Black Swan

Black Swan
Reunion (Ninety)


__ADS_3

Hari pernikahan Summer telah tiba. Semua orang mulai berdatangan memadati ballroom hotel terbaik di kota Sydney untuk merayakan hari bahagia pasangan Max dan Summer. Di dalam pesta pernikahan itu, keluarga Eden tampak di sana, berbaur bersama tamu-tamu yang lain dengan Eden yang tentu saja tampak antusias. Sejak awal Aciel tidak suka reuni, baginya itu hanya kegiatan bodoh yang hanya akan membuka kembali luka lama. Tapi istrinya menginginkannya. Eden menginginkan reuni dengan teman-temannya lamanya yang ingatannya masih tertinggal di dalam memori Eden. Dengan berat Aciel kemudian mengabulkan keinginan istrinya, berharap jika Eden akan lebih bahagia setelah ia mendapatkan salah satu kebahagiaannya. Tapi sekarang ia justru membenci keputusannya, karena ia justru merasa sendiri di dalam ruangan yang penuh sesak oleh tamu-tamu milik Summer dan Max.


            “Tranz, aku merindukanmu!” Itu suara Eden, suara penuh kegembiraan dan rasa rindu karena telah lama berpisah dengan sahabat baiknya. Aciel bosan melihat istrinya yang sibuk bersama teman-temannya dan meninggalkannya begitu saja tanpa sedikitpun menyadari keberadaannya yang sejak tadi hanya berdiri sambil berdecak.  Ahh... ia muak berada di sini lebih lama. Apalagi putrinya juga telah menghilang entah kemana bersama Olivia dan Sian, membuat Aciel semakin didera kesepian yang teramat sangat.


            Setelah menatap Eden dan putranya yang tampak tenang di dalam stroller, Aciel memutuskan untuk pergi. Ia mungkin dapat menemukan kebahagiaannya sendiri dengan keluar dari ruangan ramai ini dan mencari tempat yang sepi untuk menghisap rokok. Malam ini ia sedang malas untuk mencari kolega baru. Jika biasanya ia memanfaatkan acara-acara seperti ini untuk menambah kerajaan bisnisnya, maka malam ini ia hanya ingin ketenangan. Ini Desember bung, bulan yang diberkati Tuhan, dan bulan yang seharusnya dapat memberinya ketenangan.


            “Aciel Lutherford...”


            Suara merdu yang mengalun lambat-lambat itu tak sedikitpun mengganggu ketenangan Aciel yang sedang menyesap sebatang rokok. Ia sedikitpun tak pernah melupakan suara itu, suara yang dulu juga pernah mendesahkan namanya di malam panas yang mereka ciptakan.


            “Tak kusangka jika aku akan bertemu denganmu di sini.” Wanita itu kembali berucap, mengabaikan keacuhan Aciel yang masih enggan untuk menanggapi keberadaannya di sana.


            “Lama tak berjumpa, Jannet Streusell.” ucap Aciel lambat-lambat membalas sapaan Jannet. Batang rokok yang telah habis dihisap Aciel dibuang begitu saja ke atas tanah bersalju yang langsung memadamkan baranya yang masih tersisa sedikit.


            “Hai, aku merindukanmu.” Tanpa malu-malu, Jannet memeluk tubuh Aciel erat, memaksa pria itu untuk menghadap kearahnya meskipun Aciel tidak memberikan pelukan yang sama hangatnya dengan miliknya. Alih-alih merasa hangat, Jannet justru merasa menggigil dengan tubuh Aciel yang berada di dalam pelukannya.


            “Bagaimana kau bisa berada di sini, Jan?” Aciel bertanya dengan intonasi datar yang sedikit mengecewakan Jannet. Ia pikir Aciel akan memberikan sambutan yang lebih antusias setelah lebih dari dua puluh tahun mereka tidak bertemu. Ya, Jannet sangat merindukan pria ini. Pria masa lalu yang menjadi cinta pertamanya, dan satu-satunya pria yang berhasil membuat kehidupan pernikahannya tak berjalan manis karena ia terlalu sulit untuk menghilangkan bayang-bayang Aciel dari kepalanya.


            “Ibu Max adalah klienku.”


            Aciel memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana, tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan bersama wanita ini. Sedikit rasa ingin tahunya pada Jannet telah terjawab, lalu untuk apa ia berlama lama di sana dengannya? Ini seperti apa yang ia lakukan dua puluh tahun yang lalu. Sedikit rasa ingin tahunya dan sedikit keinginannya untuk mendapatkan hadiah mendorongnya untuk bersama wanita itu. Lalu setelah semua rasa ingin tahunya terjawab, yang ia inginkan hanya mendorong wanita itu pergi agar tidak lagi mendekatinya.


            “Kau akan pergi?”


            “Aku tidak lagi memiliki urusan di sini.”


            “Kukira kau merindukanku.” ucap Jannet getir. Sia-sia saja ia merasa antusias saat melihat Aciel memasuki pintu besar ballroom, berharap jika pria itu akan memberinya kesempatan untuk kembali merajut asa yang dulu pernah mereka lakukan. Dengan deheman kecil, Jannet menahan Aciel untuk bersama dengannya sedikit lebih lama.


            “Aku bercerai dengan suamiku.”


            “Hmm... lalu apa yang kau harapkan dariku, Jan?” Aciel tersenyum mencemooh. Setelah Stacie, kini Jannet mencoba mengambil kesempatan untuk merayunya. Apa mereka pikir mereka lebih baik dari Eden hingga membuat mereka cukup percaya diri untuk menariknya mendekat?


            “Jika kau mengizinkan, aku ingin.... kembali bersamamu.”


            “Kenapa?” Aciel tak habis pikir dengan jalan pikiran Jannet yang cukup gila itu. Kembali bersamanya? Setelah dua puluh tahun yang Jannet pikir itu cinta? Huh, bodoh.


            “Sayangnya aku tak pernah mengizinkan kau kembali mendekatiku.” jawab Aciel menyakitkan yang berhasil membuat kedua mata Jannet memerah. Sedangkan Aciel tampak tak peduli. Ia masih saja bergeming di sana, menatap bintang-bintang yang sebenarnya terlihat membosankan, tapi untuknya itu jauh lebih baik daripada ia kembali ke dalam untuk melihat Eden yang sibuk dengan teman-temannya.


            “Kupikir dulu kau sangat mencintaiku.” cicit Jannet pelan. Aciel lagi-lagi tersenyum mencemooh, dan tanpa sadar otaknya telah melemparnya ke masa dua puluh tahun yang lalu. Masa dimana Jannet berpikir jika ia memiliki perasaan yang besar untuk wanita itu.

__ADS_1


            Halaman Harvard University selalu terlihat ramai di minggu-minggu perkuliahan aktif yang baru dimulai bulan lalu, setelah para mahasiswa melewati liburan musim dingin yang panjang, akhirnya mereka kini kembali ke kehidupan perkuliahan mereka yang membosankan. Yeah, tentu saja tidak semua orang menganggap perkuliahan itu membosankan, karena untuk segelintir mahasiswa seperti Aciel dan Sian, minggu-minggu yang penuh tugas adalah sesuatu yang menyenangkan untuk mereka.


            “Nerd, jangan lupa kerjakan tugasku. Minggu depan si tua Walter pasti akan menyuruhku untuk mengumpulkannya.” Aciel dengan gaya angkuhnya menjatuhkan dua buah buku tebal yang masih tersegel rapi


pada Jason, salah satu murid rajin dan terpintar di kelasnya untuk mengerjakan tugasnya merangkum buku setebal sepuluh senti.


            “Baiklah, akan kulakukan.” Jason menjawab tenang. Ia bukanya takut pada Aciel, tapi ia memang menjadikan kebiasaan ini sebagai lapangan pekerjaan untuknya. Disaat kehidupan orangtuanya


sangat pas-pasan, ia mencoba untuk mencari tambahan uang dengan mengerjakan semua tugas-tugas milik Aciel. Jason tahu jika sebenarnya Aciel bisa saja mengerjakan semua tugas itu sendiri dengan otak pintarnya, tapi ia yakin jika Aciel terlalu tidak memiliki waktu untuk mengerjakan tugas kuliahnya dan lebih memilih untuk menjalankan bisnis milik kakeknya yang telah dipegang sepenuhnya oleh Aciel semenjak kakeknya meninggal. Dan Jason sedikit beruntung karena mengetahui latar belakang Aciel dengan baik.


            “Seperti biasa, Sian akan mengirim uangnya setelah kau selesai menyelesaikan tugasku.”Aciel segera pergi dari hadapan Jason setelah urusannya dengan pria nerd itu telah selesai. Bagi seorang Aciel, kuliah tak ubahnya hanya sebagai sebuah tahapan yang harus ia lalui untuk mendapatkan gelar. Tanpa gelar-gelar itu, ia akan dipandang sebelah mata oleh pesaing-pesaingnya. Dan ia tidak akan bisa menyaingi perusahaan milik ayahnya jika ia tidak bisa menarik sebanyak-banyaknya investor ke dalam perusahaannya.


            “Hari ini Alan mengundangmu untuk melakukan balap liar lagi.” beritahu Sian ketika mereka berada di dalam mobil. Aciel yang baru saja mengenakan sabuk pengamannya hanya mengendikan bahu acuh dan memberikan kode pada Sian agar menerima tantangan dari Alan.


            “Pukul berapa ia mengadakan balapan liar?”


            “Sepuluh malam.”


            “Katakan padanya untuk menyiapkan hadiah yang menarik.”


Ciit


Aciel langsung menginjak pedal remnya kuat-kuat dan menekan klakson mobilnya penuh emosi saat seorang wanita tiba-tiba melintas di depan mobilnya ketika ia baru saja menginjak gas untuk keluar dari halaman luas kampusnya. Dengan amarah yang memuncak, Aciel memaki-maki wanita itu, menyuruhnya untuk segera menyingkir tanpa peduli pada wajah pucat wanita berbaju hijau yang masih mematung di depan mobilnya.


            “Sebenarnya apa yang wanita bodoh itu inginkan.” geram Aciel kesal. Sian yang tidak ingin ada keributan lain segera meminta wanita itu menyingkir dari depan mobil Aciel sebelum Aciel semakin menghujaninya dengan umpatan kasar.


            “Gadis bodoh.” umpat Aciel kesal setelah akhirnya ia bisa menjalankan mobilnya dengan tenang. Ekor matanya sedikit melirik kearah spion untuk mengamati gadis berbaju hijau yang ternyata masih berdiri di belakang sana dengan buku yang dipeluk menggunakan kedua tangan kecilnya. Aciel yang melihat itu hanya berdecih, ia lalu melajuka mobilnya semakin kencang meninggalkan halaman kampusnya yang tampak ramai hari ini.


-00-


            Pukul sepuluh, dan Aciel telah siap untuk menerima tantangan Alan melakukan balapan liar. Di sebuah jalan antar kota yang sepi, Alan dan teman-temannya telah menunggu kedatangan Aciel. Selama ini Aciel dikenal sebagai raja balap liar, dan tak pernah sekalipun Aciel kalah dalam pertandingan. Oleh karena itu Alan merasa terglitik untuk menantang Aciel demi membuktikan sendiri kehebatan pria itu dalam mengemudikan mobil di kecepatan tinggi.


            “Dude, kau datang?” Alan menyambut Aciel dan Sian dengan senyum sombong yang tercetak di wajahnya. Dua orang wanita berpakaian mini berdiri di sisi kanan dan kiri Alan, menjadi dua buah pajangan yang apik untuk melengkapi gaya glamour Alan yang menurut Aciel sangat menjijikan.


            “Tentu saja, aku tidak pernah menolak undangan dari siapapun.” balas Aciel tak kalah angkuh. Dilihatnya sebuah mobil mustang berwarna silver telah terparkir tak jauh dari garis start. Well, tidak banyak yang tahu jika ia adalah pewaris dari Ford company. Dan mobil yang saat ini sedang dipamerkan oleh Alan adalah mobil keluaran dari pabrik otomotif milik kakeknya. Aciel rasanya ingin menertawakan kebodohan Alan karena jelas-jelas ia sangat tahu bagaimana kelebihan dan kelemahan mobil itu. Ia bahkan yang mendesain dan menambahkan beberapa spesifikasi khusus pada mobil itu sebelum diluncurkan ke publik awal bulan ini.


            “Mobil yang bagus.” Aciel memuji Alan, dan pria itu langsung membusungkan dadanya sombong, merasa jika hanya dirinyalah yang memiliki mobil terbaru keluaran Ford company itu.


            “Aku menawarkan mobil itu sebagai hadiah jika kau menang melawanku malam ini.”

__ADS_1


            “Waw, kau baik hati sekali bung. Baiklah, mari kita mulai balapannya. Jangan lupa untuk melakukan salam perpisahan pada mobil kesayanganmu, tuan Withbrook.” ucap Aciel dengan senyum mengejek. Ia lantas berjalan kearah mobilnya yang terparkir tidak terlalu jauh dari garis start. Sian yang sejak tadi mengekorinya mulai berjalan sejajar di samping Aciel sambil memberitahukan kelicikan-kelicikan yang biasanya dilakukan oleh Alan.


            “Kau tenang saja, jika dia licik, maka aku akan lebih licik.” ucap Aciel dengan seringaian.


            Lima belas menit kemudian semua orang telah bersiap di garis start. Aciel dan Alan sama-sama menunggu aba-aba dari salah satu wanita milik Alan yang malam ini menjadi pemberi aba-aba untuk kedua cassanova kampus yang akan bertanding.


            Ketika bendera mulai dikibarkan, mobil milik Aciel dan Alan segera melaju kencang membelah jalanan antar kota yang sepi dan lenggang. Suara deru mesin dan gesekan ban terdengar begitu dramatis, menghidupkan suasana mencekam di tengah jalan Vegas-Texas yang begitu lenggang. Aciel menyeringai licik di dalam mobilnya, ia melihat bagaimana performa Alan yang begitu baik. Namun ia tidak ingin balapan ini hanya menjadi sebuah ajang melintasi jalan antar kota yang sepi, Aciel perlu melakukan sesuatu agar balapan ini terasa semakin membakar adrenalinnya.


Dugh


Dengan sengaja Aciel menabrakan bemper ban kanannya pada mobil milik Alan hingga mobil itu sempat oleng beberapa saat sebelum Alan berhasil mengendalikannya lagi. Melihat kelicikan Aciel, Alan segera membalasnya dengan tak kalah brutal. Ia membuat mobil Aciel oleng di jalanan berpasir dan membuat mobil Aciel sempat bermanufer karena Aciel kehilangan kendali saat ban mobilnya bergesekan dengan pasir gurun yang


licin.


            “Sial!” Aciel mengumpat keras. Segera ia mengejar ketinggalannya dari Alan. Dilihatnya spedometer yang terlihat di dashboard mobilnya. Ia lantas menyeringai penuh kemenangan. Mobil milik Alan jelas tidak bisa menandingi kecepatan mobil miliknya yang telah ia modifikasi. Segera saat ia memiliki kesempatan, Aciel memacu mobilnya hingga kecepatan maksimal dan terlihat begitu berbahaya. Salah sedikit saja dalam memperhitungkan, Aciel bisa celaka karena mobil itu tidak akan bisa berhenti dengan mudah jika ia telah menggunakan kecepatan maksimal pada mobilnya.


            Dalam hitungan detik mobil milik Alan berhasil didahului oleh milik Aciel. Pengemudi mobil sport mustang itu lantas mengumpat keras, mendecih gusar atas kekalahannya karena ia tidak menyangka jika seorang Aciel akan memiliki sebuah mobil dengan kecepatan yang sangat tidak masuk akal seperti itu.


Ciiitt


Suara decitan ban mobil milik Alan dan suara riuh tepuk tangan teman-teman Alan menjadi lagu sambutan untuk kekalahan Alan pada malam hari ini. Padahal ia sudah sangat yakin jika ia dapat mengalahkan Aciel, tapi mau tidak mau malam ini ia harus mengakui jika Aciel memanglah pembalap liar yang sangat hebat.


            “Aku menang.” seringai Aciel puas. Ia melirik sinis kearah mobil sport mustang milik Alan yang tengah mengepulkan asap tipis, efek terlalu panas karena Alan memaksa mobil itu untuk melaju hingga ke batas teratas kecepatannya.


            “Ya, kau menang.” Alan tampak tidak ingin menyerahkan mobil sport barunya pada Aciel. Ia merasa belum rela karena mobil itu baru datang tadi pagi ke rumahnya. Otaknya kemudian berpikir untuk memberikan tantangan selanjutnya pada Aciel agar pria itu tidak bisa dengan mudah mengambil mobil kebanggaannya itu.


            “Ini belum berakhir.”


            “Apa kau ingin bermain curang?” tanya Aciel sangsi. Ia tahu jika Alan mulai melakukan sesuatu yang tak masuk akal untuk mencegahnya mengambil mobil kebanggannya. Tapi apapun yang akan Alan lakukan padanya, ia pasti akan menerima tantangan itu dengan senang hati.


            “Aku tahu balapan ini terlalu mudah untukmu, bagaimana jika kau melakukan tantangan berikutnya. Tantangan yang sepadan dengan harga mobil yang fantastis ini.” Alan mengelus pelan badan mobilnya yang terlihat berdebu karena pasir gurun yang terbang menerpa mobilnya. Kali ini ia yakin jika Aciel tidak akan mampu menyelesaikan tantangannya tepat waktu.


            “Huh, kau hanya ingin mengulur-ulur waktu agar aku tidak dapat mengambil mobilmu, bukan begitu Alan?”


            “Tentu saja tidak, aku hanya ingin memberimu tantangan lain. Tunjukan pada kami jika kau memang seorang most wanted man di kampus. Jika kau berhasil menaklukan Jannet Streusell dalam waktu satu minggu, mobil ini akan menjadi milikmu.”


            Aciel menyeringai mendengar tantangan yang diberikan oleh Alan. Itu terdengar lebih menarik daripada melakukan balapan liar di jalanan sepi di tengah gurun. Sejak dulu menaklukan wanita adalah keahliannya. Dan dalam waktu satu minggu? Damn, yang benar saja! Ia bahkan bisa melakukannya dalam waktu tiga hari.


            “Deal, aku menerima tantanganmu. Kau lihat nanti, dalam waktu satu minggu Jannet Streusell pasti akan berakhir di ranjangku.” ucap Aciel tenang dan langsung melangkah pergi bersama Sian. Orang-orang yang masih berkumpul di belakangnya terdengar masih bersorak sorai menyemangati Aciel. Beberapa diantara mereka kemudian mulai bertaruh, siapa yang akan menjadi pemenang dalam pertandingan itu.

__ADS_1


__ADS_2