Black Swan

Black Swan
Diary of Eden


__ADS_3

            Disuatu malam aku terbangun dengan tangis yang begitu saja pecah dari mataku. Kulirik Ciara sekilas yang sedang tertidur pulas sambil memasukan jarinya yang  mungil ke dalam mulutnya. Ya Tuhan, kenapa semua ini rasanya sangat berat untuk kulalui. Bahkan rasanya aku ingin menyerah saat ini juga dan kembali ke Vegas. Terkadang aku merasa ini hidup ini sebenarnya membunuhku perlahan-lahan. Disaat aku mulai bahagia dengan kehidupan pernikahanku bersama Zyan, Tuhan justru merenggut pria itu dari hidupku, untuk selamanya. Padahal aku sudah mulai membuka hatiku untuk Zyan, aku sudah melupakan masa lalu kelabuku perlahan-lahan dan aku benar-benar telah dibuat yakin oleh ketulusan Zyan selama ini. Tapi... yah begitulah, hidup ini tak terduga dan penuh kejutan. Kemudian aku membuat keputusan nekat untuk hidup mandiri bersama Ciara di Perancis, negara yang dulu menjadi mimpiku karena aku pernah bercita-cita menjadi seorang desainer. Dengan seluruh keyakinan yang kumiliki, aku mengatakan pada orang tua Zyan jika aku tidak ingin lagi menjadi beban mereka. Sudah cukup aku menghancurkan masa depan putranya dengan menikahi seorang wanita yang telah menjadi teman tidur ayah angkatnya sendiri, bahkan dengan bodohnya aku juga memiliki anak dari pria itu. Tapi biarlah, toh saat ini aku hanya memiliki Ciara di sisiku. Setidaknya saat menua nanti aku tidak akan sendiri. Jadi pada akhirnya aku memutuskan keluar dari kehidupan keluarga Zyan, meskipun awalnya ibu Zyan melarangku untuk pergi karena usia Ciara belum genap satu tahun, namun aku tetap bersikeras untuk pergi. Aku merasa sudah tidak ada gunanya lagi hidup bersama mereka, selain karena Zyan sudah meninggal, tidak ada lagi ikatan yang akan mempertahankan kami untuk bersama. Lagipula Ciara juga bukan cucu mereka, meskipun mereka mengaku telah menganggap Ciara sebagai cucu mereka sendiri, tapi hati kecilku tetap menuduhkan kedustaan pada mereka. Aku tahu, setiap malam mereka membicarakanku, di belakangku dan Zyan tentu saja. Pernah suatu ketika saat aku terbangun tengah malam untuk mengambil air di dapur, aku mendengar orang tua Zyan sedang berbicara berdua di ruang tamu. Mereka tentu saja membicarakan nasib masa depan anaknya yang tidak jelas. Ketika di depanku mereka menunjukan wajah malaikat yang begitu baik, sedangkan ketika di belakangku, mereka dengan terang-terangan menunjukan rasa tidak sukanya padaku. Tapi saat itu aku masih mencoba bertahan dan memaklumi keadaan mereka karena bagaimanapun mereka tidak salah, akulah yang salah karena telah melibatkan putra mereka untuk menjadi pionku dalam menyerang Aciel. Lalu semua kasak kusuk itu semakin parah seiring dengan usia Ciara yang semakin besar. Bahkan saat itu ibu langsung memanggil Zyan untuk berbicara empat mata. Ibu mendesak Zyan agar segera bersikap tegas kepadaku. Sebagai seorang ibu, ibu memiliki insting yang sangat baik mengenai putranya. Ibu selama ini ternyata tahu jika Zyan belum pernah menyentuhku dan masih memberiku kesempatan untuk menyembuhkan luka masa laluku. Setelah percakapan itu, aku kemudian terdiam cukup lama di dalam kamar sambil memandangi Ciara yang saat itu sedang asik bergerak-gerak lucu di dalam box bayinya. Putriku sangat mirip dengan Aciel, kira-kira bagaimana selama ini perasaan Zyan saat menimang Ciara atau menggendong Ciara saat putriku rewel? Pasti ia sangat sakit, melihat bahwa isterinya memiliki anak dari pria lain, bahkan hatinya juga masih dimiliki oleh pria lain. Apakah sebaiknya aku meminta perpisahan dari Zyan? Tapi... aku tidak akan tega


mengatakan hal itu pada Zyan, ia bahkan mati-matian untuk mempertahankan hubungan rumah tangga kami. Lalu apa yang harus kulakukan untuk membuat keluarga ini tidak hancur berantakan hanya karena kehadiranku?


            Selama beberapa saat merenung, aku tiba-tiba mendengar suara mesin mobil yang menderu


pelan di halaman depan. Zyan sepertinya akan pergi ke kantor, dan ia kali ini tidak berpamitan denganku seperti hari-hari sebelumnya. Firasatku mengatakan jika pembicaraannya dengan ibu tidak berjalan lancar, jadi ia pasti saat ini sedang dilingkupi kemarahan yang cukup pekat, sehingga ia tidak ingin menemuiku dalam keadaan kacau. Aku kemudian menutup jendela kamarku rapat, berjalan kearah Ciara sambil menggoyangkan mainan gantung yang terpasang di atas boxnya agar putriku itu semakin tertawa terbahak-bahak dengan suara bayinya. Ya Tuhan, bahkan Ciara memiliki mata berwarna coklat seperti milik pria jahat itu. Sampai kapanpun aku sepertinya tidak akan pernah tenang dari bayang-bayang seorang Aciel.


            Tak berapa lama aku merasakan lantai kamarku bergetar, seseorang seperti sedang berlari dengan sangat terburu-buru di depan lorong kamarku hingga getarannya dapat kurasakan dengan jelas. Dan kemudian pintu kamarku diketuk dengan suara yang begitu kasar dari luar hingga aku merasa cukup gusar untuk sesaat karena si pengetuk yang sebenarnya adalah ibu Zyan itu tampak sangat mengganggu ketenangan yang sedang berusaha kuciptakan pagi ini. Namun kekesalan itu tak bertahan lama, dalam sekejap duniaku seperti akan runtuh, dan aku hanya mampu berpegangan pada pinggiran pintu sambil meratapi nasibku yang sekali lagi tidak berjalan baik. Zyan kecelakaan, mobilnya terguling-guling di atas aspal setelah dihantam oleh sebuah truk, lalu Zyanku tidak selamat. Zyan pergi meninggalkanku sendiri di dunia yang selalu kejam padaku. Seketika aku meluruh jatuh dan hanya mampu menangisi kemalangan yang menimpa hidupku. Saat itu bahkan aku bingung, apakah aku menangis karena Zyan pergi atau aku menangis karena aku telah kehilangan pionku yang berharga? Yang jelas hari-hari setelah kepergian Zyan menjadi sangat tidak mudah untukku. Aku merasa keluarga Zyan semakin menunjukan sikap aslinya padaku. Mereka tidak lagi sehangat dulu, aku merasa ada perubahan dalam sikap mereka meskipun dalam kesehariannya orang tua Zyan masih menganggapku sebagai menantu mereka. Tapi kadar kehangatan mereka benar-benar telah berubah, bahkan terkadang mereka menunjukan keengganannya untuk mengurus Ciara ketika aku hendak pergi keluar untuk mengurus aset-aset milik ayahku yang akan kujual. Jadi terpaksa aku membawa Ciara bersamaku untuk pergi ke kantor-kantor hukum atau pergi kemanapun ketika aku diharuskan untuk mengurus administrasi pemindahan aset-aset milik ayah. Sebenarnya hal itu merupakan antisipasi awal agar Aciel tidak dapat melacakku. Aciel sebenarnya masih mengawasi gerak gerikku dengan adanya aset-aset itu karena sebelumnya aset itu berada di tangannya, namun setelah aku memutuskan untuk keluar dari rumahnya, ia tanpa perlawanan langsung memberikan aset-aset itu padaku melalui bantuan kuasa hukumnya. Namun beberapa bulan yang lalu aku menemukan fakta jika Aciel ternyata masih memantau pergerakan aset-asetku. Ia mungkin mulai goyah dengan keputusannya untuk melepaskanku setelah aku dengan gamblang juga menyakiti egonya. Aku kemudian sedikit menyuap kuasa hukumnya agar tidak membeberkan rencanaku untuk menjual seluruh aset milik ayah dan rencanaku untuk pergi dari Vegas. Kurasa aku telah berada di titik terendah dalam hidupku, jadi kuputuskan untuk pergi dari negara ini agar aku dapat memulai kehidupanku dari awal. Aku akan melupakan seluruh kenanganku bersama semua pria-pria itu, terutama Aciel dan Zyan. Mereka adalah kombinasi yang sungguh aneh sebenarnya, Aciel adalah sosok iblis jahat yang penuh dengan kediktatoran, sedangkan Zyan, ia seperti seorang malaikat yang ingin menyelamatkanku dari dekapan sang iblis jahat yang selama ini telah mengklaim hidupku sebagai miliknya.


            Jadi disinilah aku sekarang, Paris, kota yang penuh rumah mode dan juga desainer terkenal yang karyanya selama ini selalu berhasil membuatku terpukau. Maksudnya aku ingin seperti mereka, aku ingin meninggalkan dunia catwalk untuk kemudian beralih menjadi seorang desainer yang terkenal. Tapi lagi-lagi, semua itu tidak mudah. Ada banyak hal yang harus kukorbankan untuk menggapai semua itu, termasuk kehidupan Ciara yang terancam akan semakin jauh denganku karena aku harus mengambil studi desainer di salah satu universitas ternama di kota ini. Ciara... maaf karena telah membawamu ke kehidupan mommy yang penuh dengan masalah ini.


            Aku menggenggam jari jemari Ciara yang mungil sambil menormalkan suara sesenggukanku yang terdengar begitu nyaring di dalam apartemenku yang sunyi ini. Tuhan, harus berapa banyak air mata yang kukeluarkan untuk menangisi hidupku yang selalu saja dipenuhi oleh cobaan-cobaan yang tak terduga? Aku


lelah, sungguh aku ingin mengakhiri semuanya jika aku tidak mengingat Ciara yang saat ini sangat membutuhkanku. Aku jelas tidak akan setega itu, meninggalkan Ciara tumbuh sendiri di dunia yang kejam ini sama sepertiku. Bahkan aku selalu bersumpah dalam hatiku jika anak cucuku tidak boleh ada yang merasakan hidup di panti asuhan. Cukup aku saja yang merasakannya, selebihnya aku tidak mengijinkan keturunanku untuk memiliki nasib yang sama malangnya denganku. Tapi mungkin ini memang takdir yang harus kulalui. Sedikit banyak


pengalamanku saat di panti asuhan membuatku tumbuh menjadi wanita tangguh yang tak mudah putus asa, setidaknya itu sebelum aku merasa sangat terpuruk dan selemah ini.


Brakk brakk brakk


            Aku menggigil ketakutan ketika suara gedoran kasar itu lagi-lagi singgah di pintu apartemenku. Salah satu hal terburuk yang harus kuterima selama menjalani kehidupan sebagai single parent, aku harus terbiasa dengan adanya gangguan-gangguan kecil semacam itu. Pria-pria pemabuk yang membuat keributan di depan apartemen, suara siulan di pinggir jalan dari pria-pria brandal, atau ajakan terang-terangan untuk berkencan, aku beberapa kali mendapatkannya di kota ini. Mungkin mereka tahu jika aku tidak memiliki kekasih ataupun seorang pria yang dapat melindungiku sehingga mereka dapat mengganggu hidupku dengan leluasa. Tapi untuk si pengetuk pintu yang tidak

__ADS_1


sopan itu, aku akan segera melaporkan hal itu pada pemilik apartemen atau bahkan menuntut manajemennya karena mereka membuatku tidak nyaman tinggal di sini. Bahkan sebenarnya aku berencana untuk membeli rumah sendiri, hanya saja aku masih terlalu takut. Bagaimanapun hidup di rumah pribadi akan berisiko karena penjaga tidak selalu berjaga dua puluh empat jam di depan rumahku, sedangkan di sini aku masih bisa menghubungi petugas keamanan yang berjaga di bawah atau menghubungi petugas resepsionis jika aku membutuhkan bantuan mereka. Jadi untuk sementara memang aku lebih baik tinggal di sini daripada membeli rumah pribadi untuk kutinggali bersama Ciara.


            “Haahh...”


            Kuhela nafas pelan, lalu aku beranjak dari ranjang untuk membuat coklat panas di dapur. Aku sepertinya harus menenangkan diriku yang kacau jika aku ingin melanjutkan tidur nyenyakku lagi. Tapi sebelum kakiku benar benar mencapai pintu, tiba-tiba ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Tranz membuatku tertarik untuk segera mengambil ponselku dan membaca isi pesannya. Mungkin ia ingin menginformasikan sesuatu untukku. Entahlah, ia akhir-akhir ini sering menawariku untuk menjadi model lagi, tapi aku selalu menolaknya karena menjadi model hanya akan menjadikanku sebagai boneka Aciel lagi. Ia akan lebih mudah mengawasi gerak-gerikku, lalu sandiwaraku mengenai kehidupan yang bahagia bersama Zyan akan rusak seketika. Tidak! Itu tidak boleh terjadi, Aciel tidak boleh tahu jika sebenarnya kehidupanku lebih menderita setelah aku memutuskan untuk melepaskan diri darinya.


From: Tranz


Eden, apa kau yakin dengan keputusanmu untuk pergi? Kau tidak ingin kembali ke Vegas dan berbaikan dengan Aciel? Aku melihatnya menggila hari ini di bar.


            Tranz mengirimiku sebuah pesan lengkap dengan foto Aciel yang sedang berkelahi dengan seseorang. Lagi-lagi helaan nafas berat keluar dari mulutku saat membaca isi pesan Tranz yang cukup memuakan ini. Bukankah aku sudah mengatakan padanya ratusan kali jika aku tidak ingin kembali pada Aciel? I’m done wih him! Aku tidak ingin lagi berurusan dengannya, meskipun sebenarnya sebagian hatiku menjerit untuk kembali. Aku tahu jika sampai kapanpun Aciel pasti akan menerimaku, tapi aku hanya tidak siap dengan segala citra buruk yang pasti akan membuntutiku jika aku kembali bersama Aciel.


To: Tranz


            Tulisku kasar sebelum aku melempar asal ponselku ke arah sofa di dekat ranjangku. Aciel memang lebih baik mati, lalu arwahnya akan menderita di neraka karena seluruh perbuatan jahatnya selama ini. Ya.. itu akan jauh lebih baik untuknya.


Drrt drrt drrt


            “Ck, apalagi itu?” dengusku kesal. Apakah Tranz masih mencoba untuk menghubungiku setelah aku dengan terang-terangan membalas pesannya dengan isi yang cukup kasar?


            “Ada apa, kau...”

__ADS_1


           “Haai... Ed? Kau... hahahaa.. kau masih menyimpan nomorku?”


            Sial, ini Aciel! Aku terdiam kaku di tempat tanpa berani mengeluarkan suaraku lagi yang nyaring. Kenapa pria itu dapat menemukan nomor ponselku? Dan dia sedang mabuk sekarang. Ya Tuhan, kenapa pria itu seperti hantu yang sangat mengganggu.


            “Aku tahu kau... hhmmsss... masih di sana..” racaunya dengan suara terputus-putus. Sejujurnya aku ingin mematikan sambungan telepon darinya, tapi jari-jariku seperti mati rasa hanya untuk menekan tombol merah di layar ponselku. Eden! kenapa kau masih saja bodoh setelah apa yang telah dilakukan pria itu selama ini padamu. Bodoh bodoh bodoh, kau *****!


            “Heyy.. hmmss.. Ed, kau.. hahh... kembalilah padaku.”


            Genggamanku pada ponselku semakin erat seiring dengan suara racauan Aciel yang terdengar seperti pesakitan di seberang sana. Pria itu pasti sedang mencoba memanipulasiku, ia pasti tidak pernah benar-benar mengatakan hal itu padaku.


            “Jawab aku... aku.. hmsss tahu kau mendengarkanku... disana...”


            “Tidak ada yang perlu kujawab.” akhirnya aku memberanikan diri untuk menyuarakan suaraku yang sejak tadi hanya tertahan di dalam hati. Hatiku tiba-tiba saja bergejolak dan perasaanku tentu saja telah berubah menjadi kacau. Kenapa sejak dulu perasaan laknat ini tidak pernah bisa hilang untuk dirinya?


            “Aku tahu kau dimana sekarang... hahahaa... aku hanya... tidak... tidak ingin mengganggumu, belum.” ucap Aciel dengan suara tawa yang terdengar mengerikan. Tiba-tiba saja aku merasa sedang diawasi di dalam apartemenku sendiri. Dengan langkah takut-takut aku berjalan menuju jendela besar di kamarku dan mulai


mengintipnya dengan perasaan was-was. Tidak ada siapapun di luar sana, lampu jalan juga menerangi jalanan dengan sangat terang di bawah sana tanpa ada yang perlu kukhawatirkan. Hahaha... pria ini pasti bohong, pria sakit jiwa ini tidak mungkin tahu dimana keberadaanku.


            “Teruslah bersembunyi Eden... hahaha teruslah bersembunyi, hhmmss... tapi itu tidak akan lama. Kau pasti akan kembali ke dalam pelukanku lagi... hahahhaa”


Klik

__ADS_1


            Tubuhku bergetar dengan hebat dan tiba-tiba aku telah meluruh begitu saja di atas lantai. Pria itu tidak boleh menjadi bayang-bayangku lagi, tidak boleh! Jika ia berani mengusik ketenanganku lagi, aku bersumpah akan membuatnya semakin menderita di tanganku.


__ADS_2