Black Swan

Black Swan
24


__ADS_3


"kumpulkan para devisi organisasi secepatmya, aku akan mengadakan rapat untuk memilih salah satu diantara mereka untuk menggantikanku." perkataan tyler membuat victor membulatkan matanya menata heran sekaligus bertanya-tanya.


"apa maksudmu boss? untuk apa kau mencari pengganti. suatu hari nanti putramu lah yang akan melanjutkan kepemimpinan. untuk apa kau repot–"


"aku akan berhenti dari organisasi ini, vic." lanjut tyler memotong. nafas tyler memberat, ini keputusan yang harus dia buat. meski tyler tahu organisasi ini begantung padanya, tapi sudah saatnya dia keluar dari lingkaran hitam disekitarnya. demi luna dan keselamatanya.


untuk kali ini biarkan tyler mengambil keputusan yang egois. karena dia telah menemukan tujuan dari hidupnya, dan tyler tidak mau kehilangan itu. karenanya tyler harus memilih dan akhirnya mengorbankan salah satu meski itu adalah nyawanya sendiri. hal ini bukan apa-apa untuknya.


"berhenti? kenapa?"alis victor semakin mengeryit dalam, tidak mengerti.



"aku tidak bisa terus membiarkannya berada dalam bahaya. cepat atau lambat musuh- musuhku akan tahu keberadaan luna. dan mereka akan mulai mengincarnya karena mereka tahu luna adalah kelemahanku. aku ingin melindunginya." jelas tyler.


"tapi bukan dengan cara seperti ini. semua orang yang berada disini bergantung padamu. lalu jika kau pergi bagaimana dengan kami semua!" tekan victor dengan nada suara yang semakin meninggi. untuk pertama kalinya dia tidak suka dengan kehadiran luna ditengah-tengah mereka.


"victor..."


"apa dia menyuruhmu memilih? biar aku yang berbicara padanya. dia tidak berhak membuat memilih dirinya atau organisasi ini!!"


tyler terdiam beberapa saat, melihat luapan amarah yang dikeluarkan oleh victor. jarang tyler melihat victor meluapkan amarahnya sebesar ini kecuali saat mereka berhadapan dengan musuh.


tyler bangkit dari duduk berjalan mengitari meja kerjanya, lalu berdiri didepan victor dengan jarak setengah meter. "tidak. aku sendiri yang membuat keputusan ini, vic."


"aku tahu kau mencintainya tapi organisasi ini adalah hidupmu. jika dia menyuruhmu memilih itu sama saja dia menyuruhmu untuk mati." tekan victor lagi. kepalan tangannya semakin kencang, bahkan buku buku jarinya memutih dan tanpa sadar melukai tangannya sendiri


"dari awal aku tidak pernah berniat terjun ke dalam dunia gelap ini jika bukan karena tuan alexander yang menyelamatkan hidupku."


"aku berhutang  budi padanya, dia menyelamatkan hidupku hingga aku bisa bernapas dan berdiri di depanmu sampai detik ini. bagiku dia adalah ayah sekaligus penyelamat disaat aku kehilangan arah dan tujuan. kau yang paling tau, vic. karena kau adalah saksi hidup dari semua hal yang terjadi dalam hidupku."


"karena itu semua yang telah aku lakukan untuk membuat organisasi kita sampai di titik ini semata mata untuk membalas hutang budi ku kepadanya."

__ADS_1


"aku tahu itu tidak akan pernah cukup. tapi tujuanku membuat organisasi kita menjadi organisasi terkuat di dunia sudah tercapai jadi biarkan aku kini memilih jalanku sendiri."


"kau pikir aku yang memilih kehidupan gelap ini?!!" sentak victor emosi. "kakekku, ayahku dan bahkan seluruh keluargaku mengabdi pada organisasi ini selama bertahun tahun. dan itu akan terus berlanjut seumur hidup keluarga kami, darah itu tidak bisa lepas dariku tyler."


"sejak kecil aku tidak pernah punya kehidupan normal. dimana anaka anak lain diluar sana menikmati masa kecil nya, bisa bebas bermain, bersekolah, dan memiliki banyak teman sedangkan aku, di umur tujuh tahun aku diajari bagaimana cara menembak dan di umur sebelas tahun aku sudah menjadi seorang pembunuh. aku tidak memilih untuk terlahir seperti ini tyler, aku ingin merasakan hidup normal seperti orang orang diluar sana."


"sampai suatu hari kakek alex membawamu masuk kedalam organisasi, untuk pertama kalinya aku punya seorang teman."


victor menarik nafas dalam dalam mengenang masa-masa dimana tyler pertama kali diperkenalkan di organisasi mereka. "ini takdirmu tyler. kau tidak bisa lepas atau melepaskannya. sama sepertiku. kita tidak berhak untuk membuat pilihan dalam hidup kita sendiri." rahang tyler mengeras, apa yang dikatakan victor menusuk ke dalam dadanya, takdir seperti ini sudah digariskan dalam hidupnya, dan tyler tidak bisa menghindar.


"aku berbicara sebagai temanmu. kau tidak bisa melepas organisasi ini begitu saja. tempat ini adalah tanggung jawabmu dan kami semua bergantung kepadamu."


mereka saling menatap satu sama lain. lubuk hati tyler terasa sesak.


"aku tidak pernah meminta apapun dalam hidup ini victor. sampai aku bertemu dengan luna dan jatuh cinta kepadanya. untuk pertama kalinya aku menginginkan seseorang itu menjadi milikku. sekali saja kenapa aku tidak berhak memilih jalan hidupku sendiri."


"aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya, melindunginya dan membuatnya bahagia. selama hidup aku tidak pernah meminta apapun pada tuhan. dan ketika tuhan menjawabnya, dia akhirnya membuat luna membalas perasaanku."


berdiam diri sembari menatap simbol tuhan didepan sekarang menjadi kebiasan tyler untuk mencari jalan keluar atas masalah yang terjadi dalam hidupnya, dia merasa tenang dan damai disini. apalagi setelah perbincangan yang dalam dengan victor barusan. kepala tyler dipenuhi banyak keresahan.


tuhan... apa yang harus dia lakukan?


'jika itu keinginanmu kau bisa menahannya disini. bersamamu selamanya.'


tyler tersenyum getir. akan kah tyler bisa memaksa luna untuk melakukan itu? apa dengan memaksa luna tetap disini akan membuatnya bahagia? tidak, gadis itu berhak atas kebebasan dalam hidupnya, dia punya teman dan keluarga. tyler tidak bisa membiarkan luna terjerat di dunia  gelap yang sama sepertinya. kebahagiaan gadis itu adalah yang terpenting. dan sumber kebahagiaan itu tidak hanya dari tyler.


tyler bahkan sangsi apakah saat ini luna bahagia bersamanya atau tidak. tapi satu yang tyler yakini saat ini, luna belum sepenuhnya menerima dirinya.


"apa yang sedang kau lakukan?" suara yang sangat familiar di telinga tyler tiba tiba menyela kesunyian ruangan kecil ini. tyler berbalik melihat seseorang itu berjalan ditengah melintasi bangku-bangku yang berjejeran.


"aku mencarimu dari tadi dan ternyata kau disini." lanjutnya semakin mendekati tyler yang duduk di barisan paling depan.


"hmm aku disini. aku tidak kemana-mana. aku selalu berada didekatmu." balas tyler membawa luna duduk disampingnya.

__ADS_1


"apa yang sedang kau pikirkan tadi? kau  terlihat sangat serius menatap tuhan." tanya luna penasaran.


jeda beberapa detik, luna menatap manik mata biru tyler yang terdapat banyak keraguan dan kegelisahan. entah sejak kapan sepertinya perasaan mereka saling terhubung, luna juga tidak tau kenapa langkah kakinya terbawa sampai kesini. luna seakan bisa merasakan suatu perasaan yang sama seperti apa yang sedang tyler rasakan, rasa frustasi dan ketidakberdayaan ada di diri tyler saat ini.


"aku meminta sesuatu padanya dan berharap dia akan mengabulkannya."


"bisakah aku percaya padanya?" lanjut tyler bertanya, lebih tepatnya meminta tanggapan dari luna.


"kenapa tidak. dia akan mengabulkan semua keinginan dari anak anaknya yang sungguh-sungguh memohon petunjuk." lagi tatapan tyler tidak bisa luna artikan, ini pertama kalinya dia melihat raut wajah tyler yang penuh rasa frustasi. "boleh aku tahu apa yang kau minta?" tanya luna penasaran


tyler menggeleng, "itu tidak akan terwujud jika kau mengetahuinya."


"kenapa kau berpikir seperti itu? bisa jadi akulah orang yang mewujudkan keinginanmu itu."


"kau!" balas tyler cepat.


"aku menginginkanmu."


butuh beberapa saat untuk luna mencerna kata yang keluar dari mulut tyler barusan hingga luna tidak menyadari ternyata tyler sudah berlutut dibawah kakinya dengan sebuah cincin terulur padanya. "luna... maukah kau menikah denganku?"



"apakah kau luna william bersedia menerima aku tyler alexanders untuk menjadi suamimu. aku berjanji untuk selalu menyayangimu, menjagamu dan bertahan disisimu baik pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit. aku berjanji akan mencintaimu, dulu, sekarang dan selama-lamanya."


luna tidak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh. tatapan matanya hanya tertuju pada tyler, mendengar setiap kata yang diucapkan dari bibinya dengan lantang dan tanpa keraguan membuat luna tahu jawaban apa yang bisa dia berikan.


tidak ada kata selain iya yang terlintas di kepalanya. luna berusaha mengontrol tangisnya untuk membalas perkataan tyler yang kini tengah menunggu dengan gelisah jawabnya,


"aku luna william menerimamu tyler alexander sebagai suamiku dan bersungguh sungguh atas janji kita dihadapan tuhan untuk bersama selamanya." kata di akhir kalimat luna semakin membawanya ke dalam dekapan tyler.


begitu mereka saling berpelukan sejuta kelegaan menguap dari dalam diri tyler. dia sudah benar benar jatuh. "aku mencintaimu luna." bisik tyler semakin mengeratkan pelukannya.


__ADS_1


__ADS_2