
Laila memejamkan matanya dalam diam sambil mendengarkan suara alunan musik klasik yang mengalun di kamarnya. Sembari mendengarkan musik, sesekali Laila mengelus perut buncitnya sambil merasakan kehidupan putra mungilnya yang sebentar lagi akan terlahir ke dunia. Dengan napas teratur, Laila mulai membayangkan kehidupannya beberapa bulan terakhir dengan kehidupannya dulu. Sekarang Nathan selalu ada untuknya dan tidak pernah meninggalkannya terlalu lama di rumah sakit. Bahkan pria itu juga selalu memberikannya perhatian kecil seperti memijit punggungnya, membuatkannya susu ibu hamil, dan sesekali memasakannya sarapan jika ia harus pergi ke rumah sakit pagi-pagi buta. Tapi entah kenapa ia belum bisa menerima lamaran Nathan untuknya. Terkadang bayang-bayang masa lalu yang menyedihkan itu berputar-putar di otaknya dan membuatnya menjadi bimbang untuk menerima lamaran Nathan.
“Lai.”
Laila membuka matanya pelan dan langsung berhadapan dengan Nathan yang tengah berdiri di depannya.
“Kau belum makan, kau ingin aku memasakan sesuatu untukmu?”
Laila tampak berpikir sejenak untuk memikirkan makanan apa yang hari ini ingin ia makan.
“Emm.. entahlah, aku sedang tidak ingin makan apapun.” jawab Laila jujur. Nathan mengambil tempat di sebelah Laila dan mengelus perut Laila pelan.
“Kau harus makan untuk pertumbuhan bayi kita, hmm.” ucap Nathan lembut. Laila memegang tangan Nathan dan mengarahkannya pada sisi kanan perutnya yang terasa ditendang dengan cukup kuat oleh anaknya.
“Dia sepertinya setuju denganmu.” ucap Laila terkekeh. Nathan tampak takjub ketika merasakan pergerakan anaknya yang begitu aktif di dalam perut Laila. Andai dulu ia tidak melakukan hal bodoh, pasti ia sudah merasakan tanda-tanda kehidupan itu sejak dulu. Ah.. masa lalu memang penuh dengan hal-hal yang menyedihkan untuknya.
“Apa kau ingin pergi keluar? Toh hari ini kita sama-sama sedang libur, aku bisa menemanimu seharian kemanapun kau mau. Kita bisa membeli perlengkapan bayi untuk anak kita nanti.”
Laila terlihat tertarik dengan penawaran Nathan yang menggiurkan. Lagipula hari ini ia sedang tidak memiliki pekerjaan apapun dan ia juga tidak sedang mengantuk, sehingga tawaran yang diberikan oleh Nathan harus ia terima dengan penuh sukacita.
“Ayo! Aku tiba-tiba ingin makan kerang dan udang rebus dengan saus madu yang lezat, hmm... pasti sangat enak.”
Nathan tersenyum geli melihat wajah Laila yang terlihat kekanakan itu, mengingatkannya pada Lailanya yang dulu.
Pertama kali ia mengenal Laila, ia adalah wanita ceria yang kekanakan. Tapi semenjak mereka berpisah, sepertinya Laila menjadi lebih defensif dengan menunjukan sisi galaknya agar tidak ada pria manapun yang berani mempermainkannya.
“Cepatlah bersiap-siap, air liurmu sebentar lagi akan membasahi ranjangku.” canda Nathan sambil mencubit pipi Laila gemas. Laila memajukan bibirnya kesal sambil menyingkirkan tangan nakal Nathan dari wajahnya.
“Nathan sakit! Ckk, keluarlah, aku akan bersiap-siap.” usir Laila galak sambil mendorong-dorong tubuh Nathan agar pria itu keluar dari dalam kamar yang sejak sepuluh bulan terakhir telah menjadi kamarnya juga.
Setelah kejadian malam itu, Laila memang tidak mau kembali lagi ke apartemennya dan memilih untuk tinggal bersama Nathan untuk sementara karena ia cukup trauma dengan kejadian percobaan pemerkosaan yang hampir menimpanya. Apalagi setelah kejadian itu Charlie tiba-tiba menghilang dan mengajukan cuti dari rumah sakit, sehingga ia tidak bisa melaporkan pria itu pada polisi dan menuntut hukuman yang seberat-beratnya pada pria brengsek itu. Tapi untungnya Nathan tidak keberatan dengan permintaannya untuk tinggal bersama pria itu dan menyembuhkan traumanya. Namun Tuhan justru memberikan kebahagian yang terduga untuknya.
Delapan bulan lalu ia dinyatakan positif hamil oleh dokter setelah ia merasa banyak hal-hal aneh yang terjadi pada tubuhnya. Padahal pagi itu ia tidak mengira jika ia akan diberikan anugerah itu lagi oleh Tuhan. Saat itu ia hanya ingin melupakan bayangan Charlie dan sentuhan Charlie dari tubuhnya. Dan karena saat itu ia benar benar kacau, tanpa sadar ia justru mengumpankan dirinya sendiri pada singa kelaparan seperti Nathan. Ia menggoda Nathan dan membuat Nathan bergairah padanya, hingga ia sendiri tidak bisa menahan hasrat itu dari
tubuhnya maupun Nathan. Dan setelah ia mengatakan hal yang sejujurnya pada Nathan jika ia sedang mengandung bayi pria itu, Nathan semakin menahannya di apartemennya. Pria itu tidak mengijinkan Laila untuk tinggal sendiri meskipun Laila mengatakan jika traumanya sudah sedikit berkurang.
Pada suatu malam tiba-tiba Nathan menghampirinya dan berkata dengan serius jika ia ingin menebus kesalahannya dulu yang selalu mengabaikan Laila dan tidak pernah memberikan perhatian apapun saat Laila sedang mengandung anaknya. Dan seperti terhipnotis oleh kesungguhan Nathan, Laila langsung mengambulkan keinginan pria itu untuk menebus seluruh kesalahannya di masa lalu, tapi satu hal yang hingga saat ini belum diterima oleh Laila dari Nathan, lamaran pria itu.
-00-
Laila berjalan keluar dari kamarnya dengan dress lebar selutut berwarna merah yang tampak begitu pas di tubuhnya. Wanita itu tampak lebih segar setelah mandi dan terlihat menggunakan make up tipis di wajahnya. Nathan yang mendengar suara langkah kaki Laila yang mendekat langsung mengalihkan perhatiannya pada layar ponselnya yang sejak tadi ditekuninya. Pria itu memberikan senyum manis pada Laila sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Laila berjalan di tengah kepayahannya membawa beban berat di perutnya.
“Kau terlihat cantik dengan dress merah itu, Lai.”
“Hmm, kurasa kau bukan anak muda lagi Nath, jadi jangan coba-coba merayuku dengan kata-kata manismu itu.” peringat Laila dengan wajah malu. Nathan tersenyum tipis menanggapi ucapan Laila dan segera menyambar kunci mobilnya di atas meja.
“Jadi kemana tujuan kita hari ini?”
“Kedai seafood dan toko perlengkapan bayi, kurasa aku membutuhkan beberapa dress lucu dan mainan bayi untuk calon anakku.”
__ADS_1
“Dia juga anakku, Lai.” koreksi Nathan cepat. Tapi Laila tampak tak peduli dan langsung berjalan pergi meninggalkan Nathan.
“Oiya, dimana Lucas? Apa dia sudah pulang?”
Tiba-tiba Laila menghentikan langkahnya sambil melongokan kepalanya kesana kemari. Ia baru menyadari jika keberadaan Lucas sudah tak terlihat di apartemen Nathan. Padahal sepertinya beberapa menit yang lalu ia masih mendengar suara berisik pria itu.
“Lucas sudah pulang sejak satu jam yang lalu, apa kau tidak mendengar suaranya yang berteriak-teriak untuk memintamu menerima lamaranku? Huh, anak itu memang sangat mempedulikan kehidupan kita.” ucap Nathan miris dengan senyum masam. Laila tersenyum kecil sambil menepuk pundak Nathan pelan.
“Kuharap kau tidak akan berhenti berusaha.”
Setelah mengatakan hal itu Laila langsung pergi meninggalkan Nathan yang masih mematung di tempatnya, tak percaya jika baru saja Laila memberikan sebuah harapan untuknya.
“Aku memang tidak akan berhenti berusaha, Lai.” gumam Nathan pelan dengan senyum ceria yang merekah di wajahnya.
-00-
Setelah selesai menyantap seporsi udang dan kerang di kedai seafood langganan Laila, mereka berdua langsung menuju sebuah mall untuk mencari perlengkapan bayi yang dibutuhkan oleh calon anak mereka. Sebenarnya selama ini mereka sama sekali belum pernah pergi bersama dan mencari perlengkapan bayi bersama seperti ini. Meskipun hubungan mereka sudah lebih baik, tapi terkadang Laila masih memasang dinding pembatas yang cukup tebal di sekitarnya. Ia seperti belum ingin membiarkan Nathan untuk masuk ke dalam kehidupannya lebih dalam dan sering membatasi kontak dengan pria itu jika dirasa sudah hampir kelewat batas. Dan Nathan cukup menghargai keputusan Laila untuk menjaga jarak dengan dirinya dengan memberikan Laila kamar sendiri agar wanita itu lebih leluasa dengan dunianya yang tidak bisa dijangkau olehnya.
“Nath, bagaimana dengan kaus kaki yang ini, warna soft green dan baby blue sangat bagus untuk seorang bayi laki-laki.” ucap Laila sambil menunjukan dua kaus kaki di tangannya. Nathan memandang kaus kaki itu dengan perasaan gemas sambil membayangkan calon anaknya yang sebentar lagi akan terlahir ke dunia.
“Kita ambil kaus kaki itu, dan bagaimana dengan baju yang ini, kurasa ini sangat lucu.”
Nathan menunjukan sebuah kaus berbahan katun dengan motif mobil berwarna merah kerahnya. Laila yang melihat hal itu langsung menyambarnya dengan antusias sambil menggoyang-goyangkannya di udara.
“Kaus ini lucu sekali, meskipun ini terlalu besar untuk seorang bayi, tapi ia bisa memakainya saat usianya lima bulan nanti, kita juga harus mengambil yang ini.” ucap Laila bersemangat. Nathan menyerahkan pakaian-pakaian pilihannya dan pilihan Laila pada pelayan toko yang sejak tadi menemani mereka memilihkan pakaian bayi. Laila kemudian meminta ijin pada Nathan untuk melihat koleksi mainan dan juga kereta dorong bayi karena ia belum membelinya untuk calon putra kecilnya.
“Nath, aku akan melihat kereta bayi di sana, kau tunggu saja di sini.”
Tiga puluh menit kemudian Nathan mulai mendongakan wajahnya untuk mencari Laila. Ia rasa Laila sudah terlalu lama meninggalkannya dan belum kembali untuk menemuinya. Ia pun memutuskan untuk membayar belanjaannya di kasir dan bergegas untuk mencari Laila karena tiba-tiba ia merasa khawatir. Ia takut Laila mengalami sesuatu yang akan membahayakannya dan juga bayinya disaat ia tidak sedang berada di sekitar wanita itu.
-00-
Laila terlihat asik melihat-lihat kereta dorong bayi dengan berbagai model dan merk. Semua kereta dorong itu terlihat lucu di mata Laila dan rasanya ia ingin membeli semua kereta dorong itu untuk bayinya karena ia tidak bisa memilih satu diantara semua kereta dorong yang dipajang di depannya. Dulu setelah ia keguguran, ia sering melampiaskan rasa stressnya dengan mengunjungi semua toko perlengkapan bayi dan toko mainan untuk menghibur diri. Tapi selama berada di toko-toko tersebut ia justru akan menangis terisak karena ia teringat akan
calon bayinya yang gagal ia lahirkan ke dunia karena keegoisannya yang tidak mau merawat dirinya sendiri setelah Nathan mengabaikannya.
“Nona, apa aku bisa mencoba kereta dorong yang ini?”
Laila menunjuk sebuah kereta dorong besar berwarna hijau dengan hiasan boneka kelinci di depannya. Pelayan toko itu kemudian mengeluarkan kereta dorong itu dari etalase toko yang besar dan membiarkan Laila mencobanya beberapa kali.
“Nona, apakah kau bisa mengirimkan kereta dorong ini ke apartemenku? Karena aku akan mengambil yang ini.”
“Tentu nyonya, kami memiliki jasa layanan antar untuk setiap produk-produk kami, nyonya tinggal menuliskan alamat nyonya di kertas ini, dan kami akan mengantarkan barang pesanan nyonya dengan selamat ke apartemen nyonya.”
Laila tersenyum girang dan meminta pelayan toko itu untuk menunggu sebentar karena ia akan memanggil Nathan untuk melihat kereta dorong pilihannya. Tapi saat ia hendak berbalik, seorang pria telah menghadang langkahnya terlebih dahulu dengan senyum arogannya yang sangat dibenci Laila. Laila berpura-pura untuk tidak menanggapi pria itu dan berusaha untuk menenangkan degup jantungnya yang mulai menggila. Namun pria itu dengan sengaja justru mencekal lengannya dan meminta Laila untuk berhenti di sebelahnya.
“Apa kabar dokter Stanford, lama kita tidak berjumpa.”
“Lepaskan tanganmu dari lenganku, aku tidak memiliki urusan denganmu.” ucap Laila sinis sambil menyingkirkan tangan Charlie dari lengannya. Charlie dengan suka rela langsung melepaskan tangannya dari lengan Laila, tapi pria itu tidak mengijinkan Laila untuk pergi kemanapun karena ia langsung memblokir akses jalan Laila.
__ADS_1
“Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu dokter Stanford, jadi kuharap kau tidak mencoba untuk menghindariku.”
“Aku tidak mau berbicara denganmu, kau pria brengsek keji yang suka memanfaatkan kelemahan wanita, seharusnya kau membusuk di penjara karena perbuatanmu yang menjijikan itu.” umpat Laila berapi-api. Charlie tampak tak terpengaruh dengan ucapan Laila dan hanya membalasnya dengan seringaian licik yang membuat Laila semakin membenci pria itu.
“Dokter Stanford, kau tidak berhak melaporkanku pada polisi karena kau tidak memiliki bukti atas kejahatanmu. Justru polisi akan menertawakanmu karena saat ini kau sedang mengandung tapi kau sama sekali belum menikah. Ckckck tak kusangka ternyata kau semunafik itu, Laila. Kau menolakku dan memaki-makiku dengan kata-kata kasar yang sangat menyakitkan hati, tapi kau justru menyerahkan tubuhmu sendiri pada pria lain. Hmm, ternyata kau tak sesuci yang kukira.” ucap Charlie santai. Laila merasa ubun-ubun di kepalanya sebentar lagi akan mendidih karena ia begitu marah dan merasa terhina oleh perkataan Charlie. Andai saja ini bukan di tempat umum, mungkin ia akan menghajar pria brengsek itu hingga mati. Rasanya ia sangat menyesal, mengapa dulu ia tidak membiarkan Charlie mati di tangan Nathan saat pria brengsek itu hampir memperkosanya?
“Tapi setidaknya aku menyerahkan tubuhku pada pria yang tepat, bukan pada pria brengsek sepertimu yang hanya ingin bersenang-senang. Sekarang pergilah, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi.” usir Laila kasar sambil mendorong tubuh Charlie keras agar pria itu segera menyingkir dari jalannya. Tapi lagi-lagi Charlie berbuat ulah dengan menahan pergelangan tangannya dan tidak ingin membiarkan Laila pergi begitu saja.
“Aku belum mengijinkanmu pergi dokter Stanford, jadi kau tidak bisa mengusirku sesukamu.” desis Charlie penuh peringatan. Laila meronta-ronta dari cekalan tangan Charlie karena ia merasa dirinya kembali tidak aman. Orang-orang yang melihat tingkah Laila sedang kepayahan melawan Charlie hanya berani menatapnya tanpa mau repot-repot menolong wanita hamil yang sedang kesusahan itu.
“Laila...”
“Lepaskan Laila! Kau menyakitinya.”
Refleks Charlie berbalik ke arah sumber suara dan ia langsung menemukan Nathan yang sedang berdiri penuh amarah di depannya. Dengan kasar Nathan mendorong tubuh Charlie dan menyuruh pria itu untuk pergi sejauh-jauhnya dari Laila. Tapi Charlie justru terkekeh di tempat sambil menatap penuh ejekan pada Laila dan Nathan.
“Oh, jadi pria ini adalah ayah dari anakmu. Hmm, kau memang wanita murahan.”
Bugh!
“Jaga bicaramu brengsek, yang kau sebut wanita murahan adalah ibu dari anakku. Dan kau tidak berhak untuk menghina Laila karena kau tidak jauh lebih baik daripada sampah.” maki Nathan tak terima. Laila mencoba menjauhkan Nathan dari Charlie karena mereka bertiga sudah menjadi tontonan seluruh pengunjung mall. Lagipula tak ada gunanya juga jika Nathan terus menerus meladeni pria gila seperti Charlie yang memang ingin memancing kemarahannya untuk mempermalukannya di depan umum.
“Huh, jadi kau sedang memerankan peranmu sebagai seorang calon ayah yang baik agar kau bisa mengesankan Laila? Aku tahu, kau sebenarnya adalah mantan suami Laila yang beberapa tahun lalu pergi tanpa memberikan kepastian apapun hingga kau menyakiti Laila. Dasar pria munafik! Aku yakin, setelah kau bosan dengan Laila dan calon anakmu yang sedang dikandung Laila, kau pasti akan pergi menjauh dan kembali mencampakan Laila seperti dulu. Kau dan aku, kita sama-sama brengsek bukan?” ucap Charlie ringan dengan nada mencemooh. Nathan terlihat sudah mengepalkan buku-buku jarinya hingga memutih dan telah siap untuk menghajar Charlie lagi. Tapi pegangan tangan Laila di lengannya membuatnya tidak bisa menghabisi Charlie begitu saja. Sejak tadi Laila terus berbisik padanya untuk segera pergi dan pulang karena ia merasa malu berada di tengah-tengah mall dengan banyak pengunjung yang melihat aksi pertengkaran mereka. Apalagi pertengkaran itu diwarnai dengan serangkaian aksi pembukaan aib yang sangat memalukan, membuat Laila rasanya ingin segera
tenggelam ke dalam bumi karena ia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya menghadapi tatapan menghakimi para pengunjung mall yang saat ini sedang mengarah kepadanya.
“Nath, ayo kita pulang. Jangan hiraukan Charlie, ia memang pria gila yang seharusnya kita abaikan. Nathan, kumohon jangan kotori tanganmu untuk menghajar Charlie atau membunuhnya, aku percaya kau adalah pria baik yang penyabar.”
Nathan tampak bergeming di tempat dengan serangkaian kata-kata menenangkan yang dibisikan Laila padanya. Tak bisa dipungkiri jika sebenarnya ia ingin maju ke depan dan menghabisi Charlie sekarang juga ditengah-tengah pengunjung mall yang sedang menyaksikan pertengkaran mereka. Tapi akal sehatnya langsung membenarkan ucapan Laila yang menyuruhnya untuk mengabaikan Charlie karena kedua tangannya terlalu berharga hanya untuk menghajar Charlie.
“Kita pulang, Lai.” ajak Nathan langsung dengan sorot mata yang tidak lepas sedikitpun dari Charlie. Laila pun langsung menghembuskan napasnya lega ketika Nathan akhirnya luluh dan tidak kehilangan kontrol untuk menghajar Charlie. Mereka pun berjalan cepat meninggalkan Charlie dan kerumunan orang-orang yang sedang berkumpul di sekitar mereka. Tapi entah mengapa, tiba-tiba Nathan melayangkan pukulan kerasnya tepat di wajah Charlie ketika mereka berjalan melewati Charlie. Laila pun cepat-cepat menyingkirkan tubuh Nathan dari Charlie agar pria itu tidak kembali memukul Charlie. Namun Charlie yang tidak terima langsung mendorong tubuh Laila keras agar Laila menyingkir dari Nathan dan tidak mencoba untuk melindungi Nathan.
“Akhh..”
Laila meringis kesakitan sambil menahan sakit di area perutnya yang tanpa sengaja membentur lantai. Dorongan Charlie yang keras membuatnya jatuh tersungkur ke atas lantai dengan perut yang lebih dulu menghantam lantai. Seketika para pengunjung mall berteriak panik ketika mereka melihat rembesan darah yang mulai menggenang di atas lantai. Nathan pun dengan sigap langsung menghampiri Laila yang masih meringis kesakitan dengan wajah yang sudah berubah pucat.
“Laila! Ada apa dengamu? Kita ke rumah sakit sekarang!” teriak Nathan khawatir. Sedangkan Charlie yang melihat hal itu hanya mampu berdiri mematung dengan pandangan kosong. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu, yang jelas saat ini Charlie sedang kehilangan kesadarannya.
“Nathan, sepertinya aku akan melahirkan. Ketubanku pecah.” ucap Laila terbata-bata. Nathan pun segera menggendong Laila dan membawa Laila ke dalam mobilnya yang telah disiapkan oleh petugas parkir mall di depan pintu utama mall. Darah tampak berceceran di sepanjang lantai mall yang putih hingga pintu depan mall. Sepertinya pendarahan yang terjadi pada Laila benar-benar serius.
“Laila bertahanlah sebenatar, tolong jangan tinggalkan aku.” ucap Nathan takut dengan wajah pucat. Dari balik kursi penumpang Laila sempat terkekeh pelan dengan ucapan Nathan yang menurutnya berlebihan itu.
“Nath.. kau tenang saja, aku akan baik-baik saja. Apa kau lupa jika aku ini seorang dokter, aku sangat tahu bagaimana keadaanku sekarang. Aku pasti akan segera pulih setelah melahirkan nanti, walaupun kelahiran ini akan sedikit dipaksakan karena seharusnya ia lahir tiga minggu lagi.” ucap Laila tenang. Mendengar hal itu Nathan justru menitikan air matanya dan semakin tidak tenang. Apa yang dikatakan oleh Laila jelas sangat berbanding terbalik dengan apa yang sedang ia saksikan sekarang. Jelas-jelas saat ini Laila sedang mengalami pendarahan dan ia tidak tahu apakah hal itu akan membahayakan untuk Laila atau tidak. Tapi selama ini banyak wanita yang tidak selamat setelah mengalami pendarahan. Jadi apakah ia harus mempercayai Laila jika keadaannya akan baik-baik saja setelah apa yang sering ia dengar selama ini tentang wanita pendarahan.
“Aku tahu kau pasti akan baik-baik saja, kau adalah wanita kuat yang galak. Kau tidak akan mungkin melewatkan kesempatan untuk merawat anak kita begitu saja, bukankah kau selalu ingin memberikan keluarga yang lengkap untuk anakmu kelak agar ia tidak merasa kesepian sepertimu, dan sepertiku. Aku yakin kau pasti akan bertahan hingga akhir.” ucap Nathan tegas, meskipun dengan suara tercekat. Laila tersenyum manis melalui kaca spion sambil mengelus perutnya yang terasa nyeri dan seperti sedang diremas oleh ribuan tangan yang tak kasat mata. Wanita itu pun akhirnya memejamkan mata dengan salah satu tangan yang terkulai lemah di sampingnya.
“Laila...”
Nathan bergumam pelan dengan tatapan nanar. Laila sudah kehilangan kesadarannya akibat pendarahan yang dialaminya. Dan ia tidak tahu apakah yang dikatan Laila benar, bahwa dia akan baik-baik saja setelah ini. Tapi saat ini Nathan sama sekali tidak ingin memikirkan hal itu. Yang ada di dalam kepalanya adalah gambaran kehidupannya yang bahagia bersama Laila dan calon anaknya kelak. Apapun yang terjadi ia akan memperjuangkan kebahagiaannya dan tidak akan membiarkan Laila pergi meninggalkannya begitu saja dengan seluruh kesedihan yang melingkupinya. Ia akan berjuang untuk Laila.
__ADS_1
“Lai, aku akan berjuang untukmu, apapun yang terjadi.”