
“Tiffany, kami turut bahagia atas pertunangan kalian. Kami sangat menunggu undangan pernikahan kalian.” ucap Summer dan Sunny sambil memeluk Tiffany bergantian. Tiffany pun langsung membalas pelukan hangat dari kedua sahabatnya itu dengan antusias.
“Terimakasih. Pasti kalian adalah orang pertama yang akan kuundang saat pesta pernikahanku nanti.” janji Tiffany sungguh-sungguh. Setelah melepaskan pelukannya pada Sunny, Sian langsung merangkul pinggang Tiffany mesra sambil mengucapkan terimakasih pada kedua sahabat baik Tiffany yang telah menyempatkan diri untuk datang ke acara makan malam mereka hari ini.
“Sampai jumpa, semoga Tuhan memberkati kalian berdua.” pamit Summer sambil melambaikan tangan pada pasangan Tiffany dan Sian yang tampak begitu mesra di tengah-tegah ballroom restoran.
Sepeninggal mereka, kedua pasangan itu tampak berselfie ria dengan Tiffany yang terus mengarahkan kameranya pada sang kekasih yang tampak enggan untuk berfoto. Tapi karena Tiffany terus memaksanya untuk berfoto, akhirnya Sian memilih mengalah dengan mengikuti kemauan sang kekasih dengan bergaya apa adanya di sebelah sang kekasih sambil merangkul bahu Tiffany mesra.
“Aciel menitipkan hadiah untukmu.”
Tiba-tiba Sian mengangsurkan sebuah kotak hitam yang terbungkus dengan pita berwarna merah kearah Tiffany. Dengan antusias wanita itu menerimanya lalu segera membukanya dengan suara teriakan yang terdengar cukup gembira. “Manis sekali sahabatmu itu, kalung ini sangat cantik.” puji Tiffany takjub. Ia lalu segera mematut dirinya di depan cermin menggunakan kalung itu dan meminta Sian untuk memasangkannya di lehernya.
“Bagaimana kondisi Aciel sekarang?”
“Tidak buruk, tapi masih sama seperti kemarin. Aciel tidak akan pernah baik-baik saja sebelum Eden datang untuk mengembalikan separuh hatinya yang dibawa pergi oleh Eden.”
“Kasihan sekali dia, jika aku bisa, aku sangat ingin menghiburnya.”
“Kenapa kau ingin menghiburnya?” tanya Sian cemberut sambil memutar bahu Tiffany agar melihat kearahnya. Wanita itu sontak tertawa dan menjepit hidung Sian jenaka dengan gemas.
“Apa kau cemburu pada sahabatmu sendiri?”
“Mungkin.” jawab Sian asal. Sejujurnya sejak dulu ia selalu cemburu pada Aciel karena pria itu selalu lebih mudah mendapatkan perhatian dari orang lain dibandingkan dirinya. Bahkan kekasihnya sendiri sekarang juga lebih memikirkan Aciel daripada dirinya.
“Kau kekanakan sekali Sian.”
“Memang, jadi jangan membuatku merasa cemburu pada sahabatku sendiri.” jawab Sian lagi acuh tak acuh. Tiffany lalu memanfaatkan wajah cemberut Sian untuk berfoto sekali lagi bersama pria itu sambil tertawa lebar di sebelah Sian yang wajahnya telah berubah semakin muram.
“Apa itu sudah cukup? Kau akan mempermalukanku dihadapan klien-klienku jika mereka melihatnya
di internet besok.” keluh Sian dengan ekspresi lucu. Namun Tiffany justru menanggapinya santai sambil mengupload semua hasil jepretannya hari ini ke dalam akun sosial medianya.
“Sekali-sekali kau harus terlihat konyol Sian. Mereka pasti merasa bosan dengan wajahmu yang kaku dan datar itu saat di perusahaan atau saat sedang memimpin rapat. Semakin lama aku rasa kau semakin mirip dengan Aciel. Lagipula ini dapat menjadi kenangan yang indah untuk kita.” timpal Tiffany ringan. Sian akhirnya hanya mampu mengendikan bahunya acuh sambil mengacak-acak rambut Tiffany ringan. Sejak dulu hingga sekarang, ia pasti selalu tidak berkutik dengan berbagai macam permintaan Tiffany. Wanita itu selalu saja memiliki seribu satu cara untuk membujuknya agar ia mau luluh dengan permintaan kekasih cantiknya itu. Tak heran jika selama ini Tiffany adalah pihak yang paling mendominasi dalam hubungan mereka. Dan menurut Sian itu sama sekali tidak masalah untuknya. Asalkan Tiffany bahagia, ia pasti akan melakukan apapun untuk Tiffany.
“Sian, aku lelah. Ayo kita pulang sekarang.” ajak Tiffany sambil menguap berkali-kali. Sian mengangguk setuju dan segera menggandeng tangan Tiffany untuk keluar dari restoran jepang itu. Namun saat di parkiran Tiffany memutuskan untuk pulang ke apartemennya sendiri karena hari ini ia membawa mobil. Meskipun awalnya Sian tidak setuju, tapi pada akhirnya pria itu luluh juga dengan bujukan Tiffany. Lagipula wanita itu beralasan jika mobilnya ditinggal di restoran ini, besok pagi ia akan repot sendiri karena ia tidak bisa pergi ke butiknya dan harus
menunggu Sian untuk menjemputnya, padahal ia sangat tahu jika Sian adalah pria paling sibuk dan sangat gila kerja.
“Sampai jumpa sayang. Aku akan segera menghubungimu jika aku sudah tiba di apartemenku.”
Tiffany melambaikan tangannya beberapa kali pada Sian sebelum ia melajukan mobilnya keluar dari area parkir.
__ADS_1
-00-
Selama di perjalanan, Tiffany terus memutar lagu-lagu favoritnya untuk mengusir rasa bosan dan rasa kantuknya. Berkali-kali Tiffany menguap sambil melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Saan ini waktu telah menunjukan pukul sebelas malam. Tiffany lalu sedikit mempercepat laju mobilnya agar ia
dapat segera tiba di apartemennya. Rasanya kedua matanya sudah tidak mampu untuk diajak berkompromi lagi. Saat berada di persimpangan jalan, hampir saja Tiffany akan memejamkan matanya jika ia tidak mendengar suara klakson mobil yang begitu nyaring dari arah kanan karena mobilnya hampir menabrak mobil milik pengendara lain. Tiffany kemudian sedikit melakukan perenggangan untuk wajahnya. Ia menggerak-gerakan wajahnya ke kanan dan ke kiri sambil bernyanyi sekeras-kerasnya agar ia tidak tertidur saat mengemudi. Namun karena jalanan di
depannya semakin lama semakin sepi, Tiffany menjadi bosan dan tanpa sadar ia memejamkan matanya untuk beberapa detik.
Tiiinnnn
Suara klakson mobil yang begitu nyaring membuat Tiffany segera tersadar dan langsung membanting setirnya ke kiri. Dan bersamaan dengan itu, sebuah bus dari arah berlawanan sedang melaju dengan cukup kencang, sehingga kecelakaan itu tidak dapat dihindari. Mobil berwarna merah muda yang dikendarai oleh Tiffany tampak ringsek dan mengeluarkan asap tipis. Seluruh penumpang bus yang selamat segera berlari keluar untuk menyelematkan diri dan melihat keadaan sang pengemudi mobil. Namun saat mereka hendak mengeluarkan Tiffany dari dalam mobil, tiba-tiba mobil itu meledak dan langsung membakar hangus seluruh badan mobil. Seorang penumpang yang melihat kejadian itu segera menghubungi polisi dan juga pemadam kebakaran. Tapi saat mereka datang, semuanya sudah terlambat. Tiffany telah pergi. Ia meninggal dalam kecelakaan nahas itu.
-00-
1 Tahun kemudian~
Sian menatap nanar pada video yang ia rekam saat hari pertunangannya dengan Tiffany satu tahun yang lalu. Rasanya baru kemarin ia menyematkan cincin berlian itu di jari lentik Tiffany, tapi kini Tiffany telah pergi meninggalkannya. Wanita itu pergi dengan sangat tragis karena kecelakaan dengan tubuhnya sebagian besar sudah hangus terbakar saat tim medis membawanya ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi. Bahkan saat itu ia merasa tidak sanggup untuk melihat jasad Tiffany untuk terakhir kalinya, karena ia tidak tahan melihat keadaan Tiffany yang sangat mengerikan seperti itu. Padahal selama ini Tiffany selalu merawat kulitnya dengan baik agar kulitnya senantiasa lembut dan bersinar. Namun di akhir hidupnya ia justru harus pergi dengan kulit yang sudah hangus dan mengelupas. Dengan kasar Sian menghapus bulir-bulir air mata yang mengalir menuruni pipinya. Meskipun ini sudah satu tahun sejak kepergian Tiffany, tapi ia sama sekali belum bisa melupakan sosok wanita itu dalam hidupnya. Hidupnya pun menjadi kacau setelah kepergian Tiffany. Ia merasa tidak memiliki semangat hidup dan tujuan hidup karena salah satu alasannya untuk hidup di dunia ini adalah untuk Tiffany. Dan sekarang setelah Tiffany pergi, ia merasa tidak memiliki tujuan hidup lagi. Kehidupan yang dijalaninya setahun ini hanya merupakan sebuah tuntutan yang harus ia penuhi, bukan jenis kehidupan yang seharusnya ia nikmati setiap detiknya.
“Sian, lihat kemari. Waa, aku terlihat lebih gendut sekarang.”
Suara Tiffany yang begitu heboh di dalam video itu berhasil membuat hati Sian merasa perih. Sebenarnya ia tidak ingin melihat video itu lagi. Tapi, hanya video itulah yang dapat mengobati rasa rindunya pada Tiffany, sehingga ia tidak memiliki pilihan lain selain memutar video itu berkali-kali setelah ia pulang dari kantor.
“Tiffany, kenapa kau tega meninggalkanku?” gumam Sian pelan dengan nada penuh kesakitan dalam setiap katanya.
-00-
tenaganya untuk bekerja, tapi Olivia tetap bersikeras untuk mengambil lowongan pekerjaa itu, karena jumlah gaji yang didapatnya dari pekerjaan mencuci piring dapat menambah pundi-pundi uang yang dapat ia kumpulkan untuk biaya operasi matanya. Kini uang tabungan itu telah terkumpul sebagian. Kira-kira ia hanya perlu menabung selama satu tahun lagi agar ia dapat melakukan operasi mata. Apalagi seminggu yang lalu saat ia memeriksakan matanya ke rumah sakit, dokter mengatakan jika kondisi kedua matanya sudah semakin parah. Dan dokter menyarankan Olivia untuk segera melakukan operasi, karena kebetulan rumah sakit itu sedang memiliki persediaan kornea mata untuknya. Tapi sayangnya Olivia tidak bisa melakukan banyak, ia belum memiliki uang untuk membayar biaya operasinya, sehingga ia tidak dapat melakukan apapun selain tetap bekerja dan menunggu hingga uang-uang itu terkumpul semua.
Desir halus angin malam semakin membuat Olivia merapatkan jaket tipisnya yang sama sekali tidak dapat menghalau rasa dingin yang semakin menusuk tulangnya. Sembari tetap berjalan, Olivia mulai meraba-raba udara kosong di depannya untuk mencari tiang lampu penyeberangan. Olivia kemudian memajukan sedikit langkahnya ke depan dan ia mulai dapat merasakan tiang lampu itu berada di depannya. Sembari menunggu lampu merah itu berubah menjadi hijau, Olivia mulai mengamati suasana di sekitarnya yang hanya tampak seperti bayangan hitam. Tiba-tiba Olivia merasakan seseorang tengah menepuk pundaknya dengan keras. Orang yang menepuk pundaknya itu meracau tak jelas sambil menarik Olivia untuk mendekat padanya. Merasa terancam, Olivia memutuskan untuk berteriak dan segera berlari.
“Tttoolong, jangan ganggu aku.” teriak Olivia ketakutan. Wanita itu terus berlari ke depan tanpa mempedulikan suara klakson mobil yang saling bersahut-sahutan memperingatkannya. Di tengah jalan Olivia merasa sebuah mobil dengan lampu yang begitu terang menyorot wajahnya hingga ia tak mampu bergerak dan hanya terpaku di tempat. Kilasan bayang-bayang saat rumahnya dirampok dan saat kedua orangtuanya meninggal langsung melintas di benak Olivia, dan membuat Olivia hanya terpaku di tempat tanpa bisa menghindar dari laju mobil yang sudah semakin dekat kearahnya. Aku akan mati....
Tiinnnn tiin
Suara klakson mobil dan para pejalan kaki yang melihat keberadaan Olivia di tengah jalan langsung meneriakinya agar ia segera menyingkir. Tapi, untuk beberapa saat Olivia tak dapat menggerakan kakinya karena ia terlalu syok dan takut. Tak berapa lama, sebuah tangan besar tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya untuk menepi di pinggir jalan. Dengan langkah lemas, Olivia hanya mengikuti langkah kaki penyelamatnya tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya seorang pria padanya. Suara pria itu terdengar begitu datar dan tak bersahabat. Namun, meskipun begitu Olivia cukup merasa berterimakasih pada pria itu karena ia telah menyelematkannya yang hampir saja tertabrak mobil.
“Ttterimakasih tuan. Pppria mabuk itu mmengejarku.” ucap Olivia terbata-bata. Kedua lututnya masih terasa bergetar karena ia belum pernah mengalami kejadian semengerikan ini. Biasanya jika ia pulang kelewat malam, tidak ada seorang pun yang mengganggunya seperti malam ini, karena mereka semua tentu tidak mau melirik wanita buta sepertinya.
“Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang.” ucap pria itu lagi sambil mengamati ekspresi wajah Olivia yang masih terlihat takut. Dilihatnya setiap inci tubuh Olivia untuk meneliti kondisi Olivia saat ini, apakah wanita itu terluka atau tidak. Tapi setelah beberapa kali ia melihat tubuh Olivia dari ujung kepala hingga ujung kaki, ternyata Olivia sama sekali tidak terluka. Wanita itu benar-benar hanya syok dan juga gemetar karena kejadian tak terduga yang baru saja menimpanya.
__ADS_1
“Aaa aku tinggal di daerah The Jungle.” jawab Olivia terbata-bata. Sian lantas mengernyitkan dahinya sambil memikirkan daerah yang disebutkan oleh Olivia.
Bukankah itu perkampungan kumuh yang hari ini sudah digusur oleh pemerintah? batin Sian heran. Siang ini ia melihat berita di televisi jika penggusuran kampung itu membuat para penduduk yang telah bertahun-tahun tinggal di sana menjadi histeris dan tidak terima. Tapi pada akhirnya mereka memilih untuk menerima keputusan pemerintah, dan saat ini menurut kabar mereka akan dipindahkan ke sebuah tempat penampungan untuk para
tuna wisma. Sian lalu melirik Olivia sekali lagi sambil bertanya pada wanita itu. “Bukankah tempat itu sudah digusur oleh pemerintah siang ini?”
“Digusur? Bbbagaimana mungkin? Kenapa aku tidak tahu?” tanya Olivia mulai panik. Seluruh uang dan barang-barangnya masih berada di sana. Jika perkampungan itu digusur, lalu bagaimana dengan hidupnya setelah ini? Bahkan sekarang ia hanya membawa uang sepuluh dollar di dalam saku bajunya. Dan ia yakin ia tidak akan bisa bertahan hidup hanya dengan uang sepuluh dollar itu.
“Kupikir pemerintah memang melakukannya secara mendadak. Tapi, pemerintah telah memberikan waktu selama dua jam untuk mengumpulkan semua barang-barang milik mereka. Apa kau tidak tahu?”
“Aku... aku tidak tahu. Seharian ini aku sibuk bekerja. Kalau begitu aku harus segera pulang. Aku harus melihat keadaan rumahku sekarang.” ucap Olivia panik dan segera berjalan pergi dengan setengah berlari. Namun Sian segera mencekal tangannya dan menyuruh Olivia untuk berhenti.
“Aku akan mengantarmu.” ucap Sian tegas dan segera menarik tangan Olivia menuju mobilnya.
Selama di perjalanan, Sian terus memperhatikan Olivia dengan iba. Wanita itu tidak seharusnya menanggung beban seberat ini. Tapi apa yang menurutnya baik, belum tentu Tuhan juga menganggapnya baik. Begitu juga dengan kematian Tiffany. Ia yakin Tuhan sedang merencanakan sesuatu untuknya. Meskipun hal itu harus dilaluinya dengan hati berdarah.
“Tuan.. apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Sepertinya suara anda tidak terlalu asing.”
Sian menolehkan kepalanya sekilas pada Olivia sambil mengendikan bahunya tidak tahu. Selama setahun ini ia hidup seperti seorang mayat hidup, dan ia sama sekali tidak memilki waktu hanya untuk sekedar menghafalkan wajah setiap orang yang berlalu lalang di dalam hidupnya. Apalagi akhir-akhir ini lebih disibukan
dengan masalah kantor setelah Aciel berhasil mendapatkan Eden berserta Ciara ke dalam pelukannya. Selalu saja sahabatnya itu lebih beruntung darinya dalam hal apapun.
“Entahlah, aku tidak tahu.” jawab Sian apa adanya. Olivia hanya mengangguk paham sambil menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Rasanya ia seperti pernah mendengar suara baritton itu, tapi ia sendiri merasa tidak terlalu yakin dengan pendengarannya sendiri, karena mungkin saja pendengarannya memang salah.
“Suara anda terdengar begitu familiar di telinga saya.”
“Benarkah? Mungkin kita memang pernah bertemu sebelumnya. Siapa namamu?”
“Saya Olivia, Olivia Johnson.” jawab Olivia pelan. Sian menganggukan kepalanya paham sambil membelokan setir mobilnya ke sebuah gang sempit yang tampak begitu gelap. Ia kemudian menghentikan mobilnya di tepi gang tersebut, karena ia sudah tidak dapat melajukan mobilnya lebih dalam lagi.
“Kita turun di sini, dimana rumahmu?”
“Di ujung gang, rumah bercat kuning.” jawab Olivia sambil menggerakan tongkatnya ke depan. Suara gesekan tongkat dengan jalan becek di depan Olivia, membuat suara di dalam gang sempit tersebut menjadi semakin mencekam dan mengerikan. Sian tampak memandang nanar pada rumah-rumah milik warga yang telah rata dengan tanah. Ternyata pemerintah memang tidak main-main dengan ucapan mereka. Tiba-tiba Olivia berhenti melangkah sambil terisak-isak pelan. Meskipun ia tidak dapat melihat dengan jelas, tapi ia dapat melihat bayangan rumahnya yang telah rata dengan tanah. Rumah yang ia beli dengan susah payah, kini telah hancur dan tidak bisa ditempati lagi. Sembari menangis, Olivia terduduk sedih di atas tanah sambil menelungkupkan kepalanya di atas lutut. Kini semua harapannya telah hancur. Ia tidak akan bisa mengoperasikan kedua matanya karena semua uangnya telah tertimbun bersama dengan barang-barangnya yang lain di dalam puing-puing reruntuhan rumahnya.
“Nona, apa kau baik-baik saja?”
Rasanya Sian ingin meruntuki dirinya sendiri yang dengan bodohnya telah menanyakan hal itu pada Olivia. Sudah jelas jika wanita itu tidak dalam keadaan baik-baik saja, tapi dengan bodohnya ia masih menanyakan hal itu padanya.
“Aku.. sudah tidak memiliki apapun lagi. Uang dan semua barang-barangku berada di dalam rumah itu.”
Olivia terus menangis tersedu-sedu di depan puing-puing rumahnya dengan menyedihkan. Sedangkan, Sian yang berdiri di belakangnya hanya mampu berdiri kikuk karena ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Di sisi lain ia merasa iba, namun di sisi lain ia juga tidak memiliki solusi apapun untuk wanita malang yang masih setia menangis di bawah kakinya.
__ADS_1
“Nona, bagaimana jika malam ini kau tinggal di rumahku? Setidaknya kau bisa berpikir sejenak di rumahku untuk malam ini.” ucap Sian akhirnya. Olivia menoleh pelan dengan mata sembab ke arah Sian. Ia kemudian beranjak untuk berdiri dan berjalan mendekat ke arah Sian. Tanpa diduga, Olivia langsung memeluk Sian dengan erat sambil menggumamkan terimakasih berkali-kali pada pria itu, yang entah mengapa mampu membuat hati Sian terasa menghangat. Wanita itu, terdengar begitu tulus saat mengucapkan terimakasih padanya, dan selama ini ia jarang menerima ungkapan terimakasih yang begitu tulus seperti yang dikatakan oleh Olivia.
“Terimakasih tuan, terimakasih banyak. Aku tidak akan melupakan kebaikan hati tuan.” ucap Olivia berkali-kali, disertai dengan rasa syukur yang tak terkira.