. Tak peduli pada suara tangis Scout yang menjerit-jerit di dalam baby cribnya, ia tetap saja menangis di kamar itu bersama bayinya yang kini sedang lapar, menunggunya untuk memberi makan.


Ia sudah tidak kuat menahan ini semua. Kedinginan yang ditunjukan Sian selama ini membunuhnya perlahan-lahan. Padahal saat hendak membawanya pulang dari Dallas, Sian berjanji akan menyayanginya dan bayinya tak peduli apa. Tapi sekarang janji itu terasa palsu. Sian tidak pernah menyayanginya lagi seperti dulu. Ia bahkan juga tidak peduli pada Justice.


Gadis kecilnya yang malang telah dibiarkan tumbuh tanpa kasih sayang yang utuh dari orangtuanya. Mungkin gadis itu juga tahu bagaimana kondisi ibunya yang menyedihkan sehingga ia lebih sering pulang ke rumah Eden selepas pulang sekolah dengan alasan ingin bermain bersama Louise. Padahal ia tahu alasan Justice pulang ke rumah Eden karena gadis itu lebih merasa diterima di sana daripada di rumahnya sendiri. Justice merasa memiliki orangtua lengkap di sana. Apalagi setelah dia tinggal hampir satu tahun bersama Eden dan anak-anaknya. Terkadang hal itu membuatnya merasa miris. Anaknya sendiri lebih nyaman bersama orang lain.


“Mommy?”


Olivia tersenyum ke arah Justice yang telah rapi. Pakaiannya yang berupa dress berwarna biru muda mengembang indah di  kaki-kakinya yang mungil. Di belakangnya, Jesslyn tersenyum lembut ke arah Olivia sambil ikut melongokan kepalanya melalui celah pintu bersama Justice.


“Hai sayang, kau sudah siap untuk berangkat ke sekolah bersama Jesslyn, hmm?”


“Dia sangat bersemangat pergi ke sekolah, nyonya.”


“Hmm tentu saja.” Sambil menjepit hidung Justice pelan, Olivia berbisik di depan wajah anaknya yang terkikik-kikik. “Itu pasti karena Louise Lutherford juga ada di sana. Ckckck, Eden bilang dia merengek ingin ikut ke sekolah bersama Louise. Ia sampai harus memohon-mohon pada kepala sekolah agar Justice bisa diterima di kelas pre-school. Meskipun dia menjadi murid termuda di sana.”


“Mereka sangat kompak sekali, nyonya. Louise kadang menjahili Justice, tapi mereka saling menyayangi.”


Olivia tersenyum lembut ke arah pengasuh putrinya. Ia sangat bersyukur Jesslyn sejak dulu selalu ada bersama Justice  meskipun Justice tinggal di rumah Eden. Jesslyn tidak pernah pergi kemanapun dari sisi Justice dan tetap mengasuhnya dengan baik.


“Terimakasih banyak Jess.”


“Sama-sama nyonya. Maaf, bayi anda menangis.”


Astaga!


Olivia benar-benar lupa pada Scout **. Ia sudah menangis sejak sepuluh menit yang lalu, tapi ia justru membiarkannya terus menangis sampai suaranya nyaris hilang.


“Mommy, kenapa Scout menangis?”


“Ssshhh... sayang, mommy di sini nak. Scout lapar, Justice,” ucap Olivia sambil membelai pipi Scout yang merah dengan perlahan.


Bayi itu menghentak-hentak di dalam gendongan Olivia, menyuarakan protes karena ibunya telah mengabaikannya sejak tadi.


“Kau akan berangkat dengan daddy?”


“Tuan Sian sudah berangkat ke kantor sejak tadi. Sepertinya sangat terburu-buru sampai tidak sempat sarapan.”


Olivia mengangguk samar. Ia sudah jarang berada di meja makan bersama Sian untuk sarapan bersama. Mungkin terakhir kali mereka berada di meja yang sama adalah dua bulan yang lalu saat ia baru pertama kali kembali ke rumah Sian.


Saat itu ia masih berperan sebagai istri seperti biasanya. Ia bangun pagi untuk memasak dan menyiapkan segala keperluan Sian dan anak-anaknya. Saat itu ia masih belum menyadari ketidakhadiran Sian di kamarnya sebagai suatu penghindaran karena Sian beberapa kali beralasan jika ia ketiduran di ruang kerjanya selagi mengerjakan tugas-tugas yang diberikan Aciel padanya. Namun setelah seminggu berlalu dan Sian masih tidak ia temukan berada di sisi tempat tidurnya setiap kali ia bangun, ia menjadi curiga.


Suatu pagi ia keluar dari kamar untuk memastikan keberadaan Sian di ruang kerjanya. Ia berjalan sangat pelan di hari yang masih terlalu pagi hingga matahari bahkan belum muncul di atas langit untuk menunjukan sinarnya.


Ia berjalan ke arah ruang kerja Sian di lantai satu. Lalu saat ia membuka ruangan itu, ia agak terkejut dengan suasana ruang kerja Sian yang sangat sunyi. Tidak ada berkas-berkas yang berserakan di atas meja sebagai tanda bahwa Sian selama ini sibuk bekerja hingga ketiduran di tempat itu. Ruang kerja Sian sangat bersih, hanya diisi sebotol Jack Daniels di atas meja yang isinya sudah kosong.


Merasa bahwa selama ini Sian telah berbohong, ia lalu pergi ke kamar tidur tamu yang selama ini jarang digunakan. Namun ketika ia membuka pintu kayu itu, ia melihat Sian sedang berada di atas tempat tidur, lengkap dengan piyamanya yang berwarna abu-abu. Selain itu kamar tamu yang ditempati oleh Sian juga tidak tampak seperti baru ditempati. Kamar itu terlihat seperti sudah lama ditempati karena Sian menggantung jubah tidurnya di dekat lemari.


Karena penasaran, ia lalu membuka lemari di kamar tamu itu lebar-lebar dan menemukan sebagian pakaian Sian tergantung di dalamnya dengan rapi. Pakaian-pakaian yang tidak pernah ia sadari telah hilang dari lemari di kamar mereka, ternyata telah berada di dalam lemari itu.


Hatinya sangat hancur saat mengetahui perbuatan Sian yang sengaja menghindarinya selama ini. Ia pikir Sian benar-benar sedang lembur mengerjakan pekerjaan kantor, ternyata pria itu hanya beralasan untuk menghindarinya.


Lalu saat Sian terbangun dan menemukannya sedang melamun di pinggir tempat tidurnya, pria itu tidak mengatakan apapun. Ia hanya melihatnya sekilas, kemudian meninggalkannya begitu saja untuk pergi kamar mandi dan bersiap-siap menuju kantor.


Sian tahu ia tidak bodoh. Jadi pria itu sama sekali tidak perlu menjelaskan apapun tentang sikapnya karena dia sangat yakin ia pasti tahu apa yang selama ini terjadi pada mereka. Tapi terkadang ia sangat ingin mendengarkan penjelasan dari Sian. Ia ingin tahu apa yang selama ini dirasakan oleh pria itu dan bagaimana ia bisa menebusnya agar mendapatkan maaf dari pria itu.

__ADS_1


“Mommy!”


Lagi, dia terkejut karena lamunannya diusik begitu saja. Matanya mengerjap sekali untuk menyesuaikan dengan suasana kamarnya yang sangat hening dan hanya diisi oleh suara teriakan Justice yang terdengar kesal.


“Ada apa sayang?”


“Mommy tidak mendengarkan Justice?”


“Maaf, mommy sedang memikirkan sesuatu. Ada apa?”


Olivia sedikit membenahi letak duduknya dan posisi bayinya yang sedang menyusu. Bibir bayi mungil itu tampak lucu saat menyedot ****** susunya dengan gerakan aktif. Pantas saja ia mengamuk beberapa saat yang lalu. Ia sangat kelaparan.


“Hari ini mommy Eden mengajakku pergi ke rumah Hyena.”


“Benarkah? Pasti menyenangkan. Kau boleh pergi bersama mommy Eden, tapi kau harus menjadi gadis yang baik.”


“Aye aye mommy. Bye mommy.”


Gadis itu berlari-lari kecil dengan kakinya yang mungil. Senyum lebarnya berhasil membuat hati Olivia merasa perih.


Justice terlihat sangat bahagia bersama Eden. Ia bahkan sangat jarang melihat Justice sebahagia itu saat bersamanya. Meskipun Justice selalu menjadi gadis yang baik dengan membantunya menjaga Scout jika ia sedang sibuk menyiapkan keperluan bayi mungil itu, tapi tetap saja ada sesuatu yang hilang dari diri Justice saat berada bersamanya. Gadis itu kehilangan kebahagiaannya sebagai seorang anak perempuan bersama ibunya.


“Jesslyn tolong jaga Justice dengan baik.”


“I will, ma’am. Kalau begitu saya pergi dulu.”


Setelah Jesslyn keluar dari kamarnya, ia kembali menangis tersengguk-sengguk di kamarnya yang sunyi.


Satu persatu air matanya menetes di atas permukaan pipi Scout yang sedang menyusu padanya dengan rakus.


Namun seakan menyadari kesedihan yang sedang dirasakan oleh ibunya, Scout ** merengek pelan di dalam dekapan ibunya lalu menggeliat tidak nyaman beberapa kali selama ibunya menangis.


Melihat itu Olivia segera menghentikan tangisnya dan menepuk-nepuk paha Scout pelan agar bayi mungil itu berhenti rewel.


“Ssshh... mommy baik-baik saja nak. Mommy tidak menangis lagi,” bisik Olivia lembut di telinga Scout kemudian mengecup pipinya lembut penuh perasaan.


-00-


Mendaratkan satu kecupan lagi, Aciel kemudian berguling dari atas tubuh Eden dengan ******* puas. Tak pernah sekalipun ia kecewa dengan tubuh Eden meskipun sudah bertahun-tahun mereka bersama, baik sebagai partner maupun suami istri. Mungkin benar apa yang dikatakan orang-orang kolot tentang cinta. Jika kau sudah mencintai seseorang, kau tak akan pernah bosan pada orang itu. Seberapa sering kau menghabiskan waktu bersamanya, rasa cinta itu akan tumbuh semakin besar setiap harinya.


Ahh... Dia tidak bisa berhenti bersyukur atas semua kebahagiaan yang ia dapatkan hingga sejauh ini. Hidupnya sudah sangat lengkap dengan Eden dan juga anak-anaknya yang berharga. Bahkan tak terasa si kembar sebentar lagi akan berusia satu tahun.


Tidak mengizinkan Eden tertidur, Aciel mengulurkan tangannya dengan posisi miring untu menyingkirkan helai-helai rambutnya yang menempel di kening Eden yang dipenuhi keringat.


“Ace, jangan menggodaku. Kupikir malam ini kau agak gila.”


“Kau yakin ini malam?”


Sambil menaikan selimutnya hingga sebatas dagu, Eden melirik ke arah tirai kamarnya yang masih menunjukan siluet gelap dari luar kamar mereka yang berhadapan langsung  dengan kebun rumah mereka yang luas.


“Masih gelap di luar sana.”


“Ini pukul empat pagi.”


“Oh Tuhan! Aku harus tidur kalau begitu. Pekerjaanku masih sangat banyak begitu matahari bersinar terang nanti,” Eden menggerutu sebal.


Jelas sekali Aciel menghalanginya yang baru saja akan memejamkan mata. Padahal jika Aciel sedang sangat lelah, ia tidak pernah mengganggu waktu istirahat pria itu. Sebaliknya, ia membiarkan Aciel tidur dengan nyaman tanpa gangguan dari anak-anaknya yang berisik. Terutama Louise jika ia sudah mulai berulah menggoda Ciara.


“Kau tahu, aku masih sangat merindukanmu, Ed. Kurasa kau harus ikut aku ke Portugal minggu depan. Ada perjalanan bisnis selama tiga hari.”


“Kau tega meninggalkan anak-anak hanya dengan para pelayan? Ck, Lean bahkan sedang sangat rewel saat ini. Dia manja sekali padaku karena giginya tumbuh dan gusinya sakit.”


“Aku juga terkadang merasa terlalu sibuk hingga tidak sempat menghabiskan waktu bersama mereka. Apa kata Ciara tentang aku dan kesibukanku?”


“Daddy menyebalkan!”


Aciel tertawa mendengar Eden menirukan gaya anak sulungnya yang sering melayangkan protes pada ibunya karena ayahnya yang super sibuk. Bulan lalu ia bahkan tidak datang ke pertunjukan drama pertama Ciara di sekolahnya karena kebetulan ia sedang memimpin rapat bersama para aparat penegak hukum untuk menjalankan kampanye anti polusi udara.


“Nanti setelah Louise dan si kembar agak besar, bukan hanya Ciara yang akan melayangkan protes, kau akan didemo oleh keempat anak-anakmu, Ace. Ck, jangan terlalu sibuk, kami membutuhkanmu.”


Oh, dia tidak akan bisa tahan bila Eden mulai menunjukan wajah menggemaskan lengkap dengan belaian lembut di wajahnya. Oh sial! Ia mulai bergairah lagi pada Eden. Ia ingin memakan wajah menggemaskan Eden sekarang juga.


“Aku juga membutuhkanmu sayang.” Meraih tangan Eden di wajahnya, ia lalu menundukan wajahnya di depan bibir Eden lalu menciumnya dengan keras penuh gairah.


“Aku tidak pernah puas denganmu sayang.”


Menjawab bisikan Aciel di depan bibirnya yang bengkak, Eden kemudian menggigit bibir Aciel dengan gigitan menggoda yang dibarengi dengan belaian lidahnya yang ahli. Ia tahu Aciel paling suka dibelai dengan cara yang seksi.


“Eden, aku bersumpah kau tidak akan pernah tidur selama aku di sini.”


“Jangan berani-berani mengusik waktu tidurku.”


Eden mengakhiri belaiannya di bibir Aciel lalu berguling di atas tubuh Aciel. Dengan senyuman nakal ia berbaring di atas tubuh suaminya dan mengabaikan erangan tertahan Aciel yang terdengar menderita. Dalam hati Eden tersenyum menyaksikan suaminya tersiksa di bawahnya. Ia senang menggoda Aciel seperti itu sekaligus ia juga

__ADS_1


senang berbaring di atas tubuh Aciel sambil mendengarkan detak jantung Aciel yang merdu.


“Kau sengaja ingin menyiksaku, heh?”


“Hmm...” Dengan gumaman Eden menjawab sambil meletakan tangannya di atas bibir Aciel untuk membungkam bibir itu dari aksi protes. Namun Aciel dengan nakal justru menjilat telapak tangan Eden di mulatnya dengan gerakan berputar-putar yang terasa menyenangkan bagi Eden.


“Begini lebih baik. Aku akan tidur nyenyak.”


“Sedangkan aku tidak. Kau menyebalkan kau tahu?”


Suara tawa Eden terdengar lembut dan menggelitik di atas dadanya. Pria itu menyempatkan diri untuk menundukan kepalanya sekilas ke arah kepala Eden yang bergerak-gerak di dadanya.


“Ace, kau tahu tidak?”


“Tidak jika kau tidak mengatakannya.”


“Ck, aku serius.”


Eden mengangkat kepalanya dengan gusar hanya untuk melihat wajah Aciel yang menyeringai ke arahnya.


“Aku juga sangat serius ingin memakanmu sekarang.”


Tanpa mempedulikan godaan Aciel, Eden kembali merebahkan kepalanya di atas dada Aciel.


“Bagaimana kabar Sian sekarang? Mereka belum berkunjung ke sini sejak bulan lalu. Hanya Justice yang sering datang bersama pengasuhnya.”


“Rumah tangganya sedang sangat kacau. Meskipun Sian tidak pernah membicarakannya, tapi dia selalu datang ke kantor dengan wajah kusut.”


“Hmm... kurasa juga begitu. Hubungan mereka tidak lagi sama setelah peristiwa itu. Aku sangat bersyukur dengan keadaan kita saat ini. Teman-teman kita sedang memiliki masalah dan kita masih bisa menghabiskan waktu bersama.”


“Maksudmu bercinta?” Aciel terkekeh pelan. Ia langsung mengecup bibir Eden cepat saat wanita itu mengangkat kepalanya untuk memprotes.


“Sshh... kubilang jangan menggodaku Aciel. Astaga wajahku merah.”


“Sudah kubilang kau itu menggemaskan. Sayang aku ingin memakanmu.”


“Aku lelah Ace. Ngomong-ngomong Sian tidak pernah ikut dalam perjalanan bisnis?”


“Dia tidak pernah mau. Aku mengajaknya ke Barcelona dua minggu lalu, dia menolak. Moodnya sangat buruk akhir-akhir ini. Semua karyawan di divisinya mengeluhkan sikap galaknya. Aku sudah berusaha berbicara dengannya, tapi dia selalu berkelit.”


“Kurasa Olivia juga begitu. Setiap aku menelponnya dia hanya membalas seadanya dengan malas-malasan. Tidak ada gairah dalam suaranya setiap bicara denganku. Ia terkesan ingin menghindariku. Menurutmu Sian bisa menerima bayi itu?”


“Jika aku menjadi dia, aku lebih baik membunuhnya atau membuangnya ke suatu tempat. Apapun asal tidak


melihatnya. Itu hanya akan menyakitkanku setiap kali melihat ada anak pria lain di rumahku. Kurasa kondisi Sian seperti itu. Dia menghadapi gejolak batin karena kenyataannya dia tidak bisa menerima kehadiran bayi itu seperti apa yang pernah ia katakan dulu.”


“Kau benar. Tapi aku bangga padanya karena berusaha untuk mempertahankan hubungan rumah tangganya  demi kesejahteraan Justice. Gadis itu yang paling menderita dalam masalah rumah tangga mereka. Karena itu aku


selalu senang jika dia berada di sini dan menjadi salah satu dari anak-anakku. Dia terlihat sangat bahagia saat bermain bersama Ciara, Louise, dan si kembar.”


“Meskipun aku pria brengsek, aku juga tidak suka bila melihat anak semuda Justice harus menjadi korban dari keegoisan orangtuanya.”


“Kalau begitu kita memang sangat diberkati, Ace. Aku bahagia memilikimu dan anak-anak. Kudengar saat ini Laila sudah sehat dan beraktivitas lagi sebagai dokter. Tapi akibat dari kecelakaan itu membuat salah satu indung telurnya harus diangkat. Kemungkinan dia memiliki anak lagi akan semakin sulit. Kau tahu, aku menangis saat dia memberitahuku hal itu di telepon. Oh Tuhan, kita diberkati empat orang anak. Bukankah kita sangat beruntung Ace?”


Membalas kata-kata Eden yang penuh emosi, Aciel menyematkan ciuman lembut dan panjang di puncak kepala Eden.


Wanita itu bukan satu-satunya yang merasakan diberkati akhir-akhir ini. Sejujurnya dia juga. Apalagi jika melihat kondisi rumah tangga ketiga teman-temannya.


“Kemarin Jessica menghubungiku. Kasusnya sudah selesai. Dia memenangkan perkaranya. Tapi...”


“Tapi?” tanya Eden setengah mengantuk. Matanya sudah terpejam separuh saat Aciel sengaja menggantung kata-katanya.


“Tapi Jessica mengalami stress berat karena plagiarisasi itu. Kondisi kesehatannya menurun hingga ia sempat dirawat di rumah sakit. Untungnya sekarang ia telah pulih dari kondisi stressnya setelah berkonsultasi beberapa kali pada psikolog.”


“Wanita itu selalu gembira. Maksudku dia jarang memasukan masalah-masalah ke dalam pikirannya


karena dia lebih suka mengalihkan perhatiannya pada desain-desain baju yang dibuatnya. Masalah kemarin benar-benar telah mengacaukan hidupnya. Apa pihak yang membuat masalah dengannya bukan orang sembarangan?”


“Bukan. Dia seorang pemilik garment yang telah menjalankan bisnisnya selama bertahun-tahun. Selama ini pria itu licik karena dia merasa memiliki uang untuk melawan para pemilik ide yang biasanya ia curi. Tapi kali ini ia berurusan dengan orang yang salah.” Aciel mendengus. Membayangkan sikap keras kepala Jessica dan keuletannya, ia yakin Jessica pasti akan memenangkan kasus itu.


“Sayangnya mereka berdua memiliki watak yang sama. Jessica yang keras kepala mencurahkan terlalu banyak energinya pada kasus itu, sehingga ia dilanda kestresan yang parah. Kriss dulu mengatakan padaku bahwa Jessica sangat khawatir ia tidak akan menang melawan si keparat licik itu. Dengan senang hati aku akan memberikan bantuan pada mereka. Namun Kriss dengan halus menolaknya dengan alasan bahwa ia akan meminta bantuanku sebagai usaha terakhir jika semua usahanya menuai kegagalan. Tapi syukurlah mereka berhasil mengalahkan si keparat jahanam itu.”


“Ssshhh... Ace, kau harus memperhatikan kata-katamu.” Dengan terkantuk-kantuk Eden meletakan


telapak tangannya di atas permukaan bibir Aciel. “Terutama Louise, ia sedang sangat suka menirukan semua kata kata yang didengarkannya di dalam rumah ini. Aku tidak ingin dia menirukan kata-kata kasar itu sebelum ia tahu untuk apa kata-kata itu diucapkan. Jadi kumohon perhatikan kata-kata yang terlontar dari bibirmu.”


Aciel mengecup jari-jari Eden lembut penuh perasaan. Inilah wanita yang benar-benar ia inginkan menjadi istrinya. Wanita yang bisa menjaga keluarganya dengan baik dan bukan wanita pesolek yang hanya suka menghambur-hamburkan hartanya.


“Kau tahu Ed, keberuntunganku yang paling besar adalah memilikimu. Kau telah berhasil mematahkan seluruh keraguanku tentang memiliki keluarga dan kau telah berhasil menghilangkan seluruh traumaku karena ketidak berhasilan orangtuaku dalam menjalankan peran mereka sebagai orangtua. Karena dirimu, aku berhasil menjadi seorang ayah dan seorang suami yang terberkati. Terimakasih Ed. Terimakasih banyak.”


Suara dengkuran halus di dadanya dan gerakan teratur nafas Eden yang terasa lembut di atas tubuhnya seketika membuat Aciel tertawa kecil. Dengan lembut ia mencium puncak kepala Eden lalu semakin merapatkan tubuh mereka agar semakin hangat dengan memeluk Eden erat di dadanya. Kemudian ia ikut memejamkan matanya bersama Eden dan mulai melepaskan seluruh kepenatan yang memuakan dengan tidur bersama Eden dalam kedamaian yang membungkus tubuh mereka berdua dengan hangat.


“Good night sweetheart,” gumam Aciel.

__ADS_1


__ADS_2