Black Swan

Black Swan
Maybe I Love You (Fifthy Four)


__ADS_3

        “Jjjangan jangan sakiti Anthony, aku yang salah karena mengajaknya bertemu..”


            “Ssshhh... aku tidak akan menyakitinya sayang, aku hanya memberinya peringatan.


            “Jjjangan, kumohon jangan!”


Brakk


            “Lepaskan dia brengsek, wanita itu milikku.”


Bugh


bugh bugh


            “Kyaaaa!!!”


            “Ayo pergi!”


            “Lepaskan aku! Kenapa kau selalu mengacaukan hidupku?”


            “Huh, karena aku memang ditakdirkan untuk melakukannya? Ayo pulang, kita lanjutkan pertengkaran ini di rumah.”


            “Aku membencimu Ace!”


            “Aku tahu dan aku tidak peduli.”


            “Kau menyakiti teman-temanku! Kau menyakiti Zyan.”


            “Ya, karena dia memberikan pengaruh buruk padamu..”


            “Tidak, kau yang merusak hidupku! Zyan mencintaiku! Dan aku akan menikah dengannya!!”


            Eden terbangun dengan keringat yang mengucur deras dari keningnya dan juga nafas yang tampak memburu. Cepat-cepat wanita itu meraih gelas berisi air putih di samping ranjangnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering akibat mimpi buruk yang sering dialaminya sejak ia kabur dari rumah pria itu, pria yang telah mengaku sebagai suaminya, Aciel Lutherford.


Tok tok tok


            “Eden, kau sudah bangun?”


            “Yyya, aku sudah bangun.” jawab Eden tergagap ketika Anthony mengetuk pintu kamarnya beberapa kali. Wanita itu kemudian segera menyingkap selimut tebalnya dan berjalan menuju jendela besar yang berada di kamarnya untuk menghirup udara segar pagi hari yang menenangkan. Saat ia membuka jendela, cahaya matahari

__ADS_1


langsung menyorot wajahnya tanpa malu-malu dan membuatnya seketika menyipitkan matanya karena silau. Ia kemudian menatap setiap lalu lalng pejalan kaki yang berjalan di bawah apartemen milik Anthony yang terlihat cukup menarik untuknya. Dari atas sana ia bisa melihat orang-orang itu terlihat bahagia dan seolah-olah tanpa beban. Berbeda dengannya yang selalu dihantui mimpi buruk hingga membuat tidurnya tidak nyaman. Bahkan semakin lama ia bersama dengan Anthony, mimpi-mimpi itu justru seperti hantu yang terus menerornya setiap malam. Dan tak jarang ia mengalami insomnia karena ia tidak bisa memejamkan matanya lagi jika mimpi mengenai pria itu selalu hadir di tengah-tengah tidur nyenyaknya.


            “Kenapa mimpi itu terasa nyata?” gumam Eden pelan pada udara kosong disekitarnya. Ekor matanya lantas kembali menyapu keadaan para pejalan kaki di bawah sana yang setidaknya mampu mengalihkannya dari mimpi-mimpi buruk yang dialaminya. Namun dari kejauhan ia dapat melihat seorang pria dengan stelan jas hitam sedang


berdiri di bawah lampu jalan sambil menatapnya intens. Awalnya ia pikir pria itu hanya iseng dengan menatapnya secara acak di tengah-tengah kegiatannya yang sedang menunggu bus atau apapun itu, namun lambat laun Eden mulai menyadari jika pria itu memang sedang menatapnya dengan sengaja. Pria itu berkacamata itu bahkan memberikan seringaian mengerikan padanya hingga membuatnya berdebar-debar dengan wajah pucat. Ia takut jika pria itu adalah salah satu mata-mata yang disewa Aciel untuk menemukannya. Namun setelah beberapa saat ia menatap pria itu, tiba-tiba saja pria misterius itu menurunkan kacamatanya sedikit dan menyeringai kearahnya dengan wajah mengerikan hingga membuat wajahnya pucat pasi.


            “Aciel.... Tidak mungkin!”


            Eden mundur beberapa langkah sambil menggelengkan kepalanya untuk menjernihkan pikirannya yang mulai teracuni oleh sosok Aciel yang sering menghantui tidur nyenyaknya. Ia lalu memberanikan diri untuk kembali melihat ke bawah, namun sayangnya pria itu sudah menghilang dari tempatnya. Kini tempat pria itu berdiri sudah digantikan oleh seorang wanita muda yang tampak sedang menunggu datangnya bus yang akan menjemputnya. Eden kemudian menangkupkan wajahnya dengan frustasi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali agar ia tidak perlu memikirkan ketakutan-ketakutan yang belum tentu terjadi. Lagipula ia sudah berhasil hidup dengan baik selama sepuluh hari ini tanpa adanya Aciel ataupun anak buahnya yang mencarinya, jadi ia harus yakin jika semuanya akan baik-baik saja. Pria itu tidak mungkin menemukannya di dalam apartemen milik Anthony


yang tersembunyi karena Anthony memang memilih tinggal di apartemen yang jauh dari pusat kota.


            “Eden...”


            “Haahh!!”


            Eden berjengit kaget ketika Anthony menyentuh pundaknya dan menatap khawatir kearahnya. Pria itu melihat adanya raut ketakutan di wajah pucat Eden, lalu ia menarik Eden ke dalam pelukaanya agar wanita itu lebih tenang.


            “Apa kau baik-baik saja?” tanya Anthony pelan yang langsung dijawab Eden dengan gelengan kepala.


            “Aku melihat pria itu di bawah sana. Ia sedang menatapku dengan seringaian yang sangat mengerikan dan aku sangat takut. Aku takut pria itu akan datang dan mengurungku lagi di rumahnya yang seperti neraka itu. Anthony, aku takut.” ucap Eden lirih sambil menangis di dalam pelukan Anthony yang hangat. Anthony kemudian melongokan kepalanya sedikit ke bawah untuk memastikan jika apa yang Eden katakan benar, tapi sayangnya ia tidak melihat apapun yang tampak mencurigakan di bawah sana. Ia justru melihat sekumpulan remaja sedang bersenda gurau sambil berteriak-teriak berisik dengan suara mereka yang mengganggu. Merasa jika Eden sudah mulai terlarut dalam ketakutannya, Anthony merasa perlu untuk meluruskannya pada Eden. Ia tidak ingin Eden terus menerus dihantui oleh bayang-bayang pria keparat itu dan berubah menjadi wanita gila yang terus berhalusinasi mengenai sesuatu yang tidak nyata.


            Anthony memaksa Eden untuk mendongak dengan menarik dagu wanita itu kearahnya.


            “Apa yang kau lihat tidak nyata. Aciel tidak mungkin menemukanmu di sini karena tempat ini sangat jauh dari pusat kota, jadi kau tidak perlu mencemaskan apapun selama berada di sini. Aku akan selalu melindungimu Ed, aku janji.” ucap Anthony sungguh-sungguh sambil menatap manik karamel itu dalam. Anthony lalu mendekatkan wajahnya dan mulai ******* bibir Eden lembut. Sedangkan Eden secara refleks langsung menutup matanya sambil menikmati setiap getaran yang diberikan Anthony pada bibirnya. Namun... saat ia menutup matanya, lagi-lagi bayang-bayang yang terlihat mengabur mulai berlomba-lomba untuk menyusup di dalam kepalanya hingga membuatnya pening.


            “Aku akan memberi nama putra ke dua kita Louise karena ia bagaikan sesosok malaikat yang datang untuk menyinari kehidupan kita yang penuh dengan kegelapan selama beberapa tahun ini. Terimakasih Eden, karena kau telah memberikanku sesuatu yang tak pernah kurasakan selama ini.”


            “Ini untukmu, kupikir ini adalah hari ulang tahunmu karena menurut anak buahku kau lahir di tanggal tiga puluh mei. Selamat ulang tahun.”


            “Terimakasih, ini adalah kado yang indah.”


            “Eden, meskipun aku tidak pernah menyatakan perasaan cintaku seperti pria-pria lain di luar sana, tapi percayalah jika aku akan selalu memberikan nyawaku dan loyalitasku padamu. Tolong jangan pernah meninggalkanku, tetaplah di sisiku sebagai istriku dan ibu dari anak-anakku.”


            “Eden dan Ciara, kalian adalah wanita-wanita yang sangat berharga untukku.”


            Tiba-tiba Eden mendorong tubuh Anthony dan memutuskan tautan bibir diantara mereka dengan paksa sambil menatap Anthony dengan tatapan sedih dan perasaan bersalah.


            “Maafkan aku Anthony, aku... aku sepertinya merasa pusing.” ucap Eden dengan wajah kacau yang terlihat menyedihkan. Melihat Eden yang kembali dilanda kemurungan membuat Anthony ingin merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya lagi, namun Eden menolaknya dan meminta Anthony untuk meninggalkannya sendiri di dalam kamar karena ingin menjernihkan pikirannya sejenak dari bayang-bayang aneh yang kembali menyusup ke dalam kepalanya.

__ADS_1


            “Tolong berikan aku waktu sebentar Anthony, setelah itu aku janji akan keluar untuk sarapan bersamamu.”


            “Apa kau baik-baik saja? Kau ingin aku mengambilkan secangkir teh?” tawar Anthony dengan wajah khawatir. Eden menggelengkan kepalanya lemah sambil menangkup pipi Anthony dengan kedua telapak tangannya yang terasa dingin.


            “Aku hanya ingin berbaring sebentar, aku janji setelah itu aku akan baik-baik saja.”


            Anthony pun mengangguk mengerti sambil mengecup kedua tangan Eden bergantian dan segera beranjak keluar dari kamar wanita yang ia cintai.


            Sepeninggal Anthony dari kamarnya, tubuh Eden langsung meluruh di samping ranjang sambil menelungkupkan kepalanya diantara kedua lututnya. Meskipun saat ini ia tidak bisa mengingat apapun di masa lalu, tapi ia yakin jika semua bayangan yang ia lihat akhir-akhir ini adalah potongan kejadian di masa lalu yang melibatkannya. Dan setelah melihat itu semua, kini hatinya merasa ragu. Ia ragu apakah ia bisa menjalani kehidupannya dengan Anthony jika bayangan itu terus menghantuinya hingga rasanya ia hampir gila. Ia tidak mungkin bisa hidup bahagia dengan kekasihnya, sementara bayangan pria lain dan juga anak kandungnya terus menari-nari di dalam kepalanya.


            “Argghhhh!!! Kenapa rasanya menyakitkan.” ucap Eden frustasi sambil menekan dadanya yang terasa sesak. Mungkin ia memang tidak boleh terus bersembunyi bersama Anthony, ia harus keluar dari persembunyiaannya dan menyelesaikan masalahnya dengan pria itu, atau ia akan hidup menderita seumur hidup karena menanggung beban mental yang begitu berat di hatinya.


-00-


            “Eden kuharap hari ini kau akan lebih bahagia.”


            “Uhumm, tapi... kemana kita akan pergi Anthony?” tanya Eden penarasan sambil menatap penuh antusias pohon-pohon pinus yang terlewat oleh mobil Anthony yang melaju dengan kecepatan sedang. Malam ini mereka memutuskan untuk pergi keluar dan menghirup udara segara untuk mengusir kepenatan yang mengganggu pikiran mereka akhir-akhir ini. Selain itu Anthony juga ingin membuktikan pada Eden jika ketakutan wanita itu tidak nyata. Ia ingin membuat Eden melupakan seluruh masa lalunya bersama Aciel dan hanya menatapnya seorang sebagai pria yang sangat dicintainya. Lagipula sekarang ia telah memiliki sekutu yang akan membantunya untuk menjatuhkan Aciel sehingga ia tidak perlu khawatir jika pria itu akan menghancurkannya seperti dulu.


            “Hari ini aku akan membawamu ke tempat pertama kali kita berkencan.”


            “Berkencan? Tunggu, memangnya dimana tempat kita pertama kali berkencan? Bukankah saat itu


kita bertemu di pesta perusahaan elektronik yang menggunakanku sebagai brand ambassador?” Tanya Eden sambil berpikir. Wanita itu mencoba mencari sisa-sisa memorinya di masa lalu mengenai hubungannya dengan Anthony, namun sayangnya yang terlintas di dalam pikirannya pertama kali adalah Aciel dan tubuh atletis pria itu setelah mereka melakukan percintaan panas yang dipaksakan malam itu.


            “Eden.. apa kau baik-baik saja?”


            Anthony memegang telapak tangan Eden khawatir ketika Eden cukup lama terdiam di sampingnya dengan kening berkerut-kerut dan wajah terganggu. Namun cepat-cepat Eden mengembalikan kesadarannya dan tersenyum sumringah di depan Anthony untuk menunjukan jika ia baik-baik saja.


            “Aku tidak apa-apa, hanya sedang berpikir.” bohong Eden dengan lancar. Akhirnya Eden memilih untuk menyerah dan tidak melanjutkan kegiatannya untuk berpikir karena setiap kali ia menggunakan otaknya untuk menggali masa lalu, justru kenangannya bersama Aciel dan Ciara yang muncul di dalam kepalanya.


            “Baiklah, aku akan memberitahumu. Malam ini kita akan mendatangi restoran sushi, restoran yang menjadi tempat favoritmu selama ini.”


            Anthony mengambil tangan Eden yang bertengger manis di atas dashboard, kemudia ia menciumi jari-jari lentik itu satu persatu hingga membuat Eden terkikik karena geli.


            “Sayang sekali aku tidak terlalu ingat bagaimana kencan pertama kita Anthony, tapi kuharap aku akan selalu mengingat kencan kita hari ini.”


            Eden menyunggingkan senyum lebarnya pada Anthony dan terlihat begitu antusias dengan acara makan malam mereka. Dari samping, Anthony tersenyum lega karena akhirnya ia dapat melihat senyum cantik Eden yang telah lama ia rindukan. Sejak wanita itu tinggal bersamanya, Eden lebih sering terlihat murung dan pucat karena


serangan mimpi buruk yang menurut wanita itu sangat mengganggunya, namun ia harap rencananya kali ini dapat membangkitkan semangat Eden untuk melupakan masa lalunya dan mulai menjalani masa depannya dengan penuh sukacita.

__ADS_1


__ADS_2