Black Swan

Black Swan
Epic Ending (One Hundred Fourty Five)


__ADS_3

            Olivia membuka matanya pelan saat dirasanya sebuah guncangan mengusik tidur nyenyaknya. Aroma rumah sakit yang telah dihafalnya sejak sadar kemarin siang membuat Olivia tidak pernah lupa sama sekali pada nasibnya yang tengah terbaring tak berdaya di rumah sakit.


            “Wills?” tanya Olivia serak. Matanya samar-samar menangkap sosok Wills yang sedang berdiri dengan canggung di sebelah ranjang perawatannya. Kemana saja pria itu selama ini, batin Olivia heran. Kemarin ia terbangun dalam sebuah keriuhan penghuni rumah sakit yang sedang berlomba-lomba untuk membuatnya tetap berada di dunia yang sesak ini. Lalu dua jam kemudian ia dihantam oleh berita dahsyat jika pria yang dirawat di ruang sebelahnya telah meninggal. Pria bernama Scout Voyage meninggal karena tertembak di dada kirinya. Tentu saja ia hancur saat mendengar hal itu. Bagaimanapun mereka telah melewati sembilan bulan bersama dalam keadaan susah maupun senang. Terakhir kali ia melihat Scout sebelum ia pergi ke kantor cabang Aciel saat pria itu hendak pergi ke suatu tempat karena pakaiannya yang sangat rapi. Sama sekali tidak ada fikiran buruk di benak Olivia.


            Pagi itu ia menyiapkan sarapan dengan penuh sukacita, memberikan satu kecupan ringan di bibir Scout sebelum mereka memulai sarapan bersama, dan setelah itu mereka saling berpelukan saat Scout hendak pergi untuk menyelesaikan urusannya. Pagi itu tak ada sama sekali firasat buruk mengenai Scout yang akan pergi untuk selama-lamanya tanpa sempat untuk menengok bayinya. Dan ia sendiri di hari itu juga telah melakukan kesalahan dengan berjalan terlalu tergesa-gesa hingga tidak menghiraukan suara klakson keras dari mobil yang sedang melintas di jalan tempat ia menyebrang.


            “Nona Olivia.”


            Suara Wills yang lembut menyadarkan Olivia dari lamunannya mengenai saat-saat terakhir bertemu Scout. Air mata tak terasa telah jatuh beberapa tetes di pipinya. Dan semua itu turun dengan sendirinya tanpa diperintah oleh akal sehatnya.


            “Ya, kau baru datang.” ucap Olivia serak. Ia berusaha mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk dengan bantuan Wills yang sigap.


            “Saya baru selesai mengurus pemakaman tuan Scout.”


            “Jadi itu kenyataan?”


            “Itu nyata, nona. Tuan Scout telah beristirahat dengan tenang.”


            Olivia lagi-lagi tak bisa menahan isakannya saat mengingat Scout yang begitu arogan pada awalnya, seorang lady killer, dan seorang pembunuh yang berbahaya. Namun dibalik itu semua Scout adalah seorang pria yang penuh perhatian, suami yang sangat penyayang dan begitu antusias pada kelahiran putranya.


            “Dia belum sempat melihat anaknya.”


            “Sungguh disayangkan. Tapi nona...” Wills mencoba berbicara sehati-hati mungkin pada Olivia yang masih rapuh. “Saya ke sini untuk memberikan surat kuasa atas seluruh harta tuan Scout pada anda. Dokumen-dokumen itu ada di dalam map ini. Sebelumnya tuan Scout telah berpikir untuk membuatkan rekening atas nama anaknya untuk kehidupannya kelak.”


            “Scout sudah memberikan nama untuk anaknya?”


            “Scout Voyage Jr.” ucap Wills sambil menunjukan map dengan tulisan tangan Scout pada Olivia. “Entah kenapa tuan Scout ingin menamai anaknya Scout Jr. Saat itu saya juga bertanya-tanya, tapi kemudian pertanyaan itu baru terjawab sekarang.”


            Olivia meraih map itu dan memeluknya erat dengan penuh perasaan. Ia akan terus memiliki sesuatu yang akan mengingatkannya pada Scout. Scout Jr. Ia berharap dapat membesarkan Scout Jr dengan baik setelah ini. Mengingat jika urusannya dengan Sian belum selesai, itu membuat Olivia gundah.


            “Rumah peninggalan orangtua tuan Scout sekarang juga telah menjadi milik anda, nona. Jika anda ingin tinggal di sana, pintu itu selalu terbuka untuk anda.”


            “Terimakasih Wills. Tapi setelah ini aku ingin menyelesaikan masalahku dengann Sian. Jika Sian memang tidak bisa menerimaku lagi, aku akan tinggal bersamamu di rumah Scout. Aku akan membesarkan Scout Jr seperti harapan Scout agar menjadi anak yang kelak membanggakan untuk kami.”


            “Itu rencana yang bagus nona. Saya akan selalu mendoakan yang terbaik untuk anda.”


            Wills mengusap kepala Olivia lembut dan segera berpamitan setelah urusannya untuk menyerahkan warisan selesai. Sangat disayangkan ia tidak akan bertemu dengan Olivia lagi setelah ini jika suami wanita itu masih memberikan Olivia kesempatan untuk kembali bersamanya. Tapi tidak apa-apa, Wills membesarkan hatinya yang dilingkupi kekecewaan. Akan lebih baik untuk Olivia kembali lagi bersama suaminya agar Scout Jr dapat tetap merasakan kasih sayang keluarga lengkap dan tidak bernasib buruk seperti ayah kandungnya.


-00-


            Selepas Wills pergi, Olivia kembali berbaring menyamping membelakangi pintu sambil tetap memeluk map berisi semua aset milit Scout untuk Scout Jr. Seakan-akan itu Scout, Olivia mengusap map itu berkali-kali sambil membayangkan wajah Scout yang ia pandang untuk terakhir kalinya. Malam itu mereka pergi tidur setelah makan malam dengan kalkun panggang yang sangat enak. Wills memasak kalkun itu untuk merayakan hari ulang tahun Olivia yang seharusnya jatuh di bulan sebelumnya. Baginya tidak apa-apa merayakan ulang tahun setelah lewat satu bulan. Ulang tahun itu terasa tetap sama. Dan ia seketika teringat pada pesta perayaan ulang tahun Justice yang juga tidak dirayakan di tanggal yang tepat.


            Dalam sekejap ingatan Olivia menjadi bercampur. Ingatannya saat bersuka cita di villa barunya bersama orang-orang yang telah ia anggap sebagai keluarganya sendiri. Lalu ingatan saat Scout untuk pertama kalinya datang mengusik hidupnya. Semua ingatan itu membuat Olivia tidak bisa tidak menitikan air matanya dengan deras. Bantal rumah sakitnya praktis basah oleh air matanya yang terus turun hingga ia sendiri tidak bisa menahannya karena kesesakan yang menimpa dadanya.


            “Aku tahu itu berat, Olive.”


            Olivia rasanya tidak ingin mempercayai pendengarannya. Dalam kesedihan seperti ini, ia yakin jika telinganya telah berfungsi tidak normal karena banyak lendir yang tertahan di saluran tenggorokannya. Tapi saat sebuah sentuhan lembut tiba-tiba mengusik tangisannya, barulah Olivia berani untuk memutar tubuhnya dan menghadapi sosok Sian dengan wajah lelah sedang tersenyum lembut ke arahnya.


            “Hai.”


            “Sian...” gumam Olivia serak dan langsung menghambur ke dalam pelukan Sian untuk menangis. Pria itu datang setelah berbulan-bulan mereka terus berkonflik dengan berbagai kesalahpahaman yang muncul secara tak terkendali. Lalu cinta mereka juga diuji dengan sangat dahsyatnya dengan kehadiran orang ke tiga yang berhasil membelokan Olivia dari jalur yang seharusnya.


            Masih dalam dekapan Sian, Olivia menatap nanar dua cincin berlian yang tersemat cantik di kedua jari manisnya. Satu cincin milik Sian, dan satu cincin milik Scout. Andai dua orang pria dapat berdiri bersisian sama seperti cincin itu, pasti semuanya akan lebih mudah.


            “Bagaimana keadaanmu?”


            “Lebih baik dari kemarin. Kapan kau datang?”


            “Lima menit yang lalu. Aku ingin masuk, tapi aku mendengar kau menangis.”


            Sian melihat sebuah map tergletak di atas ranjang perawatan Olivia dengan nama Scout Jr. Sekilas pria itu mengernyit lalu mengambilnya dengan gerakan hati-hati.


            “Nama bayi kalian.”


            “Yah begitulah. Aku tidak tahu jika Scout telah menyiapkan semuanya.” jawab Olivia lirih. Ekor matanya seketika bergulir ke arah bayinya yang sedang tidur dengan nyenyak di dalam box bayinya. Dua jam yang lalu ia baru saja memberinya ASI, hal itu mungkin yang membuat Scout Jr dapat tidur dengan lebih pulas.


            “Bagaimanapun ia tetaplah seorang ayah. Tidak ada ayah yang menginginkan anaknya hidup dengan buruk. Yeah, kecuali ayahku.” lanjut Sian terkekeh. Olivia hanya tersenyum menanggapi candaan Sian. Dan setelah itu keheningan kembali menyelimuti mereka dengan keadaan yang lebih mencekam dari sebelumnya. Entah mengapa Sian merasa begitu canggung saat berhadapan dengan Olivia. Seperti wanita itu bukan istrinya yang dulu. Ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk saling menyentuh seperti biasanya.


            “Olive...” Sian memberikan map yang tadi sempat ia buka pada Olivia dan menyeret sebuah kursi untuk duduk. “Aku ke sini untuk menjemputmu.”


            Seperti ada banyak kembang api yang meletus di atas kepala Olivia, ia merasa lega dengan kata-kata Sian. Secara tidak langsung pria itu ingin kembali berbaikan dengannya.


            “Dengan Scout Jr.” Sian berucap lagi sambil melirik box bayi coklat yang diletakan di sisi lain di kamar perawatan itu. Meskipun lidahnya sedikit aneh saat mengeja nama Scout, tapi pada akhirnya Sian memilih untuk menyerah. Menurutnya tidak akan ada habisnya jika ia mengikuti egonya yang ingin marah. Cepat atau lambat


ia pasti dapat menerima kehadiran bayi itu dan menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri.


            “Terimakasih. Kau membuatku lega. Tadinya aku berpikir kau akan menceraikanku.” cicit Olivia ketakutan. Setelah Scout peregi, Olivia menjadi sadar jika ia hanya memiliki Sian sebagai tumpuan hidupnya. Bagaimanapun ia tidak berminat untuk mencari pria lain setelah kepergian Scout. Cukup hanya pria itu yang meracuni kepolosannya.


            “Sejujurnya aku tidak pernah berpikir untuk berpisah. Selama kau hidup bersama Scout, aku terus merenungkan semua ini. Memikirkan jalan terbaik untuk kehidupan pernikahan kita. Lagipula aku juga tidak ingin mengorbankan kehidupan Justice.”


            “Terimakasih.” ucap Olivia pelan. Tidak ada kata lain yang bisa dikatakan oleh Olivia selain ribuan terimakasih untuk diucapkan pada Sian. Kenyataannya setiap orang memang memiliki sisi baiknya masing-masing. Ia tak perlu merinci kebaikan Sian ataupun Scout satu persatu. Dengan adanya peristiwa ini ia sudah cukup belajar untuk menjadi lebih bijak. Bahkan Eden sendiri pernah mengatakan padanya jika lika liku kehidupanlah yang akhirnya dapat mendewasakan dirinya. Mungkin hal inilah yang menjadi sebuah titik balik untuk seorang Olivia Markle, atau Olivia Voyage, entahlah. Ia tidak peduli!


            “Semua orang telah menunggumu. Eden sangat merindukanmu.”

__ADS_1


            “Oh Ya Tuhan, aku juga merindukannya. Si kembar pasti sudah besar sekarang.”


            “Tentu. Mereka telah memiliki gigi masing-masing dua di gusi atas. Setiap hari Justice selalu membantu Eden untuk mengasuh mereka. Jadi saat Scout Jr pulang nanti, anak itu sudah sangat terlatih untuk membantumu.”


            Olivia tanpa sadar menitikan air matanya lagi dan menangis tersengguk-sengguh saat mengingat Justice. Sudah berapa lama ia meninggalkan anak itu? Masihkah Justice mengingatnya sebagai ibu? Terakhir kali Scout memberitahunya jika Justice kini tinggal di rumah Aciel dan telah mengubah panggilannya untuk Eden menjadi mommy. Anak itu pasti sudah merasa nyaman dengan kehidupannya dengan Eden dan keempat anak-anaknya yang manis.


            “Justice merindukanmu. Ia selalu menanyakanmu setiap kali aku mengajaknya keluar untuk jalan-jalan.”


            “Lalu apa yang akan kau katakan padanya?” Olivia meraih selembar tisu dari meja kecil di sampingnya, lalu langsung mengusap air matanya kasar dalam sekali sapuan.


            “Aku mengatakan padanya jika kau sedang menjaga adiknya di suatu tempat yang tenang. Kukatakan padanya jika kau membutuhkan sebuah tempat khusus ibu hamil untuk membuatmu lebih tenang selama menjalani masa-masa kehamilanmu.”


            “Oh Sian... maafkan aku.” desah Olivia penuh rasa bersalah. Ingin rasanya ia maju untuk memeluk Sian, namun ia ragu apakah pria itu masih mau menyentuhnya setelah semua hal yang terjadi pada mereka. Namun tiba-tiba saja ia telah berakhir di dalam pelukan Sian saat pria itu menariknya untuk mendekat.


            “Aku masihlah suamimu. Jangan pernah ragu untuk memelukku.” bisik Sian lembut. Olivia menganggukan kepalanya lemah di atas pundak Sian dan langsung membalas pelukan pria itu dengan lebih erat.


            “Terimakasih untuk semuanya. Terimakasih banyak, Sian.”


-00-


            Percikan tepung bertebaran dimana-mana mengotori meja, lantai, dan kompor. Suara berisik mixer bercampur dengan suara teriakan Justice dan Louise yang sedang bermain kejar-kejaran di dapur yang sangat kotor itu. Di kursi bayi, dua orang bayi kembar, Lean dan Theo sedang asik bersorak sorai menyaksikan kakak mereka yang terus berputar-putar mengejar Justice sambil membawa sejumput tepung di tangannya untuk dilemparkan ke arah Justice yang sedang ketakutan. Gadis itu tidak mau rambutnya kotor karena Eden telah mencuci rambutnya kemarin sore dengan shampo kesukaannya yang beraroma buah berry.


            “Ahahahaa... aku mengejarmu Justice.”


            “Mommy!” teriak Justice ketakutan dan terus berlari. Ciara yang sedang membantu ibunya memasukan buah berry kering ke dalam adonan pound cake tampak jengah melihat adik-adiknya yang hanya bisa mengotori dapur tanpa membantu ibunya sama sekali.


            “Mereka berisik, mom.” keluh Ciara kesal. Usianya kini telah delapan tahun, dan karena ia memiliki empat adik, maka sekarang ia menjadi lebih dewasa dari sebelumnya. Sikapnya tidak lagi menunjukan seorang anak-anak manja yang gemar bergelayut di lengan ibunya atau ayahnya. Eden sendiri selalu mengajarkan Ciara untuk menjadi


mandiri agar gadis itu tidak terbiasa bergantung pada orang lain. Apalagi di rumahnya yang besar itu, ibunya memiliki lusinan pelayan yang setiap hari bekerja di rumahnya. Bisa saja Ciara bersikap seperti gadis kaya manja pada umumnya dengan menyuruh-nyuruh setiap pelayannya, namun Eden selalu saja memelototinya dengan galak tiap kali ia ingin menyuruh salah satu pelayannya untuk memenuhi keinginannya. Jelas ia tidak bisa bersikap manja di rumahnya sendiri dengan ibu super galak dan tegas yang selalu memantaunya selama dua puluh empat jam. Belum lagi ayahnya juga lebih sering berpihak pada ibunya daripada berpihak padanya, sehingga ia lebih baik menuruti keinginan ibunya untuk menjadi gadis mandiri yang membanggakan.


            “Nah, saatnya memanggang kue. Ya ampun, Louise!” panggil Eden galak. Pria kecil itu langsung menghentikan larinya sambil terkekeh-kekeh ngos-ngosan karena baru saja berlarian memutari dapur.


            “Ya mom.” jawab Louise cengengesan.


            “Bersihkan kekacauan ini sekarang!”


            “Mommy, Louise nakal.” adu Justice sebal. Bibirnya yang kecil terlihat maju beberapa centi ke depan dan napasnya juga tak kalah ngos-ngosan dari napas Louise karena baru saja berlari dengan panik.


            “Louise, minta maaf pada Justice.”


            Eden berkacak pinggang galak, memelototi Louise dan memaksa Louise untuk membuang semua tepung yang ia bawa sebelum menjabat tangan Justice.


            Sementara itu, Ciara tampak terkikik geli di samping adik kembarnya dan ikut mengunyah biskuit bayi yang baru saja ia ambil dari meja bayi adik kembarnya.


            “Mom, kapan adonannya dimasukan ke dalam oven?”


            “Tolong kau masukan sekarang, nak. Putar tuas waktunya ke angka tiga puluh.” jawab Eden memberi instruksi. Ibu muda itu masih terlalu sibuk dengan putra usilnya yang gemar menggoda Justice. Selama berbulan bulan Justice tinggal di rumahnya, rumah itu selalu ramai dengan suara teriakan Justice dan suara tawa Louise yang melolong. Ada saja yang dilakukan pria kecil itu untuk membuat Justice berteriak-teriak heboh.


            Bulan lalu Louise baru saja menyembunyikan sepatu baru milik Justice yang baru dibelikan oleh Sian. Saat mengetahui salah satu sepatunya hilang, gadis kecil itu langsung berteriak-teriak heboh dan menangis untuk mencari sepatunya kesana kemari. Seluruh pelayan di rumah itu sebentar saja menjadi sibuk untuk mencari sepatu Justice yang ternyata disembunyikan oleh Louise di kamarnya. Pria kecil itu dengan sengaja menyimpan sepatu Justice di bawah kolong tempat tidurnya agar tidak ada satupun yang berhasil menemukannya. Dan setelah Justice menangis dan merasa panik seharian, barulah Louise muncul dengan satu sepatu di tangannya dengan cengiran menyebalkan yang berhasil membuat Eden gemas.


            “Louise, jika kau membuat Justice menangis lagi, mom akan mengadukanmu pada dad.” ancam Eden galak. Mendengar nama Aciel disebut, Louise langsung saja berubah pucat dan ketakutan. Dengan wajah memelas ia memohon-mohon pada Eden agar tidak diadukan pada ayahnya.


            “Mom... plis. Jangan adukan Louise pada dad.” Louise terus saja mengekori Eden yang sedang berjalan kesana kemari untuk membersihkan kekacauan yang dibuat Loise. Anak itu sungguh pengacau kecil yang menyebalkan. Terkadang Eden membayangkan masa kecil Aciel yang sama menyebalkannya dengan Louise. Dan Eden benar-benar berharap semoga Lean tidak memiliki sifat usil seperti Louise.


            “Sekarang duduk, makan serealmu dengan Justice.” perintah Eden tegas sambil menunjuk ke arah kursi bayinya yang berjejer dengan milik dua adik kembarnya. Daripada Louise terus mengekorinya kesana kemari. Eden risih, sungguh ia tidak suka jika Louise terus merengek-rengek saat ia sedang bekerja.


            “Mom, kapan aunty Olive pulang?” tanya Ciara sambil bertopang dagu di atas meja bar. Satu tangannya yang bebas ia gunakan untuk memainkan jeruk yang sebelumnya tertata rapi di atas keranjang buah bersama buah-buahan yang lain.


            “Entahlah, uncle Sian sedang menjemputnya sekarang. Mom juga sudah tidak sabar untuk bertemu aunty Olive.”


            “Kasihan Justice.” gumam Ciara sambil melirik Justice yang kini tampak begitu akur dengan Louise. Mereka berdua terlihat asik saling menyuapkan serela coklat ke dalam mulut masing-masing.


            “Mommy juga berpikir seperti itu. Sudah hampir satu tahun ia tidak bertemu dengan ibunya.” keluh Eden prihatin. Terkadang Eden akan menyalahkan Aciel jika ia mulai merasa iba pada Justice. Secara tak langsung Aciel yang membuat Justice kehilangan sosok ibunya. Jika Aciel sejak dulu memberitahu dimana keberadaan Olivia dan segera bergerak untuk menjemput Olivia, mungkin masalahnya tidak akan menjadi serumit ini. Bahkan hingga melibatkan perasaan cinta pada penculiknya. Itu konyol menurut Eden. Tapi ia tidak bisa menyalahkan Olivia


untuk itu. Bagaimanapun saat itu ia sedang menghadapi saat-saat yang sulit dengan masalahnya. Lalu Sian juga semakin menekannya dan menyalahkannya, membuat Olivia dilanda stress parah sebelum akhirnya diculik. Dan mungkin selama bersama Scout, Olivia mendapatkan perlakuan baik dari pria itu. Eden sendiri tidak tahu bagaimana tepatnya, tapi ia sangat yakin jika Scout pastilah memperhatikan Olivia dengan baik selama pria itu menculiknya. Jika tidak, Olivia tidak mungkin akan mencintai pria itu, bahkan menikah.


            Eden memijit pelipisnya pusing. Mengingat Olivia, Laila, dan Jessica, sering membuatnya menangis sendiri di malam hari. Teman-temannya yang berharga kini sedang menghadapi masalah mereka masing-masing. Jessica baru saja mendapatkan masalah dengan gaun rancangannya yang diplagiasi oleh salah satu pihak yang tak


bertanggungjawab. Selama lima bulan ini Jessica dan Kriss harus bolak balik ke pengadilan untuk mengajukan tuntutan pada pihak yang mencuri ide gaunnya. Dan dari apa yang ia dengar, hal itu sedikit sulit untuk diselesaikan karena pihak yang mencuri ide Jessica terus berkelit dan tidak mau mengakuinya. Praktis Jessica harus bekerja keras untuk mengumpulkan bukti-bukti agar kasus itu dapat dimenangkan olehnya.


            Lalu Laila, saat ini ia tengah melakukan istirahat total di rumah setelah mengalami kecelakaan kecil di rumah sakit. Tiga bulan yang lalu Laila mendapati fakta bahwa dirinya hamil. Karena terlalu girang, ia langsung berjalan terburu-buru menuju kantor Nathan di lantai enam dengan menggunakan tangga darurat karena lift sedang penuh, dan ia berpikir akan lama jika menunggu lift sepi. Namun saat ia hampir mencapai anak tangga terakhir, kaki kanannya terselip begitu saja di undakan ke dua dari atas, hal itu membuat keseimbangan Laila menjadi terganggu, dan ia langsung saja jatuh terguling ke bawah hingga akhirnya ia dapat berhenti saat tubuhnya menabrak tembok pembatas tangga. Dari insiden itu Laila mengalami keguguran dan  cedera otot punggung. Selama lima bulan ia tidak boleh melakukan aktivitas apapun dan hanya terus berbaring di ranjangnya untuk memulihkan cedera otot punggung yang dialaminya.


            Miris sekali rasanya jika mengingat mereka semua. Eden sendiri juga tidak bisa setiap hari menjenguk Laila karena ia memiliki lima orang anak yang harus diurus. Hanya tiga kali dalam seminggu ia datang mengunjungi Laila untuk memberikan dukungan pada wanita itu. Bagaimanapun kuatnya Laila, ia tetap saja terpuruk selama sakit karena tidak bisa melakukan apapun. Belum lagi ia juga baru saja kehilangan calon anaknya, membuat kesedihan Laila berkali-kali lipat lebih dahsyat.


            “Sayang...”


            “Ace!”


            Eden terkejut saat Aciel tiba-tiba mengecup pipinya. Dengan jas yang telah disampirkan di lengannya, pria itu menatap Eden heran dengan reaksinya yang terlihat berlebihan.


            “Melamun lagi nyonya?”


            “Aku sedang menunggu cakeku matang.” bohong Eden gelagapan. Ia langsung berpura-pura mengecek oven dan mengelap sisa tumpahan tepung di atas kompor.

__ADS_1


            “Siapa yang hari ini mengacaukan dapur?”


            Semua orang langsung saja menunjuk Louise yang saat ini terlihat beringsut ketakutan saat Aciel mulai memberinya tatapan penuh peringatan.


            “Maaf dad.” bisik Louise serak. Matanya sudah berkaca-kaca hanya karena melihat tatapan tegas Aciel yang sejak dulu selalu ditakutinya.


            “Sudahlah Ace, kau selalu saja menggunakan wajah sangarmu untuk menakut-nakuti Louise.”


            Eden yang tak tega melihat wajah Louise yang telah merah padam, langsung memarahi Aciel yang hanya terbahak.


            “Dia lucu. Apa aku segalak itu sayang?” tanya Aciel heran. Ia lalu ikut bergabung bersama anak-anaknya duduk di kursi bar sambil menonton Eden berjalan kesana kemari menyiapkan kue.


            “Daddy, Louise mengotori lantai dengan tepung dan mengejar Justice sambil membawa tepung.” lapor Justice lucu. Aciel sebenarnya ingin tertawa melihat sikap anak-anaknya yang menggemaskan, tapi ia langsung memasang mimik wajah garang agar Louise merasa terintimidasi. Melihat wajah Louise yang pucat karena ketakutan selalu menjadi hiburan tersendiri untuk Aciel selepas bekerja.


            “Daddy akan mengurungmu di kamar jika kau menjahili Justice lagi.”


            “Maaf dad.”


            Melihat raut bersalah Louise yang menggemaskan, Aciel tak kuasa menahan rasa gemasnya. Ia langsung saja mengangkat putra kebanggaannya itu tinggi-tinggi ke udara dan memutarnya tiga kali hingga anak itu berteriak kegiarangan.


            “Daddy sangat marah padamu.” Aciel mendaratkan kecupan bertubi-tubi di perut kecil Louise, membuat gerakan menggelitik menggunakan bibirnya dan membuat pria kecil itu  berteriak-teriak girang karena ulah ayahnya.


            “Daddy stop! Hahhaahaha daddy....” teriak anak itu girang.


            “Lihatlah si kembar, mereka juga ikut kegirangan karena ulah kalian.” tunjuk Eden pada kedua anaknya yang sekarang tengah meremas-remas biskuit bayi mereka hingga berubah menjadi remahan-remahan kecil karena tangan lembab mereka.


            “Kalian ingin juga, hmm?”


            “Daddaaa ddaaa...” celoteh Lean sambil menyembur-nyemburkan liurnya. Aciel refleks menutup matanya dan langsung mengusap wajahnya dengan menggunakan lengan kemejanya.


            “Dia antusias sekali.”


            “Kau yang jarang menyapa mereka.” komentar Eden sambil lalu. Ia buru-buru mengangkat pound cakenya dari dalam oven sebelum kue cantik itu berubah semakin coklat karena hangus. Aroma harum kue yang bercampur dengan butter langsungn menyeruak di seluruh sudut-sudut dapur dan membuat anak-anak berteriak lapar ingin segera mencicipi kue buatan Eden.


            “Aku mau mom.”


            “Tunggu sebentar sayang, ini masih panas.” Eden langsung menghela tangan Louise menjauh dari kuenya yang masih mengepulkan asap putih. Sedikit saja ujung jari Louise mencolek kue itu, ia pasti akan langsung berteriak kepanasan.


            “Ada apa Tom?”


            Aciel langsung menyapa tukang kebunnya saat pria itu berjalan berjingkat-jingkat dengan langkah kikuk ke dalam dapur. Pria berambut pirang dengan baju yang sedikit kotor karena sisa-sisa tanah yang menempel di permukaan bajunya itu terlihat masih sungkan pada keluarga Aciel karena baru dipekerjakan dua hari yang lalu.


            “Ada tamu yang datang.”


            “Oh, aku tahu siapa yang datang.”


            “Siapa, Ace?”


            Eden telah selesai menuangkan glaze di atas pound cakenya yang masih mengepulkan asap tipis. Ia langsung saja merasa penasaran saat tukang kebunnya yang baru, berjalan masuk ke dapur dengan langkah yang kaku.


            “Ada tamu untukmu. Ayo anak-anak kita sapa tamu kita. Kau gendong Theo, Ed.”


            Lean terlihat begitu girang saat ayahnya yang jarang di rumah itu mengangkat tubuh berisinya dan menggoyang-goyangkannya pelan ke udara. Sebentar saja Lean sudah tertawa terpingkal-pingkal di depan wajah Aciel dan menepuk wajah lelah ayahnya berkali-kali dengan tangan mungilnya.


            “Olive!” Eden hampir-hampir tidak percaya saat melihat Olivia dan Sian telah berdiri di ruang tamunya dengan senyum mengembang yang terlihat bahagia di wajah mereka. Setelah lebih dari sembilan bulan mereka tidak bertemu, ini rasanya seperti sebuah keajaiban untuk Eden. Saat ia hendak maju, Olivia langsung saja menubruk tubuh Eden dan memeluknya. Wanita itu menangis sesenggukan di bahu Eden sambil mengucapkan beribu-ribu kata maaf yang hampir terdengar kurang jelas karena tangisannya.


            “Aku merindukanmu.”


            “Aku juga. Syukurlah kau selalu baik-baik saja. Apa itu bayimu?”


            Eden terlihat takjub pada bayi laki-laki yang digendong Sian. Justice yang sebelumnya sedang berdiri di belakang Eden langsung melompat maju ke arah ayahnya dan melompat-lompat tidak sabar untuk melihat adik laki lakinya yang tampan.


            “Daddy daddy, aku mau lihat adik!”


            “Peluk mommmy sayang.”


            Setelah puas memeluk Eden, Olivia langsung memeluk Justice dan mengecupi pipi Justice berkali-kali penuh kerinduan. Pemandangan itu tak pelak membuat Eden menitikan air mata karena haru. Akhirnya ia dapat melihat keluarga bahagia Olivia dan Sian kembali berkumpul. Bahkan kini mereka telah memiliki satu anggota keluarga lagi yang tampan.


            “Siapa namanya?”


            “Scout Jr.” jawab Sian ringan. Eden tersenyum cerah mendengar hal itu dari Sian. Ia merasa lega karena Sian tidak lagi semarah dulu dan menaruh dendam pada anak Scout.


            “Kejutan untukmu sayang.” bisik Aciel sambil merapatkan tubuhnya ke arah istrinya.


            “Ace... terimakasih. Aku lega sekali melihat mereka baik-baik saja.”


            “Bukankah aku telah menjanjikannya padamu kemarin.” balas Aciel sambil menaik turunkan alisnya menggoda.


            “Ohh... sayang, kau yang terbaik.” bisik Eden dengan mata berkaca-kaca. Pria itu langsung saja mendekap istrinya dengan satu tangannya yang bebas. Dalam kesempatan itu, Aciel mengecup puncak kepala Eden sungguh-sungguh dan kembali melihat raut kelegaan milik istrinya yang berhasil membuatnya berdebar. Kebahagiaan Eden adalah kebahagiaannya juga, batin Aciel bangga. Tak sia-sia ia mengotori tangannya dengan darah Scout jika hal ini yang ia dapatkan dari Eden dan juga keluarganya.


            “Sekarang ayo kita masuk dan makan pound cake buatan Eden.” seru Aciel keras dan menggiring anak-anaknya untuk masuk ke dalam ruang tamunya yang luas. Dalam usahanya untuk membawa masuk anak-anaknya yang ribut, Aciel dapat melihat pergerakan bibir Sian di sebelahnya yang sedang menggumamkan kata terimakasih dan cengiran lebar yang sudah lama tak terlihat di wajah jenaka Sian.


            “Besok kembali bekerja, kau sudah sering absen dari kantor.”

__ADS_1


            “Sialan! Tapi aku memang merindukan ruanganku yang sesak.” balas Sian dengan cengiran lebar.


__ADS_2