Black Swan

Black Swan
New Life (One Hundred Fourty Two)


__ADS_3

            Dua bulan telah berlalu dengan begitu cepat sejak malam Olivia mencium bibir Scout dengan tiba-tiba. Kini hubungan mereka sudah lebih baik dan mereka tampak semakin dekat satu sama lain. Kini Olivia terlihat seperti seorang istri siaga yang selalu menyiapkan segala keperluan suaminya. Padahal sebenarnya hubungan mereka masih sama, tidak ada ikatan cinta dan hanya karena anak yang dikandung oleh Olivia. Tapi entah mengapa Olivia menikmati peran barunya sebagai seorang istri dalam tanda kutip untuk Scout. Dan selama ini, Scout pun tidak keberatan dengan sikap Olivia. Meskipun pria itu masih tetap dingin seperti sebelum-sebelumnya, namun kadar kedinginan pria itu sudah lebih berkurang dan ia terkadang juga menunjukan sikap perhatiannya pada Olivia dengan membelikan Olivia makanan yang diinginkan oleh wanita itu dan membuatkan segelas susu untuk Olivia di pagi dan malam hari.


            “Pagi Scout, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu.” sapa Olivia riang ketika Scout sedang memakai kemejanya di dalam kamr. Dengan santai, Olivia mulai memasangkan dasi garis-garis merah di kerah kemeja Scout dan menyimpulkannya dengan rapi di sana. Setelah itu Olivia mulai beranjak menuju ranjang untuk merapikan semua kekacauan yang telah mereka lakukan semalam. Tapi tunggu, itu bukan jenis kekacauan yang kalian pikirkan, semalam mereka hanya bermain game dan yang kalah harus menerima seratus gelitikan dari yang menang. Dan seperti yang kalian duga, Olivia kalah dalam permainan itu, sehingga ia harus menerima seratus gelitikan dari Scout. Dan hal itu berakibat pada ranjang mereka yang berubah menjadi sangat berantakan karena Olivia yang terus meronta-ronta saat Scout menggelitiki pinggangnya beberapa kali.


            “Apa siang ini kau akan pergi ke dokter?”


            Olivia langsung menggeleng cepat sambil mendengus pada Scout.


            “Aku sudah pergi kemarin bersama Wills. Kau ini calon ayah yang buruk. Bagaimana mungkin kau tidak pernah mengantarkan aku ke dokter kandungan untuk melihat tumbuh kembang anakmu. Bahkan dokter itu mengira jika Wills adalah ayah dari bayi ini. Kau keterlaluan.” protes Olivia cemberut. Scout kemudian melayangkan tatapan minta maaf sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


            Akhir-akhir ini ia memang selalu sibuk untuk mengurus semua bisnisnya dan juga Sian. Setelah sebelumnya pria itu menyusahkannya dengan tikus-tikus pengganggu yang sengaja di tempatkan untuk mengawasi pergerakannya dan Olivia. Secara ajaib Sian berhasil mengusut kasus pembunuhan di Ritz Carlton karena pria itu secara kebetulan memiliki undangan jamuan di sana bersama Aciel. Sebuah kebetulan yang tak terduga sebenarnya. Meskipun keberadaannya di sana samar, namun salah satu tikus Sian yang tidak terendus olehnya berhasil menemukan bukti samar atas kejadian pembunuhan itu. Kemarin ia memang berhasil berkelit ketika bukti pembunuhan itu dengan kuat mengarah padanya. Ia berhasil menyuap petingga polisi bagian investigasi agar menghilangkan bukti puntung rokok yang dibuangnya begitu saja di atas gedung agar putra Donahue tidak bisa mengusik kehidupannya lagi.


            Sebulan yang lalu ia berhasil menyewa seorang seorang gelandangan untuk mengakui semua kejahatan yang telah dilakukannya. Polisi yang disuapnya juga ikut andil dengan menukar barang bukti dengan puntung rokok palsu yang memiliki bekas bibir dari gelandangan itu. Kini semua penduduk Dallas mengira jika si pembunuh tuan dan nyonya Donahue adalah gelandangan itu, bukan dirinya. Namun Sian masih tetap gigih mengejarnya karena ia telah membawa Olivia pergi dari pria itu. Bahkan sebenarnya sejak awal Sian tidak terlalu memikiran kasus pembunuhan pria tua dan istrinya itu. Sian hanya memikirkan Olivia dan bagaimana cara mengambil wanita itu dari Scout sehingga ia terus melakukan berbagai macam cara agar Scout dapat dijebloskan ke dalam penjara dan ia dapat mengambil Olivia kembali ke dalam pelukannya.


            “Apa Sian masih mengusikmu?”


            “Dia masih gigih untuk mencarimu. Oleh karena itu hari ini kita akan pergi dari rumah ini...”


            “Lagi? Kita akan pindah lagi? Oh ayolah, aku lelah. Bisakah kalian berbaikan dan tidak bermain kucing-kucingan seperti ini. Sekali saja aku ingin hidup tenang sebelum aku melahirkan. Kau benar-benar keterlaluan, kau membiarkan seorang ibu hamil sepertiku kelelahan karena harus berpindah dari satu rumah ke rumah lain hanya demi menghindari Sian. Apa kau tidak lelah melakukan hal itu?” ucap Olivia panjang lebar sambil menghentak-hentakan kakinya gusar di atas lantai. Scout yang melihat hal itu langsung berjongkok di depan Olivia untuk meminta pengertian dari wanita itu. Bukannya ia jahat karena terus membuat Olivia lelah dengan jalan pikirannya yang rumit, hanya saja ia tidak ingin Sian mengambil Olivia darinya sekarang. Ia sudah terlalu nyaman dengan keberadaan wanita itu di sampingnya, dan ia tidak ingin Olivia pergi darinya.


            “Tunggulah sebentar lagi, aku sedang mencoba untuk menghentikan Sian dengan caraku.”


            “Dengan caramu? Apa kau akan membunuhnya?” tanya Olivia sakarstik. “Dengar, walaupun ini kedengaran aneh, tapi kalian adalah ayah dari anak-anakku. Di masa depan kalian tidak bisa terus seperti ini karena aku tidak mau menciptakan dendam diantara anak-anak kita. Semua kerumitan ini sudah cukup menghukumku, Scout. Dan sejujurnya aku sangat takut menghadapi masa depan setelah anak ini kau bawa pergi dariku.”


            Scout menghela napas pelan untuk mencoba bersabar dengan sikap Olivia yang terkadang kekanakan seperti ini. “Meskipun aku memang ingin, tapi aku tidak akan melakukannya. Aku sudah cukup puas dengan membawamu kabur darinya, jadi aku tidak akan membunuhnya. Aku hanya akan memberinya sedikit pelajaran agar ia menyerah untuk mengejarku dan juga mengejarmu.”


            “Baiklah, terserah padamu. Kita lupakan Sian sekarang karena aku memiliki kabar penting untukmu.”

__ADS_1


            Olivia tiba-tiba megalungkan lengannya pada leher Scout sambil bergelayut manja pada pria itu. Selama kehamilan, emosi Olivia memang sering berubah-ubah dan tidak stabil. Terkadang wanita itu begitu meledak-ledak, namun terkadang wanita itu terlihat rapuh dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Dan Scout benar-benar merasa kesal jika Olivia sudah mulai menunjukan hal itu padanya.


            “Apa? Kau tidak akan memberikan berita yang dapat membuatku marah seperti dulu kan?” tanya Scout penuh selidik. Olivia langsung menggelengkan kepalanya cepat sambil mendengus kesal pada Scout.


            Dulu saat ia sedang stress ia pernah berpikir untuk menggugurkan kandungannya, dan ia baru menghubungi Scout ketika ia sudah berada di depan ruang praktik dokter untuk menggugurkan kandungannya. Tentu saja Scout langsung memaki-makinya habis-habisan dari ujung telepon dan mengancam akan membunuh dokter yang akan menggugurkan kandungannya. Yah, itu memang cerita masa lalu ketika emosinya sedang tidak stabil. Sekarang ia tidak mungkin akan melakukan hal itu karena kandungannya sudah semakin membesar. Usia kandungannya sudah menginjak bulan ke sembilan, dan hanya tinggal menghitung tanggal untuk hari kelahirannya nanti. Begitu cepatnya waktu berlalu hingga tak terasa bayi itu sudah tumbuh besar di dalam perutnya dan akan segera keluar meninggalkan rahimnya yang hangat dan nyaman.


            “Tidak, aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Kali ini berita yang lebih penting dan tidak akan membuatmu memaki-makiku seperti dulu.”


            “Jadi, apa yang ingin kau katakan padaku?”


            “Dia laki-laki, dokter mengatakan padaku jika ia laki-laki?”


            Scout mengerutkan keningnya heran sambil menatap Olivia penuh tanda tanya. Sebenarnya apa yang dimaksudkan oleh wanita itu? Ia benar-benar tidak mengerti dengan ucapan ambigu yang dilontarkan oleh Olivia padanya. Satu hal lagi yang membuatnya terkadang jengah jika sedang berbicara dengan Olivia, wanita itu terkadang mengatakan sesuatu yang tidak jelas seperti ini, membuatnya harus berpikit ekstra keras hanya untuk mencerna setiap ucapan yang dilontarkan Olivia padanya.


            “Katakan sesuatu dengan jelas Olivia, kau membuatku tidak mengerti.”


            “Aku bahagia. Aku pasti akan mendidiknya menjadi pria tangguh dan tidak cengeng. Kau tenang saja, aku pasti akan merawatnya dengan baik.”


            Olivia merasa hatinya tertohok dengan ucapan Scout. Pria itu seakan-akan sedang membicarakan nasib putranya kelak yang tidak akan tumbuh bersama ibunya. Padahal ia sangat ingin merawat putranya. Membesarkannya dan menimangnya di dalam dekapannya. Ia tidak mau pergi, ia ingin berada di sisi Scout, bersama dengan anaknya.


            “Apa kau akan mengijinkanku menemuinya? Aku juga ingin membesarkan anak ini? Aku tidak mau menelantarkan anakku dan membiarkannya tumbuh bersama dengan satu orangtua. Apa kau akan mengijinkanku untuk sering-sering melihatnya?” tanya Olivia berkaca-kaca. Scout langsung merengkuh Olivia ke dalam pelukannya sambil menganggukan kepalanya cepat. Tentu ia akan membiarkan Olivia jika wanita itu ingin menemui anaknya, karena memang hal inilah yang diinginkannya sejak dulu. Ia ingin Olivia selalu berada di sampingnya bersama dengan anak-anaknya kelak.


            “Tentu. Kau adalah bagian dari anakku, aku tidak akan mungkin memisahkan kalian jika kau memang ingin menemuinya. Tapi aku bukan jenis pria yang baik, justru aku adalah pria yang brengsek, sangat brengsek. Apa kau siap tinggal di samping seorang pria brengsek sepertiku? Seorang pembunuh yang memiliki banyak musuh yang sewaktu-waktu dapat mencelakaimu dan membunuhmu. Seorang asitek menyebalkan yang gemar merebut istri pria lain. Apa kau siap dengan konsekuensi itu?” tanya Scout pada Olivia. Tanpa ragu Olivia langsung menganggukan kepalanya sambil ******* bibir Scout penuh cinta.


            Sadar tidak sadar, perasaan itu mulai tumbuh diantara mereka seiring dengan kebersamaan mereka selama ini. Suka duka, mereka lewati bersama demi melindungi sosok mungil yang akan menjadi penyatu hati mereka. Dan ternyata hal itu memang benar-benar terjadi, sosok kecil itu berhasil menyatukan dua hati yang awalnya saling bertolak belakang dan saling menyakiti.


        “Maukah kau menikah denganku?”

__ADS_1


            Tiba-tiba saja Scout telah menyodorkan sebuah cincin berlian di depannya sambil menatap kedua manik Olivia yang telah dipenuhi air mata. Ia tidka menyangka jika Scout akan melamarnya, padahal selama ini pria itu selalu bersikap biasa di depannya dan tidak ada tanda-tanda akan melamarnya. Apa sebenarnya pria itu telah memendam perasaan padanya selama ini?


            “Kenapa tiba-tiba? Kau membuatku gugup.” canda Olivia dengan air mata yang masih terus menetes dari matanya. Scout tersenyum kikuk di depan Olivia sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Sungguh itu adalah salah satu jenis senyum yang paling aneh dari seorang Scout Voyage.


            “Aku sudah menyiapkannya sejak dulu, berjaga-jaga jika mungkin kau memang bersedia untuk menikah denganku. Asal kau tahu, aku merasa begitu buruk karena telah memperkosamu demi ambisiku, dan aku sudah berencana untuk menikahmu, tapi kau sepertinya tidak menginginkan hal itu dan lebih memilih untuk kembali pada suamimu. Jadi aku tidak pernah memberikan cincin ini padamu.”


            “Dasar pria brengsek! Kau memang brengsek, Scout. Kenapa kau tidak memintanya langsung dan justru menungguku untuk mengatakannya? Aku membencimu, kau jahat! Kau brengsek.” teriak Olivia membabi buta sambil memukul-mukul tubuh Scout kesal. Namun dengan mudah Scout langsung menangkap tangan mungil itu dan membawanya ke dalam pelukannya.


            “Besok kita akan menikah. Apa kau tidak keberatan jika pernikahan itu tanpa pesta yang mewah dan hanya sebatas janji suci pernikahan di gereja? Tapi aku janji akan mengadakan pesta yang mewah jika kau menghendakinya. Apa kau mau?”


            “Entahlah, aku tidak tahu Scout. Tidak perlu pesta yang mewah dan glamor, karena aku tidak tahu dengan apa yang akan terjadi setelah ini.” bisik Olivia serak di dalam pelukan Scout.


            Tidak peduli bagaimana awal dari hubungan mereka, yang terpenting adalah akhir dari semua lika-liku kerumitan yang telah mereka hadapi selama ini. Olivia dan Scout, mereka akan terus terombang ambing di dalam pusara gairah yang tanpa sengaja telah mereka ciptakan. Bila salah satunya tidak segera memutuskan mata rantai itu, maka selamanya mereka akan tetap seperti ini.


-00-


            Olivia merasa jika keputusan ini tidak tepat, tapi bisa menjadi tepat ketika ia sedang merasakan himpitan ketidakpastian. Sudah berbulan-bulan ia mengikuti Scout kemanapun pria itu membawanya. Dan sudah berbulan-bulan juga ia hidup terpisah dari Sian dengan masalah besar yang masih menganga diantara mereka. Selama itu Olivia merasakan perbedaan yang begitu mencolok antara kedua pria itu.


            Sian, ia adalah pria yang baik. Olivia tidak perlu meragukannya karena Sian adalah pria yang tidak akan segan-segan untuk memberikan miliknya yang berharga untuk seseorang yang amat sangat ia cintai. Tapi jangan lupakan tabiat buruk Sian yang akan menuntut balas untuk semua kebaikan yang telah ia lakukan. Olivia tidak bisa menampik banyaknya tekanan yang ia rasakan di dalam kehidupannya bersama Sian. Meskipun orang lain tidak pernah melihatnya dengan jelas, tapi sebenarnya ia sungguh tersiksa. Selama ini ia lebih banyak diam, membiarkan semua orang berspekulasi jika dirinya adalah wanita paling bahagia yang memiliki seorang pria yang paling baik hati di dunia. Tapi tentu saja hal itu tidak akan bertahan lama jika tiba-tiba Olivia kedatangan seorang pria yang dengan cara berbeda memberikan banyak pelajaran baru untuknya.


            Terkadang Olivia memang terlalu dangkal dalam memberikan penilaian pada orang-orang di sekitarnya. Jika melihat Eden yang begitu sempurna dengan pikirannya yang cerdas, Olivia selalu bertanya-tanya, kapan ia juga akan terlihat seperti itu. Dan kini saat bersama Scout, Olivia perlahan-lahan mulai mendapatkan pelajaran baru dari hal-hal yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Ketulusan ternyata dapat muncul pada seorang pembunuh sekalipun. Sulit untuk mengakuinya memang, tapi Scout adalah pria yang tulus menurut Olivia. Kebaikannya murni. Apalagi saat pria itu mati-matian menurunkan harga dirinya untuk memenuhi setiap sikap semena-mena yang ia lakukan. Jelas pria itu memiliki pengendalian diri yang sangat baik, dan juga fleksibelitas terhadap ego.


            Sekarang Olivia menjadi lebih bisa memandang orang-orang di sekitarnya melalui berbagai macam dimensi. Tidak semua orang jahat itu buruk, pikir Olivia mantap. Dan tidak semua orang baik itu benar-benar baik di dalamnya. Contohnya Aciel, sekarang ia bisa melihat Aciel adalah pria dingin yang kasar, namun jauh di dalam sana, Aciel memiliki kebaikan murni yang begitu tulus, yang hanya benar-benar bisa dirasakan oleh Eden. Jadi tak peduli seburuk apa penilaian orang di luar sana, yang terpenting adalah penilaiannya sendiri terhadap orang


itu. Ia menilai Scout baik, jadi ia tidak memiliki alasan untuk membenci Scout saat ini. Tapi masalahnya, ia tidak bisa terus seperti ini selamanya. Suatu saat ia harus memilih satu diantara Sian atau Scout. Padahal keduanya jelas memiliki tempat tersendiri di hati Olivia dan keduanya juga telah menjadi ayah dari anak-anaknya. Ini sungguh pilihan yang berat, pikir Olivia merana. Andai ia diizinkan untuk serakah, ia sangat ingin menggenggam kedua pria itu di dalam genggamannya. Sesekali ia ingin menunjukan sisi lain dari dirinya, sisi keras, sisi angkuh, dan sisi arogan yang selama ini telah tertutupi oleh rasa rendah diri akibat peristiwa yang menimpanya bertahun-tahun yang lalu.


            “Nona Olivia, pintu gereja sudah terbuka untukmu.”

__ADS_1


            “Terimakasih sudah mengingatkan, Wills.”


__ADS_2