Black Swan

Black Swan
Love You To Death (Fifthy Nine)


__ADS_3

        “Kau... kenapa?” tanya Eden tak mengerti. Wanita itu terlihat sedang memegang semangkuk sup di


tangannya untuk diberikan padanya yang sejak tadi merengek meminta dibuatkan semangkuk sup.


            “Hanya teringat masa lalu.” jawab Aciel singkat. Ia lalu meminta Eden untuk meletakan supnya di meja makan karena ia sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan Eden. Ia sangat merindukan masakan Eden yang lezat.


            “Apa luka jahitanmu sudah sembuh?”


            “Ada apa? Kau ingin merobeknya lagi?” tanya Aciel sakarstik. Eden mendengus kesal sambil mengangsurkan sebuah sendok untuk Aciel. Setelah dirawat secara intensif selama empat hari, akhirnya dokter mengijinkan Aciel untuk turun dari ranjang perawatannya. Tapi selama empat hari itu, ia harus selalu berada di samping pria itu untuk menjadi babysitter-nya karena pria itu jauh lebih manja daripada Ciara, bahkan Louise yang masih bayi.


            “Mommy...”


            Ciara manarik-narik ujung dresnya sambil mengangsurkan gelas susunya yang telah kosong.


            “Ayo tidur siang.”


            Gadis kecil itu merengek-rengek pada Eden agar Eden menemaninya tidur siang. Tapi siang ini ia sama sekali belum mengantuk. Ia masih ingin berbicara pada Aciel mengenai Anthony.


            “Pergilah, temani Ciara tidur.” perintah Aciel tanpa mengalihkan wajahnya dari mangkuk sup.


            “Ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu.”


            “Mommy...”


            “Tunggu sebentar Ciara, mommy sedang berbicara dengan daddymu.” ucap Eden gemas karena gadis kecil itu terus merengek di sampingnya dan terlihat hampir menangis. Tapi tiba-tiba Sian datang dan langsung menggendong Ciara sambil memeluk gadis kecil itu erat.


            “Bagaimana jika Ciara tidur siang bersama paman, paman akan membelikanmu mainan baru jika kau menjadi gadis kecil yang pintar, hm?” tawar Sian sambil mengedipkan matanya pada keponakan kecilnya. Aciel mendengus tidak suka pada Sian dan menyuruh Sian untuk menyerahkan Ciara pada Eden, namun Sian menolak dan memilih untuk membawa Ciara pergi dari area dapur yang berisik.


            “Kau ibunya, seharusnya...”


            “Aku tahu, dan kau juga ayahnya. Tapi aku belum terbiasa dengan semua ini, seharusnya kau memahami keadaanku yang belum bisa menerima kalian sepenuhnya. Tapi kau terus memaksaku agar aku bisa menerima kalian dalam waktu singkat.”


            Aciel meletakan sendok supnya dan memberikan Eden tatapan tajam. “Karena kau memang harus dipaksa. Jika aku tidak memaksamu untuk mencintaiku, Louise dan Ciara, kau pasti akan lebih memikirkan mantan kekasihmu yang sedang membusuk di penjara.” ucap Aciel tajam.


            “Tentu saja aku akan memikirkannya karena kau tidak segera memberikan keputusan untuk meringankan hukumannya. Bagaimanapun ia melakukan hal itu karena sikap jahatmu padanya. Jadi jangan bersikap seolah-olah semua kesalahan itu datangnya dari Anthony.”


            “Berhenti mengucapkan namanya di depanku karena aku tidak mau mendengar nama pria itu di rumahku!”


            Setelah mengucapkan hal itu, Aciel segera pergi meninggalkan Eden dengan terlebihdulu menyentak kursi yang didudukinya hingga jatuh tergolek di atas lantai.


            Di lain sisi, Eden hanya mampu menahan seluruh emosinya yang hampir meledak karena sikap Aciel yang selalu berubah ketus ketika ia mulai membahas masalah Anthony. Rasanya begitu sulit membujuk Aciel agar segera menyelesaikan masalahnya dengan Anthony agar pria itu tidak terus menerus didera ketidakpastian di dalam penjara. Tapi sepertinya Aciel tidak berniat sedikitpun untuk menyelesaikan masalahnya dengan Anthony, karena Aciel lebih menginginkan kematian Anthony daripada keadilan untuk Anthony.


-00-


Aciel Pov


            “Kau kalah, kau harus dihukum!!"


            “Mommy nooo, jangan gelitiki Ciara.. hahahahaaa... mommy aahhaahhahaaa!!”


            “Kau harus mendapatkan hukuman Ciara...”


            Aku menutup pintu itu perlahan dengan perasaan hangat yang mulai menjalari hatiku. Melihat mereka yang sedang bercanda satu sama lain membuatku yakin jika mereka adalah milikku dan mereka tidak akan pernah pergi meninggalkanku.


            “Menjadi stalker Ace..”


            Aku menoleh pelan pada satu-satunya sahabat dekat yang kumiliki, Sian. Pria itu sedang menatapku dengan wajah jenakanya yang sangat menyebalkan. Aku tahu, ia sedang menggodaku.


            “Apa yang kau lakukan di sini, kenapa kau tidak pergi ke kantor?” Seenaknya saja ia meliburkan diri di hari sabtu seperti ini, disaat banyak investor yang ingin menanamkan saham di perusahaanku. Seharusnya ia berada di kantor karena aku menunjuknya sebagai asistenku dan juga CEO pengganti selama aku sakit.

__ADS_1


            “Ayolah Ace, ini hari sabtu. Apa kau tidak merasa kasihan padaku? Aku juga membutuhkan liburan, sama sepertimu.”


            Aku mengabaikan rengekannya dan memilih untuk menyandarkan punggungku yang sedikit pegal pada sofa coklat yang berada di sudut ruangan.


            “Aku menunjukmu untuk menjadi CEO pengganti, setelah aku benar-benar sembuh, kau bisa mengambil waktu libur sesuka hatimu. Bahkan jika kau ingin menghabiskan hari liburmu bersama lusinan wanita, aku tidak masalah.”


            Kulihat Sian mendengus kesal padaku sambil melemparkan bantal sofa yang berada di dekatnya. Sejak dulu aku selalu dibuat heran padanya, mengapa ia tak segera mencari pendamping hidup. Padahal selama ini aku selalu iri padanya karena ia memiliki semua hal yang diinginkan oleh wanita. Ia kaya, romantis, tidak pernah


menyakiti wanita, dan sangat tahu bagaimana cara menaklukan hati wanita. Berbeda denganku yang sangat kaku, arogant, kasar, bahkan aku sulit untuk mengungkapkan perasaanku sendiri pada Eden. Tapi mungkin Sian memang memiliki alasan sendiri mengapa ia tak segera menemukan wanita yang tepat untuknya. Meskipun sejak remaja kami dekat, namun aku tidak bisa sepenuhnya memahaminya. Mungkin karena aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri, hingga aku tidak sempat memahaminya. Kuakui, dulu aku sangat terpukul dengan perpisahan kedua


orangtuaku. Kupikir aku akan memiliki kehidupan yang bahagia karena saat itu kedua oranngtuaku sangat menyayangiku, terutama ibuku. Aku rasanya bisa hidup hingga detik ini karena kasih sayang ibuku. Setidaknya kenanganku bersama ibuku tidak pernah hilang dan selalu menjadi penyemangatku untuk bangkit. Sedangkan


ayahku, aku tidak terlalu ingin membahasnya. Sudah cukup aku mendapatkan karma dari rasa sakit saat mengetahui jika ayahku sebenarnya juga sangat menyayangiku, namun ia tidak bisa menunjukan rasa sayangnya selama ini padaku. Sepertinya aku hanya merasakan kasih sayang dari mereka selama sepuluh tahun, entahlah aku lupa, karena setelah itu ayahku pergi dengan kekasihnya dan mulai melupakan ibuku. Ibuku yang sakit hati dengan sikap ayahku akhirnya juga ikut pergi bersama cinta pertamanya, namun ibuku tetap saja mati sia-sia dengan luka hati yang menganga akibat cinta. Ibuku selalu mencintai ayahku, namun ayahku akhirnya melupakan ibuku karena wanita lain. Bukankah itu sangat miris? Hal itulah yang akhirnya membuatku sangat muak dengan emosi yang dinamakan cinta. Cinta itu bullshit, dan cinta itu menyakitkan. Bahkan aku pernah berpikir untuk hidup melajang tanpa ikatan pernikahan karena aku mendapatkan trauma dari keluargaku sendiri. Lalu kisah hidupku entah kenapa bisa berubah menjadi seperti ini. Sedikit tidak terduga karena aku dipertemukan oleh Sian di waktu dan tempat yang tak terduga. Ia saat itu mencopet dompetku, dan entah bagaimana, saat itu aku tidak marah. Sungguh aku justru merasa iba padanya dan akhirnya memilih untuk melepaskannya. Dan hari-hari berikutnya saat aku melihatnya lagi sedang melamun di jalanan, aku menawarkan diri untuk membantu memperbaiki kehidupannya. Aku membantunya untuk bersekolah di tempat yang sama denganku, lalu aku mengajarinya untuk menjadi


pria kaya yang sukses. Kami saling membantu saat itu, bahkan ia juga menghiburkan disaat aku mendapatkan masalah keluarga yang paling sialan rumit sepanjang masa. Mungkin jika saat itu Sian tidak berusaha keras untuk menghiburku, aku pasti akan memilih untuk bunuh diri. Jujur aku tidak kuat dengan semua tekanan yang diberikan oleh lingkungan keluargaku yang keras, terutama ayahku. Ia sejak dulu selalu menjadi diktator untuk kehidupan masa depanku hingga akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke rumah kakek. Kupikir sudah tidak ada lagi yang perlu dipertahankan dengan hidup di rumahnya. Toh ibuku juga sudah pergi untuk selama-lamanya karena kecelakaan yang sebenarnya adalah bunuh diri. Menurut salah satu penyidik yang kubayar untuk mencari tahu kebenaran dibalik kematian ibuku, dia mengatakan jika sejak awal mobil itu telah disabotase oleh ibuku sendiri yang merasa tidak pernah bisa melupakan cintanya untuk ayahku sampai kapanpun. Jadi sejak hari itu aku sangat membenci ayahku dan tidak ingin sedikitpun melihat wajahnya lagi. Tapi kepindahanku ke rumah kakekku juga bukan sesuatu yang menyenangkan, karena kakek harus mempersiapkanku untuk menjadi penerus klan Lutherford yang terhormat, sehingga mau tak mau ia harus berubah menjadi pria tua yang kejam dan juga memuakan. Dulu aku sering melayangkan protes pada kakek, kenapa keluarganya tidak bisa menghasilkan banyak keturunan untuk mengambil alih perusahaannya yang besar itu? Tapi sekarang nyatanya aku sangat beruntung karena dengan begitu aku tidak perlu berbagi. Semua kekayaan ini dapat kukuasai sendiri bersama keluargaku. Jika dipikir-pikir, aku ini memang liar dan sangat mengerikan. Pantas jika Eden sangat membenciku hingga ia sulit memberikan cintanya padaku. Tapi semenjak aku menikah dengan Eden, aku mulai belajar mengenai kehidupan dan aku tidak pernah lagi bermain-main dengan wanita penggoda di luar sana. Atau mungkin hal itu mulai terjadi semenjak Eden meninggalkanku. Kurasa gairahku hilang, bahkan aku merasa muak saat melihat wanita-wanita itu mulai menggodaku. Aku benar-benar telah berubah menjadi Aciel yang berbeda, hingga rasanya ini seperti bukan diriku. Karena aku tidak pernah selurus ini sejak kedua orangtuaku meninggal. Dulu tanpa sepengetahuan kakek aku pernah menggunakan narkoba dan meniduri banyak wanita di usiaku yang baru menginjak lima belas tahun. Dan Sian tidak pernah mengetahui hal itu, karena aku memang tidak pernah membagikan kisah itu pada siapapun. Biarlah itu menjadi salah satu kenangan hitam dalam hidupku yang sampai sekarang akan menjadi pengingat jika aku adalah pria brengsek yang sangat buruk. Itu adalah saat-saat yang paling mengerikan dalam hidupku karena aku mengalami depresi akibat banyaknya tugas yang harus kulakukan di masa depan. Bahkan disaat anak-anak seusiaku menikmati kehidupan mereka dengan penuh suka cita, aku justru harus tenggelam bersama berkas-berkas perusahaan yang rumit dan juga buku-buku tebal yang sangat mengerikan. Mengingat hal itu membuatku sangat muak, itu adalah salah satu kenangan yang paling kuhindari selain kenangan ketika ibuku meninggal dengan sangat mengenaskan bersama kekasihnya.


            “Ace...”


            Aku mendongak ketika Sian mendengus pelan di hadapanku. Sebenarnya ada apa dengannya hari ini?


            “Ace.. Aku bosan dengan kehidupanku yang sangat monoton ini, aku ingin memiliki keluarga kecil seperti milikmu. Kenapa Tuhan tak memberikanku satu wanita seperti Eden, wanita yang benar benar bisa menaklukanku dan tidak mencintaiku karena harta.”


            Aku terkejut. Ini adalah kali pertama Sian membicarakan masalah pernikahan padaku. Kupikir ia menyukai kehidupannya yang sangat bebas itu.


            “Semua orang memiliki jalan hidup mereka masing-masing. Memiliki Eden tidaklah semudah yang kau lihat.”


            “Tapi setidaknya Eden berhasil menaklukanmu hingga kau tak bisa berpaling dari wanita manapun dan benar-benar harus bekerja keras untuk mempertahankan Eden. Aku ingin memiliki kehidupan penuh tantangan sepertimu Ace. Kuakui, aku pernah menyukai Eden.”


            “Menyukai dan mencintai adalah dua hal yang berbeda Sian.”


            Aku menatapnya datar tanpa minat. Apakah aku harus cemburu pada sahabatku sendiri?


menarik yang membuat Sian memandangan kehidupan rumah tanggaku sebagai sebuah kehidupan yang tidak monoton.


            “Jadi selama ini kau berpikir seperti itu?”


            “Hmmm, kehidupan rumah tangga kalian sangat murni, tanpa dibumbui oleh kemunafikan atau juga janji-janji manis penuh kepalsuan.”


            Mungkin aku harus segera mencarikan calon istri untuk Sian karena ia semakin lama semakin mengerikan! Bahkan ia mulai berubah menjadi pria puitis yang menjijikan.


            “Cepatlah mencari wanita, aku takut kau akan berubah menjadi pria gila. Bukankah kau sedang dekat dengan penari club itu? Anastasia, Kimberly, atau siapa itu, aku lupa.”


            “Tidak juga, kami hanya beberapa kali terlibat adu mulut dan malam panas yang menggairahkan. Mungkin awalnya aku merasa jika ia wanita yang berbeda karena keberaniannya, tapi setelah beberapa kali menggunakannya, aku mulai sadar jika ia sama saja dengan wanita-wanita penghibur di luar sana. Dia hanya mengincar hartaku” tambah Sian mencoba bersikap biasa, namun aku tahu jika ia sangat kesal karena lagi-lagi telah dipermainkan oleh wanita penghuni club. Mungkin ini memang belum saatnya Sian mendapatkan wanita yang tepat untuk mengisi kekosongan hidupnya.


            “Kau belum bisa melupakan Tiffany, huh?”


            “Aku tidak mau membahasnya, sialan kau!”


            Aku terbahak melihatnya yang berubah menjadi muram. Kita impas bung. Tapi sedetik kemudian aku merasa bersalah karena tidak seharusnya aku membicarakan Tiffany yang telah lama meninggalkannya bersama seluruh cinta yang wanita itu miliki untuk Sian. “Kau harus bisa melupakannya dan mencari wanita lain untuk


menemanimu. Tiffany pasti akan lebih senang kau menemukan penggantinya daripada kau terus menerus seperti ini.” Setelah aku selesai dengan kalimatku, Sian tampak tak ingin membahasnya lebih lanjut, ia justru langsung mengganti topik pembicaraan kami dengan topik yang lain.


            “Ngomong-ngomong, kapan kau akan menyelesaikan masalahmu dengan Anthony? Ia sudah terlalu lama mendekam di penjara tanpa ada kejelasan karena kau belum melayangkan tuntutan ke pengadilan.”


            “Jangan membuatku marah Sian karena aku tidak ingin mendengar nama bedebah sialan itu di rumahku.”


            “Tapi sampai kapan kau akan seperti ini, menggantungkan orang lain tanpa adanya kejelasan. Jika kau tidak ingin memaafkannya, kau bisa meminta pengadilan untuk menjatuhi hukuman mati. Bukankan kau memiliki banyak relasi yang bisa membantumu?”


            “Tidak semudah itu.”

__ADS_1


            Memutuskan hukuman untuk keparat itu benar-benar tidak mudah sekarang. Apalagi dengan kondisi Eden yang masih menganggap pria itu sebagai kekasih pujaannya, ia pasti akan sangat membenciku jika aku memberikan hukuman mati pada Anthony. Tapi aku juga tidak bisa memberikannya hukuman penjara karena itu terlalu bagus untuknya. Dia seharusnya memang mati. Ck, kenapa rumit sekali hubungan rumah tanggaku!


            “Aku tahu, kau pasti takut pada Eden.”


            “Aku tidak takut Sian!” geramku kesal. Kenapa sahabatku ini sangat menyebalkan.


            “Kau takut Eden akan meninggalkanmu bukan? Ayo mengakulah, aku tidak akan mengejekmu sebagai pria lemah.” godanya sambil menyikut lenganku. Aku membalas sikutannya dan mendorong tubuhnya menjauh hingga ia membentur sandaran sofa.


            “Sialan! Tidak perlu bermain kasar seperti itu bung.” umpatnya keras. Aku menatapnya sengit karena umpatannya yang keras bisa saja didengar oleh Ciara yang sedang bermain di ruang bermain bersama Eden.


            “Kenapa tiba-tiba kau membicarakan Anthony? Kau bukan tipe pria yang akan peduli pada orang lain seperti itu.”


            “Kau memang sahabat yang paling mengerti diriku Ace, aku memang bukan tipe pria yang akan mempedulikan orang lain. Tapi aku mempedulikan Eden, dan....”


            “Jadi ini semua karena Eden.” potongku cepat. Mereka ternyata memiliki hubungan yang lebih dekat dari apa yang kubayangkan.


            “Sudah kubilang jika aku menyukai Eden, jadi aku akan melakukan apapun agar Eden bahagia. Termasuk membuatmu kesal karena harus mengurus masalah Anthony.”


            “Eden adalah milikku. Berani kau mendekatinya lebih dari yang seharusnya, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.”


            Sian tertawa terbahak-bahak di depanku sambil melemparkan bantal sofa padaku. Ia pasti menertawakan keposesifanku atau kecemburuanku padanya.


            “Jadi kau takut tersaingi olehku Ace? Ya Tuhan, apakah aku harus bahagia?”


            “Sialan kau Sian. Tutup mulutmu, kau akan mengganggu anakku. Dia sedang bermain bersama Eden.”


            Aku menendang kakinya keras hingga ia mengerang kesakitan. Ia memang pantas mendapatkannya!


            “Ssssttt!! Bisakah kalian diam, Ciara sedang tidur.”


            Tiba-tiba Eden muncul sambil berkacak pinggang di depanku. Siang ini ia tampak begitu cantik dengan celana pendek selutut dan juga kaos milikku yang kebesaran. Ia terlihat menggoda. Eden memang memiliki auranya sendiri yang sangat khas, dan hal itulah yang membuatku tidak bisa berpaling pada wanita lain. Bukankah itu sangat menyusahkan!


            “Sian, biasakah kau kecilkan suaramu? Kau akan membangunkan Ciara, dan juga Louise di kamarnya.”


            “Maafkan aku Ed, ini semua karena suamimu yang menyebalkan ini.” tuduh Sian sambil menunjuk wajahku. Aku hanya menatap datar mereka berdua dengan perasaan aneh yang menyusup ke dalam hatiku. Eden... ia memanggil Sian dengan panggilan yang lebih lembut, dan mereka juga terlihat lebih akrab satu sama lain. Sangat kontras denganku. Bahkan ia selalu menjauhiku seperti sebuah wabah. Apa aku sangat buruk di matanya?


            “Kau sudah makan siang Ed?”


            “Belum, ayo kita makan siang bersama. Eemm... kau mau bergabung bersama kami, Ace? Atau


mungkin sebenarnya sudah makan siang sendiri tadi?”


            Aku meliriknya dingin tanpa mengeluarkan sepatah katapun padanya. Ia berhasil membuat moodku rusak hari ini. Aku memang harus memaksanya untuk menerimaku. Suka atau tidak, ia harus tunduk di bawah kuasaku.


            “Ace, Eden sedang berbicara padamu.” ucap Sian sambil menyenggol kakiku. Apa ia *****? Saat ini aku sedang kesal!


            “Apa kau sudah melihatku makan siang?”


            “Kenapa kau bertanya padaku? Aku tidak tahu.” jawabnya ketus. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dengan gaya angkuhnya yang sangat memuakan. Jika ia bukan wanita yang kucintai, mungkin aku sudah membunuhnya sejak dulu. Sayangnya Tuhan membuatku mencintainya hingga aku selalu merasa takut jika ia akan meninggalkanku.


            “Kau istriku Eden, seharusnya kau bersikap hormat padaku.” geramku tertahan.


            “Aku tahu dan kau tidak perlu meneriakannya di depanku tuan Aciel Lutherford yang terhormat. Asal kau tahu, aku sangat muak dengan sebutan itu. Jika bukan karena Ciara dan Louise, aku tidak akan mau berada di sini. Kau orang asing untukku.”


            Setelah berteriak dengan tidak sopan, ia langsung pergi begitu saja dengan tak tahu dirinya. Selama ini aku telah memberikan semua hal yang kumiliki padanya. Cinta, kesetiaan, bahkan nyawa. Tapi yang kudapat justru penolakan dan sikap ketus yang selalu membuatku naik darah. Aku harus mulai bersikap tegas padanya.


            “Ckckckck.. kisah cinta kalian benar-benar membuatku iri. Andai aku bisa memiliki wanita seperti Eden.” racau Sian dengan wajah memuakan yang menjijikan. Lebih baik aku mendinginkan kepalaku di ruang kerja dan mengerjakan sisa pekerjaanku yang belum terselesaikan. Memikirkan Eden justru membuatku semakin naik darah dan ingin memberinya pelajaran.


Aciel pov end

__ADS_1


__ADS_2